Hari ini hujan tak hentinya
turun di kota tempat tinggalku, alhasil aktivitas yang sering aku jalani
seperti biasanya terhambat karena hujan yang tak henti. Tidaklah apa karena
hujan merupakan sesuatu yang selalu ditunggu oleh setiap manusia di bumi ini.
Ya maklum saja, beberapa minggu ini tempat tinggalku sedang dilanda kemarau.
“No, Nono kamu kenapa?”
Seketika lamunan ku tentang
hidup ambyarr karena di kagetkan oleh ibuku yang tepat sekali teriak di telinga
sebelah kiriku.
Ya nama ku Jono Wiranto
Sudibyo, dan jika kalian ingin lebih dekat denganku bisa panggil aku Jono, atau
seperti ibuku Nono, atau yang imut sekalipun yakni Dibo hehee. Pada 27
September hari ini umurku tepat menginjak 18 tahun. Dan pada hari baik ini
semoga aku dan keluargaku selalu dalam lindungan Allah swt, amin. Di umurku
yang baru menuju dewasa ini dan baru lulus kemarin tingkat MA, jujur saja aku
hanya diam di rumah. Karena untuk melanjutkan perguruan tinggi keuangan
keluargaku tidak mampu, untuk bekerja pun pengalamanku sempit bahkan bisa
dibilang belum ada pengalaman. Yang aku bisa lakukan hanya membantu ibuku
berjualan sayur mayur di pasar setiap paginya.
Kedua orangtuaku memang hanya
penjual sayur mayur hasil kebun yang tidak seberapa, tetapi optimis mereka
dalam menjalankan kehidupan tidak akan kalah oleh apa yang mereka dapat di
dunia ini. Aku saja sebagai anaknya sempat menyerah, karena lupa bagaimana cara
bersyukur sebagai manusia, tetapi berkat ibu dan bapakku yang selalu bekerja
keras dan memotivasiku, aku percaya hidup di dunia akan berjalan seiring dengan
waktu dan kita sebagai pelaku harus memanfaatkan waktu tersebut.
Sejak aku lahir dikeluarga yang
sederhana ini, aku selalu mendapatkan kebahagiaan walau sekecil apapun itu
penyebabnya. Aku ingat betul, waktu umurku masih 5 tahun diriku ingin sekali
bersekolah seperti anak-anak lainnya yang biasa kita sebut sekolah PAUD. Apa
daya kebutuhan keluargaku untuk sehari-harinya saja pas-pasan apalagi untuk
bayar sekolahku nanti. Tetapi Allah swt berkata lain pada keluargaku ini, tepat
pada saat umurku 7 tahun aku bisa bersekolah dasar, berkat kedua orang tuaku
yang dipercayai untuk menjaga kebun tetangganya sendiri dan orangtuaku mendapat
bayaran dari hasil kebun tersebut.
Pada saat aku duduk di sekolah
dasar tidak sedikit aku mnedapat ledekan dari teman sekolahku maupun teman
kelasku yang melihat penampilanku tidak seperti mereka yang rapih, bersih,
memiliki benda-benda yang harganya tidak dapat aku beli. Aku sadar untuk seperti
mereka aku takkan mampu, sudah bersekolah di sekolah dasar saja aku sudah
senang dan bangga, untuk apa aku meminta lebih dari kedua orangtuaku ini.
Karena aku selalu ingat nasihat ibu dan bapakku, yakni setiap mahluk ciptaan
Allah swt, tidak dilihat dari apa yang mereka punya di dunia tetapi dilihat
dari ketakwaan setiap mahluknya kepada Allah swt.
“Jono, No, Jon?” (dengan
sedikit berteriak),
Ya, hah, kenapa? Begitupun aku
yang menjawab seperti orang yang baru tersadar dari tidur panjang hehe. Ternyata
teman kelasku lah yang memanggil lebih tepatnya dia bernama Aldo. Bisa dibilang
Aldo adalah orang yang sangat baik mau
berteman denganku, karena orang-orang di sekolahku memandang diriku saja tidak
mau, apalagi untuk berteman denganku.
Ternyata Aldo memanggil karena membawa kabar yang sangat menggembirakan, yakni
aku mendapat beasiswa selama diriku bersekolah di sekolah dasar ini. Sulit
untukku percaya, tetapi aku tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini. Aku
harus belajar lebih lagi untuk mempertahankan beasiswa yang diberikan kepadaku.
