Sabtu, 20 Juni 2020

Petunjuk-MU

'Huh' helaan napas kesekian kalinya terdengar, diiringi langkah kaki yang melaju kencang. "Hey! Berhenti kamu!" teriak lelaki paruh baya dengan mengenakan setelan baju kepolisian yang juga berlari, mencoba mengejar pria berambut cepak di depannya.
Langkah kakinya memelan, sembari melihat ke kanan dan kiri.
"Maaf bos, sepertinya kita kehilangan jejaknya" ucapnya kepada seseorang di seberang sana. Ia lalu melangkah dan menyimpan HT nya kedalam saku belakang celananya.
"Huhh.. Untung saja aku cepat tanggap" Kata Alan menghela napas lega, Pria berpakaian hitam dan celana jeans robek-robek itu bernama Alan Wijaya. Ia dilahirkan dalam keluarga yang fakir akan ilmu agama, orang tuanya merupakan orang kafir yang murtad dari agama Islam. Ibunya meninggal 1 tahun lalu. Meskipun begitu, kakek dari ayahnya merupakan seorang asatidz terkenal di Indonesia. Alan adalah seorang psikopat yang belum lama ini hijrah dari kota kelahirannya yaitu Washington DC ke kota kelahiran kakeknya yaitu Aceh. Sejak ia remaja, entah mengapa ia selalu memiliki hasrat untuk membunuh manusia. Orang tuanya pun bingung mengapa ia bisa seperti itu, ia pernah membunuh teman sekelasnya hanya karena sepeda yang biasa ia gunakan di rusak dan di gantung diatas pohon. Ayahnya telah mencoba untuk menyembuhkannya, namun tidak bisa. Sehingga ayahnya hanya mampu menyiasati dengan mencoba untuk menangkal hasratnya dengan membunuh hewan seperti ayam, anjing, atau lain sebagainya. Namun untuk malam ini, entah mengapa ia sulit menahan hasratnya untuk tidak membunuh. Ia dikabarkan telah membunuh seorang preman karena mengganggunya.
Merasa sudah aman, Alan kemudian melangkah, memasuki sebuah bangunan besar dengan kubah diatasnya.'Allah subhanahu wata'ala sangat mengecam orang-orang yang melakukan pembunuhan terhadap jiwa yang tidak halal untuk dibunuh.' Kalimat itu jelas terdengar ditelinganya. 'Diantara balasan untuk seorang pembunuh ialah dimasukannya ia kedalam neraka jahanam, Hidupnya pun tak akan tenang.'

"Shh" ia menggeram, menampakan wajah tak sukanya, kemudian berbalik melangkah berniat untuk pulang kerumahnya. Baru setengah jalan, tidak sengaja seorang pengendara motor menabraknya. Membuat ia jatuh ke dalam genangan air kotor yang bercampur dengan lumpur. Membuat pakaian yang ia kenakan motor dan membuatnya tak mampu jalan dengan sempurna. Sayangnya, si penabrak malah melajukan motornya dengan cepat tanpa meminta maaf ataupun memberikan bantuan. Berkali-kali Alan menyumpahi orang tersebut dengan sumpah serapahnya.
"Duh.. Kenapa hidupku sesial ini!! Sshh" geramnya dengan raut wajah penuh kekesalan.
"Dimana ini? Kenapa panas sekali? Ayah, kakek! Tolong! Panas!" Alan merintih, dan mencoba menyelamatkan dirinya dari lahapan api yang kian membara.
"Dimana ini?! Kenapa tidak tampak seperti rumah kakek! Kakek tolong, aku tidak kuat!" Teriaknya dengan penuh kesakitan.
"Inilah, akibat dari perbuatan burukmu itu. Inilah balasan atas dosa-dosa yang telah kau perbuat" suara berat terdengar. memekakan telinga Alan.
"Siapapun kamu, tolong selamatkan saya. Panas! Ini sangat panas!" Ujar Alan dengan masih menahan rasa sakitnya.
"Bertaubatlah nak. Minta ampun kepada Sang pengatur seluruh hidup mu, Dia yang memiliki andil atas dirimu."
Ia membelak terkejut, deru napasnya beradu, menandakan ketegangan atas apa yang telah ia alami. Mencoba mengatur napasnya, dan duduk di tepian kasurnya. Ya, Alan baru saja bangun dari mimpinya. Mimpi buruk lebih tepatnya. Ia kembali teringat, ucapan seseorang didalam bangunan berkubah beberapa saat lalu. Ia kembali merenung.
