Sabtu, 22 Agustus 2020

THE LIGHT

 

Kumpulan kata yang dirangkai menjadi kisah.

Ini hanyalah sebuah kisah yang menceritakan pahitnya hidup.

Seperti kisah pada umumnya, Septian hanyalah manusia biasa yang tak luput dari kesalahan.

Manusia memiliki banyak ujian dalam hidupnya, untuk mengetahui apakah ia mampu atau tidak melewatinya.

Seperti Septian yang mengambil jalan yang salah dalam ujiannya. Seperti itu pula Allah Subhanahu Wata’ala memberikan petunjuk kedapa hamba-Nya.

                                                            **********

PEMENANG KEHIDUPAN

 PEMENANG KEHIDUPAN


 Prolog 

Cara kerja semesta lagi-lagi begitu, di mana ada usaha di situ akan ada hasil dan semua itu berdampingan. Siklusnya ketika kita berusaha disertai niat baik dan doa, maka hasil yang kita dapatkan akan baik pula dan sebaliknya.

Kita sebagai manusia tidak bisa menentukan hasil akhir dari sebuah usaha yang diusahakan, manusia hanya bisa merencanakan dan mengusahakan sisanya itu urusan Allah swt. Karena sesungguhnya Allah telah menyiapkan segala-Nya, termasuk rezeki masing-masing Hamba-Nya.

“Jangan risau, jangan gundah semua sudah diatur sedemikian rupa oleh Allah, perihal sabar sedang diuji dan perihal skenario Allah sedang dikerjakan.” Mungkin terlihat hanya sekedar ilusi tetapi memang begitu adanya. Hidup memang soal perjuangan, jadi teruslah berjuang karena Allah telah menyiapkan apa yang kita butuhkan di depan sana.

Begitulah hidup terkadang kita sebagai manusia merasa semesta tidaklah adil, sebenarnya kunci bahagia yang sebenarnya adalah Bersyukur atas apa yang telah Allah berikan kepada kita.

Perihal rezeki tidak harus dikhawatirkan, mengapa begitu? Ya, karena rezeki sudah diatur oleh Allah sedemikian rupa. Tidak akan Allah biarkan hamba-Nya dalam kesusahan, Allah akan bantu menyelesaikannya. Setiap ada kesusahan di situ akan ada kemudahan, lagi-lagi itu cara kerja semesta yang Allah ciptakan dan tertera pula dalam Al-Qur’an.

***

 

Firman seorang remaja kelas 12 sekolah menengah atas yang bernama SMAS Pratama di daerah Semarang yang merupakan sekolah ternama di Semarang, ia dapat bersekolah di sana karena dibantu oleh salah satu Gurunya dari SMP sebelumnya berkat prestasinya selama bersekolah di SMP tersebut dan ia merupakan anak yang berasal dari kalangan keluarga sederhana, tidak bergelimang harta tapi cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Firman adalah anak tunggal dari keluarga sederhana yang kedua orangtuanya tidak berpenghasilan tetap. Ia memiliki sifat mandiri dan enggan memberatkan beban kedua orangtuanya yang bisa dibilang sudah waktunya untuk tidak lagi bekerja karena faktor usia yang sudah tidak produktif lagi. Tak jarang Ia dikucilkan oleh teman-temannya di sekolah karena penampilannya lusuh dan kurang enak dipandang, walaupun disekolah ia merupakan salah satu murid yang berprestasi tetapi ia tidak dihargai oleh teman sekolahnya karena  teman-teman disekolahnya merupakan anak dari orang terpandang yang bergelimang harta.

Terbiasa hidup sederhana sejak kecil tidak dimanjakan oleh kedua orang tuannya, jika ia menginginkan sesuatu ia selalu berusaha sendiri tidak ingin membebankan kedua orangtuanya karena keterbatasan ekonomi pada keluarganya. Masa remaja yang seharusnya ia nikmati dengan berkumpul dan bermain dengan teman sebayanya harus ia korbankan untuk membatu kebutuhan ekonomi keluargannya. Setiap pulang sekolah Ia selalu bekerja paruh waktu disebuah rumah makan sederhana.

Ayahnya seorang buruh tani yang berpenghasilan minim yang hanya mencukupi kebutuhan sehari-hari keluarganya, terkadang hasil panen nya tidak sepenuhnya terjual dan itu mempengaruhi pendapatan ekonominya. Suatu ketika ayahnya terkena musibah yang mengakibatkan tidak bisa bekerja untuk beberahari kedepan dan terpaksa Firman yang menggantikan pekerjaan Ayahnya disawah. Ibunya adalah seorang buruh cuci atau pembantu yang bekerja dari pagi hingga sore hari yang hanya menerima upah sekitar 50ribu perhari nya.

Ketika pagi hari Firman pun berangkat sekolah dengan berjalan kaki, karena dia terlahir dari keluarga yang sederhana jadi dia tidak mempunyai kendaraan. Terkadang Firman sering merasa iri melihat teman-teman nya yang setiap hari berangkat sekolah mengendarai kendaraan pribadinya mulai dari motor hingga mobil. Tetapi dia pun tidak putus asa dan tidak mengeluh walaupun setiap hari ia berjalan kaki karena ia sadar bahwa ia tidak terlahir dari keluarga yang kaya raya tetapi ia terlahir dari keluarga yang sederhana. Karena setiap hari berjalan kaki akibatnya terkadang firman sering telat datang ke sekolah karena selalu banyak kendala yang selalu dihadapi mulai dari jauhnya jalan kesekolah, banyak genangan air di jalan berlubang ketika hujan deras dan lain sebagainya dan itu yang membuat firman menjadi telat datang kesekolah.

Sesampainya disekolah terkadang Firman sering diejek teman-temannya karena dia berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki, dan selain itu sering juga diejek karena memang ini merupakan sekolah khusus orang-orang kaya sedangkan Firman orang biasa saja atau bisa dibilang miskin. Firman bisa masuk kesekolah ini karena dia orang yang berprestasi dan mendapatkan beasiswa sedangkan teman-teman yang lainnya tidak mendapatkan beasiswa jadi karena hal itu lah yang menyebabkan Firman sering di ejek teman-temannya. Di saat belajar sedang berlangsung Firman merupakan murid yang paling aktif di kelasnya, dia sering sekali mengerjakan tugas yang diberikan bapak atau Ibu Gurunya di papan tulis dan selain itu juga dia aktif di dalam organisasi seperti ekstrakulikuler dan lain sebagainya. Karena Firman termasuk murid yang sangat aktif dan berprestasi dan akhirnya teman-temannya merasa iri yang mengakibatkan teman-teman nya mulai membully Firman, mulai dari mengejek, mengolok-olok kalau dia itu miskin, tas nya dimasuki sampah, dan lain sebagainya. Tetapi Firman pun tetap semangat walaupun semua teman-temannya sudah menjelek-jelekan Firman. Tidak semua temannya membully dia, tetapi ada beberapa orang yang membela Firman.

