Siapa yang tak mengenal SMA
CAKRA KENCANA, sma terpavorit di Bogor. Tidak semua orang bisa menjadi siswa di
sana, hanya orang yang berprestasi dan berada dikalangan atas saja yang bisa
bersekolah disana, karena biaya bersekolah disana sangatlah mahal. standar yang
digunakan untuk penyeleksian siswa baru terbilang sangat tinggi dengan
kemungkinan lolos yang kecil, karena banyaknya yang berminat bersekolah di
sana.
Namun, hal tersebut tidak
berlaku untukku, Aldrian Wira Kusuma. Anak dari seorang pengusaha kebun teh
terbesar di Indonesia yang hasil produksinya sudah diimpor ke mancanegara
bahkan dunia. Aku tidak perlu mengikuti
Saat pertama kali aku
menginjakan kaki di SMA CAKRA KENCANA yang masih berstatuskan calon siswa dan
sedang mengikuti masa orientasi siswa atau sering disebut MOS yang menurut
pandangan orang-orang dianggap menakutkan karena sering kali kakak kelas/senior
memberikan perintah atau hukuman di luar logika seperti memakai tas dari
kantong kresek, topi dari kardus berbentuk segitiga, papan nama dari kardus
yang harus dikalungkan di depan dada, kaos kaki berwarna beda seperti hitam
disebelah kanan, dan kiri disebelah kiri.
Dihari pertama MOS aku masih
memakai seragam putih biru dan menggunakan almamater sekolah SMP-ku. Aku
berangkat dari rumah ke sekolah jam 06.10. karena jarak dari rumah ke SMA CAKRA
KENCANA lumayan jauh. Namun hal tersebut tidak menjadi masalah karena aku
berangkat ke sekolah mengendarai motor ninja berwarna hitam dengan kecepatan 80
Km/per jam. Jalanan yang dilewati olehku ada yang berlubang dan digenangi oleh
air, mungkin karena tadi malam turun hujan. Aku sama sekali tidak mengurangi
kecepatan motorku meskipun mengetahui jalanan yang banyak digenangi oleh air
tersebut. Dipertengahan jalan, aku kehilangan keseimbangan karena aku tidak
melihat ada orang didepanku yang sedang mengayuh sepeda tiba - tiba berbelok
arah dan menghalangi jalan, aku sudah berusaha menghentikan laju motorku,
namun, kejadian tersebut terlalu tiba tiba hingga aku tidak bisa menghindari
kejadian tersebut dan orang yang mengayuh sepeda itu terjatuh karena sepedanya
menabrak motorku, walaupun memang pelan karena aku sudah mengerem terlebih
dahulu namun tetap saja dia jatuh. Aku pun turun dari motorku dan menghampiri
orang itu yang terjatuh dari sepeda ke genangan air. Aku menyanyakan padanya “
hey, kamu baik baik saja?, ayo aku bantu” (sambil mengulurkan tangan untuk
membantunya yang ternyata adalah seorang gadis). Dia memakai seragam putih biru
dengan topi berbentuk segitiga dari kardus, dan memakai tas dari dari kantong
kresek dengan sesuatu berbentuk persegi yang ada didalamnya.
Namun dia malah menepis
tanganku dan berkata ... ”ga usah, makanya kalo naik motor tuh jangan ngebut
ngebut, udah tahu jalannya banyak genangan air” dia mengatakannya dengan wajah
kesal sambil bersusaha membersihkan bajunya yang kotor dan basah, rambutnya
yang diikat ponytale juga sedikit kotor karena genangan air saat terjatuh tadi.
Meskipun begitu, wajahnya terlihat menggemaskan, dengan pipi yang sedikit di
gembungkan dan bibir yang di kerucutkan.
Aku mendengar dia masih berceloteh kesal dan langsung membuka almamater
yang ku gunakan ke badannya yang kotor dan basah. Setelahnya aku bertanya
padanya “kamu mau kemana, biar aku antar” tapi dia malah menolak ajakanku
“gausah, aku masih bisa sendiri, lagi pula aku membawa sepeda”.
Karena dia bilang tidak perlu
diantar, akhirnya aku langsung pergi meninggalkannya sendirian disana tanpa
mengatakan sepatah katapun. Diperjalanan aku masih memikirkan wajah gadis itu
yang terlihat menggemaskan saat dia menggembungkan wajahnya karena kesal, dan
ah aku lupa menanyakan siapa nama gadis itu, ck harusnya tadi aku menanyakan
siapa nama gadis itu. Pada akhirnya aku hanya berdecak kesal karena lupa menanyakan nama gadis itu.
Saat tiba di sekolah, jam masih
menunjukkan pukul 06: 45, aku berkeliling sekolah untuk melihat lihat fasilitas
yang ada di sana, ternyata fasilitas siswa yang ada disana memanglah bagus,
mulai dari kantin, perpustakaan, lapangan olahraga, lapangan upacara, sampai
kamar mandi pun bagus.
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul
07:00, bel masuk sudah berbunyi dan para calon siswa baru segera berkumpul di
lapangan untuk mengikuti upacara dengan memakai atribut seperti gadis yang tadi
aku tabrak, hanya saja mereka memakai name tag berbentuk persegi dari kardus
yang dikalungkan di leher.
Aku memang sengaja tidak memakai
atribut yang diperintahkan oleh kakak-kakak senior, Karena menurutku hal itu
tidaklah diperlukan. Aku mengikuti barisan untuk upacara pembukaan masa
orientasi siswa. Aku memilih untuk berada di barisan paling akhir karena aku
malas untuk berlari dan berebut tempat didepan.
