Siang
itu, hujan mengguyur bumi dengan sangat derasnya. Farhan berdiri di belakang
jendela rumahnya ang sedikit menganga. Ia menatap hujan, seakan tengah
menghitung jumlah setiap tetes air yang turun. Ia termenung, memikirkan sekolah
yang akan ia tempuh selanjutnya. Dirinya menginginkan untuk lanjut sekolah ke
SMP Negeri terdekat di rumahnya. Selain karena jarak sekolah dari rumahnya
dekat, teman-teman Farhan juga banyak yang ingin lanjut sekolah di SMP Negeri
itu. Farhan mendengar suara panggilan dari dapur, tetapi mengabaikannya.
Tak
berselang lama, terdengar langkah-langkah kaki mendekat. Ia tahu, itu bundanya
Salma. "Mengapa kamu mengabaikan panggilan Bunda?" tanya Salma.
Farhan sudah menduga pertanyaan itu, ia sudah mengantisipasinya tetapi bukan
dengan jawaban melainkan dengan sikap. Farhan menatap langit, curah hujan yang
mulai mereda dengan cahaya matahari yang melintas.
Di
kejauhan sana, persis di pucuk dedaunan menempel rintik-rintik air hujan yang
telah membasahinya. Suasana nan segar, membawa ketenangan bagi yang
merasakannya.
Salma
mengikuti arah pandangan Farhan, ia tersenyum. Ia sangat mengenal karakter anak
laki-lakinya itu. Farhan dengan usianya yang mencapai dua belas tahun, adalah
anak yang manja dan keras kepala, yang terkadang begitu emosional. "Kamu
sudah tahu, ingin melanjutkan sekolah ke mana?" tanya Salma.
Farhan
melirik bundanya, ia kembali memandang butiran air dedaunan. "Hm (dengan
anggukan kepala), saya ingin masuk ke SMP Negeri 1 Malang Bunda,"
jawabnya.
Sejenak
Salma terdiam, ia berkata "Farhan, Bunda ingin memberimu saran. Bunda
harap kamu untuk masuk ke pondok pesantren. Dan memang, itu juga yang ayahmu
inginkan".
Farhan
terkejut mendengarnya, ia langsung menatap Salma. Dalam hati, ia merasa tak
akan sanggup jika untuk hidup berpisah dari kedua orang tuanya. Lantas tanpa
bertanya kembali, Farhan berjalan ke kamar pergi meninggalkan Salma. Salma yang
mengerti akan hal itu, merasa bahwa Farhan menolak akan keinginannya.
Esok
hari, Salma mencoba membujuk Farhan agar mau menempuh sekolah di pondok
pesantren. Dirinya memberi pengertian untuk Farhan. Salma berkata,
"Farhan, Bunda ingin anak Bunda yang satu ini menjadi anak yang sholeh,
pintar dalam agamanya. Sadar pada diri
Bunda dan Ayah yang minim ilmunya akan pengetahuan agama, sehingga tak cukup
jika hanya dibekali oleh ilmu yang Ayah dan Bunda miliki saja".
Farhan
terdiam, dirinya tetap saja merasa tak sanggup jika hidup mandiri untuk
sementara. Namun, terkadang Farhan juga merasa ingin untuk dapat hidup mandiri
tanpa ada perintah orang tua. Farhan pun menerimanya.
Salma dan
suaminya segera mendaftarkan Farhan di pondok pesantren Gontor, Jawa Timur.
Mereka juga mempersiapkan keperluan yang dibutuhkan Farhan nanti. Tak hanya
menyediakan alat perlengkapan di pondok, Salma juga membelikan Farhan pakaian
baru. Dengan senang hati, Salma dan suaminya memenuhi kepentingan Farhan
terlebih dahulu.
