Di sebuah desa hiduplah seorang anak laki laki
yang bernama Sulaiman. Ia dibesarkan oleh kedua orang tuanya. Ia sangat berbakti
kepada kedua orang tuanya, rajin beribadah, dan dermawan.Kegiatan
sehari-harinya membantu orang tua dengan mengembala hewan ternak milik tetangga.
Sesekali ia menyempatkan waktunya untuk membaca al-quran di tengah kesibukannya
menggembala hewannya. Ketika usianya menginjak 10 tahun Sulaiman menjadi
seorang pedagang dengan menjual ayam. Usaha yang ia lakukan selama ini
memberikan hasil yang positif, ia mampu membiayakan kebutuhan hidup
keluargannya.Ketika ia mulai menginjak usia 20 tahun, ia pun mampu mendirikan
rumah yang pantas untuk ia dan keluargannya tempati dengan hasil kerja kerasnya
sendiri.
Suatu hari ketika ia sedang berjalan menuju tempat mengembalannya di tengah perjalanan ia melihat segerombolan para prajurit melintas di depannya. Para prajurit itu ternyata sedang melakukan sayembara untuk menemukan putri raja yang hilang. Sayembara itu berbunyi ”Barang siapa yang menemukan putri raja jika ia seorang perempuan maka akan dijadikan saudara dan jika ia adalah seorang laki-laki muda ia akan di jadikan seorang suami dan jika ia adalah seorang orang tua ia akan mendapat hadiah sebesar 500 keping emas”.Ketika Sulaiman mendengar sayembara itu ia langsung memikirkan bagaimana caranya untuk menemukan putri rajaa yang hilang.
Setelah para prajurit itu melewati Sulaiman, ia
pun melanjutkan perjalanannya. Sesampainya di sana ia melihat seekor kambing
yang terlihat memisah dari gerembolan kambing lain.Lantas ia pun mengejar
kambing tersebut, di tengah pengejaran tanpa sengaja ia melihat seorang gadis
di pinggir sungai yang tengah duduk hanya seorang diri. Sulaiman pun
menghampiri gadis tersebut dan berkata,
”Sedang apa kamu
sendirian di sini ?”Tanya sulaiman.
“Siapa kamu? Jangan mendekat.” Kata
gadis tersebut.
“Tidak baik seorang perempuan berdiam
seorang diri”. Sulaiman memperingati
“Aku adalah seorang putri. Aku pergi dari istana karena ingin dijodohkan dengan
laki-laki yang tidak ku suka”. Jawab gadis tersebut.
“Kamu seorang putri raja? Baiklah putri, perkenalkan nama ku adalah Sulaiman.”
Sulaiman memperkenalkan diri.
“Sulaiman, perkenalkan nama ku adalah Anadailana”. Kata
Putri.
Mereka berdua pun berbincang-bincang sehingga timbul rasa
saling suka diantara keduanya.Sulaiman pun membawa gadis tersebut untuk ikut
mengembala bersamannya. Perasaan yang dirasakan gadis tersebut sangat nyaman
dan ceria selama dekat dengan Sulaiman.Hari mulai petang,Sulaiman pun membawa
hewan ternaknya ke rumah majikannya.
“Hari sudah mulai petang,kenapa kamu tidak pulang ke istana?”Tanya sulaiman
“Aku tidak ingin pulang, bolehkan aku ikut bersamamu saja?” Minta Anadaila
“Baiklah mari ikut denganku”Jawab Sulaiman.
Sulaiman pun mengajak Anadailana untuk tinggal
di rumahnya. Di tengah perjalanan menuju rumahnya ia melihat seekor ayam yang
terperosok ke dalam selokan.Lantas ia pun membantu ayam tersebut keluar selokan
dan Sulaiman bersedia merawat ayam tersebut.
Keesokan harinya di pagi hari Sulaiman seperti
biasa berjualan di pasar. Ketika sedang berjualan Sulaiman melihat segerombolan
prajurit berkuda yang menempelkan kertas sayembara. Sulaiman membaca kertas
tersebut dan ternyata isinya masih sama seperti sayembara yang pernah ia dengar
ketika di perjalanan pada waktu itu. Sulaiman pun langsung dengan Anadailana,
seorang putri raja yang menjadi bahan sayembara tersebut. Sulaiman segera
berlari menuju rumahnya untuk mencari Anadailana. Sulaiman berfikiran untuk
dapat menikahi Anadailana. Sesampainya di rumah, Sulaiman langsung menyatakan cinta kepada
Anadailana.Anadailana yang mendengar pernyataan Sulaiman merasa terkejut
sekaligus senang, dan akhirnya Anadailana menerima cinta Sulaiman. Setelah itu,
Sulaiman pun membawa Anadailana menuju istana.