Dia yang memiliki andil atas dirimu
Kalimat tersebut terus terngiang ngiang dikepalanya. Kemudian, Alan tersadar.
'Apa selama ini penyebab seringnya aku mendapatkan kesialan dan tidak tenangnya hidup adalah karena aku berdosa terhadap ayah? Apa aku telah melakukan kesalahan kepada ayah? Ya, sebaiknya besok aku segera untuk meminta maaf kepada Ayah'.
Waktu menunjukan pukul 1 dini hari. Alan memutuskan untuk kembali tidur, Agar dapat segera menyelesaikan masalahnya besok dan ia bisa hidup dengan tenang.
Pagi ini, Alan bangun pagi sekali. Sebelum ayahnya bangun dan kakeknya pulang dari masjid tempatnya mengisi kajian. Ia menyiapkan seluruh sarapan serta membenahi rumah dari sebelum adzan subuh hingga pukul 07.00. Tepat ketika ia meletakan piring terakhir di meja makan, ayahnya keluar dari kamar tidurnya.
 "Wah.. Ada apa ini? Tumben sekali anak ayah rajin" puji ayah Alan dengan wajah kaget.
"Tidak ada ayah.. Hanya ingin membuatkan ayah dan kakek sarapan. Sini ayah duduk" jawab Alan dengan senyumannya, sembari menarik kursi dan mempersilahkan ayahnya untuk duduk.
"Boleh ayah makan duluan?" Tanya ayah Alan yang kemudian di jawab dengan anggukan, tanda meng-iyakan pertanyaan ayahnya. Alan duduk dikursi lain sembari menghadap ke arah ayahnya yang kini tengah menyicipi makanan buatannya.
 "Apa enak ayah? " Tanya Alan dengan sedikit kehawatira karena wajah ayahnya yang sedikit berubah.
"Hmmm. Enak kok. Enak banget. Makasi yaa" jawab ayah yang diakhiri dengan senyuman. Alan yang mendengar itu pun tersenyum.
"Kamu ngga ikut makan sama ayah bareng-bareng?" Tanya ayah Alan.
"Ayah duluan saja. Alan nanti saja, sekalian tunggu kakek" jawab Alan diakhiri dengan cengirannya.
Hingga suapan terakhir, Alan masih setia duduk disamping ayahnya. Menemaninya makan sambil membicarakan hal-hal yang ringan untuk dibicarakan. Setelah meneguk segelas air dan piring bersih tanpa menyisakan apapun. Ayah Alan kemudian pamit untuk ke dapur. Namun, belum sempat ayahnya melangkah meninggalkan area ruang makan, Alan memanggil ayahnya untuk tetap duduk dan berlutut di depannya. Sambil memegang tangannya yang bahkan belum sempat ia bersihkan setelah makan tadi.
"Ayah.. Alan minta maaf karena belum bisa jadi anak yang baik untuk ayah. Belum bisa ngebahagiain ayah seperti ayah yang udah ngebahagiain Alan. Ayah.. Maafin Alan, kemarin Alan ngga sengaja bunuh orang lagi. Alan cuma nggamau jadi orang yang terus terusan ditindas. Sekali lagi maafin Alan" ucap Alan dengan suara lirihnya. Mencoba mengeluarkan apa yang ada di hatinya.
 Sudut matanya pun berair. "Sebelum kamu minta maaf. Ayah udah maafin kamu. Udah yaa, jangan nangis" ayah tersenyum dan mencoba mengusap air mata Alan dengan punggung tangannya.
"Ayah mau ke belakang dulu, mau cuci tangan" lanjut ayah yang kemudian berdiri dan melangkah sembari memembawa poring kotornya. Alan hanya menunduk, dengan masih menangis sesenggukan.
"Assalamu'alaikum" suara berat khas lansia menginterupsi Alan untuk kembali mengangkat kepalanya.
"Kakek?!”
"Cucu kakek kenapa nangis sesenggukan gini. Ada apa? Cerita sama kakek." Ujar kakek Alan. Dengan penuh perhatian ia mengusap kepala Alan dengan sayang dan duduk didepan Alan sembari menenangkan Alan dari tangisannya itu. Setelah tangisannya reda, Alan langsung menceritakan segala keluh kesahnya dan apa yang ada dihatinya.