Hingga
suatu ketika, Farhan ragu akan pilihannya ini. Dirinya merasa belum bisa untuk
mengurus dirinya sendiri. Tak tahu bagaimana untuk mengatur waktu nanti. Yang
biasanya pakaian Farhan dicuciin dan digosokin oleh sang Bunda, di pondok
Farhan harus melakukannya sendiri.
Mengetahui
hal itu, ayah Farhan pun menasehatinya. Beliau berkata, "Nak, tidak usah
merasa berat untuk melakukannya. Insya Allah dirimu yang sedang menuntut ilmu
agama, Allah akan selalu memberi keberkahan di setiap aktivitas yang Farhan
lakukan. Termasuk salah satunya keberkahan waktu yang tak akan tersiakan".
Mendengarnya,
membuat Farhan menjadi sabar untuk menghadapinya. Mengingat ada salah seorang
saudara sepupunya yang menjadi santri di pondok pesantren Gontor, Angga.
Sehingga Farhan merasa tak begitu sendirian.
Sampai
akhirnya, keberangkatan Farhan pun tiba. Semua keperluan Farhan juga sudah disiapkan
oleh Salma. Dalam hati, Farhan sangat sedih untuk meninggalkan orang tuanya. Ia
akan hidup tanpa ada orang tua di sampingnya.
Saat itu,
tibalah Farhan di pondok pesantren. Mereka berjalan, sambil memerhatikan
bangunan di sekitar pondok. Terlihat bersih dan rapih, dengan pohon nan rindang
mengelilingi halaman pondok. Terasa angin sepoi-sepoi yang tertiup begitu
menyejukkan di hari yang cerah ini. Alunan hadroh yang terdengar pun, seakan
menjadi sambutan bisu bagi para santri baru.
Ya,
Farhan akan menimba ilmu agama di tempat asing ini. Ia tak siap untuk ditinggal
oleh sang Bunda dan ayahnya. Rasanya ia ingin memohon untuk pulang ke rumah
saja, namun mengingat akan harapan dari keduanya membuat dirinya memendam
keinginannya tersebut. Farhan tak kuasa menahan air mata untuk tidak menangis,
dirinya menangis di pangkuan Salma. Dalam hati, Salma pun tak tega. Lalu, Ayah
Farhan memanggil Angga di kamarnya. Ia menyuruh Angga segera menemani Farhan,
sebelum ia dan Salma beranjak pulang. Apa daya Farhan yang masih menangis,
harus ditinggal Ayah dan bundanya untuk pulang.
Angga
langsung mengantar Farhan ke kamar Ibnu Sina, nama dari ruang kamar khusus
santri baru. Angga berusaha menenangkan Farhan, ia mencoba menghibur dan
memberi arahan pada Farhan. Farhan pun sedikit terhibur, namun tak dapat
menerima akan keadaan ini.
Selama di
pondok, kegiatan Farhan menjadi banyak. Sehingga Farhan membutuhkan waktu luang
untuk istirahat sejenak. Entah, rasanya ia ingin untuk pulang ke rumah. Melepas
kepenatan yang ada dalam pikirannya.
Akhir-akhir
ini pengawasan di pondok menjadi lebih disiplin. Farhan dikenai hukuman, karena
telah melanggar peraturan pondok. Sewaktu itu, ia tak biasanya bangun kesiangan
sehingga tak mengikuti shalat tahajud berjamaah. Pengurus pondok menghukum
Farhan dengan mencukur rambut hingga botak, dan berdiri di tengah lapangan
selama 2 jam pelajaran.
Mendapati
hal itu, dirinya merasa semakin tak betah tinggal di pondok. Bahkan pernah
dalam sehari, ia telah melanggar tiga peraturan pondok. Dari bagian bahasa
karena menggunakan bahasa Indonesia, bagian kebersihan karena membuang sampah
sembarangan, dan bagian ibadah karena telat mengikuti shalat jamaah. Perasaan
Farhan menjadi tertekan, sifatnya yang emosional membuat Farhan ingin
memaki-maki. Pernah suatu hari, ia memeras uang jajan adik kelasnya. Perbuatan
jelek ini terulang kembali bahkan semakin menjadi-jadi.