Pernah suatu ketika Firman bertanya pada temannya yang sering membelanya saat ia sedang diejek “sebenarnya apa alas an mereka mengejekku ya?” ujar Firman. Temannya pun menjawab “mungkin mereka hanya melihat satu kekuranganmu dan melupakan kelebihanmu, mereka iri pada dasarnya sama kamu.” Firman pun mengerti pada sejatinya orang yang tidak menyukai kita akan selalu melihat keburukan kita, selalu salah dimata orang tesebut. Temannya pun merasa iba pada Firman yang raut wajahnya murung “jangan merasa paling dikucilkan, karena kamu memiliki oran        

Ketika bel istirahat Firman dipanggil oleh salah seorang guru di sekolahannya agar Firman segera ke ruang guru karena ada yang ini di bicarakan. Setelah itu, guru itu menawarkan Firman agar dia mengikuti lomba Olimpiade Matematika. "Firman apakah kamu mau mengikuti lomba olimpiade matematika? Ibu liat kamu pas untuk mengikuti olimpiade ini.” Ujar Gurunya dengan harapan  Firman mau menerima tawaran tersebut. Firman sedikit ragu akan tawaran itu “saya sebenarnya ingin menerima tawaran tersebut bu, tapi apakah bisa saya pikirkan terlebih dahulu?”ujar Firman. Firman merasa apakah ia bisa mengharumkan nama sekolahnya atau tidak, sedikit cemas  dirinya.

Setelah mendapat tawaran itu Firman kembali ke kelasnya untuk melanjutkan pelajarannya setelah ia beristirahat tadi. Tiba-tiba teman semejanya, melihat raut muka Firman yang seperti orang cemas pun bertanya “kenapa?” tanyanya pada Firman. Firman pun menoleh dan ia menggelengkan kepalanya, tanda bahwa ia tidak apa-apa. Karena tidak ingin menganggu Firman, temannya itu pun memilih untuk diam, biarkan saja terlebih dahulu karena terkadang orang memiliki caranya masing-masing untuk mengatasi masalahnya. Akhirnya mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing.

Di sisi lain Firman terus menimbang-nimbang apakah ia harus menerima tawaran olimpiade itu atau tidak? Ia ragu karena ketakutannya akan hasil yang tidak memuaskan. Ia semakin bimbang dan akhirnya ia menceritakan  kebimbangannya pada teman semejanya tersebut “kata kamu aku terima tawaran olimpiade matematika atau nggak?” Tanya Firman. “kalau ada tawaran bagus, kenapa harus kamu tolak? Kamu ini pintar dalam bidang itu, apa yang kamu ragukan lagi? Jawab temannya. Firman pun menjawab “aku takut hasilnya tidak memuaskan dan malah membuat kecewa pihak sekolah.” Temannya pun menjawab “kamu itu udah nyerah sebelum berperang ya? Nih ya, kita nggak akan pernah tau kalau kita nggak mencobanya. Siapa tau itu rezeki kamu.” Firman termenung sesaat hingga ia berkata “iya, aku akan coba ikut olimpiade itu, terima kasih ya buat support dan sarannya.” Keduanya pun saling tersenyum. Setidaknya masih ada orang yang bisa menerimanya -batin Firman.

Sepulang dari sekolah Firman tidak sengaja bertemu dengan pengemis di pinggir jalan dan pengemis itu mengeluh kelaparan karena belum makan dari kemarin. Firman memberi sedikit uang yang ia punya untuk pengemis tersebut agar pengemis itu bisa makan dan minum, itu salah satu hal yang sering Firman lakukan ketika berjumpa dengan pengemis atau anak jalanan yang. Ia merasa,  bagaimana kalau ia yang berada di posisi seperti pengemis dan anak jalanan tersebut. Walaupun ia hidup pas-pas an setidaknya ia masih bisa makan dan minum, membantu orang yang membutuhkan tidak ada salahnya, bukan?

Setibanya di rumah, Firman menceritakan pada kedua orangtuanya perihal perlombaan yang ditawarkan kepadanya oleh pihak sekolah. Respon kedua orangtuanya sangat positif, keduanya mendukung dan merasa bangga karena anaknya telah dipercaya untuk mewakilkan sekolah dalam olimpiade. “ibu yakin kamu bisa menang nanti, semangat ya nak!” ucap ibunya begitu bangga pada anaknya. “iya bu pasti, doain aku ya bu, semoga aku bisa membanggakan kalian dan juga sekolahku” ucap Firman.

Keesokan harinya Firman menemui Gurunya yang menawarkan olimpiade tersebut, ia sudah yakin akan keputusannya yang akan menerima tawaran itu. Ketika sampai ruang guru Firman pun segera menemui Guru yang ia cari “Assalamualaikum bu, maaf saya menganggu waktu ibu. Saya kesini mau bilang kalau saya bersedia mengikuti lomba yang ibu tawarkan.” Ucap Firman dengan yakin. Guru tersebut pun tersenyum dan ia sangat senang karena Firman mau mengikuti lomba tersebut. Firman merasa bahwa ini jalan yang ditentukan Allah untuknya, semoga ini dapat membawa kaberkahan bagi nya.

 Hari demi hari Firman lalui dengan belajar untuk perlombaan yang ia ikuti. Suka duka pun dilewati hingga pada akhirnya ia memenangkan perlombaan tersebut. Ia pun merasa senang akhirnya apa yang ia semogakan tersemogakan dengan jerih payahnya sendiri meskipun mendapatkan berbagai ujian yang Allah berikan kepadanya. Tapi, itu tidak membuatnya putus asa dan patah semangat untuk memenangkan perlombaan tersebut, Firman selalu berdoa kepada Yang Maha Kuasa agar semua urusannya di permudah hingga akhirnya kebaikan yang lebih itu sudah terbalaskan lewat perlombaan tersebut.

Tidak hanya rasa bangga yang ia dapatkan melainkan harapan yang ia harapkan sebelumnya bisa terwujud, yang awalnya ia merasa bahwa harapan yang ia harapkan akan sulit terwujud, yaitu ingin membeli handphone untuk kepentingan sekolah, karena pada situasi sekarang semua tugas biasa diakses lewat teknologi seperti meda sosial atau jejaring sosial. Firman merasa amat bersyukur kepada Allah dan berterima kasih kepada orangtuanya, Gurunya dan juga pihak yang sudah memberikan dukungan baik doa maupun semangat.

Ternyata dibalik semua kesulitan yang ia alami terdapat kebahagiaan yang tidak terduga sebelumnya. Allah tidak pernah mengatakan bahwa jalan hidup itu mudah, tetapi Allah akan selalu bersama orang-orang yang mau bersabar. Maka dari itu bersabarlah, tidak ada yang sia-sia dari buah kesabaran, Allah telah menyiapkan kebahagiaan untuk hamba-hamba-Nya.

*** 

Epilog

Peran manusia adalah menjalankan apa yang ada, hidup itu sudah diatur, bahkan daun di hutan yang sunyi sekalipun sudah ditentukan kapan ia harus tumbuh dan jatuh. Begitu pun perihal rezeki, Allah telah menentukan rezeki masing masing hamba-Nya. Jika kita merasa kurang atas apa yang diberikan Allah kepada kita salah satu caranya adalah dengan Besyukur. Karena pada sejatinya Allah memberikan apa yang kita butuhkan bukan apa yang kita inginkan, apa yang menurut kita baik belum tentu baik di mata Allah, tetapi apa yang terbaik menurut Allah sudah pasti terbaik bagi hamba-Nya.

