Pagi hari yang bersinar, suasana embun pagi yang menyejukkan. Burung-burung berkicauan, rumput bergoyang, tumbuh-tumbuhan, hewan-hewan, gunung, dan langit pun berdzikir dan berstasbih kepada Allah SWT. Atas segala karunia dan nikmat yang telah diberikan kepada setiap makhluknya sesuai dengan kadar yang telah ditetapkan oleh-Nya.
Disebuah kota kecil jauh dari keramaian sebuah keluarga hidup bahagia. Seorang kepala keluarga berprofesi sebagai supir angkot tinggal bersama seorang istri, seorang putra yang sekarang duduk dikelas 3 SMP, dan seorang putri yang baru berumur satu tahun.
“Yah, ini sudah ibu siapkan
sarapan pagi sebelum berangkat kerja”, kata seorang wanita yang berdiri dari
arah dapur sengan memegang secangkir teh ditangannya.
“Baik bu, ayah sedang
bersiap-siap dulu”. Kata seorang lelaki si kepala keluarga.
“Ibu, aku berangkat duluan yah,
sudah terlambat”. Kata seorang anak kecil yang membawa tas gendong
berwarna hitam dan membawa sepotong roti
di tangan nya.
“Ya sudah hati-hati ya nakk”
“Baiklah… ayah, ibu
assalamu’alaikum……….” kata seorang anak laki-laki tersebut, dan lalu ia pergi
dari halaman rumahnya menuju ke sekolah.
“Wa’alaikum sallam” Ucap kata
sang ibu.
“Yaudah bu, Ayah mau berangkat
kerja dulu ya…” kata sang Ayah
“Iya yah hati-hati di jalan,
semoga lancar tidak ada halangan suatu apa pun” jawab sang istri kepada
suaminya.
v
Hari semakin siang, rumah
semakin sepi. Si istri pun mengambil keranjang dan menggendong seorang anak
kecil yang mungil. Di lihatlah seorang bapak-bapak yang sedang merapihkan
dagangan nya sambal berteriak “Sayuuuuuuur sayuuuuur Bu, sayuuuuur masih seger”
“Mas, ada sayur asem…?” kata si
perempuan kepada pedagang sayuran.
“Ada bu, mau berapa sayur asem
nya” jawab si pedagang sayur.
“Saya mau sayur asem nya
sebungkus, bawangnya Rp.2000 sama cabe nya Rp.3.000”
“Baiklah bu, saya ambilkan dulu
pesenan ibu” kata si pedagang sayuran itu.
Setelah beberapa menit kemudian
akhirnya sayuran itu di kemas dengan plastic yang berwarna putih.
“Bu,,,,ini sayuran yang ibu
pesen” kata si pedangang sayur.
“Oiya Mas,, berapa semuanya”
kata si perempuan itu.
“semua nya Rp.7000 saja bu”
jawab sang penjual sayuran.
“Makasih ya mas”
“Sama – sama bu, semoga menjadi
langganan di sayuran saya ya” kata si pedagang sayuran.
Setelah pulang berbelanja
sayuran, si Ibu pun masak makanan yang telah dibelinya tadi.
v
Setiba disekolah,
Kholil pun langsung masuk kelasnya, dan duduk dikursi tempat biasa ia tempati
bersama Farid.
“Rid, PR Matematika
sudah kamu kerjakan?” tanya Kholil, kepada Farid.
“Sudah Lil, Kmu
sudah?” Jawab Farid
“Alhamdulillah
sudah”
Teeeetttt.
Teeeeettttt Teeeeeeeeeeettttttt……….
“Eh bel nya sudah
bunyi tuh, ayo kita siapkan buku, sebentar lg Bu Nufus akan segera datang untuk
mengajar”
“Ayo”
“Anak-anak, tugas
yang minggu kemarin ibu berikan sudah dikerjakan?” tanya seorang guru
Matematika yang sekaligus wali kelas mereka.
