Pukul 4 pagi aku terbangun dari
tempat tidurku. Suara kokokan ayam jantan dengan merdunya saling bersautan
antara ayam jantan yang satu dengan ayam jantan lainnya. Mungkin itu sudah
menjadi rutinitas para ayam jantan disetiap pagi harinya. Suara kokokan ayam
ini lah yang sering membangunkanku disetiap harinya. Aku sangat berterima kasih
kepada Sang pencipta karena masih memberikanku izin untuk hidup di dunia ini.
Andai saja Sang pencipta tidak memberikanku izin untuk hidup mungkin aku sudah
tidak ada lagi di dunia ini, entah kemana aku akan pergi.
Aku mulai beranjak dari tempat
tidurku dan pergi meninggalkannya. Aku menuju kamar mandi yang ada di bagian
belakang rumahku untuk membasuh muka dan membuang air kecil. Setiap kali aku
ingin pergi ke kamar kecil, aku selalu teringat kejadian masa laluku yang sulit
aku lupakan yaitu tergelincirnya aku ketika aku sedang mandi dan kemudian
dahiku terbentur kran air hingga menyebabkan pendarahan. Untung saja pendarahan
yang terjadi pada dahiku tidak cukup parah sehingga mudah diatasi.
Ketika aku sudah selesai
membasuh muka dan buang air kecil, tiba-tiba dari luar kamar mandi ada suara
ibuku yang sedang asik dengan perkakas-perkakas dapurnya:
“Mas, jangan lupa wudhu, bentar lagi adzan
subuh!!!” Suruh ibu
“Iya mah.” Aku pun menuruti apa perintah
ibuku,
dan aku pun langsung mengambil air
wudhu. Dalam Kesehariannya, Ibuku selalu bangun lebih awal dibandingkan dengan
yang lainnya, karena ibuku harus melaksanakan kewajibannya dalam berumah tangga
yaitu mempersiapkan sarapan pagi untuk ayahku dan anak-anaknya termasuk aku.
Sambil menunggu waktu adzan
subuh datang, aku ingin memperkenalkan namaku kepada kalian semua. Namaku
adalah Ahmad Nur Fahrozi dan baru saja mengambil air wudhu. Ayah dan Ibuku yang
memberikan nama ini kepadaku. Entah untuk apa mereka memberikan nama ini
untukku, mungkin bagi mereka ini adalah doa untukku melalui perantara nama.
Salah dua dari namaku adalah nama kedua orang tuaku, Ahmad berasal dari nama
ayahku dan Nur berasal dari nama ibuku.
Aku terlahir dari keluarga yang
cukup sederhana tidak ada kekurangan dan tidak pula berlebih-lebihan. Ayahku
berprofesi sebagai karyawan swasta yang bekerja disalah satu perusahaan yang
cukup terkenal di Indonesia yang bernama PT. Sayang Anak, sedangkan Ibuku
berprofesi sebagai Ibu Rumah Tangga atau bisa dibilang dengan IRT. Aku
mempunyai dua orang adik yang bernama
Ahmad Nur Ardhian dan Ahmad Nur Ramadhan. Aku menyayangi kedua adikku
melebihi apa yang mereka bayangkan.
Adzan subuh pun berkumandang
dengan merdunya dan aku pun langsung bersiap-siap menggunakan sarung dan baju
koko. Aku bergegas pergi ke Masjid yang jaraknya lumayan jauh dari rumahku sekitar
100 meter. Aku pergi ke Masjid dengan mengendarai sepeda pixy hasil pemberian
orang tuaku, karena pada saat itu aku pernah menjadi juara kelas saat aku duduk
di kelas 2 Sekolah Menengah Pertama (SMP). Hal itu tentunya membuat orang tuaku
menjadi bangga kepadaku sehingga mereka memberikan hadiah ini kepadaku.
Sesampainya aku di halaman
Masjid, aku langsung memarkirkan sepeda pixyku dan pergi meninggalkannya. Aku
pun langsung masuk ke masjid dan melaksanakan salat sunah qabliyah dua rakaat.
Setelah selesai salat rawatib dua rakaat, barulah iqomah berkumandang dan aku
pun melaksakan salat subuh secara berjamaah. Ketika salat subuh telah usai,
seperti biasanya aku tidak pernah lupa untuk berdzikir, bertasbih, bertahmid
dan bertakbir kepada illahi rabbi sang pencipta alam semesta untuk selalu
mengingatkanku kepada-Nya karena atas segala limpahan rahmatnya yang telah
memberikanku berbagai ribuan nikmat yang tidak dapat aku sebutkan satu
persatu.