Ujian hidup memang selalu ada, salah satunya adalah di saat kita menjemput atau mencari rezeki. Selalu ada cobaan atau peluh yang kita dapatkan dalam menjemput rezeki, baik cobaan yang mudah maupun yang sulit. Karena rezeki tidak akan sampai kalau kita tidak menjemputnya. Diibaratkan seperti kita mencari harta karun, kita tidak akan mendapatkannya jika kita tidak mencarinya. Manusia hanya berusaha dan Allah yang menentukan.

(Denis Zalfa Salsabila Putri, Dera Isgi Aqzahra, Erni Wulan Dari, Firda Maulida Nurfatiha, Firmansyah, Imam Bukhori)

Sabtu, 20 Juni 2020

Akulah Tempat Berlari


Hari ini adalah hari dimana semua siswa berkumpul di lapangan untuk mengetahui informasi tentang kelulusan mereka. Tampaknya rata-rata dari mereka sangat tegang karena takut tidak lulus dan ada juga
yang santai karena menganggap dirinya akan lulus. Suara mikrofon menggema

Kembali pada Jalan-Mu

Di sebuah desa hiduplah seorang anak laki laki yang bernama Sulaiman. Ia dibesarkan oleh kedua orang tuanya. Ia sangat berbakti kepada kedua orang tuanya, rajin beribadah, dan dermawan.Kegiatan sehari-harinya membantu orang tua dengan mengembala hewan ternak milik tetangga. Sesekali ia menyempatkan waktunya untuk membaca al-quran di tengah kesibukannya menggembala hewannya. Ketika usianya menginjak 10 tahun Sulaiman menjadi seorang pedagang dengan menjual ayam. Usaha yang ia lakukan selama ini memberikan hasil yang positif, ia mampu membiayakan kebutuhan hidup keluargannya.Ketika ia mulai menginjak usia 20 tahun, ia pun mampu mendirikan rumah yang pantas untuk ia dan keluargannya tempati dengan hasil kerja kerasnya sendiri.

Rise From Failure


Hari ini hujan tak hentinya turun di kota tempat tinggalku, alhasil aktivitas yang sering aku jalani seperti biasanya terhambat karena hujan yang tak henti. Tidaklah apa karena hujan merupakan sesuatu yang selalu ditunggu oleh setiap manusia di bumi ini. Ya maklum saja, beberapa minggu ini tempat tinggalku sedang dilanda kemarau.

Kebodohan yang Terpelihara

Pukul 4 pagi aku terbangun dari tempat tidurku. Suara kokokan ayam jantan dengan merdunya saling bersautan antara ayam jantan yang satu dengan ayam jantan lainnya. Mungkin itu sudah menjadi rutinitas para ayam jantan disetiap pagi harinya. Suara kokokan ayam ini lah yang sering membangunkanku disetiap harinya. Aku sangat berterima kasih kepada Sang pencipta karena masih memberikanku izin untuk hidup di dunia ini. Andai saja Sang pencipta tidak memberikanku izin untuk hidup mungkin aku sudah tidak ada lagi di dunia ini, entah kemana aku akan pergi.

Memperhitungkan

Ketika kamu memilih sesuatu bukan berarti apa yang kamu pilih harus sejalan dan merujuk pada satu pilihanmu saja, sebab Allah SWT maha memberi perhitungan kepada setiap hamba-hambanya. Manusia hanya memilih dan berusaha, sedang Allah lah yang menentukan. Allah mengetahui setiap porsi kemampuan maupun kebaikan untuk setiap hambanya kendati pilihan tersebut tidak sesuai dengan perambisian kita yang telah berusaha dengan sangat baik.

Sang Raja

Siang itu, hujan mengguyur bumi dengan sangat derasnya. Farhan berdiri di belakang jendela rumahnya ang sedikit menganga. Ia menatap hujan, seakan tengah menghitung jumlah setiap tetes air yang turun. Ia termenung, memikirkan sekolah yang akan ia tempuh selanjutnya. Dirinya menginginkan untuk lanjut sekolah ke SMP Negeri terdekat di rumahnya. Selain karena jarak sekolah dari rumahnya dekat, teman-teman Farhan juga banyak yang ingin lanjut sekolah di SMP Negeri itu. Farhan mendengar suara panggilan dari dapur, tetapi mengabaikannya.

Mencari Rizki Dengan Kesabaran Yang Penuh

Pagi ini hardi sedang memrapihkan becaknya untuk pergi kepasar mencari sedikit rezeki untuk anak-anak dan istrinya. Pak hardi adalah sosk ayah dan suami yang sangat dermawan.ia tak pernah lelah mencari rezeki ke pasar atau pun ke desa-desa bersama becak tua yang ia bawa. Meskipun hasil nya tak sebanyak yang orang-orang diluar sana dapat yang terpenting anak dan istrinya bias menikmati rasa manisnya nasi dan sedikit lauk pauk untuk dimakan.pak hardi tak pernah malu untuk bekerja sebagai tukang becak. Karna dia masih gagah dan dia masih ingin berusaha mencarirezeki dengan becak tuanya. “pak, bapak mau berangkat sekarang?” Tanya sang istri kepada pak hardi,” iya bu lebih baik pagi-pagi buta seperti ini karna pasti banyak orang yang sedang belanja dan butuh tumpangan becak” jelas pak hardi. Setelah berbincang-bincang dengan istrinya pak hardi pun langsung berangkat kepasar dengan becak tuanya. Keringat bercucuran saat pak hardi mengayunkan pedal becaknya.setengah jam menempuh perjalanan pak hardi akhirnya sampai di ppasar tesebut. “pak tolong antarkan saya ke rumah di jalan mawar nomor 2 ya pak” kata si penumpang yang ingin memaki jasanya pak hardi.”oh iya bu iya silakan mari saya antarkan.” Saut pak hardi dengan sopan.

“Perjuangan Hantu“

       
Di suatu tempat yang tidak jauh dari bumi namun berbeda dimensi, aku yang merupakan hantu berjenis vampir hidup pada suatu tempat bernama kota barzah. Kota barzah merupakan kota para hantu modern, disana terdapat berbagai jenis hantu dan terdapat sumber energi listrik yang bersumber dari rasa ketakutan manusia. Para hantu itu mendatangi bumi yang merupakan dunia manusia melewati sebuah pintu yang dinamakan Soul.

Petunjuk-MU

'Huh' helaan napas kesekian kalinya terdengar, diiringi langkah kaki yang melaju kencang. "Hey! Berhenti kamu!" teriak lelaki paruh baya dengan mengenakan setelan baju kepolisian yang juga berlari, mencoba mengejar pria berambut cepak di depannya.
Langkah kakinya memelan, sembari melihat ke kanan dan kiri.
"Maaf bos, sepertinya kita kehilangan jejaknya" ucapnya kepada seseorang di seberang sana. Ia lalu melangkah dan menyimpan HT nya kedalam saku belakang celananya.

Masa Depanku, Tak Seabu-abu seragam SMA

Di penghujung masa putih abu-abu ini, kebimbangan kerap kali menghampiri para siswa yang hendak masuk ke perguruan tinggi tak terkecuali aku. Pertanyaan demi pertanyaan terlontar dari mulut orang tua yang ingin perjalanan hidup anaknya terarahkan, namun tak satu pun kepastian yang aku berikan. Sebenarnya di benakku banyak terlintas rencana-rencana kecil mengenai masa depanku.