Oiya,
jika kalian tidak keberatan aku ingin memberi tahu yakni cita-citaku di dunia
ini hanya satu dapat memberikan nasihat pada diriku sendiri dan orang lain,
bisa dibilang berdakwah memnyebarkan setiap ajaran positif yang kudapat semasa
hidupku. Semoga dari cita-citaku ini aku tidak hanya bermanfaat untuk diriku
sendiri tetapi bermanfaat terhadap orang yang ada disekitarku nanti.
Selang
6 tahun aku bersekolah dasar dengan beasiswa yang ku dapati. Akhirnya aku bisa
lulus dengan hasil dan nilai yang dapat memuaskan diriku dan kedua orangtuaku.
Berkat nilai yang baik kudapati di sekolah dasar aku dapat melanjuti
pendidikanku ke jenjang selanjutnya yakni SMP. Tak disangka teman yang
satu-satunya ku punya di sekolah dasar yakni Aldo bertemu kembali pada sekolah
yang sama tetapi jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
Tidak
jauh beda suasana yang kudapati di SD maupun SMP, kebanyakan orang memandangku
dengan pandangan mengejek karena penampilanku tidak sebagus penampilan mereka,
lagi-lagi seperti itu. Jujur saja rasa ingin seperti mereka selalu datang saat
mereka memerlakukanku seperti itu, tetapi sekuat tenaga aku selalu
mengendalikan nafsuku ini agar tidak termakan oleh ejekan mereka dan selalu
berusaha untuk merendahkan hati ini. Karena aku yakin Allah swt tidak tidur dan
selalu melihat apa yang mahluknya perbuat di bumi ini, dan dari perbuatan
tersebut akan mendapat ganjaran yang sesuai dengan apa yang diperbuatnya.
Pada
saat itu aku sedang duduk dibangku kelas tiga dan sedang mengahadapi
ujian-ujian yang diadakan oleh sekolah untuk kelulusan, bisa dibilang hanya
menghitung bulan saja aku akan lulus dari tingkat SMP ini. Aku ingat sekali,
pada waktu istirahat berlangsung wali kelasku memanggil diriku dengan wajah
yang sangat cemas, aku sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tetapi
aku ingat betul wali kelasku hanya bilang padaku agar segera pulang kerumah,
disitu aku tambah bingung karena jam pelajaran di sekolah masih berlangsung
sedangkan aku disuruh untuk cepat pulang. Baiklah dengan pikiran yang bercabang
aku langsung bergegas untuk pulang pada jam itu juga.
Bagai
nuklir yang menghantam seisi badanku, tepat pada saat aku sampai di depan
rumah. Ada bendera kuning yang terpasang di depan rumahku. Entah bagaimana perasaanku
saat itu, semua kejadian bahagia yang ku alami seketika sirnah melihat bapakku
sendiri yang sudah dibungkus rapih oleh kain putih. Aku sebagai anak hanya bisa
menangis, menangis, dan menangis sejadi-jadinya begitupun dengan ibuku yang
sudah setengah sadar dengan mata yang bengkak. Yang terngiang pada pikiran ku
saat itu, mengapa bapak tega meninggalkanku dengan ibu disini dan apa yang
menyebabkan ini semua terjadi. Karena yang ku tahu bapak didepanku selalu
memperlihatkan ketegasannya, kasih sayangnya dan setiap kebahagiaan yang dibawa
padaku.
Sepeninggalan
bapakku saat itu, semangat diriku untuk menuntut ilmu dan mengejar
cita-citaku seakan hilang. Tidak lagi
ada pikiran untuk sekolah setinggi-tingginya, yang ada di pikiranku hanya
bapak, untuk apa aku sukses tanpa ada bapak. Toh sebagian kebahagiaanku sudah
diambil oleh Allah swt dan sempat terbersit dalam pikiranku tidak adilnya
pencipta terhadap diriku dan keluargaku ini. Tetapi ibu memarahiku dengan mata
yang berkaca-kaca, ibu menjelaskan semuanya padaku tentang mengapa bapak
meninggalkanku, tentang apa yang sebenarnya terjadi saat ini.
Aku
salah, aku merasa bersalah atas sikapku. Dan yang baru ku tahu, bapakku
meninggal karena mempunyai penyakit yang dapat dikategorikan berbahaya, yakni
tumor yang bersarang pada kepalanya dan jika kambuh dapat menimbulkan sakit
kepala yang sangat sakit luar biasa. Dan bapak selalu menyembunyikan itu semua
di depan diriku, karena kata ibu, bapak tidak mau setiap pelajaran yang
kudapati terganggu akan penyakitnya ini dan bapak tidak mau aku terlalu
khawatir terhadap kesehatannya itu. Semua itulah yang membuat aku tidak tahu
apa-apa.