“Sudah, bu”.
“Baiklah sekarang
dikumpulkan di depan”
“Anak-anak, ibu
tidak lupa mengingatkan kalian untuk melunasi tour kalian, karena waktunya
sudah mendekati”
“Iya bu”.
“Kholil, kamu sudah
lunas?” tanya Farid kepada Kholil.
“Belum Rid, belum
sama sekali malah, Ayah aku blum punya uang untuk melunasinya. Kamu sudah
lunas?”
“Alhamdulillah
sudah Lil, mudah-mudahan Ayah kamu cepet dapet rezeki ya’
“Iya aamiin
terimakasih ya Rid”
“Iya sama-sama”
v
Siang itu dibawah
teriknya panas, bising nya suara kendaraan, gedung-gedung pencakar langit, dan
alas yang menjulang tempat berpijak, dan hiasan rambu-rambu lalu lintas.
Seorang pria mengendarai sebuah mikrolet dengan wajah Lelah dan lesu, keringat
yang bercucuran, tetapi beliau tetap semangat untuk mencari nafkah
“Balaraja…Raja…..
Raja…. Raja.. Bu, pak Balaraja Balaraja…” teriaknya sambil membunyikan klakson
mikroletnya.
“Pak, ke Balaraja?
Tanya seorang ibu-ibu yang hendak menaiki mikroletnya.
“Iya bu, ke
Balaraja mari silahkan naik.”
Sepanjang jalan
hanya ada sedikit penumpang yang menaiki mikroletnya. Tanpa ia sadari dari pagi
hingga malam penghasilan nya begitu sedikit, berharap di lain waktu penghasilan
nya bertamabah agar bias mencukupi kebutuhan kelurganya.
“Ini pak uang
setoranya” ucap sang sopir.
“Ini apaan, ko
cuman segini?...” jawab si bos mikrolet.
“Maaf pak, memang
rezeki saya hanya segini. Mungkin di lain waktu bisa mendapatkan lebih dari
ini”. Balas sang sopir
“Kamu yakin? Segini
tuh gak ada apa-apanya. Uang tambal ban pun lebih mahal dari pada pendapatan
kamu hari ini. Yaudah sana mending kamu langsung pulang saja”. Tambah si bos.
Lalu pria itu
melangkahkan kakinya menuju pintu keluar yang berada diujung ruangan. Dengan
wajah lesu dan raut muka yang sedang putus asa dan frustasi memikirkan beban pekerjaan
serta keluarga di rumah.
v
Pria itu pun sampai
dirumah. Dengan rasa putus asa iya mengetuk pintu yang berbalut dengan triplek
penuh lumut.
“Assalamu’alaikum….”
Suara pria tersebut.
“Wa’alaikumussalam. Eh Ayah
sudah pulang. Ayo duduk yah, biarkan ibu membuatkan teh untuk ayah”. Si istri
mencoba untuk menenangkan suaminya.
“Ayah kenapa? Kok perasaan
mukanya gak ada keceriaan sama sekali”
“Gak ada apa-apa kok bu, cuma
masalah kecil”
“Ayah kalau ada masalah cerita
aja ke Ibu”
“Jadi sebenarnya tadi Ayah
dimarahi si bos besar gara-gara uang setoran tidak mencukupi, tidak sesuai sama
targetnya.”
“Loh? Tapi Ayah gak
kenapa-kenapa kan?”
“Gak kenapa-kenapa kok Bu.
Maafin Ayah ya belum bisa kasih yang terbaik buat kalian”.
“Iya yah, gak apa-apa kok.
Belum rezekinya, mungkin dilain waktu bisa lebih dari ini”.
v
Pagi itu di keheningan yang di
hiasi hembusan embun yang menari di atas rumput
di sertai kicauan burung yang asik bercengkrama sesama nya, tiba tiba
terpecah dengan suara seorang anak yang setengah berteriak kepada sang kepala
keluarga .
