Jumat, 19 Juni 2020

Supir Mikrolet

Pagi hari yang bersinar, suasana embun pagi yang menyejukkan. Burung-burung berkicauan, rumput bergoyang, tumbuh-tumbuhan, hewan-hewan, gunung, dan langit pun berdzikir dan berstasbih kepada Allah SWT. Atas segala karunia dan nikmat yang telah diberikan kepada setiap makhluknya sesuai dengan kadar yang telah ditetapkan oleh-Nya.

Disebuah kota kecil jauh dari keramaian sebuah keluarga hidup bahagia. Seorang kepala keluarga berprofesi sebagai supir angkot tinggal bersama seorang istri, seorang putra yang sekarang duduk dikelas 3 SMP, dan seorang putri yang baru berumur satu tahun.

“Yah, ini sudah ibu siapkan sarapan pagi sebelum berangkat kerja”, kata seorang wanita yang berdiri dari arah dapur sengan memegang secangkir teh ditangannya.

“Baik bu, ayah sedang bersiap-siap dulu”. Kata seorang lelaki si kepala keluarga.

“Ibu, aku berangkat duluan yah, sudah terlambat”. Kata seorang anak kecil yang membawa tas gendong berwarna  hitam dan membawa sepotong roti di tangan nya.

“Ya sudah hati-hati ya nakk”

“Baiklah… ayah, ibu assalamu’alaikum……….” kata seorang anak laki-laki tersebut, dan lalu ia pergi dari halaman rumahnya menuju ke sekolah.

“Wa’alaikum sallam” Ucap kata sang ibu.

“Yaudah bu, Ayah mau berangkat kerja dulu ya…” kata sang Ayah

“Iya yah hati-hati di jalan, semoga lancar tidak ada halangan suatu apa pun” jawab sang istri kepada suaminya.

v  

Hari semakin siang, rumah semakin sepi. Si istri pun mengambil keranjang dan menggendong seorang anak kecil yang mungil. Di lihatlah seorang bapak-bapak yang sedang merapihkan dagangan nya sambal berteriak “Sayuuuuuuur sayuuuuur Bu, sayuuuuur masih seger”

“Mas, ada sayur asem…?” kata si perempuan kepada pedagang sayuran.

“Ada bu, mau berapa sayur asem nya” jawab si pedagang sayur.

“Saya mau sayur asem nya sebungkus, bawangnya Rp.2000 sama cabe nya Rp.3.000”

“Baiklah bu, saya ambilkan dulu pesenan ibu” kata si pedagang sayuran itu.

Setelah beberapa menit kemudian akhirnya sayuran itu di kemas dengan plastic yang berwarna putih.

“Bu,,,,ini sayuran yang ibu pesen” kata si pedangang sayur.

“Oiya Mas,, berapa semuanya” kata si perempuan itu.

“semua nya Rp.7000 saja bu” jawab sang penjual sayuran.

“Makasih ya mas”

“Sama – sama bu, semoga menjadi langganan di sayuran saya ya” kata si pedagang sayuran.

Setelah pulang berbelanja sayuran, si Ibu pun masak makanan yang telah dibelinya tadi.

v  

Setiba disekolah, Kholil pun langsung masuk kelasnya, dan duduk dikursi tempat biasa ia tempati bersama Farid.

“Rid, PR Matematika sudah kamu kerjakan?” tanya Kholil, kepada Farid.

“Sudah Lil, Kmu sudah?” Jawab Farid

“Alhamdulillah sudah”

Teeeetttt. Teeeeettttt Teeeeeeeeeeettttttt……….

“Eh bel nya sudah bunyi tuh, ayo kita siapkan buku, sebentar lg Bu Nufus akan segera datang untuk mengajar”

“Ayo”

“Anak-anak, tugas yang minggu kemarin ibu berikan sudah dikerjakan?” tanya seorang guru Matematika yang sekaligus wali kelas mereka.

“Sudah, bu”.

