Sabtu, 20 Juni 2020

Rise From Failure


Hari ini hujan tak hentinya turun di kota tempat tinggalku, alhasil aktivitas yang sering aku jalani seperti biasanya terhambat karena hujan yang tak henti. Tidaklah apa karena hujan merupakan sesuatu yang selalu ditunggu oleh setiap manusia di bumi ini. Ya maklum saja, beberapa minggu ini tempat tinggalku sedang dilanda kemarau.

“No, Nono kamu kenapa?”
Seketika lamunan ku tentang hidup ambyarr karena di kagetkan oleh ibuku yang tepat sekali teriak di telinga sebelah kiriku.
Ya nama ku Jono Wiranto Sudibyo, dan jika kalian ingin lebih dekat denganku bisa panggil aku Jono, atau seperti ibuku Nono, atau yang imut sekalipun yakni Dibo hehee. Pada 27 September hari ini umurku tepat menginjak 18 tahun. Dan pada hari baik ini semoga aku dan keluargaku selalu dalam lindungan Allah swt, amin. Di umurku yang baru menuju dewasa ini dan baru lulus kemarin tingkat MA, jujur saja aku hanya diam di rumah. Karena untuk melanjutkan perguruan tinggi keuangan keluargaku tidak mampu, untuk bekerja pun pengalamanku sempit bahkan bisa dibilang belum ada pengalaman. Yang aku bisa lakukan hanya membantu ibuku berjualan sayur mayur di pasar setiap paginya.
Kedua orangtuaku memang hanya penjual sayur mayur hasil kebun yang tidak seberapa, tetapi optimis mereka dalam menjalankan kehidupan tidak akan kalah oleh apa yang mereka dapat di dunia ini. Aku saja sebagai anaknya sempat menyerah, karena lupa bagaimana cara bersyukur sebagai manusia, tetapi berkat ibu dan bapakku yang selalu bekerja keras dan memotivasiku, aku percaya hidup di dunia akan berjalan seiring dengan waktu dan kita sebagai pelaku harus memanfaatkan waktu tersebut.
Sejak aku lahir dikeluarga yang sederhana ini, aku selalu mendapatkan kebahagiaan walau sekecil apapun itu penyebabnya. Aku ingat betul, waktu umurku masih 5 tahun diriku ingin sekali bersekolah seperti anak-anak lainnya yang biasa kita sebut sekolah PAUD. Apa daya kebutuhan keluargaku untuk sehari-harinya saja pas-pasan apalagi untuk bayar sekolahku nanti. Tetapi Allah swt berkata lain pada keluargaku ini, tepat pada saat umurku 7 tahun aku bisa bersekolah dasar, berkat kedua orang tuaku yang dipercayai untuk menjaga kebun tetangganya sendiri dan orangtuaku mendapat bayaran dari hasil kebun tersebut.
Pada saat aku duduk di sekolah dasar tidak sedikit aku mnedapat ledekan dari teman sekolahku maupun teman kelasku yang melihat penampilanku tidak seperti mereka yang rapih, bersih, memiliki benda-benda yang harganya tidak dapat aku beli. Aku sadar untuk seperti mereka aku takkan mampu, sudah bersekolah di sekolah dasar saja aku sudah senang dan bangga, untuk apa aku meminta lebih dari kedua orangtuaku ini. Karena aku selalu ingat nasihat ibu dan bapakku, yakni setiap mahluk ciptaan Allah swt, tidak dilihat dari apa yang mereka punya di dunia tetapi dilihat dari ketakwaan setiap mahluknya kepada Allah swt.
“Jono, No, Jon?” (dengan sedikit berteriak),
Ya, hah, kenapa? Begitupun aku yang menjawab seperti orang yang baru tersadar dari tidur panjang hehe. Ternyata teman kelasku lah yang memanggil lebih tepatnya dia bernama Aldo. Bisa dibilang Aldo adalah orang yang sangat baik  mau berteman denganku, karena orang-orang di sekolahku memandang diriku saja tidak mau, apalagi untuk  berteman denganku. Ternyata Aldo memanggil karena membawa kabar yang sangat menggembirakan, yakni aku mendapat beasiswa selama diriku bersekolah di sekolah dasar ini. Sulit untukku percaya, tetapi aku tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini. Aku harus belajar lebih lagi untuk mempertahankan beasiswa yang diberikan kepadaku.
