Sabtu, 22 Agustus 2020

THE LIGHT

 

Kumpulan kata yang dirangkai menjadi kisah.

Ini hanyalah sebuah kisah yang menceritakan pahitnya hidup.

Seperti kisah pada umumnya, Septian hanyalah manusia biasa yang tak luput dari kesalahan.

Manusia memiliki banyak ujian dalam hidupnya, untuk mengetahui apakah ia mampu atau tidak melewatinya.

Seperti Septian yang mengambil jalan yang salah dalam ujiannya. Seperti itu pula Allah Subhanahu Wata’ala memberikan petunjuk kedapa hamba-Nya.

                                                            **********

PEMENANG KEHIDUPAN

 PEMENANG KEHIDUPAN


 Prolog 

Cara kerja semesta lagi-lagi begitu, di mana ada usaha di situ akan ada hasil dan semua itu berdampingan. Siklusnya ketika kita berusaha disertai niat baik dan doa, maka hasil yang kita dapatkan akan baik pula dan sebaliknya.

Kita sebagai manusia tidak bisa menentukan hasil akhir dari sebuah usaha yang diusahakan, manusia hanya bisa merencanakan dan mengusahakan sisanya itu urusan Allah swt. Karena sesungguhnya Allah telah menyiapkan segala-Nya, termasuk rezeki masing-masing Hamba-Nya.

“Jangan risau, jangan gundah semua sudah diatur sedemikian rupa oleh Allah, perihal sabar sedang diuji dan perihal skenario Allah sedang dikerjakan.” Mungkin terlihat hanya sekedar ilusi tetapi memang begitu adanya. Hidup memang soal perjuangan, jadi teruslah berjuang karena Allah telah menyiapkan apa yang kita butuhkan di depan sana.

Begitulah hidup terkadang kita sebagai manusia merasa semesta tidaklah adil, sebenarnya kunci bahagia yang sebenarnya adalah Bersyukur atas apa yang telah Allah berikan kepada kita.

Perihal rezeki tidak harus dikhawatirkan, mengapa begitu? Ya, karena rezeki sudah diatur oleh Allah sedemikian rupa. Tidak akan Allah biarkan hamba-Nya dalam kesusahan, Allah akan bantu menyelesaikannya. Setiap ada kesusahan di situ akan ada kemudahan, lagi-lagi itu cara kerja semesta yang Allah ciptakan dan tertera pula dalam Al-Qur’an.

***

 

Firman seorang remaja kelas 12 sekolah menengah atas yang bernama SMAS Pratama di daerah Semarang yang merupakan sekolah ternama di Semarang, ia dapat bersekolah di sana karena dibantu oleh salah satu Gurunya dari SMP sebelumnya berkat prestasinya selama bersekolah di SMP tersebut dan ia merupakan anak yang berasal dari kalangan keluarga sederhana, tidak bergelimang harta tapi cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Firman adalah anak tunggal dari keluarga sederhana yang kedua orangtuanya tidak berpenghasilan tetap. Ia memiliki sifat mandiri dan enggan memberatkan beban kedua orangtuanya yang bisa dibilang sudah waktunya untuk tidak lagi bekerja karena faktor usia yang sudah tidak produktif lagi. Tak jarang Ia dikucilkan oleh teman-temannya di sekolah karena penampilannya lusuh dan kurang enak dipandang, walaupun disekolah ia merupakan salah satu murid yang berprestasi tetapi ia tidak dihargai oleh teman sekolahnya karena  teman-teman disekolahnya merupakan anak dari orang terpandang yang bergelimang harta.

Terbiasa hidup sederhana sejak kecil tidak dimanjakan oleh kedua orang tuannya, jika ia menginginkan sesuatu ia selalu berusaha sendiri tidak ingin membebankan kedua orangtuanya karena keterbatasan ekonomi pada keluarganya. Masa remaja yang seharusnya ia nikmati dengan berkumpul dan bermain dengan teman sebayanya harus ia korbankan untuk membatu kebutuhan ekonomi keluargannya. Setiap pulang sekolah Ia selalu bekerja paruh waktu disebuah rumah makan sederhana.

Ayahnya seorang buruh tani yang berpenghasilan minim yang hanya mencukupi kebutuhan sehari-hari keluarganya, terkadang hasil panen nya tidak sepenuhnya terjual dan itu mempengaruhi pendapatan ekonominya. Suatu ketika ayahnya terkena musibah yang mengakibatkan tidak bisa bekerja untuk beberahari kedepan dan terpaksa Firman yang menggantikan pekerjaan Ayahnya disawah. Ibunya adalah seorang buruh cuci atau pembantu yang bekerja dari pagi hingga sore hari yang hanya menerima upah sekitar 50ribu perhari nya.