“Baiklah sekarang dikumpulkan di depan”

“Anak-anak, ibu tidak lupa mengingatkan kalian untuk melunasi tour kalian, karena waktunya sudah mendekati”

“Iya bu”.

“Kholil, kamu sudah lunas?” tanya Farid kepada Kholil.

“Belum Rid, belum sama sekali malah, Ayah aku blum punya uang untuk melunasinya. Kamu sudah lunas?”

“Alhamdulillah sudah Lil, mudah-mudahan Ayah kamu cepet dapet rezeki ya’

“Iya aamiin terimakasih ya Rid”

“Iya sama-sama”

v  

Siang itu dibawah teriknya panas, bising nya suara kendaraan, gedung-gedung pencakar langit, dan alas yang menjulang tempat berpijak, dan hiasan rambu-rambu lalu lintas. Seorang pria mengendarai sebuah mikrolet dengan wajah Lelah dan lesu, keringat yang bercucuran, tetapi beliau tetap semangat untuk mencari nafkah

“Balaraja…Raja….. Raja…. Raja.. Bu, pak Balaraja Balaraja…” teriaknya sambil membunyikan klakson mikroletnya.

“Pak, ke Balaraja? Tanya seorang ibu-ibu yang hendak menaiki mikroletnya.

“Iya bu, ke Balaraja mari silahkan naik.”

Sepanjang jalan hanya ada sedikit penumpang yang menaiki mikroletnya. Tanpa ia sadari dari pagi hingga malam penghasilan nya begitu sedikit, berharap di lain waktu penghasilan nya bertamabah agar bias mencukupi kebutuhan kelurganya.

“Ini pak uang setoranya” ucap sang sopir.

“Ini apaan, ko cuman segini?...” jawab si bos mikrolet.

“Maaf pak, memang rezeki saya hanya segini. Mungkin di lain waktu bisa mendapatkan lebih dari ini”. Balas sang sopir

“Kamu yakin? Segini tuh gak ada apa-apanya. Uang tambal ban pun lebih mahal dari pada pendapatan kamu hari ini. Yaudah sana mending kamu langsung pulang saja”. Tambah si bos.

Lalu pria itu melangkahkan kakinya menuju pintu keluar yang berada diujung ruangan. Dengan wajah lesu dan raut muka yang sedang putus asa dan frustasi memikirkan beban pekerjaan serta keluarga di rumah.

 

v  

Pria itu pun sampai dirumah. Dengan rasa putus asa iya mengetuk pintu yang berbalut dengan triplek penuh lumut.

“Assalamu’alaikum….” Suara pria tersebut.

“Wa’alaikumussalam. Eh Ayah sudah pulang. Ayo duduk yah, biarkan ibu membuatkan teh untuk ayah”. Si istri mencoba untuk menenangkan suaminya.

“Ayah kenapa? Kok perasaan mukanya gak ada keceriaan sama sekali”

“Gak ada apa-apa kok bu, cuma masalah kecil”

“Ayah kalau ada masalah cerita aja ke Ibu”

“Jadi sebenarnya tadi Ayah dimarahi si bos besar gara-gara uang setoran tidak mencukupi, tidak sesuai sama targetnya.”

“Loh? Tapi Ayah gak kenapa-kenapa kan?”

“Gak kenapa-kenapa kok Bu. Maafin Ayah ya belum bisa kasih yang terbaik buat kalian”.

“Iya yah, gak apa-apa kok. Belum rezekinya, mungkin dilain waktu bisa lebih dari ini”.

v  

Pagi itu di keheningan yang di hiasi hembusan embun yang menari di atas rumput  di sertai kicauan burung yang asik bercengkrama sesama nya, tiba tiba terpecah dengan suara seorang anak yang setengah berteriak kepada sang kepala keluarga .