        Oiya, jika kalian tidak keberatan aku ingin memberi tahu yakni cita-citaku di dunia ini hanya satu dapat memberikan nasihat pada diriku sendiri dan orang lain, bisa dibilang berdakwah memnyebarkan setiap ajaran positif yang kudapat semasa hidupku. Semoga dari cita-citaku ini aku tidak hanya bermanfaat untuk diriku sendiri tetapi bermanfaat terhadap orang yang ada disekitarku nanti.
        Selang 6 tahun aku bersekolah dasar dengan beasiswa yang ku dapati. Akhirnya aku bisa lulus dengan hasil dan nilai yang dapat memuaskan diriku dan kedua orangtuaku. Berkat nilai yang baik kudapati di sekolah dasar aku dapat melanjuti pendidikanku ke jenjang selanjutnya yakni SMP. Tak disangka teman yang satu-satunya ku punya di sekolah dasar yakni Aldo bertemu kembali pada sekolah yang sama tetapi jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
        Tidak jauh beda suasana yang kudapati di SD maupun SMP, kebanyakan orang memandangku dengan pandangan mengejek karena penampilanku tidak sebagus penampilan mereka, lagi-lagi seperti itu. Jujur saja rasa ingin seperti mereka selalu datang saat mereka memerlakukanku seperti itu, tetapi sekuat tenaga aku selalu mengendalikan nafsuku ini agar tidak termakan oleh ejekan mereka dan selalu berusaha untuk merendahkan hati ini. Karena aku yakin Allah swt tidak tidur dan selalu melihat apa yang mahluknya perbuat di bumi ini, dan dari perbuatan tersebut akan mendapat ganjaran yang sesuai dengan apa yang diperbuatnya.
        Pada saat itu aku sedang duduk dibangku kelas tiga dan sedang mengahadapi ujian-ujian yang diadakan oleh sekolah untuk kelulusan, bisa dibilang hanya menghitung bulan saja aku akan lulus dari tingkat SMP ini. Aku ingat sekali, pada waktu istirahat berlangsung wali kelasku memanggil diriku dengan wajah yang sangat cemas, aku sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tetapi aku ingat betul wali kelasku hanya bilang padaku agar segera pulang kerumah, disitu aku tambah bingung karena jam pelajaran di sekolah masih berlangsung sedangkan aku disuruh untuk cepat pulang. Baiklah dengan pikiran yang bercabang aku langsung bergegas untuk pulang pada jam itu juga.
        Bagai nuklir yang menghantam seisi badanku, tepat pada saat aku sampai di depan rumah. Ada bendera kuning yang terpasang di depan rumahku. Entah bagaimana perasaanku saat itu, semua kejadian bahagia yang ku alami seketika sirnah melihat bapakku sendiri yang sudah dibungkus rapih oleh kain putih. Aku sebagai anak hanya bisa menangis, menangis, dan menangis sejadi-jadinya begitupun dengan ibuku yang sudah setengah sadar dengan mata yang bengkak. Yang terngiang pada pikiran ku saat itu, mengapa bapak tega meninggalkanku dengan ibu disini dan apa yang menyebabkan ini semua terjadi. Karena yang ku tahu bapak didepanku selalu memperlihatkan ketegasannya, kasih sayangnya dan setiap kebahagiaan yang dibawa padaku.
        Sepeninggalan bapakku saat itu, semangat diriku untuk menuntut ilmu dan mengejar cita-citaku  seakan hilang. Tidak lagi ada pikiran untuk sekolah setinggi-tingginya, yang ada di pikiranku hanya bapak, untuk apa aku sukses tanpa ada bapak. Toh sebagian kebahagiaanku sudah diambil oleh Allah swt dan sempat terbersit dalam pikiranku tidak adilnya pencipta terhadap diriku dan keluargaku ini. Tetapi ibu memarahiku dengan mata yang berkaca-kaca, ibu menjelaskan semuanya padaku tentang mengapa bapak meninggalkanku, tentang apa yang sebenarnya terjadi saat ini.