Dua bulan berlalu tiba saatnya Sulaiman
menikahi Anadailana. Karena Sulaiman sudah menjadi suami dari seorang putri
raja, maka tahta Raja pun diwariskan kepada Sulaiman. Kehidupan yang kini
dijalaninya sangatlah berbeda dengan kehidupan dulunya. Kini hidup Sulaiman
sudah jauh lebih mewah dibandingkan sebelumnya. Namun, karena kemewahan itulah
Sulaiman menjadi lupa akan kewajiban yang ia jalani untuk beribadah seperti
sholat lima waktu, membaca al-quran, dan lainnya. Sulaiman juga sudah tidak
menjadi seorang yang dermawan seperti dulu, ia menjadi lebih pelit akan harta
yang ia punya untuk diberikan kepada orang yang membutuhkan. Ia juga jarang
mengunjungi rumah dulunya untuk sekedar melihat keadaan kedua orang tuanya
karena orang tua Sulaiman tidak ingin tinggal di tempat yang ditinggali oleh
Sulaiman. Ketika Sulaiman menginjak usia 30 tahun, kedua orang tuanya pun
meninggal dunia. Sulaiman merasa sedih dan bersalah akan perbuatannya kepada
kedua orang tuanya.
Kepergian orang tua Sulaiman tidak membuat diri
Sulaiman berubah, dia semakin menjadi seorang Raja yang tidak memperdulikan
rakyatnya, bertindak semena-mena, menyalahgunakan kekuasaannya yang membuat
kerugian besar bagi rakyatnya. Ia tidak membantu sedikit pun kesulitan dan
penderitaan yang dialami rakyatnya ketika mengalami bencana alam. Sulaiman juga
sangat angkuh terhadap harta kekayaannya. Dia membangga-bangga apa yang
dimilikinya kepada raja-raja dari kerajaan lain bahwa dialah raja yang paing
kaya.
Sulaiman juga mengadakan tradisi sabung ayam.
Ia mengajak raja-raja dari kerajaan lain untuk mengikuti tradisi kerajaannya
secara paksa dengan tujuan untuk mempererat tali persaudaraan antar kerajaan
yang pada nyatanya hanya untuk menguras harta kekayaan dari kerajaan lain
karena kalau mereka kalah mereka harus membayar denda yang telah ditentukan
Sulaiman. Jika ada raja yang tidak mengikuti tradisinya maka kerajaan tersebut
akan dibakar oleh Sulaiman. Sulaiman sebenarnya tahu bahwa sabung ayam
merupakan perbuatan yang dilarang oleh Allah karena dapat menyakiti hewan dan
menimbulkan permusuhan. Namun ia tetap melakukannya karena membuatnya untung
besar.
Sifat Sulaiman yang seperti itu sangat dibenci
oleh raja-raja lain, bahkan dengan rakyatnya sendiri. Mereka berfikir bahwa
Sulaiman tidak pantas menjadi seorang Raja. Tetapi mereka juga tidak dapat
melakukan apa-apa karena kekuasaan Sulaiman sangatlah besar, ia dapat melakukan
apapun semaunya.
Sudah hampir dua tahun berlalu sejak pernikahan
Anadailana dan Sulaiman, mereka belum di karunia seorang anak. Hingga akhirnya
Sulaiman dan Anadailana mengangkat seorang anak laki-laki untuk dijadikan
penerus raja nanti. Anak itu diberi nama Arthur Sulaiman.
Arthur disayang dan dirawat dengan sangat baik
oleh Anadailana. Sulaiman juga sesekali menjaga dan merawat Arthur dengan penuh
kasih sayang. Mereka sudah menganggap Arhur seperti anak kandungnya sendiri.
Pada saat Arthur berusia 3 tahun, Anadailana
mengandung. Ia dan Sulaiman merasa sangat senang sekali karena pada akhirnya
mereka dikarunia i anak. Ternyata anak yang dikandung Anadailana juga seorang
laki-laki. Setelah lahir, anak tersebut diberi nama Ananta Sulaiman.
