Di penghujung masa putih
abu-abu ini, kebimbangan kerap kali menghampiri para siswa yang hendak masuk ke
perguruan tinggi tak terkecuali aku. Pertanyaan demi pertanyaan terlontar dari
mulut orang tua yang ingin perjalanan hidup anaknya terarahkan, namun tak satu
pun kepastian yang aku berikan. Sebenarnya di benakku banyak terlintas
rencana-rencana kecil mengenai masa depanku.
“Frisya,
kamu mau kuliah di mana? Kalau mau kuliah jangan asal pilih jurusan biar ke depannya
kamu ngga bingung nyari pekerjaan”. Tanya Ibuku sambil melipat baju jemuran.
“Frisya
masih bingung bu, untuk universitasnya cari yang deket aja biar Frisya
bisa sering pulang nengokin Ibu”.
Sahutku dengan santai.
“Ya
sudah kalau begitu coba fikirkan baik-baik, sekarang sudah malam. Ibu tidur
dulu, sudah ngantuk”. Pamit Ibuku, aku sangat menyayangi sosok Ibuku yang
selalu ada untuk anaknya. Rasanya aku ingin menjadi Ibu rumah tangga yang
serius mengurus keluarga, tapi di sisi lain aku juga ingin menjadi wanita
karir.
Jarum
jam sudah menunjukkan pukul 22:00, aku masih terjaga di tempat tidur karena
memikirkan keputusan jurusan mata kuliah yang harus aku laporkan ke guru BK
besok, hampir saja aku berfikir untuk tidak kuliah tahun ini karena aku mempunyai
mimpi menjadi seorang hafidzah. Aku harus memikirkan nasibku di akhirat kelak,
selama ini aku terlalu disibukkan oleh urusan dunia, sering pulang malam karena
kegiatan ekstrakulikuler atau kerja kelompok sehingga tidak sempat tadarus
magrib, mengobrol dengan orang tua pun hanya beberapa menit saja karena
sesampainya di rumah aku harus mengerjakan PR bahkan tak jarang aku segera
tertidur kelelahan. Rasanya jauh dengan Al-Qur’an, jauh dengan keluarga, dan
yang paling aku khawatirkan adalah jauh dengan Allah. Padahal Allah sudah
memberi segala yang aku inginkan di dunia ini, tapi hanya sedikit waktu saja
yang aku sempatkan untuk beribadah kepada-Nya. Rasanya aku sangat merasa
bersalah akan kelalaianku selama ini sehingga aku ingin fokus mendekatkan diri
kepada Allah di waktu satu tahun ke depan, karena kematian tak ada yang tahu
datangnya kapan, aku harus mempersiapkannya dengan matang agar siap kapan pun
aku dipanggil Sang Khalik.
Tak
perlu menunggu lama aku segera mencari info pesantren tahfidz yang mengadakan
program hafal Al-Qur’an satu tahun dengan ponselku, di tengah-tengah
pencarianku tiba-tiba ada pesan.
“Assalamu’alaikum Frisya”. Sapa
mantanku yang sudah jarang aku hubungi, aku sedikit kesal untuk apa dia
tiba-tiba muncul ke kehidupanku lagi setelah sekian lama aku berhasil
melupakannya. Rasa sakit hati ketika melihat ia bersama pacarnya selepas aku
memutuskannya untuk berhijrah masih membekas hingga kini. Dia sudah bersama
pacarnya yang baru tapi akhir-akhir ini dia sering memberiku salam, aku tak
mengerti apa maksudnya, meski begitu aku selalu menjawab salamnya karena itu
merupakan kewajiban.
“Lepaskanlah. Maka besok lusa, jika dia cinta sejatimu, dia pasti akan kembali dengan cara mengagumkan”
~Rindu, Tere Liye~
“Wa’alaikumussalam
Zafran”. Entah yang kulakukan ini benar atau salah yang jelas sikapku ini
seolah menunukkan bahwa aku masih mau menerima kehadirannya di sini, aku hanya
tak ingin memutuskan tali silaturahimku dengannya tapi dengan batasan-batasan
tertentu.