Ketika pagi hari Firman pun berangkat sekolah dengan berjalan kaki, karena dia terlahir dari keluarga yang sederhana jadi dia tidak mempunyai kendaraan. Terkadang Firman sering merasa iri melihat teman-teman nya yang setiap hari berangkat sekolah mengendarai kendaraan pribadinya mulai dari motor hingga mobil. Tetapi dia pun tidak putus asa dan tidak mengeluh walaupun setiap hari ia berjalan kaki karena ia sadar bahwa ia tidak terlahir dari keluarga yang kaya raya tetapi ia terlahir dari keluarga yang sederhana. Karena setiap hari berjalan kaki akibatnya terkadang firman sering telat datang ke sekolah karena selalu banyak kendala yang selalu dihadapi mulai dari jauhnya jalan kesekolah, banyak genangan air di jalan berlubang ketika hujan deras dan lain sebagainya dan itu yang membuat firman menjadi telat datang kesekolah.

Sesampainya disekolah terkadang Firman sering diejek teman-temannya karena dia berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki, dan selain itu sering juga diejek karena memang ini merupakan sekolah khusus orang-orang kaya sedangkan Firman orang biasa saja atau bisa dibilang miskin. Firman bisa masuk kesekolah ini karena dia orang yang berprestasi dan mendapatkan beasiswa sedangkan teman-teman yang lainnya tidak mendapatkan beasiswa jadi karena hal itu lah yang menyebabkan Firman sering di ejek teman-temannya. Di saat belajar sedang berlangsung Firman merupakan murid yang paling aktif di kelasnya, dia sering sekali mengerjakan tugas yang diberikan bapak atau Ibu Gurunya di papan tulis dan selain itu juga dia aktif di dalam organisasi seperti ekstrakulikuler dan lain sebagainya. Karena Firman termasuk murid yang sangat aktif dan berprestasi dan akhirnya teman-temannya merasa iri yang mengakibatkan teman-teman nya mulai membully Firman, mulai dari mengejek, mengolok-olok kalau dia itu miskin, tas nya dimasuki sampah, dan lain sebagainya. Tetapi Firman pun tetap semangat walaupun semua teman-temannya sudah menjelek-jelekan Firman. Tidak semua temannya membully dia, tetapi ada beberapa orang yang membela Firman.

Pernah suatu ketika Firman bertanya pada temannya yang sering membelanya saat ia sedang diejek “sebenarnya apa alas an mereka mengejekku ya?” ujar Firman. Temannya pun menjawab “mungkin mereka hanya melihat satu kekuranganmu dan melupakan kelebihanmu, mereka iri pada dasarnya sama kamu.” Firman pun mengerti pada sejatinya orang yang tidak menyukai kita akan selalu melihat keburukan kita, selalu salah dimata orang tesebut. Temannya pun merasa iba pada Firman yang raut wajahnya murung “jangan merasa paling dikucilkan, karena kamu memiliki oran        

Ketika bel istirahat Firman dipanggil oleh salah seorang guru di sekolahannya agar Firman segera ke ruang guru karena ada yang ini di bicarakan. Setelah itu, guru itu menawarkan Firman agar dia mengikuti lomba Olimpiade Matematika. "Firman apakah kamu mau mengikuti lomba olimpiade matematika? Ibu liat kamu pas untuk mengikuti olimpiade ini.” Ujar Gurunya dengan harapan  Firman mau menerima tawaran tersebut. Firman sedikit ragu akan tawaran itu “saya sebenarnya ingin menerima tawaran tersebut bu, tapi apakah bisa saya pikirkan terlebih dahulu?”ujar Firman. Firman merasa apakah ia bisa mengharumkan nama sekolahnya atau tidak, sedikit cemas  dirinya.

Setelah mendapat tawaran itu Firman kembali ke kelasnya untuk melanjutkan pelajarannya setelah ia beristirahat tadi. Tiba-tiba teman semejanya, melihat raut muka Firman yang seperti orang cemas pun bertanya “kenapa?” tanyanya pada Firman. Firman pun menoleh dan ia menggelengkan kepalanya, tanda bahwa ia tidak apa-apa. Karena tidak ingin menganggu Firman, temannya itu pun memilih untuk diam, biarkan saja terlebih dahulu karena terkadang orang memiliki caranya masing-masing untuk mengatasi masalahnya. Akhirnya mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing.

