Sabtu, 20 Juni 2020

Sang Raja

Siang itu, hujan mengguyur bumi dengan sangat derasnya. Farhan berdiri di belakang jendela rumahnya ang sedikit menganga. Ia menatap hujan, seakan tengah menghitung jumlah setiap tetes air yang turun. Ia termenung, memikirkan sekolah yang akan ia tempuh selanjutnya. Dirinya menginginkan untuk lanjut sekolah ke SMP Negeri terdekat di rumahnya. Selain karena jarak sekolah dari rumahnya dekat, teman-teman Farhan juga banyak yang ingin lanjut sekolah di SMP Negeri itu. Farhan mendengar suara panggilan dari dapur, tetapi mengabaikannya.
Tak berselang lama, terdengar langkah-langkah kaki mendekat. Ia tahu, itu bundanya Salma. "Mengapa kamu mengabaikan panggilan Bunda?" tanya Salma. Farhan sudah menduga pertanyaan itu, ia sudah mengantisipasinya tetapi bukan dengan jawaban melainkan dengan sikap. Farhan menatap langit, curah hujan yang mulai mereda dengan cahaya matahari yang melintas.
Di kejauhan sana, persis di pucuk dedaunan menempel rintik-rintik air hujan yang telah membasahinya. Suasana nan segar, membawa ketenangan bagi yang merasakannya.
Salma mengikuti arah pandangan Farhan, ia tersenyum. Ia sangat mengenal karakter anak laki-lakinya itu. Farhan dengan usianya yang mencapai dua belas tahun, adalah anak yang manja dan keras kepala, yang terkadang begitu emosional. "Kamu sudah tahu, ingin melanjutkan sekolah ke mana?" tanya Salma.
Farhan melirik bundanya, ia kembali memandang butiran air dedaunan. "Hm (dengan anggukan kepala), saya ingin masuk ke SMP Negeri 1 Malang Bunda," jawabnya.
Sejenak Salma terdiam, ia berkata "Farhan, Bunda ingin memberimu saran. Bunda harap kamu untuk masuk ke pondok pesantren. Dan memang, itu juga yang ayahmu inginkan".
Farhan terkejut mendengarnya, ia langsung menatap Salma. Dalam hati, ia merasa tak akan sanggup jika untuk hidup berpisah dari kedua orang tuanya. Lantas tanpa bertanya kembali, Farhan berjalan ke kamar pergi meninggalkan Salma. Salma yang mengerti akan hal itu, merasa bahwa Farhan menolak akan keinginannya.
Esok hari, Salma mencoba membujuk Farhan agar mau menempuh sekolah di pondok pesantren. Dirinya memberi pengertian untuk Farhan. Salma berkata, "Farhan, Bunda ingin anak Bunda yang satu ini menjadi anak yang sholeh, pintar dalam agamanya.  Sadar pada diri Bunda dan Ayah yang minim ilmunya akan pengetahuan agama, sehingga tak cukup jika hanya dibekali oleh ilmu yang Ayah dan Bunda miliki saja".
Farhan terdiam, dirinya tetap saja merasa tak sanggup jika hidup mandiri untuk sementara. Namun, terkadang Farhan juga merasa ingin untuk dapat hidup mandiri tanpa ada perintah orang tua. Farhan pun menerimanya.
Salma dan suaminya segera mendaftarkan Farhan di pondok pesantren Gontor, Jawa Timur. Mereka juga mempersiapkan keperluan yang dibutuhkan Farhan nanti. Tak hanya menyediakan alat perlengkapan di pondok, Salma juga membelikan Farhan pakaian baru. Dengan senang hati, Salma dan suaminya memenuhi kepentingan Farhan terlebih dahulu.
Hingga suatu ketika, Farhan ragu akan pilihannya ini. Dirinya merasa belum bisa untuk mengurus dirinya sendiri. Tak tahu bagaimana untuk mengatur waktu nanti. Yang biasanya pakaian Farhan dicuciin dan digosokin oleh sang Bunda, di pondok Farhan harus melakukannya sendiri.
Mengetahui hal itu, ayah Farhan pun menasehatinya. Beliau berkata, "Nak, tidak usah merasa berat untuk melakukannya. Insya Allah dirimu yang sedang menuntut ilmu agama, Allah akan selalu memberi keberkahan di setiap aktivitas yang Farhan lakukan. Termasuk salah satunya keberkahan waktu yang tak akan tersiakan".