Setelah selesai berdzikir,
bertasbih, bertahmid dan bertakbir, aku pun langsung mengambil sepeda pixyku
yang berada di halaman Masjid dan pulang menuju rumah. Sesampainya aku di
Rumah, Ibuku tiba-tiba saja bertanya kepadaku:
“Lama amat mas di Masjid nya?
Ngapain aja?”
“Ini mah... biasa... abis
dzikir di Masjid.” Ujarku sambil melepaskan baju kokoku
“Oh dzikir... lama amat
dzikirnya???”
“Biarin lah... namanya juga
manusia... banyak mempunyai salah dan dosa... maka dari itu kita harus
banyak-banyak berdzikir supaya kita selalu ingat kepada sang pencipta yang
telah menciptakan kita di dunia ini...”
“Tumben anak mamah pinter...”
“eittss... atu iyalah...”
“Sudah sono mandi... udah mau
jam enam tuh... bentar lagi berangkat sekolah terus biar kamar mandi nya bisa
gantian sama bapak...” Perintah Ibuku kepadaku
“Siap 86...” ujarku sambil
memberikan hormat ke Ibuku layaknya prajurit.
Kemudian aku pun langsung
menuruti apa perintah ibuku dan aku langsung menuju ke kamar mandi. Ketika aku
sedang melepaskan baju dan celana, tiba-tiba ada sesosok makhluk misterius
datang menghampiriku, badannya berwarna merah hati dan ia pun bisa terbang.
Lalu aku berteriak secara histeris hingga mengganggu ibuku yang sedang
menyiapkan sarapan di dapur.
“Huuuuaaaaa....”
Aku berteriak secara histeris hingga suaraku membuat seisi rumah menjadi ramai.
“Ada
apa mas? Kok teriak-teriak!!!” Tanya ibu dan ayahku secara bersamaan.
“Ada
kecoa terbaaanngggg....” Jawabku sambil berteriak histeris. Aku pun akhirnya keluar dari kamar
mandi dengan tidak sadarkan diri dan aku juga belum memakai baju dan celana,
hanya memakai celana dalam. Tiba-tiba ayahku memukulku dengan sapu yang ada
ditangan.
“Heh
kamu ini gila apa???” Tanya ayah kepadaku.
“Gila
kenapa pak???” Aku pun bertanya balik.
“Lihat
badanmu... tidak memakai apa-apa...” Jelas ayahku.
Dan aku pun melihat
tubuh ku sambil berkata:
“Aiiihhh
iya...”
“Sana
masuk lagi ke dalam!!!” Perintah ayahku.
“Siap
86.”
Akupun merasa malu
sekali karena aku hanya memakai celana dalamku yang berwarna merah muda.
Akhirnya aku memutuskan masuk kembali ke kamar mandi untuk melanjutkan mandi
walaupun masih ada rasa ketakutan yang ada didiriku. Ya begitulah diriku, aku
takut sekali dengan kecoa apalagi kecoa terbang. Entah kenapa diriku takut
sekali dengan kecoa terbang, mungkin ada gangguan mental di dalam diriku. Ah
sudahlah.
Setelah
aku selesai mandi, aku pun mengenakan pakaian seragamku yang bercorak batik ke
hijau-hijauan dan kemudian aku makan bersama keluargaku di meja makan. Dan
disana mereka sudah menungguku.
“Mas...
cepat kesini... kita makan bareng-bareng!!!” Ucap ayahku.
“Iya
pak. Mah hari ini kita sarapan dengan apa saja???” Aku bertanya ke ibuku.
“Dengan
sayur terong dan tempe goreng mas...” Kata ibuku.
Dan aku pun
langsung menyantap makanan yang ada dihadapanku. Kemudian, ayahku menyela aku
ketika aku ingin memasukkan makananku ke dalam mulut dan ayah berkata:
“eeiiittt...
baca doa dulu...!!!” Perintah ayahku. “oh
iya lupa... lagian mas laper sih...”
“kalau
mau makan jangan lupa baca doa dulu...!!!” Ucap ayahku sambil mengambil tempe
goreng yang ada dihadapannya.
“makannya
jangan lama-lama... entar telat lagi!!!” Ucap ibuku.
