Sabtu, 20 Juni 2020

Kebodohan yang Terpelihara

Pukul 4 pagi aku terbangun dari tempat tidurku. Suara kokokan ayam jantan dengan merdunya saling bersautan antara ayam jantan yang satu dengan ayam jantan lainnya. Mungkin itu sudah menjadi rutinitas para ayam jantan disetiap pagi harinya. Suara kokokan ayam ini lah yang sering membangunkanku disetiap harinya. Aku sangat berterima kasih kepada Sang pencipta karena masih memberikanku izin untuk hidup di dunia ini. Andai saja Sang pencipta tidak memberikanku izin untuk hidup mungkin aku sudah tidak ada lagi di dunia ini, entah kemana aku akan pergi.

Aku mulai beranjak dari tempat tidurku dan pergi meninggalkannya. Aku menuju kamar mandi yang ada di bagian belakang rumahku untuk membasuh muka dan membuang air kecil. Setiap kali aku ingin pergi ke kamar kecil, aku selalu teringat kejadian masa laluku yang sulit aku lupakan yaitu tergelincirnya aku ketika aku sedang mandi dan kemudian dahiku terbentur kran air hingga menyebabkan pendarahan. Untung saja pendarahan yang terjadi pada dahiku tidak cukup parah sehingga mudah diatasi.
Ketika aku sudah selesai membasuh muka dan buang air kecil, tiba-tiba dari luar kamar mandi ada suara ibuku yang sedang asik dengan perkakas-perkakas dapurnya:
 “Mas, jangan lupa wudhu, bentar lagi adzan subuh!!!” Suruh ibu
 “Iya mah.” Aku pun menuruti apa perintah ibuku,
dan aku pun langsung mengambil air wudhu. Dalam Kesehariannya, Ibuku selalu bangun lebih awal dibandingkan dengan yang lainnya, karena ibuku harus melaksanakan kewajibannya dalam berumah tangga yaitu mempersiapkan sarapan pagi untuk ayahku dan anak-anaknya termasuk aku.
Sambil menunggu waktu adzan subuh datang, aku ingin memperkenalkan namaku kepada kalian semua. Namaku adalah Ahmad Nur Fahrozi dan baru saja mengambil air wudhu. Ayah dan Ibuku yang memberikan nama ini kepadaku. Entah untuk apa mereka memberikan nama ini untukku, mungkin bagi mereka ini adalah doa untukku melalui perantara nama. Salah dua dari namaku adalah nama kedua orang tuaku, Ahmad berasal dari nama ayahku dan Nur berasal dari nama ibuku.
Aku terlahir dari keluarga yang cukup sederhana tidak ada kekurangan dan tidak pula berlebih-lebihan. Ayahku berprofesi sebagai karyawan swasta yang bekerja disalah satu perusahaan yang cukup terkenal di Indonesia yang bernama PT. Sayang Anak, sedangkan Ibuku berprofesi sebagai Ibu Rumah Tangga atau bisa dibilang dengan IRT. Aku mempunyai dua orang adik yang bernama  Ahmad Nur Ardhian dan Ahmad Nur Ramadhan. Aku menyayangi kedua adikku melebihi apa yang mereka bayangkan.
Adzan subuh pun berkumandang dengan merdunya dan aku pun langsung bersiap-siap menggunakan sarung dan baju koko. Aku bergegas pergi ke Masjid yang jaraknya lumayan jauh dari rumahku sekitar 100 meter. Aku pergi ke Masjid dengan mengendarai sepeda pixy hasil pemberian orang tuaku, karena pada saat itu aku pernah menjadi juara kelas saat aku duduk di kelas 2 Sekolah Menengah Pertama (SMP). Hal itu tentunya membuat orang tuaku menjadi bangga kepadaku sehingga mereka memberikan hadiah ini kepadaku.
Sesampainya aku di halaman Masjid, aku langsung memarkirkan sepeda pixyku dan pergi meninggalkannya. Aku pun langsung masuk ke masjid dan melaksanakan salat sunah qabliyah dua rakaat. Setelah selesai salat rawatib dua rakaat, barulah iqomah berkumandang dan aku pun melaksakan salat subuh secara berjamaah. Ketika salat subuh telah usai, seperti biasanya aku tidak pernah lupa untuk berdzikir, bertasbih, bertahmid dan bertakbir kepada illahi rabbi sang pencipta alam semesta untuk selalu mengingatkanku kepada-Nya karena atas segala limpahan rahmatnya yang telah memberikanku berbagai ribuan nikmat yang tidak dapat aku sebutkan satu persatu. 
