Sabtu, 20 Juni 2020
Akulah Tempat Berlari
Hari
ini adalah hari dimana semua siswa berkumpul di lapangan untuk mengetahui
informasi tentang kelulusan mereka. Tampaknya rata-rata dari mereka sangat
tegang karena takut tidak lulus dan ada juga yang santai karena menganggap dirinya
akan lulus. Suara mikrofon menggema
Kembali pada Jalan-Mu
Di sebuah desa hiduplah seorang anak laki laki
yang bernama Sulaiman. Ia dibesarkan oleh kedua orang tuanya. Ia sangat berbakti
kepada kedua orang tuanya, rajin beribadah, dan dermawan.Kegiatan
sehari-harinya membantu orang tua dengan mengembala hewan ternak milik tetangga.
Sesekali ia menyempatkan waktunya untuk membaca al-quran di tengah kesibukannya
menggembala hewannya. Ketika usianya menginjak 10 tahun Sulaiman menjadi
seorang pedagang dengan menjual ayam. Usaha yang ia lakukan selama ini
memberikan hasil yang positif, ia mampu membiayakan kebutuhan hidup
keluargannya.Ketika ia mulai menginjak usia 20 tahun, ia pun mampu mendirikan
rumah yang pantas untuk ia dan keluargannya tempati dengan hasil kerja kerasnya
sendiri.
Rise From Failure
Hari ini hujan tak hentinya
turun di kota tempat tinggalku, alhasil aktivitas yang sering aku jalani
seperti biasanya terhambat karena hujan yang tak henti. Tidaklah apa karena
hujan merupakan sesuatu yang selalu ditunggu oleh setiap manusia di bumi ini.
Ya maklum saja, beberapa minggu ini tempat tinggalku sedang dilanda kemarau.
Kebodohan yang Terpelihara
Pukul 4 pagi aku terbangun dari
tempat tidurku. Suara kokokan ayam jantan dengan merdunya saling bersautan
antara ayam jantan yang satu dengan ayam jantan lainnya. Mungkin itu sudah
menjadi rutinitas para ayam jantan disetiap pagi harinya. Suara kokokan ayam
ini lah yang sering membangunkanku disetiap harinya. Aku sangat berterima kasih
kepada Sang pencipta karena masih memberikanku izin untuk hidup di dunia ini.
Andai saja Sang pencipta tidak memberikanku izin untuk hidup mungkin aku sudah
tidak ada lagi di dunia ini, entah kemana aku akan pergi.
Memperhitungkan
Ketika kamu memilih sesuatu
bukan berarti apa yang kamu pilih harus sejalan dan merujuk pada satu pilihanmu
saja, sebab Allah SWT maha memberi perhitungan kepada setiap hamba-hambanya.
Manusia hanya memilih dan berusaha, sedang Allah lah yang menentukan. Allah
mengetahui setiap porsi kemampuan maupun kebaikan untuk setiap hambanya kendati
pilihan tersebut tidak sesuai dengan perambisian kita yang telah berusaha
dengan sangat baik.
Sang Raja
Siang
itu, hujan mengguyur bumi dengan sangat derasnya. Farhan berdiri di belakang
jendela rumahnya ang sedikit menganga. Ia menatap hujan, seakan tengah
menghitung jumlah setiap tetes air yang turun. Ia termenung, memikirkan sekolah
yang akan ia tempuh selanjutnya. Dirinya menginginkan untuk lanjut sekolah ke
SMP Negeri terdekat di rumahnya. Selain karena jarak sekolah dari rumahnya
dekat, teman-teman Farhan juga banyak yang ingin lanjut sekolah di SMP Negeri
itu. Farhan mendengar suara panggilan dari dapur, tetapi mengabaikannya.
Mencari Rizki Dengan Kesabaran Yang Penuh
Pagi ini hardi sedang
memrapihkan becaknya untuk pergi kepasar mencari sedikit rezeki untuk anak-anak
dan istrinya. Pak hardi adalah sosk ayah dan suami yang sangat dermawan.ia tak
pernah lelah mencari rezeki ke pasar atau pun ke desa-desa bersama becak tua
yang ia bawa. Meskipun hasil nya tak sebanyak yang orang-orang diluar sana
dapat yang terpenting anak dan istrinya bias menikmati rasa manisnya nasi dan
sedikit lauk pauk untuk dimakan.pak hardi tak pernah malu untuk bekerja sebagai
tukang becak. Karna dia masih gagah dan dia masih ingin berusaha mencarirezeki
dengan becak tuanya. “pak, bapak
mau berangkat sekarang?” Tanya sang istri kepada pak hardi,” iya bu lebih baik
pagi-pagi buta seperti ini karna pasti banyak orang yang sedang belanja dan
butuh tumpangan becak” jelas pak hardi. Setelah berbincang-bincang dengan
istrinya pak hardi pun langsung berangkat kepasar dengan becak tuanya. Keringat
bercucuran saat pak hardi mengayunkan pedal becaknya.setengah jam menempuh
perjalanan pak hardi akhirnya sampai di ppasar tesebut. “pak tolong antarkan
saya ke rumah di jalan mawar nomor 2 ya pak” kata si penumpang yang ingin
memaki jasanya pak hardi.”oh iya bu iya silakan mari saya antarkan.” Saut pak
hardi dengan sopan.
“Perjuangan Hantu“
Petunjuk-MU
'Huh' helaan napas kesekian kalinya
terdengar, diiringi langkah kaki yang melaju kencang. "Hey! Berhenti
kamu!" teriak lelaki paruh baya dengan mengenakan setelan baju kepolisian
yang juga berlari, mencoba mengejar pria berambut cepak di depannya.
Langkah kakinya memelan, sembari melihat ke kanan
dan kiri.
"Maaf bos, sepertinya kita kehilangan
jejaknya" ucapnya kepada seseorang di seberang sana. Ia lalu melangkah dan
menyimpan HT nya kedalam saku belakang celananya.
Masa Depanku, Tak Seabu-abu seragam SMA
Di penghujung masa putih
abu-abu ini, kebimbangan kerap kali menghampiri para siswa yang hendak masuk ke
perguruan tinggi tak terkecuali aku. Pertanyaan demi pertanyaan terlontar dari
mulut orang tua yang ingin perjalanan hidup anaknya terarahkan, namun tak satu
pun kepastian yang aku berikan. Sebenarnya di benakku banyak terlintas
rencana-rencana kecil mengenai masa depanku.
Sang Pencipta
“Yah....apakah setiap bintang memiliki
pola?
“Benar nak, setiap bintang pasti
memiliki pola tersendiri, namun kita menyebutnya sebagai rasi bintang, seperti itu” ayahnya
menunjukkan tangannya ke langit
“Wah....indah sekali ayah. Itu namanya
rasi apa ayah?”
“Itu namanya rasi Aries” terang ayahnya
“Yah...Apakah di langit sana ada
kehidupan?” tanyaku penasaran.
“ Mungkin ada, ayah tidak tahu karena
hanya Allah lah yang mengetahuinya. Namun yang jelas, di sana ada sesuatu yang
sangat menakjubkan yang tidak bisa kita lihat.”
“Suatu saat nanti, aku ingin pergi ke
sana yah”
“Boleh saja, tapi belajar dulu yak
nak...”
“Oke yah”
Intropeksi
Dahulu kala, di sebuah kerajaan bernama "Mut Mut" ini
merupakan kerajaan yang diidam-idamkan oleh hampir seluruh rakyat karena disini
semua jenis sayur dan buah buahan tumbuh subur, air jernih mengalir deras dari
atas gunung seperti tidak pernah habis, rakyat yang hidup dengan damai, saling
bergotong royong, dan juga dipimpin oleh raja yang adil dan bijaksana. Seperti
di kerajaan lainnya sang raja dibantu oleh perdana menteri dalam membangun
kerajaannya. Di kerajaan ini perdana menteri lebih dikenal oleh rakyatnya
dibanding sang raja karena sang perdana menteri lebih sering berjumpa dengan
rakyat juga lebih dikenal lagi karena kecantikan dari anak perempuannya bernama
Oh Seong (re : osong), rakyat percaya bahwa anak dari sang perdana menteri
menuruni kecantikan dari sang "Dewi Kecantikan". Sebagian besar
rakyat di kerajaan Mut Mut ini beragama Islam.
Jabatan yang Menyadarkan
Siapa yang tak mengenal SMA
CAKRA KENCANA, sma terpavorit di Bogor. Tidak semua orang bisa menjadi siswa di
sana, hanya orang yang berprestasi dan berada dikalangan atas saja yang bisa
bersekolah disana, karena biaya bersekolah disana sangatlah mahal. standar yang
digunakan untuk penyeleksian siswa baru terbilang sangat tinggi dengan
kemungkinan lolos yang kecil, karena banyaknya yang berminat bersekolah di
sana.