Di
samping itu, Ayah dan bundanya jarang menjenguk Farhan. Keperluan yang
dibutuhkan Farhan hanya dapat dikirim saja, tanpa langsung bertemu dengan
mereka. Sehingga Farhan tak langsung dapat mengeluhkan semua yang menjadi
tekanannya selama ini.
Angga,
saudara sepupu Farhan, yang juga memiliki kesibukan tak dapat sepenuhnya
memerhatikan Farhan. Karena itu, Farhan tidak peduli dengan orang lain. Ia
hanya memperdulikan kepentingannya sendiri.
Sampai
suatu ketika, pengurus bagian keamanan tengah lengah. Pintu gerbang yang
terbuka begitu saja tanpa ada pengawasan dimanfaatkan Farhan. Ia kabur, hanya
dengan membawa uang tanpa pakaian ganti sehelai pun. Ia lari menjauh dari
daerah pondok pesantren Gontor. Terlihat salah seorang pengajar pondok yang
sedang berjalan, Farhan pun berjalan santai dan
berusaha sembunyi. Dengan jaket yang dipakainya, ia menutup kepala.
Setelah
itu, ia telah sampai di daerah rumahnya. Namun bukan untuk pulang ke rumah,
melainkan ingin menemui temannya. Ia tak mungkin akan pulang ke rumah, karena
itu rumah temannya menjadi tempat singgah sementara. Dari kejauhan, ia melihat
seseorang yang menurutnya tak asing. Melihatnya dari jarak dekat, ia mengenal
orang tersebut. Ia tahu bahwa itu adalah Zyan. Zyan merupakan anak yang nakal
dan tak mau menurut pada perintah kedua orang tuanya, ia adalah teman sekolah
Sd Farhan, sewaktu dulu keduanya sangat akrab. Namun, semenjak kenaikan kelas 6
Farhan tak lagi bertemu dengan Zyan.
"Zyan?"
tanya Farhan.
Zyan
tersenyum. "Lu Farhan?" tanya Zyan.
Farhan
mengangguk dan tersenyum, sambil berjabat tangan dengan Zyan. Zyan langsung
mengajak Farhan main ke rumahnya. Zyan duduk di balkon halaman rumah, lantas
menyuruh Farhan untuk duduk di sampingnya. Dengan basa-basi, Farhan pun
menceritakan kejadiannya hari ini. "Kebetulan karena rumah gua sepi, lu
nginap di rumah gua saja malam ini," dengan senang hati Zyan menawarkan
kepada Farhan.
Sementara
itu, para pengurus dan pengajar di pondok bingung mencari Farhan. Mereka
berusaha mencari di sekitar daerah pondok, namun tak melihat adanya sosok
Farhan. Akhirnya salah seorang pengajar, ustad Ali, mencoba untuk menghubungi
orang tua Farhan. Mendapat penerimaan panggilan dari orang tua Farhan, ustad
Ali pun menceritakan mengenai Farhan yang kabur.
Salma
terkejut sekali mendengar penjelasan dari ustad Ali. Dia langsung memberitahu
suaminya, pencarian pun dilakukan Salma dan suaminya di daerah rumah mereka.
Dalam hati, Salma sangat khawatir akan keadaan Farhan. Yang Salma tahu, anaknya
tak mungkin nekad melakukan hal itu. Mengingat dirinya dan suaminya yang jarang
menjenguk Farhan, Salma tersadar bahwa Farhan sedang membutuhkannya. Farhan
membutuhkan sandaran untuk menceritakan semua keluhannya. Ia pun menangis.
Memang, Farhan adalah sosok yang memiliki sosialitas tinggi, namun Farhan tak
mudah untuk menceritakan keluhannya. Farhan hanya menceritakan pada teman-teman
yang dipercayainya saja.