Sang Pencipta

“Yah....apakah setiap bintang memiliki pola?
“Benar nak, setiap bintang pasti memiliki pola tersendiri, namun kita menyebutnya sebagai rasi bintang, seperti itu” ayahnya menunjukkan tangannya ke langit
“Wah....indah sekali ayah. Itu namanya rasi apa ayah?”
“Itu namanya rasi Aries” terang ayahnya
“Yah...Apakah di langit sana ada kehidupan?” tanyaku penasaran.
“ Mungkin ada, ayah tidak tahu karena hanya Allah lah yang mengetahuinya. Namun yang jelas, di sana ada sesuatu yang sangat menakjubkan yang tidak bisa kita lihat.”
“Suatu saat nanti, aku ingin pergi ke sana yah”
“Boleh saja, tapi belajar dulu yak nak...”
“Oke yah”

Intropeksi

Dahulu kala, di sebuah kerajaan bernama "Mut Mut" ini merupakan kerajaan yang diidam-idamkan oleh hampir seluruh rakyat karena disini semua jenis sayur dan buah buahan tumbuh subur, air jernih mengalir deras dari atas gunung seperti tidak pernah habis, rakyat yang hidup dengan damai, saling bergotong royong, dan juga dipimpin oleh raja yang adil dan bijaksana. Seperti di kerajaan lainnya sang raja dibantu oleh perdana menteri dalam membangun kerajaannya. Di kerajaan ini perdana menteri lebih dikenal oleh rakyatnya dibanding sang raja karena sang perdana menteri lebih sering berjumpa dengan rakyat juga lebih dikenal lagi karena kecantikan dari anak perempuannya bernama Oh Seong (re : osong), rakyat percaya bahwa anak dari sang perdana menteri menuruni kecantikan dari sang "Dewi Kecantikan". Sebagian besar rakyat di kerajaan Mut Mut ini beragama Islam.

Jabatan yang Menyadarkan

Siapa yang tak mengenal SMA CAKRA KENCANA, sma terpavorit di Bogor. Tidak semua orang bisa menjadi siswa di sana, hanya orang yang berprestasi dan berada dikalangan atas saja yang bisa bersekolah disana, karena biaya bersekolah disana sangatlah mahal. standar yang digunakan untuk penyeleksian siswa baru terbilang sangat tinggi dengan kemungkinan lolos yang kecil, karena banyaknya yang berminat bersekolah di sana.