"Selain kamu minta maaf ke orang tuamu, kamu juga harus bertaubat nak. Taubatlah kepada Allah. Dia yang sesungguhnya memiliki andil atas dirimu. Minta kepada-Nya untuk dihapuskan segala dosa-dosamu. Minta kepada-Nya untuk dijauhkan dari siksa api neraka." Ucap kakek Alan. Alan yang mendengarnya pun tersentuh.
Tersirat kesedihan dalam hatinya. Dan ia pun bertekad "Bantu Alan kek, untuk mewujudkan semuanya". Kakek hanya mampu tersenyum dan memberi kan pelukan kepada Alan.
Ia menatap kakeknya itu,”Lalu aku harus mulai dari mana, kek?” Tanya Alan. Kakek tersenyum,”niatkan dirimu. Kerjakanlah segala perintah allah. Laksanakan lah sholat.”
Wajah Alan berubah, ia bingung. Bingung dengan kata Sholat. Kata yang tidak cukup asing ditelinganya namun yang ia bingungkan adalah bagaimana ia melaksanakan sholat sedangkan ia sama sekali buta dalam hal beribadah.
“Tapi kek, aku tidak tahu caranya sholat.” Ucapnya polos. Kakek lagi-lagi tersenyum,”ayok ikut dengan kakek.”
Alan mulai mengikutinya dari takbir pertama sampai dengan salam terakhir
“assalamualaikumwarohmatulloh”. Kakek berbalik kearah Alan dan mengulurkan tangannya, tanda untuk Alan mencium tangannya setelah sholat.
“Alan, kau seorang laki-laki dan suatu saat nanti akan menjadi seorang imam yang akan memimpin keluarga” ucap kakek sambil mengelus ubun-ubun alan.
Alan melangkahkan kakinya menuju kamarnya, duduklah ia didepan cermin lemari, dalam benak Alan tersirat bahwa hari ini dia mendapat banyak nasihat dan pengaruh baik dari kakeknya, ada keinginan Alan untuk segera bertaubat tetapi Alan kembali pada pikiran yang jahat ia berusaha menahannya namun hasrat pembunuhnya semakin mejadi. Ia teringat kata kakeknya jika niat jahatnya muncul maka ambillah tasbih yang berada di dalam laci kamar kakeknya, Alan menuju kamar kakeknya dan mengambil tasbih lalu mengucapkan astagfirullah berkali-kali sampai hasrat jahatnya hilang dari benaknya. 
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Alan memutuskan untuk berbelanja ke psar karena bahan makanan dirumahnya telah habis, tepat di depan gang setelah pulamg dari pasasr. Alan bertemu dengan seorang wanita paruh baya yang menangis sambil berteriak minta tolong.
“Tolong! Tolong! Tolong!” Teriak Wanita paruh baya itu.
Alan mengampirinya,”Ada apa bu?” Tanya Alan.
“dompet saya dan belanjaan saya telah dirampok oleh beberapa pemuda dengan menaiki sepeda motornya” Kata wanita paruh baya itu.
Dengan sigap ia langsung membelokan motornya dan mengejar beberapa pemuda itu yang dimaksutkan oleh sang wanita paruh baya tersebut. Beberapa pemuda itu masuk ke sebuah gang. Tanpa berfikir, Alan mengambil jalan pintas membelokkan stang motormya kea rah kanan gang agar ia dapat menghadang para pemuda itu. Tidak lama terdengar suara motor terjatuh ‘gedebuk’. Alan yang melihatnya langsung menghampiri dan mencoba menghadang para pemuda yang hendak kabur. Alan langsung mengambil alih dompet serta belanjaan sang wanita paruh baya dan kembali untuk memberikan kepada wanita tersebut.
“ini bu dompetnya dan belanjaannya.” Sahut Alan.
Wanita paruh baya itu tersenyum bahagia,”Ya ampun terimakasih ya nak, ini benar-benar sangat berharga untuk saya.”
“Ibu tinggal dimana? Mari saya antar.” Tawar Alan.
“saya tinggal diseberang desa sana nak.” Jawab wanita paruh baya.
Akhirnya wanita itu menaiki motor Alan dan Alan mulai melajukan motornya menuju rumah wanita paruh baya itu. Di sepanjang perjalanan mereka saling berbincang-bincang apapun hal itu.
