Sabtu, 20 Juni 2020

Memperhitungkan

Ketika kamu memilih sesuatu bukan berarti apa yang kamu pilih harus sejalan dan merujuk pada satu pilihanmu saja, sebab Allah SWT maha memberi perhitungan kepada setiap hamba-hambanya. Manusia hanya memilih dan berusaha, sedang Allah lah yang menentukan. Allah mengetahui setiap porsi kemampuan maupun kebaikan untuk setiap hambanya kendati pilihan tersebut tidak sesuai dengan perambisian kita yang telah berusaha dengan sangat baik.
   Tidak hanya itu, ketika kita diberikan sesuatu tanpa apa yang kita mau, mengapa kita harus berprasangka buruk terhadap Allah, padahal yang kita tahu, seluruh semesta ini diatur hanya oleh Allah SWT semata. Ibaratkan sebuah film, Allah sebagai sutradara yang mengatur skenario cerita sedang kita hanyalah perannya saja. Tak perlu  kita  mengeluh ataupun merasa peran kita yang paling buruk, sebab tak ada Allah menciptakan sesuatu tanpa tujuan dan dan maksud yang baik. Kita manusia hanya perlu memantapkan peran kita sebagai apa, siapa, dan bagaimana kehidupan kita.
   Kejadian itu tak pernah aku lupakan. 5 tahun yang lalu hidupku sangat tidak tertata dengan baik, apa yang ku lihat dari orang lain adalah emas, sedang aku, hanya sebuah kerikil kecil ditepian jalan. Aku tidak pernah berfikir bahwa apa yang Allah SWT telah gariskan seluruh jalan hidupku adalah hal terbaik yang sepatutnya aku terima.
    Ketika itu hujan sedang turun dengan deras, mengguyur basah sebagian perkotaan seluruh para pejalan kaki menepi di sebuah halte menunggu hujan reda, sudah tahu musim hujan tapi mereka tak ada membawa persiapan apapun. Sama halnya denganku. Ketika itu aku sedang berjalan dari sebuah apotik, membeli obat untuk ibuku yang sedang sakit. Rumahku cukup jauh dari apotik namun apa daya, uang yang ku pegang tak cukup untuk aku menaiki angkutan umum, maka kuputuskan untuk jalan kaki, aku memang terlahir dari keluarga yang tidak mampu, kalau bahasa kasarnya miskin. Terkadang aku melihat orang-orang yang lebih tinggi kedudukannya denganku sedang bersenang-senang bersama keluarganya, berjalan-jalan ke supermarket dengan membawa kantong-kantong plastik besar, makan di restoran-restoran mewah dengan makanan yang sangat lezat untuk dilidah orang biasa sepertiku. Kadang aku berfikir, mengapa aku terlahir bukan seperti mereka? Allah sangat tidak adil.
   15 menit sudah. Hujan mulai reda, aku memutuskan untuk bergegas pergi kembali ke rumah meski gerimis masih sedikit menetes di udara. Sayang sekali aku tidak membawa payung tadi padahal aku tahu, langit ketika itu sudah mendung, kalau boleh kuberi tahu, aku hanya memiliki dua payung, yang satu sudah tak bisa terpakai lagi, dan satu nya lagi rusak meski masih bisa dipakai. Lihat untuk membeli payung saja tidak sempat. Segala uang hasil kerja ibu dan ayahku habis hanya untuk keperluan makan sehari-hari serta sekolah aku dan kedua adikku yang masih kecil.  Dulu ibuku sempat berbicara padaku, bahwa setelah kelulusanku nanti aku harus menjadi orang yang sukses, orang hebat, dan bisa memperbaiki kehidupan keluarga kami. Namun disamping itu berarti aku harus bekerja dan tidak kuliah ke sebuah universitas terbaik, padahal masuk ke perguruan tinggi negeri terbaik adalah cita-cita ku sejak dulu aku masih duduk di kelas 6 sekolah dasar.