Buah Kesabaran

Kicau burung terdengar menyuarakan hati seorang pria yang sebentar lagi akan berubah status menjadi seorang ayah. Tanggung jawab yang akan bertambah berat di pundaknya.Dirinya yang tengah berdiri memegang cangkul termenung dan terlarut dalam pikirannya tentang biaya setelah anaknya lahir kelak, apakah dia bisa memenuhi kebutuhannya. Pertanyaan macam itu selalu saja terbesit dalam setiap fikiranya. Tapi sebisa mungkin dia tepis pemikiran macam itu. Karna, ia mengetahui jika manusia itu sedang mengalami kesusahan, dan mau berikhtiar, Allah pasti akan dekat bersamanya dan membuka jalan keluar untuk setiap ujian dan cobaanya.
Karna iaselalu ingat tentang visi dan misi dirinya bersama istrinya. Yakni, suka duka dijalani bersama. Dengan tekad dan kegigihan yang kuat, dia merasa harus lah bekerja lebih keras lagi, untuk istri dan anknya kelak.
 “ Ujang!, kalau kerja jangan malas malasan!. Hehhh hehh hehh, Ali! Kamu lagi, tuh Ujang sudah saya peringatkan untuk tidak bermalas malasan. Tapi kamu malah asik ngelamun. HEYYY ! untuk kalian semua, saya peringatkan sekali lagi, jangan pernah malas-malasan jika bekerja dengan saya. Akan saya potong gaji kalian. Mengerti?!”.
“ Astagfirullah, maaf pak. Saya hanya sedikit lelah saja tadi” timpal Ali.
“ Pulang saja, kalau memang tak ingin bekerja. Ingatt! Kalian semua itu sudah saya gaji, ga boleh ada yang malas-malasan lagi. Faham kalian?” Rohadi dengan tampang marahnya.
“ Baik pak” Jawab ke 5 pekerja Rohadi.
Rohadi merupakan salah satu dari bos pemilik tanah yang dijadikan tanahnya sebagai  perkebunan timun dan sayur sayuran lainya.Dirinya merupakan orang yang bisa dibilang sanagat disegani karna dirinya nya lah orang yang paling memilki harta banyak di desanya.  Arogan dan sombong, kerap kali dilontarkan pada warga yang sering mendapat cacian oleh dirinya.
Biasanya, Rohadi dan istrinyalah yang mengelola perkebunan tersebut. Istri nya yang terpaut 10 tahun oleh dirinya, jauh lebih muda. Dengan sifat yang sama pula, istrinya selalu saja menjadi provokator dalam setiap permasalahan dirinya dengan pekerja.
Ali, merupakan salah satu dari 5 orang pekerja di salah satu perkebunan sayuran yang dimilki Rohadi, juragan sayur. Ali sangatlah seorang laki laki sekaligus suami yang pekerja keras dan bertanggungjawab dalam tugas. Dia sangatlah rajin dalam bekerja, setiap paginya dia bekerja untuk menggarap kebun dan menenami benih benih sayuran yang nantinya akan dijual ke kota.
Ali, tinggal bersama istrinya di rumah yang sederhana. Tetapi dengan kesederhanaan itu, mereka mampu untuk sama sama berjuang mencari keridhaan Allah. Terbukti dari Ali dan Fatimah yang senantiasa menjaga sunnah nya Rasullah. Mulai dari berpuasa senin kamis, menjalankan solat sunnah tahajud tiap harinya. Mereka satu sama lain selalu memberi dukungan. Rasa cinta yang tumbuh dari awal mereka mencinta Rabb Nya. Ya, mencintai karna Allah.
Syukur dan sabar selalu menjadi sifat yang harus ada di kehidupan mereka. Ketika mereka di timpa ujian dan cobaan, mereka selalu sabar. Dan jika di beri kenikmatan mereka senantiasa berucap syukur tiada henti atas segala kebaikan Allah pada mereka. Contohnya sekarang, fatimah tengah memasuki usia kandungan nya yang ke-9 bulan.
Fatimah merupakan istri salihah, perhiasan dunia. Ia senantiasa melakukan pekerjaan atau melayani suami nya dengan baik. tak heran bila Ali sangat mencintai nya karna Allah. Mereka pun mempunyai misi bahwa mereka akan sehidup sejannah. Satu cita cita mulia Fatimah dan Ali, mereka ingin wafat husnul khotimah dalam keadaan mati syahid. Sungguh, mulia bukan cita-cita mereka.
Hari itu, dengan segala kesibukan Fatimah menerjakan pekerjaan rumahnya, Fatimah selalu berdoa sambil memegangi perutnya yang membuncit. “barakallah calon mujahid atau mujahidah ummi dan abi. Ummi dan abi selalu menunggu kamu terlahir di dunia”. ditengah doanya, entah apa yang dirasakan Fatimah sekarang. Perutnya terus saja merasakan kontarksi hebat yang membuat nya sangat merintih kesakitan.
“Ya Allah, Ya Rabb. Tolong bantu hamba. Mas Aliii, mass. Astagfirullah. Ya Rabb .” Rintih fatimah.
Terdengar dari luar rumah Fatimah, bu Fatma, tetangga Fatimah sontak langsung menolong dirinya yang tengah merintih kesakitan itu. Tak lama kemudian, suami dari bu Fatma datang dan menghampiri keduanya.
“Pak, cepat panggil Ali. Fatimah istrinya akan segera melahirkan. Nanti bapak dan Ali langsung ke Bidan Susi saja ya” pinta bu Fatma.
Bidan, di desa iwul hanya ada satu. Bidan Susi lah yang biasa membantu warga melahirkan. Sesekali bu Fatma menenangkan Fatimah yang sangat ketakutan.
“Tenang Fatimah, tidak akan terjadi apa- apa” bu Fatma yang tengah menenangkan Fatimah, tiba-tiba pintu kamar terbuka, dan Ali sontak berlari kearah istrinya, yang tengah memperjuangkan buah hati mereka.
“Yang sabar sayang, kamu harus berjuang. Kamu wanita salihah yang kuat. Aku menanti kamu dan bayi kita. Ini jihad seorang wanita.” Usaha Ali menenangkanistrinyaFatimah .
“Aku, ga kuat mas. Rasanya sangat sakit sekali. Ya Rabb.” Dengan nafas terengah engah.
“Li, kamu dipanggil bidan Susi diluar” Bu Fatma yang masuk kedalam untuk menenagkan Fatimah.
Ditengah kepanikan Ali, Bidan Susi memberi kabar bahwa Fatimah istrinya harus di rujuk ke Rumah sakit untuk penanganan operasi Caesar. Dikarnakan bayi yang ada dikandungan Fartimah posisinya sungsang. Dan tidak susah jika harus bersalin secara normal.
“Sebentar saya akan buatkan surat rujukan nya dulu” Kata bidan Susi.
“ Baik, saya tunggu”
Di rumah sakit Harapan Pelita, Fatimah segera dibawa masuk keruang operasi untuk proses bersalinnya.
“ Bapak tunggu di luar, dan tolong selesaikan administrasinya” Ucap salah satu suster yang akan membantu persalinan istrinya.
“Total nya 10 juta rupiah pak, bapa harus membayarsetengah nya untuk kita dapat mengoperasi istri bapak” Ucap petugas administrasi rumahsakit Harapan Pelita.
‘Ya Rabb, bagaimana caranya hamba mendapat uang sebesar itu dalam waktu dekat? Sedangkan istri hamba harus secepatnya mendapat pertolongan. Ya Allah, kasih hamba petunjukMu’ Doa Ali dalam hati.
“Baik mbak, saya akan segera datang”
Ali sangat kebingungan, dengan sepeda ontel yang selalu ia kendarai jika bepergian kemana saja. Ia tengah bingung sekali dengan keadaan seperti saat ini. Dia mencoba meminjam uang kepada boss nya Rohadi. Ali segera mungkin mendatangi gudang penyimpanan hasil perkebunan milik Rohadi.
“Assalamualaiakum pak,” Ucap melas Ali dengan tampang kusutnya.
“Waalaikumsalam. Ada apa? Jawab Rohadi malas.
“Gini pak, saya ingin meminjam uang untuk biaya operasi caesar istri saya pak. Saya mohon saya sangat butuh uang 10 juta pak” Pinta pengharap Ali kepada Rohadi.tengah melipati pakaian dirinya dan Ali suaminya.
“10 juta ga jumlah yang sedikit Ali. Ck, bagaimana kamu akan membayarnya?’’
“bapak bisa potong gaji saya sebulan” jawab Ali
“Eh eh eh eh, jangan mas. Dia gak akan bisa membayarnya.” Timpal istri Rohadi.
“Mau berapa tahun kamu melunasinya? 10 tahun? Haha, kamu benar sayang. Saya tidak akan memberikan pinjaman kamu uang Ali. Sudah sana pergi, ganggu saja kamu ini” Caci Pak Rohadi kepada Ali.
“Baik pak Assalamualaikum” jawab pasrah Ali.
Memang sifat Rohadi yang tak pernah peduli kepada siapapun, bahkan kepada Ali yang notabenya pkerja dia. Seperti yang warga lain katakan, hati dari Rohadi sudah sangat membatu.
Ditengah ketidak tahuan arah Ali untuk meminjam uang dari mana, Ali yang berjalan menuntun ontelnya bertemu dengan pak Herman
“Kenapa kamu Ali? Spertinya kamu sedang ada masalah?” tanya pak Herman kepada Ali yang masih asik terlamun dalam fikiranya.
“Ah iya pak, saya sedang bingung mencari biaya untuk operasi ceasar istri saya.” Jawab Ali ragu. Ragu karna pasalnya dia bingung. Apakah ia harus minjam kepada pak Herman seorang rentenir.
“Jawab, kamu butuh berapa. Li Ali.” Ucap pa Herman sambil menepuk pundak Ali.
Ya Allah maafkan hamba. Hamba tiodak punya cara lain dalam waktu dekat ini’ batin Ali.
“Saya butuh 10 juta pak,” ucap Ali dengan nada lemas.
“Oke, oke. Ini 10 juta. Tapi ingat, tagihan tiap bulanya tidak boleh telat,” ancam pak Herman
“Baik pak, Assalamualaikum” Ucap semangat Ali.