Akhirnya
akupun selesai makan dan cepat-cepat keluar rumah untuk memakai sepatu dan
bergegas berangkat ke sekolah. Sebelum berangkat sekolah, aku seperti biasanya
berpamitan dahulu dengan ke dua orang tuaku. Setiap berangkat sekolah aku
selalu menggunakan motor, karena jarak antara rumahku dan sekolah lumayan jauh
sekitar 8 Kilometer. Aku menempuh
perjalanan ke sekolah lamanya sekitar 30
menit. Motor yang aku gunakan ini berjenis motor matic berwarna hitam metallic.
Aku membawa motor dengan kecepatan yang lumayan kencang sekitar 50-60 kilometer
per jam. Selama diperjalanan aku suka bernyanyian yang tidak jelas. Tiba-tiba
di tengah perjalanan motor ku berhenti entah penyebabnya apa. Saat ku lihat
speedometer motor ku ternyata bensin motorku habis.
“aduuuhhh
pake acara habis segala lagi bensinnya... udah mah masih jauh lagi... ya Allah
kenapa engkau menaruh cobaan ini kepadaku???” Aku berbicara sendiri sambil
mendorong motorku.
Dan bodohnya aku
sebelum berangkat, aku tidak mengecek terlebih dahulu bensin motorku. Aku terus
mendorong motorku sampai keringat bercucuran membasahi tubuhku. Sekitar 10
menit aku mendorong motorku, akhirnya aku sampe disalah satu pom bensin yang
jaraknya cukup jauh dari habisnya bensin motorku.
Setelah
aku mengisi bensin, aku pun langsung melanjutkan perjalananku dan setibanya aku
di sekolah, aku di tahan oleh guru piket karena keterlambatanku. Bukan hanya
aku saja yang terlambat, tetapi masih ada siswa lainnya yang terlambat. Tiba-tiba
ada seseorang yang menepuk pundakku dari belakang.
“weeehhh
zan... lu telat juga nih...???”
“iya
nih... gara-gara bensin motor gw habis...”
Ternyata seseorang
yang menepuk pundakku adalah si Rizki teman semejaku. Kemudian si Rizki pun
merayuku supaya tidak terkena hukuman dari guru piket.
“Zan...
gimana kalo kita kabur aja... biar kita gak dihukum...”
“Dih
janganlah Ki... nanti mah kalo ketahuan urusannya malah panjang...”
“kagak
bakalan Zan... lagian guru piketnya juga gak liat kita ini...” Rizki pun tetap
berusaha merayuku, tapi aku juga tetap berusaha menolak rayuannya.
“kagak
lah males gw...”
“gak
apa-apa Zan... kali-kali nakal kek... lagian jarangkan lu kayak gini...malahan
hampir gak pernah??”
“ya
udah lah sekali-sekali gw kayak gini..”
Akhirnya aku pun
terhasut oleh rayuan si Rizki. Ketika aku dan Rizki ingin hendak kabur,
tiba-tiba guru piket itu memanggil kami berdua.
“hey
kalian berdua... mau pergi kemana?? Sini cepat!!! Kalian mau kabur ya???” tanya
guru piket itu dengan nada yang cukup tinggi sampai-sampai siswa yang lainnya
menoleh ke aku dan Rizki dan kami berdua pun menjadi bahan tontonan para siswa
yang ada disekitar kami berdua.
“Nnnggg...
gak pak...” jawab kami berdua dengan nada yang gagap.
“Jangan
bohong kamu!!! Ngaku... Pasti kalian ingin kabur kan???” Ujar guru piket dengan
nada yang lebih tinggi.
“Iiiyyaaa
pak...” Jawab kami berdua.
“Mulai
sekarang kalian berdua bapak jemur di Lapangan sekolah sampai waktunya
istirahat pertama!!! Kalian paham???”
“Siap
paham pak...”
Aku dan Rizki
akhirnya dijemur di Lapangan Sekolah sampai waktunya istirahat pertama. Ketika
dijemur, aku marah sekali dengan Rizki sambil membentaknya.
“Lu
sih Ki gw jadinya dijemurkan... Ini semua gara-gara lu tau... ”
“Iya
zan gw minta maaf sama lu... ini semua gara-gara gw... maaf ya zan...”
Aku dan Rizki
hampir saja berkelahi, tiba-tiba datanglah kura teman sekelasku dan Rizki untuk
memisahkan kami berdua.
“sudah-sudah...
kalian ini sudah besar... tidak pantas untuk berkelahi didepan umum...
seharusnya kalian berfikir... sudah maafan!!!”
Akhirnya kami pun
maafan dan setelah itu kami kembali berteman.