“Assalamualaikum”
“Waalaikumsalam, bang, udah pulang, kamu kehujanan begini, cepet ganti baju, nanti sakit” ibuku, yang sudah berkepala 4, usianya yang sudah begitu cukup tua, namun semangatnya mencari uang guna memenuhi kebutuhan keluarga tidaklah goyah. Mengapa harus ibu? Ayah ku sudah lama pergi meninggalkan ibu karena ia tak tahan dengan hidup susah bersama ibu, jujur, meski ibu ditinggalkan ayah dengan cara yang menyakitkan ibu tetaplah wanita yang tegar. Setegar batu karang yangdi hempas ombak berkali kali setiap hari tanpa henti.
Kini aku duduk di bangku kelas 12. Sejak ayah tidak ada, aku yang membantu ibu untuk bekerja mungkin setelah lulus nanti sebaiknya ibu di rumah dan aku yang menjadi tulang punggung keluarga.
”iya bu, ibu udah makan? Cepet minum obatnya supaya ibu lekas sembuh. Abang gak bisa liat ibu terus-terusan sakit begini.” Meski dalam lubuk hatiku aku tidak menyukai kehidupan yang seperti ini, namun ibuku adalah ibuku, malaikatku, penenangku, aku sangat tidak tega melihatnya terus-terusan bekerja  banting tulang sendirian. Maka aku putuskan dengan berat hati. aku bersiap melepas cita-citaku untuk masuk ke perguruan tinggi negeri terbaik di Indonesia.
“bang, kalau abang kelelahan, biar ibu saja yang bekerja nanti malam, abang besok sekolah harus belajar supaya abang bisa dapet beasiswa kuliah. Itu kan cita-cita kamu sedari dulu.” Ungkapan ibu kepadaku membuatku sadar, betapa inginnya ibuku melihat ku bisa kuliah ke perguruan tinggi negeri. Namun mau bagaimana lagi meski sudah dapat beasiswa pun aku tidak bisa meninggalkan ibu sendirian di sini. Dan aku masih ingin menjaga kedua adikku, Nana dan Tia yang masih duduk dibangku kelas 4 dan 6 sekolah dasar.  Dan kebetulan rumah kami sangat jauh dari kota, dan perguruan tinggi negeri terbaik pun taka da yang dekat dengan tempat dimana kami tinggal.
“bu, Nana sama Tia udah makan?” aku bertanya pada ibu
“belum, ibu belum masak apa-apa bang.” Keluh ibu.
“ya sudah biar abang yang belikan makan keluar, nanti malam biar abang yang jualan nasi goreng, ibu istirahatlah di rumah.” Pintaku.
Di sepanjang perjalanan aku melihat ada Agam, teman sekelasku. Kalau boleh ku deskripsikan Agam ini sangat pandai, sering mendapat juara di kelas, dia sainganku, dia pun keturunan dari orang berada dan sangat  berbanding 360 derajat denganku. Setiap hari aku melihat dia membawa bekal ke sekolah dengan makanan yang sangat lezat, mahal dan uang jajannya pun 10 kali lipat dari uang jajan yang kubawa setiap hari ke sekolah. Namun sayang, karena kehidupannya yang bak seorang raja yang kaya raya dengan harta melimpah ia sangat jarang menyisihkan sebagian hartanya kepada kaum duafa. Ia terlihat sangat acuh dan tidak peduli dengan orang-orang yang berada dibawahnya. Tatkala ia pun kadang merendahkanku, dengan kata kata yang sedikit menyinggungku dan seolah pamer dengan barang-barang yang baru dia beli di supermarket dengan harga dan kualitas yang tinggi.
“eh zi, mau kemana? Pasti mau ke pasar ya. Duh kamu tuh harusnya di rumah belajar biar bisa kuliah bareng aku biar dapet beasiswa.” Agam menghampiriku, dengan pakaiannya yang rapi tangannya membawa sebuah minuman kaleng bersoda tak tahu dia habis darai mana, yang jelas arahnya dari taman kota.
“eh gam, iya ibu gue lagi sakit jadi terpaksa gue yang belanja. Lo dari mana?” tanyaku, aku sedikit tidak menghiraukan apa perkataan agam. Karena memang tidak penting bagiku.
