“Yah....apakah setiap bintang memiliki
pola?
“Benar nak, setiap bintang pasti
memiliki pola tersendiri, namun kita menyebutnya sebagai rasi bintang, seperti itu” ayahnya
menunjukkan tangannya ke langit
“Wah....indah sekali ayah. Itu namanya
rasi apa ayah?”
“Itu namanya rasi Aries” terang ayahnya
“Yah...Apakah di langit sana ada
kehidupan?” tanyaku penasaran.
“ Mungkin ada, ayah tidak tahu karena
hanya Allah lah yang mengetahuinya. Namun yang jelas, di sana ada sesuatu yang
sangat menakjubkan yang tidak bisa kita lihat.”
“Suatu saat nanti, aku ingin pergi ke
sana yah”
“Boleh saja, tapi belajar dulu yak
nak...”
“Oke yah”
Sejak saat itu mimpiku dimulai,
ayah selalu menemaniku belajar setiap harinya. Dialah yang selalu mendukungku,
menyemangatiku, mendorongku dan sebagai motivator terbaikku. Dia adalah seorang
ayah dan sekaligus ibu bagiku. Karena ibuku sudah lama meninggalkan aku dan
ayahku. Ibu sudah bahagia di sana sejak aku hadir di dunia ini. Kata ayah, ibu
ada di sana, sambil menunjuk langit yang indah dan megah. Karena itu lah aku sangat
menyukai langit, menatapnya di malam hari mengingatkanku pada kasih sayang
seorang ibu. Ingin rasanya ku merasakan hangatnya pelukan seorang ibu, namun
itu hanyalah khayalanku saja. Walaupun aku belum pernah bertemu dengannya,
namun aku selalu merasakan kehadirannya dalam setiap mimpiku. Kini ayahlah yang menggantikan peran ibu, dia yang selalu memberikan kasih sayang bagaikan seorang ibu
kepada anak-anaknya. Ayahku sangat menyayangiku dan ia selalu memberi pelajaran
hidup agar ku siap menghadapi berbagai rintangan di kehidupan ini, karena aku
percaya Allah swt. Menciptakan setiap manusia di dunia untuk berpikir.
Sudah 9 tahun aku hidup
sendiri, hanya sebuah foto usang yang menemaniku selama ini, terlihat beberapa
garis yang menghapus bagian foto tersebut, tak ada warna hanya hitam dan putih
yang terlihat. Namun, ada jiwa di dalamnya, seperti ada yang menemaniku disepanjang
hari. Dengan tatapannya seolah ayah
berkata “Bangkitlah anakku, ayah selalu bersamamu nak”. Inilah teman saat ku
terpuruk, saat ku kesepian, hanya sebuah foto usang dan sang rembulan yang
indah. Dan sejak aku kehilangan kedua orang tuaku aku tinggal di sebuah panti
kecil di sudut kota.
Malam ini, aku teringat kenangan masa kecilku
bersama ayah yang selalu menemaniku melihat bintang disetiap malam. Aku selalu
ingat pelajaran-pelajaran yang diberikan oleh ayahku sewaktu kecil. Dan itu
juga menjadi motivasiku dalam meraih masa depan yang lebih baik, dan aku ingin
suatu saat nanti aku berguna bagi orang lain dimasa
yang akan datang.
Allah menciptakan triliunan bintang-
bintang di angkasa sana, tetapi setiap bintang itu ada yang dapat dilihat
dengan mata telanjang ataupun menggunakan alat bantu seperti mikroskop. semua
itu diciptakan bukan tanpa rencana, melainkan dengan kadar yang sudah ditentukan
bersamaan dengan penciptaan alam semesta pada 13.8 miliyar tahun yang lalu. Ketertarikan ku terhadap ilmu perbintangan atau ilmu
astronomi sangatlah besar. Dari sinilah aku ingin tau lebih banyak lagi. Dengan
semua kerja kerasku dan ridho dari Allah, ku yakin bias meraih mimpiku.
