Kumpulan
kata yang dirangkai menjadi kisah.
Ini hanyalah sebuah kisah yang
menceritakan pahitnya hidup.
Seperti kisah pada umumnya,
Septian hanyalah manusia biasa yang tak luput dari kesalahan.
Manusia memiliki banyak ujian
dalam hidupnya, untuk mengetahui apakah ia mampu atau tidak melewatinya.
Seperti Septian yang mengambil
jalan yang salah dalam ujiannya. Seperti itu pula Allah Subhanahu Wata’ala memberikan petunjuk kedapa hamba-Nya.
**********
Septian POV
Mentari pagi
menerpa kulitku. Terlihat lautan manusia berlalu lalang menggunakan masker.
Udara segar menyapa hidung, maraknya penggunaan sepeda mengakibatkan berkurangnya polusi. Waktu menunjukan pukul
06.00. Kulangkahkan kaki menuju mobil x-pander ku, saat akan berangkat
tiba-tiba Ibu berseru.
“Tiaan,” Ibu
memanggil, Akupun bergegas keluar. “Kenapa Bu?” “kamu lupa membawa hand
sanitizer sayang, zaman sekarangkan sedang marak-maraknya covid-19,
Kamu tidak boleh sakit sayang, hanya Kamu satu-satunya peninggalan Mas
Alex.” Lagi-lagi Ibu menunjukan tatapan itu, tatapan yang membuat hatiku pedih,
tatapan yang muncul setelah Ayah tewas dalam sebuah kecelakaan pesawat.
Flashback
Aku masih
mengingat dengan jelas kecelakaan lima belas tahun yang lalu, yang membuat
sinar mata Ibu meredup. Pada malam jumat, suara petir bersahutan hujan dengan
deras mengguyur atap rumah. Aku sedang mengerjakan PR di samping Ibu yang
sedang mengaji tiba-tiba telepon rumah berbunyi, Ibu menjatuhkan gagang telepon
dan menangis tersendu-sendu sambil mengucap istighfar.
“Bu? Ibu
kenapa....? huhuhu,” Aku bertanya dengan perasaan cemas, Ibu yang tiba-tiba
menangis membuatku takut, seketika perasaanku tidak nyaman. Ibu langsung memelukku tanpa mengucapkan
sepatah kata. Ibu langsung membawaku ke kamar “Sayang, malam ini kamu tidur
dengan Ibu ya.” Ibu berucap dengan lembut dan tersenyum tetapi air matanya
terus mengalir, sepanjang malam itu aku terus mendengar suara isakan Ibu yang
menyayat hati.
Pagi dini hari
Ibu membangunku. “Tian... sayang... bangun sholat subuh dulu Nak,” Aku membuka
mataku yang masih mengantuk, hal pertama kulihat adalah wajah Ibu yang
kelelahan dengan kelopak mata bengkak serta mata yang memerah ”ya Bu.” ”jangan
lupa doakan Ayahmu na!” ujar Ibu sedikit berteriak. “Mengapa Tian harus
mendoakan Ayah,
bu?” kulihat wajar Ibu menahan tangis, Ibu menjawab dengan suara parau, “Supaya
Ayah mendapat istana yang indah.” “Kenapa Ayah tinggal di istana? Apa Ayah
tidak akanl tinggal sama kita lagi?” tanyaku. “Ayah sudah tenang di sana.” Ibu
menjawab dengan pedih, setelah itu Ibu menyuruhku bergegas berwudhu dan
menunaikan sholat shubuh.
Pukul 07.00
keluarga Ayah berkunjung ke rumah. Nenek
dan Kakek menenangkan Ibu yang kembali menangis. Sepupuku yang bernama
Stevani menghampiri “Yang sabar yah, Sep, masih ada Kami yang selalu
menemanimu.” Ucapnya menyemangatiku, Aku hanya tersenyum menanggapinya. Aku
masih bingung, apakah Ayah tidak akan kembali?
Flashback end
Mengingat
kejadian itu masih membuat Aku dan Ibu sedih. Tetapi, kami mencoba tegar dan
ikhlas. Aku memeluk Ibu, “Masih ada Tian Bu, jangan sedih. Tian pergi ke kantor
dulu ya Bu, jika ada apa-apa telpon aja.”
Aku bangga
pada Ibuku, walaupun sudah tidak muda lagi tetapi ia sosok yang kuat. Ibu yang
selalu mengerti Aku serta Ibu selalu memberikan nasihat secara lembut agar Aku
selalu mengingat nasihat yang Ia berikan.
