Sabtu, 20 Juni 2020

Masa Depanku, Tak Seabu-abu seragam SMA

Di penghujung masa putih abu-abu ini, kebimbangan kerap kali menghampiri para siswa yang hendak masuk ke perguruan tinggi tak terkecuali aku. Pertanyaan demi pertanyaan terlontar dari mulut orang tua yang ingin perjalanan hidup anaknya terarahkan, namun tak satu pun kepastian yang aku berikan. Sebenarnya di benakku banyak terlintas rencana-rencana kecil mengenai masa depanku.
        “Frisya, kamu mau kuliah di mana? Kalau mau kuliah jangan asal pilih jurusan biar ke depannya kamu ngga bingung nyari pekerjaan”. Tanya Ibuku sambil melipat baju jemuran.
        “Frisya masih bingung bu, untuk universitasnya cari yang deket aja biar Frisya bisa  sering pulang nengokin Ibu”. Sahutku dengan santai. 
        “Ya sudah kalau begitu coba fikirkan baik-baik, sekarang sudah malam. Ibu tidur dulu, sudah ngantuk”. Pamit Ibuku, aku sangat menyayangi sosok Ibuku yang selalu ada untuk anaknya. Rasanya aku ingin menjadi Ibu rumah tangga yang serius mengurus keluarga, tapi di sisi lain aku juga ingin menjadi wanita karir.
        Jarum jam sudah menunjukkan pukul 22:00, aku masih terjaga di tempat tidur karena memikirkan keputusan jurusan mata kuliah yang harus aku laporkan ke guru BK besok, hampir saja aku berfikir untuk tidak kuliah tahun ini karena aku mempunyai mimpi menjadi seorang hafidzah. Aku harus memikirkan nasibku di akhirat kelak, selama ini aku terlalu disibukkan oleh urusan dunia, sering pulang malam karena kegiatan ekstrakulikuler atau kerja kelompok sehingga tidak sempat tadarus magrib, mengobrol dengan orang tua pun hanya beberapa menit saja karena sesampainya di rumah aku harus mengerjakan PR bahkan tak jarang aku segera tertidur kelelahan. Rasanya jauh dengan Al-Qur’an, jauh dengan keluarga, dan yang paling aku khawatirkan adalah jauh dengan Allah. Padahal Allah sudah memberi segala yang aku inginkan di dunia ini, tapi hanya sedikit waktu saja yang aku sempatkan untuk beribadah kepada-Nya. Rasanya aku sangat merasa bersalah akan kelalaianku selama ini sehingga aku ingin fokus mendekatkan diri kepada Allah di waktu satu tahun ke depan, karena kematian tak ada yang tahu datangnya kapan, aku harus mempersiapkannya dengan matang agar siap kapan pun aku dipanggil Sang Khalik.
        Tak perlu menunggu lama aku segera mencari info pesantren tahfidz yang mengadakan program hafal Al-Qur’an satu tahun dengan ponselku, di tengah-tengah pencarianku tiba-tiba ada pesan.
“Assalamu’alaikum Frisya”. Sapa mantanku yang sudah jarang aku hubungi, aku sedikit kesal untuk apa dia tiba-tiba muncul ke kehidupanku lagi setelah sekian lama aku berhasil melupakannya. Rasa sakit hati ketika melihat ia bersama pacarnya selepas aku memutuskannya untuk berhijrah masih membekas hingga kini. Dia sudah bersama pacarnya yang baru tapi akhir-akhir ini dia sering memberiku salam, aku tak mengerti apa maksudnya, meski begitu aku selalu menjawab salamnya karena itu merupakan kewajiban.

“Lepaskanlah. Maka besok lusa, jika dia cinta sejatimu, dia pasti akan kembali dengan cara mengagumkan”
~Rindu, Tere Liye~

“Wa’alaikumussalam Zafran”. Entah yang kulakukan ini benar atau salah yang jelas sikapku ini seolah menunukkan bahwa aku masih mau menerima kehadirannya di sini, aku hanya tak ingin memutuskan tali silaturahimku dengannya tapi dengan batasan-batasan tertentu.