Buah Kesabaran
Kicau burung terdengar
menyuarakan hati seorang pria yang sebentar lagi akan berubah status menjadi
seorang ayah. Tanggung jawab yang akan bertambah berat di pundaknya.Dirinya
yang tengah berdiri memegang cangkul termenung dan terlarut dalam pikirannya
tentang biaya setelah anaknya lahir kelak, apakah dia bisa memenuhi
kebutuhannya. Pertanyaan macam itu selalu saja terbesit dalam setiap fikiranya.
Tapi sebisa mungkin dia tepis pemikiran macam itu. Karna, ia mengetahui jika
manusia itu sedang mengalami kesusahan, dan mau berikhtiar, Allah pasti akan
dekat bersamanya dan membuka jalan keluar untuk setiap ujian dan cobaanya.
Karna iaselalu ingat tentang
visi dan misi dirinya bersama istrinya. Yakni, suka duka dijalani bersama.
Dengan tekad dan kegigihan yang kuat, dia merasa harus lah bekerja lebih keras
lagi, untuk istri dan anknya kelak.
“ Ujang!, kalau kerja jangan malas malasan!.
Hehhh hehh hehh, Ali! Kamu lagi, tuh Ujang sudah saya peringatkan untuk tidak
bermalas malasan. Tapi kamu malah asik ngelamun. HEYYY ! untuk kalian semua,
saya peringatkan sekali lagi, jangan pernah malas-malasan
jika bekerja dengan saya. Akan saya potong gaji kalian. Mengerti?!”.
“ Astagfirullah, maaf pak. Saya hanya
sedikit lelah saja tadi” timpal Ali.
“ Pulang saja, kalau memang tak ingin
bekerja. Ingatt! Kalian semua itu sudah saya gaji, ga boleh ada yang malas-malasan lagi. Faham kalian?” Rohadi dengan tampang marahnya.
“ Baik pak” Jawab ke 5 pekerja Rohadi.
Rohadi merupakan salah satu dari
bos pemilik tanah yang dijadikan tanahnya sebagai perkebunan timun dan sayur sayuran
lainya.Dirinya merupakan orang yang bisa dibilang sanagat disegani karna
dirinya nya lah orang yang paling memilki harta banyak di desanya. Arogan dan sombong, kerap kali dilontarkan
pada warga yang sering mendapat cacian oleh dirinya.
Biasanya, Rohadi dan
istrinyalah yang mengelola perkebunan tersebut. Istri nya yang terpaut 10 tahun
oleh dirinya, jauh lebih muda. Dengan sifat yang sama pula, istrinya selalu
saja menjadi provokator dalam setiap permasalahan dirinya dengan pekerja.
Ali, merupakan salah satu dari
5 orang pekerja di salah satu perkebunan sayuran yang dimilki Rohadi, juragan
sayur. Ali sangatlah seorang laki laki sekaligus suami yang pekerja keras dan
bertanggungjawab dalam tugas. Dia sangatlah rajin dalam bekerja, setiap paginya
dia bekerja untuk menggarap kebun dan menenami benih benih sayuran yang
nantinya akan dijual ke kota.
Ali, tinggal bersama istrinya
di rumah yang sederhana. Tetapi dengan kesederhanaan itu, mereka mampu untuk
sama sama berjuang mencari keridhaan Allah. Terbukti dari Ali dan Fatimah yang
senantiasa menjaga sunnah nya Rasullah. Mulai dari berpuasa senin kamis,
menjalankan solat sunnah tahajud tiap harinya. Mereka satu sama lain selalu
memberi dukungan. Rasa cinta yang tumbuh dari awal mereka mencinta Rabb Nya.
Ya, mencintai karna Allah.
Syukur dan sabar selalu menjadi
sifat yang harus ada di kehidupan mereka. Ketika
mereka di timpa ujian dan cobaan, mereka selalu sabar. Dan jika di beri
kenikmatan mereka senantiasa berucap syukur tiada henti atas segala kebaikan
Allah pada mereka. Contohnya sekarang, fatimah tengah memasuki usia kandungan
nya yang ke-9 bulan.
Fatimah merupakan istri
salihah, perhiasan dunia. Ia senantiasa melakukan pekerjaan atau melayani suami
nya dengan baik. tak heran bila Ali sangat mencintai nya karna Allah. Mereka
pun mempunyai misi bahwa mereka akan sehidup sejannah. Satu cita cita mulia
Fatimah dan Ali, mereka ingin wafat husnul khotimah dalam keadaan mati syahid.
Sungguh, mulia bukan cita-cita mereka.
Hari itu, dengan segala
kesibukan Fatimah menerjakan pekerjaan rumahnya, Fatimah selalu berdoa sambil
memegangi perutnya yang membuncit. “barakallah calon mujahid atau mujahidah
ummi dan abi. Ummi dan abi selalu menunggu kamu terlahir di dunia”. ditengah
doanya, entah apa yang dirasakan Fatimah sekarang. Perutnya terus saja
merasakan kontarksi hebat yang membuat nya sangat merintih kesakitan.
“Ya Allah, Ya Rabb. Tolong bantu hamba.
Mas Aliii, mass. Astagfirullah. Ya Rabb .” Rintih fatimah.
Terdengar dari luar rumah Fatimah, bu Fatma, tetangga Fatimah sontak langsung menolong
dirinya yang tengah merintih kesakitan itu. Tak lama kemudian, suami dari bu
Fatma datang dan menghampiri keduanya.
“Pak, cepat panggil Ali. Fatimah
istrinya akan segera melahirkan. Nanti bapak dan Ali langsung ke Bidan Susi
saja ya” pinta bu Fatma.
Bidan, di desa iwul hanya ada
satu. Bidan Susi lah yang biasa membantu warga
melahirkan. Sesekali bu Fatma menenangkan Fatimah yang sangat ketakutan.
“Tenang Fatimah, tidak akan terjadi
apa- apa” bu Fatma yang tengah menenangkan Fatimah, tiba-tiba pintu kamar
terbuka, dan Ali sontak berlari kearah istrinya, yang tengah memperjuangkan
buah hati mereka.
“Yang sabar sayang, kamu harus
berjuang. Kamu wanita salihah yang kuat. Aku menanti kamu dan bayi kita. Ini
jihad seorang wanita.” Usaha Ali menenangkanistrinyaFatimah .
“Aku, ga kuat mas. Rasanya sangat sakit
sekali. Ya Rabb.” Dengan nafas terengah engah.
“Li, kamu dipanggil bidan Susi diluar”
Bu Fatma yang masuk kedalam untuk menenagkan Fatimah.
Ditengah kepanikan Ali, Bidan
Susi memberi kabar bahwa Fatimah istrinya harus di rujuk ke Rumah sakit untuk
penanganan operasi Caesar. Dikarnakan bayi yang ada dikandungan Fartimah
posisinya sungsang. Dan tidak susah jika harus bersalin secara normal.
“Sebentar saya akan buatkan surat rujukan nya dulu” Kata bidan Susi.
“ Baik, saya tunggu”
Di rumah sakit Harapan Pelita, Fatimah segera dibawa masuk keruang operasi
untuk proses bersalinnya.
“ Bapak tunggu di luar, dan tolong
selesaikan administrasinya” Ucap salah
satu suster yang akan membantu persalinan istrinya.
“Total nya 10 juta rupiah pak, bapa
harus membayarsetengah nya untuk kita dapat mengoperasi istri bapak” Ucap
petugas administrasi rumahsakit Harapan Pelita.
‘Ya Rabb, bagaimana caranya hamba
mendapat uang sebesar itu dalam waktu dekat? Sedangkan istri hamba harus
secepatnya mendapat pertolongan. Ya Allah, kasih hamba petunjukMu’ Doa Ali
dalam hati.
“Baik mbak, saya akan segera datang”
Ali sangat kebingungan, dengan sepeda ontel yang
selalu ia kendarai jika bepergian kemana saja. Ia tengah bingung sekali dengan
keadaan seperti saat ini. Dia mencoba meminjam uang
kepada boss nya Rohadi. Ali segera mungkin mendatangi gudang penyimpanan hasil
perkebunan milik Rohadi.
“Assalamualaiakum pak,” Ucap melas Ali
dengan tampang kusutnya.
“Waalaikumsalam. Ada apa? Jawab Rohadi
malas.
“Gini pak, saya ingin meminjam uang
untuk biaya operasi caesar istri saya pak. Saya mohon saya sangat butuh uang 10
juta pak” Pinta pengharap Ali kepada
Rohadi.tengah melipati pakaian dirinya dan Ali suaminya.
“10 juta ga jumlah yang sedikit Ali.
Ck, bagaimana kamu akan membayarnya?’’
“bapak bisa potong gaji saya sebulan”
jawab Ali
“Eh eh eh eh, jangan mas. Dia gak akan
bisa membayarnya.” Timpal istri Rohadi.
“Mau berapa tahun kamu melunasinya? 10
tahun? Haha, kamu benar sayang. Saya tidak akan memberikan pinjaman kamu uang
Ali. Sudah sana pergi, ganggu saja kamu ini” Caci Pak Rohadi kepada Ali.
