Sabtu, 20 Juni 2020

Sang Pencipta

“Yah....apakah setiap bintang memiliki pola?
“Benar nak, setiap bintang pasti memiliki pola tersendiri, namun kita menyebutnya sebagai rasi bintang, seperti itu” ayahnya menunjukkan tangannya ke langit
“Wah....indah sekali ayah. Itu namanya rasi apa ayah?”
“Itu namanya rasi Aries” terang ayahnya
“Yah...Apakah di langit sana ada kehidupan?” tanyaku penasaran.
“ Mungkin ada, ayah tidak tahu karena hanya Allah lah yang mengetahuinya. Namun yang jelas, di sana ada sesuatu yang sangat menakjubkan yang tidak bisa kita lihat.”
“Suatu saat nanti, aku ingin pergi ke sana yah”
“Boleh saja, tapi belajar dulu yak nak...”
“Oke yah”
Sejak saat itu mimpiku dimulai, ayah selalu menemaniku belajar setiap harinya. Dialah yang selalu mendukungku, menyemangatiku, mendorongku dan sebagai motivator terbaikku. Dia adalah seorang ayah dan sekaligus ibu bagiku. Karena ibuku sudah lama meninggalkan aku dan ayahku. Ibu sudah bahagia di sana sejak aku hadir di dunia ini. Kata ayah, ibu ada di sana, sambil menunjuk langit yang indah dan megah. Karena itu lah aku sangat menyukai langit, menatapnya di malam hari mengingatkanku pada kasih sayang seorang ibu. Ingin rasanya ku merasakan hangatnya pelukan seorang ibu, namun itu hanyalah khayalanku saja. Walaupun aku belum pernah bertemu dengannya, namun aku selalu merasakan kehadirannya dalam setiap mimpiku. Kini ayahlah yang menggantikan peran ibu, dia yang selalu memberikan kasih sayang bagaikan seorang ibu kepada anak-anaknya. Ayahku sangat menyayangiku dan ia selalu memberi pelajaran hidup agar ku siap menghadapi berbagai rintangan di kehidupan ini, karena aku percaya Allah swt. Menciptakan setiap manusia di dunia untuk berpikir.
Sudah 9 tahun aku hidup sendiri, hanya sebuah foto usang yang menemaniku selama ini, terlihat beberapa garis yang menghapus bagian foto tersebut, tak ada warna hanya hitam dan putih yang terlihat. Namun, ada jiwa di dalamnya, seperti ada yang menemaniku disepanjang hari.  Dengan tatapannya seolah ayah berkata “Bangkitlah anakku, ayah selalu bersamamu nak”. Inilah teman saat ku terpuruk, saat ku kesepian, hanya sebuah foto usang dan sang rembulan yang indah. Dan sejak aku kehilangan kedua orang tuaku aku tinggal di sebuah panti kecil di sudut kota.
Malam ini, aku teringat kenangan masa kecilku bersama ayah yang selalu menemaniku melihat bintang disetiap malam. Aku selalu ingat pelajaran-pelajaran yang diberikan oleh ayahku sewaktu kecil. Dan itu juga menjadi motivasiku dalam meraih masa depan yang lebih baik, dan aku ingin suatu saat nanti aku berguna bagi orang lain dimasa yang akan datang.
Allah menciptakan triliunan bintang- bintang di angkasa sana, tetapi setiap bintang itu ada yang dapat dilihat dengan mata telanjang ataupun menggunakan alat bantu seperti mikroskop. semua itu diciptakan bukan tanpa rencana, melainkan dengan kadar yang sudah ditentukan bersamaan dengan penciptaan alam semesta pada 13.8 miliyar tahun yang lalu. Ketertarikan ku terhadap ilmu perbintangan atau ilmu astronomi sangatlah besar. Dari sinilah aku ingin tau lebih banyak lagi. Dengan semua kerja kerasku dan ridho dari Allah, ku yakin bias meraih mimpiku.
Ketika itu, saat ku masih duduk di sekolah menengah atas terfavorit di kotaku. Aku bisa masuk ke sekolah tersebut karena beasiswa dari pemerintah. Sekolahku mengadakan kegiatan observasi di salah satu hutan lindung di pulau seberang. Pagi itu, semua temanku diantar oleh kedua orang tuaku, sedangkan aku hanya biasa tersenyum, lebih tepatnya senyum yang dipaksakan. Tidak ada yang mengantarkanku, karena ibu panti sedang sibuk. Kini aku harus bisa hidup mandiri tanpa kedua orang tuaku.