Dua jam berlalu tibalah waktunya istirahat dan
kami berdua masuk kelas secara bersamaan. Waktu istirahat pertama sangatlah
singkat hanya lima belas menit saja dan bel pelajaran ketiga baru saja
berbunyi, berarti menandakan bahwa istirahat telah usai dan memasuki pelajaran
ketiga. Mata pelajaran ketiga dalam jadwal hari ini adalah pelajaran kimia.
Pelajaran kimia merupakan mata pelajaran yang sangat aku tidak mengerti sama
sekali. Guru yang mengajar mata pelajaran kimia bernama Ibu Lewis. Dalam hal
belajar, Ibu Lewis sangat tegas tetapi ia selalu menyempatkan senda gurau
ditengah waktu belajar sehingga anak murid tidak terlalu tegang.
Ibu
yang kami tunggu-tunggu akhirnya datang juga, seperti biasanya Ibu Lewis selalu
menggunakan kaca mata, entah itu kaca mata gaya atau kaca mata untuk membantu
penglihatannya. Tetapi ada yang sedikit berbeda dengan dirinya, ia membawa
kertas yang lumayan banyak dan aku pun bertanya pada diriku sendiri:
“Apakah
ia ingin mengadakan ulangan harian dadakan??”
Ketika ia sudah
duduk disinggasananya, ia pun berkata kepada muridnya sambil menyiapkan kertas
ujian untuk dibagikan kepada murid-muridnya:
“Anak-anak...
hari ini Ibu akan mengadakan ulangan harian dadakan... Kenapa??? Karena kalau
ulangan minggu depan ibu tidak bisa masuk dikarenakan ibu ingin cuti selama
lima hari... Ibu mohon kalian bisa memakluminya...”
“diiiihhhh
bu... kenapa harus kayak gini...” Ucap seluruh anak yang ada di kelas ku dengan
nada yang sangat keluh kesah.
“Kita
kan belum ada persiapan sama sekali bu...” Ucap salah seorang temanku.
“Sekali
lagi Ibu mohon maaf yah anak-anak...”
Dan
benar dugaanku, ia ingin mengadakan ulangan harian dadakan. Setelah dibagikan
lembar soalnya, Ku lihat pertanyaan-pertanyaannya yang ada di lembar soal dan
aku pun terkejut seketika karena aku tidak tahu rumus-rumus apa saja yang akan
aku gunakan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Waktu ujian pun
berakhir aku dan teman-temanku belum saja usai kecuali si Kura, ia sangat
pandai dalam mata pelajaran kimia. Semua pertanyaan-pertanyaan yang ada di
lembar soal mudah ia taklukan. Berbeda denganku dan teman-temanku lainnya, aku
dan teman-teman lainnya masih sibuk dengan kertas soal yang terisi penuh dengan
angka-angka, tetapi waktu menelan segalanya dan lembar jawaban harus
dikumpulkan.
Bel
pulang pun akhirnya berbunyi, para siswa yang lainnya pergi meninggalkan kelas,
sesampainya aku di halaman aula terjadi keramaian, entah ada apa disana? Aku
pun mendekati keramaian itu dan ternyata itu adalah hasil ulangan kimia. Saat
aku lihat nilai kimia aku pun terkejut, nilai kimia ku adalah empat puluh koma
lima. Dan yang membagikan hasil ulangan itu adalah Ibu Lewis sendiri. Ia pun
memberikan amanah kepada kami semua.
“Anak-anak
ini adalah hasil ulangan kimia kalian, semuanya kena remedial kecuali Kura.”
“apa..???
Hanya Kura saja yang tidak terkena remedial...” Ucap seorang temanku dengan
kebingungan.
“Karena Kura nilainya paling tertinggi di
kelas kalian... Ibu akan memberikan hadiah kepada kura.” Ujar Bu Lewis sambil
menyerahkan hadiah kepada Kura.
“Alhamdulillah
aku mendapatkan nilai tertinggi di kelas ku. Makasih ya bu hadiahnya...”
“ya
nak... sama-sama...”
Akupun
meninggalkan sekolah dan pulang menuju rumahku. Setibanya aku di rumah
tiba-tiba saja Ibuku datang menghampiriku sambil membawa sapu yang ada di
genggaman tangannnya dengan raut wajah yang tidak seperti biasanya yang aku
kenal.
“Mas...
tadi mamah mendapatkan telepon dari sekolah... Katanya kamu ini tadi terlambat
masuk sekolah ya.... dan kamu juga dijemur ya... lantaran kamu tidak ingin
dicatat namanya ya...???” Tanya ibuku dengan nada yang cukup tinggi.