        Aku salah, aku merasa bersalah atas sikapku. Dan yang baru ku tahu, bapakku meninggal karena mempunyai penyakit yang dapat dikategorikan berbahaya, yakni tumor yang bersarang pada kepalanya dan jika kambuh dapat menimbulkan sakit kepala yang sangat sakit luar biasa. Dan bapak selalu menyembunyikan itu semua di depan diriku, karena kata ibu, bapak tidak mau setiap pelajaran yang kudapati terganggu akan penyakitnya ini dan bapak tidak mau aku terlalu khawatir terhadap kesehatannya itu. Semua itulah yang membuat aku tidak tahu apa-apa.
        Setelah mendengar semua penjelasan ibuku tetap saja semangatku untuk menuntut ilmu lebih lanjut sudah tidak seperti dulu. Tak terasa ujian akhir sekolah sudah tiba, karena aku sibuk dengan kesedihanku dan alhasil setiap ujian yang ku kerjakan nilainya tidak memuaskan dan itu berimbas pada nilai akhir ku pada kelulusan nanti. Benar saja, pada saat kelulusan tiba nilai ku turun drastis dan diriku sangat menyesali itu, karena aku tidak dapat melanjutnya ke tingkat yang lebih tinggi lagi dengan beasiswa yang berlanjut. Dengan itu, ibuku harus membayar sekolahku pada tingkat MA dan tanpa beasiswa sedikitpun.
        Perasaan penyesalan yang selalu menghantuiku dan akibat penyesalan itu cara belajarku di MA ini sangatlah turun drastis. Aku sering sekali bermalas-malasan, dan sering sekali melamun. Tidak banyak cerita dalam masa MA ku ini, karena kujalani tidak dengan ambisi yang menggebu.  Tiga tahun kulewati tanpa prestasi yang ku dapati. Hanya beban yang ku berikan pada ibu, karena setelah lulus MA inilah aku bingung untuk melakukan apapun.
 Aku merasa hidupku sekarang berbeda jauh dengan yang dulu. Tidak pernah ada lagi kegiatan-kegiatan yang mengisi hariku, hanya berjualan setiap pagi dan setelahnya berdiam diri tanpa melakukan apapun. Seringkali hal tersebut membuatku bosan berada di rumah. Pernah muncul pemikiran untuk mencari pekerjaan, namun ilmu yang ku punya belum cukup untuk itu.
Hari-hari yang kulewati tak terasa berarti. Tak ada kegiatan bahkan tak ada satu pun yang bisa diharapkan. Terkadang aku selalu berfikir, apakah ibu menganggapku seperti beban. Entahlah, ku rasa penyesalan itu mulai datang.
 Hari ini seperti hariku yang biasa, bersama ibu, aku berangkat ke pasar untuk menjual sayur mayur. Kami berangkat tepat ketika jarum jam menujukan pukul 05.00. Memang sengaja, karena kata ibu agar sayur yang dijual tidak begitu layu dan masih dikatakan segar. Terkadang dalam perjalanan ke sana, aku selalu memerhatikan setiap rumah yang kami lewati, ketika para kepala keluarga berpamitan pergi bekerja dan di antar oleh istri mereka sampai pintu. Ada perasaan aneh yang menjalar dalam tubuh ini. Seperti hendak marah namun tertahan ataupun rasa kesal yang menyelimuti hati. Entahlah, aku tidak tahu perasaan apa, mungkinkah aku merasa iri pada mereka karena tidak dapat merasakan lagi hal serupa dalam keluargaku. Yah, jujur saja sejak kematian bapak, aku sering merasa iri pada siapapun itu.
Pasar bulan sabit. Sungguh, sebuah nama yang aneh untuk pasar tradisional biasa. Tidak tahu siapa yang menamakan, tapi yang jelas ibu pernah berkata bahwa nama itu sudah ada sebelum ibu lahir. Suasana pasar belum sepenuhnya ramai. Baru terlihat beberapa pedagang ikan, daging dan sayur mayur seperti ibu. Mereka juga tengah bersiap-siap, menggelar lapak untuk tempatnya berjualan. Tak heran jika belum ada pembeli, matahari saja belum sepenuhnya muncul, bahkan bulan pun masih terlihat jelas di atas sana. Tak lama kami pun sampai pada lapak yang sudah ibu sewa. Kami segera bersiap-siap, menata berbagai sayur mayur agar terkesan rapih, tak lupa aku juga memebersihkan sampah yang berserakan di sekitar lapak ibu, yah, agar lebih terlihat rapih dan menarik pembeli agar belanja kemari.