Setelah selesai berdzikir, bertasbih, bertahmid dan bertakbir, aku pun langsung mengambil sepeda pixyku yang berada di halaman Masjid dan pulang menuju rumah. Sesampainya aku di Rumah, Ibuku tiba-tiba saja bertanya kepadaku:
“Lama amat mas di Masjid nya? Ngapain aja?”
“Ini mah... biasa... abis dzikir di Masjid.” Ujarku sambil melepaskan baju kokoku
“Oh dzikir... lama amat dzikirnya???”
“Biarin lah... namanya juga manusia... banyak mempunyai salah dan dosa... maka dari itu kita harus banyak-banyak berdzikir supaya kita selalu ingat kepada sang pencipta yang telah menciptakan kita di dunia ini...”
“Tumben anak mamah pinter...”
“eittss... atu iyalah...”
“Sudah sono mandi... udah mau jam enam tuh... bentar lagi berangkat sekolah terus biar kamar mandi nya bisa gantian sama bapak...” Perintah Ibuku kepadaku
“Siap 86...” ujarku sambil memberikan hormat ke Ibuku layaknya prajurit.
Kemudian aku pun langsung menuruti apa perintah ibuku dan aku langsung menuju ke kamar mandi. Ketika aku sedang melepaskan baju dan celana, tiba-tiba ada sesosok makhluk misterius datang menghampiriku, badannya berwarna merah hati dan ia pun bisa terbang. Lalu aku berteriak secara histeris hingga mengganggu ibuku yang sedang menyiapkan sarapan di dapur.
“Huuuuaaaaa....” Aku berteriak secara histeris hingga suaraku membuat seisi rumah menjadi ramai.
“Ada apa mas? Kok teriak-teriak!!!” Tanya ibu dan ayahku secara bersamaan.
“Ada kecoa terbaaanngggg....” Jawabku sambil berteriak  histeris. Aku pun akhirnya keluar dari kamar mandi dengan tidak sadarkan diri dan aku juga belum memakai baju dan celana, hanya memakai celana dalam. Tiba-tiba ayahku memukulku dengan sapu yang ada ditangan.
“Heh kamu ini gila apa???” Tanya ayah kepadaku.
“Gila kenapa pak???” Aku pun bertanya balik.
“Lihat badanmu... tidak memakai apa-apa...” Jelas ayahku.
Dan aku pun melihat tubuh ku sambil berkata:
“Aiiihhh iya...”
“Sana masuk lagi ke dalam!!!” Perintah ayahku.
“Siap 86.”
Akupun merasa malu sekali karena aku hanya memakai celana dalamku yang berwarna merah muda. Akhirnya aku memutuskan masuk kembali ke kamar mandi untuk melanjutkan mandi walaupun masih ada rasa ketakutan yang ada didiriku. Ya begitulah diriku, aku takut sekali dengan kecoa apalagi kecoa terbang. Entah kenapa diriku takut sekali dengan kecoa terbang, mungkin ada gangguan mental di dalam diriku. Ah sudahlah.
Setelah aku selesai mandi, aku pun mengenakan pakaian seragamku yang bercorak batik ke hijau-hijauan dan kemudian aku makan bersama keluargaku di meja makan. Dan disana mereka sudah menungguku.
“Mas... cepat kesini... kita makan bareng-bareng!!!” Ucap ayahku.
“Iya pak. Mah hari ini kita sarapan dengan apa saja???” Aku bertanya ke ibuku.
“Dengan sayur terong dan tempe goreng mas...” Kata ibuku.
Dan aku pun langsung menyantap makanan yang ada dihadapanku. Kemudian, ayahku menyela aku ketika aku ingin memasukkan makananku ke dalam mulut dan ayah berkata:
“eeiiittt... baca doa dulu...!!!” Perintah ayahku. “oh iya lupa... lagian mas laper sih...”
“kalau mau makan jangan lupa baca doa dulu...!!!” Ucap ayahku sambil mengambil tempe goreng yang ada dihadapannya.
“makannya jangan lama-lama... entar telat lagi!!!” Ucap ibuku.