“Yah… yah… aku butuh uang untuk membayar tour sekolah ku, karena semua teman teman ku semuanya sudah membayar tunggakan yang harus di lunaskan itu. Tapi aku sendiri yang belum melunaskannya, aku malu yah.. Aku malu dengan teman teman ku…!!” Kata seorang anak yang di penuhi rasa kecewa kepada sang ayah sembari menggerutu.

“Iya nak sabar, Ayah pasti melunasi tunggakan tour kamu tapi ayah butuh waktu ayah belum mempunyai uang kalo sekarang”. Ujar sang ayah sembari menatap sang anak yang penuh harap.

Lalu, dari bilik pintu dengan rasa kesal sembari membanting pintu keluar seorang ibu tua dengan penuh rasa kekesalan di hati nya yang ingin sekali di utarakan

“Gedubrak…!!!” bunyi pintu.

“Ada apa ini kok ribut-ribut?” si Ibu keluar dari kamar.

“Ini Bu, tadi aku minta uang buat bayar tour, soalnya teman-teman aku semuanya udah bayar, aku doang yang belum bayar”. Tegas si anak.

“Yaudah sabar ya nak. Mungkin ayah kamu belum ada uang buat bayar tour kamu. Nanti kalau Ayah ada rezeki pasti kok bakalan di lunasin sama Ayah. Sabar

Dulu ya nak” hibur si Ibu.

        “Tapi, Bu Guru bilang suruh di percepat Bu pembayarannya”

        “Iya nanti sama Ayah di usahain kok nak. Bilang sama Bu Guru, untuk saat ini Ayah belum ada uang untuk membayarnya.

        “Baik Bu”.

        “Yaudah sekarang kamu berangkat sekolah gih, salaman sama Ayah juga”.

        “Iya Bu. Ayah, Ibu, Kholil berangkat ya assalamu’alaikum..”

        “Wa’alaikumussalam. Hati-hati dijalan ya nak, belajar yang rajin ya”.

v  

Kemudian si pria itu pun pergi menarik mikrolet nya. Semangat nya kali ini lebih membara dari hari hari sebelumnya, ia begitu antusias mengendarai mikroletnya dengan raut wajah gembira berharap semoga hari ini bisa membawakan hasil lebih baik untuk bos, dan juga keluarganya yang sangat menunggu kepulangannya.

Namun takdir berkata lain, ia hanya membawa tangan kosong yang penuh dengan keringat kerja keras, wajahnya lesu, semangatnya pudar, seolah dunia berpaling darinya, seolah dunia tidak ingin melihatnya. Apa daya ia hanya bisa menanggung semua sendirian.

Setitik demi setitik ia berjalan melangkahkan kaki nya yang kaku di tepi sungai yang mengalir dengan suara serangga yang gemuruh yang berusaha untuk hati sang pria itu yang gelap, sampai akhirnya ia berdiri di depan bangunan yang kecil, yang atapnya mulai reot dan pintu juga jendela yang penuh lumut.

“Tokk. Tokk. Tokk. Assalamu’alaikum… Bu. Kholil”.

“Wa’alaikumussalam. Eh ayah sudah pulang. Tumben jam segini biasanya sampai larut malam”. Jawab sang istri.

Pria itu hanya tersenyum membalas jawaban istrinya.

“Yaudah yah, langsung makan saja, sudah Ibu siapkan setelah itu langsung tidur ya. Sudah sholat isya kan?”

“Sudah kok bu”.

Pria itu memang orang yang taat dalam beribadah, sesempit apa pun waktu, sesibuk apapun, iya selalu melaksanakan sholat tepat waktu, ia juga orang yang selalu bersyukur atas segala rezeki yang Allah berikan kepadanya. Ia selalu percaya bahwa Allah memberikan rezeki sesuai dengan kadar nya, Allah memberikan ujian sesuai dengan kemampuan hambanya. Karena yang maha tau kemampuan para hambanya.

v  

Di pagi yang indah, ketika mentari memberi kehangatan, dilangit menghampiri biru, ketika gunung-gunung terjaga. Semesta pun tunduk kepadanya. Suara burung-burung yang asri didekat pegunungan seolah hilang dan lenyap.