Upacara tersebut berjalan
dengan hikmad sampai aku melihat ada seseorang yang baru datang dan langsung
masuk kebarisan, dia.. gadis yang aku tabrak tadi, dia masih memakai almamater
yang aku pakaikan padanya mungkin karena bajunya yang kotor dan ia sedang
tergesa gesa. Dia terlihat terengah engah, mungkin karena tadi ia berlari dari
gerbang sekolah sampai ke lapangan olahraga.
Upacara pun selesai yang
kemudian dilanjutkan oleh pengumuman yang dilakukan oleh kakak kakak senior.
Mereka memeriksa perlengkapan atribut yang dipakai oleh calon siswa baru. Ada salah satu diantara mereka yang
menghampiriku dan berkata.. “hey, kenapa kamu tidak memakai atribut yang sudah
ditentukan? ” Tanya kaka senior dengan ketusnya “maju kedepan” aku langsung
menuju kedepan lalu kaka yang sedang memegang mik itu melihat ke arahku sambil
bekata menggunakan mik yang ia pegang ”hey, kenapa kamu tidak memakai atribut
yang sudah di tentukan?” (kaka itu bertanya dengan ketusnya) “sebutkan nama,
dan alasan kenapa kamu tidak memakai atribut” (kaka itu kemudian memberikan mik
nya kepadaku lalu aku mengambil mik itu dan menjawab pertanyaan dari kaka itu
“aldrian wira kusuma, karena menurutku hal itu tidaklah di perlukan” sontak
kaka kelas itu bertanya padaku “apa maksudmu” aku menjawab dengan santainya
“karena memang seperti itu, aku datang ke sekolah untuk belajar, bukan mengikuti perintah dari kakak untuk memakai
atribut yang bahkan sekolahpun tidak menginstruksikannya” semua pandangan
tertuju padaku karena mendengar penuturan dariku yang dengan santainya aku
ucapkan, lantas kakak kelas itu marah dan berkata “heh anak baru, jangan
sombong kamu ya, kami menyuruh memakai atribut tersebut memang untuk kebaikan
kalian sendiri, supaya lebih akrab karena sama sama memakai atribut yang sama,
tidak ada yang dibeda bedakan, tidak seperti kamu yang berbeda karena keegoisan
kamu yang tidak ingin memakai atribut, oh atau mungkin kamu merasa kalo kamu
itu istimewa yaa, hh karena kamu orang kaya, lantas kamu merasa kamu berbeda dengan
yang lainnya, begitu iya” kakak itu berkata dengan kerasnya, padahal ia
menggunakan mik dan aku juga tidak bermasalah dengan pendengaranku, dengan
jarak yang sedekat itu sungguh membuat telingaku sakit. Karena aku tidak mau
membuat telingaku lebih sakit lagi, akhirnya dengan santainya aku hanya berkata
“yaa, baiklah lain kali aku akan memakai atribut yang sudah ditentukan”
bukannya mempersilahkanku kembali ketempat, kakak itu malah mengatakan
“sekarang juga kamu berdiri menghadap ke bendera dan hormat sampai jam 9,
setelah itu kamu harus memungut sampah yang ada di lapangan ini, dan kamu baru
boleh ke kelas setelah bel istirahat selesai. Setelah mengatakan hal tersebut,
kakak itu membubarkan barisan dan mengatakan kepada seluruh peserta mos untuk
kembali ke kelas masing masing.
Aku hormat kepada bendera merah
putih selama 1 jam, matahari yang terik memperparah keadaan, aku harus menahan
dahaga hausku karena kakak senior yang menyebalkan itu yang mengawasiku terus
menerus. Ck merepotkan sekali sih mereka.
Setelah jam Sembilan, aku
mengambil air di dalam tasku yang sudah di siapkan oleh bi inah sebelum aku
berangkat sekolah tadi. Setelahnya aku memungut beberapa sampah yang ada di
lapangan itu, dan segera menuju ke atap sekolah untuk beristirahat disana, karena
memang sudah tidak ada sampah lagi disana. Aku beristirahat di bangku yang ada
di atap sekolah, membaringkan badanku dan memakai handset, mendengarkan lagu
lagu yang bisa sedikit membuatku merasa rileks. Angin sejuk yang berhembus
membuatku semakin merasa nyaman dengan tempat ini, hingga tak sadar akupun
memejamkan mata dan tertidur.
Saat aku bangun, ternyata waktu
sudah menunjukan pukul 10:00, aku bergegas menuju ke kelas. Karena waktu
istirahat adalah pukul 10:00 sampai dengan 10:15 aku langsung menuju ke kelasku
yang berada di kelas 10 ipa 1 di lantai 3. Suasana di kelasku terasa sunyi
mungkin karena mereka sedang ke kantin untuk membeli makanan dan minuman,
meskipun ada diantara mereka yang tetap berada di kelas sedang asyik mengobrol
ataupun sedang asyik dengan dunianya sendiri.
Aku mengambil kursi yang kosong
di dekat jendela, di barisan kedua dari depan. Tempat duduk untuk siswa di sini
dibuat satu orang untuk satu meja dan satu kursi. Yaa untukku yang suka dengan
ketenangan, hal itu adalah sesuatu yang memang aku butuhkan, daripada suasana
yang berisik sekali dengan celotehan mereka yang membuat kupingku terasa sakit,
aku lebih suka mendengarkan musik atau tidur di kelas.