Malam
ini, bintang-bintang bertebaran dengan indah menghiasi langit. Cahaya bulan
menjadi penerang di kegelapan malam. Dengan basa-basi, Zyan pun bercerita.
"Farhan,
asal lu tahu. Saat ini bapak gua udah hidup sendiri,"
"Maksud
lu? Sori, ibu lu udah .." jawab Farhan, ia tak berani melanjutkannya.
"Iya
Han, ibu gua udah ga ada. Dulu, gua sering bentak-bentak sama ibu. Padahal cuma
gara-gara dia nyuruh gua buat beresin barang-barang yang berantakan di kamar
gua. Memang, ibu sibuk dengan pekerjaannya. Sedangkan gua butuh ibu selalu ada
di samping gua. Dia sering pergi ke luar kota, terkadang pulang hanya untuk
mengambil keperluannya saja setelah itu pergi lagi tanpa bermalam di rumah.
Padahal bapak sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup kami, tapi mengapa ibu
menjadi sibuk. Sampai akhirnya, gua dapat kabar dari bapak, kalau ibu sudah
meninggal. Ia terkena penyakit leukimia. Ibu menutupi hal itu dari gua, dia
yang sibuk ternyata agar gua terbiasa tanpanya. Dan secara diam-diam, ibu
selalu memerhatikan gua. Apa-apa yang bapak berikan ke gua, itu merupakan
perintah dari ibu. Sangat terpukulnya gua mendengar kenyataan itu. Gua nyesel
Han atas apa yang udah gua lakuin ke ibu. Semenjak itu, gua sadar bahwa
sebagaimanapun sikap orang tua sama anaknya, namun tetap tak mengurangi
kehormatan kita sama mereka. Ya, tak menghilangkan kewajiban kita sebagai anak.
Dan mulai hari itu, gua ga bisa liat anak yang maki-maki sama orang tuanya,
yang tidak memiliki sopan santun terhadap kedua orang tuanya. Melihat seperti
itu, bikin gua mengingat sikap gua ke ibu. Gua makin merasa bersalah. Hanya
penyesalan yang terjadi saat ini, gua udah ga bisa memperbaiki itu semua. Gua
harap lu ga seperti gua, Han." kata Zyan, tak terasa air matanya turun.
Mendengar
hal itu, Farhan mengerti betapa Zyan begitu menyesalnya. Ia sadar, bahwa
kelakuannya saat ini adalah kesalahan. Siapa orang tua yang tak khawatir akan
keadaan anaknya yang kabur. Ia pun berencana untuk pulang ke rumah.
Esok
harinya, Farhan pamit untuk pulang ke rumah. Tak lupa juga, untuk berterima
kasih kepada Zyan yang telah membantu dan menyadarkannya. Udara masih
menyisakan dinginnya malam. Langit pun belum menampakan sinarnya mentari.
Terdengar suara ayam berkokok. Pagi-pagi sekali, Farhan pergi menuju ke
rumahnya. Bergegas agar lebih awal sampai di rumahnya.
Jarak
rumah Zyan dengan rumahnya memang tak terlalu jauh, dibatasi oleh satu
perkampungan saja. Dengan berjalan kaki, ia pun melewati rumah-rumah,
pemakaman, dan jalan raya. Di tengah perjalanan, batin Farhan sudah was-was.
Perasaan yang tak mengenakan. Saat tiba di jalan raya, rumahnya yang berada di
seberang jalan membuatnya bingung untuk menyeberanginya. Jalan raya yang
dipadati kendaraan, tanpa adanya jembatan penyeberangan. Lantas membuat Farhan
diam, menunggu jalan raya sepi dari keramaian mobil dan motor yang melintas.
Tiba-tiba
di kejauhan, terlihat mobil dengan laju yang sangat cepat. Mobil tersebut tak
terkendali, hingga berada di jalur yang salah. Dan kecelakaan pun terjadi,
mobil menghantam truk besar dari arah yang berlawanan. Farhan berada tepat di
pinggir jalan, namun apa daya mobil tersebut terguling ke arahnya. Tanpa sempat
berlari dengan cepat, Farhan tertabrak. Dirinya terkapar mengenai badan mobil
yang menabraknya.