Di sisi lain Firman terus menimbang-nimbang apakah ia harus menerima tawaran olimpiade itu atau tidak? Ia ragu karena ketakutannya akan hasil yang tidak memuaskan. Ia semakin bimbang dan akhirnya ia menceritakan  kebimbangannya pada teman semejanya tersebut “kata kamu aku terima tawaran olimpiade matematika atau nggak?” Tanya Firman. “kalau ada tawaran bagus, kenapa harus kamu tolak? Kamu ini pintar dalam bidang itu, apa yang kamu ragukan lagi? Jawab temannya. Firman pun menjawab “aku takut hasilnya tidak memuaskan dan malah membuat kecewa pihak sekolah.” Temannya pun menjawab “kamu itu udah nyerah sebelum berperang ya? Nih ya, kita nggak akan pernah tau kalau kita nggak mencobanya. Siapa tau itu rezeki kamu.” Firman termenung sesaat hingga ia berkata “iya, aku akan coba ikut olimpiade itu, terima kasih ya buat support dan sarannya.” Keduanya pun saling tersenyum. Setidaknya masih ada orang yang bisa menerimanya -batin Firman.

Sepulang dari sekolah Firman tidak sengaja bertemu dengan pengemis di pinggir jalan dan pengemis itu mengeluh kelaparan karena belum makan dari kemarin. Firman memberi sedikit uang yang ia punya untuk pengemis tersebut agar pengemis itu bisa makan dan minum, itu salah satu hal yang sering Firman lakukan ketika berjumpa dengan pengemis atau anak jalanan yang. Ia merasa,  bagaimana kalau ia yang berada di posisi seperti pengemis dan anak jalanan tersebut. Walaupun ia hidup pas-pas an setidaknya ia masih bisa makan dan minum, membantu orang yang membutuhkan tidak ada salahnya, bukan?

Setibanya di rumah, Firman menceritakan pada kedua orangtuanya perihal perlombaan yang ditawarkan kepadanya oleh pihak sekolah. Respon kedua orangtuanya sangat positif, keduanya mendukung dan merasa bangga karena anaknya telah dipercaya untuk mewakilkan sekolah dalam olimpiade. “ibu yakin kamu bisa menang nanti, semangat ya nak!” ucap ibunya begitu bangga pada anaknya. “iya bu pasti, doain aku ya bu, semoga aku bisa membanggakan kalian dan juga sekolahku” ucap Firman.

Keesokan harinya Firman menemui Gurunya yang menawarkan olimpiade tersebut, ia sudah yakin akan keputusannya yang akan menerima tawaran itu. Ketika sampai ruang guru Firman pun segera menemui Guru yang ia cari “Assalamualaikum bu, maaf saya menganggu waktu ibu. Saya kesini mau bilang kalau saya bersedia mengikuti lomba yang ibu tawarkan.” Ucap Firman dengan yakin. Guru tersebut pun tersenyum dan ia sangat senang karena Firman mau mengikuti lomba tersebut. Firman merasa bahwa ini jalan yang ditentukan Allah untuknya, semoga ini dapat membawa kaberkahan bagi nya.

 Hari demi hari Firman lalui dengan belajar untuk perlombaan yang ia ikuti. Suka duka pun dilewati hingga pada akhirnya ia memenangkan perlombaan tersebut. Ia pun merasa senang akhirnya apa yang ia semogakan tersemogakan dengan jerih payahnya sendiri meskipun mendapatkan berbagai ujian yang Allah berikan kepadanya. Tapi, itu tidak membuatnya putus asa dan patah semangat untuk memenangkan perlombaan tersebut, Firman selalu berdoa kepada Yang Maha Kuasa agar semua urusannya di permudah hingga akhirnya kebaikan yang lebih itu sudah terbalaskan lewat perlombaan tersebut.

Tidak hanya rasa bangga yang ia dapatkan melainkan harapan yang ia harapkan sebelumnya bisa terwujud, yang awalnya ia merasa bahwa harapan yang ia harapkan akan sulit terwujud, yaitu ingin membeli handphone untuk kepentingan sekolah, karena pada situasi sekarang semua tugas biasa diakses lewat teknologi seperti meda sosial atau jejaring sosial. Firman merasa amat bersyukur kepada Allah dan berterima kasih kepada orangtuanya, Gurunya dan juga pihak yang sudah memberikan dukungan baik doa maupun semangat.

Ternyata dibalik semua kesulitan yang ia alami terdapat kebahagiaan yang tidak terduga sebelumnya. Allah tidak pernah mengatakan bahwa jalan hidup itu mudah, tetapi Allah akan selalu bersama orang-orang yang mau bersabar. Maka dari itu bersabarlah, tidak ada yang sia-sia dari buah kesabaran, Allah telah menyiapkan kebahagiaan untuk hamba-hamba-Nya.