Ketika itu,
saat ku masih duduk di sekolah menengah atas terfavorit di kotaku. Aku bisa
masuk ke sekolah tersebut karena beasiswa dari pemerintah. Sekolahku mengadakan
kegiatan observasi di salah satu hutan lindung di pulau seberang. Pagi itu,
semua temanku diantar oleh kedua orang tuaku, sedangkan aku hanya biasa
tersenyum, lebih tepatnya senyum yang dipaksakan. Tidak ada yang
mengantarkanku, karena ibu panti sedang sibuk. Kini aku harus bisa hidup
mandiri tanpa kedua orang tuaku.
“Hey, toat
siapa yang mengantarkanmu ?” Tanya ali
“Dia kan sudah
tak memiliki orang tua lagi, kasian deh, gak seperti kita bias diantar jemput,
bawa uang banyak, gak kaya dia” timpal anto`
“Kamu bawa uang
berapa?” Tanya anto kemudian`
“Alhamdulillah
, aku bisa membawa uang Rp.50.000,-” jawab toat dengan ramah.
“Duh, miskin
banget sih, masa mau ke pulau seberang cuma bawa Rp.50.000,- doing, gengsi
kali” ejek anto.
“Hahaha….dasar
miskin” tawa mereka mengejek toat bergantian.
Aku hanya bisa
tersenyum mendengar cacian mereka, aku hanya bisa sabar dan menutup kupingku,
tak peduli lagi apa yang mereka katakan aku
pergi meninggalkan mereka dan langsung duduk di kursi yang paling
belakang. Selama perjalanan, semua temanku bersuka cita, bernyanyi, bergurau,
tapi tidak ada yang mengajakku bergabung. Aku seperti diasingkan, tak dianggap.
Malam harinya, saat semua sedang terlelap dalam mimpi indahnya, hanya aku yang terjaga, aku menatap langit yang hitam
itu, memandangnya, menikmati megahnya malam sunyi tapi menakjubkan. Aku
menghabiskan malam ini dengan memuji nama-NYA. Tak terasa kelopak mataku begitu
berat, sudah tak bisa lagi aku menahan, akhirnya aku terlelap juga.
“Ayo anak-
anak, kita sudah sampai di hutan lidung” ibu guru berteriak di dalam bis
membangunkan kami dari mimpi- mimpi indah kami.
“Sekarang baris
di depan bis ini, ibu bagi kalian menjadi 5 kelompok”
“Baik bu” jawab
kami serentak`
Pembagian
kelompok dilakukan secara acak, aku satu kelompok dengan ali, anto, andi, bayu,
ratna, lulu, ayu, dan tata. Kami ditugaskan untuk meneliti karakteristik
tumbuhan yang terdapat di hutan lindung ini.
“Dengarkan ini
baik- baik, kalian sudah ibu bagi menjadi 5 kelompok, kalian harus tetap
bersama jangan ada yang meninggalkan satu sama lain, ingat itu. Tugas kalian
sudah ibu bagi berdasarkan kelompok. Selamat meneliti anak- anak.” Ibu guru
memberi arahan kepada kami.
“Baik bu”
“Oke, sekarang
silahkan kalian mengerjakan tugas kalian.”
“Baik bu.”
Jawab kami serempak dan mulai berpencar mengerjakan tugas kami masing- masing.
Aku dan kelompokku pergi ke sebelah timur dari posisi tadi, mencari salah
tumbuhan yang harus kami teliti.
“Hey toat, kamu
cari ya tumbuhan itu. Sedangkan kami akan menunggu di sini.” Perintah anto.
Aku pergi mencari tanaman yang harus diteliti.
Berjalan terus meninggalkan teman- temanku. Akhirnya aku menemukan tumbuhan
yang kucari. Tak terasa sudah begitu
jauh aku masuk ke dalam hutan, begitu ku sadari kumelihat hari mulai gelap.