Kejadian
itu terdengar oleh masyarakat sekitar, dengan jumlah korban sebanyak tiga orang
dewasa dan satu orang anak yang diperkirakan berusia 12 tahun. Salma yang
mengetahui kabar tersebut dari tetangganya, sangat khawatir. Dirinya langsung
menuju ke tempat kejadian. Dan betapa kagetnya, Salma melihat salah satu korban
anak tersebut. Ia mengenal akan pakaiannya, itu adalah Farhan. Terasa
menyesakkan dada, tak kuasa Salma melihatnya anaknya tragis seperti itu.
Bayangan yang kabur, Salma pingsan.
Pihak
kepolisian segera menghubungi pelayan kesehatan. Ia memanggil ambulan, untuk segera
menyelamatkan korban kecelakaan. Di rumah sakit, Farhan segera diperiksa dan
dengan izin yang bertanggung jawab Farhan harus dioperasi. Kakinya yang
terjepit oleh ban mobil, membuatnya patah tulang. Salma datang segera menemui
Farhan yang sudah di ruang pasien. Ia langsung memeluk Farhan dengan begitu
eratnya, tak terasa air mata Salma menangis. Miris melihat keadaan anak
laki-lakinya sekarang. Merasa tak berguna menjadi orang tua, yang tak dapat
menjaga anaknya dengan baik.
Farhan
tersenyum, "Bunda?" katanya.
"Iya
sayang," jawab Salma.
"Bunda,
Farhan minta maaf. Selama ini Farhan tak menjadi anak yang baik untuk Bunda.
Maafin Farhan Bunda, Farhan sudah tak menuruti perintah Bunda. Farhan berjanji
mulai hari ini dan selamanya akan menjadi pribadi yang baik, walau mungkin
Farhan belum bisa membanggakan Bunda dengan prestasi di akademik" tutur
Farhan.
"Farhan,
sayang. Sebelum kamu meminta maaf pada Bunda, Bunda sudah memaafkanmu. Justru
selama ini, Bunda tak menjadi ibu yang baik selama ini. Maafkan Bunda ya
sayang," jawab Salma.
Farhan
mencium tangan Salma dengan begitu lamanya. Salma berbalik mencium kening
anaknya, keduanya pun berpelukan sangat erat. "Doakan Farhan selalu ya
Bunda," kata Farhan.
"Doa
Bunda selalu menyertaimu, nak" jawab Salma. Kemudian kedua nya saling
berkomitmen dalam hatinya masing-masing bahwa akan menjadi pribadi yang lebih
baik dari sebelumnya. Suster kemudian datang ke ruang tempat dimana Farhan di
rawat dan membawakan makanan untuk Farhan. Salma menerima makanan tersebut dari
suster dan menyuapi Farhan makanan yang dibawakan oleh suster tersebut. ”Baca
doa dulu nak sebelum makan,” ucap Salma. “Iya Farhan memang selalu membaca doa
sebelum dan sesudah makan, karena di pesantren Farhan belajar banyak tentang
religi” jawab Farhan.