“dari taman kota. Main.” Katanya.
“oh yaudah gue duluan...”
“permisi nak..” tiba-tiba ketika aku hendak berjalan melanjutkan perjalanan ku, ada wanita yang sudah sangat tua sekali menghampiri aku dan agam. Dengan wajahnya yang lusuh, kakinya yang pincang, ia membawa sebuah kain dipukil di bahaunya yang sudah rentan dan ia menggandeng seorang anak kecil yang kelihatannya ia seorang tunanetra, mungkin ia bersama cucunya. Meski tidak ada uang lebih aku merasa sangat iba, dan ku berikan sedikit uang jajanku yang sengaja ku sisihkan untuk esok sekolah kepadanya.  Namun agam hanya menolak dengan halus, “maaf” katanya. Wanita tua itu pun tersenyum tanda berterima kasih kepadaku dan agam, lalu ia pergi meninggalkan kami.
    Selepas berbelanja aku membereskan rumah sambil mempersiapkan bahan-bahan untuk berjualan. Ibu sedang tidur dengan lelap. Sedangkan tia dan nana sedang membantuku memotong sayuran dan acar.
“bang, besok disekolah nana ada perpustakaan sama bazar keliling, nana mau beli buku matematika bang, buat nana belajar, siapa tau nana kan bisa ikut lomba olimpiade juga di sekolah sama kaya temen nana.” Sambil memotong motong sayuran nana berbicara kepadaku, kasihan juga kalau aku tidak memberikannya uang. Tapi darimana uang itu, sedangkan sedikitpun aku tidak mau memberatkan ibu, kali ini biar aku saja yang berusaha untuk memberinya uang.”
“tia juga mau bang, tia mau beli buku cerita anak, soalnya tia juga pengen, temen-temen pada ribut tadi di kelas milih buku-buku bagus banget kayanya seru.” Ucap tia
“haaduh dek, kamu itu harusnya beli buku yang bermanfaat dong. Kalo emang Cuma buat baca aja mending kamu pinjam punya temen. Kasian kan abang punya uang dari mana. Ngebebanin aja kamu bisanya.” Nana yang mengerti akan kondisi keuangan keluarganya tidak mengizinkan tia membeli buku yang bukan pelajaran tapi hanya semata untuk hiburan.
“mending buat makan” lanjut nana.
Tia hanya berdecak kesal, mengapa kakanya hanya mementingkan dirinya saja sedangkan tia pun ingin membeli buku juga sama seperti temannya.
“yaudah hari ini abang jualan lebih banyak lagi supaya dapat uang lebih kalian bisa beli buku besok.”
“ayeeyy.” Seru tia yang merasa sangat senang.
  Semalam suntuk. Sudah waktunya pulang mendorong gerobak nasi goreng dini hari. Waktu menunjukkan pukul 2 malam. Malam ini aku berhasil menjual lebih banyak nasi goreng. Dapat uang lebih namun untuk membeli 2 buku sepertinya masih sedikit kurang. Karena aku tidak ingin mengecewakan kedua adikku maka seluruh uang jajanku ku beri untuk dapat membeli buku nana dan tia. Maka hari ini aku memutuskan untuk berpuasa sunnah. Kebetulan hari ini adalah hari kamis.
   Tidak tega rasanya ketika aku melihat wajah ibu dan adik adikku yang sudah lelap tertidur, mereka adalah perempuan-perempuan yang harus ku lindugi dan ku jaga.  Kusimpan uang hasil berjualanku malam ini di dalam lemari ibu.  Dan sebagiannya ku masukkan ke dalam tas nana, biar nana saja yang pegang uang untuk membeli buku tia, takut hilang karna tia memang ceroboh terkadang.
   Pagi menjelang, aku sudah menyiapkan sarapan pagi untuk ibu, nana dan tia. Selepas ku sahur jam 3 pagi tadi Aku tidak bisa tertidur sama sekali
“makasih banyak bang.” Ucap nana sambil menyantap makanan yang telah ku siapkan.