“Yah… yah… aku butuh uang untuk
membayar tour sekolah ku, karena semua teman teman ku semuanya sudah membayar
tunggakan yang harus di lunaskan itu. Tapi aku sendiri yang belum
melunaskannya, aku malu yah.. Aku malu dengan teman teman ku…!!” Kata seorang
anak yang di penuhi rasa kecewa kepada sang ayah sembari menggerutu.
“Iya nak sabar, Ayah pasti
melunasi tunggakan tour kamu tapi ayah butuh waktu ayah belum mempunyai uang
kalo sekarang”. Ujar sang ayah sembari menatap sang anak yang penuh harap.
Lalu, dari bilik pintu dengan
rasa kesal sembari membanting pintu keluar seorang ibu tua dengan penuh rasa
kekesalan di hati nya yang ingin sekali di utarakan
“Gedubrak…!!!” bunyi pintu.
“Ada apa ini kok ribut-ribut?”
si Ibu keluar dari kamar.
“Ini Bu, tadi aku minta uang
buat bayar tour, soalnya teman-teman aku semuanya udah bayar, aku doang yang
belum bayar”. Tegas si anak.
“Yaudah sabar ya nak. Mungkin
ayah kamu belum ada uang buat bayar tour kamu. Nanti kalau Ayah ada rezeki pasti
kok bakalan di lunasin sama Ayah. Sabar
Dulu ya nak” hibur si Ibu.
“Tapi,
Bu Guru bilang suruh di percepat Bu pembayarannya”
“Iya
nanti sama Ayah di usahain kok nak. Bilang sama Bu Guru, untuk saat ini Ayah
belum ada uang untuk membayarnya.
“Baik
Bu”.
“Yaudah
sekarang kamu berangkat sekolah gih, salaman sama Ayah juga”.
“Iya
Bu. Ayah, Ibu, Kholil berangkat ya assalamu’alaikum..”
“Wa’alaikumussalam.
Hati-hati dijalan ya nak, belajar yang rajin ya”.
v
Kemudian si pria itu pun pergi
menarik mikrolet nya. Semangat nya kali ini lebih membara dari hari hari
sebelumnya, ia begitu antusias mengendarai mikroletnya dengan raut wajah
gembira berharap semoga hari ini bisa membawakan hasil lebih baik untuk bos,
dan juga keluarganya yang sangat menunggu kepulangannya.
Namun takdir berkata lain, ia
hanya membawa tangan kosong yang penuh dengan keringat kerja keras, wajahnya
lesu, semangatnya pudar, seolah dunia berpaling darinya, seolah dunia tidak
ingin melihatnya. Apa daya ia hanya bisa menanggung semua sendirian.
Setitik demi setitik ia
berjalan melangkahkan kaki nya yang kaku di tepi sungai yang mengalir dengan
suara serangga yang gemuruh yang berusaha untuk hati sang pria itu yang gelap,
sampai akhirnya ia berdiri di depan bangunan yang kecil, yang atapnya mulai
reot dan pintu juga jendela yang penuh lumut.
“Tokk. Tokk. Tokk.
Assalamu’alaikum… Bu. Kholil”.
“Wa’alaikumussalam. Eh ayah
sudah pulang. Tumben jam segini biasanya sampai larut malam”. Jawab sang istri.
Pria itu hanya tersenyum
membalas jawaban istrinya.
“Yaudah yah, langsung makan
saja, sudah Ibu siapkan setelah itu langsung tidur ya. Sudah sholat isya kan?”
“Sudah kok bu”.
