Sabtu, 22 Agustus 2020

THE LIGHT

 

Kumpulan kata yang dirangkai menjadi kisah.

Ini hanyalah sebuah kisah yang menceritakan pahitnya hidup.

Seperti kisah pada umumnya, Septian hanyalah manusia biasa yang tak luput dari kesalahan.

Manusia memiliki banyak ujian dalam hidupnya, untuk mengetahui apakah ia mampu atau tidak melewatinya.

Seperti Septian yang mengambil jalan yang salah dalam ujiannya. Seperti itu pula Allah Subhanahu Wata’ala memberikan petunjuk kedapa hamba-Nya.

                                                            **********

Septian POV

Mentari pagi menerpa kulitku. Terlihat lautan manusia berlalu lalang menggunakan masker. Udara segar menyapa hidung, maraknya penggunaan sepeda mengakibatkan  berkurangnya polusi. Waktu menunjukan pukul 06.00. Kulangkahkan kaki menuju mobil x-pander ku, saat akan berangkat tiba-tiba Ibu berseru.

“Tiaan,” Ibu memanggil, Akupun bergegas keluar. “Kenapa Bu?” “kamu lupa membawa hand sanitizer sayang, zaman sekarangkan sedang marak-maraknya covid-19, Kamu tidak boleh sakit sayang, hanya Kamu satu-satunya peninggalan Mas Alex.” Lagi-lagi Ibu menunjukan tatapan itu, tatapan yang membuat hatiku pedih, tatapan yang muncul setelah Ayah tewas dalam sebuah kecelakaan pesawat.

 

Flashback

Aku masih mengingat dengan jelas kecelakaan lima belas tahun yang lalu, yang membuat sinar mata Ibu meredup. Pada malam jumat, suara petir bersahutan hujan dengan deras mengguyur atap rumah. Aku sedang mengerjakan PR di samping Ibu yang sedang mengaji tiba-tiba telepon rumah berbunyi, Ibu menjatuhkan gagang telepon dan menangis tersendu-sendu sambil mengucap istighfar.

“Bu? Ibu kenapa....? huhuhu,” Aku bertanya dengan perasaan cemas, Ibu yang tiba-tiba menangis membuatku takut, seketika perasaanku tidak nyaman.  Ibu langsung memelukku tanpa mengucapkan sepatah kata. Ibu langsung membawaku ke kamar “Sayang, malam ini kamu tidur dengan Ibu ya.” Ibu berucap dengan lembut dan tersenyum tetapi air matanya terus mengalir, sepanjang malam itu aku terus mendengar suara isakan Ibu yang menyayat hati.

Pagi dini hari Ibu membangunku. “Tian... sayang... bangun sholat subuh dulu Nak,” Aku membuka mataku yang masih mengantuk, hal pertama kulihat adalah wajah Ibu yang kelelahan dengan kelopak mata bengkak serta mata yang memerah ”ya Bu.” ”jangan lupa doakan Ayahmu na!” ujar Ibu sedikit berteriak. “Mengapa Tian harus mendoakan Ayah, bu?” kulihat wajar Ibu menahan tangis, Ibu menjawab dengan suara parau, “Supaya Ayah mendapat istana yang indah.” “Kenapa Ayah tinggal di istana? Apa Ayah tidak akanl tinggal sama kita lagi?” tanyaku. “Ayah sudah tenang di sana.” Ibu menjawab dengan pedih, setelah itu Ibu menyuruhku bergegas berwudhu dan menunaikan sholat shubuh.

Pukul 07.00 keluarga Ayah berkunjung ke rumah. Nenek  dan Kakek menenangkan Ibu yang kembali menangis. Sepupuku yang bernama Stevani menghampiri “Yang sabar yah, Sep, masih ada Kami yang selalu menemanimu.” Ucapnya menyemangatiku, Aku hanya tersenyum menanggapinya. Aku masih bingung, apakah Ayah tidak akan kembali?

Flashback end

Mengingat kejadian itu masih membuat Aku dan Ibu sedih. Tetapi, kami mencoba tegar dan ikhlas. Aku memeluk Ibu, “Masih ada Tian Bu, jangan sedih. Tian pergi ke kantor dulu ya Bu, jika ada apa-apa telpon aja.”

Aku bangga pada Ibuku, walaupun sudah tidak muda lagi tetapi ia sosok yang kuat. Ibu yang selalu mengerti Aku serta Ibu selalu memberikan nasihat secara lembut agar Aku selalu mengingat nasihat yang Ia berikan.