Setelah dua tahun terakhir menemani ibu berjualan, melihat bagaimana jerih payah ibu yang dengan sabarnya menahan panas oleh paparan sinar matahari, serta harus mendengar suara-suara bising yang memekakan telinga, hanya demi menafkahiku seorang diri. Mengingat itu semua, aku mulai sadar, bahwa tak seharusnya aku tetap berdiam diri seperti ini. Pikiranku mulai terbuka untuk membuat perubahan. Dari sana lah aku berpikir untuk mencari pekerjaan dan mengembangkan perekonomian keluarga.
Sebenarnya aku sempat menyerah ketika pekerjaan bak kuda liar yang berlari lincah. Sulit tertangkap. Aku pun hampir berputus asa, tidak ada tempat yang menyediakan lowongan pekerjaan untukku. Tapi di tengah keputusasaan itu, suara ibu terus berputar dala ingatan. Aku ingat betul ketika ibu hampir setiap harinya menasihatiku untuk terus berusaha. Ibu selalu berucap,
 “Sampai kapan kamu terus seperti ini, No? Apa kamu tidak bosan di rumah terus? setiap hari hanya membantu ibu menjual sayur yang sebenarnya masih bisa ibu lakukan sendiri. Ada baiknya kamu segera mencari pekerjaan, jangan mudah menyerah, bersabar dan terus berdoa, karena tak selamanya ibu akan bersanamu, menanggung hidupmu.”
Begitulah kira-kira setiap kata yang keluar dari mulut ibu. Ucapan itu selalu terngiang di telingaku. Seakan memotivasi agar terus berjuang.
Sebenarnya aku masih ingat ketika kecil, aku sangat ingin menjadi pendakwah, menyebarkan setiap ajaran positif yang ku dapat semasa hidup. Tapi apalah daya, ilmu dan pengalaman yang ku punya belum mencukupi. Sempat terbesit keinginan untuk masuk pesantren, memperbaiki kesalahan yang dulu sempat ku buat. Yah, setidaknya aku bisa menambah pengetahuan dan wawasan di sana. Namun sesuatu itu menghalangiku, rasanya tidak tega jika harus meninggalkan ibu yang sudah mulai berusia lanjut seorang diri di rumah. Bersusah payah sendiri demi membiayaiku, sungguh aku tidak tega membayangkannya. Jika itu saja tidak bisa ku lakukan, apalagi jika harus kuliah, rasanya itu  mustahil untuk kucapai.
Alhasil, di seperti inilah aku sekarang, berusaha mencari pekerjaan yang tidak mementingkan nilai. Bekerja menggunakan tenaga dan bukannya pikiran. Sampai suatu ketika aku sempat bekerja menjadi kuli bangunan untuk beberapa hari. Namun gaji yang diterima tidak sebanding dengan setiap tetes keringat yang keluar. Gaji yang dibayarkan sangatlah kecil, tidak mencukupi untuk kebutuhan sehari-hari. Walaupun begitu, aku masih bertahan, sampai akhirnya pada suatu hari aku melakukan kesalahan, tidak sengaja aku menjatuhkan puluhan batu bata dari atas gedung yang sedang dibangun. Untung saja tidak mengenai seorang pun yang ada di bawahnya, hanya saja kata bosku itu menimbulkan kerugian yang cukup besar. Alhasil aku di pecat dari pekerjaan itu.
Begitulah sampai akhirnya aku kembali menjadi pengangguran. Setiap harinya ibu selalu menyemangatiku dan selalu menasehtai untuk terus bersabar dan terus berusaha. Terkadang aku melihat ibu yang juga sedang berdoa untuk kelancaran hidupku. Sungguh, aku baru menyadari betapa besarnya peran ibu dalam hidupku ini.
Satu, dua, tiga, sampai tujuh hari berlalu. Ketika matahari tengah terik-teriknya, menyapa setiap kulit yang berada di bawahnya. Saat itu aku sedang berjalan menuju pasar, dengan niat menyusul ibu yang sedang berjualan. Namun sesuatu itu mengejutkan diriku. Tidak tahu karena apa, sebuah motor yang dikendarai oleh bapak berjas hitam tergelincir jatuh dan menyeret tanah. Dengan gerakan cepat aku langsung menghampiri sang pengemudi, ternyata terdapat terluka yang cukup parah pada kaki dan tangannya. Karena jalanan yang sepi dan tidak ada orang yang bisa dimintai pertolongan, aku pun langsung membawa sang pengemudi ke rumah sakit menggunakan motor yang tadi dikendarai olehnya.