Mendengarnya, membuat Farhan menjadi sabar untuk menghadapinya. Mengingat ada salah seorang saudara sepupunya yang menjadi santri di pondok pesantren Gontor, Angga. Sehingga Farhan merasa tak begitu sendirian.
Sampai akhirnya, keberangkatan Farhan pun tiba. Semua keperluan Farhan juga sudah disiapkan oleh Salma. Dalam hati, Farhan sangat sedih untuk meninggalkan orang tuanya. Ia akan hidup tanpa ada orang tua di sampingnya.
Saat itu, tibalah Farhan di pondok pesantren. Mereka berjalan, sambil memerhatikan bangunan di sekitar pondok. Terlihat bersih dan rapih, dengan pohon nan rindang mengelilingi halaman pondok. Terasa angin sepoi-sepoi yang tertiup begitu menyejukkan di hari yang cerah ini. Alunan hadroh yang terdengar pun, seakan menjadi sambutan bisu bagi para santri baru.
Ya, Farhan akan menimba ilmu agama di tempat asing ini. Ia tak siap untuk ditinggal oleh sang Bunda dan ayahnya. Rasanya ia ingin memohon untuk pulang ke rumah saja, namun mengingat akan harapan dari keduanya membuat dirinya memendam keinginannya tersebut. Farhan tak kuasa menahan air mata untuk tidak menangis, dirinya menangis di pangkuan Salma. Dalam hati, Salma pun tak tega. Lalu, Ayah Farhan memanggil Angga di kamarnya. Ia menyuruh Angga segera menemani Farhan, sebelum ia dan Salma beranjak pulang. Apa daya Farhan yang masih menangis, harus ditinggal Ayah dan bundanya untuk pulang.
Angga langsung mengantar Farhan ke kamar Ibnu Sina, nama dari ruang kamar khusus santri baru. Angga berusaha menenangkan Farhan, ia mencoba menghibur dan memberi arahan pada Farhan. Farhan pun sedikit terhibur, namun tak dapat menerima akan keadaan ini.
Selama di pondok, kegiatan Farhan menjadi banyak. Sehingga Farhan membutuhkan waktu luang untuk istirahat sejenak. Entah, rasanya ia ingin untuk pulang ke rumah. Melepas kepenatan yang ada dalam pikirannya.
Akhir-akhir ini pengawasan di pondok menjadi lebih disiplin. Farhan dikenai hukuman, karena telah melanggar peraturan pondok. Sewaktu itu, ia tak biasanya bangun kesiangan sehingga tak mengikuti shalat tahajud berjamaah. Pengurus pondok menghukum Farhan dengan mencukur rambut hingga botak, dan berdiri di tengah lapangan selama 2 jam pelajaran.
Mendapati hal itu, dirinya merasa semakin tak betah tinggal di pondok. Bahkan pernah dalam sehari, ia telah melanggar tiga peraturan pondok. Dari bagian bahasa karena menggunakan bahasa Indonesia, bagian kebersihan karena membuang sampah sembarangan, dan bagian ibadah karena telat mengikuti shalat jamaah. Perasaan Farhan menjadi tertekan, sifatnya yang emosional membuat Farhan ingin memaki-maki. Pernah suatu hari, ia memeras uang jajan adik kelasnya. Perbuatan jelek ini terulang kembali bahkan semakin menjadi-jadi.
Di samping itu, Ayah dan bundanya jarang menjenguk Farhan. Keperluan yang dibutuhkan Farhan hanya dapat dikirim saja, tanpa langsung bertemu dengan mereka. Sehingga Farhan tak langsung dapat mengeluhkan semua yang menjadi tekanannya selama ini.
Angga, saudara sepupu Farhan, yang juga memiliki kesibukan tak dapat sepenuhnya memerhatikan Farhan. Karena itu, Farhan tidak peduli dengan orang lain. Ia hanya memperdulikan kepentingannya sendiri.
Sampai suatu ketika, pengurus bagian keamanan tengah lengah. Pintu gerbang yang terbuka begitu saja tanpa ada pengawasan dimanfaatkan Farhan. Ia kabur, hanya dengan membawa uang tanpa pakaian ganti sehelai pun. Ia lari menjauh dari daerah pondok pesantren Gontor. Terlihat salah seorang pengajar pondok yang sedang berjalan, Farhan pun berjalan santai dan  berusaha sembunyi. Dengan jaket yang dipakainya, ia menutup kepala.