Pria itu memang orang yang taat
dalam beribadah, sesempit apa pun waktu, sesibuk apapun, iya selalu
melaksanakan sholat tepat waktu, ia juga orang yang selalu bersyukur atas
segala rezeki yang Allah berikan kepadanya. Ia selalu percaya bahwa Allah
memberikan rezeki sesuai dengan kadar nya, Allah memberikan ujian sesuai dengan
kemampuan hambanya. Karena yang maha tau kemampuan para hambanya.
v
Di pagi yang indah, ketika
mentari memberi kehangatan, dilangit menghampiri biru, ketika gunung-gunung
terjaga. Semesta pun tunduk kepadanya. Suara burung-burung yang asri didekat
pegunungan seolah hilang dan lenyap.
“Ayah, bagaimana ini, tunggakan
listrik 4 bulan belum dibayar. Uang belanja dan jajan anak-anak pun sudah
habis. Ibu tidak punya uang yah, untuk beli susu pun sudah tidak ada. Bagaimana
ini yah, maaf ya yah ibu selalu ngomong kaya gini sama ayah”. Ucap sang istri
kepada suaminya.
“hmmm…..iya bu nanti ayah
usahain 3 hari kedepan, ayah segera mendapatkan uang lebih dari menarik
mikrolet. Intinya ibu harus sabar aja” kata sang ayah terhadap istrinya.
“ibu udah sabar yah dari
kemaren-kemaren, tapi apa!!!! sampai saat ini ayah belom ngasih uang pendapatan
ayah selama menarik mikroletkepada ibu” ucap sang istri sambil nada tinggi
terhadap suaminya.
Sang suami pun hanya bisa
terdiam dan merenung tanpa bisa berbuat apa-apa.
“ Ayah aku belom bayaran tour,
sedangkan ibu guru sudah menaggih, soalnya waktunya sudah dekat akhir
pembayaran” ucap sang anak kepada ayahnya.
“Sabar nak,ayah akan usahain
agar dapat uang buat bayaran kamu sekolah” kata sang ayah kepada anaknya.
“Iyah aku tau, tapi kata ibu
guru segera di lunasi agar tidak meneumpuk tagihan nya” ucap sang anak terhadap
ayahnya , sambil nada tinggi.
“ Yaudah begini saja, kamu
bilang sama ibu guru untuk sabar dan ayah akan segera melunasi beberapa waktu
kedepan.” kata sang ayah kepada anaknya.
“ Ya sudah ayah, aku besok akan
berbicara kepada ibu guru” ucap sang anak.
“ Ya sudah nak. Do’akan Ayah mu
ini yang sedang berusaha, do’akan supaya rezekinya lancar agar bisa melunasi
semua tunggakan tour sekola mu.”
“Baik Yah”
Sungguh
berat cobaan yang Allah berikan kepadanya. Tapi ia tetap bersyukur dan menerima
semua dengan ikhlas. Ia percaya bahwa setiap ada masalah pasti ada hikmah nya.
Allah sudah mengatur semua nya, rezeki yang dikaruniakan kepada manusia sudah
di perhitungkan oleh Allah, sudah diatur sesuai dengan kadarnya. Ia selalu
berusaha untuk membahagiakan keluarganya.
Seorang
kepala keluarga itu pun selalu berdo’a kepada Allah, agar diberikan jalan,
dilapangkan rezekinya setelah ia berusaha dengan sekuat tenaga. Hari demi hari
ia menarik mikrolet dengan penuh semangat, dan kesabaran yang disertai rasa
ikhlas. Pulang tengah malam baginya sudah biasa demi mendapatkan uang untuk di
setor kepada bossnya.
v
“Ibu,
Ayah berangkat kerja dulu yah. Do’akan supaya lancar” ucap sang suami dengan
penuh harap.
“Iya
yah mudah-mudahan diberi kelancaran dan kemudahahan. Ibu selalu berdo’a untuk
keberkahan keluarga ini”
“Kholil
juga ya, do’akan supaya Ayah diberi kelancaran dalam bekerja supaya Ayah bisa
melunasi semua tunggakan tour kamu”.
“Iya
yah”.
“Mudah-mudahan
kamu diberikan kelancaran dalam belajar ya nak, di beri kemudahan dalam
menuntut ilmu”
“Aamiin
terimakasih Yah”.