Aku melanjutkan pencarian info
pesantren tadi dan akhirnya aku menemukan di luar kota, biayanya cukup
fantastis tapi itu tidak seberapa dibanding
ilmu yang In Syaa Allah nanti aku dapatkan. Selama ini manusia berani membayar mahal untuk menonton hiburan
atau kegiatan foya-foya yang lain yang kurang bermanfaat, namun untuk
pendidikan yang jelas-jelas sebagai modal kesuksesan di masa depan manusia
sering merasa keberatan. Tapi masih ada jalan lain supaya aku bisa masuk
pesantren yaitu dengan beasiswa. Semoga Ibuku setuju.
Keesokan harinya.
Hangat mentari pagi
membangunkan semangatku. Kemacetan hari senin tak membuatku putus asa untuk
tetap menuju sekolah, sesampainya aku di sana dikejutkan oleh guruku yang
mengabarkan bahwa ada kesempatan kuliah di Jepang, aku sempat tertarik karena
nilaiku lumayan bisa bersaing dengan orang-orang di luar sana. Entahlah aku bimbang, aku hanya
memberitahukan bahwa aku tidak jadi mendaftar SNMPTN kepada guruku.
Sepulang sekolah aku dijemput
oleh ibu dengan mobil. Di dalamnya sudah ada cindy, adikku. Aku pun melambaikan tangan dan melempar
senyum manis kepadanya. Setelah masuk kedalam mobil dan turut duduk dengan manis
disebelah adikku. Ibu pun langsung menancapkan kaki ke pedal gas mobilnya,
mobil pun berjalan meninggalkan sekolahan.
Jarak rumahku dengan sekolah
cukup jauh. Butuh waktu setengah jam perjalanan. Karena itu ditengah perjalanan
aku dan cindy akan melihat banyak hal. Mulai dari berbagi jenis kendaraan,
berbagai jenis toko dan berbagai jenis jajanan. Setiap kali melihat jajanan
aku dan cindy akan kompak membujuk Ibu
agar mau membelikannya untuk kami. Namun Ibu bukan sosok yang mudah dibujuk,
terutama perihal jajan di pinggir jalan. Ibu selalu melarang aku dan cindy
membeli jajanan seperti itu. Menurut Ibu banyak hal yang membuat makanan
tersebut tidak sehat. Mulai dari tidak higienis hingga tidak jelasnya bahan
yang digunakan. Tapi ada satu jajanan yang tidak bisa ditolak ibu jika aku dan
cindy memintanya yaitu satai telur gulung mang taher. Ibu sangat tahu betapa
higienis dan sehatnya makanan yang dibuat oleh mang taher, karena itu Ibu tak
akan melarang mereka memintanya. Begitu pula dengan hari ini. Aku dan cindy
meminta Ibu membelikan mereka satai telur gulung. Mereka pun mendapat bagian
masing-masing 1 kotak besar, mereka cicipi satu persatu sembari menikmati
perjalanan pulang. Tak beberapa lama, tiba-tiba cindy menarik lengan bajuku dan
berkata
"Kak...kak. minta punya kakak dong!"
Aku terkejut mengetahui cindy sudah
menghabiskan jajanannya begitu cepat langsung menolak permintaan sang adik.
"Gak mau! Punyamu kan sudah habis.
Jatah kakak jangan diminta juga dong."
Mendengar bentakan dan penolakan dari
sang kakak, cindy pun terdiam. Tak berapa lama cindy menangis dengan suara
begitu keras
"Huaa Ibuuu Ibuu Kakak jahat, Bu
huaaa."
Demi menenangkan cindy, Ibu memintaku
untuk mengalah kepada adiknya.
"Frisya...ayo kasih adik
setusuk.masa kakak tega adiknya nangis?"
Luluh dengan bujukan sang ibu, aku pun
mengalah.
"Iya..iya..iyaaa.ini kamu boleh
ambil satu tusuk."
Setelah melahap satu tusuk
satai telur gulung si kakak, tangisan cindy berangsur-angsur berhenti. Namun
tak berapa lama setelah menghabiskan satai telur gulung pemberian kakaknya
tadi, cindy kembali meminta jatah kakaknya.
"Kak...cindy
mau lagi!"
Meski mulai kesal aku tetap mencoba bersabar
dengan tingkah adiknya.
"Iya..iya.nih"
Ternyata tak berhenti di situ. Cindy
melakukan hal yang sama berulang-ulang, hingga akhirnya aku benar-benar marah.
Mereka pun mulai beradu mulut.