Bukan karena malam, tapi tidak ada sinar matahari yang terlihat, yang ada hanya
awan hitam yang menyelimuti langit. Tak lama rintik hujan mulai turun menyerbu
bumi, seakan ia ingin menunjukkan betapa perkasanya ia. Segera ku mencari pohon
yang besar yang bisa aku jadikan tempat berteduh.
Saat itu, saat
ku sedang menunggu hujan reda, ku melihat seorang nenek tua dengan seikat kayu
di punggungnya. Nenek itu semkin terlihat dekat, ku perhatikan terus, saat aku
yakin itu adalah seorang manusia sesungguhnya ku langsung mendekatinya dan
membantunya untuk membawa kayu bakar tersebut.
“Mari nek aku
bantu” tawarku
“Terimakasih
nak”
“Apa
yang sedang nenek lakukan disini ?” tanyaku yang merasa heran
“Hanya
mengumpulkan ranting- ranting kayu yang sudah kering” jawabnya terbata-bata.
“Oh,
begitu...maaf nek, aku tersesat disini, apakah nenek bisa membantu saya untuk
keluar dari sini” aku bertanya lagi sambil kebingungan.
“Baiklah,
setelah hujan reda
nenek akan antarkanmu ke luar hutan ini.
“ jawab nenek itu.
“Terima
kasih nek “ sahut aku yang mulai merasa lega.
Selama menunggu
hutan reda, aku bercakap- cakap dengan nenek tua itu, ternyata rumahnya tak
jauh dari lokasi ini, nenek itu hanya tinggal berdua bersama cucunya. Sedangkan
kedua orang tua cucunya sudah lama meninggalkannya. Mereka meninggal dunia
karena kebakaran hutan 10 tahun yang lalu. Mungkin cucu sang nenek seumuran
denganku, namanya iyen. Dari cerita nenek, ku tahu iyen merupakan gadis yang
pintar, tapi sayang dia kurang mendapatkan pendidikan yang layak, dia bahkan
harus melewati hutan ini jika ingin pergi ke sekolah.
Setelah beberapa menit akhirnya hujan pun reda, ku bantu membawa kayu bakar nenek.
Selama perjalanan aku diberikan
pelajaran yang sangat berharga dari sang nenek;
“Lihatlah nak sedang apa burung
itu? Tanya nenek itu.
“Sedang
makan batang pohon” jawab ku sambil melihat kearah burung itu.
“Bukan, tetapi buruh itu sedang
melubangi pohon itu, yang akan dijadikan sebagai sarang yang aman bagi para
telurnya sampai menetas nanti, burung itu diberi paruh yang kuat dan tajam
untuk itu dan sebagai senjata ketika burung itu dalam bahaya, semua itu
diciptakan bukan tanpa sengaja, setiap makhluk memiliki kelebihan dan
kekurangannya, kita harus bersyukur dijadikan sebagai manusia oleh sang Khaliq,
karena kita diberikan kemampuan berpikir dan merasakan, segala makhluk hidup
berkesinambungan dengan alam yang kita tempati, contohnya kita dapat bernafas
karena pepohonan hijau itu yang dapat menghasilkan oksigen dari proses
fotosintesisnya, hewan- hewan ternak juga dimanfaatkan sebagai makanan kita,
betapa agungnya dan bijaksananya Allah menciptakan semua ini, jadi kita harus
senantiasa bersyukur atas nikmatnya “ jelas nenek itu.
Tak terasa aku sudah berada pada jalan keluar
hutan lindung itu, dan ternyata teman-teman ku sudah menunggu dengan rasa
khawatir, lalu aku cepat minta maaf karena membuat mereka resah.
“Terima kasih
nek, hati- hati dijalan. Suattu saat nanti aku akan pergi ke sini lagi. Nenek
tunggu aku ya.” Nenek hanya mengagguk sambil tersenyum manis kepadaku.