Setelah
berpamitan dengan Ibu, Aku bekerja dengan ritme kerja yang benar-benar sibuk.
Aku adalah
seorang Manager Keuangan di sebuah perusahaan properti yang bernama H.S. properti. Aku mempunyai banyak teman karena
aku memiliki sifat yang humble, banyak orang di kantor yang
mengenalku—karena sering menyapa. Aku mempunyai teman satu divisi yaitu Saskia,
Silmi, dan Ryan. Mereka selalu membantu pekerjaanku. Saskia yang kalem, Silmi
yang cerewet, dan Ryan yang seru adalah orang-orang terdekatku di Kantor.
Pikiranku agak
kacau karena teringat
Ayah, ditambah dengan
pekerjaan yang menumpuk. Setelah pekerjaanku selesai, Aku pamit kepada teman se-divisi-ku.
"Eh… gua balik duluan ya.
“
"Lu mau kemana? kok duluan?
ikut dong gua.” Ryan bertanya kepadaku yang ingin pulang terlebih dahulu.
"Gua ada acara nih biasa
orang sibuk hehe," Aku menjawab pertanyaan Ryan.
"Eh tumben banget lu,
biasanya juga nungguin kita-kita.“ Seloroh Ryan. "Tau lu, Sep so sibuk amat,
" Saskia dan Silmi bersahutan.
"Udah la gua pen pergi ni bye.”
Tak mengenyahkan mereka, Aku berpamitan kembali.
Setelah
berpamitan dengan teman satu divisi, Akupun berbegas pergi ketempat yang
kutuju--club. Club menjadi tempat tujuanku sekarang, setelah
menjalani meeting dengan client seharian dan dikejar deadline.
Tempat yang tepat untuk merefresh otak sejenak yaitu club.
Aku sudah
berada di dalam club, Aku melihat kanan dan kiri memastikan tidak ada
karyawan kantorku di sana. Kalau pun ada, Aku biasanya langsung pergi dari club.
karena aku di kantor dikenal orang yang baik dan tidak kenal hal - hal yang
berbau negatif seperti ini.
Sesudah
memastikan benar-benar bahwa tidak ada orang kantor, Aku pergi ke bar. Di bar,
Aku memesan alkohol untuk merefresh otakku yang sudah seharian pusing
melihat tugas kantor yang menumpuk. “Liqor satu ya.” Pintaku, hari ini
Aku hanya akan memilih alkohol yang kadarnya rendah karena besok masih harus
bekerja. “Oke wait.” Jawab waitress lelaki yang berbadan kekar
itu.
Meminum satu
botol, dua botol dan yang terakhir botol ketiga. Aku sudah tidak kuat jadi Aku
mengakhiri minumku pada botol yang ketiga. Aku pergi dari club itu
dengan agak sempoyongan. Aku masuk kedalam mobil dan pergi menuju Apartemen
Ryan karena keadaanku yang tidak memungkinkan untuk pulang ke rumah dengan bau
alkohol ini, bisa-bisa Ibu curiga. Aku tidak mau Ibu curiga dan sedih melihat
Aku menjadi seperti ini bukan seperti Septian yang Ibu kenal, Septian si anak
baik kebanggan Ibu HAHA.
Aku
mengendarai mobil dengan pelan karena keadaanku sedikit mabuk. Apartemen Ryan
tidak begitu jauh dari club tersebut. Setelah sampai, Aku langsung
memarkirkan mobil ke basement. Di depan unit Apartemen Ryan Aku
memencet bel, tak berapa lama Ryan pun membuka pintu.
Septian POV end
Author POV
"Septian? lu kenapa?" cecar Ryan,
"Lu mabok? lagi banyak masalah?” banyak sekali
pertanyaan yang ada dibenak Ryan, tetapi Ryan dengan sigap memapah Septian ke sofa.
"Gua lagi pusing aja, pengen
aja gitu ke club kan. Guakan udah jarang ke club haha." Septian yang dalam keadaan setengah sadarpun
menjawab.
"Wah parah lu, kenapa ga
cerita aja sama gua?” Ryan tak menyangka bahwa Septian seperti ini. Yah
walaupun Ia punya banyak
teman yang jika ada masalah melarikan diri ke club, tapi Ia tak menyangka
Septian akan seperti itu juga. Padahal Septian orang yang alim, bukan seperi orang yang jika ada masalah akan ke
club. Ryan tidak mengerti kenapa Septian
melakukannya. Jika dilihat dari ucapannya, Septian seperti sering ke club entah
karena apa.