"Ah, kamu kok gitu!"
"Satu lagi aja,kak."
"Dari tadi juga gitu, satu lagi kak..satu lagi kak."
"Hua...buuu kakak jahat!"
Mendengar pertengkaran anak-anaknya. Ibu kini
menasihati keduanya.
"Cindy gak boleh gitu sayang.
Jatahnya cindy dan kakak itu sama banyak loh. Kakak juga udah ngasi tambahan
buat cindy. Masa cindy minta lagi? Frisya juga, udah tau adiknya doyan,
makannya jangan dipelan-pelanin. Entar yang susah kamu juga."
Aku yang mendengar pun marah
karena menurutku aku tak bersalah. Aku tak menanggapi perkataan Ibu dan hanya
diam membisu. Hingga sampai di rumah pun, Aku tak kunjung berbicara, aku lebih
memilih diam dan mengunci diri di dalam kamar.
Tak berapa lama. Dari jendela
kamarnya, ia melihat seekor burung mondar-mandir di sebuah pohon. Aku pun
mendongakkan wajah keluar jendela agar dapat melihat burung tersebut lebih
dekat. Dari sana aku dapat melihat dengan jelas. Seekor Ibu burung
mondar-mandir di sebuah pohon untuk merajut sarangnya. Tak cukup sampai di
situ. Aku juga melihat sang Ibu burung mengais-ngais tanah untuk mengambil
beberapa ekor cacing. Namun aku tak melihat Ibu burung tersebut memakan cacing
buruannya. Setelah mengumpulkan cukup banyak si Ibu burung mengangkut
cacing-cacing itu ke sarangnya. Ternyata di dalam sarang itu ada beberapa anak
burung yang masih tanpa bulu memekik-mekik tidak karuan. Lalu sang induk
menyuapi satu persatu anaknya dengan cacing yang telah ia kumpulkan tadi. Aku
belum melihat Ibu burung tersebut memakan buruannya. Hingga cacing itu habis
barulah sang Ibu burung tersebut terbang jauh entah kemana. Untuk beberapa
saat, aku termenung akan sesuatu yang dilihatnya tadi. Aku merasa sangat
bersalah telah marah kepada Ibu. Aku tak dapat menghabiskan satai telur gulung
milikku karena terus dimintai oleh adikku. Namun aku tak sadar jangankan untuk
menghabisi, untuk mencicipi satu tusuk saja Ibuku tak bisa. Aku pun berlari
menemui Ibunya. Sembari mengeluarkan air mata Aku berujar.
"Bu, Frisya minta maaf. Frisya
salah sama ibu. Padahal Ibu udah bersikap adil sama Frisya dan Cindy."
“Baiklah, sudah Ibu maafkan, Ibu
mengerti”.
Hening... sunyi kembali
menyelimuti hatiku, malam ini udara terasa sangat dingin sampai menusuk kedalam
rusuk-rusuk tulangku.
“Ada apa Frisya, mengapa kau
terlihat sangat murung?” itu suara Ibu, suara yang akhirnya membuatku terbangun
dari lamunan yang sedari tadi menguasai diriku. Aku tak tahu harus mengatakan
apa padanya, rencana yang kubuat dengan sedemikian rupa indahnya kini harus
berada pada ujung tebing yang curam.
“Tak apa-apa bu.” Ucapku sambil
tersenyum, aku tau ibu khawatir dengan keadaanku beberapa hari terakhir, lebih
tepatnya saat bapak telah pergi meninggalkan kami untuk selama nya. Tanggung
jawab yang dulu diembannya kini dialihkan sepenuhnya padaku.
“Apa kau masih memikirkan
amanat bapak ketika itu Frisya?” tanya Ibu yang sepertinya paham apa yang
membuatku gundah sekarang.
Jujur saja, amanat yang Bapak
alihkan padaku itu sungguh berat. Bukan aku tak mau, hanya saja aku takut aku
tak mampu menjaga amanat yang Bapak berikan padaku. Tahun ini aku harus kuliah,
melanjutkan pendidikanku. Tapi bagaimana dengan impianku menjadi seorang
hafidzah, hanya aku yang tersisa bagi mereka. Terlebih aku adalah anak pertama,
harapan pertama bagi mereka, jadi pendidikanku harus betul-betul bagus
prospeknya. Aku pun mengutarakan keinginanku.