“Baik pak Assalamualaikum” jawab pasrah
Ali.
Memang sifat Rohadi yang tak
pernah peduli kepada siapapun, bahkan kepada Ali yang notabenya pkerja dia.
Seperti yang warga lain katakan, hati dari Rohadi sudah sangat membatu.
Ditengah ketidak tahuan arah
Ali untuk meminjam uang dari mana, Ali yang berjalan menuntun ontelnya bertemu
dengan pak Herman
“Kenapa kamu Ali? Spertinya kamu sedang
ada masalah?” tanya pak Herman kepada Ali
yang masih asik terlamun dalam fikiranya.
“Ah iya pak, saya sedang bingung
mencari biaya untuk operasi ceasar istri saya.” Jawab Ali ragu. Ragu karna
pasalnya dia bingung. Apakah ia harus minjam
kepada pak Herman seorang rentenir.
“Jawab, kamu butuh berapa. Li Ali.”
Ucap pa Herman sambil menepuk pundak
Ali.
“Ya Allah maafkan hamba. Hamba tiodak punya cara lain dalam
waktu dekat ini’ batin Ali.
“Saya butuh 10 juta pak,” ucap Ali
dengan nada lemas.
“Oke, oke. Ini 10 juta. Tapi ingat,
tagihan tiap bulanya tidak boleh telat,” ancam pak Herman
“Baik pak, Assalamualaikum” Ucap semangat Ali.
Ali mengatahui, bahwa
perbuatannya adalah hal yang dilarang Allah. Mungkin jika saja istrinya tahu,
pasti Fatimah akan melarang Ali untuk menerima nya. Tapi mau bagaimana lagi,
Ali merasa sudah sangat putus asa, Ali khilaf. Karna ketidakbiayaan dirinya.
Sebelum mencari pinjaman kepada pak Rohadi pun, Rohaditerlenih dahulu
memecahkan celengan nya. Dan hanay terkumpul uang sebanayak 800 ribu saja. Maka
dari itu, Ali berani menerima tawaran yang diajukan pa Herman pada dirinya.
Di rumah sakit Harapan Pelita, Ali sedang menunggu di depan ruang operasi. SekitarAli
menunggu di musolah untuk memanjatkan doa untuk keselamatan istri tercintanya
dan memohon ampun kepada Rabbnya. Bahwa dirinya telah melakukan kesalahan
besar, yakni riba.
Setelah nya ia kembali lagi
menunggu depan ruang operasi dengan rasa khawatir dan cemas dengan keadaan
istri dan anaknya. Sesekali dia menginagat bahwa perjuangan istrinya yang
sangat sulit untuk memperjuangkan buah hati mereka. Hatinya senantiasa
berdzikir untuk meminta pertolongan dari Allah.
1 jam berlalu, hingga dokter keluar
dengan wajah yang tidak tahu artinya. Antara
suka dan duka.
“bagaimana kondisi istri dan bayi saya
dok?’’ antusias Ali.
“bayi anda lahir dengan selamat dan
sehat. Tapi kami mohon maaf bahwa istri
bapak menagalami pendarahan yang hebat. Sehinngga nyawanya tidak dapat
tertolong” jawab dokter Lina yang menagangani operasi caesar Fatimah.
Sesegera mungkin Ali
mengahampiri kedalam ruang operasi. Diliatnya ada seseoraanng yang terbaring dan ditutupi
kain putih, pertanda bahwa orang tersebut telah meninggal dunia.
“Fatimah Az zahra. Bangun sayang, bangun. YA Allah sayang, cita
cita kamu untuk meninggal dalam keadaan syahid telah terkabul. Sayang, terima kasih karena
telah berjuang melahirkan mujahidah untuk ku. Ana Uhibbuka fillah ya zaujati.
Tenanglah, dan tunggu aku di surga.” Ucap Ali penuh cinta.
Ali tahu, bahwa sesungguhnya kami
milik Allah dan hanya kepada Allah kami kembali.
“Aku ikhlas sayang terhadap dirimu.
Wanita dan istri salihah dirimu, masuklah kamu ke jannah nya Allah. Sungguh aku
menyadari bahwa takdir Allah sangatlah indah dari rencana yang kita harapkan,”
tak sadar setetes air mata jatuh dari pipi seorang laki laki yang begitu
mencintai istri dihadapannya ini.
“Ya zaujati, istri ku tercinta. Ya Fatimah Az Zahra. Jika kamu berada disurga dan nanti kelak tidak
menemukan diriku didalamnya, maka carilah aku ke dalam neraka. Dan berkata lah
kepada Allah, bahwa kita pernah berjuang Sama-Ssama menggapai ridha Allah swt di
dunia ini. Selamat jalan ya zaujati. Ana uhibbuka fillah.” Ucap Ali dengan tegar
yang diiringi sesengukan tangis yang tak dapat terbendung.
Hari berganti, ia dan putri
kecil nya sedang berada di dalam rumahnya.
Ia merawat putri kecilnya, yang bernama Aisyah Putri Fatimah. Ali merawat Aisyah dengan kasih sayang yang begitu besar. Saat ini Ali
tengah meminumkan Aisyah sebotol susu formula. Sesekali dirinya teringat akan
almarhummah istrinya Fatimah.
“Fatimah, seandainya kamu liat putri
kecil kita ini. Dia sanagatlah cantik seperti dirimu. Dia juga Insya Allah akan
sperti dirimu, yang menjadi wanita salihah dan kelak akan menjadi istri salhah
sperti dirimu. Dan andai pula kamu ada disini, pasti kamu yang akan
merawatnya.” Tetesan air bening lolos menembus bendungan yang ada dimatanya.
Ali rindu akan istri yang
selalu melayani nya dengan tulus, yang senantiasa menjaga pandangan serta kehormatanya di depan lelaki ajnabi. Ya dia sangat merindukan istrinya saat ini. Tempat pengusir penat kala ia lelah
bekerja.
Hari kedua tepat lahir putri
kecilnya. Putrinya kini sedang menangis karna kehausan. Ali sedikit mengerti bahwa jika anak nya itu tengah kehausan dan ingin
meminum susu. Tetapi uang yang tersisa di Ali, tidak cukup untuk membeli susu
putrinya itu, terlebih sudah hari ketiga ia tidak masuk bekerja.
Di tempat perkebunan miliknnya,
Rohadi dan istrinya sudah sangat geram dengan tingkah Ali yang seenaknya saja
meninggalkan pekerjaan nya menurutnya. Hingga
mereka berdua memutuskan untuk menegur Ali dengan datang ke rumahnya. Bahkan
ia dan istrinya tidak segan-segan untuk memecat Ali dari pekerja di
perkebunannya.
Tok tok tok.........
“Ali, cepat keluar!” Teriak Rohadi.
Ali yang keluar bersama putri
tercintayangberada digendongan nya yang kini sedang menangis karna kehausan.
“Ehh, pak Rohadi. Ayo pak, bu silahkan
masuk.” Ajak Ali dengan ramah.
“eh, Ali ! kemana aja kamu? Seenaknya
kamu kerja.” Ucap istri Rohadi.
“ maaf pak, bu. 2 hari ini saya
mengurus bayi saya di rumah. Soalnya tidak ada yang menjaga putri saya jika
saya bekerja.” Jawab Ali dengan mengayun ayun kan putrinya agar tidak menangis
lagi.
“Ohhh, kalau seperti itu kamu tak usah
bekerja lagi di perkebunan suami saya. Masih banayak warga sini yang mau
bekerja di tempat suami saya. Nanti suami saya bisa rugi kalau kamu terus terus
sperti ini. Ingat ya, kami ga akan segan-segan
untuk memecat kamu!” Ucap istri Rohadi dengan suara tingginya yang memaki Ali.
“Maaf bu, pak. Tolong jangan pecat
saya, saya sangat butuh pekerjaan ini. Tolong, saya harus membiayai putri saya ini.” Jawab Ali pasrahhh.
“Baik lah, mulai besok kamu ga boleh
seenaknya saja kalau bekerja. Ancaman istri saya tadi tidaklah main main.”
Ancam rohadi pada Ali.
“baik pak. Saya akan besok masuk.”
“Ya sudah, Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam”.
Pak Rohadi beserta istrinya
pulang kembali keperkebunan nya. Sedang Ali langsung masuk menenangkan anaknya,
yang sedari tadi menangis dikarnakan kehausan.
Tokk Tokk Tokk.. “Assalamualaikum” Bu Fatma ucapkan salam mengunjungi rumah Ali.
Ali yang tengah berusaha
mendiamkan putrinya tersebut lantas membuka pintu untuk bu Fatma. Bu Fatma mengunjungi Ali, karna ia baru saja melihat Pak Rohadi
dan istrinya mendatangi kediamannya sambil memaki dirinya.