“Ayah, bagaimana ini, tunggakan listrik 4 bulan belum dibayar. Uang belanja dan jajan anak-anak pun sudah habis. Ibu tidak punya uang yah, untuk beli susu pun sudah tidak ada. Bagaimana ini yah, maaf ya yah ibu selalu ngomong kaya gini sama ayah”. Ucap sang istri kepada suaminya.

“hmmm…..iya bu nanti ayah usahain 3 hari kedepan, ayah segera mendapatkan uang lebih dari menarik mikrolet. Intinya ibu harus sabar aja” kata sang ayah terhadap istrinya.

“ibu udah sabar yah dari kemaren-kemaren, tapi apa!!!! sampai saat ini ayah belom ngasih uang pendapatan ayah selama menarik mikroletkepada ibu” ucap sang istri sambil nada tinggi terhadap suaminya.

Sang suami pun hanya bisa terdiam dan merenung tanpa bisa berbuat apa-apa.

“ Ayah aku belom bayaran tour, sedangkan ibu guru sudah menaggih, soalnya waktunya sudah dekat akhir pembayaran” ucap sang anak kepada ayahnya.

“Sabar nak,ayah akan usahain agar dapat uang buat bayaran kamu sekolah” kata sang ayah kepada anaknya.

“Iyah aku tau, tapi kata ibu guru segera di lunasi agar tidak meneumpuk tagihan nya” ucap sang anak terhadap ayahnya , sambil nada tinggi.

“ Yaudah begini saja, kamu bilang sama ibu guru untuk sabar dan ayah akan segera melunasi beberapa waktu kedepan.” kata sang ayah kepada anaknya.

“ Ya sudah ayah, aku besok akan berbicara kepada ibu guru” ucap sang anak.

“ Ya sudah nak. Do’akan Ayah mu ini yang sedang berusaha, do’akan supaya rezekinya lancar agar bisa melunasi semua tunggakan tour sekola mu.”

“Baik Yah”

        Sungguh berat cobaan yang Allah berikan kepadanya. Tapi ia tetap bersyukur dan menerima semua dengan ikhlas. Ia percaya bahwa setiap ada masalah pasti ada hikmah nya. Allah sudah mengatur semua nya, rezeki yang dikaruniakan kepada manusia sudah di perhitungkan oleh Allah, sudah diatur sesuai dengan kadarnya. Ia selalu berusaha untuk membahagiakan keluarganya.

        Seorang kepala keluarga itu pun selalu berdo’a kepada Allah, agar diberikan jalan, dilapangkan rezekinya setelah ia berusaha dengan sekuat tenaga. Hari demi hari ia menarik mikrolet dengan penuh semangat, dan kesabaran yang disertai rasa ikhlas. Pulang tengah malam baginya sudah biasa demi mendapatkan uang untuk di setor kepada bossnya.

v  

        “Ibu, Ayah berangkat kerja dulu yah. Do’akan supaya lancar” ucap sang suami dengan penuh harap.

        “Iya yah mudah-mudahan diberi kelancaran dan kemudahahan. Ibu selalu berdo’a untuk keberkahan keluarga ini”

        “Kholil juga ya, do’akan supaya Ayah diberi kelancaran dalam bekerja supaya Ayah bisa melunasi semua tunggakan tour kamu”.

        “Iya yah”.

        “Mudah-mudahan kamu diberikan kelancaran dalam belajar ya nak, di beri kemudahan dalam menuntut ilmu”

        “Aamiin terimakasih Yah”.

        “Baiklah semuanya, Ayah berangkat. Assalamu’alaikum”

        “Wa’alaikumussalam”. Jawab mereka serempak

        “Baik bu, aku jg berangkat sekolah dulu yah assalamu’alaikum”
        “Wa’alaikumuusalam, hati-hati nak”

        Suasana pagi itu sangatlah tenang, keluarga kecil dengan sandang, pangan, dan papan yang seadanya begitu bahagia menikmati anugerah yang telah Allah berikan. Karena Allah sudah mengatur semuanya sesuai dengan kadarnya.

v  

“Ni boss, hasil setoran hari ini. Alhamdulillah penumpangnya banyak, yang keluar dari pabrik juga banyak tadi yang naik.” Saut seorang lelalki itu.