Salma
menikmati momen dimana mereka berdua bisa saling menyayangi walaupun keadaan
Farhan tak di harapkan oleh Salma, tetapi itulah yang terjadi. Apa boleh buat,
Salma ikhlas melihat anaknya masuk rumah sakit karena ulah anaknya sendiri dan
Salma yakin pasti dibalik kejadian ini ada hikmah tersembunyi yang akan membuat
Salma dan Farhan menjadi pribadi yang lebih baik, lebih kuat, lebih tanggung
dan lebih bertanggung jawab atas amanah yang diemban nya. Jam besuk pun telah
habis, dengan berat hati Salma meninggalkan sang anak, karena belum lama di
rawat dirumah sakit jadi Farhan belum boleh di dampingi oleh keluarga selama di
ruang pasien. Tujuan nya adalah karena pihak rumah sakit ingin fokus merawat
dan mengobati Farhan, setelah keadaan Farhan membaik barulah pihak keluarga
boleh mendampingi Farhan di dalam ruang pasien. Detik demi detik, menit demi
menit, jam demi jam, hari demi hari. Keadaan Farhan pun sudah lebik baik dari
sebelumnya, namun Farhan ingin cepat-cepat sembuh dari sakitnya dan ingin
membuktikan kepada semua orang khususnya keluarga, ia ingin membuktikan bahwa
ia bisa menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya.
Setiap
waktu Farhan selalu berdoa kepada Allah akan kesembuhannya, di setiap tiba
waktu solat Farhan selalu solat dengan posisi terbaring, ia tetap bersyukur
masih bisa solat meskipun keadaannya dalam keadaan yang tidak dia inginkan.
Salma dengan sabar mendampingi Farhan dirumah sakit hingga anaknya boleh
beristirahat dirumah. Keseharian mereka berdua selalu dirumah sakit, dari mulai
makan, minum dan tidur. Dalam hati Salma merasa lelah dengan keadaan dimana ia
selalu berada dirumah sakit, ia merasa jenuh dengan pemandangan itu-itu saja.
“tidak ada pemandangan yang menyejukan hati,” ucap Salma dalam hati nya. Hingga
ia benar-benar merasa lelah dengan semuanya dan Farhan bertanya kepada sang Ibu
“Bu, kenapa wajah ibu terlihat cemberut? apa ibu sedih melihat keadaanku yang
semakin hari semakin membaik?” kemudian Salma menjawab “Ibu tidak apa-apa nak,
ibu hanya merasa sedikit lelah karena kurang tidur”. Farhan pun meminta maaf
kepada Ibunya karena diri nya lah sang ibu menjadi lelah dan kurang tidur,
lagi-lagi Farhan berkomitmen bahwa akan membuktikan bahwa ia bisa berubah
menjadi lebih baik dari yang sekarang.
Tibalah
waktu ashar, terdengar suara adzan dan Salma solat kemudian mengadu keluh kesah
yang ia alami dan berdoa kepada Allah agar semua kejadian yang menimpa nya
segera selesai. Setelah solat Salma merasa menjadi lebih baik dan tersenyum
kepada Farhan.
Keadaan
farhan semakin hari kini semakin membaik, ia sudah bisa melaksanakan aktivitas
seperti biasannya tapi tetap dengan keadaan yng sangat hati-hati. Farhan telah
memutuskan untuk kembali lagi ke pondok pesantren nya di Gontor. Ia juga
berjanji ia akan menjadi pribadi yang lebih baik lagi, ia tidak akan membuat
kesalahan yang sama lagi. Ia berusaha akan mematuhi setiap peraturan yang sudah
di tetapkan oleh pihak pondok pesantren. Setelah kembali masuk ke pondok
pesantren banyak sekali pertanyaan yang di lontarkan teman-teman farhan terkait
keadaan nya. Berita tentang farhan yang kabur dan terkena musibah memang sempat
mejadi pembicaraan hangat di lingkungan pondok selama beberapa minggu, untuk
itu tidak heran ketika farhan kembali masuk banyak orang yang sedikit terkejut
karena sebelumnya mereka berfikir farhan tidak akan kembali lagi ke pondok
pesantren dan pindah ke sekolah lain. Kini seminggu sudah farhan bergabung
kembali di kehidupan pondok pesantren. Terlihat sekali perubahan yang terjadi
pada diri farhan, para pengurus pondok pun merasakan perubahan yang terjadi
para diri farhan. Kini farhan semakin rajin melaksanakan kegiatan-kegiatan yang
ada di pondok pesantren ia juga mulai aktif di beberapa ektrakulikuler, salah
satunya pramuka. Kini hari-harinya di isi oleh kegiatan yang sangat positif
farhan tidak pernah lagi melanggar peraturan pondok, tidak pernah lagi bolos
saat sholat berjamaah. Teman- teman farhan sangat senang dengan sikap farhan
sekarang, mereka tak menyangka farhan bisa berubah secepat dan sedrastis itu.