“bang, banyak sekali tampaknya kamu berjualan semalam” tanya ibu kepadaku
“iya bu, sedikit nambah uang buat tabungan ibu” kataku.
“yasudah kamu sekolah, sudah siang mau sampai sekolah jam berapa” ibu menyuruhku untuk cepat bergegas pergi ke sekolah. Dan tampaknya ibu tahu kalau aku tidak tidur semalaman. Terlihat dari wajahku yang sangat lelah dan kantung mataku yang membengkak dan hitam. Tak lama kemudian aku pamit dan pergi ke sekolah.
 “lo mau kuliah dimana”
“wah gue sih pengennya ke singapura, mama gue udah beli kursi coy disana buat gue”
“wah keren kalo gue sih di kota kayanya, kebetulan nilai gue gak jelek-jelek amat”
“ih gimana ya rasanya, kalo nanti bisa lulus sarjana sama orang tua lengkap duhh kepengen”
“ah gue sih gamau kuliah tapi gue mau langsung kerja di perkantoran atau les dulu setahun baru gue bisa jadi penerjemah lumayan tuh”
“yaa asal lo semua jangan jadi pengangguran aja tau jadi tukang jualan. Haha”
“hahahhahahahah”
Seketika suara tawa memecah suasana kelas, siswa dan siswi sedang sibuk berkelompok berdiskusi satu sama lain membicarakan sekolah masa depan. Tentu aku mendengar kata-kata yang telah mereka keluarkan, kadang aku merasa tersindir dengan ucapan-ucapan mereka sebagai orang-orang yang berada. Ada agam tentunya disana, dia memang sempat bilang padaku kalau dia sudah membeli kursi untuk kuliah di singapura, mengambil fakultas kedokteran. Keren kan. Ya keren dibanding aku. Si penjual nasi goreng.
“hey fauzi. Sini dong ikut kumpul”
“ayo dong, kamu habis lulus mau kemana, sini kita juga perlu tau.”
“jangan-jangan gue kan tau kenapa lo gak nanya aja ke gue. Gue kan sahabat sebangkunya.”
“oh iya gam. Kemana gam.”
“jualan nasi goreng.” Sambar agam, seketika tawa menggelegar terdengar dari kumpulan para siswa dan siswi disana. Menyayangkan. Serendah itukah aku dimata mereka. Ingin rasanya aku pun kuliah sama seperti mereka. Masuk ke perguruan tinggi negeri terbaik. Ah. Saat itu aku benar benar kesal dengan semuanya.
    Sejak kejadian hari itu aku menjadi sangat pemarah. Selalu marah dengan semua orang, marah dengan nana, tia, ibu, bahkan terkadang aku marah dengan diriku sendiri. Mengapa aku tidak seperti mereka. Mengapa aku tidak bisa kuliah sama seperti mereka. Kalaupun harus dapat beasiswa, kenapa aku tidak pernah dapat nilai tertinggi padahal setiap hari aku selalu berusaha sekuat tenaga untuk mencapai hasil yang terbaik. Bagiku ini sudah cukup.
“bang, hari ini ibu mau nambah jualan supaya bisa dapat tabungan lebih banyak.” Ucap ibu yang sedang membereskan gerobak, bersiap untuk berjualan.
“ibu berjualan dengan sebanyak apapun, gak bisa buat abang masuk ke PTN terbaik di Indonesia” ucapku dengan santai. Lalu aku masuk ke dalam kamarku. Membanting pintu.
Ibu mengetuk pintu lalu membukanya perlahan, melihat aku yang sedang telungkup di kasur.
“bang, kamu mau kuliah memang? Kenapa abang berubah pikiran” ucap ibu dengan pelan, sambil mendekatiku.
“capeklah bu, setiap hari abang dihina, hidup susah. Jalan-jalan pun tidak pernah. Abang juga mau bisa kuliah. Abang gak mau sampe jadi penerus ibu yang kerjaannya jualan nasi goreng tiap malam, uang pun dapatnya sedikit. Kenapa kita harus hidup begini bu!” baru kali ini aku marah dengan ibu. Marah karna apa yang aku miliki lebih rendah dibanding teman-temanku.