Arthur sebagai kakak angkat merasa sangat
senang karena dia memiliki seorang teman. Arthur menyayangi Ananta dan
menganggapnya seperti adik kandungnya sendiri. Mereka bermain berasama, belajar
bersama, dan melakukan apapun berama-sama. Sulaiman dan Anadailana yang melihat
kebersamaan mereka sangat bahagia
Pada awalnya Sulaiman dan Anadailana tidak
membedakan Arthur dan Ananta sebagai anak kandung dan anak angkat. Tetapi saat
Arthur dan Ananta mulai dewasa, Sulaiman mulai memikirkan siapakah diantara
mereka yang pantas untuk menduduki tahtanya. Sulaiman mulai berpikir keras
tentang apa cara yang harus digunakan untuk dapat menentukan siapakah raja
berikutnya.
Disamping itu, Anadailana yang mengetahui niat
Sulaiman sedikit takut dan khawatir. Ia takut Sulaiman menggunakan cara yang
dapat memecahkan persaudaraan diantara anak-anaknya. Karena selama ini
Anadailana tahu tentang betapa kerasnya perbuatan dan sifat Sulaiman. Ia tahu bahwa
suaminya itu telah berubah dari sebelumnya semenjak ia menjadi seorang raja.
Tetapi Anadailana tidak dapat berbuat apa-apa karena dia juga sangat mencintai
Sulaiman. Selain itu,kehadiran Arthur dan Ananta juga membuat sifat Sulaiman
menjadi sedikit lebih lembut. Ia jadi peduli terhadap rakyat-rakyatnya
waalaupun sesekali ia masih perhitungan akan harta kekayaan yang dimilikinya.
Pada akhirnya Sulaiman mengetahui bagaimana
cara ia dapat menentukan siapakah yang pantas menduduki tahtanya. Sulaiman
melakukan hal itu karena sejujurnya Sulaiman menyayangi keduanya sehingga ia
tidak dapat memilih langsung tanpa ada cara yang harus dilakukan.
Cara yang ia gunakan adalah sabung ayam.
Sulaiman menggunakan cara itu dengan tujuan agar dia mengetahui siapa yang terkuat
diantara mereka dan siapa yang berpikir lebih bijak diantara mereka, tanpa
Sulaiman ketahui bahwa cara yang ia pilih bisa saja menyakiti anak-anaknya.
Selain itu, alasan Sulaiman menggunakan cara ini adalah untuk meneruskan
tradisi yang disukai olehnya. Anadailana yang mengetahui hal itu merasa
terkejut, ia sempat meminta kepada suaminya untuk mencari cara lain tetapi
hasilnya nihil. Sulaiman tetap pada cara yang ia pilih, yaitu pertandingan
sabung ayam.
Saat Arthur dan Ananta diberi tahu mengenai
pertandingan sabung ayam yang harus mereka lakukan mereka pun sama terkejutnya
dengan ibunya, Anadailana. Selain karena mereka tidak tahu bagaimana cara
melakukannya, mereka juga tidak menyukai
tradisi itu. Arthur dan Ananta sempat ingin menolak tetapi setelah mereka tahu
bahwa permintaan sang ibu juga tidak diterima oleh ayahnya maka mereka pun
dengan terpaksa menerima titah itu. Selain itu, mereka juga ingin membalas
semua kasih sayang dan pemberian yang telah ayahnya lakukan kepada mereka.
Setelah Sulaiman mendapat kabar bahwa
anak-anaknya sanggup menerima titahnya maka Sulaiman pun memerintahkan
seseorang di kerajaan untuk membeli dua ayam dengan jenis yang sama untuk
diberikan kepada Arthur dan Ananta untuk pertandingan nanti karena sejujurnya
Sulaiman sangat menyayangi keduanya sehingga ia harus adil dalam mengambil
keputusan. Apa yaang dilihat dari sabung ayam bukanlah ayamnya tetapi bagaimana
pemiliknya dapat menyusun strategi untuk memenankan pertandingan dan mematikan
lawan. Sulaiman juga memerintahkan kepada seseorang di
kerajaannya untuk mencari pembimbing yang handal untuk Arthur dan Ananta.
Sehingga mereka dapat belajar bagaimana taktik yang harus mereka gunakan dalam
pertandingan.
Hari pelatihan pun tiba, Arthur dan Ananta
sudah mendapatkan ayam pemeberian Sulaiman dan pembimbing yang di percayanya.