Pagi harinya,
Ryan membuat sup untuk
meredakan rasa mual. Setelahnya memakannya, walaupun sedikit, tubuh Septian pun mulai membaik lalu mereka
bergegas berangkat pergi ke kantor.
Di sana mereka
harus tetap memakai masker, cek suhu dan menjaga jarak. Sesampainya di ruang
divisi keuangan sudah ada Saskia dan Silmi yang sedang bercerita tentang drama
korea yang sedang booming.
"Buset! berisik amat sampe ga
tau kita datang." Ryan memotong pembicaraan diantara Saskia dan Silmi.
"Yauda maaf sih, kitakan ga
tau kalau kalian dateng, eh ko kalian bareng si berdua?" tanya saskia
kepada mereka berdua.
"Tau lu Sep, biasanya udah
datang sebelum kita berdua." sahut Silmi
"Mobil gua bocor pas di jalan Kamboja, terus gua
papasan sama Ryan.” jelas Septian dengan lancar kepada mereka berdua, yang
dijawab oleh anggukan.
Mereka pun kembali beraktivitas. Jam menunjukan pukul 15:20,
Silmi dan Saskia bersiap untuk shalat. Ryan sudah terlebih dahulu ke Masjid
kantor, sedangkan Septian baru saja kembali dari meeting.
“Sep, Ryan udah sholat duluan”, kata Ryan. “nanti pulang bareng” Ucap Silmi yang
dibalas oleh Septian dengan tanda oke dengan tangan.
“Kalo orang ngomong itu liat
orangnya bahlul!” protes Saskia, yah walau lebih sering kalem tapi jika
sudah kesal habislah orang yang berhadapan dengannya.
“Busetdah, iyaiya Bu Sas, makasih
Silmi yang telah menyampaikan amanah dari Ryan.” Jawabnya sambil membungkuk
sedikit, bersikap hiperbola. “Hihi, sukurin!” ujar Silmi terkikik. “Ayo Sil
shalat.” Ajak Saskia yang ditanggapi dengan anggukan.
“Yuk Sep,” ajak Silmi yang
ditanggapi dengan anggukan oleh Septian. Sambil berjalan ke Masjid mereka
banyak menceritakan soal pekerjaan, film, berita, hingga kolor yang
digunakan tukang bubur di depan kantor xixi.
“Sas? Lu mikir ga sih kaya doa
kita tuh kejawab gitu, “ ujar Silmi memulai percakapan, keduanya sedang
menggunakan kaos kaki sehabis shalat. “Doa?” tanya Saski, “Maksud gua itu, dulu
pasti kita sering ngeluh dan doa, ya Allah pengen libur panjang, pengen di
rumah aja. Then ya here we are.” Ucap gadis berkacamata itu sambil
menggendikan bahu, belum sempat Saskia menjawab sudah ada yang menyela.
“Ga banyak bersyukur sih lo!
dikasih rezeki sehat, bisa makan, bisa tidur aja ngeluh mulu!” sembur Septian,
“Dih tiba-tiba dateng ngajak ribut ya anda, untung omongannya bener hihi.” Balas Silmi, jika
sudah begini biasanya akan makin panjang. “Hem, lu sadar ga sih? kaya corona ini
tuh bisa aja konspirasi!” seloroh Ryan, ketiga temannya mengangkat alisnya dan
dahi mereka berkerut.
“Gua rasa corona is exist sih,
tapi ya gitu.” Ujar Saski acuh. Ketiga temannya mengangguk setuju. “Eh lagi
ngomongin apa ni? Jam kerja bentar lagi selesai loh.” Ucap seseorang yang tak
lain adalah GM H.S. Properti, Ibu Lia. “Eh iya bu cantik siap.” Ujar Septian
centil, bu Lia tersenyum dan pamit masuk ke dalam Masjid.
Sementara teman sedivisinya
mendengus, sudah terbiasa dengan tingkah Septian.
**********
“Bu, Tian berangkat!” pamitnya,
tak dilihatnya sosok Ibunya yang biasanya sudah ada di meja makan. Septian pergi ke kamar ibunya
untuk berpamitan, setelah mengetuk beberapa kali, Septian membuka pintu, betapa terkejutnya Septian saat
melihat ibunya sedang menangis tersedu-sedu. “Ibu! Ibu kenapa? Ibu sakit? lagi ada masalah di
kantor? Ibu kenapa Bu?” seru
Septian, “Perusahaan kita defisit Tian, Ibu ga tahu harus gimana, saat ini tidak ada pesawat yang dibolehkan lepas
landas, Ibu tidak tahu hal ini akan berlangsung sampai kapan.