Setelah itu, ia telah sampai di daerah rumahnya. Namun bukan untuk pulang ke rumah, melainkan ingin menemui temannya. Ia tak mungkin akan pulang ke rumah, karena itu rumah temannya menjadi tempat singgah sementara. Dari kejauhan, ia melihat seseorang yang menurutnya tak asing. Melihatnya dari jarak dekat, ia mengenal orang tersebut. Ia tahu bahwa itu adalah Zyan. Zyan merupakan anak yang nakal dan tak mau menurut pada perintah kedua orang tuanya, ia adalah teman sekolah Sd Farhan, sewaktu dulu keduanya sangat akrab. Namun, semenjak kenaikan kelas 6 Farhan tak lagi bertemu dengan Zyan.
"Zyan?" tanya Farhan.
Zyan tersenyum. "Lu Farhan?" tanya Zyan.
Farhan mengangguk dan tersenyum, sambil berjabat tangan dengan Zyan. Zyan langsung mengajak Farhan main ke rumahnya. Zyan duduk di balkon halaman rumah, lantas menyuruh Farhan untuk duduk di sampingnya. Dengan basa-basi, Farhan pun menceritakan kejadiannya hari ini. "Kebetulan karena rumah gua sepi, lu nginap di rumah gua saja malam ini," dengan senang hati Zyan menawarkan kepada Farhan.
Sementara itu, para pengurus dan pengajar di pondok bingung mencari Farhan. Mereka berusaha mencari di sekitar daerah pondok, namun tak melihat adanya sosok Farhan. Akhirnya salah seorang pengajar, ustad Ali, mencoba untuk menghubungi orang tua Farhan. Mendapat penerimaan panggilan dari orang tua Farhan, ustad Ali pun menceritakan mengenai Farhan yang kabur.
Salma terkejut sekali mendengar penjelasan dari ustad Ali. Dia langsung memberitahu suaminya, pencarian pun dilakukan Salma dan suaminya di daerah rumah mereka. Dalam hati, Salma sangat khawatir akan keadaan Farhan. Yang Salma tahu, anaknya tak mungkin nekad melakukan hal itu. Mengingat dirinya dan suaminya yang jarang menjenguk Farhan, Salma tersadar bahwa Farhan sedang membutuhkannya. Farhan membutuhkan sandaran untuk menceritakan semua keluhannya. Ia pun menangis. Memang, Farhan adalah sosok yang memiliki sosialitas tinggi, namun Farhan tak mudah untuk menceritakan keluhannya. Farhan hanya menceritakan pada teman-teman yang dipercayainya saja.
Malam ini, bintang-bintang bertebaran dengan indah menghiasi langit. Cahaya bulan menjadi penerang di kegelapan malam. Dengan basa-basi, Zyan pun bercerita.
"Farhan, asal lu tahu. Saat ini bapak gua udah hidup sendiri,"
"Maksud lu? Sori, ibu lu udah .." jawab Farhan, ia tak berani melanjutkannya.
"Iya Han, ibu gua udah ga ada. Dulu, gua sering bentak-bentak sama ibu. Padahal cuma gara-gara dia nyuruh gua buat beresin barang-barang yang berantakan di kamar gua. Memang, ibu sibuk dengan pekerjaannya. Sedangkan gua butuh ibu selalu ada di samping gua. Dia sering pergi ke luar kota, terkadang pulang hanya untuk mengambil keperluannya saja setelah itu pergi lagi tanpa bermalam di rumah. Padahal bapak sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup kami, tapi mengapa ibu menjadi sibuk. Sampai akhirnya, gua dapat kabar dari bapak, kalau ibu sudah meninggal. Ia terkena penyakit leukimia. Ibu menutupi hal itu dari gua, dia yang sibuk ternyata agar gua terbiasa tanpanya. Dan secara diam-diam, ibu selalu memerhatikan gua. Apa-apa yang bapak berikan ke gua, itu merupakan perintah dari ibu. Sangat terpukulnya gua mendengar kenyataan itu. Gua nyesel Han atas apa yang udah gua lakuin ke ibu. Semenjak itu, gua sadar bahwa sebagaimanapun sikap orang tua sama anaknya, namun tetap tak mengurangi kehormatan kita sama mereka. Ya, tak menghilangkan kewajiban kita sebagai anak. Dan mulai hari itu, gua ga bisa liat anak yang maki-maki sama orang tuanya, yang tidak memiliki sopan santun terhadap kedua orang tuanya. Melihat seperti itu, bikin gua mengingat sikap gua ke ibu. Gua makin merasa bersalah. Hanya penyesalan yang terjadi saat ini, gua udah ga bisa memperbaiki itu semua. Gua harap lu ga seperti gua, Han." kata Zyan, tak terasa air matanya turun.