“Oh iya, nama
nenek siapa? Aku toat nek.” Sambil mengulurkan tanganku kepada nenek.
“Panggil saja
nenek, nenek giok.” Nenek menyambut uluran tanganku.
“Dah nenek,
sampai ketemu lagi lain waktu.”
Kulambaikan
tangan, sambil meninggalkan nenek untuk kembali kerombongan sekolahku.
Beruntung aku bertemu dengan nenek giok, aku bisa mendapatkan pelajaran
berharga darinya. Semoga saja, aku bisa kembali lagi ke tempat ini dan bertemu
kembali dengan nenek giok.
Hari demi hari telah ku lewati
dan tidak terasa pula ku mulai meranjak dewasa, genap 17 tahun usiaku disinilah
aku mulai mengerti tentang alam dan angkasa. Ternyata alam menyimpan banyak misteri yang harus
diungkap dengan pancaindera dan pemikiran manusia, aku mulai giat melakukan
penelitian- penelitian untuk mengungkap langit
yang ternyata tak hanya memiliki bintang, tetapi masih ada benda lain seperti
planet- planet, asteroid, satelit, bahkan galaksi selain bima sakti sekalipun.
Kesukaan ku pada sesuatu hal dilangit sana membuatku selalu membayangkan hal-
hal menakjubkan, sebab semakin aku mengetahui segala sesuatu dilangit dan
dibumi beserta isinya, maka semakin takjub aku terhadap sang khaliq, yakni zat
yang maha sempurna, Allah subhanahu wa taala sehingga keimanan ku mulai kuat
seiring berjalannya waktu.
Saat ku melihat tayangan
televisi, saat itu fisikawan sekaligus ahli astronom Stephen hawking meninggal
dunia, di ungkapkan bahwa ia pernah berkata setelah melakukan penelitin selama
bertahun-tahun tentang penciptaan alam semesta, lalu Hawking menjawab alam
semesta ini tercipta karena peristiwa big bang atau dentuman keras antar dua
bintang besar yang kemudian membeku dengan bantuan gravitasi yang menarik ke
permukaan, bukan karena Tuhan. saat itu Cendekiwan islam berdarah Inggris
membantah apabila bukan karena kehendak Tuhan, alam tidak akan terbentuk
sesempurna ini, semua itu direncanakan dengan sesuai kadar yang ditetapkan,
lalu Hawking kembali membantah Cendekia islam itu dengan berkata “Bila alam
semesta diciptakan oleh Tuhan, lantas siapakah yang menciptakan Tuhan?”, dengan
santai Cendekiawan itu membalikkan
pertanyaan kepada Hawking “Nah bagaimana dengan anda, bila alam semesta ini
terbentuk karena adanya gravitasi, lantas siapakah yang menciptakannya?
Gravitasi diciptakan oleh Tuhan sebagai bahan untuk membentuk gumpalan- gumpalan yang sekarang dikenal sebagai planet,
bila Gravitasi dapat dijadikan persamaan rumus, lain halnya dengan Tuhan,
karena tidak ada yang mampu menyamakan atau menyetarainya. Begitulah sekiranya
bila anda masih meragukan kekuasaan dan penciptaannya”.
Setelah aku melihat tayangan
itu, aku semakin yakin bahwa Allah yang meciptakan dan menghendakinya, aku tahu
bahwa sepintar apapun manusia, sebanyak apapun ilmu yang kita pelajari, akan
sia- sia jika tak diseimbangi dengan keimanan atas Pencipta segala sesuatu.
Dapat diketahui bersama Seorang Hawking adalah Atheisme atau tak mempercayai adanya tuhan, dia belajar
sepanjang hidupnya tapi ia tak sempat mempelajari siapa yang telah memberikannya pelajaran. Karena dalam pepatah mengatakan
“Agama tanpa ilmu itu pincang, dan ilmu tanpa agama itu buta”, oleh karena itu,
agama dan ilmu pengetahuan harus berjalan berdampingan sebagai mana kita
berjalan dengan kedua kaki kita.