Aku melanjutkan pencarian info pesantren tadi dan akhirnya aku menemukan di luar kota, biayanya cukup fantastis tapi itu tidak seberapa dibanding  ilmu yang In Syaa Allah nanti aku dapatkan. Selama ini manusia  berani membayar mahal untuk menonton hiburan atau kegiatan foya-foya yang lain yang kurang bermanfaat, namun untuk pendidikan yang jelas-jelas sebagai modal kesuksesan di masa depan manusia sering merasa keberatan. Tapi masih ada jalan lain supaya aku bisa masuk pesantren yaitu dengan beasiswa. Semoga Ibuku setuju.
Keesokan harinya.
Hangat mentari pagi membangunkan semangatku. Kemacetan hari senin tak membuatku putus asa untuk tetap menuju sekolah, sesampainya aku di sana dikejutkan oleh guruku yang mengabarkan bahwa ada kesempatan kuliah di Jepang, aku sempat tertarik karena nilaiku lumayan bisa bersaing dengan orang-orang di luar sana.  Entahlah aku bimbang, aku hanya memberitahukan bahwa aku tidak jadi mendaftar SNMPTN kepada guruku.
Sepulang sekolah aku dijemput oleh ibu dengan mobil. Di dalamnya sudah ada cindy, adikku.  Aku pun melambaikan tangan dan melempar senyum manis kepadanya. Setelah masuk kedalam mobil dan turut duduk dengan manis disebelah adikku. Ibu pun langsung menancapkan kaki ke pedal gas mobilnya, mobil pun berjalan meninggalkan sekolahan.
Jarak rumahku dengan sekolah cukup jauh. Butuh waktu setengah jam perjalanan. Karena itu ditengah perjalanan aku dan cindy akan melihat banyak hal. Mulai dari berbagi jenis kendaraan, berbagai jenis toko dan berbagai jenis jajanan. Setiap kali melihat jajanan aku  dan cindy akan kompak membujuk Ibu agar mau membelikannya untuk kami. Namun Ibu bukan sosok yang mudah dibujuk, terutama perihal jajan di pinggir jalan. Ibu selalu melarang aku dan cindy membeli jajanan seperti itu. Menurut Ibu banyak hal yang membuat makanan tersebut tidak sehat. Mulai dari tidak higienis hingga tidak jelasnya bahan yang digunakan. Tapi ada satu jajanan yang tidak bisa ditolak ibu jika aku dan cindy memintanya yaitu satai telur gulung mang taher. Ibu sangat tahu betapa higienis dan sehatnya makanan yang dibuat oleh mang taher, karena itu Ibu tak akan melarang mereka memintanya. Begitu pula dengan hari ini. Aku dan cindy meminta Ibu membelikan mereka satai telur gulung. Mereka pun mendapat bagian masing-masing 1 kotak besar, mereka cicipi satu persatu sembari menikmati perjalanan pulang. Tak beberapa lama, tiba-tiba cindy menarik lengan bajuku dan berkata
"Kak...kak. minta punya kakak dong!"
Aku terkejut mengetahui cindy sudah menghabiskan jajanannya begitu cepat langsung menolak permintaan sang adik.
"Gak mau! Punyamu kan sudah habis. Jatah kakak jangan diminta juga dong."
Mendengar bentakan dan penolakan dari sang kakak, cindy pun terdiam. Tak berapa lama cindy menangis dengan suara begitu keras
"Huaa Ibuuu Ibuu Kakak jahat, Bu huaaa."
Demi menenangkan cindy, Ibu memintaku untuk mengalah kepada adiknya.
"Frisya...ayo kasih adik setusuk.masa kakak tega adiknya nangis?"
 Luluh dengan bujukan sang ibu, aku pun mengalah.
"Iya..iya..iyaaa.ini kamu boleh ambil satu tusuk."
Setelah melahap satu tusuk satai telur gulung si kakak, tangisan cindy berangsur-angsur berhenti. Namun tak berapa lama setelah menghabiskan satai telur gulung pemberian kakaknya tadi, cindy kembali meminta jatah kakaknya.
"Kak...cindy mau lagi!"        
 Meski mulai kesal aku tetap mencoba bersabar dengan tingkah adiknya.
"Iya..iya.nih"
Ternyata tak berhenti di situ. Cindy melakukan hal yang sama berulang-ulang, hingga akhirnya aku benar-benar marah. Mereka pun mulai beradu mulut.