Setelah berpamitan dengan Ibu, Aku bekerja dengan ritme kerja yang benar-benar sibuk.

Aku adalah seorang Manager Keuangan di sebuah perusahaan properti yang bernama H.S.  properti. Aku mempunyai banyak teman karena aku memiliki sifat yang humble, banyak orang di kantor yang mengenalku—karena sering menyapa. Aku mempunyai teman satu divisi yaitu Saskia, Silmi, dan Ryan. Mereka selalu membantu pekerjaanku. Saskia yang kalem, Silmi yang cerewet, dan Ryan yang seru adalah orang-orang terdekatku di Kantor.

Pikiranku agak kacau karena teringat Ayah, ditambah dengan pekerjaan yang menumpuk. Setelah pekerjaanku selesai, Aku pamit kepada teman se-divisi-ku.

"Eh gua balik duluan ya. “

"Lu mau kemana? kok duluan? ikut dong gua.” Ryan bertanya kepadaku yang ingin pulang terlebih dahulu.

"Gua ada acara nih biasa orang sibuk hehe," Aku menjawab pertanyaan Ryan.

"Eh tumben banget lu, biasanya juga nungguin kita-kita.“ Seloroh Ryan. "Tau lu, Sep so sibuk amat, " Saskia dan Silmi bersahutan.

"Udah la gua pen pergi ni bye.” Tak mengenyahkan mereka, Aku berpamitan kembali.

Setelah berpamitan dengan teman satu divisi, Akupun berbegas pergi ketempat yang kutuju--club. Club menjadi tempat tujuanku sekarang, setelah menjalani meeting dengan client seharian dan dikejar deadline. Tempat yang tepat untuk merefresh otak sejenak yaitu club.

Aku sudah berada di dalam club, Aku melihat kanan dan kiri memastikan tidak ada karyawan kantorku di sana. Kalau pun ada, Aku biasanya langsung pergi dari club. karena aku di kantor dikenal orang yang baik dan tidak kenal hal - hal yang berbau negatif seperti ini.

Sesudah memastikan benar-benar bahwa tidak ada orang kantor, Aku pergi ke bar. Di bar, Aku memesan alkohol untuk merefresh otakku yang sudah seharian pusing melihat tugas kantor yang menumpuk. “Liqor satu ya.” Pintaku, hari ini Aku hanya akan memilih alkohol yang kadarnya rendah karena besok masih harus bekerja. “Oke wait.” Jawab waitress lelaki yang berbadan kekar itu.

Meminum satu botol, dua botol dan yang terakhir botol ketiga. Aku sudah tidak kuat jadi Aku mengakhiri minumku pada botol yang ketiga. Aku pergi dari club itu dengan agak sempoyongan. Aku masuk kedalam mobil dan pergi menuju Apartemen Ryan karena keadaanku yang tidak memungkinkan untuk pulang ke rumah dengan bau alkohol ini, bisa-bisa Ibu curiga. Aku tidak mau Ibu curiga dan sedih melihat Aku menjadi seperti ini bukan seperti Septian yang Ibu kenal, Septian si anak baik kebanggan Ibu HAHA.

Aku mengendarai mobil dengan pelan karena keadaanku sedikit mabuk. Apartemen Ryan tidak begitu jauh dari club tersebut. Setelah sampai, Aku langsung memarkirkan mobil ke basement. Di depan unit Apartemen Ryan Aku memencet bel, tak berapa lama Ryan pun membuka pintu.

Septian POV end

 

Author POV

"Septian? lu kenapa?" cecar Ryan, "Lu mabok? lagi banyak masalah?” banyak sekali pertanyaan yang ada dibenak Ryan, tetapi Ryan dengan sigap memapah Septian ke sofa.

"Gua lagi pusing aja, pengen aja gitu ke club kan. Guakan udah jarang ke club haha."  Septian yang dalam keadaan setengah sadarpun menjawab.

"Wah parah lu, kenapa ga cerita aja sama gua?” Ryan tak menyangka bahwa Septian seperti ini. Yah walaupun Ia punya banyak teman yang jika ada masalah melarikan diri ke club, tapi Ia tak menyangka Septian akan seperti itu juga. Padahal Septian orang yang alim, bukan seperi orang yang jika ada masalah akan ke club. Ryan tidak mengerti kenapa Septian melakukannya. Jika dilihat dari ucapannya, Septian seperti sering ke club entah karena apa.