Suatu
hari ada pergantian pemimpin ekstrakulikuler pramuka. Sebetulnya farhan tidak
ada niatan untuk mencalonkan dirinya menjadi ketua pramuka, tetapi ia di minta
langsung oleh senior pramuka nya, karena ia melihat kedislipinan, keaktifan dan
kerajinan farhan selama mengikuti ekskul pramuka. Mereka yakin farhan bisa
menjdi ketua ekskul yang baik dan mampu memimpin ekskul dengan sempurna. Farhan
awalnya sempat ragu ia takut tak bisa melaksanakan tugasnya nanti dengan baik
menjadi seorang ketua nanti. Tapi berkat dukungan dari teman-temannya dan tekad
kuat yang terjadi pada diri farhan bahwa ia dapat berubah dan membuktikan pada
kedua orang tuanya bahwa ia memang sudah benar-benar berubah dan akan menjadi
seseorang yang lebih baik lagi dari sebelumnya. Farhan pun yakin dan mengiyakan
kakak seniornya itu. Hari dimana pemilihan ketua pun tiba ada tiga kandidat
sebagai calon ketua pramuka. Sebelumnya farhan sudah membuat visi-misi nya
untuk di sampaikan saat pemilihan nanti. Tiba saatnya farhan menyampaikan
visi-misi nya, farhan sempat merasa minder dengan visi-misi nya itu karena ia
melihat dua kandidat yang lain memiliki visi-misi yang tak kalah bagus dari
dirinya. Namun ia berjanji akan menerima apapun keputusan nya nanti walaupun
memang farhan tak bisa menang setidaknya ia pernah mencoba nya.
Pemilihan
dilakukan dengan cara voting. Farhan tau sangat sedikit kemungkinan untuk
dirinya menang karena melihat kejadian yang dialami farhan beberapa bulan yang
lalu mungkin ada beberapa yang masih meragukan perubahan yang ada pada diri
farhan. Tetapi tak apa karena farhan tau
untuk menjadi pribadi yang lebih baik itu tidak lah mudah apalagi ia pernah
mengalami suatu kasus yang menyebabkan hampir semua orang yang berada di
sekitar pondok mengetahui tentang hal itu.
Pembacaan voting akan segera dibacakan sesaat lagi, total seluruh
anggota pramuka putra dan putri sebanyak 150 orang. Berarti ada 150 suara yang
memilih. Farhan sama sekali tak menyangka ia mendapatkan suara sebanyak 80
suara, kandidat pertama mendapat 50 suara dan kandidat ke tiga mendapat 20
suara, itu berarti ia yang memenangkan pemilihan ketua pramuka.
“Baik saya akan membacakan hasil voting
pemilihan ketua pramuka tahun ini” ucap kaka senior yang tak lain adalah ketua
pramuka sebelumnya.
“Kandidat
pertama atas nama Husen Almubarok mendapatkan 50 suara, kandidat kedua atas
nama Muhammad Farhan mendapat 80 suara, dan kandidat ke tiga atas nama Ilham
Rozikin mendapat 20 suara, dengan ini saya nyatakan yang menjadi ketua pramuka
tahun ini yaitu Muhammad Farhan” ucap sang kakak senior
Semua bersorak memberikan tepuk tangan kepada
farhan. Farhan yang tak percaya ia menang hanya bisa terdiam menatap seluruh
tatapan teman – teman nya yang kini tertuju padanya. Farhan tersenyum lalu
bangkit dari tempat duduknya maju kedepan untuk sedikit memberikan sambutan dan
ucapan terimakasih kepada orang-orang yang sudah memilihnya.