“Li, besok kamu kerja saja, dan Aisyah biar saya saja yang jaga. Oh iya, ini juga saya punya
sedikit rezeki untuk A isyah membeli susu. Itu dia nangis
saja, karna kehausan” ucap Fatma
“Subhannalah, yang benar? Bu Fatma mau
menjaga Aisyah saat saya bekerja? Masya Allah bu, saya sungguh tidak enak
kepada ibu. Karna banyak sekali saya merepotkan ibu.” Jawab Ali.
“Iya tak apa, tak usah sungkan dengan
saya. Ya sudah saya pulang dulu ya.”
Sambung bu Fatma.
Betapa senangnya perasaan Ali
saat ini, di saat dirinya kesusahan dan membutuhkan pertolongan, Allah selalu
saja memberikan bantuan dari yang tak di sangka-sangka.
Sungguh maha besar Allah yang tak akan pernah meninggalkan hambanya dengan
keadaan susah.
Pagi, yang membuat suasana hati
sejuk bagi insan yang merasakan nya. Nikmat Allah yang tak akan pernah
terhitumg besarnya. Nikmat jiwa yang masih menyatu dengan raga, untuk itu patut
bagi hambaNya senantiasa bersyukur.
Begitulah suasana hati Ali, karna banyak nikmat yang telah dirinya dapatkan
setelah banyak cobaan yang dialaluinya.
Kicau burung yang menyapa pagi nya seseorang yang berubah status menjadi seorang
ayah sekaligus ibu untuk mengurus putri tercintanya. Dengan semangat yang
besar, Ali segera bergegas untuk menjemput rezekinya pagi ini. Namun baru
sehari Ali bekerja, ia mendapatkan kabar yang kurang mengenakkan dari bu Fatma,
bahwa ia tidak bisa menitipkan lagi anaknya dengan bu Fatma dikarenakan
suaminya yang kurang senang dengan keberadaan anak kecil di rumahnya. Ali
sontak memikikan keadaan anaknya apabila ia tingal bekerja, akhirnya dengan
terpaksa Ali membawa anaknya yang masih sangat kecil itu untuk ikut bersamnya
pada ssat bekerja di kebun Pak Rohadi.
Disaat Ali sedang bekerja
datang Pak rohadi dengan raut wajah yang keliahatan sedikit marah “kamu niat
kerja atau tidak?, mengapa kau bawa anakmu kemari, kalau dia menangis
bagaimana? Dia pasti akan mengganggu kerjamu!” Ujar Pak Rohadi.
Ali pun menjawab “ maaf pak, saya bawa anak
saya ikut dengan saya dikarenakan ia tidak ada yang mengurusinya dirumah.
Tenang saja pak anak saya tidak akan rewel dan mengganggu kerja saya”.
“saya tidak yakin, pasti anak mu itu
akan jelas menggangu pekerjaan mu!” Tegas Rohadi.
“Tidak pak, insya Allah tidak akan
menganggu pekerjaan saya. Lagi pula putri saya tidak rewel. Saya mohon pak”.
Pinta Ali.
“Terserah kamu saja. Awas saja kalau
anak mu itu menganggu pekerjaanmu. Langsung bawa pulang anak mu itu.”Ucap Rohadi.
“baik pak, baik” jawab Ali.
Lantas ali yang sudah mendapat
izin itu langsung membawa Aisyah putri kecilnya
itu kesebuah saung dekat ia bekerja.
Belum lama ia bekerja, Ujang temanya menegur nya.
“Li, anak lu nangis itu.’’ Ucap ujang.
“Ali, kamu dengar itu! Anak mu menangis
dan itu menganggu kerjaan kamu kan?. Cepat bawa pulang anakmu itu.” Timpal
Rohadi teriak.
Ali pun menghampiri saung yan g
terdapat anaknya itu.
“Suttt, sayang . Aisyah jangan nangis
ya sayang.”
Seorang tetangga Ali, yang melihat Ali
kesusahan dan kewalahan jika harus bekerja dan merawat anaknya sendirian,
lantas menawarkan dirinya untuk bisa menjaga Aisyah.
“Assalamualaikum” Ucap Tini.
“Waalaikumsalam. Sutt sutt” sambil menimang nimang Aisyah yang sudah
berhenti menangis.
“Mas, apa boleh saya yang menjaga
Aisyah ketika mas sedang bekerja. Kebetulan juga Tini dan suami juga senang
kepada anak anak.” Tawar Tini ke Ali.
“Apa mba Tini serius? Terimakasih kalau seperti itu. Mulai
besok apa boleh saya menitipkan Aisyah kepada mba Tini. Dan setiap jam 5 sore,
Aisyah akan saya jemput ya mba” Ucap Ali.
“Iya mas tidak apa apa. Lagi pula saya
sangat senang dengan keberadaan anak kecil di rumah saya.”
Ali sangat bersyukur atas
bantuan yang telah ditawarkan mba Tini tetangganya. Karna dalam setiapn apa
yang dilakukan oleh Ali selalu melibatkan Allah didalamnya. Sehingga, jika ia
merasa kesusahan pasti Allah akan menggantikan
dengan kelapangan.
Tak terasa 6 tahun telah berlalu, dengan usaha dan kerja
keras Ali yang dapat membesarkan Aisyah hingga sudah sebesar ini. Hari ini,
hari pertama Aisyah masuk ke Sekolah Dasar Negriciparuas 1.
“Abi, Aisyah ingin jadi seperti ummi. Kata Abi ummi adalah perempuan cantik dan juga
solehah kan? Kata abi, abi ngasih nama Aisyah karna abi ingin Aisyah menjadi
perempuan yang cantik akhlak dan juga menjadi perempuan salihah kan? Terus
Aisyah juga pengen jadi dokter abi. “ Ucap polos Aisyah.
“Masya Allah, putri abi sudah semakin
pintar. Aisyah tau gak? Aisyah itu malaikat kecil nya Abi. Wahhh, Aisyah ingin
jadi dokter. Oke siap, cita-cita kamu harus
terwujud ya sayang.” Jawab Ali yang sedikit berkaca mendengar tutur Aisyah yang
mengingatkanya dengan Istri tercintanya itu.
Tepat di depan sekolah pertama Aisyah,
Ali berpesan.
“Aisyah, putri abi tersayang. Belajar
yang pinter ya sayang. Harus hormati guru Aisyah ya. Ga boleh nakal juga.”
Pesan Ali.
“baik abi. Asalamualaiakum” ucap Aisyah
sembari mencium tangan abinya.
Setelah itu, Ali bergegas
menuju perkebunan tempat ia bekerja dengan menggunakan sepeda ontel. Sesampainya
diperkebunan Ali melihat pak Rohadi serta istrinya sedang memarahi pekerja yang lain.
“maaf pak, saya telat. Saya habis
mengantarkan anak saya ke sekolah.” Ujar Ali dengan nafas terengah engah.
Namun Rohadi tak peduli dengan alasan
yang diberikan oleh Ali.
“seenaknya aja kamu ya! Sudah dikasih
toleransi banyak, malah tambah gatau diri.” Ujar istri.
“Baiklah, mulai sekarang kamu saya
pecat.” tegas Rohadi.
“Mohon pak, jangan pecat saya. Saya
sangat membutuhkan pekerjaan ini.”
Pinta Ali dengan sangat memohon.
“Sudah jangan banyak omong, pokoknya
kamu saya pecat. Pergi sanaaa!” lantas Pak Rohadi dan istrinya pun pergi meninggalkan dirinya.
Keesokan harinya menyambut pagi
yang cerah dengan semangat juang untuk mencari pekerjaan baru, Ali pun sebelum
ia terlebih dahulu mengantarkan Aisyah ke sekolah.Sesudah mengantarkan Aisyah
ke sekolah dengan membaca basmallah dan meluruskan keyakinanya bahwa Allah akan
membuka pintu rezeki dengan pekerjaan yang baru.
Ali pun bergegas dengan
mengendarai sepeda ontelnya, disetiap
perkebunan. Ia menawarkan diri kepada pemilik kebun mengenai masih adakah
lowongan pekerjaan untuk dirinya. Namun, dari sekian banyak perkebunan yang ia
datangi, tidak ada satupun yang dapat menerima ia untuk bekerja disana.
Tak terasa matahari sudah semakin
terik, Ali yang masih sibuk mencari pekerjaan tersadar bahwa ia melupakan
sesuatu yaknimenjemput anaknya. Lantas ia pun bergegas untuk sampai kesekolah anaknya dengan secepatnya. Namun, saat ia sudah
sampai disekolah, ia tidak mendapati anaknya berada di sekolah kecemasan Ali
pun semakin menjadi kala satpam mengatakan bahwa Aisyah sudah pulang dari tadi.
Ditempat lain, Aisyah yang
merasa bersalah karna telah melanggar janjinya kepada abinya untuk tidak pulang
terlebih dahulu sebelum abinya menjemput terus berjalan dengan lamunan nya
hingga tak fokus pada jalan yang tenmgah dilewatinya.
AAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!
BRUKKKKKKKKKKK!!!!!!!!!