“Bu, kalau Frisya mau ke
pesantren dulu boleh ngga? Kan buat kebaikan Ibu sama Bapak juga, biar nanti
Frisya bisa ngasih tiket ke surga di akhirat kelak”. Jelasku pelan.
“Kalau Ibu sih setuju saja jika
kamu maunya begitu. Sebenarnya Bapakmu juga dulu pernah bercerita kepada Ibu
bahwa beliau ingin kamu menjadi seorang penghafal Al-Qur’an, namun setelah
dipertimbangkan lagi, siapa nanti yang akan melanjutkan perusahaan
bapakmu? Kamu juga kan berkemampuan,
sayang kalau tidak dimanfaatkan”. Ujar perempuan lembut yang bergelar Ibu itu.
“In Syaa Allah Bu, Frisya juga
akan bertanggung jawab akan amanat itu. Nanti setahun kemudian baru Frisya
kuliah. Sebenarnya Frisya juga ditawarkan oleh guru untuk daftar beasiswa
kuliah ke Jepang, tapi Frisya tidak bisa jauh dari Ibu, untuk apa Frisya
jauh-jauh mencari surga di luar sana kalau surga di rumah Frisya abaikan”.
Tuturku sambil berkaca-kaca.
Ibuku hanya bisa memelukku
hangat, tak mampu menjawab sepatah kata pun untuk mengutarakan kasih sayangnya.
Ternyata diam-diam Ibuku menangis terharu mendengar penjelasanku.
Aku masih betah berlama-lama di
sini, bermain bersama angin malam yang membelai lembut tubuhku, berbincang
dengan serangga-serangga malam yang sangat gaduh seperti memperebutkan sesuatu.
Beberapa hari kemudian, tiba
saatnya aku mengikuti seleksi masuk pesantren tahfidz yang aku impikan untuk
meringankan beban ekonomi keluargaku, aku percaya selalu ada jalan bagi
hamba-Nya yang mau berusaha.
Tahap pertama aku menjalani
tes baca Al-Qur’an, cukup gugup memang tapi Alhamdulillah aku
dinyatakan lolos pada tahap itu. Tahap kedua ada tes hafalan juz 30, untung
saja di sekolahku sudah disuruh menghafalnya jadi aku tidak khawatir
menghadapinya, dan Alhamdulillah aku lolos pula. Tinggal tahap terakhir yakni
tes tulis, pertanyaannya seputar tajwid dan sejarah kebudayaan Islam. Namun aku
terkejut dengan lembar terakhir berisi biodata yang harus diisi, setelah
selesai mengisi semua poin biodata tiba-tiba terdapat poin “Tuliskan tanggal
wafat anda!” semua peserta terlihat bingung juga maksudnya apa, aku hanya
mengisi sepenafsiranku. Aku yakin ini perintah penting untuk menguji kami.
Akhirnya tes tersebut selesai,
selang beberapa jam tiba waktunya pengumuman siapa saja peserta yang lolos.
Semua peserta dikumpulkan dalam satu
ruangan, panitia segera mengumumkan hasilnya. Aku tak menyangka berada di
urutan pertama dari 100 pendaftar. Aku pun disuruh maju ke depan untuk menjelaskan
mengapa aku mengisi biodata absurd tadi, karena peserta lain tidak ada yang
bisa menjawabnya.
“Kepada sodari Frisya, mohon
jelaskan alasan anda menuliskan tanggal esok hari di tanggal anda akan wafat!”.
Kata MC dengan tegas.
“Baik, sebelumnya terima kasih. Alasan saya demikian karena seorang muslim yang menganggap hari esok ia meninggal dunia, pasti ia akan berbuat yang terbaik hari ini. Sesuai Hadis Nabi yang berkata
|
Jawabku dengan yakin, sontak
semua peserta tepuk tangan akan apa yang aku katakan barusan padahal aku merasa
mereka pun lebih tahu akan hadis itu.
“Itu jawaban yang selama ini
saya harapkan dari semua peserta. Namun baru kali ini ada siswa yang bisa
menjawabnya dengan baik. Alasan saya membuatnya yakni untuk mengetahui seberapa
banyak kalian mengingat kematian dan mengamalkan ilmu yang kalian miliki, agar
kalian selama menuntut ilmu di sini tak ada istilah menyia-nyiakan hari ini
dengan alasan masih ada hari esok”. Sahut Pimpinan Ponpes Tahfidz itu.