Mereka berlatih di beda tempat agar tidak ada kecurangan. Tetapi ternyata salah
satu diantara pembimbing mereka adalah orang yang memiliki dendam dengan ayah
mereka, Raja Sulaiman. Pembimbing itu bernama Bima. Ia merupakan pembimbing
dari Ananta. Ia memiliki misi untuk menghancurkan kerajaan itu dengan cara
memecah belah persaudaraan antara Arthur dan Ananta. Ia berniat menghasut
Ananta untuk membenci Arthur. Dengan segala taktiknya ia mencoba memberikan berita
bohong Arthur kepada Ananta secara perlahan seiring berjalannya pelatihan.
“Aku ingin memberi tahu pangeran sesuatu, apakah
diizinkan?” tanya Bima
“Apa itu?” Jawab Ananta
“Apakah pangeran tahu bahwa selama ini Pangeran Arthur
sangat licik, ia sebenernya sangat membenci pangeran dan berniat merebut tahta
dari pangeran.” Ujar Bima
“Aku tidak percaya, tidak mungkin kakakku seperti itu. Dia
orang yang sangat baik, aku tahu betul itu. Kami juga tidak memusingkan akan
tahta karena bagi kami itu hanyalah sebuah simbol, sedangkan persaudaraan kami
akan tetap berjalan.” Jawab Ananta.
Awalnya Bima sangat kesulitan untuk menghasut Ananta karena
Ananta sangat percaya kepada Arthur. Tetapi semakin lama Ananta terhasut oleh
ucapan-ucapan bima. Walaupun awalnya Ananta tidak percaya tetapi karena Bima
yang sangat pandai dalam memikirkan cara menghasut Ananta, ia pun percaya.
Karena apa yang diucapkan oleh Bima selalu terkuak kebenarannya padahal itu
sudah menjadi taktik Bima dalam menghasut Ananta.
Ananta yang percaya akan ucapan Bima menjadi
sangat membenci Arthur. Dia tidak percaya bahwa saudaranya sangat licik
kepadanya. Ia tidak bisa menghindari sikapnya yang dingin kepada Arthur. Saat
mereka bertemu pun Ananta sudah tidak seperti dulu lagi yang selalu merangkul Arthur
dan minum teh bersama. Ananta benar benar sangat marah kepada Arthur bahkan
keinginannya untuk menjadi raja sangatlah kuat karena ia ingin mengusir Arthur
dari kerajaannya. Arthur yang melihat perubahan sikap Ananta sangatlah dibuat
bingung. Ia bertanya-tanya ada apa dengan adiknya itu atau apakah ia melakukan
kesalahan yang tudak sengaja ia perbuat.
Sebelum sempat menanyakan hal itu, hari
pertandingan pun tiba. Hari itu di kerajaan sangat lah ramai karena semua raja
yang diundang dan rakyat berbondong-bondong ingin melihat pertandingan itu.
Sekaligus mereka ingin mengetahui siapa raja berikutnya dan berharap terjadi
perubahan menjadi lebih baik dari raja sebelumnya.
Pertandingan pun telah usai, dan hasilnya
adalah Arthur yang memenangi pertandingan tersebut. Semua orang sangatlah
senang karena yang mereka tahu Arthur adalah seorang yang dermawan dan baik
hati kepada siapapun. Anadailana dan Sulaiman pun turut senang dengan hasil
akhir tersebut, mereka memeluk dan mengucapkan selamat kepada Arthur.
Ananta yang melihat itu sangatlah marah. Selain
karena ia tidak dapat menerima kekalahannya, ia juga kesal saat melihat orang
tuanya lebih memihak kepada Arthur yang hanyalah seorang anak angkat
dibandingkan dia sebagai anak kandungnya. Pikiran itu ada pada diri Ananta
karena hasutan Bima, sejak saat itulah Ananta selalu berpikiran antara anak
angkat dan anak kandung. Kemarahan Ananta semakin membesar akibat ucapan-ucapan
Bima yang berisi hasutan.
Sudah tiga hari sejak usai pertandingan sabung
ayam, Arthur tidak bertemu dengan Ananta yang mengurung diri di kamar. Menurut
kabar yang ia dapat dari pelayan adalah karena Ananta sedang mengerjakan tugas
penelitian yang ia dapat selama masa pembimbingan sabung ayam kemarin. Tetapi
entah mengapa perasaan Arthur tidak enak, dia merasa khawatir dengan keadaan
adiknya tersebut sehingga ia berniat untuk mendatangi kamarnya. Saat Arthur
tiba di depan kamar Ananta kebetulah sekali pintunya terbuka dan ternyata ada
seorang pelayan yang mengantarkan makanan kepada Ananta. Arthur pun segara
masuk.