“Hey, toat siapa yang mengantarkanmu ?” Tanya ali
“Dia kan sudah tak memiliki orang tua lagi, kasian deh, gak seperti kita bias diantar jemput, bawa uang banyak, gak kaya dia” timpal anto`
“Kamu bawa uang berapa?” Tanya anto kemudian`
“Alhamdulillah , aku bisa membawa uang Rp.50.000,-” jawab toat dengan ramah.
“Duh, miskin banget sih, masa mau ke pulau seberang cuma bawa Rp.50.000,- doing, gengsi kali” ejek anto.
“Hahaha….dasar miskin” tawa mereka mengejek toat bergantian.
Aku hanya bisa tersenyum mendengar cacian mereka, aku hanya bisa sabar dan menutup kupingku, tak peduli lagi apa yang mereka katakan aku  pergi meninggalkan mereka dan langsung duduk di kursi yang paling belakang. Selama perjalanan, semua temanku bersuka cita, bernyanyi, bergurau, tapi tidak ada yang mengajakku bergabung. Aku seperti diasingkan, tak dianggap. Malam harinya, saat semua sedang terlelap dalam mimpi indahnya, hanya aku  yang terjaga, aku menatap langit yang hitam itu, memandangnya, menikmati megahnya malam sunyi tapi menakjubkan. Aku menghabiskan malam ini dengan memuji nama-NYA. Tak terasa kelopak mataku begitu berat, sudah tak bisa lagi aku menahan, akhirnya aku terlelap juga.
“Ayo anak- anak, kita sudah sampai di hutan lidung” ibu guru berteriak di dalam bis membangunkan kami dari mimpi- mimpi indah kami.
“Sekarang baris di depan bis ini, ibu bagi kalian menjadi 5 kelompok”
“Baik bu” jawab kami serentak`
Pembagian kelompok dilakukan secara acak, aku satu kelompok dengan ali, anto, andi, bayu, ratna, lulu, ayu, dan tata. Kami ditugaskan untuk meneliti karakteristik tumbuhan yang terdapat di hutan lindung ini.
“Dengarkan ini baik- baik, kalian sudah ibu bagi menjadi 5 kelompok, kalian harus tetap bersama jangan ada yang meninggalkan satu sama lain, ingat itu. Tugas kalian sudah ibu bagi berdasarkan kelompok. Selamat meneliti anak- anak.” Ibu guru memberi arahan kepada kami.
“Baik bu”
“Oke, sekarang silahkan kalian mengerjakan tugas kalian.”
“Baik bu.” Jawab kami serempak dan mulai berpencar mengerjakan tugas kami masing- masing. Aku dan kelompokku pergi ke sebelah timur dari posisi tadi, mencari salah tumbuhan yang harus kami teliti.
“Hey toat, kamu cari ya tumbuhan itu. Sedangkan kami akan menunggu di sini.” Perintah anto.
 Aku pergi mencari tanaman yang harus diteliti. Berjalan terus meninggalkan teman- temanku. Akhirnya aku menemukan tumbuhan yang kucari.  Tak terasa sudah begitu jauh aku masuk ke dalam hutan, begitu ku sadari kumelihat hari mulai gelap. Bukan karena malam, tapi tidak ada sinar matahari yang terlihat, yang ada hanya awan hitam yang menyelimuti langit. Tak lama rintik hujan mulai turun menyerbu bumi, seakan ia ingin menunjukkan betapa perkasanya ia. Segera ku mencari pohon yang besar yang bisa aku jadikan tempat berteduh.
Saat itu, saat ku sedang menunggu hujan reda, ku melihat seorang nenek tua dengan seikat kayu di punggungnya. Nenek itu semkin terlihat dekat, ku perhatikan terus, saat aku yakin itu adalah seorang manusia sesungguhnya ku langsung mendekatinya dan membantunya untuk membawa kayu bakar tersebut.
“Mari nek aku bantu” tawarku
“Terimakasih nak”
Apa yang sedang nenek lakukan disini ?” tanyaku yang merasa heran
Hanya mengumpulkan ranting- ranting kayu yang sudah kering” jawabnya terbata-bata.
Oh, begitu...maaf nek, aku tersesat disini, apakah nenek bisa membantu saya untuk keluar dari sini” aku bertanya lagi sambil kebingungan.