“Namamu siapa nak?”
“Alan bu.”
“umur berapa?”
“23 tahun  hehehe”
“wah umurnya sama dengan anak saya.”
Alan tersenyum tipis sambil mengangguk,”Kamu kerja atau kuliah?” Tanya wanita itu lagi.
Untuk sejenak Alan diam, ia tidak tahu harus menjawab apa.”eh udah sampai nak” pekik Wanita itu.
Alan jadi kikuk dan mengerem mendadak,”oh disini bu?!” wanita itu turun dari sepeda motor Alan sembari mengucapkan terimakasih.
Lalu Alan melajukan motormya untuk kembali pulang ke rumah. Dirumah ia sempat menceritakan kejadian beberapa menit lalu kepada kakeknya. Sang kakek tersenyum dan bangga kepada Alan, karena ini merupakan pertama kalinya bagi Alan berbuat kebaikan. Setelah itu Alan belajar mengaji dengan sang kakek mulai dari iqro dan tak lupa setelah itu ia belajar beberapa kajian tentang agama islam.
Hari demi hari pria itu semakin membaik dalam beribadah, dirumah ia tidak pernah terlepas dari tasbih, al-qur’an dan buku-buku kajian islami. Ia juga rutin mengikuti pengajian bersama kakeknya. Di perjalanan pulang dari sholat magrib ia bertemu dengan beberapa pemuda yang pernah bekerjasama dengannya untuk membunuh seorang petinggi Negara saat itu. Alan menghela napas dan berniat memutar balikan motornya.
“ALAN?” panggil salah satu pemuda itu.
Para pemuda itu menghampiri Alan untuk memastikan apakah pria itu Alan atau bukan. sontak semua pemuda itu terkejut melihat penampilan Alan saat ini.
“Kamu kemana aja selama ini? Kau tau kita selalu banyak sekali job dengan bayaran yang tinggi.” Ucap salah satu pemuda itu.
Alan hanya tersenyum,”ngomong-ngomong penampilan mu aneh sekali. Dengan topi balok dan bawahan rok seperti wanita saja.” Sontak para pemuda itu tertawa lepas.
“kapan kau akan kembali bekerja bersama kami? Ada beberapa misi yang harus kita jalankan. Bayarannya juga lumayan besar, kau akan diberikan empat kali lebih besar nanti.” Ajak Tino, pemuda yang tadi memanggilnya.
Alan tersenyum,”maaf saya sudah tidak melakukan pekerjaan itu lagi.” Jawab Alan. Semua pemuda disana tertawa, bagaimana mungkin seseorang dengan hobi membunuh sudah tidak ingin melakukan hobinya lagi, “apakah kamu sudah memiliki pekerjaan lain?” Tanya Alex, pria berewokan yang pernah menjadi teman akrabnya itu. Alan hanya menggeleng kepala tanda bahwa ia belum memiliki pekerjaan.
“kau ini, belum memiliki pekerjaan saja sudah sombong.” Ejek seorang dari beberapa pemuda di hadapnnya.
“ya sudah lah, kami memiliki banyak pekerjaan, jika kau membutuhkan kami dan bersedia bergabung kembali, kami akan dengan lapang dada menerimamu kembali.” Ucap Toni.
Para pemuda itu kemudian pergi meninggalkan Alan dengan senyuman mengejeknya. Alan yang melihat itu hanya mampu memberikan senyuman tipisnya dan menggumamkan istighfar. Sepenjang perjalanan ia merasa bimbang mengenai penolakannya terhadap penawaran yang diberikan oleh teman-temannya adalah hal yang baik atau tidak. Akhirnya dia memutuskan untuk segera pulang kerumah dan menemui kakeknya.
Sesampainya di rumah, Alan dikejutkan dengan keadaan kakeknya yang pingsan di atas sajadah. Alan bergegas menghampiri kakeknya dan mencoba membangunkan kakeknya. Namun nihil, kakeknya tetap saja tidak sadarkan diri. Kemudian Alan membawa kakeknya ke rumah sakit terdekat agar kakeknya segera mendapatkan perawatan yang baik.
Dokter keluar dari ruangan tempat kakek Alan diperiksa. Alan segera bangun dari duduknya dan menghampiri sang dokter,
“Bagaimana keadaan kakek saya dok? Tanya Alan dengan wajah penuh dengan kekhawatiran.