Aku bingung, setelah lulus
sekolah aku tidak tahu untuk melanjutkan pendidikanku, setiap waktu aku
berpikir keras agar bisa melnjutkan pendidikanku nanti, dan aku pun hampir
putus asa untuk tidak melanjutkan ke perguruan tinggi, karena aku tidak mampu
untuk membiayai pendidikan yang lebih tinggi. Padahal sejak kecil aku sudah mengimpikan untuk
menjadi seorang penemu dalam bidang astronomi. Tetapi mimpiku terhalang akan
biaya yang harus dikeluarkan untuk membayar setiap semesternya sedangkan itu
menjadi seorang astronomi itu harus mempunyai banyak biaya seperti membeli
alat-alat yang digunakan dalam praktik untuk membuktikan sesuatu yang diteliti
Akhirnya aku
menemukan jalan keluar dari semua permasalah yang aku alami, aku bertemu dengan
seorang ilmuan astronomi yang mengambilku dan memberikan beasiswa kepadaku
karena aku salah satu siswa yang berprestasi di sekolahku. Aku tidak tahu siapa
dia dan dari mana dia mengetahui aku mempunyai keahlian yang lebih, dan
ternyata sang ilmuan, telah mengakses dan memantau segala perkembangan sekolah-
sekolah disekitar wilayah sekolahku, dan sekolahku mengajukan data- data siswa
yang memiliki keahlian khusus dan keahlian lebih dibanding siswa dari sekolah
lain.
Aku menerima
beasiswa tersebut, karena akuyakin inilah jalan yang diberikan oleh Allah Swt.
Untuk masa depanku dan cara membahagiakan almarhrum kedua orang tuaku, dan
akhirnya aku lulus SMA dan memperoleh nilai paling tinggi diantara
teman-temanku, Alhamdulillah, aku pun pergi ke negara besar untuk melanjutkan
pendidikanku dan beasiswa yang diberikan oleh seorang ilmuan astronomi yang bernama prof. H. Ahmad
Wancy, selain itu beliau juga seorang muallaf yang sedang meneliti tentang
keselarasan angkasa dan agama, sebuah kebanggaan bagiku bertemu dan diberikan
beasiswa olehnya, idolaku dalam bidang astronom.
Ketika di sana,
aku menempuh 3 tahun kuliah di Universitas terkenal disana, tak lupa aku terus
berdoa meminta agar diberi keselamatan oleh Allah, aku butuh beradaptasi di
Jerman, sebab dalam iklim saja sudah berbeda dengan negaraku, keberagaman ini
yang membuat aku kaya akan ilmu yang harus disyukuri sebab ciptaan tuhan begitu
lengkap untuk kita pahami.
Saat itu, aku
sudah mulai melakukan penelitian- penelitian tentang astronomi, mulai dari
mengamati bintang sampai benda- benda kecil di langit. Aku diberikan pelajaran
mengenai suatu bahan untuk pesawat terbang yang memiliki bobot lebih ringan
dari biasanya, aku merasa sangat tertarik saat mempelajari pada bidang ini,
karena dapat menemukan suatu hal baru bagi kehidupan manusia dimasa yang akan
datang, hal inilah yang membuat aku termotivasi agar terus dapat mengembangkan
pengetahuanku. Waktu itu aku pernah diberikan pelajaran oleh sang professor di
saat mata kuliahhnya.