Bel masukpun berbunyi
menandakan kegiatan selanjutnya akan segera di mulai, para siswapun satu
persatu mulai masuk ke kelas. Suasana dikelas berubah menjadi riuh. Aku tidak
suka dengan suasana seperti ini. ck merepotkan saja, bahkan diantara mereka ada
beberapa yang berkumpul di depan mejaku dan bertanya siapa namaku, ck mengganggu
saja, aku tidak menjawab satupun pertanyaan dari mereka dan memilih untuk
mendengar musik sambil memakai handset dan berpura pura membaca buku.
Selang beberapa menit datanglah
beberapa kakak kelas. Aku langsung memasukan handsetku ke dalam tas dan berusaha
untuk mendengarkan, walaupun pada akhirnya aku memang tidak tertarik dengan apa
yang dibicarakan oleh kakak kelas. Mereka menjelaskan tentang tata tertib, dan segala aturan yang
berlaku di SMA CAKRA KENCANA, dan aku hanya memandangi pemandangan yang
terlihat dari jendela kelasku, karena tempat duduku memanglah dekat dengan
jendela.
Waktu terasa berjalan sangat
lama, karena aku kebosanan mendengarkan celotehan dari kakak kelas yang
sesekali di selingi oleh game yang menurutku benar benar membosankan, aku lebih
memilih untuk bermain game online atau ps4 di rumah daripada bermain dengan
game yang membosankan ini.
Akhirnya saat yang kutunggu
tunggupun tiba, yaa bel pulang sekolah, aku ingin sekali cepat sampai di rumah,
makan kemudian menonton televisi atau tidur. Saat sampai di depan gerabang
rumahku aku membunyikan klakson motorku, dan setelahnya pak slamet (satpam di
rumahku) segera membukakan pintu gerbangnya. Aku masuk dan memarkirkan motorku
di garasi rumahku. Di rumah hanya ada aku bi inah, dan juga pak slamet. Setelah
mengganti pakaian, aku langsung menuju meja makan, dan mulai makan siang karena
lelah seharian di sekolah yang membosankan dengan kakak kelas yang menyebalkan.
Dan untuk menyegarkan kembali badan dan fikiranku, aku memutuskan untuk berkeliling,
melihat lihat kembali perkebunan teh milik ayahku dengan menggunakan sepeda,
karena dulu aku memang tidak tinggal di
sini melainkan di Jakarta karena alasan pekerjaan ayahku yang mengharuskannya
untuk tinggal disana dalam jangka waktu yang lama yang pada akhirnya akupun mau
tak mau harus tinggal dan bersekolah di sana selama 3 tahun.
Di Jakarta aku hanya tinggal
bersama dengan ayahku dan juga asisten rumah tangga yang bekerja di rumahku,
karena ibuku sudah tidak tinggal bersama dengan ayahku lagi, yaa mereka
berpisah saat aku masih di bangku kelas 6 sd. Di hari itu, tepat saat
kelulusanku di umumkan, dan aku meraih nilai tertinggi di sekolah juga
tertinggi ke 3 di nasional, namun yang aku dapat sebagai hadiah adalah
perpisahan orang tuaku yang bertengkar hebat hingga membuatku menutup diri
dengan lingkungan dan tidak memperdulikan perasaan orang lain, karena aku
berpikir mengapa aku harus memikirkan perasaan orang lain sedangkan mereka saja
tidak memikirkan perasaanku, sudah terbukti dari ayah dan ibuku yang mengambil
keputusan tanpa memikirkan dampaknya bagiku. Aku tidak ingin mengingat kembali
kejadian itu yang hanya akan menyakitiku terus menerus, lagi pula waktu terus
berjalan, aku tidak boleh membiarkan diriku berlarut dalam kesedihan itu terus
menerus.
Saat aku mengingat kembali
kejadian itu, aku merasa kesal dan sedih, dan untuk itulah, saat ini aku
memutuskan untuk pergi ke perkebunan teh. Aku memilih sepeda gunung yang ada di
garasi, setelah sebelumnya meminta bi inah untuk menyiapkanku minum dan
sandwich bila aku merasa lapar di perjalanan, juga meminta bi inah untuk
membuatkanku tas dari kantong kresek, topi berbentuk segitiga juga name tag
berbentuk persegi dari kardus lengkap dengan talinya untuk dikalungkan di depan
dada dengan nama Aldrian Wira K. Hh merepotkan sekali kakak kelas itu, hh lihat saja nanti saat aku menjadi ketua
osis di sana aku akan menghapuskan peraturann yang merepotkan seperti ini,
pikirku. Hh kenapa aku tiba berpikiran untuk menjadi ketua osis, ahhhh ada ada
saja.
saat di depan gerbang pak Slamet membukakan
pintu gerbangnya dan akupun segera berangkat menuju perkebunan milik
ayahku. Di perjalanan aku melihat
pemandangan yang indah dengan udara yang sejuk, berbeda sekali dengan saat aku
tinggal di Jakarta. Di sana aku melihat ada seorang gadis yang sedang
menggembalakan kambing kambingnya di padang rumput sambil bersandar di bawah
pohon yang rindang dengan membaca sebuah buku ditangannya. Sekilas aku melihat
wajahnya terasa familiar, tapi aku lupa dimana tempatnya, yaa aku tidak ingin
memikirkan hal yang tidak penting seperti itu, dan memilih untuk melanjutkan
perjalanan ke kebun teh. Ternyata disana sudah banyak mengalami perubahan,
mulai dari luas perkebunannya, para pekerja sampai alat yang digunakan pun di
perbarui demi memenuhi kebutuhan konsumen.