Baiklah, setelah hujan reda nenek akan antarkanmu ke luar hutan ini. “ jawab nenek itu.
Terima kasih nek “ sahut aku yang mulai merasa lega.
Selama menunggu hutan reda, aku bercakap- cakap dengan nenek tua itu, ternyata rumahnya tak jauh dari lokasi ini, nenek itu hanya tinggal berdua bersama cucunya. Sedangkan kedua orang tua cucunya sudah lama meninggalkannya. Mereka meninggal dunia karena kebakaran hutan 10 tahun yang lalu. Mungkin cucu sang nenek seumuran denganku, namanya iyen. Dari cerita nenek, ku tahu iyen merupakan gadis yang pintar, tapi sayang dia kurang mendapatkan pendidikan yang layak, dia bahkan harus melewati hutan ini jika ingin pergi ke sekolah.
Setelah beberapa menit akhirnya hujan pun reda, ku bantu membawa kayu bakar nenek. Selama perjalanan aku diberikan pelajaran yang sangat berharga dari sang nenek;
“Lihatlah nak sedang apa burung itu? Tanya nenek itu.
Sedang makan batang pohon” jawab ku sambil melihat kearah burung itu.
“Bukan, tetapi buruh itu sedang melubangi pohon itu, yang akan dijadikan sebagai sarang yang aman bagi para telurnya sampai menetas nanti, burung itu diberi paruh yang kuat dan tajam untuk itu dan sebagai senjata ketika burung itu dalam bahaya, semua itu diciptakan bukan tanpa sengaja, setiap makhluk memiliki kelebihan dan kekurangannya, kita harus bersyukur dijadikan sebagai manusia oleh sang Khaliq, karena kita diberikan kemampuan berpikir dan merasakan, segala makhluk hidup berkesinambungan dengan alam yang kita tempati, contohnya kita dapat bernafas karena pepohonan hijau itu yang dapat menghasilkan oksigen dari proses fotosintesisnya, hewan- hewan ternak juga dimanfaatkan sebagai makanan kita, betapa agungnya dan bijaksananya Allah menciptakan semua ini, jadi kita harus senantiasa bersyukur atas nikmatnya “ jelas nenek itu.
 Tak terasa aku sudah berada pada jalan keluar hutan lindung itu, dan ternyata teman-teman ku sudah menunggu dengan rasa khawatir, lalu aku cepat minta maaf karena membuat mereka resah.
“Terima kasih nek, hati- hati dijalan. Suattu saat nanti aku akan pergi ke sini lagi. Nenek tunggu aku ya.” Nenek hanya mengagguk sambil tersenyum manis kepadaku.
“Oh iya, nama nenek siapa? Aku toat nek.” Sambil mengulurkan tanganku kepada nenek.
“Panggil saja nenek, nenek giok.” Nenek menyambut uluran tanganku.
“Dah nenek, sampai ketemu lagi lain waktu.”
Kulambaikan tangan, sambil meninggalkan nenek untuk kembali kerombongan sekolahku. Beruntung aku bertemu dengan nenek giok, aku bisa mendapatkan pelajaran berharga darinya. Semoga saja, aku bisa kembali lagi ke tempat ini dan bertemu kembali dengan nenek giok.
Hari demi hari telah ku lewati dan tidak terasa pula ku mulai meranjak dewasa, genap 17 tahun usiaku disinilah aku mulai mengerti tentang alam dan angkasa. Ternyata alam menyimpan banyak misteri yang harus diungkap dengan pancaindera dan pemikiran manusia, aku mulai giat melakukan penelitian- penelitian untuk mengungkap langit yang ternyata tak hanya memiliki bintang, tetapi masih ada benda lain seperti planet- planet, asteroid, satelit, bahkan galaksi selain bima sakti sekalipun. Kesukaan ku pada sesuatu hal dilangit sana membuatku selalu membayangkan hal- hal menakjubkan, sebab semakin aku mengetahui segala sesuatu dilangit dan dibumi beserta isinya, maka semakin takjub aku terhadap sang khaliq, yakni zat yang maha sempurna, Allah subhanahu wa taala sehingga keimanan ku mulai kuat seiring berjalannya waktu.