Pagi harinya, Ryan membuat sup untuk meredakan rasa mual. Setelahnya memakannya, walaupun sedikit,  tubuh Septian pun mulai membaik lalu mereka bergegas berangkat pergi ke kantor.

Di sana mereka harus tetap memakai masker, cek suhu dan menjaga jarak. Sesampainya di ruang divisi keuangan sudah ada Saskia dan Silmi yang sedang bercerita tentang drama korea yang sedang booming.

"Buset! berisik amat sampe ga tau kita datang." Ryan memotong pembicaraan diantara Saskia dan Silmi.

"Yauda maaf sih, kitakan ga tau kalau kalian dateng, eh ko kalian bareng si berdua?" tanya saskia kepada mereka berdua.

"Tau lu Sep, biasanya udah datang sebelum kita berdua." sahut Silmi

"Mobil gua bocor pas di jalan Kamboja, terus gua papasan sama Ryan.” jelas Septian dengan lancar kepada mereka berdua, yang dijawab oleh anggukan.

Mereka pun kembali beraktivitas. Jam menunjukan pukul 15:20, Silmi dan Saskia bersiap untuk shalat. Ryan sudah terlebih dahulu ke Masjid kantor, sedangkan Septian baru saja kembali dari meeting.

“Sep, Ryan udah sholat duluan”, kata Ryan. nanti pulang bareng” Ucap Silmi yang dibalas oleh Septian dengan tanda oke dengan tangan.

“Kalo orang ngomong itu liat orangnya bahlul!” protes Saskia, yah walau lebih sering kalem tapi jika sudah kesal habislah orang yang berhadapan dengannya.

“Busetdah, iyaiya Bu Sas, makasih Silmi yang telah menyampaikan amanah dari Ryan.” Jawabnya sambil membungkuk sedikit, bersikap hiperbola. “Hihi, sukurin!” ujar Silmi terkikik. “Ayo Sil shalat.” Ajak Saskia yang ditanggapi dengan anggukan.

“Yuk Sep,” ajak Silmi yang ditanggapi dengan anggukan oleh Septian. Sambil berjalan ke Masjid mereka banyak menceritakan soal pekerjaan, film, berita, hingga kolor yang digunakan tukang bubur di depan kantor xixi.

“Sas? Lu mikir ga sih kaya doa kita tuh kejawab gitu, “ ujar Silmi memulai percakapan, keduanya sedang menggunakan kaos kaki sehabis shalat. “Doa?” tanya Saski, “Maksud gua itu, dulu pasti kita sering ngeluh dan doa, ya Allah pengen libur panjang, pengen di rumah aja. Then ya here we are.” Ucap gadis berkacamata itu sambil menggendikan bahu, belum sempat Saskia menjawab sudah ada yang menyela.

“Ga banyak bersyukur sih lo! dikasih rezeki sehat, bisa makan, bisa tidur aja ngeluh mulu!” sembur Septian, “Dih tiba-tiba dateng ngajak ribut ya anda, untung omongannya bener hihi.” Balas Silmi, jika sudah begini biasanya akan makin panjang. “Hem, lu sadar ga sih? kaya corona ini tuh bisa aja konspirasi!” seloroh Ryan, ketiga temannya mengangkat alisnya dan dahi mereka berkerut.

“Gua rasa corona is exist sih, tapi ya gitu.” Ujar Saski acuh. Ketiga temannya mengangguk setuju. “Eh lagi ngomongin apa ni? Jam kerja bentar lagi selesai loh.” Ucap seseorang yang tak lain adalah GM H.S. Properti, Ibu Lia. “Eh iya bu cantik siap.” Ujar Septian centil, bu Lia tersenyum dan pamit masuk ke dalam Masjid.

Sementara teman sedivisinya mendengus, sudah terbiasa dengan tingkah Septian.

                                                            **********

 

“Bu, Tian berangkat!” pamitnya, tak dilihatnya sosok Ibunya yang biasanya sudah ada di meja makan. Septian pergi ke kamar ibunya untuk berpamitan, setelah mengetuk beberapa kali, Septian membuka pintu, betapa terkejutnya Septian saat melihat ibunya sedang menangis tersedu-sedu. “Ibu! Ibu kenapa? Ibu sakit? lagi ada masalah di kantor? Ibu kenapa Bu?” seru Septian, “Perusahaan kita defisit Tian, Ibu ga tahu harus gimana, saat ini tidak ada pesawat yang dibolehkan lepas landas, Ibu tidak tahu hal ini akan berlangsung sampai kapan. Ibu tidak mau perusahaan yang dibangun susah payah oleh Ayahmu ini hancur.” Ucap Parhani sambil tersedu-sedu. Septian melihat Ibunya iba, senakal-nakal dirinya, ia tidak pernah tega melihat Ibunya menangis apalagi Ayahnya sudah tiada.