*** 

Epilog

Peran manusia adalah menjalankan apa yang ada, hidup itu sudah diatur, bahkan daun di hutan yang sunyi sekalipun sudah ditentukan kapan ia harus tumbuh dan jatuh. Begitu pun perihal rezeki, Allah telah menentukan rezeki masing masing hamba-Nya. Jika kita merasa kurang atas apa yang diberikan Allah kepada kita salah satu caranya adalah dengan Besyukur. Karena pada sejatinya Allah memberikan apa yang kita butuhkan bukan apa yang kita inginkan, apa yang menurut kita baik belum tentu baik di mata Allah, tetapi apa yang terbaik menurut Allah sudah pasti terbaik bagi hamba-Nya.

Ujian hidup memang selalu ada, salah satunya adalah di saat kita menjemput atau mencari rezeki. Selalu ada cobaan atau peluh yang kita dapatkan dalam menjemput rezeki, baik cobaan yang mudah maupun yang sulit. Karena rezeki tidak akan sampai kalau kita tidak menjemputnya. Diibaratkan seperti kita mencari harta karun, kita tidak akan mendapatkannya jika kita tidak mencarinya. Manusia hanya berusaha dan Allah yang menentukan.

(Denis Zalfa Salsabila Putri, Dera Isgi Aqzahra, Erni Wulan Dari, Firda Maulida Nurfatiha, Firmansyah, Imam Bukhori)

Sabtu, 20 Juni 2020

Akulah Tempat Berlari


Hari ini adalah hari dimana semua siswa berkumpul di lapangan untuk mengetahui informasi tentang kelulusan mereka. Tampaknya rata-rata dari mereka sangat tegang karena takut tidak lulus dan ada juga
yang santai karena menganggap dirinya akan lulus. Suara mikrofon menggema

Kembali pada Jalan-Mu

Di sebuah desa hiduplah seorang anak laki laki yang bernama Sulaiman. Ia dibesarkan oleh kedua orang tuanya. Ia sangat berbakti kepada kedua orang tuanya, rajin beribadah, dan dermawan.Kegiatan sehari-harinya membantu orang tua dengan mengembala hewan ternak milik tetangga. Sesekali ia menyempatkan waktunya untuk membaca al-quran di tengah kesibukannya menggembala hewannya. Ketika usianya menginjak 10 tahun Sulaiman menjadi seorang pedagang dengan menjual ayam. Usaha yang ia lakukan selama ini memberikan hasil yang positif, ia mampu membiayakan kebutuhan hidup keluargannya.Ketika ia mulai menginjak usia 20 tahun, ia pun mampu mendirikan rumah yang pantas untuk ia dan keluargannya tempati dengan hasil kerja kerasnya sendiri.

Rise From Failure


Hari ini hujan tak hentinya turun di kota tempat tinggalku, alhasil aktivitas yang sering aku jalani seperti biasanya terhambat karena hujan yang tak henti. Tidaklah apa karena hujan merupakan sesuatu yang selalu ditunggu oleh setiap manusia di bumi ini. Ya maklum saja, beberapa minggu ini tempat tinggalku sedang dilanda kemarau.

Kebodohan yang Terpelihara

Pukul 4 pagi aku terbangun dari tempat tidurku. Suara kokokan ayam jantan dengan merdunya saling bersautan antara ayam jantan yang satu dengan ayam jantan lainnya. Mungkin itu sudah menjadi rutinitas para ayam jantan disetiap pagi harinya. Suara kokokan ayam ini lah yang sering membangunkanku disetiap harinya. Aku sangat berterima kasih kepada Sang pencipta karena masih memberikanku izin untuk hidup di dunia ini. Andai saja Sang pencipta tidak memberikanku izin untuk hidup mungkin aku sudah tidak ada lagi di dunia ini, entah kemana aku akan pergi.

Memperhitungkan

Ketika kamu memilih sesuatu bukan berarti apa yang kamu pilih harus sejalan dan merujuk pada satu pilihanmu saja, sebab Allah SWT maha memberi perhitungan kepada setiap hamba-hambanya. Manusia hanya memilih dan berusaha, sedang Allah lah yang menentukan. Allah mengetahui setiap porsi kemampuan maupun kebaikan untuk setiap hambanya kendati pilihan tersebut tidak sesuai dengan perambisian kita yang telah berusaha dengan sangat baik.