Setelah
mendengar semua penjelasan ibuku tetap saja semangatku untuk menuntut ilmu
lebih lanjut sudah tidak seperti dulu. Tak terasa ujian akhir sekolah sudah
tiba, karena aku sibuk dengan kesedihanku dan alhasil setiap ujian yang ku
kerjakan nilainya tidak memuaskan dan itu berimbas pada nilai akhir ku pada
kelulusan nanti. Benar saja, pada saat kelulusan tiba nilai ku turun drastis
dan diriku sangat menyesali itu, karena aku tidak dapat melanjutnya ke tingkat
yang lebih tinggi lagi dengan beasiswa yang berlanjut. Dengan itu, ibuku harus
membayar sekolahku pada tingkat MA dan tanpa beasiswa sedikitpun.
Perasaan
penyesalan yang selalu menghantuiku dan akibat penyesalan itu cara belajarku di
MA ini sangatlah turun drastis. Aku sering sekali bermalas-malasan, dan sering
sekali melamun. Tidak banyak cerita dalam masa MA ku ini, karena kujalani tidak
dengan ambisi yang menggebu. Tiga tahun
kulewati tanpa prestasi yang ku dapati. Hanya beban yang ku berikan pada ibu,
karena setelah lulus MA inilah aku bingung untuk melakukan apapun.
Aku merasa hidupku sekarang berbeda jauh
dengan yang dulu. Tidak pernah ada lagi kegiatan-kegiatan yang mengisi hariku,
hanya berjualan setiap pagi dan setelahnya berdiam diri tanpa melakukan apapun.
Seringkali hal tersebut membuatku bosan berada di rumah. Pernah muncul
pemikiran untuk mencari pekerjaan, namun ilmu yang ku punya belum cukup untuk
itu.
Hari-hari yang kulewati tak
terasa berarti. Tak ada kegiatan bahkan tak ada satu pun yang bisa diharapkan.
Terkadang aku selalu berfikir, apakah ibu menganggapku seperti beban. Entahlah,
ku rasa penyesalan itu mulai datang.
Hari ini seperti hariku yang biasa, bersama
ibu, aku berangkat ke pasar untuk menjual sayur mayur. Kami berangkat tepat
ketika jarum jam menujukan pukul 05.00. Memang sengaja, karena kata ibu agar
sayur yang dijual tidak begitu layu dan masih dikatakan segar. Terkadang dalam
perjalanan ke sana, aku selalu memerhatikan setiap rumah yang kami lewati,
ketika para kepala keluarga berpamitan pergi bekerja dan di antar oleh istri
mereka sampai pintu. Ada perasaan aneh yang menjalar dalam tubuh ini. Seperti
hendak marah namun tertahan ataupun rasa kesal yang menyelimuti hati. Entahlah,
aku tidak tahu perasaan apa, mungkinkah aku merasa iri pada mereka karena tidak
dapat merasakan lagi hal serupa dalam keluargaku. Yah, jujur saja sejak
kematian bapak, aku sering merasa iri pada siapapun itu.
Pasar bulan sabit. Sungguh,
sebuah nama yang aneh untuk pasar tradisional biasa. Tidak tahu siapa yang
menamakan, tapi yang jelas ibu pernah berkata bahwa nama itu sudah ada sebelum
ibu lahir. Suasana pasar belum sepenuhnya ramai. Baru terlihat beberapa
pedagang ikan, daging dan sayur mayur seperti ibu. Mereka juga tengah
bersiap-siap, menggelar lapak untuk tempatnya berjualan. Tak heran jika belum
ada pembeli, matahari saja belum sepenuhnya muncul, bahkan bulan pun masih
terlihat jelas di atas sana. Tak lama kami pun sampai pada lapak yang sudah ibu
sewa. Kami segera bersiap-siap, menata berbagai sayur mayur agar terkesan
rapih, tak lupa aku juga memebersihkan sampah yang berserakan di sekitar lapak
ibu, yah, agar lebih terlihat rapih dan menarik pembeli agar belanja kemari.
