Sabtu, 20 Juni 2020

Kembali pada Jalan-Mu

Di sebuah desa hiduplah seorang anak laki laki yang bernama Sulaiman. Ia dibesarkan oleh kedua orang tuanya. Ia sangat berbakti kepada kedua orang tuanya, rajin beribadah, dan dermawan.Kegiatan sehari-harinya membantu orang tua dengan mengembala hewan ternak milik tetangga. Sesekali ia menyempatkan waktunya untuk membaca al-quran di tengah kesibukannya menggembala hewannya. Ketika usianya menginjak 10 tahun Sulaiman menjadi seorang pedagang dengan menjual ayam. Usaha yang ia lakukan selama ini memberikan hasil yang positif, ia mampu membiayakan kebutuhan hidup keluargannya.Ketika ia mulai menginjak usia 20 tahun, ia pun mampu mendirikan rumah yang pantas untuk ia dan keluargannya tempati dengan hasil kerja kerasnya sendiri.

Suatu hari ketika ia sedang berjalan menuju tempat mengembalannya di tengah perjalanan ia melihat segerombolan para prajurit melintas di depannya. Para prajurit itu ternyata sedang melakukan sayembara untuk menemukan putri raja yang hilang. Sayembara itu berbunyi ”Barang siapa yang menemukan putri raja jika ia seorang perempuan maka akan dijadikan saudara dan jika ia adalah seorang laki-laki muda ia akan di jadikan seorang suami dan jika ia adalah seorang orang tua ia akan mendapat hadiah sebesar 500 keping emas”.Ketika Sulaiman mendengar sayembara itu ia langsung memikirkan bagaimana caranya untuk menemukan putri rajaa yang hilang.

Setelah para prajurit itu melewati Sulaiman, ia pun melanjutkan perjalanannya. Sesampainya di sana ia melihat seekor kambing yang terlihat memisah dari gerembolan kambing lain.Lantas ia pun mengejar kambing tersebut, di tengah pengejaran tanpa sengaja ia melihat seorang gadis di pinggir sungai yang tengah duduk hanya seorang diri. Sulaiman pun menghampiri gadis tersebut dan berkata,

 ”Sedang apa kamu sendirian di sini ?”Tanya sulaiman.
 “Siapa kamu? Jangan mendekat.” Kata gadis tersebut.
 “Tidak baik seorang perempuan berdiam seorang diri”. Sulaiman memperingati
“Aku adalah seorang putri. Aku pergi dari istana karena ingin dijodohkan dengan laki-laki
yang tidak ku suka”. Jawab gadis tersebut.
“Kamu seorang putri raja? Baiklah putri, perkenalkan nama ku adalah Sulaiman.” Sulaiman memperkenalkan diri.

“Sulaiman, perkenalkan nama ku adalah Anadailana”. Kata Putri.

Mereka berdua pun berbincang-bincang sehingga timbul rasa saling suka diantara keduanya.Sulaiman pun membawa gadis tersebut untuk ikut mengembala bersamannya. Perasaan yang dirasakan gadis tersebut sangat nyaman dan ceria selama dekat dengan Sulaiman.Hari mulai petang,Sulaiman pun membawa hewan ternaknya ke rumah majikannya.
“Hari sudah mulai petang,kenapa kamu tidak pulang ke istana?”Tanya sulaiman
“Aku tidak ingin pulang, bolehkan aku ikut bersamamu saja?” Minta Anadaila
“Baiklah mari ikut denganku”Jawab Sulaiman.

Sulaiman pun mengajak Anadailana untuk tinggal di rumahnya. Di tengah perjalanan menuju rumahnya ia melihat seekor ayam yang terperosok ke dalam selokan.Lantas ia pun membantu ayam tersebut keluar selokan dan Sulaiman bersedia merawat ayam tersebut.

Keesokan harinya di pagi hari Sulaiman seperti biasa berjualan di pasar. Ketika sedang berjualan Sulaiman melihat segerombolan prajurit berkuda yang menempelkan kertas sayembara. Sulaiman membaca kertas tersebut dan ternyata isinya masih sama seperti sayembara yang pernah ia dengar ketika di perjalanan pada waktu itu. Sulaiman pun langsung dengan Anadailana, seorang putri raja yang menjadi bahan sayembara tersebut. Sulaiman segera berlari menuju rumahnya untuk mencari Anadailana. Sulaiman berfikiran untuk dapat menikahi Anadailana. Sesampainya di rumah,  Sulaiman langsung menyatakan cinta kepada Anadailana.Anadailana yang mendengar pernyataan Sulaiman merasa terkejut sekaligus senang, dan akhirnya Anadailana menerima cinta Sulaiman. Setelah itu, Sulaiman pun membawa Anadailana menuju istana.