“Kakek anda mengalami pembengkakan pada pembuluh darah di otak. Dan harus segera di operasi pada bagian kepala belakangnya. Namun, memerlukan biaya yang tidak sedikit.” Jawab dokter dengan jelas.
Alan terkejut mendengar penjelasan dari dokter. Raut wajahnya menampakan kesedihan. Ia melangkahkan kaki, bermaksud untuk pergi ke musholla rumah sakit untuk melaksanakan shalat Isya.
Keesokan harinya, Alan bangun pagi-pagi sekali dan berniat untuk mencari pekerjaan agar kakeknya bisa segera di operasi. Toko demi toko telah ia singgahi. Namun, tidak ada yang menerimanya sebagai pekerja. Ada satu toko yang belum Alan datangi yaitu di ujung simpang lima kota Aceh. Dengan rasa senang yang kini Alan rasakan sebab toko itu menerima Alan untuk bekerja disana, tetapi dengan gaji yang tidak besar, hanya 1.500.000 per bulan dengan waktu seharian penuh dan larut malam Alan dapat pulang dari pekerjaan itu. Sedangkan untuk operasi kakek Alan membutuhkan biaya cukup besar dalam waktu yang cepat, ia juga tidak lupa untuk tetap beribadah dan berdoa untuk kesembuhan kakeknya.
Diperjalanan pulang ia menemukan koper di tumpukan sampah, ia juga menemukan id card. Ia berniat mengantarkan koper tersebut kepada pemiliknya yang alamatnya tercantum dalam id card tersebut.
Sesampainya di alamat tersebut ia langsung mengetuk pintu, ”permisi.”
Pemilik rumah itu akhirnya membuka pintu,”iya ada apa?” Tanya nya.
“apakah benar ini alamat yang tercantum dalam id card ini?” Tanya Alan.
Pemilik rumah tersebut mengangguk,”saya menemukan koper ini dan id card ini. Apakah ini milik anda?” Tanya alan.
“Alhamdulillah. Terimakasih banyak, betul ini koper saya, satu minggu yang lalu saya salah membuang koper. Sudah banyak tempat sampah saya cari, namun tak dapat menemukannya juga.” Jelas pemilik koper tersebut.
Pemilik koper itu membuka kopernya dan memeriksa apakah isi dalam koper tersebut masih utuh, begitu terkejutnya Alan ketika melihat isi koper itu adalah setumpuk uang seratus ribu rupiah.
Pemilik rumah itu mengambil sepuluh tumpuk uang satu juta rupiah lalu ia berikan kepada Alan. “ambillah ini sebagai imbalannya, saya mohon jangan menolaknya.” Sahut pemilik koper tersebut. Alan mengambil uang itu dan mengucapkan terima kasih.
Saat sedang bekerja Alan lupa mengunci rumahnya ia meminta izin kepada pemilik toko untuk pulang sebentar kerumahnya. Sesampainya dirumah ia dikejutkan dengan kondisi Ayahnya yang sedang menangis meratapi nasib.
Alan menghampiri Ayahnya,”ada apa yah?’’ Tanya Alan
“Ayah kena tipu nak’’ jawab Ayahnya sambil menangis
“apa maksud Ayah? Tolong ceritakan dengan jelas’’ ujar Alan.
“Ayah mengikuti sebuah investasi…” belum sempat menjelaskan, Alan sudah memotong ucapan ayahnya.
“lalu Ayah terkena tipu? Ayah ini sudah yang ketiga kalinya. Ayah sudah terlalu banyak menghabisi harta kakek. Apakah ayah pernah memikirkan kondisi kakek saat ini? Kakek terbaring tak berdaya di sebuah kamar dengan infus yang terpasang ditangannya.”Ucap Alan kesal.
Tiba-tiba sepuluh orang dengan tubuh besar dan kekar mendatangi rumah Alan dan menendang pagar rumahnya dengan kasar, sontak Alan terkejut, sedangkan Ayahnya hanya diam membeku karena ketakutan.
“Hei! Berhenti! Ada apa ini?” teriak Alan.
Salah satu dari mereka mendekati Alan,”kamu masih bertanya? Jangan pura-pura tidak tahu!” gertak pria itu. Alan mengerutkan alisnya bingung, ia tidak tahu apa yang dimaksud pria bertubuh besar itu.