Ibu tidak mau perusahaan yang dibangun susah payah
oleh Ayahmu ini hancur.” Ucap Parhani sambil
tersedu-sedu. Septian melihat Ibunya iba, senakal-nakal dirinya, ia tidak
pernah tega melihat Ibunya menangis apalagi Ayahnya sudah tiada.
Septian
mencoba menenangkan Ibunya, apalagi ia juga harus bergegas ke kantor. Setelah
ibunya tenang dan tertidur akibat kelelahan menangis, Septian bergegas berangkat ke
kantor.
“Uy Sep!” teriak seseorang yang
tidak lain adalah temannya, Ryan dari balik maskernya. Tangan Ryan merangkul
bahu Septian akrab, “Corona woy! Social distancing,” elak
Septian, sambil menepis tangan Ryan. Ryan tertawa dan menepuk jidatnya, “Lupa
gua sorry. “
Mereka berdua
memasuki kantor setelah berjibaku dengan handsitizer dan thermometer
infrared (tes suhu). Septian membuka pintu kaca kantor dengan punggung
tangannya, Ryan mengikuti dibelakangnya. Suasana kantor pagi ini ramai, padahal jam baru
menunjukan pukul 06.48, masih ada 47 menit sebelum jam masuk.
“Waduh Pak Ryan dan Pak Septian,
pagi banget ya datengnya? sampe udah rame begini, “ sindir Silmi, mencoba berguyon.
“kopi pak, nih Sil kopi lu. “ Saskia datang membawa 2 cangkir kopi untuknya dan
Silmi. Silmi mengucapkan terima kasih. “Yeu adanya juga elu yang dateng
kepagian tau, “ ucap Septian seraya menoyor kepala Silmi. Silmi
bersungut-sungut kesal sambil mengusap jidatnya, sedangkan Saskia dan Ryan
terkikik menertawakan.
Mereka kembali ke mejanya
dan mulai bekerja, berkutat dengan berkas dan komputer yang ada. Pikiran
Septian penuh dengan urusan perusahaan keluarganya.
Matanya
mengarah ke layar komputer perusahaannya, terdapat laporan keuangan dan banyak
berkas lain. Sebuah ide tiba-tiba muncul di kepalanya, ‘gila! Kenapa gua bisa
sepicik itu sih, ga boleh ini ga boleh.’ Batinnya. “Sep lu mau ke kantin ga?”
tanya Saskia kepadanya. Septian terlonjak karena sedari tadi melamun, hampir
saja ia terjatuh dari kursi.
Ryan, Silmi,
dan Saskia pun terbahak melihatnya. “Bengong aja lu! mikirin cewe yang mana
nih?” Tanya Ryan jahil. Silmi menggelengkan kepala pelan, matanya melirik ke
arah komputer Septian. Sementara Septian terus berdebat dengan Ryan.
Eh? apa ini?
yang ia lihat salah kan? Laporan keuangan seminggu lagi kenapa dirombak kembali
oleh Septian? ini aneh, karena jelas laporan itu sudah selesai dari kemarin
oleh tim mereka. Ah mungkin dia cuman mau ngecek laporannya,
pikir Silmi membatin.
Tidak mau
berburuk sangka, lagi pula Septian adalah anak orang kaya, buat apa dia
melakukan kecurangan?
**********
Tiba-tiba
pintu ruangan terbuka, Bu Lia masuk dengan tergesa. “laporan keuangan kita ada
yang miss, semua divisi keuangan masuk ke dalam ruang rapat, cepat!“ ucapnya. Tadi pagi saat Lia tiba di ruang
kantornya, Ia dikejutkan dengan berita ini. Sebagai General Manajer tentu Ia
harus menyelesaikan masalah ini secepatnya.
Semua yang ada
di dalam ruangan itu sontak saja langsung berdiri, sangat jarang ditemukan
masalah seperti ini dikantor mereka. Terakhir kali terjadi, seorang anggota
divisi keuangan dipecat. Tentu saja mereka tidak mau itu terjadi, apalagi
keadaan corona begini. Diam-diam salah seorang dari mereka tersenyum, sudah
mulai tercium rupanya, orang itu membatin.
Di dalam ruang
rapat suasana sangat mencekam. Pak Hasanil sebagai direktur utama saja sampai
turun tangan, berarti masalahnya tidak sepele. “Laporan keuangan kita ada yang miss!!!