Aku pergi ke tempat yang dulu
adalah paforitku karena biasanya aku pergi sekeluarga bersama dengan ayah dan
juga ibuku di sebuah batu besar yang berada ujung perkebunan teh milik ayahku,
bermain bersama dengan ayahku dan setelahnya kami pasti selalu memakan jagung
bakar buatan ibuku yang ia bawa sebelum berangkat ke sini, bisa dibilang
seperti piknik keluarga. Dari atas batu ini, aku bisa melihat keindahan
pemandangan dari hamparan kebun teh yang sangatlah luas dan dengan kilau cahaya
dari matahari yang akan segera terbenam menambah keindahan pemandangan di sini.
Hingga pandanganku terpaku pada
seorang nenek yang sedang menyirami pohon teh, nenek itu bercucuran keringat
dan sesekali menyeka keringat yang mengalir dari dahinya. Aku menghampirinya..
“permisi nek, aku ingin menanyakan jalan keluar dari perkebunan ini lewat mana
yaah nek, aku lupa” lantas nenek berbalik menghadapku dan menjawab.. “ohh kamu
hanya harus lurus dari sini, dan belok kanan di pertigaan di depan, lalu ikuti
saja jalan itu nanti kamu akan sampai di jalan raya” aku membuka tasku dan
mengatakan “nek, ini untuk nenek, tadi aku sudah makan dan masih tersisa ini,
ambil yaa nek” nenek itu berterimakasih padaku dengan wajah yang bersinar
karena tersenyum senang. Setelahnya aku langsung pulang kerumah setelah
seharian berjalan jalan di perkebunan teh.
Setelah sampai dirumah aku
langsung mandi dan berganti pakaian yang sudah disiapkan oleh bi inah, dan
menonton televisi di kamarku. Waktu sudah menunjukkan pukul 20:00, aku makan
malam bersama dengan ayahku di ruang makan, kami makan tanpa ada yang berbicara
sedikitpun, setelahnya aku memakan tomat seperti biasanya setelah makan malam.
Saat hendak memakan tomat, tiba tiba ayahku bertanya “bagaimana sekolah barumu”
dan dengan santainya aku hanya menjawab “merepotkan” mungkin karena sudah
terbiasa dengan jawabanku yang singkat, ayah kemudian berkata “kamu harus
berusaha lebih beradaptasi dengan sekolah barumu, karena disini tidak sama
dengan di sekolahmu yang dulu” aku hanya menjawab perkataan ayahku dengan
gumaman “hm” saja.
Setelah tomat yang kumakan
habis, aku langsung menuju kamarku dan tidur padahal waktu masih menunjukkan
pukul 20:20 tapi aku sudah mengantuk, tidak seperti biasanya. Aku biasa
tidur padapukul 21:15, mungkin hal
tersebut karena tadi siang aku berkeliling kebun seharian dan yaa setelah di
jemur selama 1 jam di depan tiang bendera. Hhh sungguh hari yang melelahkan.
Aku bangun dari tidurku dan
bersiap untuk berangkat ke sekolah, sarapan dan juga mebawa bekal yang di
buatkan oleh bi inah, tidak lupa untuk membawa atribut yang di perintahkan oleh
kakak kelas kemarin karena aku malas mendengarkan celotehannya yang memekakkan
telinga.
Seperti biasa aku pergi
kesekolah dengan mengendarai motor, dan sampai ke sekolah pada pukul 06:25.
Tidak seperti kemarin aku sampai ke sekolah jam 06:45, mungkin karena kemarin
ada insiden kecelakaan di genagan air itu.
Aku memakai atribut yang di
perintahkan oleh kakak kelas yang menurutku mereka adalah anggota dari osis di
sma ini. aku tidak mengerti untuk apa sebenarnya atribut yang ku pakai ini,
karena hal ini tidak terdapat dalam aturan yang dibuat oleh sekolah, tapi aku
tetap memakainya meskipun setengah hati.
Hari ini tidak seperti kemarin,
di kelasku hanya ada guru yang memberikan pengajaran awal dan pengenalan
seperti biasa, dan di selingi dengan kakak kelas yang bergantian dengan guru
yang masuk dan memberikan game kepada kami. Game yang kemarin di berikan pada
kami dimainkan lagi, mungkin karena mereka tidak memiliki game lain lagi.
Keesokan harinya pun sama, dan
acara mos di SMA CAKRA KENCANA sudah selesai yang di akhiri dengan upacara
penutupan masa orientasi siswa. Penutupan tersebut dilakukan pada siang hari
saat bel pulang sekolah dibunyikan, di lapangan upacara. Dengan berakhirnya
penutupan masa orientasi siswa, aku sudah resmi menjadi siswa SMA CAKRA
KENCANA.
Setelah selesai upacara
penutupan, aku bergegas pulang ke rumah karena memang tidak ada yang harus
dikerjakan lagi di sekolah. Aku bergegas menuju parkiran tempat motorku berada.