“Alhamdulillah, sepertinya kamu akhir-akhir ini semakin hari semakin bagus ya kerjanya. Kamu sekarang membawa setoran yang banyak terus.” Jawab si bos.

“Alhamdulillah bos, mungkin itu semua sudah takdir Allah, dengan usaha saya dan do’a dari keluarga saya.” Lanjut sang sopir.

“Hehehe iya betul, semoga bisa dipertahankan ya seperti ini, agar aku dan kamu tidak rugi juga, kau juga punya keluarga kan yang butuh makan, yang butuh nafkah dari kamu.”

“Iya bos, hehe do’akan saja ya”

“Siap, semangat terus narik mikroletnya”

        “Siap 86 hehehe”

        Akhirnya mereka pun tertawa-tawa seolah beban terlepaskan, tidak ada lagi rasa rakut, pasrah, putus asa, yang ada hanya semangat menggebu-gebu dalam diri seorang sopir mikrolet sang kepala keluarga.

        “Assalamu’alaikum Bu”.

        “Wa’alaikumussalam, Ayah. sudah Ibu siapkan the untuk Ayah, spertinya masih hangat”

        “Asiikkkkk, sudah siap ternyata. Ibu sepertinya tahu ya jika Ayah akan pulang jam segini”

        “Tadi perassan ibu mengatakan demikian. Makanya ibu membuatkan teh untuk Ayah padahal Ayah belum sampai. Eh ternyata benar, selang beberapa menit Ayah langsung pulang”

        “Wahhh bagus kalau begitu, berarti perassan kita sama. Ehhhh jadi ingat masa muda”

        “Sudah ih Ayah, Ibu jadi malu’

        “Ah Ibu, jika berbicara tentang masa muda dulu selalu seperti itu. Eh sepertinya Ayah hari ini terlihat gembira sekali ya, ada apa memang?”

        “Tidak ada apa-apa Bu, Ayah sedang senang saja tadi penghasilan setelah menyupir mikrolet itu lebih besar dari biasanya, si bos nya pun terlihat senang merimanya, tidak seperti tempo hari itu”

        “Alhamdulillah kalau begitu Yah, Ibu senang mendengarnya. Semoga tetap selalu seperti itu ya Yah”

        “Iya, terimakasih ya Bu, itu semua juga berkat do’a kalian semua makanya Ayah bisa seperti ini, dan Allah juga memang sudah menetapkan seperti itu setelah Ayah berusaha keras”

        “Iya Yah, sudah lah, Ayah makan dulu saja, setelah makan baru istirahat, Ayah pasti Lelah sekali kan setelah seharian ini”

        “Iya Bu, Ibu tahu saja hehe”

        Kemudian sang istri hanya tersenyum melihat jawaban sang suami yang dari tadi ingin sekali membencandai dirinya.

v  

        Di keheningan malam, lampu-lampu jalan yang terang benerang dengan banyak suara mobil, dan iringan music di setiap took. Dengan tubuh gagah, semangat yang tinggi disertai usaha dan do’a tanpa henti sang pria mengemudi mikroletnya dengan tenang, damai. Seolah olah ia sudah bersahabat dengan kota dan suasan mala mini.

        “Hey Dion, sudah selesai narik mala mini.” Suara si boss yang gagah menyapa seorang sopir mikrolet yang baru saja sampai di hadapannya.

        “Iya nih bos alhamdulillah nih tadi mikroletnya penuh terus, sampai-sampai banyak yang tidak kebagian akhirnya nunggu mikrolet yang lain” jawab si sopir dengan senyuman tipis dibibirnya.