Akhirnya akupun selesai makan dan cepat-cepat keluar rumah untuk memakai sepatu dan bergegas berangkat ke sekolah. Sebelum berangkat sekolah, aku seperti biasanya berpamitan dahulu dengan ke dua orang tuaku. Setiap berangkat sekolah aku selalu menggunakan motor, karena jarak antara rumahku dan sekolah lumayan jauh sekitar 8 Kilometer. Aku  menempuh perjalanan ke sekolah lamanya  sekitar 30 menit. Motor yang aku gunakan ini berjenis motor matic berwarna hitam metallic. Aku membawa motor dengan kecepatan yang lumayan kencang sekitar 50-60 kilometer per jam. Selama diperjalanan aku suka bernyanyian yang tidak jelas. Tiba-tiba di tengah perjalanan motor ku berhenti entah penyebabnya apa. Saat ku lihat speedometer motor ku ternyata bensin motorku habis.
“aduuuhhh pake acara habis segala lagi bensinnya... udah mah masih jauh lagi... ya Allah kenapa engkau menaruh cobaan ini kepadaku???” Aku berbicara sendiri sambil mendorong motorku.
Dan bodohnya aku sebelum berangkat, aku tidak mengecek terlebih dahulu bensin motorku. Aku terus mendorong motorku sampai keringat bercucuran membasahi tubuhku. Sekitar 10 menit aku mendorong motorku, akhirnya aku sampe disalah satu pom bensin yang jaraknya cukup jauh dari habisnya bensin motorku.
Setelah aku mengisi bensin, aku pun langsung melanjutkan perjalananku dan setibanya aku di sekolah, aku di tahan oleh guru piket karena keterlambatanku. Bukan hanya aku saja yang terlambat, tetapi masih ada siswa lainnya yang terlambat. Tiba-tiba ada seseorang yang menepuk pundakku dari belakang.
“weeehhh zan... lu telat juga nih...???”
“iya nih... gara-gara bensin motor gw habis...”
Ternyata seseorang yang menepuk pundakku adalah si Rizki teman semejaku. Kemudian si Rizki pun merayuku supaya tidak terkena hukuman dari guru piket.
“Zan... gimana kalo kita kabur aja... biar kita gak dihukum...”
“Dih janganlah Ki... nanti mah kalo ketahuan urusannya malah panjang...”
“kagak bakalan Zan... lagian guru piketnya juga gak liat kita ini...” Rizki pun tetap berusaha merayuku, tapi aku juga tetap berusaha menolak rayuannya.
“kagak lah males gw...”
“gak apa-apa Zan... kali-kali nakal kek... lagian jarangkan lu kayak gini...malahan hampir gak pernah??”
“ya udah lah sekali-sekali gw kayak gini..”
Akhirnya aku pun terhasut oleh rayuan si Rizki. Ketika aku dan Rizki ingin hendak kabur, tiba-tiba guru piket itu memanggil kami berdua.
“hey kalian berdua... mau pergi kemana?? Sini cepat!!! Kalian mau kabur ya???” tanya guru piket itu dengan nada yang cukup tinggi sampai-sampai siswa yang lainnya menoleh ke aku dan Rizki dan kami berdua pun menjadi bahan tontonan para siswa yang ada disekitar kami berdua.
“Nnnggg... gak pak...” jawab kami berdua dengan nada yang gagap.
“Jangan bohong kamu!!! Ngaku... Pasti kalian ingin kabur kan???” Ujar guru piket dengan nada yang lebih tinggi.
“Iiiyyaaa pak...” Jawab kami berdua.
“Mulai sekarang kalian berdua bapak jemur di Lapangan sekolah sampai waktunya istirahat pertama!!! Kalian paham???”
“Siap paham pak...”
Aku dan Rizki akhirnya dijemur di Lapangan Sekolah sampai waktunya istirahat pertama. Ketika dijemur, aku marah sekali dengan Rizki sambil membentaknya.
“Lu sih Ki gw jadinya dijemurkan... Ini semua gara-gara lu tau... ”
“Iya zan gw minta maaf sama lu... ini semua gara-gara gw... maaf ya zan...”
Aku dan Rizki hampir saja berkelahi, tiba-tiba datanglah kura teman sekelasku dan Rizki untuk memisahkan kami berdua.
“sudah-sudah... kalian ini sudah besar... tidak pantas untuk berkelahi didepan umum... seharusnya kalian berfikir... sudah maafan!!!”