Septian mencoba menenangkan Ibunya, apalagi ia juga harus bergegas ke kantor. Setelah ibunya tenang dan tertidur akibat kelelahan menangis, Septian bergegas berangkat ke kantor.

“Uy Sep!” teriak seseorang yang tidak lain adalah temannya, Ryan dari balik maskernya. Tangan Ryan merangkul bahu Septian akrab, “Corona woy! Social distancing,” elak Septian, sambil menepis tangan Ryan. Ryan tertawa dan menepuk jidatnya, “Lupa gua sorry. “

Mereka berdua memasuki kantor setelah berjibaku dengan handsitizer dan thermometer infrared (tes suhu). Septian membuka pintu kaca kantor dengan punggung tangannya, Ryan mengikuti dibelakangnya. Suasana kantor pagi ini ramai, padahal jam baru menunjukan pukul 06.48,  masih ada  47 menit sebelum jam masuk.

“Waduh Pak Ryan dan Pak Septian, pagi banget ya datengnya? sampe udah rame begini, “ sindir Silmi, mencoba berguyon. “kopi pak, nih Sil kopi lu. “ Saskia datang membawa 2 cangkir kopi untuknya dan Silmi. Silmi mengucapkan terima kasih. “Yeu adanya juga elu yang dateng kepagian tau, “ ucap Septian seraya menoyor kepala Silmi. Silmi bersungut-sungut kesal sambil mengusap jidatnya, sedangkan Saskia dan Ryan terkikik menertawakan.

Mereka kembali ke mejanya dan mulai bekerja, berkutat dengan berkas dan komputer yang ada. Pikiran Septian penuh dengan urusan perusahaan keluarganya.

Matanya mengarah ke layar komputer perusahaannya, terdapat laporan keuangan dan banyak berkas lain. Sebuah ide tiba-tiba muncul di kepalanya, ‘gila! Kenapa gua bisa sepicik itu sih, ga boleh ini ga boleh.’ Batinnya. “Sep lu mau ke kantin ga?” tanya Saskia kepadanya. Septian terlonjak karena sedari tadi melamun, hampir saja ia terjatuh dari kursi.

Ryan, Silmi, dan Saskia pun terbahak melihatnya. “Bengong aja lu! mikirin cewe yang mana nih?” Tanya Ryan jahil. Silmi menggelengkan kepala pelan, matanya melirik ke arah komputer Septian. Sementara Septian terus berdebat dengan Ryan.

Eh? apa ini? yang ia lihat salah kan? Laporan keuangan seminggu lagi kenapa dirombak kembali oleh Septian? ini aneh, karena jelas laporan itu sudah selesai dari kemarin oleh tim mereka. Ah mungkin dia cuman mau ngecek laporannya, pikir Silmi membatin.

Tidak mau berburuk sangka, lagi pula Septian adalah anak orang kaya, buat apa dia melakukan kecurangan?

                                                            **********

 

Tiba-tiba pintu ruangan terbuka, Bu Lia masuk dengan tergesa. “laporan keuangan kita ada yang miss, semua divisi keuangan masuk ke dalam ruang rapat, cepat!“ ucapnya. Tadi pagi saat Lia tiba di ruang kantornya, Ia dikejutkan dengan berita ini. Sebagai General Manajer tentu Ia harus menyelesaikan masalah ini secepatnya.

Semua yang ada di dalam ruangan itu sontak saja langsung berdiri, sangat jarang ditemukan masalah seperti ini dikantor mereka. Terakhir kali terjadi, seorang anggota divisi keuangan dipecat. Tentu saja mereka tidak mau itu terjadi, apalagi keadaan corona begini. Diam-diam salah seorang dari mereka tersenyum, sudah mulai tercium rupanya, orang itu membatin.

Di dalam ruang rapat suasana sangat mencekam. Pak Hasanil sebagai direktur utama saja sampai turun tangan, berarti masalahnya tidak sepele. “Laporan keuangan kita ada yang miss!!! Saya minta kalian menjabarkan semua laporan anggaran keuangan perusahan ini secara detail sekarang juga!“ semprot pak Hasanil, segera setelah tim Septian duduk. Mau tidak mau, semua karyawan dibuat sibuk dengan presentasi yang tiba-tiba itu. Rapat berjalan dengan sangat lambat. Berani sekali ada tikus yang mencoba menipu diriku! tak akanku biarkan, batin pak Hasanil.