Setelah dua tahun terakhir
menemani ibu berjualan, melihat bagaimana jerih payah ibu yang dengan sabarnya
menahan panas oleh paparan sinar matahari, serta harus mendengar suara-suara
bising yang memekakan telinga, hanya demi menafkahiku seorang diri. Mengingat
itu semua, aku mulai sadar, bahwa tak seharusnya aku tetap berdiam diri seperti
ini. Pikiranku mulai terbuka untuk membuat perubahan. Dari sana lah aku
berpikir untuk mencari pekerjaan dan mengembangkan perekonomian keluarga.
Sebenarnya aku sempat menyerah
ketika pekerjaan bak kuda liar yang berlari lincah. Sulit tertangkap. Aku pun
hampir berputus asa, tidak ada tempat yang menyediakan lowongan pekerjaan
untukku. Tapi di tengah keputusasaan itu, suara ibu terus berputar dala
ingatan. Aku ingat betul ketika ibu hampir setiap harinya menasihatiku untuk
terus berusaha. Ibu selalu berucap,
“Sampai kapan kamu terus seperti ini, No? Apa
kamu tidak bosan di rumah terus? setiap hari hanya membantu ibu menjual sayur
yang sebenarnya masih bisa ibu lakukan sendiri. Ada baiknya kamu segera mencari
pekerjaan, jangan mudah menyerah, bersabar dan terus berdoa, karena tak
selamanya ibu akan bersanamu, menanggung hidupmu.”
Begitulah kira-kira setiap kata
yang keluar dari mulut ibu. Ucapan itu selalu terngiang di telingaku. Seakan
memotivasi agar terus berjuang.
Sebenarnya aku masih ingat
ketika kecil, aku sangat ingin menjadi pendakwah, menyebarkan setiap ajaran
positif yang ku dapat semasa hidup. Tapi apalah daya, ilmu dan pengalaman yang
ku punya belum mencukupi. Sempat terbesit keinginan untuk masuk pesantren,
memperbaiki kesalahan yang dulu sempat ku buat. Yah, setidaknya aku bisa
menambah pengetahuan dan wawasan di sana. Namun sesuatu itu menghalangiku,
rasanya tidak tega jika harus meninggalkan ibu yang sudah mulai berusia lanjut
seorang diri di rumah. Bersusah payah sendiri demi membiayaiku, sungguh aku
tidak tega membayangkannya. Jika itu saja tidak bisa ku lakukan, apalagi jika
harus kuliah, rasanya itu mustahil untuk
kucapai.
Alhasil, di seperti inilah aku
sekarang, berusaha mencari pekerjaan yang tidak mementingkan nilai. Bekerja
menggunakan tenaga dan bukannya pikiran. Sampai suatu ketika aku sempat bekerja
menjadi kuli bangunan untuk beberapa hari. Namun gaji yang diterima tidak
sebanding dengan setiap tetes keringat yang keluar. Gaji yang dibayarkan
sangatlah kecil, tidak mencukupi untuk kebutuhan sehari-hari. Walaupun begitu,
aku masih bertahan, sampai akhirnya pada suatu hari aku melakukan kesalahan,
tidak sengaja aku menjatuhkan puluhan batu bata dari atas gedung yang sedang
dibangun. Untung saja tidak mengenai seorang pun yang ada di bawahnya, hanya
saja kata bosku itu menimbulkan kerugian yang cukup besar. Alhasil aku di pecat
dari pekerjaan itu.
Begitulah sampai akhirnya aku
kembali menjadi pengangguran. Setiap harinya ibu selalu menyemangatiku dan
selalu menasehtai untuk terus bersabar dan terus berusaha. Terkadang aku
melihat ibu yang juga sedang berdoa untuk kelancaran hidupku. Sungguh, aku baru
menyadari betapa besarnya peran ibu dalam hidupku ini.
Satu, dua, tiga, sampai tujuh
hari berlalu. Ketika matahari tengah terik-teriknya, menyapa setiap kulit yang
berada di bawahnya. Saat itu aku sedang berjalan menuju pasar, dengan niat
menyusul ibu yang sedang berjualan. Namun sesuatu itu mengejutkan diriku. Tidak
tahu karena apa, sebuah motor yang dikendarai oleh bapak berjas hitam
tergelincir jatuh dan menyeret tanah. Dengan gerakan cepat aku langsung
menghampiri sang pengemudi, ternyata terdapat terluka yang cukup parah pada
kaki dan tangannya. Karena jalanan yang sepi dan tidak ada orang yang bisa
dimintai pertolongan, aku pun langsung membawa sang pengemudi ke rumah sakit
menggunakan motor yang tadi dikendarai olehnya.