Di perjalanan menuju parkiran, aku membuka taskuhendak mengambil hendset dan
mendengarkan musik dengan handphone sepert biasa kulakukan, namun mungkin
karena aku tidak terlalu memperhatikan jalan, aku menambrak seseorang, tapi
untungnya aku dengan sigap langsunng menarik tangan orang itu, dan mungkin
karena gerakan refleks yang tiba tiba tersebut terlalu kencang membuat wajahnya
menabrak tas yang ada di depan dadaku. Dengan spontan ia mengaduh “aduuh”
sambil memegang dahinya yang terbentur, saat ia menengadah untuk melihatku
karena tinggi badannya hanya sebatas pundakku, aku ingat siapa dia, karena ia
memakai almamater miliku yang kuberikan pada gadis yang aku tabrak beberapa
hari yang lalu, akhirnya beremu dengannya kembali. Tanpa sadar aku
memperhatikannya dan aku berusaha untuk tetap fokus pada apa yang ia katakan
“kamu lagi, kenapa kamu selalu tidak memperhatikan jalanmu sih, mengganggu
jalan orang saja” ia berkata dengan jengkelnya. Sifat dasarku yang tidak ingin
kalah tidak membiarkannya begitu saja, aku lantas menyangkalnya dan mengatakan
“sudah tahu ada halangan di depan kenapa tidak menghindarimya” aku balik
bertanya padanya. Ia semakin terlihat kesal,
menghela napas hingga aku bisa melihat lesung pipit yang ada di pipi
kirinya, tanpa mengatakan sepatah kata pun lagi aku kemudian meninggalkan dia
yang sedang kesal. Aku mendengar ia kemudian menggeram kesal “hey, ishhh dasar
menyebalkan, bukannya minta maaf malah balik menyalahkan aku”
Aku adalah orang yang tidak
suka dengan kekalahan, aku terbiasa mendapatkan apa yang ku inginkan dengan
cara apapun, termasuk dalam hal berdebat dengan orang lain, yaa aku mungkin
memang tidak banyak bicara, tapi jika aku sudah mengatakan beberapa kalimat
saja, mereka tak bisa membalasnya lagi, karena aku terbiasa membungkam mereka
dengan argumen mereka yang berdasarkan fakta hingga membuat mereka tidak bisa
berkutik untuk mebalas argumenku.
Lagi, aku meninggalkan dia
sendiri tanpa menanyakan siapa namaya, tapi disisi lain egoku yang tidak ingin
kalahlebih tinggi, karena kesal aku kemudian mengemudikan motorku dengan
kecepatan tinggi sampai ke rumah. Setelahnya aku langsung berganti baju dan
memilih untuk bermain basket di halaman belakang rumahku untuk menghilangkan
kekesalanku. Saat bermain basket, seolah aku bisa meluapkan emosiku dengan
memasukan bola ke ring basket, dan merasa seperti masalah yang membuatku kesal
tidak ada, mungkin karena hal itulah aku bisa mengikuti kejuaran di tingkat
nasional dan meraih banyak penghargaan dari bermain basket.
Keesokan harinya, di sekolah
sedang di adakan demo eksul yang bertujuan untuk menarik minat para siswa baru
untuk bergabung bersama dengan masing masing eksul. Aku yang memang hobi
bermain basket, mendaftarkan diri ke ekskul basket. Demo ekskul itu berlangsung
selama sehari. Setelah aku mendaftarkan sebagai anggota klub basket, aku
memilih untuk pergi ke atap sekolah, merasakan kesejukan angin yang berhembus
semakin membuatku nyaman dengan suasana yang hening. Seperti sebelumnya, aku
membaringkan tubuhku dan memakai handset, mendengarkan musik dan menutup
wajahku dengan buku lalu memajamkan mata hingga aku tertidur. Aku terbangun
saat mendengar bunyi bel pulang sekolah. Aku bergegas turun ke bawah dengan
menuruni tangga. Dan setelahnya, aku langsung menuju ke parkirkan, menaiki
motorku, kemudian menyalakan mesinnya, lalu pergi meninggalkan parkiran sekolah
pulang ke rumah.
Di hari berikutnya aku tidak
masuk sekolah, aku meminta pada pak selamet untuk memberikan keterangan kepada
sekolah kalau aku tidak masuk hari ini. sebenarnya aku tidak sakit, hanya saja
aku malas jika harus pergi ke sekolah dan tidak ada yang melakukan apapun di
sana. Padahal hari ini waktunya pembagian kelas sesuai dengan jurusan yang
sudah di tentukan oleh sekolah, tetapi aku malah pergi ke perkebunan teh dengan
menggunakan sepeda, yaa hitung hitung sekalain olahraga pagi. Udara pagi hari
disini sangat sejuk, tapi jika aku tidak menggunakan jaket tebal ini mungkin
aku sudah menggigil kedinginan karena masih belum terbiasa lagi dengan udara di
sini. Udara yang sejuk dan suasana yang hening ini sungguh perpaduan yang
membuatku terhanyut dalam kenyamanan dari suasana dan pemandangan yang indah
ini hingga tanpa aku sadari waktu sudah menunjukkan pukul 11:25.
Aku memutuskan untuk kembali ke
rumahku karena hari sudah siang, dan aku merasa mulai lapar.
Hari ini aku memang tidak masuk
sekolah, tapi aku tetap mengetahui dimana kelasku, karena banyak koneksi dari
rekan kerja ayahku yang menyekolahkan anaknya di sana salah satunya adalah
Daniel Pratama, dia adalah temanku saat aku masih kecil. Aku terbiasa
memanggilnya niel dan ia memanggilku dengan sebutan al. kami sering bermain
basket bersama di halaman belakang rumahku. Tapi karena aku pindah ke Jakarta,
aku tidak pernah bertemu dengannya lagi, bahkan tidak pernah saling
menghubungi.