                                                            **********

 

Setelah satu bulan dilacak, ternyata seseorang yang mencuci uang perusahaan itu masih belum ditemukan. Orang-orang di Kantor mulai meributkan siapa yang kitra-kira berani berbuat curang. Apalagi di masa pandemi seperti ini! maraknya kasus korupsi di Indonesia itu nyatanya tidak membuat orang-orang jera.

Kantor sangat berisik, dimana-mana membahas tentang pencucian uang. Wajar saja, uang yang dicuci tidaklah sedikit. Angkanya mencapai 1M, mungkin memang tidak masalah bagi perusahaan besar seperti H. S. properti. Tapi yang menjadi masalah adalah situasi sekarang itu kan sedang pandemi, otomatis klien berkurang.

Sebulan ini pula bu Lia selaku GM perusahaan ini bolak-balik ke divisi keuangan. Pelaku kali ini sangat licin! Bisa dipastikan orang berpendidikan, sayang sekali. Pak Hasanil dibuat meradang, biasanya tim audit dikantornya dalam seminggupun langsung tahu siapa dalang dibalik pencucian, tapi kali ini tidak.

“Gaes, menurut kalian apa motif pelaku pencucian uang ini?” tanya Silmi membuka obrolan, tangannya yang memegang pulpen menjadi penyangga dagu. “Emm entah? terakhir kali pak Eka ngelakuin ini gara-gara urusan keluarganya kan? Katanya sih anaknya sakit, jadi terpaksa deh.” Balas Saskia acuh, “kalau emang masalah keluarganya, kenapa gua liat istrinya suka post disosmed barang-barang mewah?” Septian yang baru saja dari pantry pun mengikuti acara gosip disore hari ini.

“Yaudahlah toh udah lewat ini.” Ucap Ryan kalem, diantara mereka memang Ryan yang paling alim. “Buset Pak, ga seru banget dah, inikan buat menangkap pelaku. Siapa tau tar dikasih bonus gitu, karena sok jadi detektif.” Canda Silmi, Saskia terkekeh dan mengacungkan jempol. Sedangkan Septian dan Ryan menggeleng.

“Emang ya cewe pikirannya duit mulu dasar!” omel Septian, “no money no life.” Ucap Saskia dan Silmi berbarengan sambil bertos ria. “Ya kalo ga karena duit, emang yang cuci uang itu karena apa? Butuh duit jugalah pasti!” tembak Ryan sambil bersedekap. Septian tertegun. “Kalo misal tuh orang emang bener-bener butuh gimana?” tanyanya.

“Ya ga gitu caranya Sep, kalo mau minjam ya ke koperasi tar kan bisa dicicil. Tapi serius gua penasaran siapa ya? anak divisi keuangan kan biasa semua ga ada yang glamor-glamor.” Ucap Silmi sambil berpikir, “Ya jangan sampe aja ada diantara kita.” Kekeh Saskia dan diaminkan, kecuali oleh satu orang yang tertegun.

                                                            **********

 

Lia terlihat sibuk menangani berkas-berkas yang tertumpuk. Banyak sekali urusannya Ya Allah. Bisa gawat citra perusahaan bila karyawannya sendiri tidak bisa dipercaya. Ia dan pak Hasanil sudah berkoordinasi dengan tim audit, tapi belum menemukan titik terang. Pelakunya sungguh licik! Jelas bukan sembarangan orang.

Lia melihat satu berkas yang tertumpuk diantara berkas lain. Sepertinya ia tahu, Ah! Akhirnya berkas yang hilang itu ditemukan juga. Semoga saja ada petunjuk dibalik itu semua. Lia membuka berkas yang hilang itu, rasanya ada yang janggal. Sekarang ia tahu permasalahannya dimana. Rupanya tikus licik itu mengambil sisa anggaran yang cukup kecil disetiap barang yang dijual.

Sekarang ia harus bergegas memberi tahu pak Hasanil dan tim audit. Baru saja ia keluar dari ruangannya, terlihat Septian di sana. Air mukanya terlihat serius, tidak seperti dirinya yang biasa memasang muka tengil. “Ada apa Sep?” tanya Lia, “Anda sudah menemukan berkasnya ya?” tanya Septian balik. Lia mengerutkan dahinya, jangan-jangan? “Bukan kamu kan?” tanya Lia dengan nada heran, Septian berlalu tanpa sepatah kata. Sedangkan Lia terlihat sangat shock di tempatnya. Bagaimana mungkin Septian yang melakukannya!?  pikir Lia membatin.