Saya minta kalian menjabarkan semua laporan anggaran keuangan perusahan ini
secara detail sekarang juga!“ semprot pak Hasanil, segera setelah tim Septian
duduk. Mau tidak mau, semua karyawan dibuat sibuk dengan presentasi yang tiba-tiba
itu. Rapat berjalan dengan sangat lambat. Berani sekali ada tikus yang
mencoba menipu diriku!
tak akanku
biarkan, batin pak Hasanil.
**********
Setelah satu
bulan dilacak, ternyata seseorang yang mencuci uang perusahaan itu masih belum
ditemukan. Orang-orang di Kantor mulai meributkan siapa yang kitra-kira berani
berbuat curang. Apalagi di masa pandemi seperti ini! maraknya kasus korupsi di
Indonesia itu nyatanya tidak membuat orang-orang jera.
Kantor sangat
berisik, dimana-mana membahas tentang pencucian uang. Wajar saja, uang yang
dicuci tidaklah sedikit. Angkanya mencapai 1M, mungkin memang tidak masalah
bagi perusahaan besar seperti H. S. properti. Tapi yang menjadi masalah adalah
situasi sekarang itu kan sedang pandemi, otomatis klien berkurang.
Sebulan ini
pula bu Lia selaku GM perusahaan ini bolak-balik ke divisi keuangan. Pelaku
kali ini sangat licin! Bisa dipastikan orang berpendidikan, sayang sekali. Pak
Hasanil dibuat meradang, biasanya tim audit dikantornya dalam seminggupun langsung
tahu siapa dalang dibalik pencucian, tapi kali ini tidak.
“Gaes, menurut kalian apa motif
pelaku pencucian uang ini?” tanya Silmi membuka obrolan, tangannya yang
memegang pulpen menjadi penyangga dagu. “Emm entah? terakhir kali pak Eka
ngelakuin ini gara-gara urusan keluarganya kan? Katanya sih anaknya sakit, jadi
terpaksa deh.” Balas Saskia acuh, “kalau emang masalah keluarganya, kenapa gua
liat istrinya suka post disosmed barang-barang mewah?” Septian yang baru saja
dari pantry pun mengikuti acara gosip disore hari ini.
“Yaudahlah toh udah lewat ini.”
Ucap Ryan kalem, diantara mereka memang Ryan yang paling alim. “Buset Pak, ga
seru banget dah, inikan buat menangkap pelaku. Siapa tau tar dikasih bonus
gitu, karena sok jadi detektif.” Canda Silmi, Saskia terkekeh dan mengacungkan
jempol. Sedangkan Septian dan Ryan menggeleng.
“Emang ya cewe pikirannya duit
mulu dasar!” omel
Septian, “no
money no life.” Ucap Saskia dan Silmi berbarengan
sambil bertos ria. “Ya kalo ga karena duit, emang yang cuci uang itu karena
apa? Butuh duit jugalah pasti!” tembak Ryan sambil bersedekap. Septian
tertegun. “Kalo misal tuh orang emang bener-bener butuh gimana?” tanyanya.
“Ya ga gitu caranya Sep, kalo mau
minjam ya ke koperasi tar kan bisa dicicil. Tapi serius gua penasaran siapa ya?
anak divisi keuangan kan biasa semua ga ada yang glamor-glamor.” Ucap Silmi
sambil berpikir, “Ya jangan sampe aja ada diantara kita.” Kekeh Saskia dan
diaminkan, kecuali oleh satu orang yang tertegun.
**********
Lia terlihat
sibuk menangani berkas-berkas yang tertumpuk. Banyak sekali urusannya Ya Allah.
Bisa gawat citra perusahaan bila karyawannya sendiri tidak bisa dipercaya. Ia
dan pak Hasanil sudah berkoordinasi dengan tim audit, tapi belum menemukan
titik terang. Pelakunya sungguh licik! Jelas bukan sembarangan orang.
Lia melihat
satu berkas yang tertumpuk diantara berkas lain. Sepertinya ia tahu, Ah!
Akhirnya berkas yang hilang itu ditemukan juga. Semoga saja ada petunjuk
dibalik itu semua. Lia membuka berkas yang hilang itu, rasanya ada yang
janggal. Sekarang ia tahu permasalahannya dimana. Rupanya tikus licik itu
mengambil sisa anggaran yang cukup kecil disetiap barang yang dijual.