Marah pada ibu, marah sekali.no
“bang, ibu selalu senang kalau lihat abang sukses, ibu selalu berusaha dan berdoa supaya suatu saat nanti kamu bisa jadi orang besar dan hebat. Tapi ingat. Jangan pernah abang lihat kekayaan dan kebesaran orang itu sebagai surga dunia, tapi abang harus tahu, semua itu Cuma tipu daya dan bisa menjerumuskan kita ke sifat sifat yang gak benar, seperti kikir dan lain sebagainya. Ibu janji akan kuliah kan abang sampai abang lulus sarjana nanti.” Ucap ibu, perlahan suara langkah kaki terdengar semakin menjauh, dengan suara pintu tertutup. Aku mulai berfikir, kalau begitu apa lebih baik aku kabur dari rumah tak tahan dengan semua ini. Namun aku teringat sosok kedua adikku yang masih kecil, yang mungkin di usia ibu yang sudah sangat tua apakah ibu masih bisa mengurus mereka tanpaku. Tidak itu terlalu kejauhan. Aku Hanya bisa bersabar,  Berharap agar Allah mrngabulkan semis keinginanku agar Aku Bisa menjadi orang sukses Dan Bisa membahagiakan ibu Dan adik-adikku.
       Lantas aku pun terdiam, Dan aku mulai berfikir bahwa hidup tidak boleh putus asa dan kita harus percaya bahwa allah swt akan mengubah suatu keadaan kalau kita mau mengubahnya. Hari-hari telah ku jalani Dengan penuh semangat dan belajar dengan giat. Aku tidak peduli berapa banyak orang yang menghujatku dan mencaciku dengan keadaan seperti ini aku tetap berusaha bangkit dengan keterpurukan ku ini. Berusaha, berdoa, dan ikhtiar, hanya itu yang bisa ku lakukan. Keesokan harinya, aku pergi ke sekolah seperti biasanya dengan penuh semangat. Sesampainya di sekolah, aku pun belajar seperti biasanya. Setelah pulang sekolah, aku segera membantu itu untuk berjualan nasi goreng nanti malam. Tidak terasa waktu begitu cepat, hari demi hari ku jalani tidak terasa esok adalah hari untuk melaksanakan Ujian Nasional. Aku pun meminta restu kepada Ibu agar esok hari di mudahkan dalam pengerjaan Ujian Nasional itu. "Bu, abang minta doanya ya, agar besok lancar dalam menjalani UN" kataku sambil mencuci kaki ibu. "Iya bang, ibu selalu doain kamu kok, biar kamu lancar dalam hal apapun, biar kamu jadi anak yang sholeh dan sukses" jawab ibu sambil menangis haru. "Terima kasih bu atas doa nya, srmoga allah menjabah doa ibu, aminn" jawabku sambil mencium tangan ibu. Keesokan harinya, aku pergi ke sekolah agak pagi karena takut terlambat. Sampai di sekolah, aku bertemu agam, lalu dia menghampiriku " eh, lo mau lanjut kemana nih nanti? Jangan bilang kalo mau tetep terus jual nasi goreng hahahaha" kata agam sambil meledekku. Lalu aku hanya diam tanpa kata, hanya yang bisa ku lakukan hanyalah sabar. "Kok diem aja sih, yaudah gue duluan" kata agam sambil berjalan meninggalkan ku. Aku hanya terdiam, sambil mengepalkan tangan, lalu menghela nafas sejenak karena sesak di dalam dada. Namun aku tidak memikirkan perkataan agam tadi, karena sudah terbiasa, jadi aku hanya menganggap angin lalu saja. Hari ini jadwal mata pelajaran ujian nasional adalah bahasa indonesia, aku pun yakin aku pasti bisa menjawabnya karena menurutku bahasa indonesia tidak sesulit matematika. Aku pun segera masuk ke dalam ruangan ujian karena tidak terasa sudah masuk bel sekolah. Hanya peralatan sederhana saja yang ku bawa dari rumah, tidak seperti agam dan teman-teman ku lainnya yang seluruh peralatan sekolahnya baru semua. "Eh abang nasi goreng, Pake pensil beginian mah kaga bakal kebaca kali di komputer, ya gak temen-temen?" Kata agam dengan menunjukkan pensil lama ku yang murahan dan menunjukkannya di depan teman-temanku. "Hahahaha" semua pun menertawaiku. Sebenarnya aku ingin marah, namun ku tahan karena pengawas dari sekolah lain pun datang. Aku pun segera mengambil pensilku yang sedang di pegang agam. "Sini gam, balikin" kataku sambil merebut pensil itu. Waktu pengerjaan ujian nasional pun di mulai. Aku pun dengan jeli dan konsentrasi mengerjakannya karena takut ada kesalahan. Setelah selesai mengerjakan un, aku pun segera pulang. Ujian nasional dilaksanakan selama empat hari.