Mendengar hal itu, Farhan mengerti betapa Zyan begitu menyesalnya. Ia sadar, bahwa kelakuannya saat ini adalah kesalahan. Siapa orang tua yang tak khawatir akan keadaan anaknya yang kabur. Ia pun berencana untuk pulang ke rumah.
Esok harinya, Farhan pamit untuk pulang ke rumah. Tak lupa juga, untuk berterima kasih kepada Zyan yang telah membantu dan menyadarkannya. Udara masih menyisakan dinginnya malam. Langit pun belum menampakan sinarnya mentari. Terdengar suara ayam berkokok. Pagi-pagi sekali, Farhan pergi menuju ke rumahnya. Bergegas agar lebih awal sampai di rumahnya.
Jarak rumah Zyan dengan rumahnya memang tak terlalu jauh, dibatasi oleh satu perkampungan saja. Dengan berjalan kaki, ia pun melewati rumah-rumah, pemakaman, dan jalan raya. Di tengah perjalanan, batin Farhan sudah was-was. Perasaan yang tak mengenakan. Saat tiba di jalan raya, rumahnya yang berada di seberang jalan membuatnya bingung untuk menyeberanginya. Jalan raya yang dipadati kendaraan, tanpa adanya jembatan penyeberangan. Lantas membuat Farhan diam, menunggu jalan raya sepi dari keramaian mobil dan motor yang melintas.
Tiba-tiba di kejauhan, terlihat mobil dengan laju yang sangat cepat. Mobil tersebut tak terkendali, hingga berada di jalur yang salah. Dan kecelakaan pun terjadi, mobil menghantam truk besar dari arah yang berlawanan. Farhan berada tepat di pinggir jalan, namun apa daya mobil tersebut terguling ke arahnya. Tanpa sempat berlari dengan cepat, Farhan tertabrak. Dirinya terkapar mengenai badan mobil yang menabraknya.
Kejadian itu terdengar oleh masyarakat sekitar, dengan jumlah korban sebanyak tiga orang dewasa dan satu orang anak yang diperkirakan berusia 12 tahun. Salma yang mengetahui kabar tersebut dari tetangganya, sangat khawatir. Dirinya langsung menuju ke tempat kejadian. Dan betapa kagetnya, Salma melihat salah satu korban anak tersebut. Ia mengenal akan pakaiannya, itu adalah Farhan. Terasa menyesakkan dada, tak kuasa Salma melihatnya anaknya tragis seperti itu. Bayangan yang kabur, Salma pingsan.
Pihak kepolisian segera menghubungi pelayan kesehatan. Ia memanggil ambulan, untuk segera menyelamatkan korban kecelakaan. Di rumah sakit, Farhan segera diperiksa dan dengan izin yang bertanggung jawab Farhan harus dioperasi. Kakinya yang terjepit oleh ban mobil, membuatnya patah tulang. Salma datang segera menemui Farhan yang sudah di ruang pasien. Ia langsung memeluk Farhan dengan begitu eratnya, tak terasa air mata Salma menangis. Miris melihat keadaan anak laki-lakinya sekarang. Merasa tak berguna menjadi orang tua, yang tak dapat menjaga anaknya dengan baik.
Farhan tersenyum, "Bunda?" katanya.
"Iya sayang," jawab Salma.
"Bunda, Farhan minta maaf. Selama ini Farhan tak menjadi anak yang baik untuk Bunda. Maafin Farhan Bunda, Farhan sudah tak menuruti perintah Bunda. Farhan berjanji mulai hari ini dan selamanya akan menjadi pribadi yang baik, walau mungkin Farhan belum bisa membanggakan Bunda dengan prestasi di akademik" tutur Farhan.