Dua bulan berlalu tiba saatnya Sulaiman menikahi Anadailana. Karena Sulaiman sudah menjadi suami dari seorang putri raja, maka tahta Raja pun diwariskan kepada Sulaiman. Kehidupan yang kini dijalaninya sangatlah berbeda dengan kehidupan dulunya. Kini hidup Sulaiman sudah jauh lebih mewah dibandingkan sebelumnya. Namun, karena kemewahan itulah Sulaiman menjadi lupa akan kewajiban yang ia jalani untuk beribadah seperti sholat lima waktu, membaca al-quran, dan lainnya. Sulaiman juga sudah tidak menjadi seorang yang dermawan seperti dulu, ia menjadi lebih pelit akan harta yang ia punya untuk diberikan kepada orang yang membutuhkan. Ia juga jarang mengunjungi rumah dulunya untuk sekedar melihat keadaan kedua orang tuanya karena orang tua Sulaiman tidak ingin tinggal di tempat yang ditinggali oleh Sulaiman. Ketika Sulaiman menginjak usia 30 tahun, kedua orang tuanya pun meninggal dunia. Sulaiman merasa sedih dan bersalah akan perbuatannya kepada kedua orang tuanya.

Kepergian orang tua Sulaiman tidak membuat diri Sulaiman berubah, dia semakin menjadi seorang Raja yang tidak memperdulikan rakyatnya, bertindak semena-mena, menyalahgunakan kekuasaannya yang membuat kerugian besar bagi rakyatnya. Ia tidak membantu sedikit pun kesulitan dan penderitaan yang dialami rakyatnya ketika mengalami bencana alam. Sulaiman juga sangat angkuh terhadap harta kekayaannya. Dia membangga-bangga apa yang dimilikinya kepada raja-raja dari kerajaan lain bahwa dialah raja yang paing kaya.

Sulaiman juga mengadakan tradisi sabung ayam. Ia mengajak raja-raja dari kerajaan lain untuk mengikuti tradisi kerajaannya secara paksa dengan tujuan untuk mempererat tali persaudaraan antar kerajaan yang pada nyatanya hanya untuk menguras harta kekayaan dari kerajaan lain karena kalau mereka kalah mereka harus membayar denda yang telah ditentukan Sulaiman. Jika ada raja yang tidak mengikuti tradisinya maka kerajaan tersebut akan dibakar oleh Sulaiman. Sulaiman sebenarnya tahu bahwa sabung ayam merupakan perbuatan yang dilarang oleh Allah karena dapat menyakiti hewan dan menimbulkan permusuhan. Namun ia tetap melakukannya karena membuatnya untung besar.

Sifat Sulaiman yang seperti itu sangat dibenci oleh raja-raja lain, bahkan dengan rakyatnya sendiri. Mereka berfikir bahwa Sulaiman tidak pantas menjadi seorang Raja. Tetapi mereka juga tidak dapat melakukan apa-apa karena kekuasaan Sulaiman sangatlah besar, ia dapat melakukan apapun semaunya.

Sudah hampir dua tahun berlalu sejak pernikahan Anadailana dan Sulaiman, mereka belum di karunia seorang anak. Hingga akhirnya Sulaiman dan Anadailana mengangkat seorang anak laki-laki untuk dijadikan penerus raja nanti. Anak itu diberi nama Arthur Sulaiman.

Arthur disayang dan dirawat dengan sangat baik oleh Anadailana. Sulaiman juga sesekali menjaga dan merawat Arthur dengan penuh kasih sayang. Mereka sudah menganggap Arhur seperti anak kandungnya sendiri.

Pada saat Arthur berusia 3 tahun, Anadailana mengandung. Ia dan Sulaiman merasa sangat senang sekali karena pada akhirnya mereka dikarunia i anak. Ternyata anak yang dikandung Anadailana juga seorang laki-laki. Setelah lahir, anak tersebut diberi nama Ananta Sulaiman.