        “Hebat kamu ya, setiap hari penghasilan semakin bertambah. Salut saya sama kamu”

        “Hehe alhamdulillah bos, ini berkat do’a semuanya, tak lupa Allah juga selalu mendampingi setiap hari saya”

        “Hari ini sudah tanggal gajian kamu kan. Nih sudah saya siapkan uang gaji untuk kamu. Tetap semangat untuk menarik mikroletnya ya”

        “Baik bos siap, terimakasih ya. Terimakasih banyak”

        “Iya sama-sama, pakai ini untuk keluargamu. Jangan di pakai untuk yang tidak jelas ya”

        “Baik bos akan saya gunakan dengan baik.

        “Sudah malam, sebaiknya kamu pulang. Keluargamu sudah menunggu kepulanganmu dirumah”

        “Baik kalau begitu saya pulang duluan ya bos”

        “Hati-hati di jalan, jangan lupa besok kamu menarik mikolet lagi”

        ‘Siap bosssss”

        Dengan raut wajah yang gembira sang pria itu menanggapi setiap perkataan yang dikatakan oleh bos nya tersebut dengan nada santai dan ringan. Ia bersyukur kepada Allah atas segala anugerah yang telah di berikan kepada dirinya dan keluarganya.

v  

        Pagi itu, didalam rumah yang tidak terlalu besar, namun nyaman, sekumpulan keluarga sedang menikmati sarapan pagi yang dibuat oleh tangan si Ibu dengan penuh cinta. Mereka sangat menikmatinya.

        “Bu, alhamdulillah Ayah sudah gajian semalam. Pergunakan dana tur yang baik ya Bu, untuk dapur, listrik, untuk sekolah, dan untuk membeli susu di dede” Kata si suami.

        “Alhamdulillah Yah, akan Ibu pergunakan dengan baik uangnya.” Jawab sang Ibu dengan senyuman yang tulus.

        “Asikkkk, Ayah sudah gajian, berarti aku sudah bisa bayar uang tour yah.” Lanjut sang anak dengan nada bercanda.

        “Sudah dong Lil, sudah langsung lunasin saja pembayarannya biar kamu bisa berangkat ke Bandung. Cieeee yang ingin pergi jalan-jalan” sahut Ayahnya dengan nada meledek.

        “Ahh Ayah bisa saja nih, iya dong aku mau jalan-jalan. Ayah, Ibu, dan adek dirumah saja” jawabnya dengan nada tidak mau kalah.

        “Sudah-sudah, Bapak dan anak sama saja ya sama-sama tidak mau kalah. Sekarang kita bersyukur kepada Allah, makin ditingkatin lagi ibadahnya. Karena semuanya itu anugerah Allah, semuanya sudah di tentukan, sudah di perhitungkan, rezeki kita, nikmat kita, semuanya telah Allah tetapkan sesuai dengan kadarnya” sahut sang Ibu menenangkan dan memberikan motivasi.

        “Iya Bu, alhamdulillah. Semoga kita tetap bertawakal kepada Allah. Jangan lupa untuk mendo’akan Ayah lancar dalam bekerja ya Bu, juga Kholil mudah-mudahan diberi kelancaran dalam menuntut ilmu”

        “Aamiiiiiiiiiiiiiiiiiiiinn”

        Akhirnya mereka kembali kepada rutinitasnya masing-masing Sang suami menyupir mikrolet, sang istri mengurus rumah dan anaknya yang masih kecil, dan kholil belajar di sekolah. Keluarga mereka pun sangat harmonis dan tentram. Semuanya telah Allah tetapkan dengan kadar yang telah Allah tetapkan dan telah Allah perhitungkan bagaimana rezekinya, masalahnya, dan kemampuannya dalam menyikapi masalah tersebut tugas kita hanya berusaha, beribadah, nertawakal kepada Allah, dan disertai dengan rasa syukur atas apa yang telah Allah berikan kepada kita

0 komentar:

Posting Komentar