Akhirnya kami pun maafan dan setelah itu kami kembali berteman.
 Dua jam berlalu tibalah waktunya istirahat dan kami berdua masuk kelas secara bersamaan. Waktu istirahat pertama sangatlah singkat hanya lima belas menit saja dan bel pelajaran ketiga baru saja berbunyi, berarti menandakan bahwa istirahat telah usai dan memasuki pelajaran ketiga. Mata pelajaran ketiga dalam jadwal hari ini adalah pelajaran kimia. Pelajaran kimia merupakan mata pelajaran yang sangat aku tidak mengerti sama sekali. Guru yang mengajar mata pelajaran kimia bernama Ibu Lewis. Dalam hal belajar, Ibu Lewis sangat tegas tetapi ia selalu menyempatkan senda gurau ditengah waktu belajar sehingga anak murid tidak terlalu tegang.
Ibu yang kami tunggu-tunggu akhirnya datang juga, seperti biasanya Ibu Lewis selalu menggunakan kaca mata, entah itu kaca mata gaya atau kaca mata untuk membantu penglihatannya. Tetapi ada yang sedikit berbeda dengan dirinya, ia membawa kertas yang lumayan banyak dan aku pun bertanya pada diriku sendiri:
“Apakah ia ingin mengadakan ulangan harian dadakan??”
Ketika ia sudah duduk disinggasananya, ia pun berkata kepada muridnya sambil menyiapkan kertas ujian untuk dibagikan kepada murid-muridnya:
“Anak-anak... hari ini Ibu akan mengadakan ulangan harian dadakan... Kenapa??? Karena kalau ulangan minggu depan ibu tidak bisa masuk dikarenakan ibu ingin cuti selama lima hari... Ibu mohon kalian bisa memakluminya...”
“diiiihhhh bu... kenapa harus kayak gini...” Ucap seluruh anak yang ada di kelas ku dengan nada yang sangat keluh kesah.
“Kita kan belum ada persiapan sama sekali bu...” Ucap salah seorang temanku.
“Sekali lagi Ibu mohon maaf yah anak-anak...”
Dan benar dugaanku, ia ingin mengadakan ulangan harian dadakan. Setelah dibagikan lembar soalnya, Ku lihat pertanyaan-pertanyaannya yang ada di lembar soal dan aku pun terkejut seketika karena aku tidak tahu rumus-rumus apa saja yang akan aku gunakan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Waktu ujian pun berakhir aku dan teman-temanku belum saja usai kecuali si Kura, ia sangat pandai dalam mata pelajaran kimia. Semua pertanyaan-pertanyaan yang ada di lembar soal mudah ia taklukan. Berbeda denganku dan teman-temanku lainnya, aku dan teman-teman lainnya masih sibuk dengan kertas soal yang terisi penuh dengan angka-angka, tetapi waktu menelan segalanya dan lembar jawaban harus dikumpulkan.
Bel pulang pun akhirnya berbunyi, para siswa yang lainnya pergi meninggalkan kelas, sesampainya aku di halaman aula terjadi keramaian, entah ada apa disana? Aku pun mendekati keramaian itu dan ternyata itu adalah hasil ulangan kimia. Saat aku lihat nilai kimia aku pun terkejut, nilai kimia ku adalah empat puluh koma lima. Dan yang membagikan hasil ulangan itu adalah Ibu Lewis sendiri. Ia pun memberikan amanah kepada kami semua.
“Anak-anak ini adalah hasil ulangan kimia kalian, semuanya kena remedial kecuali Kura.”
“apa..??? Hanya Kura saja yang tidak terkena remedial...” Ucap seorang temanku dengan kebingungan.
 “Karena Kura nilainya paling tertinggi di kelas kalian... Ibu akan memberikan hadiah kepada kura.” Ujar Bu Lewis sambil menyerahkan hadiah kepada Kura.
“Alhamdulillah aku mendapatkan nilai tertinggi di kelas ku. Makasih ya bu hadiahnya...”
“ya nak... sama-sama...”
Akupun meninggalkan sekolah dan pulang menuju rumahku. Setibanya aku di rumah tiba-tiba saja Ibuku datang menghampiriku sambil membawa sapu yang ada di genggaman tangannnya dengan raut wajah yang tidak seperti biasanya yang aku kenal.