Mendengar suara tabrakan, warga
yang berada di tkp langsung berbondong bondong menolong Aisyah yang tertabrak
mobil pickup.
“baik pak baik, saya akan bertanggung
jawab atas biaya dan lainya.” Ucap supir pickup.
“ri, lu ikut bapaknya ini ya bawa anak
ini ke RS Pelita Indah, takutnya dia kabur” Ucap warga 1 ke yang lainya.
Sesampainya di rumah sakit, Ali
yang telah mendapat kabar bahwa putri tercintanya mengalami kecelakaan.
“Bapak, ayah dari anak yang saya
tabrak?” ucap supir pickup.
“Mana anak saya?” ucap Ali penuh
khwatir.
“tenang pak tenang, anak bapak sudah
ditangani oleh dokter. Saya akan bertanggungjawab atas semua administrasi yang
dibebankan.”
Tak lama seorang dokter keluar
dari ruang ICU. Dan menjelaskan bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Karna, pingsannya anak bapak hanya karna mengalami syok akibat tertabrak.
Lantas Ali yang semula khawatir menjadi sedikit tenang atas kabar yang telah
diberikan dokter.
Pagi harinya Ali bergegas
kembali untuk mencari pekerjaan setelah mengantarkan anaknya ke sekolah. Tepat
di perkebunan dekat desa iwul tempat ia tinggat terdapat perkebunan baru yang
tanahnya belum ditanami, nah disitulah Ali yakin dengan sepenuh hati bahwa ia
akan diterima.
“Assalamualaikum, pak apakah saya dapat
membantu bapak untuk mengerjakan kebun ini?.”ucap Ali
“iya silahkan. Namun, apakah kamu bisa
mengelola kebun yang masih kosong ini ?.”
“oh kebetulan pak saya bisa menanam
lahan kosong ini dengan menanam mentimun. Saya janji akan bertanggung jawab dan
bekerja keras sepenuhnya terhadap kebun ini.” Ucap Ali
Setelah beberapa lama kerja di
kebun tersebut hasil perkebunan yang ali kerjakan mendapatkan hasil yang sangat
memuaskan dan mendapat keperayaan dari si pemilik lahan.
Disamping itu kawannya ujang
terancam dipecat dikarenakan kebun pak rohadi bangkrut, Karena hasil panennya
yang jelek. Ujang mengatakan panen sebelumnya adalah hasil dari kerja ali, maka dari itu kebun
yang digarap ali sekarang hasilnya sangat memuaskan. pak rohadi pun menyuruh
Ujang untuk mengacak-ngacak kebun yang digarap oleh Ali. Namun Ujang
menolak,pak rohadi tetap memaksa sampai meranyuap ujang dengan uang. Akhirnya ujang bersedia untuk mengacak
ngacak kebun yang digarap ali dengan rasa sedikit kasihan.
Keesokan harinya....
“Mengapa kebunku jadi seperti ini” ucap
ali dengan sedih melihat kebunnya yang rusak.
Beberapa hari kemudian setelah kejadian itu Ali menuai hasil panen
yang sangat yang memuaskan. Dan hasil panennya pun terjual habis ke penadah
mentimun.
Disamping itu ia mendapat kabar bahwa
kawannya yang bernama ujang sudah dipecat dari perkebunan milik pak rohadi maka
dari itu ali ingin menawarkan kepada ujang untuk membantunya merawat kebun pak
saptaji. Namun, ketika bergegas ke rumahnya ujang, ali mendengar percakapan
antara ujang dang istrinya.
“Kamu dipecat? Lantas bagaimana nasib
kita?” ucap istri Ujang
Diammm
“Dengar dengar si Ali sudah bekerja di
perkebunan orang, minta pekerjaan saja kepada Ali” suruh istrinya kepada Ujang.
“hmmmm... saya malu, karena saya yang
telah merusak perkebunannya dulu.” Ucap Ujang
“Hah.. mengapa kau lakukan mas?” tanya
istri Ujang
“saya terpaksa melakukan itu semua atas
suruhan pak Rohadi” jawab Ujang dengan sesalnya
“OOOO.. ternyata selama ini kamu yang
telah merusak kebun yang saya garap.” Ucap Ali
sedikit terkejut.
“maafkan saya Ali, saya khilaf, saya
melakukan semua itu karena terpaksa” ucap Ujang
dengan rasa menyesal.
“ya sudah yang lalu biarlah berlalu, ditempat saya ada pekerjaan untuk kamu, apakah kamu bersedia?” tanya Ali
kepada Ujang.
“iya, iya saya mau Li. Sekali lagi saya inta maaf ya. Gara gara saya panen kamu
gagal.”
“ iya, saya tunggu kamu besok.” Timpal
Ali.
Keesokan harinya disaat ali
sedang mencangkul tanah untuk membuat gundukan yang akan ditanami bibit
mentimun.
“Assalamualaikum ayahhhhhhh...” ucap
Zainab anak dari bapak Saptaji
“Waalaikumsalam, kamu kapan pulang
ndok? Kan ayah bisa jemput ndok ke bandara” lanjut Saptaji
“kan mau buat kejutan untuk ayah”.
“oalahh.. yasudah, ini kenalkan Ali,
dia yang ngurus tanah ayah ini”
“Mas Ali...
Seketika Ali menundukan pandangan
FLASHBACK
“Apa benar kamu ingin pergi ke kota
untuk melanjjtkan study mu, tidak bisakah kamu untuk tetap tinggal disni” Ucap
Ali
“Maaf ka, keputusanku sudah bulat aku
tetap ingin mengejar cita-citaku.Jika kamu ingin menungguku maka tunggulah aku,
jika kamu tidak sabar maka menikahlah dengan perempuan yang lebih baik dariku”
“Baiklah jika itu sudah menjadi keputusanmu,
aku tidak bisa melarangnya lagi pun jika kita berjodoh akan bertemu kelak”.
“Oooo.. kaliann sudah saling kenal?”
tanya pak Saptaji
“Tante.. tente kenalin aku Aisyah anak dari abi Ali”
“Masyaallah cantik sekali kamu”
Keesokan harinya di rumah Saptaji,
Zainab yang penasaran tentang laki-laki yang pernah mengajaknya untuk menikah
bertanya kepada ayahnya.
“Ayah... kak Ali menikah dengan siapa?” tanya Zainab dengan sedikit penasaran
“Sama
Fatimah anak kampung sini juga, tetapi
ia telah meninggal saat melahirkan anaknya Aisyah,
dan sekarang Ali mengurus anaknya sendiri.” Jawab
ayahnya
“Masyaallah.. sungguh mulia istrinya
kak Ali itu”
Akhirnya Ali dan Fatimah
bekerja sama dalam mengelola kebun dengan baik untuk menghasilkan hasil panen
yang lebih berkualitas.
Dan pada akhirnya Ali, yang senantiasa
sabar dalam menjalani ujian dan cobaanya meraih kesuksan nya. Pak saptaji
menghibahkan tanahnya untuk Ali. Dan sekarang Ali menjadi juragan mentimun.
Dan
roda kehidupan berbalik. Singkat cerita Rohadi mengalami kesengsaarana yang
berawal dari istrinya selingkuh dan membawa semua hartanya, sakit stroke.
Tetapi dengan kemulian hati Ali, ia tidak sedikit pun menuruh dendam pada
Rohadi yang sudah mendzoliminya Dan sejumlahuangyang telah di pinjam Ali kepada
seorang rentenir itu pun sudah terbayarkan dengan hasil kerja kerasnya dalam
menanam mentimun.
Maafmu itu; Sesuatu Bagiku
Pagi ini terasa begitu panas
tak seperti biasanya, sinar matahari pagi membangunkan tidurku yang lelap.
Kupaksaan terbangun walau mataku sangat berat untuk kubuka. Dengan setengah
hati aku beranjak pergi ke kamar mandi.
Padahal aku sudah semester
akhir, namun aku masih sangat bermalas-malasan yang harus sudah menyiapkan
sidang skripsi. Apalagi aku mempunyai cita-cita yang sangat besar yang harus
kubuktikan kepada kedua orang tuaku. Ada satu kewajiban selain menyelesaikan
sidang skripsiku, salat lima waktu yang masih jarang bahkan terkadang
kujalankan. Dan bahkan nyatanya untuk mengaji saja aku tidak waktu. Sebenarnya
bukan tidak ada waktu, tapi akunya saja yang tidak ada kemauan untuk meluangkan
waktu. Tak pernah ada rasa bersalah dalam diriku saat melalaikan semua kewajibanku,
yah, mungkin karena sudah terbiasa jadi aku biasa saja.
Aku merentangkan tangan dan
mencuci mukaku dengan air. Setelah mencuci muka aku terdiam sebentar untuk
memulihkan kesadaranku, kebiasaanku yang selalu menjadi rutinitas setiap
harinya. Aku terbilang malas untuk mandi dipagi hari. Berhubung hari ini tidak
ada kelas pagi, aku membantu ibu untuk
membersihkan rumah. Setelah itu aku mengecek ponsel yang sudah ada notifikasi
dari teman-teman juga dari grup kelas fakultas yang aku tekuni 4 semester ini.