Arthur sebagai kakak angkat merasa sangat senang karena dia memiliki seorang teman. Arthur menyayangi Ananta dan menganggapnya seperti adik kandungnya sendiri. Mereka bermain berasama, belajar bersama, dan melakukan apapun berama-sama. Sulaiman dan Anadailana yang melihat kebersamaan mereka sangat bahagia

Pada awalnya Sulaiman dan Anadailana tidak membedakan Arthur dan Ananta sebagai anak kandung dan anak angkat. Tetapi saat Arthur dan Ananta mulai dewasa, Sulaiman mulai memikirkan siapakah diantara mereka yang pantas untuk menduduki tahtanya. Sulaiman mulai berpikir keras tentang apa cara yang harus digunakan untuk dapat menentukan siapakah raja berikutnya.

Disamping itu, Anadailana yang mengetahui niat Sulaiman sedikit takut dan khawatir. Ia takut Sulaiman menggunakan cara yang dapat memecahkan persaudaraan diantara anak-anaknya. Karena selama ini Anadailana tahu tentang betapa kerasnya perbuatan dan sifat Sulaiman. Ia tahu bahwa suaminya itu telah berubah dari sebelumnya semenjak ia menjadi seorang raja. Tetapi Anadailana tidak dapat berbuat apa-apa karena dia juga sangat mencintai Sulaiman. Selain itu,kehadiran Arthur dan Ananta juga membuat sifat Sulaiman menjadi sedikit lebih lembut. Ia jadi peduli terhadap rakyat-rakyatnya waalaupun sesekali ia masih perhitungan akan harta kekayaan yang dimilikinya.

Pada akhirnya Sulaiman mengetahui bagaimana cara ia dapat menentukan siapakah yang pantas menduduki tahtanya. Sulaiman melakukan hal itu karena sejujurnya Sulaiman menyayangi keduanya sehingga ia tidak dapat memilih langsung tanpa ada cara yang harus dilakukan.

Cara yang ia gunakan adalah sabung ayam. Sulaiman menggunakan cara itu dengan tujuan agar dia mengetahui siapa yang terkuat diantara mereka dan siapa yang berpikir lebih bijak diantara mereka, tanpa Sulaiman ketahui bahwa cara yang ia pilih bisa saja menyakiti anak-anaknya. Selain itu, alasan Sulaiman menggunakan cara ini adalah untuk meneruskan tradisi yang disukai olehnya. Anadailana yang mengetahui hal itu merasa terkejut, ia sempat meminta kepada suaminya untuk mencari cara lain tetapi hasilnya nihil. Sulaiman tetap pada cara yang ia pilih, yaitu pertandingan sabung ayam.

Saat Arthur dan Ananta diberi tahu mengenai pertandingan sabung ayam yang harus mereka lakukan mereka pun sama terkejutnya dengan ibunya, Anadailana. Selain karena mereka tidak tahu bagaimana cara melakukannya,  mereka juga tidak menyukai tradisi itu. Arthur dan Ananta sempat ingin menolak tetapi setelah mereka tahu bahwa permintaan sang ibu juga tidak diterima oleh ayahnya maka mereka pun dengan terpaksa menerima titah itu. Selain itu, mereka juga ingin membalas semua kasih sayang dan pemberian yang telah ayahnya lakukan kepada mereka.

Setelah Sulaiman mendapat kabar bahwa anak-anaknya sanggup menerima titahnya maka Sulaiman pun memerintahkan seseorang di kerajaan untuk membeli dua ayam dengan jenis yang sama untuk diberikan kepada Arthur dan Ananta untuk pertandingan nanti karena sejujurnya Sulaiman sangat menyayangi keduanya sehingga ia harus adil dalam mengambil keputusan. Apa yaang dilihat dari sabung ayam bukanlah ayamnya tetapi bagaimana pemiliknya dapat menyusun strategi untuk memenankan pertandingan dan mematikan lawan. Sulaiman juga memerintahkan kepada seseorang di kerajaannya untuk mencari pembimbing yang handal untuk Arthur dan Ananta. Sehingga mereka dapat belajar bagaimana taktik yang harus mereka gunakan dalam pertandingan.

Hari pelatihan pun tiba, Arthur dan Ananta sudah mendapatkan ayam pemeberian Sulaiman dan pembimbing yang di percayanya. Mereka berlatih di beda tempat agar tidak ada kecurangan. Tetapi ternyata salah satu diantara pembimbing mereka adalah orang yang memiliki dendam dengan ayah mereka, Raja Sulaiman. Pembimbing itu bernama Bima. Ia merupakan pembimbing dari Ananta. Ia memiliki misi untuk menghancurkan kerajaan itu dengan cara memecah belah persaudaraan antara Arthur dan Ananta. Ia berniat menghasut Ananta untuk membenci Arthur. Dengan segala taktiknya ia mencoba memberikan berita bohong Arthur kepada Ananta secara perlahan seiring berjalannya pelatihan.