“Mas... tadi mamah mendapatkan telepon dari sekolah... Katanya kamu ini tadi terlambat masuk sekolah ya.... dan kamu juga dijemur ya... lantaran kamu tidak ingin dicatat namanya ya...???” Tanya ibuku dengan nada yang cukup tinggi.
“Iya mah...” Jawabku dengan raut wajah memelas. “Kenapa???” Tanya bibuku lagi.
“Tadi mah sewaktu mas berangkat di tengah perjalanan bensinya habis... dan mas pun mendorong motornya sampai ke pom bensin selama 10 menit... sesampainya di sekolah, gerbang sudah ditutup dan mas terlambat. Bukan mas saja ko yang terlambat, masih banyak yang terlambat.” Jelasku kepada ibuku.
“Terus penyebab kamu dijemur apa...??” Tanya ibuku lagi.
“Sewaktu terlambat, mas ingin kabur mah lantaran tidak ingin dicatat namanya dan mas juga karena diajak oleh teman mas...” Jelasku
“Mulai saat ini, detik ini, mamah tidak ingin mendapatkan laporan seperti ini lagi dari sekolah...” Kata ibuku sambil mamarahiku.
“Iya mah...” kataku dengan nada yang rendah.
Malam pun tiba aku memasuki kamarku untuk menyiapkan buku pelajaran untuk esok hari. Setelah menyiapkan buku pelajaran aku merenungkan diriku didalam kamar tentang kesalahan-kesalahan yang kuperbuat hari ini terutama nilai hasil ulangan kimiaku. Andai saja aku bersungguh dalam menuntut ilmu pasti aku tidak akan seperti ini. Secara tiba-tiba saja, pikiranku teringat kembali dengan hadist yang disampaikan oleh ustad Fahmi Ilmi tentang bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu yang ketika ia sampaikan sewaktu tausyiah setelah salat subuh. Dan aku berbicara pada diriku sendiri.
“Mungkin aku kurang bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu sehingga hasil ulanganku tidak sesuai dengan apa yang aku harapkan. Andai saja aku bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu, pasti aku mendapatkan nilai terbesar.”
Setelah merenungkan diri dan teringat kembali hadist yang disampaikan oleh Ustad Fahmi Ilmi, aku pun menjadi bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu. Mulai saat ini, detik ini, aku berniat untuk dalam menuntut ilmu. Setiap malam aku belajar dan mengerjakan tugas-tugas latihan. Tidur pun tidak terlalu malam. Aku juga selalu berdoa kepada Sang Pencipta untuk dimudahkan dalam segala urusanku. Hari demi hari ku lewati, semenjak aku merenungkan diri aku selalu lebih teliti dalam mengerjakan apapun, seperti mengecek bensin motorku terlebih dahulu sebelum berangkat ke sekolah supaya tidak terjadi keterlambatan seperti yang kemarin.
Sekarang aku sudah besar, pekerjaanku sekarang sebagai dokter di puskesmas yang ingin membantu masyarakat sekitar desa. Padahal aku masih rindu dengan masa kecilku yang dahulu, rasanya ingin kembali menjadi anak kecil yang ingin bermain-main tanpa beban pikiran dibandingkan aku yang sekarang. Tapi mau ga mau ya harus ku hadapi dengan sabar.
Aku di tempatkan tugas disuatu desa terpencil yang sangat jauh dari rumah orangtua ku. Yang biasanya aku tiap pagi dibangunkan, dibuatkan sarapan, diingatkan, dinasehatikan dicucikan dan di diiii...... yang lain, sekarang aku harus melakukan nya itu dengan seorang diri.
Suatu ketika di desa terdapat penyakit yang menyerang desa, penyakit yang belum tau apa penyebabnya. Ketika warga datang ke puskesmas banyak yang mengeluh dengan apa yang dialaminya.
Aku bertanya ke salah satu warga, “ada apa bapak datang ke sini?” ku bertanya sambil mensiapkan pulpen dan kertas untuk mencatat setiap jawaban dari pasienku. “saya merasakan panas dan gatal di bagian punggung ini” sambil menunjukkan dan menggaruk punggungnya. “coba saya periksa punggung bapak” sambil menyuruh bapak itu tiduran tengkurep di kasur pasien. Setelah ku periksa ternyata terdapat bentol-bentol merah yang sangat banyak di sekujur badan. “apa yang membuat bapak seperti ini pak?” ku bertanya, bapak itu menjawab “saya tidak tau apa penyebabnya tetapi banyak warga yang merasakan hampir sama dengan penyakit yang saya alami ini” ujarnya sambil menahan rasa gatal dan panas.