Ali mengatahui, bahwa perbuatannya adalah hal yang dilarang Allah. Mungkin jika saja istrinya tahu, pasti Fatimah akan melarang Ali untuk menerima nya. Tapi mau bagaimana lagi, Ali merasa sudah sangat putus asa, Ali khilaf. Karna ketidakbiayaan dirinya. Sebelum mencari pinjaman kepada pak Rohadi pun, Rohaditerlenih dahulu memecahkan celengan nya. Dan hanay terkumpul uang sebanayak 800 ribu saja. Maka dari itu, Ali berani menerima tawaran yang diajukan pa Herman pada dirinya.
Di rumah sakit Harapan Pelita, Ali sedang menunggu di depan ruang operasi. SekitarAli menunggu di musolah untuk memanjatkan doa untuk keselamatan istri tercintanya dan memohon ampun kepada Rabbnya. Bahwa dirinya telah melakukan kesalahan besar, yakni riba.
Setelah nya ia kembali lagi menunggu depan ruang operasi dengan rasa khawatir dan cemas dengan keadaan istri dan anaknya. Sesekali dia menginagat bahwa perjuangan istrinya yang sangat sulit untuk memperjuangkan buah hati mereka. Hatinya senantiasa berdzikir untuk meminta pertolongan dari Allah.
1 jam berlalu, hingga dokter keluar dengan wajah yang tidak tahu artinya. Antara suka dan duka.
“bagaimana kondisi istri dan bayi saya dok?’’ antusias Ali.
“bayi anda lahir dengan selamat dan sehat. Tapi kami mohon maaf bahwa istri bapak menagalami pendarahan yang hebat. Sehinngga nyawanya tidak dapat tertolong” jawab dokter Lina yang menagangani operasi caesar Fatimah.
Sesegera mungkin Ali mengahampiri kedalam ruang operasi. Diliatnya ada seseoraanng yang terbaring dan ditutupi kain putih, pertanda bahwa orang tersebut telah meninggal dunia.
“Fatimah Az zahra. Bangun sayang, bangun. YA Allah sayang, cita cita kamu untuk meninggal dalam keadaan syahid telah terkabul. Sayang, terima kasih karena telah berjuang melahirkan mujahidah untuk ku. Ana Uhibbuka fillah ya zaujati. Tenanglah, dan tunggu aku di surga.” Ucap Ali penuh cinta.
Ali tahu, bahwa sesungguhnya kami milik Allah dan hanya kepada Allah kami kembali.
“Aku ikhlas sayang terhadap dirimu. Wanita dan istri salihah dirimu, masuklah kamu ke jannah nya Allah. Sungguh aku menyadari bahwa takdir Allah sangatlah indah dari rencana yang kita harapkan,” tak sadar setetes air mata jatuh dari pipi seorang laki laki yang begitu mencintai istri dihadapannya ini.
“Ya zaujati, istri ku tercinta. Ya Fatimah Az Zahra. Jika kamu berada disurga dan nanti kelak tidak menemukan diriku didalamnya, maka carilah aku ke dalam neraka. Dan berkata lah kepada Allah, bahwa kita pernah berjuang Sama-Ssama menggapai ridha Allah swt di dunia ini. Selamat jalan ya zaujati. Ana uhibbuka fillah.” Ucap Ali dengan tegar yang diiringi sesengukan tangis yang tak dapat terbendung.
Hari berganti, ia dan putri kecil nya sedang berada di dalam rumahnya. Ia merawat putri kecilnya, yang bernama Aisyah Putri Fatimah. Ali merawat Aisyah dengan kasih sayang yang begitu besar. Saat ini Ali tengah meminumkan Aisyah sebotol susu formula. Sesekali dirinya teringat akan almarhummah istrinya Fatimah.
“Fatimah, seandainya kamu liat putri kecil kita ini. Dia sanagatlah cantik seperti dirimu. Dia juga Insya Allah akan sperti dirimu, yang menjadi wanita salihah dan kelak akan menjadi istri salhah sperti dirimu. Dan andai pula kamu ada disini, pasti kamu yang akan merawatnya.” Tetesan air bening lolos menembus bendungan yang ada dimatanya.
Ali rindu akan istri yang selalu melayani nya dengan tulus, yang senantiasa menjaga pandangan serta kehormatanya di depan lelaki ajnabi. Ya dia sangat merindukan istrinya saat ini. Tempat pengusir penat kala ia lelah bekerja.
Hari kedua tepat lahir putri kecilnya. Putrinya kini sedang menangis karna kehausan. Ali sedikit mengerti bahwa jika anak nya itu tengah kehausan dan ingin meminum susu. Tetapi uang yang tersisa di Ali, tidak cukup untuk membeli susu putrinya itu, terlebih sudah hari ketiga ia tidak masuk bekerja.
Di tempat perkebunan miliknnya, Rohadi dan istrinya sudah sangat geram dengan tingkah Ali yang seenaknya saja meninggalkan pekerjaan nya menurutnya. Hingga mereka berdua memutuskan untuk menegur Ali dengan datang ke rumahnya. Bahkan ia dan istrinya tidak segan-segan untuk memecat Ali dari pekerja di perkebunannya.
Tok tok tok.........
“Ali, cepat keluar!” Teriak Rohadi.
Ali yang keluar bersama putri tercintayangberada digendongan nya yang kini sedang menangis karna kehausan.
“Ehh, pak Rohadi. Ayo pak, bu silahkan masuk.” Ajak Ali dengan ramah.
“eh, Ali ! kemana aja kamu? Seenaknya kamu kerja.” Ucap istri Rohadi.
“ maaf pak, bu. 2 hari ini saya mengurus bayi saya di rumah. Soalnya tidak ada yang menjaga putri saya jika saya bekerja.” Jawab Ali dengan mengayun ayun kan putrinya agar tidak menangis lagi.
“Ohhh, kalau seperti itu kamu tak usah bekerja lagi di perkebunan suami saya. Masih banayak warga sini yang mau bekerja di tempat suami saya. Nanti suami saya bisa rugi kalau kamu terus terus sperti ini. Ingat ya, kami ga akan segan-segan untuk memecat kamu!” Ucap istri Rohadi dengan suara tingginya yang memaki Ali.
“Maaf bu, pak. Tolong jangan pecat saya, saya sangat butuh pekerjaan ini. Tolong, saya harus membiayai putri saya ini.” Jawab Ali pasrahhh.
“Baik lah, mulai besok kamu ga boleh seenaknya saja kalau bekerja. Ancaman istri saya tadi tidaklah main main.” Ancam rohadi pada Ali.
“baik pak. Saya akan besok masuk.”
“Ya sudah, Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam”.
Pak Rohadi beserta istrinya pulang kembali keperkebunan nya. Sedang Ali langsung masuk menenangkan anaknya, yang sedari tadi menangis dikarnakan kehausan.
Tokk Tokk Tokk.. “Assalamualaikum” Bu Fatma ucapkan salam mengunjungi rumah Ali.
Ali yang tengah berusaha mendiamkan putrinya tersebut lantas membuka pintu untuk bu Fatma. Bu Fatma mengunjungi Ali, karna ia baru saja melihat Pak Rohadi dan istrinya mendatangi kediamannya sambil memaki dirinya.
“Li, besok kamu kerja saja, dan Aisyah biar saya saja yang jaga. Oh iya, ini juga saya punya sedikit rezeki untuk A   isyah membeli susu. Itu dia nangis saja, karna kehausan” ucap Fatma
“Subhannalah, yang benar? Bu Fatma mau menjaga Aisyah saat saya bekerja? Masya Allah bu, saya sungguh tidak enak kepada ibu. Karna banyak sekali saya merepotkan ibu.” Jawab Ali.
“Iya tak apa, tak usah sungkan dengan saya.  Ya sudah saya pulang dulu ya.” Sambung bu Fatma.
Betapa senangnya perasaan Ali saat ini, di saat dirinya kesusahan dan membutuhkan pertolongan, Allah selalu saja memberikan bantuan dari yang tak di sangka-sangka. Sungguh maha besar Allah yang tak akan pernah meninggalkan hambanya dengan keadaan susah.
Pagi, yang membuat suasana hati sejuk bagi insan yang merasakan nya. Nikmat Allah yang tak akan pernah terhitumg besarnya. Nikmat jiwa yang masih menyatu dengan raga, untuk itu patut bagi hambaNya senantiasa bersyukur. Begitulah suasana hati Ali, karna banyak nikmat yang telah dirinya dapatkan setelah banyak cobaan yang dialaluinya.
Kicau burung yang menyapa pagi nya seseorang yang berubah status menjadi seorang ayah sekaligus ibu untuk mengurus putri tercintanya. Dengan semangat yang besar, Ali segera bergegas untuk menjemput rezekinya pagi ini. Namun baru sehari Ali bekerja, ia mendapatkan kabar yang kurang mengenakkan dari bu Fatma, bahwa ia tidak bisa menitipkan lagi anaknya dengan bu Fatma dikarenakan suaminya yang kurang senang dengan keberadaan anak kecil di rumahnya. Ali sontak memikikan keadaan anaknya apabila ia tingal bekerja, akhirnya dengan terpaksa Ali membawa anaknya yang masih sangat kecil itu untuk ikut bersamnya pada ssat bekerja di kebun Pak Rohadi.
Disaat Ali sedang bekerja datang Pak rohadi dengan raut wajah yang keliahatan sedikit marah “kamu niat kerja atau tidak?, mengapa kau bawa anakmu kemari, kalau dia menangis bagaimana? Dia pasti akan mengganggu kerjamu!” Ujar Pak Rohadi.
 Ali pun menjawab “ maaf pak, saya bawa anak saya ikut dengan saya dikarenakan ia tidak ada yang mengurusinya dirumah. Tenang saja pak anak saya tidak akan rewel dan mengganggu kerja saya”.
“saya tidak yakin, pasti anak mu itu akan jelas menggangu pekerjaan mu!” Tegas Rohadi.
“Tidak pak, insya Allah tidak akan menganggu pekerjaan saya. Lagi pula putri saya tidak rewel. Saya mohon pak”. Pinta Ali.
“Terserah kamu saja. Awas saja kalau anak mu itu menganggu pekerjaanmu. Langsung bawa pulang anak mu itu.”Ucap Rohadi.
“baik pak, baik” jawab Ali.
Lantas ali yang sudah mendapat izin itu langsung membawa Aisyah putri kecilnya itu kesebuah saung dekat ia bekerja. Belum lama ia bekerja, Ujang temanya menegur nya.
“Li, anak lu nangis itu.’’ Ucap ujang.