         Hari ini adalah hari terakhir pelaksanaan ujian nasional, aku pun masih semangat dengan belajarku, semoga usahaku tidak mengkhianati hasilku nanti. Sebelum berangkat ke sekolah, aku pun berpamitan dengan ibu di rumah. Sesampai di sekolah, aku pun segera memasuki ruanganku. Setelah itu pengawas datang ke ruangan ku dan aku pun segera mengerjakan un dengan teliti dan konsentrasi. Setelah selesai, aku pun tidak segera pulang karena ada pengumuman dari pihak sekolah. "Assalamualaikum wr.wb, salam sejahtera bagi kita semua, oke anak-anak, bapak mau kasih tau pengumuman penting, jadi tolong dengerin ya, nilai hasil ujian nasional akan di beri tau seminggu setrlah pelaksanaan ujian nasional, jadi bapak harap kalian bisa menerima itu dengan baik, karena apa yang kalian kerjakan, itu adalah hasil kalian sendiri, cukup sekian dari bapak, wassalamualaikum wr.wb" kata pihak sekolah. "Waalaikumsalam wr.wb" jawab semua murid di sekolahku. Seminggu pun telah berlalu, aku pun tidak sabar menunggu hasil nilai un ku. Saat sampai di sekolah, kulihat sekitar mading sudah penuh dengan orang-orang yang ingin tau nilainya, aku pun segera melihat ke mading, dan alhamdulillah, nilaiku rata-rata 8 semua, aku sangat senang sekali. Aku pun segera  memberitahu ini kepada ibu. Ibu pun sangat senang mendengar kabar baikku ini, nilaiku no 2 terbaik di sekolah, yang pertamanya adalah agam. Ya, dia adalah sainganku dari dulu. Hari ini adalah hari yang menyedihkan, aku harus berpisah dengan teman-temanku, yaitu hari ini adalah hari perpisahan sekolah kami. Semua trman-temanku berseragam rapih, sedangkan aku hanya berseragam seadanya, yang penting kerapihan dan bersih. Lalu saat proses pemakaian toga, aku pun tidak sangka kalau nilai ku dan agam akan di umumkan pada acara perpisahan sekolah, lalu semua trmanku memberikan selamat kepadaku dan agam. Setelah acara itu selesaj, aku pun segera pulang. Lalu, aku segera mendaftarkan diri ke universitas negeri yang ku idam idamkan selama ini. Aku mengikuti jalur sbmptn yaitu lewat tes. Aku pun tidak akan mrnyia nyiakan kesempatan ini, lalu aku segera mengikuti tes nya. Tidak lama pengumuman calon mahasiswa universitas negeri yang aku daftarkan akhirnya di umumkan lewat online, karena tidak ada handphone, aku harus pergi ke warnet atau warung telepon agar bisa melihat pengumuman itu, Alhamdulillah akhirnya aku masuk juga lewat jalur sbmptn. Aku sangat senang sekali, lalu aku mengajukan juga ikut beasiswa bidik misi, lalu aku pun mendapatkannya. Ibu ku sangat senang sekali mendengar kabar baik itu semua, aku pun segera pindah ke kos kosan yang sudah aku pesan untuk di tempati. Lalu ibu dan adik adikku memilih untuk tetap tinggal di rumah, karena adikku masih ada yang srkolah, jadi agak susah mengurus surat kepindahannya, tetapi aku bukan anak yang hanya memanfaatkan kesempatan bidik misi saja, aku pun memilih untuk berjualan nasi goreng resep ibu ku di sana, setiap bulan aku menabung untuk modal berdagangku nanti. Aku berjualan dari sehabis pulang kuliah hingga larut malam, jarena biasanya orang-orang sangat suka mrmakan nasi goreng malam-malam. Aku tidak perduli betapa lelahnya diriku, aku hanya berfikir bahwa aku harus punya penghasilan lebih agar bisa membantu meringankan beban ibu di sana.