"Ah, kamu kok gitu!"
"Satu lagi aja,kak."
"Dari tadi juga gitu, satu lagi kak..satu lagi kak."
"Hua...buuu kakak jahat!"
 Mendengar pertengkaran anak-anaknya. Ibu kini menasihati keduanya.
"Cindy gak boleh gitu sayang. Jatahnya cindy dan kakak itu sama banyak loh. Kakak juga udah ngasi tambahan buat cindy. Masa cindy minta lagi? Frisya juga, udah tau adiknya doyan, makannya jangan dipelan-pelanin. Entar yang susah kamu juga."
Aku yang mendengar pun marah karena menurutku aku tak bersalah. Aku tak menanggapi perkataan Ibu dan hanya diam membisu. Hingga sampai di rumah pun, Aku tak kunjung berbicara, aku lebih memilih diam dan mengunci diri di dalam kamar.
Tak berapa lama. Dari jendela kamarnya, ia melihat seekor burung mondar-mandir di sebuah pohon. Aku pun mendongakkan wajah keluar jendela agar dapat melihat burung tersebut lebih dekat. Dari sana aku dapat melihat dengan jelas. Seekor Ibu burung mondar-mandir di sebuah pohon untuk merajut sarangnya. Tak cukup sampai di situ. Aku juga melihat sang Ibu burung mengais-ngais tanah untuk mengambil beberapa ekor cacing. Namun aku tak melihat Ibu burung tersebut memakan cacing buruannya. Setelah mengumpulkan cukup banyak si Ibu burung mengangkut cacing-cacing itu ke sarangnya. Ternyata di dalam sarang itu ada beberapa anak burung yang masih tanpa bulu memekik-mekik tidak karuan. Lalu sang induk menyuapi satu persatu anaknya dengan cacing yang telah ia kumpulkan tadi. Aku belum melihat Ibu burung tersebut memakan buruannya. Hingga cacing itu habis barulah sang Ibu burung tersebut terbang jauh entah kemana. Untuk beberapa saat, aku termenung akan sesuatu yang dilihatnya tadi. Aku merasa sangat bersalah telah marah kepada Ibu. Aku tak dapat menghabiskan satai telur gulung milikku karena terus dimintai oleh adikku. Namun aku tak sadar jangankan untuk menghabisi, untuk mencicipi satu tusuk saja Ibuku tak bisa. Aku pun berlari menemui Ibunya. Sembari mengeluarkan air mata Aku berujar.
"Bu, Frisya minta maaf. Frisya salah sama ibu. Padahal Ibu udah bersikap adil sama Frisya dan Cindy."
“Baiklah, sudah Ibu maafkan, Ibu mengerti”.
Hening... sunyi kembali menyelimuti hatiku, malam ini udara terasa sangat dingin sampai menusuk kedalam rusuk-rusuk tulangku.
“Ada apa Frisya, mengapa kau terlihat sangat murung?” itu suara Ibu, suara yang akhirnya membuatku terbangun dari lamunan yang sedari tadi menguasai diriku. Aku tak tahu harus mengatakan apa padanya, rencana yang kubuat dengan sedemikian rupa indahnya kini harus berada pada ujung tebing yang curam.
“Tak apa-apa bu.” Ucapku sambil tersenyum, aku tau ibu khawatir dengan keadaanku beberapa hari terakhir, lebih tepatnya saat bapak telah pergi meninggalkan kami untuk selama nya. Tanggung jawab yang dulu diembannya kini dialihkan sepenuhnya padaku.
“Apa kau masih memikirkan amanat bapak ketika itu Frisya?” tanya Ibu yang sepertinya paham apa yang membuatku gundah sekarang.
Jujur saja, amanat yang Bapak alihkan padaku itu sungguh berat. Bukan aku tak mau, hanya saja aku takut aku tak mampu menjaga amanat yang Bapak berikan padaku. Tahun ini aku harus kuliah, melanjutkan pendidikanku. Tapi bagaimana dengan impianku menjadi seorang hafidzah, hanya aku yang tersisa bagi mereka. Terlebih aku adalah anak pertama, harapan pertama bagi mereka, jadi pendidikanku harus betul-betul bagus prospeknya. Aku pun mengutarakan keinginanku.