Saat ku melihat tayangan televisi, saat itu fisikawan sekaligus ahli astronom Stephen hawking meninggal dunia, di ungkapkan bahwa ia pernah berkata setelah melakukan penelitin selama bertahun-tahun tentang penciptaan alam semesta, lalu Hawking menjawab alam semesta ini tercipta karena peristiwa big bang atau dentuman keras antar dua bintang besar yang kemudian membeku dengan bantuan gravitasi yang menarik ke permukaan, bukan karena Tuhan. saat itu Cendekiwan islam berdarah Inggris membantah apabila bukan karena kehendak Tuhan, alam tidak akan terbentuk sesempurna ini, semua itu direncanakan dengan sesuai kadar yang ditetapkan, lalu Hawking kembali membantah Cendekia islam itu dengan berkata “Bila alam semesta diciptakan oleh Tuhan, lantas siapakah yang menciptakan Tuhan?”, dengan santai Cendekiawan  itu membalikkan pertanyaan kepada Hawking “Nah bagaimana dengan anda, bila alam semesta ini terbentuk karena adanya gravitasi, lantas siapakah yang menciptakannya? Gravitasi diciptakan oleh Tuhan sebagai bahan untuk membentuk gumpalan-  gumpalan yang sekarang dikenal sebagai planet, bila Gravitasi dapat dijadikan persamaan rumus, lain halnya dengan Tuhan, karena tidak ada yang mampu menyamakan atau menyetarainya. Begitulah sekiranya bila anda masih meragukan kekuasaan dan penciptaannya”.
Setelah aku melihat tayangan itu, aku semakin yakin bahwa Allah yang meciptakan dan menghendakinya, aku tahu bahwa sepintar apapun manusia, sebanyak apapun ilmu yang kita pelajari, akan sia- sia jika tak diseimbangi dengan keimanan atas Pencipta segala sesuatu. Dapat diketahui bersama Seorang Hawking adalah Atheisme  atau tak mempercayai adanya tuhan, dia belajar sepanjang hidupnya tapi ia tak sempat mempelajari siapa yang telah memberikannya pelajaran. Karena dalam pepatah mengatakan “Agama tanpa ilmu itu pincang, dan ilmu tanpa agama itu buta”, oleh karena itu, agama dan ilmu pengetahuan harus berjalan berdampingan sebagai mana kita berjalan dengan kedua kaki kita.
Aku bingung, setelah lulus sekolah aku tidak tahu untuk melanjutkan pendidikanku, setiap waktu aku berpikir keras agar bisa melnjutkan pendidikanku nanti, dan aku pun hampir putus asa untuk tidak melanjutkan ke perguruan tinggi, karena aku tidak mampu untuk membiayai pendidikan yang lebih tinggi. Padahal sejak kecil aku sudah mengimpikan untuk menjadi seorang penemu dalam bidang astronomi. Tetapi mimpiku terhalang akan biaya yang harus dikeluarkan untuk membayar setiap semesternya sedangkan itu menjadi seorang astronomi itu harus mempunyai banyak biaya seperti membeli alat-alat yang digunakan dalam praktik untuk membuktikan sesuatu yang diteliti
Akhirnya aku menemukan jalan keluar dari semua permasalah yang aku alami, aku bertemu dengan seorang ilmuan astronomi yang mengambilku dan memberikan beasiswa kepadaku karena aku salah satu siswa yang berprestasi di sekolahku. Aku tidak tahu siapa dia dan dari mana dia mengetahui aku mempunyai keahlian yang lebih, dan ternyata sang ilmuan, telah mengakses dan memantau segala perkembangan sekolah- sekolah disekitar wilayah sekolahku, dan sekolahku mengajukan data- data siswa yang memiliki keahlian khusus dan keahlian lebih dibanding siswa dari sekolah lain.
Aku menerima beasiswa tersebut, karena akuyakin inilah jalan yang diberikan oleh Allah Swt. Untuk masa depanku dan cara membahagiakan almarhrum kedua orang tuaku, dan akhirnya aku lulus SMA dan memperoleh nilai paling tinggi diantara teman-temanku, Alhamdulillah, aku pun pergi ke negara besar untuk melanjutkan pendidikanku dan beasiswa yang diberikan oleh seorang  ilmuan astronomi yang bernama prof. H. Ahmad Wancy, selain itu beliau juga seorang muallaf yang sedang meneliti tentang keselarasan angkasa dan agama, sebuah kebanggaan bagiku bertemu dan diberikan beasiswa olehnya, idolaku dalam bidang astronom.