Semenjak itu aku resmi menjadi
santri di sana, Ibuku begitu bangga putrinya bisa sehebat itu.
Beberapa tahun kemudian..
Hari ini
adalah tiba saatnya wisuda para santri tahfidz, Ibu dan Adikku juga datang ke
acara ini. Para santri dan santriwati diberi mahkota oleh orang tuanya masing-masing, sebagai simbol rasa
kebanggaan orang tua terhadap anaknya. Ibuku berkata sambil menaruh mahkota
tersebut di kepalaku
“Selamat ya nak, semoga nanti
di akhirat kamu yang memakaikan mahkota dan jubah kebesaran ini untuk Ibu sama
Bapak di akhirat kelak”. Harap Ibuku romantis.
“Aamiin”. Jawabku sambil
memeluk tubuhnya yang hampir sama tingginya denganku, tak terasa tetesan air
mata telah membasahi kerudung biru yang dikenakan Ibu.
Di acara itu tiba-tiba
datanglah Zafran yang ternyata menghadiri acara wisuda tanpa sepengetahuanku,
dengan kemeja putih elegan membuat penampilannya tampak menarik hari ini.
“Assalamu’alaikum, apa kabar
Bu?”. Sapanya sambil mencium tangan Ibuku, rupanya Ibuku masih mengenalnya.
“Wa’alaikumussalam,
Alhamdulillah baik. Nak Zafran sendiri bagaimana?”. Ibuku ramah.
“Alhamdulillah baik juga, oh
iya ini ada sedikit bingkisan untuk Frisya, maaf cuma bisa ngasih ini”. Sambil
menyodorkan bucket bunga mawar
putih kepadaku.
“Alhamdulillah terima kasih
Zafran, ngga usah repot-repot kok datang ke sini aja udah seneng”. Sambutku
dengan ceria karena masih terbawa suasana tadi.
“Ciee Kakak siapa tuh”. Sambar
Adikku menyebalkan.
“Ih Ade apa sih bukan
siapa-siapa Cuma temen kok”. Sanggahku dengan malu. Sontak kami jadi tertawa
kecil karena momen ini.
Kami diantar pulang oleh
Zafran, entah mengapa Ibu dan Adikku terlihat begitu akrab dengan Zafran sampai
sepanjang perjalanan tak henti-hentinya kami berbincang-bincang hingga tertawa,
memang Zafran mempunyai sifat humoris.
Tiba-tiba di tengah perjalanan,
Ibuku terkena serangan jantung dan segera dilarikan ke rumah sakit. Adikku
segera mengurus administrasi sementara aku dan Zafran menunggu di depan ruang
UGD.
“Yang sabar ya Frisya, In Syaa
Allah Ibumu baik-baik saja”. Zafran berusaha menenangkan.
“Iya, terima kasih. Aamiin
semoga Ibu tidak kenapa-napa”. Jawabku sembari tersenyum kecil.
“Tadinya aku mau melamar kamu
hari ini, tapi berhubung keadaan Ibumu sedang seperti ini, sepertinya rencanaku
harus ditunda dulu”. Ungkap Zafran dengan nada kecewa.
“Apa? Kamu serius? Secepat ini?
Mengapa kamu begitu yakin denganku padahal kamu sedang menjalin komitmen dengan
perempuan lain yang bernama Nisa itu?”. Pandanganku langsung tertuju padanya,
melontarkan banyak pertanyaan berturut-turut dengan nada seperti marah.
“Iya aku serius, kok kamu kaya
ngga suka gitu sih. Memangnya kenapa bukankah aku juga dulu ketika kita masih
pacaran pernah berjanji akan melamarmu? Soal Nisa aku..”
“Maaf apakah kalian keluarganya
Ibu Siti?”. Tiba-tiba dokter memotong obrolan kami.
“Iya betul dok ada apa dengan
Ibu saya?”. Aku sangat khawatir.
“Ibu anda baik-baik saja tadi
hanya ada sedikit penyumbatan pembuluh darah tapi sekarang sudah normal kembali
dan belum sadarkan diri. Mungkin perlu dirawat hingga nanti malam agar
kondisinya benar-benar stabil”. Jelas sang dokter yang cantik itu.