Dengan sigap aku menyalip
kendaraan-kendaraan lain yang berlalu lalang di jalanan. Memang keahlianku
dalam mengemudi tidak perlu diragukan lagi. Akhirnya sampailah aku di rumah
sakit terdekat. Di sana ku langgung berteriak memanggil perawat yang memang
sedang berjalan di dekat pintu masuk, dengan sigap mereka membawa kursi roda dan
membantuku untuk menduduki pengemudi tadi di sana. Setelah memberikan
penjelasan dan berpamitan pada sang pengemudi, tak sengaja mataku menangkap
sebuah catatan yang tertulis “di buka lowongan pekerjaan.” Entah mengapa hatiku
tergerak untuk menelusuri lebih jauh tentang lowongan itu. Aku pun bertanya
pada salah satu satpam yang berada di sekitar rumah sakit. Setelah mengutarakan
maksud dan tujuan, satpam itu mengantarkanku menuju tempat wawancara bagi para
calon pekerja. Satpam itu berucap jika sekarang adalah hari terakhir wawancara,
dan tidak ada salahnya jika langsung mengikuti wawancara walaupun belum
konfirmasi sebelumnya. Berhubung wakil pemilik rumah sakit adalah orang yang
pengertian dan bijaksana. Untunglah saat itu hanya tersisa dua orang yang masih
menunggu giliran. Dengan sabar aku pun menunggu sampai akhirnya tibalah saat
giliranku untuk wawancara. Setelah berkomunikasi sebentar, akhirnya aku tahu
bahwa rumah sakit itu sedang membutuhkan supir untuk mobil jenazah. Sebuah
pekerjaan yang cukup baik menurutku, atau mungkin sangat baik bagi pengangguran
seperti diriku ini. Saat hendak kembali ke pasar, tak sengaja sayup-sayup aku
mendengar pak satpam yang merekomendasikanku untuk di terima kerja pada
lowongan itu, dengan alasan aku memiliki keahlian lebih dalam menyetir dan
berkepedulian tinggi terhadap sesama. Mengetahui itu aku merasa bahwa yang
dilakukan satpam itu tidaklah benar. Aku sempat berpikir, tahu apa satpam itu
tentang kehidupanku, padahal ini adalah pertama kalinya kami bertemu. Tapi, biarlah
itu menjadi urusan mereka, yang harus aku lakukan hanyalah berdoa meminta yang
terbaik.
Sebenarnya aku tidak terlalu berharap pada
pekerjaan ini, biarlah mulai sekarang aku hanya akan berharap kepada-Nya.
Di rumah, memang sengaja aku
tidak memberitahu ibu, biarlah seperti
ini. Jika aku diterima nanti, maka akan ku hadiahkan keberhasilanku ini
pada ibu. Sehari dua haru berlalu, akhirnya aku mendapat telepon dari pihak
rumah sakit yang mengatakan bahwa aku harus segera ke sana, membawa
berkas-berkas dan menandatangani kontrak kerja. Ku beritahu kabar gembira ini
pada ibu, betapa terkejutnya ibu mendengar semua ini. Tak ada hentinya ibu
mengucap syukur atas keberhasilanku yang sudah mendapat pekerjaan yang dapat
dikategorikan layak. Dengan semangat aku berpamitan untuk pergi, tak lupa
mengucapkan salam sebelum berangkat.
Ketika sampai di rumah sakit, aku bertemu
dengan satpam yang saat itu merekomendasikan diriku. Satpam itu menebar
senyumnya ketika melihatku, kemudian menjabat tangan sembari berkata,
“Selamat, saya turut senang ada
pekerja baru yang ramah seperti anda.”
Dengan itu, aku mengerutkan dahi tanda tidak
mengerti, sebenarnya siapa satpam itu, dan tahu apa dia tentang kehidupanku.
Seketika bulu kundukku berdiri, dengan canggung aku pun membalas
senyumnya.