Lia tahu Septian merupakan anak dari pemilik perusahaan yang tidak kalah besarnya dari H. S. Properti. Lantas mengapa ia melakukannya? Apa karena perusahaannya mengalami defisit? argh, rasanya kepalanya sakit memikirkan berbagai macam kemungkinan.

Pertama ia harus pergi ke pak Hasanil secepatnya dan mencari bukti lebih.

                                                            **********

 

Pagi ini kantor lebih ramai dari biasanya. Silmi dan Saskia yang sudah terbiasa berangkat kerja bersama dibuat heran. Ada apaansih? Batin mereka bertanya. Sesampainya di lantai mereka bekerja, terlihat polisi dan tim audit. “Eh? Sas? Ruangan kita itu!” ujar Silmi panik, “Ada apaan ini gila.” Cetus Saskia, sama kagetnya dengan Silmi.

Terlihat Ryan yang sedang di interogasi, Saskia pun menghampirinya. “Yan? Ada apaan sih? ini soal apaan?” tanya Saskia tergesa-gesa. “Septian—” mengalirlah cerita Ryan, Saskia yang mendengar langsung terduduk lemas. Temannya ya Allah, bagaimana bisa?

“Silmi mana?” tanya Ryan, suaranya terdengar lemah. “Ke toilet,” jawab Saskia dengan pandangan kosong, terlihat sangat terkejut. Semua perasaan bercampur aduk dihatinya, mungkin Ryan juga merasa begitu.

                                                            **********

 

“Septian! Ga gua sangka lu ngelakuin ini?!” bentak Silmi setelah telpon diangkat, terdengar bising di seberang sana. “Lu udah tau dari awal ya?” tanya Septian, suaranya agak parau. “Gua memang curiga, tapi gua percaya sama lu Sep! Kalo lu butuh bantuan lu bisa bilang sama gua Sep!” Ucap Silmi, Septian mendengus.

“Lu gatau rasanya jadi orang yang kepepet harus punya uang Sil! lu gatau apa-apa. Selama ini gua selalu pake topeng, jadi bahagia di depan orang lain. Nyatanya gua kesepian Sil! Ibu gua selalu sedih karena Ayah ga ada, dan gua? Gua kesepian! Gua selalu lari ke alkohol, balapan, itu juga gara-gara ini, lu gatau apa-apa jadi diem aja.” Ucap Septian dingin, mencurahkan semua yang selama ini ia tahan.

“Lu punya temen bodoh! Lu anggep gua Saskia Ryan apa hah?!” teriak Silmi, “lu tega Sep, lu ga anggep kita. Kita Cuma bawahan lu sih. Iyakan?” ucap Saskia yang datang dengan Ryan, suaranya serak. Mukanya sembab, terlihat sekali ia habis menangis.

“Lu punya kita Sep, punya kita. Gua tau lu pasti ngerti konsekuensi ini semua kan?” tanya Ryan tegas, “Gua ngerti, gua minta maaf sama kalian. Jangan terlibat, gua yang salah.” Ucap Septian, mematikan telepon.

                                                            **********

 

Beberapa hari kemudian Septian menjalani pemeriksaan dan dipecat dengan tidak hormat. Ia tidak dipenjara karena uang hasil korupsi nya dikembalikan secara utuh. Perusahaan yang memiliki simpati kepada Septian karena Ia merupakan salah satu karyawan terbaik selama 10 tahun terakhir pun memilih jalan damai.

Bisikan-bisikan tidak menyenangkan mengiringi langkah Septian. Sayup-sayup Septian mendengar suara Silmi, “Gua harap lu bisa nemu kebahagiaan lu Sep.” Septian hanya dapat tersenyum tanpa berpaling melihat teman-temannya.

                                                            **********

 

Sekarang Septian berhenti minum-minuman keras, Ia tinggal di sebuah kontrakan kecil di pinggir kota. Apakah Parhani mengetahuinya? Tenang saja, Septian telah mengatakan kepada Parhani bahwa Ia dinas di luar kota. Lambat laun septian mulai lelah dengan keadaan seperti ini, Septian ingin kembali pada saat dimana Ayahnya masih ada mendampinginya dan Ibunya.