Aku melihat salah satu chat dari temanku yang bernama Dinda,
didalam roomchat itu dia
memberitahuku bahwa dosen pembimbing skripsiku menagih hasil akhir skripsi yang
belum terselesaikan. Aku terkejut mendapati kabar itu, aku kelabakan mencari
dimana laptopku berada. Aku menghubungi dosenku karena aku meminta waktu
tambahan, aku tidak mau mengulangnya setahun lagi. Orang tuaku pasti kecewa
akan hal itu. Dan hari ini adalah hari sialku, dosen pembimbingku tidak memberi
waktu lagi. Aku memutuskan untuk pergi ke kampus untuk menemuinya.
` Sesampainya
aku di kampus, aku langsung pergi ke ruangan dosen pembimbingku untuk mengurus
skripsiku yang belum selesai.
Aku menghadap beliau dan
bertanya, “Apakah saya bisa meminta tambahan waktu, Pak?”
Kemudian beliau menjawab,
“Tambahan waktu? Memang kamu pikir jadwal sidang kamu masih lama? Hanya tersisa
4 hari lagi! Selesaikan, atau kamu akan sidang di tahun berikutnya?”
Dengan lesu aku menjawab,
“Baik, Pak.”
Aku
tidak yakin dapat menyelesaikannya dalam waktu 4 hari. Bagaimana caranya?
Sebelum aku ke tempat dosenku, aku sempat bertemu Dinda di lorong. Dinda bilang
dia akan menungguku di kantin, dan sekarang kakiku melangkah ke sana.
Sesampainya, aku bercerita padanya, menangis karena waktu sidangku sebentar
lagi, dan skripsiku belum selesai.
“Lalu
dosenmu tidak memberi waktu tambahan untukmu?” tanya Dinda sambil
menenangkanku.
Aku
menghapus air mata, “Iya, dia memarahiku tadi. Ini kesalahanku juga karena
lalai dan malas untuk mengerjakannya.”
Terdengar
Dinda menghembuskan napas berat. “Kenapa kamu malas mengerjakannya? Disini aku
menyalahkanmu. Pantas dosenmu memarahimu, kau yang salah. Tidak ada gunanya
kamu menangis Ra, lebih baik sekarang kau kerjakan skripsimu.”
Aku
termenung, Dinda bilang begitu padaku. Aku tidak suka jika ada yang bilang itu
salahku. Aku menatapnyya dengan tatapan
yang aku sendiri tidak bisa artikan. Aku tidak tahu perasaan apa yang sedang
aku rasakan sekarang. Kecewa? Kesal? Atau mungkin marah? Perasaan itu bukan
untuk Dinda, lebih tepatnya untuk diriku sendiri. Aku beranjak tanpa pamit,
tidak peduli dengan Dinda yang memanggil namaku.
Aku
memutuskan pergi ke perpustakan mencari sumber data yang menyangkut dengan
skripsiku. Dengan hati setengah jengkel, aku mencari, namun tidak ada. Kenapa
sulit sekali mencarinya? Kenapa rintangannya begitu sulit? Apa yang sudah aku
lakukan hingga Tuhan mengujiku seberat ini? Jika hanya tugas aku tidak masalah
mendapat nilai D, karena semua nilai tugasku A. Jadi, tidak berpengaruh dalam
nilai kelulusanku. Masalahnya, ini skripsi. Jika aku tidak lulus sidang, ralat,
jangankan sidang, skripsinya saja belum selesai, aku sudah dipastikan mengulang
tahun depan.
Waktu
sudah menjelang sore, aku putuskan untuk mencari buku di perpustakaan nasional.
Berharap ada dua buku yang aku inginkan, tidak dua buku juga tidak apa. Minimal
aku mendapatkan satu buku, jadi tidak sia-sia aku ke perpustakaan. Ketika aku
sampai gerbang perpustakaan, kakiku lemas sudah tidak bertenaga lagi. Harapanku
sudah hilang untuk mendapatkan buku. Tuhan tidak menyangiku, dia memberiku
ujian yang aku sendiri tidak bisa selesaikan.
‘Hari
ini perpustakaan tutup dikarenakan sedang ada festival’ tulisan itu, membuat
harapanku hilang. Jiwa yang tadinya begitu semangat ingin mencari buku punah
begitu saja. Aku bingung apa yang terjadi dengan keberuntunganku hari ini.
Kemana hilangnya keberuntunganku. Dengan kaki lemas aku beranjak pergi dari
perpustakaan.
“Apa
yang harus kulakukan sekarang?”
“Ada
apa denganku hari ini?”
“Kemana
hilangnya pikiranku?”
Aku
buntuh benar-benar buntuh. Sepanjang jalan kuterus memikirkan apa yang harus
kulakukan, waktu yang tersisa tinggal sedikit. Jika hari ini aku tidak
mendapatkan sumber data yang kubutuhkan bagaimana aku harus mengerjakan
skripsiku.
Waktu sudah hampir malam dan
aku tidak tahu harus mencari sumber data ke perpustakaan mana lagi hanya
perpustakaan nasionalah yang paling dekat, kalau pergi ke perpustakaan lain
membutuhkan waktu satu jam dan perpustakaan itu pasti sudah tutup. Aku
memutuskan untuk pulang.
Di
dalam bus aku terus memikirkan harus berbuat apa. Kepalaku sakit seperti akan
segera meledak, Akupun memutuskan untuk tidur sejenak di perjalanan pulang.
Seketika sakit di kepalaku menghilang sejenak digantikan dengan kebahagiaan
yang datang dengan berturut-turut. Aku tahu ini hanya mimpi tapi aku sangat
mengharapkan ini menjadi kenyataan. Kenyataan bahwa dosen tidak akan
memarahiku, tidak akan ada lagi yang namanya skripsi, dan tidak ada lagi
kejar-kejaran dengan waktu. Seketika wajah dosen yang sedang memarahiku muncul
dimimpiku dan akupun langsung terbangun dari tidur.
Dengan
setengah kesadaran Aku mencoba untuk melihat sampai dimana ini. Aku terkejut
bahwa bus yang aku naiki sudah sangat jauh dari daerah rumahku. Aku segera
memencet bel untuk turun. Secepat mungkin aku turun dari bus, aku melihat
sekitar di sini sangat sepi sekali aku tidak tahu dimana ini. Akhirnya aku
memutuskan untuk mengecek keberadaanku di google maps.
Lagi-lagi keberuntungan tidak
berpihak kepadaku. Handphoneku mati. Apa yang harus kulakukan? Pertanyaan itu
lagi yang ada di dalam kepalaku. Ada apa denganku hari ini, kenapa tidak ada
satupun rencana yang berhasil kulaksanakan.
Dengan lemas, aku memutuskan
untuk berjalan kaki terlebih dahulu, mencari orang yang bisa membantuku. Tak
lama kemudian aku melihat ada warung, dengan semangat aku berjalan menuju
warung tersebut. Ini mungkin warung satu-satunya yang ada disepanjang jalan
ini, aku sama sekali belum pernah ke daerah ini. Aku memutuskan untuk bertanya
kepada penjaga warung itu.
“Permisi, Bu. Saya boleh tanya
ini di daerah mana ya?” tanyaku kepada penjaga warung.
“Oh ini daerah pedalaman neng”
jawab si Ibu.
Apa daerah pedalaman? Kenapa
bisa sampai aku ada di sini. Bukankah bus yang ku naiki tadi hanya sampai
daerahku saja. Sepertinya aku salah naik bus.
“Bu, apa ada kendaraan di sini
yang menuju ke kota?” tanyaku lagi.
“Kalau bus tidak ada neng, bus
yang menuju ke kota sudah berhenti. Tapi kalau kereta mungkin masih ada neng.”
Jawab si Ibu.
“Tidak apa-apa bu kereta juga.
Stasiun keretanya ada dimana ya bu?” tanyaku.
“Tapi itu lumayan jauh dari
sini neng. Kalau jalan kaki itu sangat melelahkan.” Ucap Ibu penjaga warung.
“Tidak masalah Bu.” Tegasku
“Baiklah, kamu jalan saja dari
sini lurus, nanti akan ada pertigaan belok kiri dan jalan lagi lurus saja
sampai kamu menemukan pangkalan ojek dan di situlah stasiun keretanya.” Ucap
Ibu penjaga warung.
“Baiklah, kalau begitu saya
pergi dulu. Terima kasih ya bu.” Ujarku.
Aku terus berjalan mengikuti
arahan si Ibu penjaga warung tersebut. Memang betul yang di ucapannya tadi ini
sangat melelahkan stasiun keretanya sangat jauh dari apa yang kubayangkan,
dan tidak ada kendaraan lain yang
berlalu lintas di sini. Daerah ini benar-benar sangat sepi dengan jalan yang
hanya di terangi oleh bulan.