“Ali, kamu dengar itu! Anak mu menangis dan itu menganggu kerjaan kamu kan?. Cepat bawa pulang anakmu itu.” Timpal Rohadi teriak.
Ali pun menghampiri saung yan g terdapat anaknya itu.
“Suttt, sayang . Aisyah jangan nangis ya sayang.”
Seorang tetangga Ali, yang melihat Ali kesusahan dan kewalahan jika harus bekerja dan merawat anaknya sendirian, lantas menawarkan dirinya untuk bisa menjaga Aisyah.
“Assalamualaikum” Ucap Tini.
“Waalaikumsalam. Sutt sutt” sambil menimang nimang Aisyah yang sudah berhenti menangis.
“Mas, apa boleh saya yang menjaga Aisyah ketika mas sedang bekerja. Kebetulan juga Tini dan suami juga senang kepada anak anak.” Tawar Tini ke Ali.
“Apa mba Tini serius? Terimakasih kalau seperti itu. Mulai besok apa boleh saya menitipkan Aisyah kepada mba Tini. Dan setiap jam 5 sore, Aisyah akan saya jemput ya mba” Ucap Ali.
“Iya mas tidak apa apa. Lagi pula saya sangat senang dengan keberadaan anak kecil di rumah saya.”
Ali sangat bersyukur atas bantuan yang telah ditawarkan mba Tini tetangganya. Karna dalam setiapn apa yang dilakukan oleh Ali selalu melibatkan Allah didalamnya. Sehingga, jika ia merasa kesusahan pasti Allah akan menggantikan dengan kelapangan.
Tak terasa 6  tahun telah berlalu, dengan usaha dan kerja keras Ali yang dapat membesarkan Aisyah hingga sudah sebesar ini. Hari ini, hari pertama Aisyah masuk ke Sekolah Dasar Negriciparuas 1.
“Abi, Aisyah ingin jadi seperti ummi. Kata Abi ummi adalah perempuan cantik dan juga solehah kan? Kata abi, abi ngasih nama Aisyah karna abi ingin Aisyah menjadi perempuan yang cantik akhlak dan juga menjadi perempuan salihah kan? Terus Aisyah juga pengen jadi dokter abi. “ Ucap polos Aisyah.
“Masya Allah, putri abi sudah semakin pintar. Aisyah tau gak? Aisyah itu malaikat kecil nya Abi. Wahhh, Aisyah ingin jadi dokter. Oke siap, cita-cita kamu harus terwujud ya sayang.” Jawab Ali yang sedikit berkaca mendengar tutur Aisyah yang mengingatkanya dengan Istri tercintanya itu.
Tepat di depan sekolah pertama Aisyah, Ali berpesan.
“Aisyah, putri abi tersayang. Belajar yang pinter ya sayang. Harus hormati guru Aisyah ya. Ga boleh nakal juga.” Pesan Ali.
“baik abi. Asalamualaiakum” ucap Aisyah sembari mencium tangan abinya.
Setelah itu, Ali bergegas menuju perkebunan tempat ia bekerja dengan menggunakan sepeda ontel. Sesampainya diperkebunan Ali melihat pak Rohadi serta istrinya sedang memarahi pekerja yang lain.
“maaf pak, saya telat. Saya habis mengantarkan anak saya ke sekolah.” Ujar Ali dengan nafas terengah engah.
Namun Rohadi tak peduli dengan alasan yang diberikan oleh Ali.
“seenaknya aja kamu ya! Sudah dikasih toleransi banyak, malah tambah gatau diri.” Ujar istri.
“Baiklah, mulai sekarang kamu saya pecat.” tegas Rohadi.
“Mohon pak, jangan pecat saya. Saya sangat membutuhkan pekerjaan ini.” Pinta Ali dengan sangat memohon.
“Sudah jangan banyak omong, pokoknya kamu saya pecat. Pergi sanaaa!” lantas Pak Rohadi dan istrinya pun pergi meninggalkan dirinya.
Keesokan harinya menyambut pagi yang cerah dengan semangat juang untuk mencari pekerjaan baru, Ali pun sebelum ia terlebih dahulu mengantarkan Aisyah ke sekolah.Sesudah mengantarkan Aisyah ke sekolah dengan membaca basmallah dan meluruskan keyakinanya bahwa Allah akan membuka pintu rezeki dengan pekerjaan yang baru.
Ali pun bergegas dengan mengendarai sepeda ontelnya, disetiap perkebunan. Ia menawarkan diri kepada pemilik kebun mengenai masih adakah lowongan pekerjaan untuk dirinya. Namun, dari sekian banyak perkebunan yang ia datangi, tidak ada satupun yang dapat menerima ia untuk bekerja disana.
Tak terasa matahari sudah semakin terik, Ali yang masih sibuk mencari pekerjaan tersadar bahwa ia melupakan sesuatu yaknimenjemput anaknya. Lantas ia pun bergegas untuk sampai kesekolah anaknya dengan secepatnya. Namun, saat ia sudah sampai disekolah, ia tidak mendapati anaknya berada di sekolah kecemasan Ali pun semakin menjadi kala satpam mengatakan bahwa Aisyah sudah pulang dari tadi.
Ditempat lain, Aisyah yang merasa bersalah karna telah melanggar janjinya kepada abinya untuk tidak pulang terlebih dahulu sebelum abinya menjemput terus berjalan dengan lamunan nya hingga tak fokus pada jalan yang tenmgah dilewatinya.
AAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!
BRUKKKKKKKKKKK!!!!!!!!!
Mendengar suara tabrakan, warga yang berada di tkp langsung berbondong bondong menolong Aisyah yang tertabrak mobil pickup.
“baik pak baik, saya akan bertanggung jawab atas biaya dan lainya.” Ucap supir pickup.
“ri, lu ikut bapaknya ini ya bawa anak ini ke RS Pelita Indah, takutnya dia kabur” Ucap warga 1 ke yang lainya.
Sesampainya di rumah sakit, Ali yang telah mendapat kabar bahwa putri tercintanya mengalami kecelakaan.
“Bapak, ayah dari anak yang saya tabrak?” ucap supir pickup.
“Mana anak saya?” ucap Ali penuh khwatir.
“tenang pak tenang, anak bapak sudah ditangani oleh dokter. Saya akan bertanggungjawab atas semua administrasi yang dibebankan.”
Tak lama seorang dokter keluar dari ruang ICU. Dan menjelaskan bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Karna, pingsannya anak bapak hanya karna mengalami syok akibat tertabrak. Lantas Ali yang semula khawatir menjadi sedikit tenang atas kabar yang telah diberikan dokter.
Pagi harinya Ali bergegas kembali untuk mencari pekerjaan setelah mengantarkan anaknya ke sekolah. Tepat di perkebunan dekat desa iwul tempat ia tinggat terdapat perkebunan baru yang tanahnya belum ditanami, nah disitulah Ali yakin dengan sepenuh hati bahwa ia akan diterima.
“Assalamualaikum, pak apakah saya dapat membantu bapak untuk mengerjakan kebun ini?.”ucap Ali
“iya silahkan. Namun, apakah kamu bisa mengelola kebun yang masih kosong ini ?.”
“oh kebetulan pak saya bisa menanam lahan kosong ini dengan menanam mentimun. Saya janji akan bertanggung jawab dan bekerja keras sepenuhnya terhadap kebun ini.” Ucap Ali
Setelah beberapa lama kerja di kebun tersebut hasil perkebunan yang ali kerjakan mendapatkan hasil yang sangat memuaskan dan mendapat keperayaan dari si pemilik lahan.
Disamping itu kawannya ujang terancam dipecat dikarenakan kebun pak rohadi bangkrut, Karena hasil panennya yang jelek. Ujang mengatakan panen sebelumnya adalah  hasil dari kerja ali, maka dari itu kebun yang digarap ali sekarang hasilnya sangat memuaskan. pak rohadi pun menyuruh Ujang untuk mengacak-ngacak kebun yang digarap oleh Ali. Namun Ujang menolak,pak rohadi tetap memaksa sampai meranyuap ujang dengan uang. Akhirnya ujang bersedia untuk mengacak ngacak kebun yang digarap ali dengan rasa sedikit kasihan.
Keesokan harinya....
“Mengapa kebunku jadi seperti ini” ucap ali dengan sedih melihat kebunnya yang rusak.
Beberapa hari kemudian setelah kejadian itu Ali menuai hasil panen yang sangat yang memuaskan. Dan hasil panennya pun terjual habis ke penadah mentimun.
Disamping itu ia mendapat kabar bahwa kawannya yang bernama ujang sudah dipecat dari perkebunan milik pak rohadi maka dari itu ali ingin menawarkan kepada ujang untuk membantunya merawat kebun pak saptaji. Namun, ketika bergegas ke rumahnya ujang, ali mendengar percakapan antara ujang dang istrinya.
“Kamu dipecat? Lantas bagaimana nasib kita?” ucap istri Ujang
Diammm
“Dengar dengar si Ali sudah bekerja di perkebunan orang, minta pekerjaan saja kepada Ali” suruh istrinya kepada Ujang.
“hmmmm... saya malu, karena saya yang telah merusak perkebunannya dulu.” Ucap Ujang
“Hah.. mengapa kau lakukan mas?” tanya istri Ujang
“saya terpaksa melakukan itu semua atas suruhan pak Rohadi” jawab Ujang dengan sesalnya
“OOOO.. ternyata selama ini kamu yang telah merusak kebun yang saya garap.” Ucap Ali sedikit terkejut.
“maafkan saya Ali, saya khilaf, saya melakukan semua itu karena terpaksa” ucap Ujang dengan rasa menyesal.
“ya sudah yang lalu biarlah berlalu, ditempat saya ada pekerjaan untuk kamu, apakah kamu bersedia?” tanya Ali kepada Ujang.
“iya, iya saya mau Li. Sekali lagi saya inta maaf ya. Gara gara saya panen kamu gagal.”
“ iya, saya tunggu kamu besok.” Timpal Ali.
Keesokan harinya disaat ali sedang mencangkul tanah untuk membuat gundukan yang akan ditanami bibit mentimun.
“Assalamualaikum ayahhhhhhh...” ucap Zainab anak dari bapak Saptaji
“Waalaikumsalam, kamu kapan pulang ndok? Kan ayah bisa jemput ndok ke bandara” lanjut Saptaji
“kan mau buat kejutan untuk ayah”.
“oalahh.. yasudah, ini kenalkan Ali, dia yang ngurus tanah ayah ini”
“Mas Ali...
Seketika Ali menundukan pandangan