“Ananta, apa kabarmu?” Sapa Arthur
“Kau boleh pergi, terima kasih atas makanannya dan tolong
tutup pintunya” Ucap Ananta kepada pelayan tersebut.
Setelah pelayan itu
keluar dan menutup pintu, barulah Ananta berbicara.
“Ada perlu apa kau kemari?” Tanya Ananta dengan sinis
“Memang kenapa? Aku tidak boleh kemari? Tidak biasanya kau
seperti ini. Ada apa denganmu, dik?” Tanya Arthur dengan cemas
“Tidak. Lebih baik kau pergi saja kak, aku sedang sibuk.”
Ucap Ananta dengan nada sedikit tegas
“Apa yang kau lakukan. Ku dengar kau sedang mengerjakan
penelitian. Penelitian apa itu?” Tanya Arthur dengan lembut
“Berisik! Aku bilang pergi ya pergi! Jangan ganggu aku!”
Amarah Ananta meluap
“Ada apa denganmu? Aku hanya bertanya. Kau ini sebenarnya
kenapa? Sudah lama aku ingin menanyakan hal itu, kau berubah Ananta. Sejak hari
pelatihan itu kau bersikap sangat dingin kepadaku. Setelah pertandingan kau
mengurung diri di kamar. Apa kau tahu ibu dan ayah sangat mencemaskan mu?!”
Tegas Arthur
“Kau tidak perlu tahu sekarang aku kenapa, kau juga akan
mengetahuinyaa suatu saat nanti. Tunggu saja.” Ucap Ananta dengan lantang
sambil tertawa sinis.
Setelah itu Ananta memanggil seorang pelayan untuk mengusir
Arthur dari kamarnya.
Setelah kejadian itu, Arthur terkejut dan
semakin dibuat tidak mengerti akan sikap Ananta. Arthur yakin bahwa ada yang
terjadi dengan Adiknya itu ketika hari pelatihan, karena sejak saat itulah
Ananta berubah. Kabar bertengkarnya Arthur dan Ananta sampai ke telingan
Sulaiman dan Anadailana. Mereka cemas dan bertanya apa yang terjadi. Tetapi
Arthur berhasil menenangkan mereka dengan memberi tahu bahwa itu hanyalah
permasalahan janji seorang kakak yang tidak ditepati untuk mengajak adiknya
berkuda ketika ia memenangi pertandingan.
Hari berganti hari, tetapi Arthur masih belum
dapat menemukan jawaban akan perubahan sikap adiknya itu. Apalagi setelah
kejadian di kamar itu ia sudah tidak diperbolehkan masuk ke dalam kamar Ananta.
Arthur benar-benar bingung bagaimana caranya dia dapat menemukan jawabannya.
Hingga pada suatu malam di saat Arthur sedang tidur lelap karena keesokan
harinya adalah penobatannya sebagai raja baru, terdapat seseorang yang
menyelinap masuk ke dalam kamarnya secara sembunyi-sembunyi. Ternyata ia adalah
Ananta. Apa yang digunakan oleh Ananta pun berbeda, ia menggunakan pakaian
serba hitam dan wajahnya ditutupi oleh kain hitam dan yang terlihat hanyalah
matanya saja. Ditambah Ananta membawa sebuah pedang ditangannya. Ternyata
Ananta berniat ingin membunuh Arthur karena ia benar-benar menjadi sangat
membenci Arthur setelah ia mendapat kabar bahwa orang tuanya menjadi lebih
perhatian kepada Arthur dan kabar bahwa esok adalah hari penobatan Arthur
sebagai raja. Maka sudah dari jauh-jauh hari Ananta dan Bima mempersiapkan ini
tanpa ada yang mengetahui.
Arthur yang merasa haus di tengah tidur
lelapnya berniat ingin bangun untuk mengambil air tetapi ketika ia berdiri ia
dikejutkan dengan sebilah pedang dilehernya. Arthur merasa ketakutan dan cemas
sehingga ia berniat meminta tolong kepada prajurit yang ada di luar kamarnya.
Tetapi sebelum itu terjadi, mulut Arthur ditutup oleh tangan Ananta agara tidak
dapat berteriak. Ananta juga sekaligus memperingati bahwa Arthur tidak boleh
berteriak jika tidak ingin ayah dan ibunya mati. Saat Arthur mendengar suara
itu ia terkejut, ia merasa mengenali suaranya dan benar dugaan Arthur bahwa itu
adalah Ananta setelah Ananta membuka penutup wajahnya. Arthur benar-benar tidak
menyangka bahwa Ananta akan melakukan ini padanya. Ia bertanya bagaimana bisa
Ananta melakukan ini. Dan pada saat itu juga Ananta mengeluarkan semua apa yang
didengar olehnya dari ucapan Bima yang berisi hasutan itu. Ananta mengatakanna
dengan sangat marah dengan sesekali ia mendekatkan pedang itu ke leher Arthur.