“Bu, kalau Frisya mau ke pesantren dulu boleh ngga? Kan buat kebaikan Ibu sama Bapak juga, biar nanti Frisya bisa ngasih tiket ke surga di akhirat kelak”. Jelasku pelan.
“Kalau Ibu sih setuju saja jika kamu maunya begitu. Sebenarnya Bapakmu juga dulu pernah bercerita kepada Ibu bahwa beliau ingin kamu menjadi seorang penghafal Al-Qur’an, namun setelah dipertimbangkan lagi, siapa nanti yang akan melanjutkan perusahaan bapakmu?  Kamu juga kan berkemampuan, sayang kalau tidak dimanfaatkan”. Ujar perempuan lembut yang bergelar Ibu itu.
“In Syaa Allah Bu, Frisya juga akan bertanggung jawab akan amanat itu. Nanti setahun kemudian baru Frisya kuliah. Sebenarnya Frisya juga ditawarkan oleh guru untuk daftar beasiswa kuliah ke Jepang, tapi Frisya tidak bisa jauh dari Ibu, untuk apa Frisya jauh-jauh mencari surga di luar sana kalau surga di rumah Frisya abaikan”. Tuturku sambil berkaca-kaca.
Ibuku hanya bisa memelukku hangat, tak mampu menjawab sepatah kata pun untuk mengutarakan kasih sayangnya. Ternyata diam-diam Ibuku menangis terharu mendengar penjelasanku.
Aku masih betah berlama-lama di sini, bermain bersama angin malam yang membelai lembut tubuhku, berbincang dengan serangga-serangga malam yang sangat gaduh seperti memperebutkan sesuatu.
Beberapa hari kemudian, tiba saatnya aku mengikuti seleksi masuk pesantren tahfidz yang aku impikan untuk meringankan beban ekonomi keluargaku, aku percaya selalu ada jalan bagi hamba-Nya yang mau berusaha.
Tahap pertama aku menjalani tes  baca Al-Qur’an,  cukup gugup memang tapi Alhamdulillah aku dinyatakan lolos pada tahap itu. Tahap kedua ada tes hafalan juz 30, untung saja di sekolahku sudah disuruh menghafalnya jadi aku tidak khawatir menghadapinya, dan Alhamdulillah aku lolos pula. Tinggal tahap terakhir yakni tes tulis, pertanyaannya seputar tajwid dan sejarah kebudayaan Islam. Namun aku terkejut dengan lembar terakhir berisi biodata yang harus diisi, setelah selesai mengisi semua poin biodata tiba-tiba terdapat poin “Tuliskan tanggal wafat anda!” semua peserta terlihat bingung juga maksudnya apa, aku hanya mengisi sepenafsiranku. Aku yakin ini perintah penting untuk menguji kami.
Akhirnya tes tersebut selesai, selang beberapa jam tiba waktunya pengumuman siapa saja peserta yang lolos. Semua peserta dikumpulkan dalam  satu ruangan, panitia segera mengumumkan hasilnya. Aku tak menyangka berada di urutan pertama dari 100 pendaftar. Aku pun disuruh maju ke depan untuk menjelaskan mengapa aku mengisi biodata absurd tadi, karena peserta lain tidak ada yang bisa menjawabnya.
“Kepada sodari Frisya, mohon jelaskan alasan anda menuliskan tanggal esok hari di tanggal anda akan wafat!”. Kata MC dengan tegas.
“Baik, sebelumnya terima kasih. Alasan saya demikian karena seorang muslim yang menganggap hari esok ia meninggal dunia, pasti ia akan berbuat yang terbaik hari ini. Sesuai Hadis Nabi yang berkata

“Beramallah untuk duniamu seolah engkau akan hidup selamanya, beramallah untuk akhiratmu seolah engkau akan mati esok hari”
(HR. Ibnu Asakir)
 


Jawabku dengan yakin, sontak semua peserta tepuk tangan akan apa yang aku katakan barusan padahal aku merasa mereka pun lebih tahu akan hadis itu.
“Itu jawaban yang selama ini saya harapkan dari semua peserta. Namun baru kali ini ada siswa yang bisa menjawabnya dengan baik. Alasan saya membuatnya yakni untuk mengetahui seberapa banyak kalian mengingat kematian dan mengamalkan ilmu yang kalian miliki, agar kalian selama menuntut ilmu di sini tak ada istilah menyia-nyiakan hari ini dengan alasan masih ada hari esok”. Sahut Pimpinan Ponpes  Tahfidz itu.