“Iya
mah...” Jawabku dengan raut wajah memelas. “Kenapa???” Tanya bibuku lagi.
“Tadi
mah sewaktu mas berangkat di tengah perjalanan bensinya habis... dan mas pun
mendorong motornya sampai ke pom bensin selama 10 menit... sesampainya di
sekolah, gerbang sudah ditutup dan mas terlambat. Bukan mas saja ko yang
terlambat, masih banyak yang terlambat.” Jelasku kepada ibuku.
“Terus
penyebab kamu dijemur apa...??” Tanya ibuku lagi.
“Sewaktu
terlambat, mas ingin kabur mah lantaran tidak ingin dicatat namanya dan mas
juga karena diajak oleh teman mas...” Jelasku
“Mulai
saat ini, detik ini, mamah tidak ingin mendapatkan laporan seperti ini lagi
dari sekolah...” Kata ibuku sambil mamarahiku.
“Iya
mah...” kataku dengan nada yang rendah.
Malam
pun tiba aku memasuki kamarku untuk menyiapkan buku pelajaran untuk esok hari.
Setelah menyiapkan buku pelajaran aku merenungkan diriku didalam kamar tentang
kesalahan-kesalahan yang kuperbuat hari ini terutama nilai hasil ulangan
kimiaku. Andai saja aku bersungguh dalam menuntut ilmu pasti aku tidak akan
seperti ini. Secara tiba-tiba saja, pikiranku teringat kembali dengan hadist
yang disampaikan oleh ustad Fahmi Ilmi tentang bersungguh-sungguh dalam
menuntut ilmu yang ketika ia sampaikan sewaktu tausyiah setelah salat subuh.
Dan aku berbicara pada diriku sendiri.
“Mungkin
aku kurang bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu sehingga hasil ulanganku
tidak sesuai dengan apa yang aku harapkan. Andai saja aku bersungguh-sungguh
dalam menuntut ilmu, pasti aku mendapatkan nilai terbesar.”
Setelah
merenungkan diri dan teringat kembali hadist yang disampaikan oleh Ustad Fahmi
Ilmi, aku pun menjadi bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu. Mulai saat ini,
detik ini, aku berniat untuk dalam menuntut ilmu. Setiap malam aku belajar dan
mengerjakan tugas-tugas latihan. Tidur pun tidak terlalu malam. Aku juga selalu
berdoa kepada Sang Pencipta untuk dimudahkan dalam segala urusanku. Hari demi
hari ku lewati, semenjak aku merenungkan diri aku selalu lebih teliti dalam
mengerjakan apapun, seperti mengecek bensin motorku terlebih dahulu sebelum
berangkat ke sekolah supaya tidak terjadi keterlambatan seperti yang kemarin.
Sekarang
aku sudah besar, pekerjaanku sekarang sebagai dokter di puskesmas yang ingin
membantu masyarakat sekitar desa. Padahal aku masih rindu dengan masa kecilku
yang dahulu, rasanya ingin kembali menjadi anak kecil yang ingin bermain-main
tanpa beban pikiran dibandingkan aku yang sekarang. Tapi mau ga mau ya harus ku
hadapi dengan sabar.
Aku
di tempatkan tugas disuatu desa terpencil yang sangat jauh dari rumah orangtua
ku. Yang biasanya aku tiap pagi dibangunkan, dibuatkan sarapan, diingatkan,
dinasehatikan dicucikan dan di diiii...... yang lain, sekarang aku harus
melakukan nya itu dengan seorang diri.
Suatu
ketika di desa terdapat penyakit yang menyerang desa, penyakit yang belum tau
apa penyebabnya. Ketika warga datang ke puskesmas banyak yang mengeluh dengan
apa yang dialaminya.
Aku
bertanya ke salah satu warga, “ada apa bapak datang ke sini?” ku bertanya
sambil mensiapkan pulpen dan kertas untuk mencatat setiap jawaban dari
pasienku. “saya merasakan panas dan gatal di bagian punggung ini” sambil
menunjukkan dan menggaruk punggungnya. “coba saya periksa punggung bapak”
sambil menyuruh bapak itu tiduran tengkurep di kasur pasien. Setelah ku periksa
ternyata terdapat bentol-bentol merah yang sangat banyak di sekujur badan. “apa
yang membuat bapak seperti ini pak?” ku bertanya, bapak itu menjawab “saya
tidak tau apa penyebabnya tetapi banyak warga yang merasakan hampir sama dengan
penyakit yang saya alami ini” ujarnya sambil menahan rasa gatal dan panas.