Ketika di sana, aku menempuh 3 tahun kuliah di Universitas terkenal disana, tak lupa aku terus berdoa meminta agar diberi keselamatan oleh Allah, aku butuh beradaptasi di Jerman, sebab dalam iklim saja sudah berbeda dengan negaraku, keberagaman ini yang membuat aku kaya akan ilmu yang harus disyukuri sebab ciptaan tuhan begitu lengkap untuk kita pahami.
Saat itu, aku sudah mulai melakukan penelitian- penelitian tentang astronomi, mulai dari mengamati bintang sampai benda- benda kecil di langit. Aku diberikan pelajaran mengenai suatu bahan untuk pesawat terbang yang memiliki bobot lebih ringan dari biasanya, aku merasa sangat tertarik saat mempelajari pada bidang ini, karena dapat menemukan suatu hal baru bagi kehidupan manusia dimasa yang akan datang, hal inilah yang membuat aku termotivasi agar terus dapat mengembangkan pengetahuanku. Waktu itu aku pernah diberikan pelajaran oleh sang professor di saat mata kuliahhnya.
“Liatlah chip chelivent ini” professor menunjukan kepadaku
“Apa yang ada didalam benda sekecil ini? Tanyaku sambil mengambilnya
“Terdapat cosseri dan sinar x, yang dapat membantu kamu membuat suatu alat, gunanya agar alat tersebut menjadi ringan karena menggunakan bahan yang berukuran chip”
Suatu sistem yang ada didunia ini pastilah memiliki tempat yang tepat untuk dijelajahi, sebab dalam sistem tata surya saja menyimpan banyak ruang yang belum kita ketahui. Perlu alat untuk mendeteksi atau mencari tahu tempat- tempat yang belum pernah ditemui sebelumnya, sebab profersor Wachy sekalipun belum bisa mengungkap tentang pencaharian tempat tempat diluar angkasa, salah satu alat yang dapat digunakan untuk mencari tahu tempat-  tempat yang belum ditemukan ialah berupa satelit fotosistemik, karena satelit jenis ini dapat merekam dan menangkap objek hingga radius sejauh 12 km. Akhirnya aku diberi masukan oleh professor untuk menemukan suatu alat sejenis satelit yang memiliki bobot lebih ringan dari sebelumnya dan memiliki pancaran radius yang lebih jauh jarak dari biasanya.Setiap hari ku mulai menyibukkan diri untuk mencari komposisi sempurna satelit yang di cita- citakan.
Profesor menyuruhku untuk menunggunya diruangan, tak lama ia kembali dengan 5 orang lainnya. Salah satunya ialah iyen. Mendengar nama itu aku sempat berfikir pernah mendengar namanya. Ya aku tahu, dia adalah cucu nenek giok, yang aku temui di hutan lindung saat itu. Tak kusangka, kini aku dapat bertemu dengannya. Seorang gadis cerdas di kampong yang terpencil. Dia bagai seorang intan di dalam hutan.
“Ini adalah ruangan khususku, kalian dapat memakainya untuk melakukan eksperimen agar berhasil menciptakan satelit, yang nantinya dikenal sebagai satelit Kinai”ujar prof.
“Baiklah professor kami akan terus berusaha menciptakannya” jawabku
“Aku mendukung kalian secara penuh dalam hal ini, karena dalam 20 tahun karirku sebagai professor bidang astronom belum mampu menciptakan satelit yang memiliki bobot ringan” sambung professor.
“ Kami akan belajar lebih giat dan bersungguh-  sungguh, karena kami yakin dengan izin Allah, penemuan ini berhasil dan berguna bagi kehidupan.” Jawab iyen lantang dengan penuh keyakinan.
Akhirnya aku dan kawan- kawanku mulai melakukan eksperimen-  eksperimen, untuk mencari dasar dan kerangka dari bahan yang memiliki bobot ringan, kegagalan demi kegagalan sudah dirasakan olehku, meski begitu aku tak patah semangat dan terus mencoba, karena dengan kegagalan dapat diambil pelajaran atau hikmah yang baik, karena Allah saja menciptakan alam semesta ini tidak sekaligus terjadi, melainkan tahapan-  tahapan yang lama.
Setiap hari, kami selalu berkumpul di ruangan ini, untuk membahas penelitian ini. Kami bukan hanya dari bidang astronom saja, tapi merupakan gabungan peneliti dari bidang fisika, teknik elektro, dan ahli dari ilmu- ilmu yang mendukung dari penelitian ini. Seperti iyen, dia ahli dibidang fisika. Fary dia ahli di bidang teknik elektro, ale dari bidang geofisika aku dari bidang astronomi, sony dari bidang kimia, dan tilly dari bidang matematika.