Semenjak itu aku resmi menjadi santri di sana, Ibuku begitu bangga putrinya bisa sehebat itu.
Beberapa tahun kemudian..
        Hari ini adalah tiba saatnya wisuda para santri tahfidz, Ibu dan Adikku juga datang ke acara ini. Para santri dan santriwati diberi mahkota oleh orang  tuanya masing-masing, sebagai simbol rasa kebanggaan orang tua terhadap anaknya. Ibuku berkata sambil menaruh mahkota tersebut di kepalaku
“Selamat ya nak, semoga nanti di akhirat kamu yang memakaikan mahkota dan jubah kebesaran ini untuk Ibu sama Bapak di akhirat kelak”. Harap Ibuku romantis.
“Aamiin”. Jawabku sambil memeluk tubuhnya yang hampir sama tingginya denganku, tak terasa tetesan air mata telah membasahi kerudung biru yang dikenakan Ibu.
Di acara itu tiba-tiba datanglah Zafran yang ternyata menghadiri acara wisuda tanpa sepengetahuanku, dengan kemeja putih elegan membuat penampilannya tampak menarik hari ini.
“Assalamu’alaikum, apa kabar Bu?”. Sapanya sambil mencium tangan Ibuku, rupanya Ibuku masih mengenalnya.
“Wa’alaikumussalam, Alhamdulillah baik. Nak Zafran sendiri bagaimana?”. Ibuku ramah.
“Alhamdulillah baik juga, oh iya ini ada sedikit bingkisan untuk Frisya, maaf cuma bisa ngasih ini”. Sambil menyodorkan bucket bunga mawar  putih kepadaku.
“Alhamdulillah terima kasih Zafran, ngga usah repot-repot kok datang ke sini aja udah seneng”. Sambutku dengan ceria karena masih terbawa suasana tadi.
“Ciee Kakak siapa tuh”. Sambar Adikku menyebalkan.
“Ih Ade apa sih bukan siapa-siapa Cuma temen kok”. Sanggahku dengan malu. Sontak kami jadi tertawa kecil karena momen ini.
Kami diantar pulang oleh Zafran, entah mengapa Ibu dan Adikku terlihat begitu akrab dengan Zafran sampai sepanjang perjalanan tak henti-hentinya kami berbincang-bincang hingga tertawa, memang Zafran mempunyai sifat humoris.
Tiba-tiba di tengah perjalanan, Ibuku terkena serangan jantung dan segera dilarikan ke rumah sakit. Adikku segera mengurus administrasi sementara aku dan Zafran menunggu di depan ruang UGD.
“Yang sabar ya Frisya, In Syaa Allah Ibumu baik-baik saja”. Zafran berusaha menenangkan.
“Iya, terima kasih. Aamiin semoga Ibu tidak kenapa-napa”. Jawabku sembari tersenyum kecil.
“Tadinya aku mau melamar kamu hari ini, tapi berhubung keadaan Ibumu sedang seperti ini, sepertinya rencanaku harus ditunda dulu”. Ungkap Zafran dengan nada kecewa.
“Apa? Kamu serius? Secepat ini? Mengapa kamu begitu yakin denganku padahal kamu sedang menjalin komitmen dengan perempuan lain yang bernama Nisa itu?”. Pandanganku langsung tertuju padanya, melontarkan banyak pertanyaan berturut-turut dengan nada seperti marah.
“Iya aku serius, kok kamu kaya ngga suka gitu sih. Memangnya kenapa bukankah aku juga dulu ketika kita masih pacaran pernah berjanji akan melamarmu? Soal Nisa aku..”
“Maaf apakah kalian keluarganya Ibu Siti?”. Tiba-tiba dokter memotong obrolan kami.
“Iya betul dok ada apa dengan Ibu saya?”. Aku sangat khawatir.
“Ibu anda baik-baik saja tadi hanya ada sedikit penyumbatan pembuluh darah tapi sekarang sudah normal kembali dan belum sadarkan diri. Mungkin perlu dirawat hingga nanti malam agar kondisinya benar-benar stabil”. Jelas sang dokter yang cantik itu.