“
Assalamu’alaikum Wr. Wb. sebelumnya saya ingin mengucapkan ucapan terimakasih
saya kepada teman-teman dan adik-adik sekalian yang sudah mendukung dan memilih
saya sebagai ketua pramuka untuk tahun ini, saya akan berusaha untuk bisa
menjaga amanat dan juga menjalankan tugas-tugas saya sebagai ketua dengan baik
dan saya berjanji akan menjadi seorang pemimpin yang bisa memajukan ekskul
pramuka ini menjadi ekskul yang lebih maju dengan memiliki prestasi yang sangat
banyak sehingga membawa nama baik bagi pondok pesantren. Terimakasih
Wassalamu’alaikum Wr. Wb."
Ucapan
selamat datang bergantian kepada farhan, mereka yakin farhan bisa menjadi sosok
pemimpin yang sangat baik dan bijaksana. Upacara pelantikan pun berjalan dengan
lancar sehari setelah terpilihnya Farhan menjadi ketua pramuka.
Dengan penuh tanggung jawab, Farhan berusaha
menjadi pemimpin yang baik. Namun, ada saja permasalahan yang datang
menghampiri. Suatu ketika ia tak sengaja mendapati temennya merokok
di lantai atas tepatnya di penjemuran santri putra. Melihatnya, Farhan langsung
menegur Bagus. Teguran lisan dari Farhan tak digubris oleh Bagus. Sontak Farhan
langsung mengambil putung rokok dari mulutnya dan menginjaknya. Merasa
terganggu, Bagus pun menarik kerah baju Farhan. Ia berkata, "Apa urusan
lu? Hah! Apa pernah gua mencampuri urusan lu?!". Farhan menjawab,
"Jelas ini urusan
gua, ini
tanggung jawab gua. Gua sebagai teman baik berusaha mengingatkan agar lu gak
terus menerus candu sama rokok itu. Apalagi ini di pondok, semestinya lu bisa
menghargai orang tua yang sudah menafkahi dengan susah payah". "Napa,
kenapa lu peduli sama gua? Hah", Bagus membalas. "Lu belum tahu
gimana rasanya, kehilangan orang tua disaat lu masih menyusahkannya. Gimana
penyesalan itu terus ada, karena lu tak menjadi yang terbaik dimata keduanya.
Apa lu sanggup menghadapi itu semua? Hah!", jawab Farhan. "Hiks,
hiks.. hiks", Bagus menangis. "Sadar sob, lu udah dewasa. Semestinya
lu bisa mengendalikan emosi lu, bukan berarti lu harus melampiaskannya lewat
itu", Farhan bilang. "Lalu, apa yang mesti gua lakuin?", tanya
Bagus. Farhan menjawab, "Banyak caranya, lu coba menenangkan diri dengan
berwudhu. Sering tilawah Al-Qur'an, biar lu selalu ingat dengan-Nya dan secara
gak langsung lu berusaha melupakan dan menerima permasalahan yang dihadapi lu
saat ini". Bagus mengangguk, hatinya merasa tenang dengan apa yang
dinasehatkan. Ia tersadar, bahwa masih banyak yang peduli dengannya.
Farhan menyadari, ia
hanyalah manusia biasa yang memiliki banyak kekurangan. Setiap permasalahan
yang datang dijadikannya sebagai pelajaran. Nasehat yang keluar pun tak jauh
hanya untuk mengingatkan dirinya. Dan banyak hal yang terjadi, tak membuatnya
untuk tak bersyukur atas apa yang Allah berikan. Semua cobaan dikehidupannya,
ia jalani dengan sabar. Terutama dalam kepemimpinannya selama setahun kedepan,
ia akan terus menjaga kepercayaan ini dengan penuh tanggung jawab dan
keikhlasan sebagai bentuk pengabdiannya kepada pondok pesantren.







0 komentar:
Posting Komentar