Sang Raja

Siang itu, hujan mengguyur bumi dengan sangat derasnya. Farhan berdiri di belakang jendela rumahnya ang sedikit menganga. Ia menatap hujan, seakan tengah menghitung jumlah setiap tetes air yang turun. Ia termenung, memikirkan sekolah yang akan ia tempuh selanjutnya. Dirinya menginginkan untuk lanjut sekolah ke SMP Negeri terdekat di rumahnya. Selain karena jarak sekolah dari rumahnya dekat, teman-teman Farhan juga banyak yang ingin lanjut sekolah di SMP Negeri itu. Farhan mendengar suara panggilan dari dapur, tetapi mengabaikannya.

Mencari Rizki Dengan Kesabaran Yang Penuh

Pagi ini hardi sedang memrapihkan becaknya untuk pergi kepasar mencari sedikit rezeki untuk anak-anak dan istrinya. Pak hardi adalah sosk ayah dan suami yang sangat dermawan.ia tak pernah lelah mencari rezeki ke pasar atau pun ke desa-desa bersama becak tua yang ia bawa. Meskipun hasil nya tak sebanyak yang orang-orang diluar sana dapat yang terpenting anak dan istrinya bias menikmati rasa manisnya nasi dan sedikit lauk pauk untuk dimakan.pak hardi tak pernah malu untuk bekerja sebagai tukang becak. Karna dia masih gagah dan dia masih ingin berusaha mencarirezeki dengan becak tuanya. “pak, bapak mau berangkat sekarang?” Tanya sang istri kepada pak hardi,” iya bu lebih baik pagi-pagi buta seperti ini karna pasti banyak orang yang sedang belanja dan butuh tumpangan becak” jelas pak hardi. Setelah berbincang-bincang dengan istrinya pak hardi pun langsung berangkat kepasar dengan becak tuanya. Keringat bercucuran saat pak hardi mengayunkan pedal becaknya.setengah jam menempuh perjalanan pak hardi akhirnya sampai di ppasar tesebut. “pak tolong antarkan saya ke rumah di jalan mawar nomor 2 ya pak” kata si penumpang yang ingin memaki jasanya pak hardi.”oh iya bu iya silakan mari saya antarkan.” Saut pak hardi dengan sopan.

“Perjuangan Hantu“

       
Di suatu tempat yang tidak jauh dari bumi namun berbeda dimensi, aku yang merupakan hantu berjenis vampir hidup pada suatu tempat bernama kota barzah. Kota barzah merupakan kota para hantu modern, disana terdapat berbagai jenis hantu dan terdapat sumber energi listrik yang bersumber dari rasa ketakutan manusia. Para hantu itu mendatangi bumi yang merupakan dunia manusia melewati sebuah pintu yang dinamakan Soul.

Petunjuk-MU

'Huh' helaan napas kesekian kalinya terdengar, diiringi langkah kaki yang melaju kencang. "Hey! Berhenti kamu!" teriak lelaki paruh baya dengan mengenakan setelan baju kepolisian yang juga berlari, mencoba mengejar pria berambut cepak di depannya.
Langkah kakinya memelan, sembari melihat ke kanan dan kiri.
"Maaf bos, sepertinya kita kehilangan jejaknya" ucapnya kepada seseorang di seberang sana. Ia lalu melangkah dan menyimpan HT nya kedalam saku belakang celananya.

Masa Depanku, Tak Seabu-abu seragam SMA

Di penghujung masa putih abu-abu ini, kebimbangan kerap kali menghampiri para siswa yang hendak masuk ke perguruan tinggi tak terkecuali aku. Pertanyaan demi pertanyaan terlontar dari mulut orang tua yang ingin perjalanan hidup anaknya terarahkan, namun tak satu pun kepastian yang aku berikan. Sebenarnya di benakku banyak terlintas rencana-rencana kecil mengenai masa depanku.

Sang Pencipta

“Yah....apakah setiap bintang memiliki pola?
“Benar nak, setiap bintang pasti memiliki pola tersendiri, namun kita menyebutnya sebagai rasi bintang, seperti itu” ayahnya menunjukkan tangannya ke langit
“Wah....indah sekali ayah. Itu namanya rasi apa ayah?”
“Itu namanya rasi Aries” terang ayahnya
“Yah...Apakah di langit sana ada kehidupan?” tanyaku penasaran.
“ Mungkin ada, ayah tidak tahu karena hanya Allah lah yang mengetahuinya. Namun yang jelas, di sana ada sesuatu yang sangat menakjubkan yang tidak bisa kita lihat.”
“Suatu saat nanti, aku ingin pergi ke sana yah”
“Boleh saja, tapi belajar dulu yak nak...”
“Oke yah”