Dengan sigap aku menyalip kendaraan-kendaraan lain yang berlalu lalang di jalanan. Memang keahlianku dalam mengemudi tidak perlu diragukan lagi. Akhirnya sampailah aku di rumah sakit terdekat. Di sana ku langgung berteriak memanggil perawat yang memang sedang berjalan di dekat pintu masuk, dengan sigap mereka membawa kursi roda dan membantuku untuk menduduki pengemudi tadi di sana. Setelah memberikan penjelasan dan berpamitan pada sang pengemudi, tak sengaja mataku menangkap sebuah catatan yang tertulis “di buka lowongan pekerjaan.” Entah mengapa hatiku tergerak untuk menelusuri lebih jauh tentang lowongan itu. Aku pun bertanya pada salah satu satpam yang berada di sekitar rumah sakit. Setelah mengutarakan maksud dan tujuan, satpam itu mengantarkanku menuju tempat wawancara bagi para calon pekerja. Satpam itu berucap jika sekarang adalah hari terakhir wawancara, dan tidak ada salahnya jika langsung mengikuti wawancara walaupun belum konfirmasi sebelumnya. Berhubung wakil pemilik rumah sakit adalah orang yang pengertian dan bijaksana. Untunglah saat itu hanya tersisa dua orang yang masih menunggu giliran. Dengan sabar aku pun menunggu sampai akhirnya tibalah saat giliranku untuk wawancara. Setelah berkomunikasi sebentar, akhirnya aku tahu bahwa rumah sakit itu sedang membutuhkan supir untuk mobil jenazah. Sebuah pekerjaan yang cukup baik menurutku, atau mungkin sangat baik bagi pengangguran seperti diriku ini. Saat hendak kembali ke pasar, tak sengaja sayup-sayup aku mendengar pak satpam yang merekomendasikanku untuk di terima kerja pada lowongan itu, dengan alasan aku memiliki keahlian lebih dalam menyetir dan berkepedulian tinggi terhadap sesama. Mengetahui itu aku merasa bahwa yang dilakukan satpam itu tidaklah benar. Aku sempat berpikir, tahu apa satpam itu tentang kehidupanku, padahal ini adalah pertama kalinya kami bertemu. Tapi, biarlah itu menjadi urusan mereka, yang harus aku lakukan hanyalah berdoa meminta yang terbaik.
 Sebenarnya aku tidak terlalu berharap pada pekerjaan ini, biarlah mulai sekarang aku hanya akan berharap kepada-Nya.
Di rumah, memang sengaja aku tidak memberitahu ibu, biarlah seperti  ini. Jika aku diterima nanti, maka akan ku hadiahkan keberhasilanku ini pada ibu. Sehari dua haru berlalu, akhirnya aku mendapat telepon dari pihak rumah sakit yang mengatakan bahwa aku harus segera ke sana, membawa berkas-berkas dan menandatangani kontrak kerja. Ku beritahu kabar gembira ini pada ibu, betapa terkejutnya ibu mendengar semua ini. Tak ada hentinya ibu mengucap syukur atas keberhasilanku yang sudah mendapat pekerjaan yang dapat dikategorikan layak. Dengan semangat aku berpamitan untuk pergi, tak lupa mengucapkan salam sebelum berangkat.
 Ketika sampai di rumah sakit, aku bertemu dengan satpam yang saat itu merekomendasikan diriku. Satpam itu menebar senyumnya ketika melihatku, kemudian menjabat tangan sembari berkata,
“Selamat, saya turut senang ada pekerja baru yang ramah seperti anda.”
 Dengan itu, aku mengerutkan dahi tanda tidak mengerti, sebenarnya siapa satpam itu, dan tahu apa dia tentang kehidupanku. Seketika bulu kundukku berdiri, dengan canggung aku pun membalas senyumnya. 