Sekarang ia
harus bergegas memberi tahu pak Hasanil dan tim audit. Baru saja ia keluar dari
ruangannya, terlihat Septian di sana. Air mukanya terlihat serius, tidak
seperti dirinya yang biasa memasang muka tengil. “Ada apa Sep?” tanya Lia,
“Anda sudah menemukan berkasnya ya?” tanya Septian balik. Lia mengerutkan
dahinya, jangan-jangan? “Bukan kamu kan?” tanya Lia dengan nada heran, Septian
berlalu tanpa sepatah kata. Sedangkan Lia terlihat sangat shock di
tempatnya. Bagaimana mungkin Septian
yang melakukannya!? pikir Lia membatin.
Lia tahu Septian merupakan anak dari
pemilik perusahaan yang tidak kalah besarnya dari H. S. Properti. Lantas mengapa ia
melakukannya? Apa karena perusahaannya mengalami defisit? argh,
rasanya kepalanya sakit memikirkan berbagai macam kemungkinan.
Pertama ia harus pergi ke pak
Hasanil secepatnya dan mencari bukti lebih.
**********
Pagi ini
kantor lebih ramai dari biasanya. Silmi dan
Saskia yang sudah terbiasa berangkat kerja bersama dibuat heran. Ada
apaansih? Batin mereka bertanya. Sesampainya di lantai mereka bekerja,
terlihat polisi dan tim audit. “Eh? Sas? Ruangan kita itu!” ujar Silmi panik,
“Ada apaan ini gila.” Cetus Saskia, sama kagetnya dengan Silmi.
Terlihat Ryan
yang sedang di interogasi, Saskia pun menghampirinya. “Yan? Ada apaan sih? ini
soal apaan?” tanya Saskia tergesa-gesa. “Septian—” mengalirlah cerita Ryan,
Saskia yang mendengar langsung terduduk lemas. Temannya ya Allah, bagaimana
bisa?
“Silmi mana?” tanya Ryan,
suaranya terdengar lemah. “Ke toilet,” jawab Saskia dengan pandangan kosong,
terlihat sangat terkejut. Semua perasaan bercampur aduk dihatinya, mungkin Ryan
juga merasa begitu.
**********
“Septian! Ga gua sangka lu
ngelakuin ini?!” bentak Silmi setelah telpon diangkat, terdengar bising di seberang sana.
“Lu udah tau dari awal ya?” tanya Septian, suaranya agak parau. “Gua memang
curiga, tapi gua percaya sama
lu Sep! Kalo lu butuh bantuan lu bisa bilang sama gua Sep!”
Ucap Silmi, Septian mendengus.
“Lu gatau rasanya jadi orang yang
kepepet harus punya uang Sil! lu gatau apa-apa. Selama ini gua selalu pake
topeng, jadi bahagia di depan orang lain. Nyatanya gua kesepian Sil! Ibu gua
selalu sedih karena Ayah ga ada, dan gua? Gua kesepian! Gua selalu lari ke
alkohol, balapan, itu juga gara-gara ini, lu gatau apa-apa jadi diem aja.” Ucap
Septian dingin, mencurahkan semua yang selama ini ia tahan.
“Lu punya temen bodoh! Lu anggep
gua Saskia Ryan apa hah?!” teriak Silmi, “lu tega Sep, lu ga anggep kita. Kita
Cuma bawahan lu sih. Iyakan?” ucap Saskia yang datang dengan Ryan, suaranya
serak. Mukanya sembab, terlihat sekali ia habis menangis.
“Lu punya kita Sep, punya kita.
Gua tau lu pasti ngerti konsekuensi ini semua kan?” tanya Ryan tegas, “Gua
ngerti, gua minta maaf sama kalian. Jangan terlibat, gua yang salah.” Ucap
Septian, mematikan telepon.
**********
Beberapa hari
kemudian Septian menjalani pemeriksaan dan dipecat dengan tidak hormat. Ia
tidak dipenjara karena uang hasil korupsi nya dikembalikan secara utuh.
Perusahaan yang memiliki simpati kepada Septian karena Ia merupakan salah satu
karyawan terbaik selama 10 tahun terakhir pun memilih jalan damai.
Bisikan-bisikan
tidak menyenangkan mengiringi
langkah Septian. Sayup-sayup Septian mendengar suara Silmi, “Gua harap lu bisa
nemu kebahagiaan lu Sep.” Septian hanya dapat tersenyum tanpa berpaling melihat
teman-temannya.
**********
Sekarang
Septian berhenti minum-minuman keras, Ia tinggal di sebuah kontrakan kecil di
pinggir kota. Apakah Parhani mengetahuinya? Tenang saja, Septian telah
mengatakan kepada Parhani bahwa Ia dinas di luar kota. Lambat laun septian mulai lelah dengan keadaan seperti
ini, Septian ingin kembali pada saat dimana Ayahnya
masih ada mendampinginya dan Ibunya.