“Baiklah
semuanya, Ayah berangkat. Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikumussalam”.
Jawab mereka serempak
“Baik
bu, aku jg berangkat sekolah dulu yah assalamu’alaikum”
“Wa’alaikumuusalam, hati-hati nak”
Suasana
pagi itu sangatlah tenang, keluarga kecil dengan sandang, pangan, dan papan
yang seadanya begitu bahagia menikmati anugerah yang telah Allah berikan.
Karena Allah sudah mengatur semuanya sesuai dengan kadarnya.
v
“Ni boss, hasil setoran hari
ini. Alhamdulillah penumpangnya banyak, yang keluar dari pabrik juga banyak
tadi yang naik.” Saut seorang lelalki itu.
“Alhamdulillah, sepertinya kamu
akhir-akhir ini semakin hari semakin bagus ya kerjanya. Kamu sekarang membawa
setoran yang banyak terus.” Jawab si bos.
“Alhamdulillah bos, mungkin itu
semua sudah takdir Allah, dengan usaha saya dan do’a dari keluarga saya.”
Lanjut sang sopir.
“Hehehe iya betul, semoga bisa
dipertahankan ya seperti ini, agar aku dan kamu tidak rugi juga, kau juga punya
keluarga kan yang butuh makan, yang butuh nafkah dari kamu.”
“Iya bos, hehe do’akan saja ya”
“Siap, semangat terus narik
mikroletnya”
“Siap
86 hehehe”
Akhirnya
mereka pun tertawa-tawa seolah beban terlepaskan, tidak ada lagi rasa rakut,
pasrah, putus asa, yang ada hanya semangat menggebu-gebu dalam diri seorang
sopir mikrolet sang kepala keluarga.
“Assalamu’alaikum
Bu”.
“Wa’alaikumussalam,
Ayah. sudah Ibu siapkan the untuk Ayah, spertinya masih hangat”
“Asiikkkkk,
sudah siap ternyata. Ibu sepertinya tahu ya jika Ayah akan pulang jam segini”
“Tadi
perassan ibu mengatakan demikian. Makanya ibu membuatkan teh untuk Ayah padahal
Ayah belum sampai. Eh ternyata benar, selang beberapa menit Ayah langsung
pulang”
“Wahhh
bagus kalau begitu, berarti perassan kita sama. Ehhhh jadi ingat masa muda”
“Sudah
ih Ayah, Ibu jadi malu’
“Ah
Ibu, jika berbicara tentang masa muda dulu selalu seperti itu. Eh sepertinya
Ayah hari ini terlihat gembira sekali ya, ada apa memang?”
“Tidak
ada apa-apa Bu, Ayah sedang senang saja tadi penghasilan setelah menyupir
mikrolet itu lebih besar dari biasanya, si bos nya pun terlihat senang
merimanya, tidak seperti tempo hari itu”
“Alhamdulillah
kalau begitu Yah, Ibu senang mendengarnya. Semoga tetap selalu seperti itu ya
Yah”
“Iya,
terimakasih ya Bu, itu semua juga berkat do’a kalian semua makanya Ayah bisa
seperti ini, dan Allah juga memang sudah menetapkan seperti itu setelah Ayah
berusaha keras”
“Iya
Yah, sudah lah, Ayah makan dulu saja, setelah makan baru istirahat, Ayah pasti
Lelah sekali kan setelah seharian ini”
“Iya
Bu, Ibu tahu saja hehe”
Kemudian
sang istri hanya tersenyum melihat jawaban sang suami yang dari tadi ingin
sekali membencandai dirinya.
v
Di
keheningan malam, lampu-lampu jalan yang terang benerang dengan banyak suara
mobil, dan iringan music di setiap took. Dengan tubuh gagah, semangat yang
tinggi disertai usaha dan do’a tanpa henti sang pria mengemudi mikroletnya
dengan tenang, damai. Seolah olah ia sudah bersahabat dengan kota dan suasan
mala mini.