Setelah melewati beberapa
halaman, sampailah aku pada tempat yang dijanjikan, yaitu tempat saat aku
melakukan wawancara. Di sana sudah ada pak Anto, yaitu orang yang mewawancarai
para calon pekerja hari lalu. Setelah menandatangani kontrak, kami pun
berbincang-bincang sebentar mengenai cakupan wilayah, jadwal kerja, dan
sebagainya. Sampai akhirnya sampailah kami pada pembicaraan yang membuat ku
terkejut. Dari pak Anto inilah aku mengetahui fakta bahwa bapak pengemudi
berjas hitam yang sempat ku tolong beberapa hari lalu adalah adik kandung dari
pak satpam. Dan yang membuatku terkejut lagi adalah fakta bahwa bapak pengemudi
itu menderita gangguan jiwa dan sedang kabur dari rumah dengan membawa motor
dan mengenakan jas milik ayah mereka. Pak Anto berkata bahwa pak satpam ingin
berterima kasih kepada ku karena telah menolong sang adik. Namun dalam
pikiranku justru akulah yang seharusnya berterima kasih kepada pak satpam
karena sudah bersedia merekondasikanku tanpa diminta. Sejak hari itu, aku pun
berteman baik dengan pak satpam dan resmi menjadi supir mobil jenazah di rumah
sakit tersebut. Aku benar-benar bersyukur dan berterima kasih, ternyata Allah
swt mendengarkan doa-doa ku dan ibu selama ini.
Sesampainya di rumah, aku
langsung memeluk ibu dan menceritakan semuanya. Tangis haru ibu dan ucapan
sukur yang keluar berulang kali memenuhi gendang telinga ini. Mulai dari
sekarang aku berjanji tidak akan menyia-nyiakan waktu, kesempatan dan apa telah
Allah swt berikan padaku. Karena itu semua adalah sebuah nikmat. Yah, walaupun
aku tahu ini tidak ssesuai dengan apa yang ku cita-citakan dulu, tapi aku yakin
ini yang terbaik yang diberikan Allah padaku.
Ketika menjalaninya pun aku
merasa senang dan nyaman. Walaupun ketika berkerja rasanya bertolak belakang
dengan rasa senang itu, seringkali perasaanku teriris ketika melihat sebuah
keluarga yang menangis pilu karena di tinggal orang tercinta. Bahkan pernah
terjadi seorang wanita hamil dengan mata sembab tiba-tiba saja pinsan ketika
jenazah suaminya datang ke rumah. Apalagi jika terdapat anak kecil, aku seperti
merasakan perasaan yang sama ketika kehilangan bapak dulu. Oleh karena itu, aku
berusaha menguatkan mereka, menasehati semampuku agar kejadian yang dulu sempat
ku alami tidak terulang lagi. Sekarang aku tahu bahwa bukan hanya aku yang
merasakan itu, banyak orang lain yang bahkan menanggung rasa sakit lebih dalam
lagi. Seperti ketika seorang kakak beradik yang harus kehilangan kedua orang
tuanya karena kecelakaan, atau sepasang suami istri yang harus rela kehilangan
anak mereka.
Melihat kejadian-kejadian itu,
aku menyadari jika orang yang kita sayang harus pergi terlebih dahulu, itu
bukan menandakan Allah swt tidak sayang ataupun tidak adil kepada kita. Dengan
terjadinya hal itu, allah ingin memberikan cobaan hidup berupa rasa sakit dan
kerinduan. Jangan sampai kita tenggelam dalam keterpurukan. Jangan sampai orang
lain mengalami apa yang pernah aku alami. Pemikiran itulah yang ingin aku
sampaikan kepada mereka yang merasa dipisahkan ataupun ditinggalkan. Yah,
walaupun hanya memberi nasihat seperti itu, aku harap itu semua bisa membantu
mereka. Sejujurnya ini sejalan dengan cita-citaku, yaitu memberikan dakwah
positif kepada sesama. Karena sekarang aku tahu bahwa berdakwah tidak mengenal
tempat, dakwah bisa dilakukan dimana saja dan kepada siapa saja.
Dari
cerita hidupku tadi, aku sadar bahwa Allah swt tidak akan menguji seorang hamba
di luar batas kemampuan hambanya. Allah swt itu Maha bijaksana, Maha baik.
Allah swt tahu apa yang terbaik bagi kita selaku hambanya. Hanya kepada Allah
swt semua urusan dikembalikan dan hanya Allah lah yang memutuskan apa yang
terjadi pada setiap hamba sesuai denga qodho dan qodarnya. Kita sebagai manusia
hanya perlu percaya dan yakin jika segala sesuatu pasti terjadi atas kehendak
Allah swt, dan setiap kehendak Allah swt pastilah yang terbaik bagi setiap
hamba.








0 komentar:
Posting Komentar