“Aku ingin memberi tahu pangeran sesuatu, apakah diizinkan?” tanya Bima

“Apa itu?” Jawab Ananta

“Apakah pangeran tahu bahwa selama ini Pangeran Arthur sangat licik, ia sebenernya sangat membenci pangeran dan berniat merebut tahta dari pangeran.” Ujar Bima

“Aku tidak percaya, tidak mungkin kakakku seperti itu. Dia orang yang sangat baik, aku tahu betul itu. Kami juga tidak memusingkan akan tahta karena bagi kami itu hanyalah sebuah simbol, sedangkan persaudaraan kami akan tetap berjalan.” Jawab Ananta.

Awalnya Bima sangat kesulitan untuk menghasut Ananta karena Ananta sangat percaya kepada Arthur. Tetapi semakin lama Ananta terhasut oleh ucapan-ucapan bima. Walaupun awalnya Ananta tidak percaya tetapi karena Bima yang sangat pandai dalam memikirkan cara menghasut Ananta, ia pun percaya. Karena apa yang diucapkan oleh Bima selalu terkuak kebenarannya padahal itu sudah menjadi taktik Bima dalam menghasut Ananta.

Ananta yang percaya akan ucapan Bima menjadi sangat membenci Arthur. Dia tidak percaya bahwa saudaranya sangat licik kepadanya. Ia tidak bisa menghindari sikapnya yang dingin kepada Arthur. Saat mereka bertemu pun Ananta sudah tidak seperti dulu lagi yang selalu merangkul Arthur dan minum teh bersama. Ananta benar benar sangat marah kepada Arthur bahkan keinginannya untuk menjadi raja sangatlah kuat karena ia ingin mengusir Arthur dari kerajaannya. Arthur yang melihat perubahan sikap Ananta sangatlah dibuat bingung. Ia bertanya-tanya ada apa dengan adiknya itu atau apakah ia melakukan kesalahan yang tudak sengaja ia perbuat.

Sebelum sempat menanyakan hal itu, hari pertandingan pun tiba. Hari itu di kerajaan sangat lah ramai karena semua raja yang diundang dan rakyat berbondong-bondong ingin melihat pertandingan itu. Sekaligus mereka ingin mengetahui siapa raja berikutnya dan berharap terjadi perubahan menjadi lebih baik dari raja sebelumnya.

Pertandingan pun telah usai, dan hasilnya adalah Arthur yang memenangi pertandingan tersebut. Semua orang sangatlah senang karena yang mereka tahu Arthur adalah seorang yang dermawan dan baik hati kepada siapapun. Anadailana dan Sulaiman pun turut senang dengan hasil akhir tersebut, mereka memeluk dan mengucapkan selamat kepada Arthur.

Ananta yang melihat itu sangatlah marah. Selain karena ia tidak dapat menerima kekalahannya, ia juga kesal saat melihat orang tuanya lebih memihak kepada Arthur yang hanyalah seorang anak angkat dibandingkan dia sebagai anak kandungnya. Pikiran itu ada pada diri Ananta karena hasutan Bima, sejak saat itulah Ananta selalu berpikiran antara anak angkat dan anak kandung. Kemarahan Ananta semakin membesar akibat ucapan-ucapan Bima yang berisi hasutan.

Sudah tiga hari sejak usai pertandingan sabung ayam, Arthur tidak bertemu dengan Ananta yang mengurung diri di kamar. Menurut kabar yang ia dapat dari pelayan adalah karena Ananta sedang mengerjakan tugas penelitian yang ia dapat selama masa pembimbingan sabung ayam kemarin. Tetapi entah mengapa perasaan Arthur tidak enak, dia merasa khawatir dengan keadaan adiknya tersebut sehingga ia berniat untuk mendatangi kamarnya. Saat Arthur tiba di depan kamar Ananta kebetulah sekali pintunya terbuka dan ternyata ada seorang pelayan yang mengantarkan makanan kepada Ananta. Arthur pun segara masuk.

“Ananta, apa kabarmu?” Sapa Arthur

“Kau boleh pergi, terima kasih atas makanannya dan tolong tutup pintunya” Ucap Ananta kepada pelayan tersebut.