Arthur yang mendengar itu langsung memprotes. Ia berkata bahwa ia tidak pernah
melakukan seperti apa yang diucapakn oleh Ananta. Tetapi karena amarah Ananta
sudah membabi buta, ia langsung membunuh Arthur tanpa mendengarkan penjelasan
Arthur.
Sesaat setelah Ananta membunuh Arthur dengan
pedangnya, saat itu jugalah terjadi kericuhan di dalam istana. Suara pedang
dimana-mana, para dayang berlarian, prajurit berusaha melindungi kerajaan,
banyak pula yang berguran dengan bersimbah darah. Ananta yang mendengar itu
segera keluar dari kamar Arthur untuk melihat apa yang terjadi. Dan betapa
terkejutnya ia saat melihat Bima berada di tengah-tengah pasukan yang berusaha
menghancurkan kerajaannya. Bima yang melihat kehadiran Ananta langsung tertawa.
Ia melihat wajah Ananta penuh tanya akan apa yang terjadi. Dan saat itulah Bima
mengungkapkan bahwa semua yang dikatakannya adalah bohong. Ia mengatakan bahwa
Ananta adalah sebuah alat untuk membalaskan dendamnya dan menghancurkan
kerajaan. Ananta yang mendengar itu sangat terkejut. Ia tidak menyangka bahwa
ia telah dimanipulasi oleh Bima dan ia semakin terpukul ketika teringat bahwa
ia telah membunuh saudara angkatnya sendiri. Ananta tidak tahu apa yang harus
dilakukannya sekarang, ia seperti manusia bodoh yang mudah sekali percaya pada
ucapan orang lain.
Di tengah kebingungan Ananta, Sulaiman dan
Anadailana ditarik paksa oleh pasukan Bima dan diminta untuk berlutut dibawah
kaki Bima. Ananta beserta kedua orang tuanya engan untuk berlutut kepada Bima
karena ananta sudah di bohongi oleh Bima. Akhirnya bima pun geram kepada ananta
lalu Bima menyuruh pasukannya untuk mengusir Ananta dan kedua orang tuanya
keluar dari istana.
Akhirnya istana tersebut sudah tidak dimiliki
oleh ananta dan kedua orang tuanya. Mereka pergi ke suatu desa dimana tempat
tinggal sulaiman dulu tinggal bersama kedua orang tuanya, disana mereka hidup
sangat sengasara dan serba kekurangan. Tidak ada satupun yang ingin membantu
mereka,karena ulah sulaiman dulu yang sangat pelit dan selalu
membangga-banggakan harta yang dulu ia punya.
Lalu sulaiman pun mulai mencari uang bersama
anata untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga mereka, karena tidak ada
pekerjaan dan penghasilan akhirnya sulaiman maenggabil jalan utuk mendapatkan
uang secara cepat yaitu mengambil hewan ternak milik seorang warga. Pada waktu
ingin mengambil hewan tersebut teryata pemiliknya melihat perbuatan sulaiman.
Dan pemilik hewan tersebut berteriak dan
kemudian warga pun menghampiri pemilik hewan ternak tersebut dan pemeilik hewan
tersebut bilang kepada warga bahwa sulaiman sedang ingin mencuri hewan
ternaknya dan akhirnya warga pun memukuli sulaiman yang hendak mengambil hewan
tersebut. Ananta pun melihat ayahnya yang sedang dipukuli ia berusaha menolong
ayahnya dari kerumunan warga yang sedang memukuli ayahnya.
Anadailana melihat suaminya pulang dengan wajah
yang sudah bercucuran darah, ia pun mengampiri suaminya dan berkata
" wahai suamiku kenapa dengan wajahmu
ini?" anadailana sambil memegang wajah suaminya
" Ayah berusaha untuk mengambil hewan
ternak milik warga" ananta
"kenapa kau melakukan itu ?"
anadailana
" aku hanya ingin memenuhi keluarga ini
namun satu-satunya jalan yaitu dengan mengambil hewan ternak tersebut"
sulaiman dengan muka sedih kesakitan








0 komentar:
Posting Komentar