Setelah aku selesai memeriksa punggung bapak itu, aku pun langsung menyiapkan obat-obatan seperti satu salep kulit dan satu pil kaplet. Aku pun langsung memberitahu dosis-dosis aturan pakai obat tersebut. “ Pak..!! ini salep kulit nya dipakai tiga kali dalam sehari ya pak... Dan ini pil kaplet nya diminum tiga kali sehari setelah makan... Untuk biaya administrasinya bisa bapak selesaikan di luar ruangan ya pak...” Bapak itu pun langsung mengerti apa yang aku jelaskan kepadanya. “Ok dok.. terimakasih...”
Bapak itu kemudian memberitahu kepada warga lainnya tentang keadaannya yang telah membaik setelah tiga hari yang lalu datang ke puskesmas dan mengkonsumsi obat yang telah aku berikan dan menyarankan agar para warga untuk datang ke puskesmas. Para warga langsung berbondong-bondong datang ke puskesmas mereka semua memiliki keluhan yang sama yaitu panas dan gatal dibagian punggung.
Namun, enam hari setelah berobat ke puskesmas bapak itu malah merasakan gatal disekujur tubuhnya bahkan lebih parah dibandingkan tiga hari yang lalu padahal tiga hari yang lalu keadaanya sudah mulai membaik. “ada apa dengan badanku kenapa gatalnya malah bertambah buruk dan kenapa bentol-bentolnya ada disekujur tubuh dan lebih banyak dibandingkan tiga hari yang lalu. Apa ini karena obat dan salep yang diberikan oleh dokter di puskesmas itu?” sambil melihat tubuhnya dicermin. Bapak itu langsung memberitahu warga tentang keadaannya. Para warga panik dan merasa takut setelah mendengar  apa yang dialami bapak tersebut, mereka memutuskan untuk datang ke puskesmas meminta pertanggung jawabanku.
Bapak itu dan para warga berbondong-bondong datang ke puskesmas untuk mencariku. Suasana di puskesmas sangat sesak karena banyak warga yang mecariku sambil meneriakan namaku. Aku langsung keluar dari ruanganku dan menenangkan para warga. “ada apa bapak-bapak, ibu-ibu datang mencari saya? Apa ada yang bisa saya bantu?”. Dengan nada suara yang tunggi “saya ingin meminta pertanggung jawaban dokter tentang penyakit saya yang semakin memburuk”. “silahkan bapak masuk, saya akan memeriksa kembali keadaan bapak?”. Bapak itu mengikutiku untuk masuk ke dalam ruangan, aku langsung meminta bapak itu terlentang di kasur dan membuka bajunya untuk melihat keadaanya. Setelah aku periksa ternyata bentol-bentolnya menjalar keseluruh tubuh bahkan lebih parah dibandingkan pertamakali aku memeriksa bapak ini tepatnya enam hari yang lalu. “bagaimana dok, bukankah penyakitku lebih buruk dibandingkan enam hari yang lalu? Aku merasakan gatal dan panas yang luar biasa disekujur tubuhku, bagaimana ini dok? Apa ini akibat salep dan obat yang kamu berikan kepaduku?”. “tidak mungkin pak saya memberikan obat yang sesuai dengan penyakit yang bapak alami tidak mungkin karena obatnya pak”. “terus karena apa kondisiku memburuk seperti ini? Bukankah seharusnya obatnya membuat keadaanku kian membaik kenapa malah membuat keadaanku memburuk dok? Aku meminta tanggung jawabmu sebagai dokter yang menangani penyakit gatal ku ini”. “baik pak saya akan bertanggung jawab atas penyakit gatal bapak yang memburuk, namun saya akan menyelidiki dahulu penyebab penyakit gatal ini bisa menyerang bapak dan warga lainnya, saya yakin ini bukan karena obat yang saya berikan tetapi ada penyebab lain”. “baiklah, dokter ingin mulai menyelidiki sebab penyakit ini dari mana?”. Sambil mengangguk mengerti. “baiklah kalau begitu bisa bapak antar saya ke rumah bapak, saya ingin mulai menyelidiki penyebab penyakit ini mulai dari kondisi rumah bapak dan warga sekitar”. Bapak itu pun menjawab “baiklah mari saya antar”. Aku dan bapak itu keluar ruangan, aku menjelaskan kepada warga lainnya bahwa aku akan bertanggung jawab dengan cara menyelidiki penyebab penyakit ini bisa muncul dan menyerang warga sekitar mulai dengan melihat kondisi rumah mereka.