Setelah
aku selesai memeriksa punggung bapak itu, aku pun langsung menyiapkan
obat-obatan seperti satu salep kulit dan satu pil kaplet. Aku pun langsung
memberitahu dosis-dosis aturan pakai obat tersebut. “ Pak..!! ini salep kulit
nya dipakai tiga kali dalam sehari ya pak... Dan ini pil kaplet nya diminum
tiga kali sehari setelah makan... Untuk biaya administrasinya bisa bapak
selesaikan di luar ruangan ya pak...” Bapak itu pun langsung mengerti apa yang
aku jelaskan kepadanya. “Ok dok.. terimakasih...”
Bapak
itu kemudian memberitahu kepada warga lainnya tentang keadaannya yang telah
membaik setelah tiga hari yang lalu datang ke puskesmas dan mengkonsumsi obat
yang telah aku berikan dan menyarankan agar para warga untuk datang ke
puskesmas. Para warga langsung berbondong-bondong datang ke puskesmas mereka
semua memiliki keluhan yang sama yaitu panas dan gatal dibagian punggung.
Namun,
enam hari setelah berobat ke puskesmas bapak itu malah merasakan gatal
disekujur tubuhnya bahkan lebih parah dibandingkan tiga hari yang lalu padahal
tiga hari yang lalu keadaanya sudah mulai membaik. “ada apa dengan badanku
kenapa gatalnya malah bertambah buruk dan kenapa bentol-bentolnya ada disekujur
tubuh dan lebih banyak dibandingkan tiga hari yang lalu. Apa ini karena obat
dan salep yang diberikan oleh dokter di puskesmas itu?” sambil melihat tubuhnya
dicermin. Bapak itu langsung memberitahu warga tentang keadaannya. Para warga
panik dan merasa takut setelah mendengar
apa yang dialami bapak tersebut, mereka memutuskan untuk datang ke
puskesmas meminta pertanggung jawabanku.
Bapak
itu dan para warga berbondong-bondong datang ke puskesmas untuk mencariku.
Suasana di puskesmas sangat sesak karena banyak warga yang mecariku sambil
meneriakan namaku. Aku langsung keluar dari ruanganku dan menenangkan para
warga. “ada apa bapak-bapak, ibu-ibu datang mencari saya? Apa ada yang bisa
saya bantu?”. Dengan nada suara yang tunggi “saya ingin meminta pertanggung
jawaban dokter tentang penyakit saya yang semakin memburuk”. “silahkan bapak
masuk, saya akan memeriksa kembali keadaan bapak?”. Bapak itu mengikutiku untuk
masuk ke dalam ruangan, aku langsung meminta bapak itu terlentang di kasur dan
membuka bajunya untuk melihat keadaanya. Setelah aku periksa ternyata
bentol-bentolnya menjalar keseluruh tubuh bahkan lebih parah dibandingkan
pertamakali aku memeriksa bapak ini tepatnya enam hari yang lalu. “bagaimana
dok, bukankah penyakitku lebih buruk dibandingkan enam hari yang lalu? Aku
merasakan gatal dan panas yang luar biasa disekujur tubuhku, bagaimana ini dok?
Apa ini akibat salep dan obat yang kamu berikan kepaduku?”. “tidak mungkin pak
saya memberikan obat yang sesuai dengan penyakit yang bapak alami tidak mungkin
karena obatnya pak”. “terus karena apa kondisiku memburuk seperti ini? Bukankah
seharusnya obatnya membuat keadaanku kian membaik kenapa malah membuat
keadaanku memburuk dok? Aku meminta tanggung jawabmu sebagai dokter yang
menangani penyakit gatal ku ini”. “baik pak saya akan bertanggung jawab atas
penyakit gatal bapak yang memburuk, namun saya akan menyelidiki dahulu penyebab
penyakit gatal ini bisa menyerang bapak dan warga lainnya, saya yakin ini bukan
karena obat yang saya berikan tetapi ada penyebab lain”. “baiklah, dokter ingin
mulai menyelidiki sebab penyakit ini dari mana?”. Sambil mengangguk mengerti.