Sekarang Septian bingung hendak kemana lagi Ia mencari pekerjaan, Ia menjadi sering beribadah shalat berjamaah mengaji dan mempelajari banyak tentang islam.

Tetapi lambat laun septian mulai lelah dengan keadaan seperti ini. Septian ingin bekerja tapi apalah daya ia sempat melakukan kesalahan, dan lebih lagi di pandemi seperti ini. Perusahaan mana yang membuka lowongan pekerjaan.

Author POV end

Septian POV

            Dimana ini? Mengapa sangat gelap sekali di sini? “Tian ayo tendang bolanya!” hah? Ayah? mengapa ada Ayah? Mengapa tanganku menjadi kecil? Apakah ini mimpi? Jika ini mimpi Aku ingin terus tenggelam di dalamnya. Saat sedang asyik bermain dengan Ayah sayup-sayup Aku mendengar seseorang memanggil.

Kukerjapkan mataku, kulihat seorang pria paruh baya yang masih terlihat gagah diusia senjanya. “Nak?” “Engh iya?” ugh tenggorokanku sungguh nyeri. “Kenapa kamu tidur di sini? Apakah kamu tidak apa-apa?” kuedarkan pandanganku, ternyata aku tertidur di depan panti asuhan yang bernama ‘Panti Kasih’, “Ya saya tidak papa.”

   “Apakah kamu mau masuk dulu?” kugelengkan kepalaku, “Terima kasih om.” Dia menatapku dengan senyum hangat yang mengingatkanku pada seseorang. “Permisi om.” Ucapku yang dibalas anggukan.

                                                            -------

“Allahuakbar Allahuakbar....”

Tiba-tiba Aku teringat mimpiku dengan Ayah, rasanya sudah lama sekali Aku tidak mendoakan Ayah. Akupun melangkahkan kaki ke masjid.

“Ya Allah ampunilah segala dosa hamba, ampunilah hambamu yang lalai ini, ya Allah ringankanlah beban Ibu, Ya Allah semoga Ayah berada di tempat terbaik disisi-Mu, Aamiin.” kuakhiri doaku dengan mengusapkan tangan kewajah.

                                                            **********

 

Aku lelah dengan keadaan seperti ini! Aku ingin kembali berkerja, tapi dalam keadaan seperti ini, perusahaan mana yang membuka lowongan pekerjaan. Aku rindu teman-teman sedivisiku. Apakah ini waktunya Aku mewarisi perusahaan peningalan Ayah? tapi Aku malu mewarisinya. Apakah Aku berwirausaha saja?

Septian POV end

Author POV

Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu, “Assalamualaikum!” “Waalaikum salam, ya sebentar.” Jawab Septian lalu membuka pintu.

Klekk suara pintu terbuka

"Iya bapak cari siapa ya?'' tanya Septian. Tiba-tiba pria paruh baya itu memeluk Septian, Septian mematung seketika. Pria itu terus bergumam ‘anakku’. Saat Septian melihat ke balik punggung pria tersebut, ada Ibunya yang menangis tersendu-sendu. Septian melepas paksa pelukan tersebut dan berkata, “Siapa anda?” tanyanya, “Aku Ayahmu Nak” Septian membisu seribu bahasa, ia sangat terkejut. Tiba-tiba Septian jatuh pingsan.

_____

1 tahun kemudian.

Septian meregangkan badannya, lelah sekali semalam Ia baru pulang dari kantornya pukul 3 pagi. Kantornya? Iya kantornya. Setelah kedatangan Ayahnya yang sangat mengejutkan, Ia lalu diberi amanah memegang perusahaan. Tentu sangat tidak mudah mendapatkan kepercayaan para pemegang saham di Perusahaan orang tuanya, tapi berkat kerja kerasnya Ia bisa.

Di hari saat Septian jatuh pingsan, setelah bangun Ia sangat kebingungan. Ayahnya pun menjelaskan, pada saat pesawat mulai berguncang Ia dan beberapa orang sempat menggunakan parasut. Naasnya hanya Ayahnya yang selamat. Itupun Ia terdampar di lautan dan beruntungnya ditemukan para nelayan.

Ingatannya sempat hilang beberapa tahun, tetapi begitu mengingat semuanya di desa tempatnya diselamatkan akses masih sulit untuk ke kota. Akhirnya Ia baru bisa kembali setelah sekian tahun. Septian dan Ibunya banyak-banyak mengucap syukur dan bersujud syukur. Mereka menangis haru sambil berpelukan.