Dengan segala konflik yang terjadi, rintangan dan kesulitan yang ada, kami hadapi semuanya bersama. Sudah beberapa kali kami menghadapi berbagai kegagalan, dari chip yang tidak berfungsi, salah menempatkan posisi komponen, dan lain- lain. Tapi dengan kerja keras dan semangat kami semua untuk menciptakan satelit ini, kami selalu bangkit dan bangkit lagi disaat mengalami kegagalan.
Hingga tiba saatnya kami berhasil mengaktifkan satelit berchip dari bahan bahan temuan kami dan tak lupa memasukan chip dari professor sebagai komponen utamanya, alat sudah tercipta, tinggal langkah pembuktian di angkasa yang benar- benar menentukan berhasil atau tidaknya penemuan aku ini.
Hari ini adalah penentuan atau hari dimana satelit buatanku dan kawan- kawanku akan diuji coba. Kami akan menguji coba satelit kami yang akan dibawa oleh astronot Soke, dia adalah astronot yang sudah professional, dia adalah orang yang sering membawa satelit- satelit di negeri ini supaya dapat beroperasi di angkasa luar sana.
“Hari ini kita bisa membuktikan, apakah satelit kalian di angkasa sana dapat beroperasi”
“Apakah kalian sudah siap?”
“Kami selalu siap untuk berbagai kemungkinan.” Jawab ale dengan tegas. Kami pun membenarkan perkataan ale, menyakinkan Profesor terhadap satelit ini.
“Apakah kau siap?” Tanya Profesor kepada astronot.
“Siap” jawab astronot dengan tegas`
“Tiga….Dua…Satu…” Roket sang astronot siap meluncur. Kami hanya bisa menatapnya dari kejauhan. Berdoa agar sang astronot selamat hingga sampai ke bumi kembali, serta satelit Kinai buatan kami dapat berfungsi dan berguna untuk kehidupan di masa yang akan dating.
Sudah seminggu sudah, astronot kini sudah berada di angkasa luar. Kami selama seminggu ini berkomunikasi dengannya menggunakan teknologi yang sudah sangat maju, namun kami hanya bisa bertukar suara saja.
“Prof. disini aku memiliki sedikit kendala. Aku kesulitan untuk menyimpan satelit ini, karena sampah- sampah satelit di sini sudah terlalu banyak. Aku harus membawa sampah- sampah satelit ini terlebih dahulu dari sini. Kemungkinan membutuhkan waktu lebih lama lagi untuk aku bisa menempatkannya di tempat yang ditentukan.” Laporan sang astronot dari luar angkasa kepada professor di bumi, melalui teknologi yang bernama telemony.
“Kau singkirkan dulu saja, sampah satelit itu agar tidak menghalangi tempat itu.”
“Tapi jika aku berada di sini untuk waktu yang lebih lama lagi, aku akn mati kelaparan prof.”
Mendengar itu, aku langsung mencari posisi astronot lewat LCD computer canggih milik professor. Aku menemukan tempat sekitar 10 km dari tempat tersebut ke sebelah kanan. Langsung kuberitahu professor akan hal ini, aku tak ingin sang astronot meninggal hanya karena mati kelaparan di angkasa luar.
Profesor langsung memberi tahu astronot dengan sigap astronot langsung menjalankan intruksi sang professor tersebut. Masalah sudah terselesaikan, kini kami hanya tinggal menunggu apakah satelit kami berfungsi atau tidak.
Seminggu kemudian, astronot sudah kembali ke bumi dengan selamat, kami berucap syukur kepada Allah karena berkat-NYA lah, penelitian ini dapat terlaksana dan astronot bisa kembali ke bumi kembali.
      Pekerjaan kami belum selesai, kami harus kembali mengecek apakah satelit kami berfungsi atau tidak, kami mengujinya dengan sebuah teknologi. Dan ternyata berhasil dengan sempurna. Kini kami dikenal sebagai ilmuan- ilmuan muda penemu satelit teringan di dunia. Berkat capaian tersebut, kami senantiasa selalu berucap syukur kepada Allah SWT. Yang Maha Pencipta. Karena dengan rahmat-NYA lah kami bisa sejauh ini, dan bisa menciptakan benda yang hebat ini. Karena kami berajar dari sifat-NYA yaitu Al- Khaliq yaitu Maha Pencipta.

0 komentar:

Posting Komentar