“baiklah kalau begitu bisa bapak antar saya ke rumah bapak, saya ingin mulai
menyelidiki penyebab penyakit ini mulai dari kondisi rumah bapak dan warga
sekitar”. Bapak itu pun menjawab “baiklah mari saya antar”. Aku dan bapak itu
keluar ruangan, aku menjelaskan kepada warga lainnya bahwa aku akan bertanggung
jawab dengan cara menyelidiki penyebab penyakit ini bisa muncul dan menyerang
warga sekitar mulai dengan melihat kondisi rumah mereka.
Aku,
bapak itu dan warga lainnya menuju pemukiman mereka. Setelah sampai aku dan
bapak itu masuk kedalam rumah nya dan warga lainnya pulang ke rumah nya
masing-masing. “silahkan masuk” sambil membuka pintu rumahnya. Aku mengikuti
bapak itu masuk dan dia mempersilahkan aku untuk duduk “silahkan duduk dok, saya
akan ambilkan minum dulu”. “baiklah terimakasih pak” sambil duduk disalah satu
kursi diruang tamu. Bapak itupun kembali dengan mebawa secangkir teh untukku
“silahkan dok diminum, maaf tidak ada apa-apa hanya ada teh saja”. “terimakasih
pak, tidak apa-apa ini juga sudah cukup, maaf ya pak saya merepotkan bapak”.
Aku meminum teh yang telah bapak itu siapkan untukku. Setelah aku meminum nya
aku meminta izin kepeada bapak itu untuk melihat keadaan kondisi rumahnya.
“maaf pak bisa saya mulai untuk melihat kondisi rumah bapak”. Sambil mengangguk
“silahkan dok untuk melihat kondisi rumah saya”.
Setelah dipersilahkan akupun langsung mengelilingi rumah
bapak tersebut, aku memulainya dengan melihat kondisi kamar bapak itu. Aku
melihat sekeliling kamar, melihat jendela-jendela ternyata kondisi kamarnya
sangat bersih tidak ada debu sekalipun. Aku berpindah melihat kondisi dapur,
aku melihat juga isi kulkas bapak tersebut ternyata isi nya sayur dan
ikan-ikanan yang bapak itu peroleh dari kebun dan kolamnya sendiri “aku memakan-makanan
hasil dari kebun dan juga mendapat ikan dari kolam yang aku kelola, aku
berusaha memakan-makanan sehat yang aku peroleh sendiri”. “bagus sekali pak,
ini akan mencegah bapak terkena penyakit lainnya. Dengan memakan sayur, dan
ikan yang diolah sendiri akan lebih sehat dibandingkan dengan mengkonsumsi
makan-makanan instan” jelasku. Selanjutnya aku berpindah melihat kondisi ruang
keluarganya, ruang keluarganya terlihat sangat rapi dan bersih walaupun tidak
besar bapak dan keluarganya dapat membuat rumahnya senyaman mungkin. Aku
kemudian berpindah melihat kondisi kamar mandi bapak itu, kondisi kamar mandi
nya cukup bersih dan rapi, perlengkapan kamar mandi seperti sabun, sikat gigi
dan pasta gigi ditempatkan ditempatnya. Aku meminta izin ke bapak tersebut
apakah aku di izinkan masuk kamar mandi atau tidak “maaf pak bisa aku masuk ke
dalam kamar mandi bapak aku ingin melihat air yang bapak gunakan”. Bapak itupun
menjawab “silahkan dok”. “terimakasih pak” jawabku. Setelah di izinkan oleh
bapak itu aku langsung masuk ke dalam kamar mandi, aku melihat air yang
digunakan bapak tersebut, ternyata air yang digunakan sangat kotor bewarna
putih agak gelap tercemar dan terdapat butiran-butiran kotoran. “pak maaf”
panggilku. “iya dok ada apa?” jawab bapak tersebut. “bapak memperoleh air untuk
mandi dari mana pak?” tanya ku heran. “aku memperolehnya dari sungai kemudian
air sungai itu dialirkan ke rumahku dan juga ke tiap-tiap rumah yang ada di
pemukiman ini” jelasnya. Aku sangat heran dengan penjelasan bapak tersebut,
“apakah air sungai itu telah dicemari, airnya sangat kotor dan tidak layak
untuk dipakai” pikirku. “apa bapak juga menjadikan air ini untukdi konsumsi?”
tanyaku. “tidak, kami disini menggunakan air yang berasal dari mata air”
jelasnya. Dugaanku sekarang adalah penyebab penyakit gatal-gatal itu muncul
akibat air yang digunakan para warga tercemar, tapi aku tidak tahu penyebab air
itu bisa tercemar. “bisa bapak antarkan aku ke sungai yang digunakan bapak dan
warga sekitar?” pintaku. “tentu silahkan, mari saya tunjukan jalannya”.