Hari ini rencananya Ia akan bertemu dengan teman-temannya. Tebak siapa itu? Tentu saja Ryan, Saskia, dan Silmi! Ia sudah lama tidak bertemu dengan mereka. Ia pun bergegas mandi dan melaksanakan shalat shubuh. Ia sangat bersyukur atas hidupnya saat ini, meminta ampunan kepada Allah atas hidupnya yang lampau, dan berterimakasih atas kesempatan yang Allah berikan.

Sebenarnya ketiga temannya itu beserta Bu Lia GM nya dulu selalu mencoba menghubunginya, tapi Ia terlampau sibuk dengan segala urusan perusahaan. Makanya baru saat ini Ia bisa bertemu mereka.

Ia mendengar Saskia dan Silmi sudah menikah. Sedangkan Ryan dan Bu Lia masih berstatus single. Tidak terasa satu tahun berjalan sangat cepat. Setelah menutup pintu mobil, Ia bergegas masuk ke sebuah mall. Katanya sudah ada Ryan dan Lia yang menunggu.

Masuk ke dalam cafe bernuansa alam, Ia menemukan Ryan dan Lia sedang berbincang dan tertawa. “Assalamualaikum, wahai manusia!” salamnya, dua orang itu tersentak kaget tapi tetap menjawab salam. “Septian mas bro! Buset yang sibuk nih sombong banget!” balas Ryan sambil memeluk Septian, Septian terkekeh. “Wess Bu Lia sang GM kita!” sapanya kepada Lia. Lia tersenyum dan menyambut Septian, mereka pun duduk.

Terlihat dua orang yang berjalan tergesa-gesa dari arah yang berlawanan. “SEP!” teriak keduanya, “Aduh,” keduanya mengaduh karena tak sengaja bertabrakan. Saat saling menoleh merekapun tertawa. Septian, Ryan, dan Lia yang melihatnya juga ikut tertawa, memang tidak berubah.

Keduanya duduk bersebelahan dengan Lia, sedangkan Septian dengan Ryan. “Buset dua emak-emak rempongnyaaaaa,” cibir Ryan bercanda. “Heh! Gini-gini gua laku ya, udah punya anak satu.” Sombong Silmi, “Iyadeh yang udah punya anak.” Sambar Septian, Silmi menoleh dan tersenyum lebar. Begitupun dengan Saskia.

“Ya ampun bapak CEO sibuk banget ya sekarang, ampe lupa temen sendiri.” Cibir Silmi, “Yang lupa sama temennya ga nganggep kita temen ya lu? Kita aja ga dipercaya.” Lanjut Saskia, semuanya terkekeh. Tapi selanjutnya malah diam, merenungi kejadian dulu. “Udah-udah yuk pesen makan.” Ucap Lia yang sadar suasana sekarang sangat muram.

“Maafin gua gaes, gua dulu terlalu egois dan sombong. Gua cuman terlalu takut kalian jauhin gua. Kalian kan tau Septian itu orang yang humble, kaya, dan slengean. Gua takut kalian ngejauhin gua.” Ucap Septian cepat-cepat mengklarifikasi. “Lu udah tau jawabannya Sep, Kita ga gitu.” Jawab Ryan, “Iya dan gua nyesel.” Septian menundukan kepalanya. “Kalo lu nyesel lu harus traktir kita!” kata Saskia lantang.

Semuanya berseru setuju, “Iyadeh, makan sepuas kalian! Gua bayarin.” Ucap Septian, semuanya memekik senang. Sepanjang hari itu mereka habiskan bernostalgia dan saling menyemangati. Septian bersyukur, walaupun Ia sempat memilih jalan yang salah Allah tetap memberikan petunjuk-Nya. Petunjuk untuknya yang lemah ini, Ia bersyukur atas semua yang telah Allah berikan. Semua kejadian di masa lalu, akan Ia jadikan pelajaran dalam hidupnya.

End.

Pada hakikatnya, manusia adalah makhluk pendosa. Pendosa bukan berarti tidak dapat memperbaiki, cobalah selalu mengingat Allah di setiap langkahmu dalam hidup ini. Mintalah petunjuk kepada-Nya, karena sungguh manusia adalah makhluk yang lemah.

(Siti Khaerul Alawiyah, Silmi Aulia Yahfa, Saskia Zahrotul Umi, Ryan Rizki Ramadhan Septian Rizalul Hakiki, Siti Parhani*)

0 komentar:

Posting Komentar