Sekarang Septian bingung hendak kemana lagi Ia mencari pekerjaan, Ia
menjadi sering beribadah shalat berjamaah mengaji dan mempelajari banyak
tentang islam.
Tetapi lambat
laun septian mulai lelah dengan keadaan seperti ini. Septian ingin bekerja tapi
apalah daya ia sempat melakukan kesalahan, dan lebih lagi di pandemi seperti
ini. Perusahaan mana yang membuka lowongan pekerjaan.
Author POV end
Septian POV
Dimana
ini? Mengapa sangat gelap sekali di sini? “Tian ayo tendang bolanya!” hah?
Ayah? mengapa ada Ayah? Mengapa tanganku menjadi kecil? Apakah ini mimpi? Jika
ini mimpi Aku ingin terus tenggelam di dalamnya. Saat sedang asyik bermain
dengan Ayah sayup-sayup Aku mendengar seseorang memanggil.
Kukerjapkan
mataku, kulihat seorang pria paruh baya yang masih terlihat gagah diusia
senjanya. “Nak?” “Engh iya?” ugh tenggorokanku sungguh nyeri. “Kenapa kamu
tidur di sini? Apakah kamu tidak apa-apa?” kuedarkan pandanganku, ternyata aku
tertidur di depan panti asuhan yang bernama ‘Panti Kasih’, “Ya saya tidak
papa.”
“Apakah kamu mau masuk dulu?” kugelengkan kepalaku, “Terima kasih om.”
Dia menatapku dengan senyum hangat yang mengingatkanku pada seseorang. “Permisi
om.” Ucapku yang dibalas anggukan.
-------
“Allahuakbar
Allahuakbar....”
Tiba-tiba Aku
teringat mimpiku dengan Ayah, rasanya sudah lama sekali Aku tidak mendoakan
Ayah. Akupun melangkahkan kaki ke masjid.
“Ya Allah
ampunilah segala dosa hamba, ampunilah hambamu yang lalai ini, ya Allah
ringankanlah beban Ibu, Ya Allah semoga Ayah berada di tempat terbaik
disisi-Mu, Aamiin.” kuakhiri doaku dengan mengusapkan tangan kewajah.
**********
Aku lelah
dengan keadaan seperti ini! Aku ingin kembali berkerja, tapi dalam keadaan
seperti ini, perusahaan mana yang membuka lowongan pekerjaan. Aku rindu
teman-teman sedivisiku. Apakah ini waktunya Aku mewarisi perusahaan peningalan
Ayah? tapi Aku malu mewarisinya. Apakah Aku berwirausaha saja?
Septian POV end
Author POV
Tiba-tiba
terdengar suara ketukan pintu, “Assalamualaikum!” “Waalaikum salam, ya
sebentar.” Jawab Septian lalu membuka pintu.
Klekk
suara pintu terbuka
"Iya
bapak cari siapa ya?'' tanya Septian. Tiba-tiba pria paruh baya itu
memeluk Septian, Septian mematung seketika. Pria itu terus bergumam ‘anakku’.
Saat Septian melihat
ke balik punggung
pria tersebut, ada Ibunya yang menangis tersendu-sendu. Septian melepas paksa
pelukan tersebut dan berkata, “Siapa anda?” tanyanya, “Aku Ayahmu Nak” Septian
membisu seribu bahasa, ia sangat terkejut. Tiba-tiba Septian jatuh pingsan.
_____
1 tahun kemudian.
Septian meregangkan badannya,
lelah sekali semalam Ia baru pulang dari kantornya pukul 3 pagi. Kantornya? Iya
kantornya. Setelah kedatangan Ayahnya yang sangat mengejutkan, Ia lalu diberi
amanah memegang perusahaan. Tentu sangat tidak mudah mendapatkan kepercayaan
para pemegang saham di Perusahaan orang tuanya, tapi berkat kerja kerasnya Ia
bisa.
Di hari saat Septian jatuh
pingsan, setelah bangun Ia sangat kebingungan. Ayahnya pun menjelaskan, pada
saat pesawat mulai berguncang
Ia dan beberapa orang sempat menggunakan
parasut. Naasnya hanya Ayahnya yang selamat.
Itupun Ia terdampar di lautan dan beruntungnya ditemukan para nelayan.
Ingatannya sempat hilang beberapa
tahun, tetapi begitu mengingat semuanya di desa tempatnya diselamatkan akses
masih sulit untuk ke kota. Akhirnya Ia baru bisa kembali setelah sekian tahun.