Pak selamet mengatakan padaku kalau
niel pindah ke sekolah SMA CAKRA KENCANA saat ia mendengar kalau aku bersekolah
di sana. Yaa baguslah kalau begitu, jadi aku bisa mendapat partner untuk berbuat
onar di sekolah. Bahkan pak selamet juga mengatakan kalau niel akan ke rumahku
siang nanti sepulang sekolah. Aku dan dia memang sering bersama, namun diantara
kami terdapat perbedaan yang sangat besar, bagaikan gelap dan terang, aku
adalah gelap dan niel adalah terang, meskipun tidak sama tapi kami selalu
bersama. Aku nyaman berteman dengan niel karena ia tidak pernah menyuruh atau
melarangku melakukan sesuatu, ia hanya menguutarakan pendapatnya dan
memberitahuku dampak dari apa yang akan kudapat dari apa yang akan kulakukan,
intinya aku senang berteman dengannya.
Keseharianku sangatlah datar. Di
rumah, aku sudah tidak pernah membuka bukuku untuk belajar, aku lebih suka
memilih mendengarkan musik, atau menonton televi dan bermain game online. Di
sekolah pun juga sama, aku jarang mencatat materi yang di berikan oleh guru,
hanya saat aku merasa hal itu penting untuk di tulis, barulah aku menulisnya,
bahkan buku yang aku bawa ke sekolah banyak yang masih bersih, belum aku tulis
sama sekali.
Hari berlalu, di sekolah
baruku ini aku sudah mendapatkan partner yg dulu sempat pisah karena sekolah
sekarang berada dalam satu sekolah kembali.
Sikapnya berbeda dari yang
dulu... Dulu ia membiarkanku untuk berbuat apa apa dan hanya memberi tahu apa
dampak dari yg kulakukan, sekarang dia terlihat lebih baik... Dia tidak suka
ketika ada seseorang yang melanggar peraturan namun tidak mau mengakui
kesalahannya, aku bisa melihat sikapnya ketika ada kakak kelas yg ketahuan
merokok di toilet sekolah, lalu ia menegur dan menanyakan "apa di sekolah
ini di izinkan merokok?" Ucap niel, lalu kakak kelas itu menjawab dengan
nada keras "apa urusan lu? Nanya begtu? Adek kelas nyari masalah"
ucap Kaka kelas itu, lalu Niel bicara lagi "dalam peraturan sekolah
dilarang keras merokok! Apalagi kamu Masih pelajar, buang rokoknya atau kamu yg
saya laporkan!" Ucap niel, lalu kaka kelas itu ingin memukul niel namun
andrial menghentikan itu, dan menyuruh Niel untuk mengalah,
Hey Al..., ayo ke basecamp,
selesai bel pulang sekolah, Niel membalikkan badannya ke belakang dengan
cengiran khasnya. Tanpa piker panjang, aku langsung meraih tas gendongku dan
memakai almetku asal dan tidak kukancingkan, dia ini tidak pernah berubah yaa
selalu saja membuatku malu.. awas ya liat yang kulakukan niel.. aku tersenyum
tidak, hanya melengkungkan sudut bibirku dan menarik sebelah alisku keatas
seperti yang biasa kulakukan lalu merangkul emm tidak menarik niel lebih
tepatnya. Spontan saja niel langsung mengomeliku dan melepaskan tarikanku “hey apa
apaan sih lo iya gue tau kok lu itu
sebenarnya sayang sama gua” mendengar ucapan niel sungguh membuatku geli
sekaligus ngeri “gw masih cukup waras untuk suka sama sesame yaa niel”
mengatakannya dengan ekspresi jijiku. “hey gw kan bilang saying bukan suka. Ihh
lagian yaa lu itu anaknya semrawut, baju aja lu keluarin, almet lug a lu
kancingin, rambut lu pengen gw jambak litany, udahmah di jalan kebut kebutan,
sering bikin onar, apalagi coba yang belum gw sebutin. Hmmm al, al” dengan
percaya diri kujawab “tapi gw tetep Aldrian Wira Kusuma, orang yang paling
ganteng, dan cool disini” niel hanya bisa menepuk jidatnya menghembuskan
napasnya dengan kasar “yaahh terserah lu dah al, udah lah lama lu ngomong
mulu”. Setelah puas dengan bertengkar dengan niel akhirnya aku dan niel pergi
ke parkiran dan langsung menuju ke rumahku. Saat di parkiran niel mengajakku
untuk berkemah di atas bukit perkebunan teh, karena aku dan niel sedang bosan,
dan ingin merefresh otak. “good idea, tumben lu pinter niel” “yehh dari dulu geh
gw emang pinter, lu nya aja yang ga nyadar”. Setelahnya kamipun langsung
bergegas ke rumah masing masing untuk mempersiapkan barang bawaan mungkin akan
di perlukan di sana, dan berkumpul di rumah al karena jaraknya yang lebih dekat
dengan tempat perkemahannya.
.Sesampainya di sana mereka
memasang tenda.. sudah banyak orang orang yang ada di sana dan kebanyakan
mereka memang sedang berlibur dengan keluarga, setelah memasang tenda Al dan
Niel duduk di bawah pohon
Sebelumnya niatnya sih si al
mau ke tenda ama si niel, pas si al mau
ngambil makanan ama minuman Al kaget ketika ada ayah sedang bersama dengan seorang wanita yang
tidak lain adalah ibunya al, namun... Bukan hal yang menghangatkan hati namun
malah membekukan dan memekakan telinga yang al dengar, mereka bertengkar. Lagi.