"Farhan, sayang. Sebelum kamu meminta maaf pada Bunda, Bunda sudah memaafkanmu. Justru selama ini, Bunda tak menjadi ibu yang baik selama ini. Maafkan Bunda ya sayang," jawab Salma.
Farhan mencium tangan Salma dengan begitu lamanya. Salma berbalik mencium kening anaknya, keduanya pun berpelukan sangat erat. "Doakan Farhan selalu ya Bunda," kata Farhan.
"Doa Bunda selalu menyertaimu, nak" jawab Salma. Kemudian kedua nya saling berkomitmen dalam hatinya masing-masing bahwa akan menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya. Suster kemudian datang ke ruang tempat dimana Farhan di rawat dan membawakan makanan untuk Farhan. Salma menerima makanan tersebut dari suster dan menyuapi Farhan makanan yang dibawakan oleh suster tersebut. ”Baca doa dulu nak sebelum makan,” ucap Salma. “Iya Farhan memang selalu membaca doa sebelum dan sesudah makan, karena di pesantren Farhan belajar banyak tentang religi” jawab Farhan.
Salma menikmati momen dimana mereka berdua bisa saling menyayangi walaupun keadaan Farhan tak di harapkan oleh Salma, tetapi itulah yang terjadi. Apa boleh buat, Salma ikhlas melihat anaknya masuk rumah sakit karena ulah anaknya sendiri dan Salma yakin pasti dibalik kejadian ini ada hikmah tersembunyi yang akan membuat Salma dan Farhan menjadi pribadi yang lebih baik, lebih kuat, lebih tanggung dan lebih bertanggung jawab atas amanah yang diemban nya. Jam besuk pun telah habis, dengan berat hati Salma meninggalkan sang anak, karena belum lama di rawat dirumah sakit jadi Farhan belum boleh di dampingi oleh keluarga selama di ruang pasien. Tujuan nya adalah karena pihak rumah sakit ingin fokus merawat dan mengobati Farhan, setelah keadaan Farhan membaik barulah pihak keluarga boleh mendampingi Farhan di dalam ruang pasien. Detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam, hari demi hari. Keadaan Farhan pun sudah lebik baik dari sebelumnya, namun Farhan ingin cepat-cepat sembuh dari sakitnya dan ingin membuktikan kepada semua orang khususnya keluarga, ia ingin membuktikan bahwa ia bisa menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya.
Setiap waktu Farhan selalu berdoa kepada Allah akan kesembuhannya, di setiap tiba waktu solat Farhan selalu solat dengan posisi terbaring, ia tetap bersyukur masih bisa solat meskipun keadaannya dalam keadaan yang tidak dia inginkan. Salma dengan sabar mendampingi Farhan dirumah sakit hingga anaknya boleh beristirahat dirumah. Keseharian mereka berdua selalu dirumah sakit, dari mulai makan, minum dan tidur. Dalam hati Salma merasa lelah dengan keadaan dimana ia selalu berada dirumah sakit, ia merasa jenuh dengan pemandangan itu-itu saja. “tidak ada pemandangan yang menyejukan hati,” ucap Salma dalam hati nya. Hingga ia benar-benar merasa lelah dengan semuanya dan Farhan bertanya kepada sang Ibu “Bu, kenapa wajah ibu terlihat cemberut? apa ibu sedih melihat keadaanku yang semakin hari semakin membaik?” kemudian Salma menjawab “Ibu tidak apa-apa nak, ibu hanya merasa sedikit lelah karena kurang tidur”. Farhan pun meminta maaf kepada Ibunya karena diri nya lah sang ibu menjadi lelah dan kurang tidur, lagi-lagi Farhan berkomitmen bahwa akan membuktikan bahwa ia bisa berubah menjadi lebih baik dari yang sekarang.
Tibalah waktu ashar, terdengar suara adzan dan Salma solat kemudian mengadu keluh kesah yang ia alami dan berdoa kepada Allah agar semua kejadian yang menimpa nya segera selesai. Setelah solat Salma merasa menjadi lebih baik dan tersenyum kepada Farhan.