Aku, bapak itu dan warga lainnya menuju pemukiman mereka. Setelah sampai aku dan bapak itu masuk kedalam rumah nya dan warga lainnya pulang ke rumah nya masing-masing. “silahkan masuk” sambil membuka pintu rumahnya. Aku mengikuti bapak itu masuk dan dia mempersilahkan aku untuk duduk “silahkan duduk dok, saya akan ambilkan minum dulu”. “baiklah terimakasih pak” sambil duduk disalah satu kursi diruang tamu. Bapak itupun kembali dengan mebawa secangkir teh untukku “silahkan dok diminum, maaf tidak ada apa-apa hanya ada teh saja”. “terimakasih pak, tidak apa-apa ini juga sudah cukup, maaf ya pak saya merepotkan bapak”. Aku meminum teh yang telah bapak itu siapkan untukku. Setelah aku meminum nya aku meminta izin kepeada bapak itu untuk melihat keadaan kondisi rumahnya. “maaf pak bisa saya mulai untuk melihat kondisi rumah bapak”. Sambil mengangguk “silahkan dok untuk melihat kondisi rumah saya”.
Setelah dipersilahkan akupun langsung mengelilingi rumah bapak tersebut, aku memulainya dengan melihat kondisi kamar bapak itu. Aku melihat sekeliling kamar, melihat jendela-jendela ternyata kondisi kamarnya sangat bersih tidak ada debu sekalipun. Aku berpindah melihat kondisi dapur, aku melihat juga isi kulkas bapak tersebut ternyata isi nya sayur dan ikan-ikanan yang bapak itu peroleh dari kebun dan kolamnya sendiri “aku memakan-makanan hasil dari kebun dan juga mendapat ikan dari kolam yang aku kelola, aku berusaha memakan-makanan sehat yang aku peroleh sendiri”. “bagus sekali pak, ini akan mencegah bapak terkena penyakit lainnya. Dengan memakan sayur, dan ikan yang diolah sendiri akan lebih sehat dibandingkan dengan mengkonsumsi makan-makanan instan” jelasku. Selanjutnya aku berpindah melihat kondisi ruang keluarganya, ruang keluarganya terlihat sangat rapi dan bersih walaupun tidak besar bapak dan keluarganya dapat membuat rumahnya senyaman mungkin. Aku kemudian berpindah melihat kondisi kamar mandi bapak itu, kondisi kamar mandi nya cukup bersih dan rapi, perlengkapan kamar mandi seperti sabun, sikat gigi dan pasta gigi ditempatkan ditempatnya. Aku meminta izin ke bapak tersebut apakah aku di izinkan masuk kamar mandi atau tidak “maaf pak bisa aku masuk ke dalam kamar mandi bapak aku ingin melihat air yang bapak gunakan”. Bapak itupun menjawab “silahkan dok”. “terimakasih pak” jawabku. Setelah di izinkan oleh bapak itu aku langsung masuk ke dalam kamar mandi, aku melihat air yang digunakan bapak tersebut, ternyata air yang digunakan sangat kotor bewarna putih agak gelap tercemar dan terdapat butiran-butiran kotoran. “pak maaf” panggilku. “iya dok ada apa?” jawab bapak tersebut. “bapak memperoleh air untuk mandi dari mana pak?” tanya ku heran. “aku memperolehnya dari sungai kemudian air sungai itu dialirkan ke rumahku dan juga ke tiap-tiap rumah yang ada di pemukiman ini” jelasnya. Aku sangat heran dengan penjelasan bapak tersebut, “apakah air sungai itu telah dicemari, airnya sangat kotor dan tidak layak untuk dipakai” pikirku. “apa bapak juga menjadikan air ini untukdi konsumsi?” tanyaku. “tidak, kami disini menggunakan air yang berasal dari mata air” jelasnya. Dugaanku sekarang adalah penyebab penyakit gatal-gatal itu muncul akibat air yang digunakan para warga tercemar, tapi aku tidak tahu penyebab air itu bisa tercemar. “bisa bapak antarkan aku ke sungai yang digunakan bapak dan warga sekitar?” pintaku. “tentu silahkan, mari saya tunjukan jalannya”.