Aku dan bapak tersebut keluar dari rumah. Bapak itu
mengantarku ke sungai yang air nya mereka gunakan untuk mandi dan keperluan
lainnya. Kami menyusuri pemukiman warga lainnya, jalannya cukup jauh untuk
sampai ke sungai yang dimaksudkan. Jalanan yang kami lewati masih berupa tanah
merah yang lengket jika terkena hujan, namun hari ini tidak hujan maka dari itu
jalanan yang aku dan bapak itu lewati kering. Kami berdua juga melewati
pepohonan yang sangat rindang, melewati beberapa warga sekitar yang sedang
mengambil hasil panen berupa sayur-sayuran dan juga buah-buahan, ada juga yang
sedang berusaha mengambil ikan dikolam dengan cara memancing, suasana di
pemukiman ini masih sangat asri, warga menjaga lingkungannya dengan baik.
Sampai
akhirnya aku tiba di sungai yang dipakai oleh warga sekitar untuk mandi dan
dipakai untuk keperluan lainnya. Ternyata kondisi sungai sangat kotor, air
berubah menjadi coklat gelap. “ternyata ini penyebab bapak dan warga lainnya
terkena penyakit gatal-gatal” jelasku. “bagaimana bisa sungai ini begitu kotor?
Kami warga sangat menjaga kebersihan sungai, kami dilarang membuang sampah di
sungai ini dan kami juga tidak pernah menggunakan sungai ini untuk mencuci
bahkan untuk membasuh kaki pun kami akan menggunakan wadah untuk mengambil
airnya” jelas bapak itu. “apa ada pabrik di dekat sini yang membuang limbah nya
ke sungai ini?” tanya ku. “ada satu pabrik di dekat pemukiman ini, apa iya
pabrik itu membuang limbahnya ke sungai ini?” jelas bapaknya dengan ekspresi
heran. Akhirnya aku, bapak tersebut kembali kepemukiman dan menjelaskan kepada
Rt, Rw, dan pihak Desa dan warga lainnya
tentang kondisi sungai yang sudah tercemar, akhirnya kami semua memutuskan
untuk datang ke pabrik tersebut.
Sesampainya di pabrik tersebut kami langsung bertanya ke
pada pihak pabrik apakah pabrik tersebut membuang limbahnya ke sungai kami
meminta penjelasan dengan sejujur-jujurnya dan ahirnya selang beberapa menit
pabrik itu mengakui jika mereka membuang limbah pabrik nya ke sungai yang
dampaknya yaitu membuat sungai menjadi tercemar dan warga terkena penyakit
gatal-gatal yang luar biasa. Pihak pabrik akhirnya bertanggung jawab atas apa
yang telah mereka perbuat, pihak pabrik akan memberikan air kepada warga
sekitar untuk dipakai keperluan sehari-hari dan juga pihak pabrik berjanji
tidak akan membuang limbahnya ke sungai lagi perjanjian ini ditandatangani di
atas matrai apabila pihak pabrik melanggar maka warga bisa menuntut pihak
pabrik tersebut.
Akhirnya aku meminta kepada pihak Rt dan Rw untuk
mengumpulkan semua warga di puskesmas “maaf pak Rt, dan pak Rw bisa bapak
mengumpulkan semua warga untuk segera datang ke puskesmas, saya akan memberikan
pengobatan kepada semua warga agar penyakit gatal-gatal warga tidak bertambah
parah” jelasku. “baiklah kami akan segera mengumpulkan semua warga dan menyuruh
mereka semua agar segera datang ke puskesmas. Terimakasih pak dokter atas
bantuannya” jelas bapak itu. “sama-sama pak” jawabku.
Akhirnya
semua warga berkumpul di puskesmas aku segera memeriksa mereka satu persatu dan
memberika obat untuk menghilangakan penyakit mereka. Senang rasa nya bisa
membantu sesama yang mebutuhkan. Tuhan maha pencipta segalanya, Tuhan
menciptakan manusia dan manusia lainnya agar bisa saling membantu satu sama
lain, dan Tuhan juga menciptakan alam dan sekitar dan makhluk lainnya berupa
sungai, pepohonan, sawah, ikan, ayam dan lainnya untuk dijaga dan dimaanfaatkan
sesuai fungsinya. Sungguh Allah maha pencipta segalanya.







0 komentar:
Posting Komentar