 Setelah pelayan itu keluar dan menutup pintu, barulah Ananta berbicara.

“Ada perlu apa kau kemari?” Tanya Ananta dengan sinis

“Memang kenapa? Aku tidak boleh kemari? Tidak biasanya kau seperti ini. Ada apa denganmu, dik?” Tanya Arthur dengan cemas

“Tidak. Lebih baik kau pergi saja kak, aku sedang sibuk.” Ucap Ananta dengan nada sedikit tegas

“Apa yang kau lakukan. Ku dengar kau sedang mengerjakan penelitian. Penelitian apa itu?” Tanya Arthur dengan lembut

“Berisik! Aku bilang pergi ya pergi! Jangan ganggu aku!” Amarah Ananta meluap

“Ada apa denganmu? Aku hanya bertanya. Kau ini sebenarnya kenapa? Sudah lama aku ingin menanyakan hal itu, kau berubah Ananta. Sejak hari pelatihan itu kau bersikap sangat dingin kepadaku. Setelah pertandingan kau mengurung diri di kamar. Apa kau tahu ibu dan ayah sangat mencemaskan mu?!” Tegas Arthur

“Kau tidak perlu tahu sekarang aku kenapa, kau juga akan mengetahuinyaa suatu saat nanti. Tunggu saja.” Ucap Ananta dengan lantang sambil tertawa sinis.

Setelah itu Ananta memanggil seorang pelayan untuk mengusir Arthur dari kamarnya.

Setelah kejadian itu, Arthur terkejut dan semakin dibuat tidak mengerti akan sikap Ananta. Arthur yakin bahwa ada yang terjadi dengan Adiknya itu ketika hari pelatihan, karena sejak saat itulah Ananta berubah. Kabar bertengkarnya Arthur dan Ananta sampai ke telingan Sulaiman dan Anadailana. Mereka cemas dan bertanya apa yang terjadi. Tetapi Arthur berhasil menenangkan mereka dengan memberi tahu bahwa itu hanyalah permasalahan janji seorang kakak yang tidak ditepati untuk mengajak adiknya berkuda ketika ia memenangi pertandingan.

Hari berganti hari, tetapi Arthur masih belum dapat menemukan jawaban akan perubahan sikap adiknya itu. Apalagi setelah kejadian di kamar itu ia sudah tidak diperbolehkan masuk ke dalam kamar Ananta. Arthur benar-benar bingung bagaimana caranya dia dapat menemukan jawabannya. Hingga pada suatu malam di saat Arthur sedang tidur lelap karena keesokan harinya adalah penobatannya sebagai raja baru, terdapat seseorang yang menyelinap masuk ke dalam kamarnya secara sembunyi-sembunyi. Ternyata ia adalah Ananta. Apa yang digunakan oleh Ananta pun berbeda, ia menggunakan pakaian serba hitam dan wajahnya ditutupi oleh kain hitam dan yang terlihat hanyalah matanya saja. Ditambah Ananta membawa sebuah pedang ditangannya. Ternyata Ananta berniat ingin membunuh Arthur karena ia benar-benar menjadi sangat membenci Arthur setelah ia mendapat kabar bahwa orang tuanya menjadi lebih perhatian kepada Arthur dan kabar bahwa esok adalah hari penobatan Arthur sebagai raja. Maka sudah dari jauh-jauh hari Ananta dan Bima mempersiapkan ini tanpa ada yang mengetahui.

Arthur yang merasa haus di tengah tidur lelapnya berniat ingin bangun untuk mengambil air tetapi ketika ia berdiri ia dikejutkan dengan sebilah pedang dilehernya. Arthur merasa ketakutan dan cemas sehingga ia berniat meminta tolong kepada prajurit yang ada di luar kamarnya. Tetapi sebelum itu terjadi, mulut Arthur ditutup oleh tangan Ananta agara tidak dapat berteriak. Ananta juga sekaligus memperingati bahwa Arthur tidak boleh berteriak jika tidak ingin ayah dan ibunya mati. Saat Arthur mendengar suara itu ia terkejut, ia merasa mengenali suaranya dan benar dugaan Arthur bahwa itu adalah Ananta setelah Ananta membuka penutup wajahnya. Arthur benar-benar tidak menyangka bahwa Ananta akan melakukan ini padanya. Ia bertanya bagaimana bisa Ananta melakukan ini. Dan pada saat itu juga Ananta mengeluarkan semua apa yang didengar olehnya dari ucapan Bima yang berisi hasutan itu. Ananta mengatakanna dengan sangat marah dengan sesekali ia mendekatkan pedang itu ke leher Arthur. Arthur yang mendengar itu langsung memprotes. Ia berkata bahwa ia tidak pernah melakukan seperti apa yang diucapakn oleh Ananta. Tetapi karena amarah Ananta sudah membabi buta, ia langsung membunuh Arthur tanpa mendengarkan penjelasan Arthur.