“Alhamdulillah, terima kasih
dok”. Ucap Zafran sambil mengusap kedua tangan ke wajahnya.
“Sama-sama, permisi”. Pamit
dokter.
“Kalau begitu aku pamit pulang
dulu ya, maaf kalau kata-kataku tadi membuat kamu merasa tidak nyaman”. Zafran
merasa bersalah.
“Oh iya silakan, tenang aja
masalah yang tadi aku juga minta maaf. Makasih udah nemenin keluargaku hari
ini”.
“Sama-sama, Assalamu’aikum”.
“Wa’alaikumussalam”.
Keesokan harinya aku harus
kembali ke pondok pesantren untuk mengambil ijazahku. Terlihat muda-mudi
berbusana rapi berlalu lalang di sekitar halamannya. Tiba-tiba terdengar merdu
suara adzan, aku segera mendatangi masjid untuk sholat dzuhur. Aku rindu
suasana pesantren, bilamana iqomat sudah dikumandangkan para jamaah segera
merapatkan saf dan menempelkan bahunya satu sama lain seolah tiada rasa
canggung meskipun kami tidak saling mengenal, sangat terasa sekali persaudaraan
di antara para santri, akankah suasana seperti ini akan kudapatkan di tempat lain?.
Seusai shalat selesai aku
bergegas menuju ruang TU untuk mengambil ijazah Tahfizhku, saat sedang memakai
sepatu tiba-tiba ada seorang laki-laki berpeci putih menghampiriku.
“Maaf ukhti, boleh tolong
ambilkan sandal saya yang terhalang oleh ukhti?”. Pintanya dengan sopan.
“Oh iya silakan maaf ya”.
Ia pun langsung pergi, namun
ia sempat menoleh ke arahku dengan wajah
tersenyum sambil menganggukkan kepala pertanda terima kasihnya. Aku pun refleks
membalas senyumannya, tak lama aku segera tersadar dan beristighfar karena
telah terpesona oleh ketampanannya, karena sekian lama aku di pondok ini aku
belum pernah melihat laki-laki itu, aku mengira mungkin dia santri baru di
sini.
Beberapa minggu kemudian aku
sedang sibuk mencari info masuk UIN jalur tahfidz melalui ponselku, yang
katanya penghafal Al-Qur’an bisa mendapatkan beasiswa di sana, Ibuku tengah
terduduk menonton TV di ruang keluarga bersamaku. Tiba-tiba ada sebuah mobil
baru terparkir di depan rumahku, setelah dilihat dari jendela ternyata itu
adalah ustadz yang mengajariku sewaktu di pondok pesantren beserta keluarganya.
Aku dan Ibuku kaget akan kedatangan mereka.
Tak disangka maksud kedatangan
mereka ke sini tak lain untuk melamarku untuk anaknya yang baru saja pulang
menuntut ilmu dari Kairo, aku baru tahu
ternyata Pak Ustadz mempunyai pemuda laki-laki yang waktu itu bertemu denganku
di masjid, rupanya dia pun terpesona padaku. Pak kyai sudah kenal denganku
sehingga dirasa tak perlu ta’aruf terlebih dahulu. Tanpa fikir panjang lagi,
dengan ucapan Bismillah Ibuku pun mengiyakan. Segeralah direncanakan tanggal
pernikahan kami.
Alhamdulillah akhirnya aku akan
menikah dengan seorang anak ustadz, ini merupakan sebuah impianku dari dulu.
Kalau sudah begini rasanya aku seperti terbebas dari kejaran mantanku lagi.
Perusahaan bapakku nantinya akan dipegang oleh suamiku dan aku tidak perlu
kuliah lagi, aku tinggal fokus mengurus keluarga yang juga merupakan ibadah.
Terkadang
kita lupa bahwa Allah tidak pernah lupa kepada hamba-Nya, jadi kita harus
selalu melibatkan Allah dalam segala urusan hidup, In Syaa Allah hasilnya tidak
akan mengecewakan, selalu ada kejutan dari Allah yang lebih baik daripada apa
yang kita rencanakan. Segala sesuatu yang diniatkan karena Allah itu pasti baik
walau harus mengorbankan apa yang kita sukai, tapi percayalah semua itu akan
digantikan dengan sesuatu yang lebih indah.








0 komentar:
Posting Komentar