“Hey
Dion, sudah selesai narik mala mini.” Suara si boss yang gagah menyapa seorang
sopir mikrolet yang baru saja sampai di hadapannya.
“Iya
nih bos alhamdulillah nih tadi mikroletnya penuh terus, sampai-sampai banyak
yang tidak kebagian akhirnya nunggu mikrolet yang lain” jawab si sopir dengan
senyuman tipis dibibirnya.
“Hebat
kamu ya, setiap hari penghasilan semakin bertambah. Salut saya sama kamu”
“Hehe
alhamdulillah bos, ini berkat do’a semuanya, tak lupa Allah juga selalu
mendampingi setiap hari saya”
“Hari
ini sudah tanggal gajian kamu kan. Nih sudah saya siapkan uang gaji untuk kamu.
Tetap semangat untuk menarik mikroletnya ya”
“Baik
bos siap, terimakasih ya. Terimakasih banyak”
“Iya
sama-sama, pakai ini untuk keluargamu. Jangan di pakai untuk yang tidak jelas
ya”
“Baik
bos akan saya gunakan dengan baik.
“Sudah
malam, sebaiknya kamu pulang. Keluargamu sudah menunggu kepulanganmu dirumah”
“Baik
kalau begitu saya pulang duluan ya bos”
“Hati-hati
di jalan, jangan lupa besok kamu menarik mikolet lagi”
‘Siap
bosssss”
Dengan
raut wajah yang gembira sang pria itu menanggapi setiap perkataan yang
dikatakan oleh bos nya tersebut dengan nada santai dan ringan. Ia bersyukur
kepada Allah atas segala anugerah yang telah di berikan kepada dirinya dan keluarganya.
v
Pagi
itu, didalam rumah yang tidak terlalu besar, namun nyaman, sekumpulan keluarga
sedang menikmati sarapan pagi yang dibuat oleh tangan si Ibu dengan penuh
cinta. Mereka sangat menikmatinya.
“Bu,
alhamdulillah Ayah sudah gajian semalam. Pergunakan dana tur yang baik ya Bu,
untuk dapur, listrik, untuk sekolah, dan untuk membeli susu di dede” Kata si
suami.
“Alhamdulillah
Yah, akan Ibu pergunakan dengan baik uangnya.” Jawab sang Ibu dengan senyuman
yang tulus.
“Asikkkk,
Ayah sudah gajian, berarti aku sudah bisa bayar uang tour yah.” Lanjut sang
anak dengan nada bercanda.
“Sudah
dong Lil, sudah langsung lunasin saja pembayarannya biar kamu bisa berangkat ke
Bandung. Cieeee yang ingin pergi jalan-jalan” sahut Ayahnya dengan nada
meledek.
“Ahh
Ayah bisa saja nih, iya dong aku mau jalan-jalan. Ayah, Ibu, dan adek dirumah
saja” jawabnya dengan nada tidak mau kalah.
“Sudah-sudah,
Bapak dan anak sama saja ya sama-sama tidak mau kalah. Sekarang kita bersyukur
kepada Allah, makin ditingkatin lagi ibadahnya. Karena semuanya itu anugerah
Allah, semuanya sudah di tentukan, sudah di perhitungkan, rezeki kita, nikmat
kita, semuanya telah Allah tetapkan sesuai dengan kadarnya” sahut sang Ibu
menenangkan dan memberikan motivasi.
“Iya
Bu, alhamdulillah. Semoga kita tetap bertawakal kepada Allah. Jangan lupa untuk
mendo’akan Ayah lancar dalam bekerja ya Bu, juga Kholil mudah-mudahan diberi
kelancaran dalam menuntut ilmu”
“Aamiiiiiiiiiiiiiiiiiiiinn”







0 komentar:
Posting Komentar