Keadaan farhan semakin hari kini semakin membaik, ia sudah bisa melaksanakan aktivitas seperti biasannya tapi tetap dengan keadaan yng sangat hati-hati. Farhan telah memutuskan untuk kembali lagi ke pondok pesantren nya di Gontor. Ia juga berjanji ia akan menjadi pribadi yang lebih baik lagi, ia tidak akan membuat kesalahan yang sama lagi. Ia berusaha akan mematuhi setiap peraturan yang sudah di tetapkan oleh pihak pondok pesantren. Setelah kembali masuk ke pondok pesantren banyak sekali pertanyaan yang di lontarkan teman-teman farhan terkait keadaan nya. Berita tentang farhan yang kabur dan terkena musibah memang sempat mejadi pembicaraan hangat di lingkungan pondok selama beberapa minggu, untuk itu tidak heran ketika farhan kembali masuk banyak orang yang sedikit terkejut karena sebelumnya mereka berfikir farhan tidak akan kembali lagi ke pondok pesantren dan pindah ke sekolah lain. Kini seminggu sudah farhan bergabung kembali di kehidupan pondok pesantren. Terlihat sekali perubahan yang terjadi pada diri farhan, para pengurus pondok pun merasakan perubahan yang terjadi para diri farhan. Kini farhan semakin rajin melaksanakan kegiatan-kegiatan yang ada di pondok pesantren ia juga mulai aktif di beberapa ektrakulikuler, salah satunya pramuka. Kini hari-harinya di isi oleh kegiatan yang sangat positif farhan tidak pernah lagi melanggar peraturan pondok, tidak pernah lagi bolos saat sholat berjamaah. Teman- teman farhan sangat senang dengan sikap farhan sekarang, mereka tak menyangka farhan bisa berubah secepat dan sedrastis itu. 
Suatu hari ada pergantian pemimpin ekstrakulikuler pramuka. Sebetulnya farhan tidak ada niatan untuk mencalonkan dirinya menjadi ketua pramuka, tetapi ia di minta langsung oleh senior pramuka nya, karena ia melihat kedislipinan, keaktifan dan kerajinan farhan selama mengikuti ekskul pramuka. Mereka yakin farhan bisa menjdi ketua ekskul yang baik dan mampu memimpin ekskul dengan sempurna. Farhan awalnya sempat ragu ia takut tak bisa melaksanakan tugasnya nanti dengan baik menjadi seorang ketua nanti. Tapi berkat dukungan dari teman-temannya dan tekad kuat yang terjadi pada diri farhan bahwa ia dapat berubah dan membuktikan pada kedua orang tuanya bahwa ia memang sudah benar-benar berubah dan akan menjadi seseorang yang lebih baik lagi dari sebelumnya. Farhan pun yakin dan mengiyakan kakak seniornya itu. Hari dimana pemilihan ketua pun tiba ada tiga kandidat sebagai calon ketua pramuka. Sebelumnya farhan sudah membuat visi-misi nya untuk di sampaikan saat pemilihan nanti. Tiba saatnya farhan menyampaikan visi-misi nya, farhan sempat merasa minder dengan visi-misi nya itu karena ia melihat dua kandidat yang lain memiliki visi-misi yang tak kalah bagus dari dirinya. Namun ia berjanji akan menerima apapun keputusan nya nanti walaupun memang farhan tak bisa menang setidaknya ia pernah mencoba nya.
Pemilihan dilakukan dengan cara voting. Farhan tau sangat sedikit kemungkinan untuk dirinya menang karena melihat kejadian yang dialami farhan beberapa bulan yang lalu mungkin ada beberapa yang masih meragukan perubahan yang ada pada diri farhan. Tetapi tak apa  karena farhan tau untuk menjadi pribadi yang lebih baik itu tidak lah mudah apalagi ia pernah mengalami suatu kasus yang menyebabkan hampir semua orang yang berada di sekitar pondok mengetahui tentang hal itu.  Pembacaan voting akan segera dibacakan sesaat lagi, total seluruh anggota pramuka putra dan putri sebanyak 150 orang. Berarti ada 150 suara yang memilih. Farhan sama sekali tak menyangka ia mendapatkan suara sebanyak 80 suara, kandidat pertama mendapat 50 suara dan kandidat ke tiga mendapat 20 suara, itu berarti ia yang memenangkan pemilihan ketua pramuka.
 “Baik saya akan membacakan hasil voting pemilihan ketua pramuka tahun ini” ucap kaka senior yang tak lain adalah ketua pramuka sebelumnya.