“Alhamdulillah, terima kasih dok”. Ucap Zafran sambil mengusap kedua tangan ke wajahnya.
“Sama-sama, permisi”. Pamit dokter.
“Kalau begitu aku pamit pulang dulu ya, maaf kalau kata-kataku tadi membuat kamu merasa tidak nyaman”. Zafran merasa bersalah.
“Oh iya silakan, tenang aja masalah yang tadi aku juga minta maaf. Makasih udah nemenin keluargaku hari ini”.
“Sama-sama, Assalamu’aikum”.
“Wa’alaikumussalam”.
Keesokan harinya aku harus kembali ke pondok pesantren untuk mengambil ijazahku. Terlihat muda-mudi berbusana rapi berlalu lalang di sekitar halamannya. Tiba-tiba terdengar merdu suara adzan, aku segera mendatangi masjid untuk sholat dzuhur. Aku rindu suasana pesantren, bilamana iqomat sudah dikumandangkan para jamaah segera merapatkan saf dan menempelkan bahunya satu sama lain seolah tiada rasa canggung meskipun kami tidak saling mengenal, sangat terasa sekali persaudaraan di antara para santri, akankah suasana seperti ini akan kudapatkan di tempat lain?.
Seusai shalat selesai aku bergegas menuju ruang TU untuk mengambil ijazah Tahfizhku, saat sedang memakai sepatu tiba-tiba ada seorang laki-laki berpeci putih menghampiriku.
“Maaf ukhti, boleh tolong ambilkan sandal saya yang terhalang oleh ukhti?”. Pintanya dengan sopan.
“Oh iya silakan maaf ya”.
Ia pun langsung pergi, namun ia  sempat menoleh ke arahku dengan wajah tersenyum sambil menganggukkan kepala pertanda terima kasihnya. Aku pun refleks membalas senyumannya, tak lama aku segera tersadar dan beristighfar karena telah terpesona oleh ketampanannya, karena sekian lama aku di pondok ini aku belum pernah melihat laki-laki itu, aku mengira mungkin dia santri baru di sini.
Beberapa minggu kemudian aku sedang sibuk mencari info masuk UIN jalur tahfidz melalui ponselku, yang katanya penghafal Al-Qur’an bisa mendapatkan beasiswa di sana, Ibuku tengah terduduk menonton TV di ruang keluarga bersamaku. Tiba-tiba ada sebuah mobil baru terparkir di depan rumahku, setelah dilihat dari jendela ternyata itu adalah ustadz yang mengajariku sewaktu di pondok pesantren beserta keluarganya. Aku dan Ibuku kaget akan kedatangan mereka.
Tak disangka maksud kedatangan mereka ke sini tak lain untuk melamarku untuk anaknya yang baru saja pulang menuntut ilmu  dari Kairo, aku baru tahu ternyata Pak Ustadz mempunyai pemuda laki-laki yang waktu itu bertemu denganku di masjid, rupanya dia pun terpesona padaku. Pak kyai sudah kenal denganku sehingga dirasa tak perlu ta’aruf terlebih dahulu. Tanpa fikir panjang lagi, dengan ucapan Bismillah Ibuku pun mengiyakan. Segeralah direncanakan tanggal pernikahan kami.
Alhamdulillah akhirnya aku akan menikah dengan seorang anak ustadz, ini merupakan sebuah impianku dari dulu. Kalau sudah begini rasanya aku seperti terbebas dari kejaran mantanku lagi. Perusahaan bapakku nantinya akan dipegang oleh suamiku dan aku tidak perlu kuliah lagi, aku tinggal fokus mengurus keluarga yang juga merupakan ibadah.
        Terkadang kita lupa bahwa Allah tidak pernah lupa kepada hamba-Nya, jadi kita harus selalu melibatkan Allah dalam segala urusan hidup, In Syaa Allah hasilnya tidak akan mengecewakan, selalu ada kejutan dari Allah yang lebih baik daripada apa yang kita rencanakan. Segala sesuatu yang diniatkan karena Allah itu pasti baik walau harus mengorbankan apa yang kita sukai, tapi percayalah semua itu akan digantikan dengan sesuatu yang lebih indah.

0 komentar:

Posting Komentar