Kenapa setiap mereka bertemu pasti selalu bertengkar, apa kesalahannya, al
hanyalah seorang anak yang ingin merasakan lagi kasih sayang dari ayah dan
ibunya seperti dulu, jika al memang bersalah tolong katakan agar al bisa
memperbaikinya, setidaknya mengetahui apa kesalahannya. Seolah semua bungkam
membisu sebarapabesar pun al menahan rasa sakit dan sesak yang
menyiksanya, namun tetap saja al tidak
sanggup. akhirnya al pun memutuskan untuk tidak ingin berada di sini, dimana al
hanya merasakan kesengsaraan, dan al pun pergi tanpa di sadari kedatangannya
oleh ayah dan ibunya, tanpa memikirkannya lagi aku langsung meninggalkan tempat
itu, aku tak tahu aku lari kearah mana, yg aku tau aku berlari sekuat tenaga
tanpa arah... Dengan terengah-engah, aku berhenti di suatu tempat, aku tidak
menyadari bahwa aku sampai di tempat ini, tempat yg penuh dengan kenangan
kenangan indah yg dulu pernah ada dalam hidupku, yang dulu selalu aku rasakan,
namun sekarang, aku hanya bisa tertawa, betapa kehidupan ini berputar. oh atau
mungkin hanya aku yg merasakan hal seperti ini, tanpa terasa air mataku jatuh,
aku duduk di atas sebuah batu dan bersandar pada sebuah pohon, di tempat ini
aku selalu bermain bersama ayah dan ibu, aku selalu bercerita bersama mereka,
aku dan Niel juga sering kesini, kami selalu bermain bersama, kami berlarian
bersama di tempat ini. hanya Niel yg aku punya, hanya Niel yg tetap bertahan di
sampingku, tidak ada selain niel.
memikirkan hal tersebut hanya membuatku muak, mengapa semuanya terjadi padaku!?
Mengapa!? Rasanya aku ingin berteriak sekencang kencangnya di tempat ini,
mengungkapkan semua kesedihanku... “Mengapa semua terjadi padaku!? Ini sungguh
tidak adil!”. Setelah berteriak, aku
hanya bisa merenung, menikmati semua yg bisa aku nikmati, tanpa terasa senja
sudah tiba, Matahari sudah mulai terbenam, suasananya menjadi hangat walau tak
seperti hatiku, dengan sisa kesadaranku, aku bangun dan aku berjalan dengan
gontai kerumah, rumah yang tidak seperti rumah, rumah tanpa kehidupan, karena
kehidupan dirumah itu sudah lama sekian lama pergi.
Di perjalanan pulang aku
bertemu seorang nenek, yaa nenek itu sepertinya dia adalah orang yang aku
berikan bekalku dulu. mengapa dia masih ada di sini? Inikan sudah sore
seharusnya dia pulang apalagi dia sudah tua, apa aku harus menyuruh nya pulang?
Tapi sebenarnya bukan urusanku, dia kan sedang bekerja, tapi itu juga tidak
baik untuk kesehatannya, aahhh ini sungguh membuatku pusing, akhirnya mau tidak
mau aku menghampiri nenek itu, dan aku berkata padanya, “nek? Mengapa nenek
masih di sini? Hari sudah mulai malam, sebaiknya nenek pulang dan lanjutkan
besok saja” namu nenek itu malah berkata “Tidak Den, nenek masih harus bekerja,
sedikit lagi kok”, aku mengatakan sekali lagi padanya “Nek ini masih bisa di
lanjutkan besok kok” namu nenek itu bersikeras “tidak sebentar lagi kok” karena
frustasi akhirnya aku menawarkan diri untuk membantu nenek itu “ahh yasudah
lah, ayo ajari aku” “ kamu tinggal petik, yang sudah layu, lalu kamu buang,
karena itu bisa menyebabkan bagian yg lain ikut rusak”dengan percaya dirinya
aku mengatakan “ahh itu mudah” lalu dengan sombongnya aku langsung mematahkan
ranting yang sudah layu, tapi malah tanganku terluka dan berdarah, lalu nenek
itu berkata, “makanya kalau nenek kasih tau dengarkan”. akhirnya aku pun hanya
bisa berpasrah, ya ini memang sakit, tapi tidak sesakit hatiku.
“Oiya nek, kalau gitu biar aku
antar pulang saja, nenek tinggal dimana?” lagi lagi nenek itu menolak ajakanku
“Nenek tinggal di dekat sini, tidak apapa kok, nenek bisa sendiri, lagipula
kamu kan juga harus pulang” aku mencari alasan lain supaya nenek itu mau aku
antar pulang “ya lagi pula aku kan laki laki nek” sejak kapan aku jadi banyak
bicara seperti ini? Dalam fikiran ini berdebat, mengapa dengan nenek ini aku
jadi banyak bicara seperti ini, Ah sudahlah terserah, “nenek mau diantar
tidak?” keputusan nenek itu tetap tidak berubah “Tidak apapa nenek bisa sendiri
kok”. “Yasudah kalau bgtu ini sudah selesaikan nek?” “ Iyah ini sudah selesai
kok, nenek juga mau pulang sekarang. Yaudah terimakasih ya den” “iya sama sama
nek, sampai jumpa”, nenek itu pulang kerumahnya, kenapa aku bisa bicara panjang
lebar seperti tadi pada nenek itu.. biasanya aku irit berbicara.