“Kandidat pertama atas nama Husen Almubarok mendapatkan 50 suara, kandidat kedua atas nama Muhammad Farhan mendapat 80 suara, dan kandidat ke tiga atas nama Ilham Rozikin mendapat 20 suara, dengan ini saya nyatakan yang menjadi ketua pramuka tahun ini yaitu Muhammad Farhan” ucap sang kakak senior
 Semua bersorak memberikan tepuk tangan kepada farhan. Farhan yang tak percaya ia menang hanya bisa terdiam menatap seluruh tatapan teman – teman nya yang kini tertuju padanya. Farhan tersenyum lalu bangkit dari tempat duduknya maju kedepan untuk sedikit memberikan sambutan dan ucapan terimakasih kepada orang-orang yang sudah memilihnya.
“ Assalamu’alaikum Wr. Wb. sebelumnya saya ingin mengucapkan ucapan terimakasih saya kepada teman-teman dan adik-adik sekalian yang sudah mendukung dan memilih saya sebagai ketua pramuka untuk tahun ini, saya akan berusaha untuk bisa menjaga amanat dan juga menjalankan tugas-tugas saya sebagai ketua dengan baik dan saya berjanji akan menjadi seorang pemimpin yang bisa memajukan ekskul pramuka ini menjadi ekskul yang lebih maju dengan memiliki prestasi yang sangat banyak sehingga membawa nama baik bagi pondok pesantren. Terimakasih Wassalamu’alaikum Wr. Wb."
Ucapan selamat datang bergantian kepada farhan, mereka yakin farhan bisa menjadi sosok pemimpin yang sangat baik dan bijaksana. Upacara pelantikan pun berjalan dengan lancar sehari setelah terpilihnya Farhan menjadi ketua pramuka.
Dengan penuh tanggung jawab, Farhan berusaha menjadi pemimpin yang baik. Namun, ada saja permasalahan yang datang menghampiri. Suatu ketika ia tak sengaja mendapati temennya merokok di lantai atas tepatnya di penjemuran santri putra. Melihatnya, Farhan langsung menegur Bagus. Teguran lisan dari Farhan tak digubris oleh Bagus. Sontak Farhan langsung mengambil putung rokok dari mulutnya dan menginjaknya. Merasa terganggu, Bagus pun menarik kerah baju Farhan. Ia berkata, "Apa urusan lu? Hah! Apa pernah gua mencampuri urusan lu?!". Farhan menjawab, "Jelas ini urusan
gua, ini tanggung jawab gua. Gua sebagai teman baik berusaha mengingatkan agar lu gak terus menerus candu sama rokok itu. Apalagi ini di pondok, semestinya lu bisa menghargai orang tua yang sudah menafkahi dengan susah payah". "Napa, kenapa lu peduli sama gua? Hah", Bagus membalas. "Lu belum tahu gimana rasanya, kehilangan orang tua disaat lu masih menyusahkannya. Gimana penyesalan itu terus ada, karena lu tak menjadi yang terbaik dimata keduanya. Apa lu sanggup menghadapi itu semua? Hah!", jawab Farhan. "Hiks, hiks.. hiks", Bagus menangis. "Sadar sob, lu udah dewasa. Semestinya lu bisa mengendalikan emosi lu, bukan berarti lu harus melampiaskannya lewat itu", Farhan bilang. "Lalu, apa yang mesti gua lakuin?", tanya Bagus. Farhan menjawab, "Banyak caranya, lu coba menenangkan diri dengan berwudhu. Sering tilawah Al-Qur'an, biar lu selalu ingat dengan-Nya dan secara gak langsung lu berusaha melupakan dan menerima permasalahan yang dihadapi lu saat ini". Bagus mengangguk, hatinya merasa tenang dengan apa yang dinasehatkan. Ia tersadar, bahwa masih banyak yang peduli dengannya.
Farhan menyadari, ia hanyalah manusia biasa yang memiliki banyak kekurangan. Setiap permasalahan yang datang dijadikannya sebagai pelajaran. Nasehat yang keluar pun tak jauh hanya untuk mengingatkan dirinya. Dan banyak hal yang terjadi, tak membuatnya untuk tak bersyukur atas apa yang Allah berikan. Semua cobaan dikehidupannya, ia jalani dengan sabar. Terutama dalam kepemimpinannya selama setahun kedepan, ia akan terus menjaga kepercayaan ini dengan penuh tanggung jawab dan keikhlasan sebagai bentuk pengabdiannya kepada pondok pesantren.

0 komentar:

Posting Komentar