“Liatlah chip
chelivent ini” professor menunjukan kepadaku
“Apa yang ada
didalam benda sekecil ini? Tanyaku sambil mengambilnya
“Terdapat
cosseri dan sinar x, yang dapat membantu kamu membuat suatu alat, gunanya agar
alat tersebut menjadi ringan karena menggunakan bahan yang berukuran chip”
Suatu sistem
yang ada didunia ini pastilah memiliki tempat yang tepat untuk dijelajahi,
sebab dalam sistem tata surya saja menyimpan banyak ruang yang belum kita
ketahui. Perlu alat untuk mendeteksi atau mencari tahu tempat- tempat yang
belum pernah ditemui sebelumnya, sebab profersor Wachy sekalipun belum bisa
mengungkap tentang pencaharian tempat tempat diluar angkasa, salah satu alat
yang dapat digunakan untuk mencari tahu tempat-
tempat yang belum ditemukan ialah berupa satelit fotosistemik, karena
satelit jenis ini dapat merekam dan menangkap objek hingga radius sejauh 12 km.
Akhirnya aku diberi masukan oleh professor untuk menemukan suatu alat sejenis
satelit yang memiliki bobot lebih ringan dari sebelumnya dan memiliki pancaran
radius yang lebih jauh jarak dari biasanya.Setiap hari ku mulai menyibukkan
diri untuk mencari komposisi sempurna satelit yang di cita- citakan.
Profesor
menyuruhku untuk menunggunya diruangan, tak lama ia kembali dengan 5 orang
lainnya. Salah satunya ialah iyen. Mendengar nama itu aku sempat berfikir
pernah mendengar namanya. Ya aku tahu, dia adalah cucu nenek giok, yang aku
temui di hutan lindung saat itu. Tak kusangka, kini aku dapat bertemu
dengannya. Seorang gadis cerdas di kampong yang terpencil. Dia bagai seorang
intan di dalam hutan.
“Ini adalah
ruangan khususku, kalian dapat memakainya untuk melakukan eksperimen agar
berhasil menciptakan satelit, yang nantinya dikenal sebagai satelit Kinai”ujar
prof.
“Baiklah
professor kami akan terus berusaha menciptakannya” jawabku
“Aku mendukung
kalian secara penuh dalam hal ini, karena dalam 20 tahun karirku sebagai
professor bidang astronom belum mampu menciptakan satelit yang memiliki bobot
ringan” sambung professor.
“ Kami akan
belajar lebih giat dan bersungguh-
sungguh, karena kami yakin dengan izin Allah, penemuan ini berhasil dan
berguna bagi kehidupan.” Jawab iyen lantang dengan penuh keyakinan.
Akhirnya aku
dan kawan- kawanku mulai melakukan eksperimen-
eksperimen, untuk mencari dasar dan kerangka dari bahan yang memiliki
bobot ringan, kegagalan demi kegagalan sudah dirasakan olehku, meski begitu aku
tak patah semangat dan terus mencoba, karena dengan kegagalan dapat diambil
pelajaran atau hikmah yang baik, karena Allah saja menciptakan alam semesta ini
tidak sekaligus terjadi, melainkan tahapan-
tahapan yang lama.
Setiap hari,
kami selalu berkumpul di ruangan ini, untuk membahas penelitian ini. Kami bukan
hanya dari bidang astronom saja, tapi merupakan gabungan peneliti dari bidang
fisika, teknik elektro, dan ahli dari ilmu- ilmu yang mendukung dari penelitian
ini. Seperti iyen, dia ahli dibidang fisika. Fary dia ahli di bidang teknik
elektro, ale dari bidang geofisika aku dari bidang astronomi, sony dari bidang
kimia, dan tilly dari bidang matematika.
Dengan segala
konflik yang terjadi, rintangan dan kesulitan yang ada, kami hadapi semuanya
bersama. Sudah beberapa kali kami menghadapi berbagai kegagalan, dari chip yang
tidak berfungsi, salah menempatkan posisi komponen, dan lain- lain. Tapi dengan
kerja keras dan semangat kami semua untuk menciptakan satelit ini, kami selalu
bangkit dan bangkit lagi disaat mengalami kegagalan.