Setelah berjalan cukup jauh
akhirnya aku sampai di stasiun kereta dan langsung menuju tempat pembelian
tiket. Aku masih harus menunggu kereta yang belum datang, sekitar 25 menit
sudah aku menunggu dan akhirnya kereta menuju ke kota berhenti di sini.Disinilah
aku, didepan rumahku dengan disambut adzan isya. Akupun bergegas membersihkan
diri. Rasanya badan ku pegal, perasaanku mati rasa. Aku tidak berkeinginan
untuk melakukan kegiatan apapun, perasaanku hancur disebabkan kejadian tadi
sore. Yah, aku tidak tahu harus apa dan bagaimana kedepannya tapi intinya yang
ingin aku lakukan sekarang ini hanya beristirahat. Mengistirahatkan tubuhku,
perasaanku dari semua kegiatan yang dilakukan. Setelah selesai membersihkan
diri aku bergegas ke kamarku dan membaringkan tubuhku diatas kasur. Rasanya
sangat nyaman, seperti mendapatkan kehidupan baru. Yang terlintas dipikiranku
hanyalah untuk segera tidur karena seluruh tubuhku yang lelah, padahal makan
saja aku belum, rasanya aku sudah tidak berselera makan. Akupun berusaha
memejamkan mata dan bangun esok hari dengan suasana hati yang lebih baik, yah
semoga saja.
Jam
5 pagi, terdengar suara ibuku membangunkanku untuk melakukan sholat subuh. Aku
tak peduli, mata ku masih ingin dimanjakan. Akupun hanya bergumam kalau aku
akan segera sholat padahal nyatanya aku kembali tidur dan melanjutkan mimpi
indahku. Namun sial, aku kesiangan. Ini sudah jam 8 padahal jam 9 aku ada janji
bertemu dengan dosenku. Aku bergegas membersihkan diri dan berangkat ke kampus,
aku sampai meninggalkan sarapan karena aku takut telat sampai kampus.
Aku berjalan cepat ke pos dekat rumahku untuk menaiki ojek.
Aku berjalan dengan tergesa-gesa karena aku tidak ingin dimarahi oleh dosenku.
Aku hanya berharap semoga hari ini memihak padaku dan tidak membuat suasana
perasaanku jelek, semoga saja. Akupun menaiki ojek salah satu langganan ku.
Ketika ditengah jalan tiba-tiba motor yang kutumpangi berhenti. Akupn
harap-harap cemas semoga kejadian yang tidak diinginkan tidak menimpaku pada
hari ini. Namun, kenyataannya tidak sesuai dengan apa yang aku harapkan. Motor
yang kutumpangi mengalami bocor pada bagian bannya. Padahal kami berada jauh
dari bengkel, lalu aku harus bagaimana? Mau bagaimana lagi? Mau tidak mau aku
harus mencari kendaraan lain namun aku sangat cemas karena waktu sudah
menunjukan pukul 8.30 itu artinya tersisa setengah jam lagi untuk aku sampai ke
kampus. Aku segera turun dari ojek dan membayarnya lalu bergegas menghentikan
angkutan umum. Aku berharap semoga aku bisa mengejar setengah jam waktu yang
tersisa, tapi kenyataannya disinilah aku, didalam angkot yang mengetem dengan
perasaan cemas. Bagaimana aku tidak cemas? Masa depanku dipertaruhka, mau
ditaruh dimana wajahku didepan orangtuaku? Rasanya aku ingin menangis dan
berteriak. Rasanya aku ingin meluapkan semua kekesalanku. Setelah 20 menit
mengetem akhirnya angkut yang kutumpangi kembali jalan. Namun semuanya sudah
terlambat.
Aku sampai di kampus dan dosenku mengabari
bahwa hari ini beliau tidak bisa menemuiku karena ada urusan mendadak. Aku
benar benar frustrasi, aku tersenyum miris. Padahal aku sampai di kampus hari
ini tidak mudah, banyak hambatan yang aku alami lalu tiba-tiba aku dikabarai
bahwa pertemuan hari ini dibatalkan? Yang benar saja? Tahu gitu aku lebih baik
langsung ke perpus untuk mencari sumber referensi untuk bahasan skripsiku.
Akupun berniat akan pergi ke perpus, namun sebelum itu aku pergi kekantin
fakultas terlebih dahulu karena perutku yang meronta kesakitan akibat belum
makan dari kemarin dan pagi tadi. Setelah selesai dari kantin, aku bergegas
untuk ke perpus dengan harapan menemukan apapun yang bisa menjadi acuan untuk
tugas skripsiku. Selama diperjalanan aku merapalkan semua doaku supaya kali ini
usahaku tidak sia-sia.
Sampai di perpus aku langsung
menuju rak-rak buku. Aku menulusuri rak demi rak. Melihatnya dengan teliti
berusaha agar tidak ada yang terlewat. Tapi, sudah 3 rak besar aku telusuri,
aku belum menemukan buku yang aku inginkan. Lelah, kesal semuanya bercampur
menjadi satu. Aku beristirahat sebentar dan memulai menelusuri rak lain. Pada
rak selanjutnya aku menemukan buku yang aku cari. Langsung saja aku
mengambilnya dan membacanya lalu langsung membuka laptopku dan menulis semua
yang ada pada buku itu yang aku butuhkan tugas skripsiku. Bukunya tebal, berat,
jika boleh aku tidak ingin membukanya apalagi membacanya. Tapi, apa boleh buat?
Ini semua untuk kebaikanku dan tugas skprisku serta masa depanku.
Tidak terasa, sudah pukul 2
siang pantas perutku terasa lapar seperti ingin diberi asupan makan siang. Aku
sampai tidak menyadari ini sudah pukul 2 siang karena terlalu fokus pada buku
dan laptopku. Sampai hp ku pun tidak tersentuh, bahkan notifikasi dari
teman-teman aku hiraukan. Akhirnya selesai, setelah selesai akupun membereskan
semuanya dan bergegas untuk makan siang. Aku tidak tau apa yang akan aku
lakukan setelah makan siang. Setidaknya, biarkanlah perutku terisi dulu supaya
aku bisa berfikir jernih. Selesai makan, aku berencana untuk kembali ke
perpustakaan namun laptopku low dan aku lupa membawa cashannya jadi mau tidak
mau aku menyudahi perjalanan hari ini dan kembali kerumah sekaligus mengecek
tugasku dirumah nanti.
Setelah sampai dirumah, aku
beristirahat sebentar sembari nonton tv lalu aku bergegas untuk membersihkan
diri, berharap semua kesialan ku hari ini ikut luntur terkena air. Aku tidak
mengerti kenapa banyak sekali hal yang aku hadapi. Pasrah, itulah yang hanya
aku bisa lakukan. Setelah selesai mandi, aku pergi kekamar ku dan membuka
laptopku tidak lupa sekalian dengan mengcash laptopku. Aku mencari file yang
tadi telah aku kerjakan namun kosong. Aku tidak menemukan file yang telah aku
kerjakan di perpus tadi. File itu belum kesimpan? Entahlah aku tidak tau. Aku
kesal, aku menangis. Aku menangis atas hari ini yang telah aku lakukan. Betapa
bodohnya aku belum menyimpan filenya?
Aku harus bagaimana? Aku sangat
putus asa. Mengapa ini harus terjadi kepadaku? Mengapa? Kesalahan apa yang
telah ku perbuat? Aku tidak tahu lagi harus berbuat apa. Aku merenung, meratapi
apa yang telah terjadi kepadaku. Aku terdiam dan berpikir apa ada yang salah
dengan diriku sehingga mendapat cobaan seperti ini. Tapi, aku sangat lelah dan
memutuskan untuk tidur. Aku berharap, semoga hari esok aku mendapat kabar
bahagia. Aku harap setelah aku bangun dari tidurku, masalahku ini dapat
selesai.
Aku terbangun dari tidur karna
ibuku membangunkanku untuk menyuruhku shalat. Namun, aku mengiyakannya saja
tanpa melaksankan shalat. Tiba-tiba aku terkaget, teringat suatu hal. Shalat.
Apakah semua cobaan yang terjadi kepadaku karna aku sangat jarang beribadah?
Sayup-sayup aku mendengar ibuku sedang menonton tv, akupun segera keluar kamar
dan ikut bergabung bersama beliau. Aku tidak menonton tvnya, hanya duduk
disebelah ibuku sambil memainkan handphoneku.
Apa yang sedang ibuku tonton di
tv? Mengapa terdengar banyak ayat Al-Quran yang terdengar? Aku penasaran,
langsung ku tolehkan kepalaku menghadap ke tv. Ternyata, ibuku sedang menonton
acara ceramah. Akupun memerhatikan acara tersebut. Ustadz yang sedang ceramah
ternyata membicarakan tentang pentingnya ibadah shalat 5 waktu. Beliau juga
menjelaskan dosa yang didapat jika tidak melaksanakan shalat 5 waktu.