Sesaat setelah Ananta membunuh Arthur dengan pedangnya, saat itu jugalah terjadi kericuhan di dalam istana. Suara pedang dimana-mana, para dayang berlarian, prajurit berusaha melindungi kerajaan, banyak pula yang berguran dengan bersimbah darah. Ananta yang mendengar itu segera keluar dari kamar Arthur untuk melihat apa yang terjadi. Dan betapa terkejutnya ia saat melihat Bima berada di tengah-tengah pasukan yang berusaha menghancurkan kerajaannya. Bima yang melihat kehadiran Ananta langsung tertawa. Ia melihat wajah Ananta penuh tanya akan apa yang terjadi. Dan saat itulah Bima mengungkapkan bahwa semua yang dikatakannya adalah bohong. Ia mengatakan bahwa Ananta adalah sebuah alat untuk membalaskan dendamnya dan menghancurkan kerajaan. Ananta yang mendengar itu sangat terkejut. Ia tidak menyangka bahwa ia telah dimanipulasi oleh Bima dan ia semakin terpukul ketika teringat bahwa ia telah membunuh saudara angkatnya sendiri. Ananta tidak tahu apa yang harus dilakukannya sekarang, ia seperti manusia bodoh yang mudah sekali percaya pada ucapan orang lain.

Di tengah kebingungan Ananta, Sulaiman dan Anadailana ditarik paksa oleh pasukan Bima dan diminta untuk berlutut dibawah kaki Bima. Ananta beserta kedua orang tuanya engan untuk berlutut kepada Bima karena ananta sudah di bohongi oleh Bima. Akhirnya bima pun geram kepada ananta lalu Bima menyuruh pasukannya untuk mengusir Ananta dan kedua orang tuanya keluar dari istana.

Akhirnya istana tersebut sudah tidak dimiliki oleh ananta dan kedua orang tuanya. Mereka pergi ke suatu desa dimana tempat tinggal sulaiman dulu tinggal bersama kedua orang tuanya, disana mereka hidup sangat sengasara dan serba kekurangan. Tidak ada satupun yang ingin membantu mereka,karena ulah sulaiman dulu yang sangat pelit dan selalu membangga-banggakan harta yang dulu ia punya.

Lalu sulaiman pun mulai mencari uang bersama anata untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga mereka, karena tidak ada pekerjaan dan penghasilan akhirnya sulaiman maenggabil jalan utuk mendapatkan uang secara cepat yaitu mengambil hewan ternak milik seorang warga. Pada waktu ingin mengambil hewan tersebut teryata pemiliknya melihat perbuatan sulaiman.

Dan pemilik hewan tersebut berteriak dan kemudian warga pun menghampiri pemilik hewan ternak tersebut dan pemeilik hewan tersebut bilang kepada warga bahwa sulaiman sedang ingin mencuri hewan ternaknya dan akhirnya warga pun memukuli sulaiman yang hendak mengambil hewan tersebut. Ananta pun melihat ayahnya yang sedang dipukuli ia berusaha menolong ayahnya dari kerumunan warga yang sedang memukuli ayahnya.

Anadailana melihat suaminya pulang dengan wajah yang sudah bercucuran darah, ia pun mengampiri suaminya dan berkata

" wahai suamiku kenapa dengan wajahmu ini?" anadailana sambil memegang wajah suaminya

" Ayah berusaha untuk mengambil hewan ternak milik warga" ananta

"kenapa kau melakukan itu ?" anadailana

" aku hanya ingin memenuhi keluarga ini namun satu-satunya jalan yaitu dengan mengambil hewan ternak tersebut" sulaiman dengan muka sedih kesakitan

    Akhirnya sulaiman menyadari atas perbuatan yang tidak disukai oleh Allah dan keluarganya. Iapun bertaubat dengan taubatan nasuha dan berjanji tidak akan melakukan perbutan tersebut.

0 komentar:

Posting Komentar