Hingga tiba
saatnya kami berhasil mengaktifkan satelit berchip dari bahan bahan temuan kami
dan tak lupa memasukan chip dari professor sebagai komponen utamanya, alat
sudah tercipta, tinggal langkah pembuktian di angkasa yang benar- benar
menentukan berhasil atau tidaknya penemuan aku ini.
Hari ini adalah
penentuan atau hari dimana satelit buatanku dan kawan- kawanku akan diuji coba.
Kami akan menguji coba satelit kami yang akan dibawa oleh astronot Soke, dia
adalah astronot yang sudah professional, dia adalah orang yang sering membawa
satelit- satelit di negeri ini supaya dapat beroperasi di angkasa luar sana.
“Hari ini kita
bisa membuktikan, apakah satelit kalian di angkasa sana dapat beroperasi”
“Apakah kalian
sudah siap?”
“Kami selalu
siap untuk berbagai kemungkinan.” Jawab ale dengan tegas. Kami pun membenarkan
perkataan ale, menyakinkan Profesor terhadap satelit ini.
“Apakah kau
siap?” Tanya Profesor kepada astronot.
“Siap” jawab
astronot dengan tegas`
“Tiga….Dua…Satu…”
Roket sang astronot siap meluncur. Kami hanya bisa menatapnya dari kejauhan. Berdoa
agar sang astronot selamat hingga sampai ke bumi kembali, serta satelit Kinai
buatan kami dapat berfungsi dan berguna untuk kehidupan di masa yang akan
dating.
Sudah seminggu
sudah, astronot kini sudah berada di angkasa luar. Kami selama seminggu ini berkomunikasi
dengannya menggunakan teknologi yang sudah sangat maju, namun kami hanya bisa
bertukar suara saja.
“Prof. disini
aku memiliki sedikit kendala. Aku kesulitan untuk menyimpan satelit ini, karena
sampah- sampah satelit di sini sudah terlalu banyak. Aku harus membawa sampah-
sampah satelit ini terlebih dahulu dari sini. Kemungkinan membutuhkan waktu
lebih lama lagi untuk aku bisa menempatkannya di tempat yang ditentukan.”
Laporan sang astronot dari luar angkasa kepada professor di bumi, melalui teknologi
yang bernama telemony.
“Kau singkirkan
dulu saja, sampah satelit itu agar tidak menghalangi tempat itu.”
“Tapi jika aku
berada di sini untuk waktu yang lebih lama lagi, aku akn mati kelaparan prof.”
Mendengar itu,
aku langsung mencari posisi astronot lewat LCD computer canggih milik
professor. Aku menemukan tempat sekitar 10 km dari tempat tersebut ke sebelah
kanan. Langsung kuberitahu professor akan hal ini, aku tak ingin sang astronot
meninggal hanya karena mati kelaparan di angkasa luar.
Profesor
langsung memberi tahu astronot dengan sigap astronot langsung menjalankan
intruksi sang professor tersebut. Masalah sudah terselesaikan, kini kami hanya
tinggal menunggu apakah satelit kami berfungsi atau tidak.
Seminggu
kemudian, astronot sudah kembali ke bumi dengan selamat, kami berucap syukur
kepada Allah karena berkat-NYA lah, penelitian ini dapat terlaksana dan
astronot bisa kembali ke bumi kembali.
Pekerjaan kami belum
selesai, kami harus kembali mengecek apakah satelit kami berfungsi atau tidak,
kami mengujinya dengan sebuah teknologi. Dan ternyata berhasil dengan sempurna.
Kini kami dikenal sebagai ilmuan- ilmuan muda penemu satelit teringan di dunia.
Berkat capaian tersebut, kami senantiasa selalu berucap syukur kepada Allah
SWT. Yang Maha Pencipta. Karena dengan rahmat-NYA lah kami bisa sejauh ini, dan
bisa menciptakan benda yang hebat ini. Karena kami berajar dari sifat-NYA yaitu
Al- Khaliq yaitu Maha Pencipta.








0 komentar:
Posting Komentar