Tiba-tiba aku tersadar, aku
sangat jarang melaksanakan shalat 5 waktu. Aku selalu mengabaikan adzan,
panggilan untuk shalat. Apakah cobaan yang terjadi kepadaku adalah karna aku
jarang melaksanakan shalat 5 waktu? Apa benar begitu? Apakah cobaan ini sebuah
teguran Allah kepadaku agar aku melaksanakan kewajibanku sebagai muslim? Ah,
pusing sekali aku memikirkannya. Lebih baik aku mandi dan segera ke kampus
untuk menemui dosenku.
Setelah mandi, akupun bergegas
pergi ke kampus. Sesampainya di kampus, aku segera memasuki rua ng dosen
pembimbingku.
Akupun berkata, “Pak, file
skripsi saya hilang karna saya lupa menyimpannya setelah saya menyelesaikannya
kemarin. Bisakah Bapak beri saya waktu 3 bulan? Saya mohon, Pak.”
Beliau menatapku lama dengan
tatapan yang tidak aku ketahui apa arti dari tatapan tersebut.
Tiba-tiba beliau berkata,
“Sebenarnya, kamu ini niat mau lulus tidak sih? Memang kamu tidak punya salinan
file skripsimu? Bagaimana kamu mau sidang jika file skripsimu hilang, hah!”.
Beliau marah? Tidak. Tapi, beliau sangat marah padaku.
Aku hanya bisa terdiam dan
menahan tangisku agar tidak pecah didepan dosen pembimbingku. Didalam pikiranku,
aku membenarkan perkatan dosen pembimbingku. Mengapa aku tidak menyalin file
skripsiku yang penting itu? Bodoh sekali aku. Akupun pamit dari ruang dosen
pembimbingku dan segera ke perpustakaan kampus. Sesampainya di perpustakaan,
aku segera menyalakan laptopku. Mengutak-atik laptopku, barangkali file
skripsiku masih ada.
Satu jam aku habiskan untuk
mencari file skripsiku. Tapi apa hasilnya? Tidak ada. Tidak ada satupun sisa
dari file skripsiku. Aku sangat lelah satu jam didepan laptop. Mataku berair
karna lelah. Aku tidak tau harus berbuat apa, aku sedang tidak bisa berpikir
saat ini. akupun mematikan laptopku dan bergegas untuk pulang.
Setelah sampai rumah, akupun
langsung rebahan diatas kasur. Tidak peduli apa yang akan terajadi pada
skripsiku. Aku sudah sangat lelah dengan berbagai cobaan yang menimpaku.
Terlalu lelah memikirkan skripsi, akupun tidur. Tanpa membersihkan diriku, aku
sangat lelah. Biarlah, entah hari esok akan seperti apa.
Suara adzan terdengar, akupun
terbangun dan bergegas menyalakan laptopku untuk mengerjakan skripsiku. Aku
mengerjakan beberapa bab yang hanya aku ingat isinya, itupun tidak begitu
lengkap. Tidak terasa waktu terus berjalan dan menunjukan pukul 7 pagi. Aku
segera pergi mandi karna aku harus pergi ke perpustakan nasional untuk mencari
bahan referensi untuk skripsiku.
Sesampainya aku di perpustakaan
nasional, aku langsung menuju ke rak bagian buku yang aku butuhkan. Setelah
menemukan bukunya, aku langsung membaca dan memahaminya. Setelah itu, aku
langsung mengerjakan lanjutan skripsiku. Aku mengerjakan skripsiku dengan
serius, dan tidak terasa sudah hampir selesai. Aku lelah, dan memutuskan untuk
menyudahi mengerjakan skripsinya dan tidak lupa untuk menyalin file skripsiku
ke dalam flashdisk. Setelah itu, aku bergegas untuk pulang karna hari sudah
sore.
Aku pulang dengan menaiki bis
yang tujuannya ke daerah rumahku. Pada saat di bis, sayang sekali aku tidak
kebagian tempat duduk dan terpaksa harus berdiri. Di dalam bis yang aku
tumpangi sangat penuh dan sesak. Dan akhirnya bis sudah sampai di daerah
perumahanku. Akupun melanjutkan perjalanan dengan menaiki ojek.
Sesampainya di rumah, aku
langsung pergi membersihkan diri. Setelahnya, aku memutuskan untuk melanjutkan
skripsi. Selama 2 jam aku mengerjakan skripsi, akhirnya skripsiku selesai.
Akupun langsung menyalinnya ke dalam flashdisk dan bergegas ke tempat fotokopi
untuk mengeprint file tersebut agar bisa langsung direvisi oleh dosen
pembimbingku.
Aku pergi ke tempat fotokopi
dengan mengendarai sepeda, karena jarak yang lumayan jauh. Sesampainya disana,
ternyata ramai sekali dan aku harus menunggu selama 30 menit. Setelah selesai
diprint, akupun segera pulang. Hari sudah malam, aku lelah karna seharian ini
mengerjakan skripsi. Karna lelah, aku tidak melihat lubang jalanan yang rusak.
Akibatnya, aku terjatuh karna aku lelah. Dan sialnya, aku terjatuh pada bagian
lubang yang tergenangi air dan kertas skripsiku basah. Aku terdiam karena
kertas skripsiku yang basah.
Waktu yang diberikan dosen
pembimbingku hanya tersisa besok, dan seharusnya kertas skripsiku besok sudah
direvisi oleh beliau. Tetapi, kertas itu sudah basah jatuh ke genangan air.
Ingin kembali ke tempat fotokopi juga tidak mungkin, karna sudah tutup saat aku
pergi dari sana. Akhirnya, aku melanjutkan perjalanan pulang dengan menuntun
sepedaku. Mungkin, besok masih ada waktu untuk mengeprint ulang skripsiku.
Dan keesokan harinya
pengumpulan skripsi akhirku, untungnya malam kemarin masih ada waktu untuk
mengeprint ulang skripsiku.setelah mengumpulkan skripsiku, aku berniat untuk
merilekskan fikiranku setelah pusing dengan segala urusanku mengenai skripsi
ditengah-tengah perjalanan aku melihat temanku yang sedang berada dimushala, ia
sedang melaksanakan shalat sekilas aku melihat tanganku untuk melihat jam,
dalam benakku bertanya “ shalat apa yang sedang ia lakukan dipagi hari seperti
ini ?”.
Aku menghampiri seorang wanita
berhijab yang ku lihati dari depan mushalah yang sedang melakukan shalat, aku
berkata kepada temanku yang sedari tadi ku lihati yang bernama kanaya menanyakan
“ kamu sedang melakukan shalat apa dipagi hari seperti ini ?” .
Kanaya menjawab “oh aku sedang
melakukan shalat dhuha” aku berfikir sejenak lalu bertanya kembali “ memang ada
shalat dhuha, setauku aku tidak ada shalat yang bernama shalat dhuha ?” .
“ada shalat dhuha itu termasuk
shalat sunah, banyak sekali shalat sunah namun yang kulaksanakan saat ini yaitu
shalat dhuha yang dapat dikerjakan dari jam 07.00-11.00 pagi hari “.
Aku bertanya kembali “apa
manfaatnya shalat dhuha ?”.
“nih yah ira terkadang banyak
orang yang menyebutkan shalat dhuha itu shalat paksakan mengapa seperti itu
banyak orang menyebutnya shalat paksakan karena disaat kketika ingin sesuatu
atau meminta dipermudah dalam segala urusan kita meminta kepada allah, berharap
untuk allah membantu dan mempermudah segala urusan didunia, untuk lebih
sempurna meminta sesuatu yang diinginkan kita dapat melaksanakanshalat
tahajud.”
Sekilas aku bergeming dengan
jawaban kanaya, aku teringat apa yang selama ini terjadi pada diriku ketika ku
melakukan skripsi dengan banyak sekali rintangan dan tantangan, bisa jadi ini
teguran allah kepada ku, karena selama ini aku sudah lalai menjalankan
kewajibanku, bahkan sampai aku tidak mengenal nama-nama dalam shalat sunah,
hatiku merasa sakit aku banyak sekali keinginanku untuk harus ku lakukan demi
cita-cita ku demi masa depanku tapi aku meninggalkan kewajibanku.
Dan tanpa ku fikirkan semua
skripsi dan urusan dunia dapat terselesaikan itu karena rencana dari
allah.tanpa ku sadari aku air mataku sudah membajari pipiku dan aku langsung
memeluk kanaya dan menceritakan kesusahan dalam hidupku yang selama ini telah
terjadi. Kanaya mengerti dengan masalahku, kanaya mengelus kepalaku dan
menasihati ku.
Sejak
saat itu aku ingin bertekad kembali kepada allah, dan meminta ampun karena
selama ini aku telah melalaikan segala kewajiban yang harus ku lakukan kepada
allah.dan membiasakan diri untuk menjalankan shalat lima waktu dan mengaji disetiap selesai shalat.


