“sekarang dimana pak baharudin?” Lanjut pria itu.
Alan terdiam, ia masih tak mengerti pokok dari pembicaraan ini. Karena melihat Alan yang tidak kunjung menanggapi ucapan mereka, kesepuluh pria tersebut memaksa masuk untuk mencari Pak Baharudin lalu mereka mengacak-acak perabotan rumahnya.
Alan langsung menghadang dan menghentikan langkah mereka,”Kalian sungguh lancang! Berani sekali mengacak-acak rumah ku!”ucap Alan emosi.
“ini memang pantas kami lakukan! Ayah kami berhutang banyak kepada bos kami, dan ia belum membayar utang itu selama tiga tahun.” Jelas pria tersebut.
“memang berapa utang ayah saya kepada bos kalian?” Tanya Alan.
Pria itu dengan lantang menjawab,”TIGA RATUS MILIAR.”
Alan diam membeku, jantungnya seoalah berhenti berdetak, ia sungguh terkejut dengan apa yang Ayahnya lakukan. Ia tidak  tahu bagaimana cara membayar uang sebanyak itu, bahkan ia sendiri belum mendapatkan uang untuk membayar pengobatan kakeknya.
Emosinya semakin membara, darahnya seolah naik tak terkendali. Karena ia tidak ingin kemarahannya semakin tersulut, ia memutuskan untuk pergi meninggalkan rumah, dan pergi menuju rumah sakit untuk menemui kakeknya.
Dirumah sakit, ia duduk disebelah ranjang kakeknya dan menangis putus asa sembari menggenggam tangan kakeknya. Ia menumpahkan semua keluh kesahnya, waktu sudah menunjukan sholat magrib. Alan memutuskan untuk sholat magrib terlebih dahulu. Setelah sholat, tiba-tiba kondisi kakeknya semakin buruk dan harus segera di operasi. Namun pihak rumah sakit tidak bisa mengoperasi kakeknya karena Alan belum membayar administrasi.
Alan semakin putus asa, ia juga ditelepon oleh pihak kepolisisan bahwa Ayahnya sekarang sedang berada di penjara karena masalah utang tersebut.
Emosi Alan semakin membara, ia akhirnya menemui teman-temannya itu dan menyetujui tawaran pekerjaan yang pernah ditawarkan oleh mereka. Akhirnya Alan kembali ke dunia gelapnya, bahkan ia melakukannya lebih kejam dari sebelumnya. 
Dini hari sekali, Alan datang ke rumah sakit dengan membawa banyak uang yang nantinya akan digunakan untuk membayar biaya operasi kakeknya. Kemudian, kakeknya menjalani operasi selama 5 jam dan sehari setelahnya kakeknya sadar dari kritisnya.
“Kakek.. bagaimana keadaannya? Apakah ada yang sakit?” Tanya Alan dengan penuh kebahagiaan ketika melihat kakeknya mulai membuka kedua matanya. Kakeknya yang baru sadar, hanya menyapukan pandangannya ke langit-langit kamar.
“Dimana ayahmu nak?” Tanya kakek Alan setelah matanya menangkap wajah Alan. Alan yang mendengar hanya mampu menunduk sendu dan mulai menceritakan semua yang terjadi pada ayahnya dan pada dirinya sendiri kepada kakeknya.
“Astaghfirullahal’adzim” dengan wajah melas kakeknya menatap Alan. “apa yang kamu lakukan itu salah betul Alan, kau lakukan itu hanya demi memperoleh uang untukku, sungguh aku merasa bersalah atas tingkahmu ini. Namun, aku yakin dengan kejadian ini kau akan menyesal dan benar-benar menyesal, ku mohon kau bertobatlah kepada Allah nak Alan itu permintaan ku satu kali lagi, aku menyayangimu lebih dari diriku nak Alan. Aku ingin melihatmu menjadi pribadi yang benar-benar taat kepada Allah. Sungguh ini permintaan ku padamu untuk menysali perbuatan mu dan tidak mengulanginya.” Tutur kakek dengan sangat kecewa, namun ikhlas meratapi semua ini. 
Alan hanya bisa menangis dipangkuan sang kakek, dalam benaknya tersirat penyesalan yang benar-benar dalam hingga ia merenungi untuk beberapa lama.

0 komentar:

Posting Komentar