Septian dan Ibunya banyak-banyak mengucap syukur dan bersujud syukur. Mereka
menangis haru sambil berpelukan.
Hari ini rencananya Ia akan
bertemu dengan teman-temannya. Tebak siapa itu? Tentu saja Ryan, Saskia, dan
Silmi! Ia sudah lama tidak bertemu dengan mereka. Ia pun bergegas mandi dan
melaksanakan shalat shubuh. Ia sangat bersyukur atas hidupnya saat ini, meminta
ampunan kepada Allah atas hidupnya yang lampau, dan berterimakasih atas
kesempatan yang Allah berikan.
Sebenarnya ketiga temannya itu
beserta Bu Lia GM nya dulu selalu mencoba menghubunginya, tapi Ia terlampau
sibuk dengan segala urusan perusahaan. Makanya baru saat ini Ia bisa bertemu
mereka.
Ia mendengar Saskia dan Silmi
sudah menikah. Sedangkan Ryan dan Bu Lia masih berstatus single. Tidak
terasa satu tahun berjalan sangat cepat. Setelah menutup pintu mobil, Ia
bergegas masuk ke sebuah mall. Katanya sudah ada Ryan dan Lia yang
menunggu.
Masuk ke dalam cafe
bernuansa alam, Ia menemukan Ryan dan Lia sedang berbincang dan tertawa.
“Assalamualaikum, wahai manusia!” salamnya, dua orang itu tersentak kaget tapi
tetap menjawab salam. “Septian mas bro!
Buset yang sibuk nih sombong banget!” balas Ryan sambil memeluk Septian,
Septian terkekeh. “Wess Bu Lia sang GM kita!” sapanya kepada Lia. Lia tersenyum
dan menyambut Septian, mereka pun duduk.
Terlihat dua orang yang berjalan
tergesa-gesa dari arah yang berlawanan. “SEP!” teriak keduanya, “Aduh,”
keduanya mengaduh karena tak sengaja bertabrakan. Saat saling menoleh merekapun
tertawa. Septian, Ryan, dan Lia yang melihatnya juga ikut tertawa, memang tidak
berubah.
Keduanya duduk bersebelahan
dengan Lia, sedangkan Septian dengan Ryan. “Buset dua emak-emak
rempongnyaaaaa,” cibir Ryan bercanda. “Heh! Gini-gini gua laku ya, udah punya
anak satu.” Sombong Silmi, “Iyadeh yang udah punya anak.” Sambar Septian, Silmi
menoleh dan tersenyum lebar. Begitupun dengan Saskia.
“Ya ampun bapak CEO sibuk
banget ya sekarang, ampe lupa temen sendiri.” Cibir Silmi, “Yang lupa sama
temennya ga nganggep kita temen ya lu? Kita aja ga dipercaya.” Lanjut Saskia,
semuanya terkekeh. Tapi selanjutnya malah diam, merenungi kejadian dulu.
“Udah-udah yuk pesen makan.” Ucap Lia yang sadar suasana sekarang sangat muram.
“Maafin gua gaes, gua dulu
terlalu egois dan sombong. Gua cuman terlalu takut kalian jauhin gua. Kalian
kan tau Septian itu orang yang humble, kaya, dan slengean. Gua
takut kalian ngejauhin gua.” Ucap Septian cepat-cepat mengklarifikasi. “Lu udah
tau jawabannya Sep, Kita ga gitu.” Jawab Ryan, “Iya dan gua nyesel.” Septian
menundukan kepalanya. “Kalo lu nyesel lu harus traktir kita!” kata Saskia
lantang.
Semuanya berseru setuju, “Iyadeh,
makan sepuas kalian! Gua bayarin.” Ucap Septian, semuanya memekik senang.
Sepanjang hari itu mereka habiskan bernostalgia dan saling menyemangati.
Septian bersyukur, walaupun Ia sempat memilih jalan yang salah Allah tetap memberikan petunjuk-Nya. Petunjuk
untuknya yang lemah ini, Ia bersyukur atas semua yang telah Allah berikan.
Semua kejadian di masa lalu, akan Ia jadikan pelajaran dalam hidupnya.
End.
Pada hakikatnya, manusia adalah
makhluk pendosa. Pendosa bukan berarti tidak dapat memperbaiki, cobalah selalu
mengingat Allah di setiap langkahmu dalam hidup ini. Mintalah petunjuk kepada-Nya, karena sungguh
manusia adalah makhluk yang lemah.








0 komentar:
Posting Komentar