Aku dan bapak tersebut keluar dari rumah. Bapak itu mengantarku ke sungai yang air nya mereka gunakan untuk mandi dan keperluan lainnya. Kami menyusuri pemukiman warga lainnya, jalannya cukup jauh untuk sampai ke sungai yang dimaksudkan. Jalanan yang kami lewati masih berupa tanah merah yang lengket jika terkena hujan, namun hari ini tidak hujan maka dari itu jalanan yang aku dan bapak itu lewati kering. Kami berdua juga melewati pepohonan yang sangat rindang, melewati beberapa warga sekitar yang sedang mengambil hasil panen berupa sayur-sayuran dan juga buah-buahan, ada juga yang sedang berusaha mengambil ikan dikolam dengan cara memancing, suasana di pemukiman ini masih sangat asri, warga menjaga lingkungannya dengan baik.
Sampai akhirnya aku tiba di sungai yang dipakai oleh warga sekitar untuk mandi dan dipakai untuk keperluan lainnya. Ternyata kondisi sungai sangat kotor, air berubah menjadi coklat gelap. “ternyata ini penyebab bapak dan warga lainnya terkena penyakit gatal-gatal” jelasku. “bagaimana bisa sungai ini begitu kotor? Kami warga sangat menjaga kebersihan sungai, kami dilarang membuang sampah di sungai ini dan kami juga tidak pernah menggunakan sungai ini untuk mencuci bahkan untuk membasuh kaki pun kami akan menggunakan wadah untuk mengambil airnya” jelas bapak itu. “apa ada pabrik di dekat sini yang membuang limbah nya ke sungai ini?” tanya ku. “ada satu pabrik di dekat pemukiman ini, apa iya pabrik itu membuang limbahnya ke sungai ini?” jelas bapaknya dengan ekspresi heran. Akhirnya aku, bapak tersebut kembali kepemukiman dan menjelaskan kepada Rt, Rw, dan pihak Desa dan  warga lainnya tentang kondisi sungai yang sudah tercemar, akhirnya kami semua memutuskan untuk datang ke pabrik tersebut.
Sesampainya di pabrik tersebut kami langsung bertanya ke pada pihak pabrik apakah pabrik tersebut membuang limbahnya ke sungai kami meminta penjelasan dengan sejujur-jujurnya dan ahirnya selang beberapa menit pabrik itu mengakui jika mereka membuang limbah pabrik nya ke sungai yang dampaknya yaitu membuat sungai menjadi tercemar dan warga terkena penyakit gatal-gatal yang luar biasa. Pihak pabrik akhirnya bertanggung jawab atas apa yang telah mereka perbuat, pihak pabrik akan memberikan air kepada warga sekitar untuk dipakai keperluan sehari-hari dan juga pihak pabrik berjanji tidak akan membuang limbahnya ke sungai lagi perjanjian ini ditandatangani di atas matrai apabila pihak pabrik melanggar maka warga bisa menuntut pihak pabrik tersebut.
Akhirnya aku meminta kepada pihak Rt dan Rw untuk mengumpulkan semua warga di puskesmas “maaf pak Rt, dan pak Rw bisa bapak mengumpulkan semua warga untuk segera datang ke puskesmas, saya akan memberikan pengobatan kepada semua warga agar penyakit gatal-gatal warga tidak bertambah parah” jelasku. “baiklah kami akan segera mengumpulkan semua warga dan menyuruh mereka semua agar segera datang ke puskesmas. Terimakasih pak dokter atas bantuannya” jelas bapak itu. “sama-sama pak” jawabku.
   Akhirnya semua warga berkumpul di puskesmas aku segera memeriksa mereka satu persatu dan memberika obat untuk menghilangakan penyakit mereka. Senang rasa nya bisa membantu sesama yang mebutuhkan. Tuhan maha pencipta segalanya, Tuhan menciptakan manusia dan manusia lainnya agar bisa saling membantu satu sama lain, dan Tuhan juga menciptakan alam dan sekitar dan makhluk lainnya berupa sungai, pepohonan, sawah, ikan, ayam dan lainnya untuk dijaga dan dimaanfaatkan sesuai fungsinya. Sungguh Allah maha pencipta segalanya.

0 komentar:

Posting Komentar