FLASHBACK
“Apa benar kamu ingin pergi ke kota untuk melanjjtkan study mu, tidak bisakah kamu untuk tetap tinggal disni” Ucap Ali
“Maaf ka, keputusanku sudah bulat aku tetap ingin mengejar cita-citaku.Jika kamu ingin menungguku maka tunggulah aku, jika kamu tidak sabar maka menikahlah dengan perempuan yang lebih baik dariku”
“Baiklah jika itu sudah menjadi keputusanmu, aku tidak bisa melarangnya lagi pun jika kita berjodoh akan bertemu kelak”.
“Oooo.. kaliann sudah saling kenal?” tanya pak Saptaji
“Tante.. tente kenalin aku Aisyah anak dari abi Ali”
“Masyaallah cantik sekali kamu”
Keesokan harinya di rumah Saptaji, Zainab yang penasaran tentang laki-laki yang pernah mengajaknya untuk menikah bertanya kepada ayahnya.
“Ayah... kak Ali menikah dengan siapa?” tanya Zainab dengan sedikit penasaran
“Sama Fatimah anak kampung sini juga, tetapi ia telah meninggal saat melahirkan anaknya Aisyah, dan sekarang Ali mengurus anaknya sendiri.” Jawab ayahnya
“Masyaallah.. sungguh mulia istrinya kak Ali itu”
Akhirnya Ali dan Fatimah bekerja sama dalam mengelola kebun dengan baik untuk menghasilkan hasil panen yang lebih berkualitas.
Dan pada akhirnya Ali, yang senantiasa sabar dalam menjalani ujian dan cobaanya meraih kesuksan nya. Pak saptaji menghibahkan tanahnya untuk Ali. Dan sekarang Ali menjadi juragan mentimun.
Dan roda kehidupan berbalik. Singkat cerita Rohadi mengalami kesengsaarana yang berawal dari istrinya selingkuh dan membawa semua hartanya, sakit stroke. Tetapi dengan kemulian hati Ali, ia tidak sedikit pun menuruh dendam pada Rohadi yang sudah mendzoliminya Dan sejumlahuangyang telah di pinjam Ali kepada seorang rentenir itu pun sudah terbayarkan dengan hasil kerja kerasnya dalam menanam mentimun.