Setelah melewati beberapa halaman, sampailah aku pada tempat yang dijanjikan, yaitu tempat saat aku melakukan wawancara. Di sana sudah ada pak Anto, yaitu orang yang mewawancarai para calon pekerja hari lalu. Setelah menandatangani kontrak, kami pun berbincang-bincang sebentar mengenai cakupan wilayah, jadwal kerja, dan sebagainya. Sampai akhirnya sampailah kami pada pembicaraan yang membuat ku terkejut. Dari pak Anto inilah aku mengetahui fakta bahwa bapak pengemudi berjas hitam yang sempat ku tolong beberapa hari lalu adalah adik kandung dari pak satpam. Dan yang membuatku terkejut lagi adalah fakta bahwa bapak pengemudi itu menderita gangguan jiwa dan sedang kabur dari rumah dengan membawa motor dan mengenakan jas milik ayah mereka. Pak Anto berkata bahwa pak satpam ingin berterima kasih kepada ku karena telah menolong sang adik. Namun dalam pikiranku justru akulah yang seharusnya berterima kasih kepada pak satpam karena sudah bersedia merekondasikanku tanpa diminta. Sejak hari itu, aku pun berteman baik dengan pak satpam dan resmi menjadi supir mobil jenazah di rumah sakit tersebut. Aku benar-benar bersyukur dan berterima kasih, ternyata Allah swt mendengarkan doa-doa ku dan ibu selama ini.
Sesampainya di rumah, aku langsung memeluk ibu dan menceritakan semuanya. Tangis haru ibu dan ucapan sukur yang keluar berulang kali memenuhi gendang telinga ini. Mulai dari sekarang aku berjanji tidak akan menyia-nyiakan waktu, kesempatan dan apa telah Allah swt berikan padaku. Karena itu semua adalah sebuah nikmat. Yah, walaupun aku tahu ini tidak ssesuai dengan apa yang ku cita-citakan dulu, tapi aku yakin ini yang terbaik yang diberikan Allah padaku.
Ketika menjalaninya pun aku merasa senang dan nyaman. Walaupun ketika berkerja rasanya bertolak belakang dengan rasa senang itu, seringkali perasaanku teriris ketika melihat sebuah keluarga yang menangis pilu karena di tinggal orang tercinta. Bahkan pernah terjadi seorang wanita hamil dengan mata sembab tiba-tiba saja pinsan ketika jenazah suaminya datang ke rumah. Apalagi jika terdapat anak kecil, aku seperti merasakan perasaan yang sama ketika kehilangan bapak dulu. Oleh karena itu, aku berusaha menguatkan mereka, menasehati semampuku agar kejadian yang dulu sempat ku alami tidak terulang lagi. Sekarang aku tahu bahwa bukan hanya aku yang merasakan itu, banyak orang lain yang bahkan menanggung rasa sakit lebih dalam lagi. Seperti ketika seorang kakak beradik yang harus kehilangan kedua orang tuanya karena kecelakaan, atau sepasang suami istri yang harus rela kehilangan anak mereka.
Melihat kejadian-kejadian itu, aku menyadari jika orang yang kita sayang harus pergi terlebih dahulu, itu bukan menandakan Allah swt tidak sayang ataupun tidak adil kepada kita. Dengan terjadinya hal itu, allah ingin memberikan cobaan hidup berupa rasa sakit dan kerinduan. Jangan sampai kita tenggelam dalam keterpurukan. Jangan sampai orang lain mengalami apa yang pernah aku alami. Pemikiran itulah yang ingin aku sampaikan kepada mereka yang merasa dipisahkan ataupun ditinggalkan. Yah, walaupun hanya memberi nasihat seperti itu, aku harap itu semua bisa membantu mereka. Sejujurnya ini sejalan dengan cita-citaku, yaitu memberikan dakwah positif kepada sesama. Karena sekarang aku tahu bahwa berdakwah tidak mengenal tempat, dakwah bisa dilakukan dimana saja dan kepada siapa saja.
      Dari cerita hidupku tadi, aku sadar bahwa Allah swt tidak akan menguji seorang hamba di luar batas kemampuan hambanya. Allah swt itu Maha bijaksana, Maha baik. Allah swt tahu apa yang terbaik bagi kita selaku hambanya. Hanya kepada Allah swt semua urusan dikembalikan dan hanya Allah lah yang memutuskan apa yang terjadi pada setiap hamba sesuai denga qodho dan qodarnya. Kita sebagai manusia hanya perlu percaya dan yakin jika segala sesuatu pasti terjadi atas kehendak Allah swt, dan setiap kehendak Allah swt pastilah yang terbaik bagi setiap hamba.

0 komentar:

Posting Komentar