        Tidak terasa sudah 5 bulan aku kuliah di sana, aku hanya bisa setiap akhir bulan mengunjungi rumah ibu. Karena letak kampus ku, jauh dengan rumahku di kampung jadi aku memilih akhir bulan adalah waktu yang tepat untuk pulang. Malam ini aku harus berjualan di tempat biasa, lalu selang beberapa jam kemudian setelah aku sampai di tempat daganganku, aku melihat agam di pinggir jalan seperti sedang menunggu seseorang, lalu akupun menghampirinya. "Eh, lo agam kan?" Kata ku. Lalu agam menjawabnya "iya, lo fauzi tukang nasi goreng itu kan?" Jawabnya sambil mengangkat alis. "Iya gam, apa kabar lo?"jawabku , "baik kok zi, oiya, lo kuliah di sini?" jawab agam. "Iya gam, gua sambil jualan nasi goreng juga" jawbaku. "Yaelah zi, lo dari dulu ga bosen apa jual nasi goreng terus, gua yang liatnya aja bosen hahaha" kata agam sambil meledek bercanda. "Enggak gam, gua jualan karna gua butuh, gua ga mau terlalu mengandalkan bantuan dari pemerintah aja, gua juga mau bantu orang tua gua" jawabku. Mendengar perkataanku tadi, agam pun terdiam, lalu dia memilih untuk pergi karena ada temannya yang akan menjemputnya untuk ke bandara. Aku pun segera meneruskan pekerjaan ku yaitu berjualan nasi goreng. Setiap malamhari hari ku di penuhi oleh perjualan nasi goreng, aku tidak perduli orang akan berkata apa, yang penting aku bisa membantu ibu. 1 tahun berjualan, tidak ku sangka ternyata banyak sekali pelanggan nasi gorengku ini, pemasukan hari demi hari bertambah, bahkan aku sering mendapatkan pesanan catering, sampai-sampai aku harus bolos kuliah srhari karena pesanan yang membludak, aku hanya dibantu oleh kedua trmanku yaitu oji dan bowo, mereka teman kos kosan ku sekaligus penjual nasi goreng juga. Pemasukanku sudah ku hitung ternyata cukup memuaskan, bahkan lebih dari ekspetasiku, aku pun bisa membeli apapun yang ku suka. 4 tahun berlalu, aku pun telah selesai kuliah, ibu pun pergi ke bogor tempat kuliahku, untuk menghadiri acara wisuda ku nanti. Setelah menjadi sarjana, akupun membuka restoran karena ada kerja sama dari pihak hotel yang menghubungiku, dan kebetulan management hotel tersebut yaitu teman baikku di kampus, yaitu angga. Seketika penghasilanku 10 kali lipat bertambah, aku pun bersyukur kepada allah karena telah mengabulkan doa ku ini, dan aku pun bisa membahagiakan ibu dan adikku. Akhirnya kami hidup serba kecukupan, dan aku saat ini mempunyai beberapa restoran di beberapa daerah. Tetima kasih ya allah, engkau sangat adil dalam hidup ku ini, akan ku jadikan semua ini sebagai pembelajaran bahwa terkadang hidup tidak selalu di bawah dan di atas. Allah pun akan memperhitungkan apa yang telah kita perbuat di dunia ini, dan akan menggantinya lebih baik lagi. 

0 komentar:

Posting Komentar