Keesokan harinya niel datang ke
rumahku dan mengomel padaku “hey al, lu tuh yaa kebiasaan banget deh ninggalin
gw, lu tau ga gw tuh panik nyariin lu, gw tuh takut lu kenapa napa, ntar kalo
lu dimakan binatang buas siapa yang bakal jadi temen yg bikin onar?” “lebay lu,
maksud lu, lu nyumpahin gua dmakan binatang buas gitu?” “ya kaga all.. maksud
gua tuh aahhh tau ah..” “yaudah lah gua mau balik, males gw liat muka lu ,
lagian gua tadi izin keluar ga lama lama ke ayah gua” “yaudah sono lu balik
siapa juga yang nyuruh lu kerumah gua, dasar tamu tak diundang” “ahhh terserah
lu ah al, udah ah gua balik” setelahnya niel langsung pergi kerumahnya mungkin.
Dia kan kemarin tau aku pulang karena apa, mungkin dia hanya tidak mau
menanyakannya langsung padaku, agar aku tidak terlalu memikirkan masalah
kemarin, tapi apa mungkin dia hanya ingin melihat keadaanku saja, niel niel dia
itu memang tidak pernah berubah yaa dari dulu, selalu perhatian tapi seolah
tidak peduli.
Hari Senin, aku berangkat ke
sekolah kembali sesampainya di sekolah, sudah banyak sekali anak anak yg
mempersiapkan upacara bendera pagi itu, ada yg menyiapkan alat alat seperti
melipat bendera, menyiapkan mik, menyiapkan sound untuk upacara, intinya yang
aku lihat pagi itu sangat sibuk.
Bel berbunyi tanda upacara akan
segera di mulai, Aku berbaris di belakang Niel, pada saat upacara tidak banyak
yg aku ucapkan kepada Niel seperti ngobrol, karena di belakangku persis ada
anak OSIS yang memantau dan siap mencatat siswa yg tidak tertib saat upacara,
di samping kiriku ada teman sekelasku namanya rival, dia anak yg terkenal
sangat emosi, usil, dan tidak mau disalahkan. Pada saat upacara aku bersikap
tegap, namun tiba tiba adayang menarik bajuku hingga bajuku berantakan, lalu
aku menjadi emosi, dan menanyakan dengan wajah seram“apa apaan ini maksudnya” Dia bertanya lagi, “ kenapa? lu gasuka?
Hah?”“iya! Gua gasuka, lagi tertib seperti ini lu nyari masalah”.
Setelah itu aku dan dia di
tarik ke belakang oleh OSIS, namaku dan namanya di catat. setelah upacara
selesai namaku dan namanya diumumkan oleh guru. Guru ini sudah tidak asing lagi
di telinga para murid, guru yang terkenal akan kedisiplinannya, siapa lagi kalo
bukan pa opik, guru pembina OSIS di sekolah ini dan semua siswa tau akan
keganasannya jika siswa melanggar aturan sekolah..
Setelah itu aku masuk kedalam
ruang BK, aku dan rival di catat di buku masuk dan rival di suruh oleh pak Opik
untuk meminta maaf kepadaku dan aku memaafkannya kamu tidak ada rasa dendam
kembali dan semua baik baik saja.
Setelah itu aku pergi ke kelas
bersama rival, di kelas setelah pelajaran pertama, ada 3 siswa kelas 12 yg
masuk ke kelasku, lalu mereka memberikan informasi tentang pendaftaran calon
ketua OSIS yg baru... Pendaftaran paling akhir hari Jumat, dan setelah memberi
informasi tersebut mereka pergi.. hari tak terasa, jam sudah menunjukkan pukul
3 sore dan waktunya untuk pulang kerumah, niel pulang pulang kerumah brdsama
denganku
pada saat dijalan, ada perbaikan jalan, dan
disitu ada salah satu petugas yg sepertinya melakukan kesalahan karena tidak
menutup lubang dengan baik yg akhirnya membuat orang lain terjatuh, di situ aku
melihat petugas tersebut seperti nya di marahi oleh atasannya, dan situ aku
berhenti, aku melihat kejadian itu dan aku memperhatikan, atasan tersebut
memang marah tapi marahnya tidak menyakiti hati petugas tersebut, dia memarahi
menjaga hati lawan bicaranya, sehingga ia mengerti tanpa harus merasa
tersakiti,
Setelah itu niel menantangku,
untuk bisa menjadi pemimpin yang baik “al lu berani ga jadi pemimpin yang bijak
dengan percaya dirinya aku mengatakan “apa sih yang ga gua bisa! tapi maksud lu
jadi pemimpin apa? Gua kan masih SMA” “ternyata jawaban niel “lu kudu jadi
ketua osis di sekolah!” “lu gila ya? Gua kan banyak kasus disekolah, ya kali
gua jadi ketua osis di sekolah, ya ga ada yang milih lah, lagian ya gua kan
masih kelas 10, ah niel lu ngaco lah” “katanya lu bisa semuanya? Ooh jangan
jangan lu takut ya?” “enggakk lah! Gua terima tantangan lu”.
Setelah menerima tantangan dari
niel, Al selalu memikirkan bagaimana caranya dia bisa menjadi ketua OSIS
sedangkan dia merupakan anak yang mempunyai banyak kasus di sekolah, banyak
pula guru dan teman-teman yang tidak suka dengan sikapnya yang berandalan.
Setelah lama Al memikirkan cara untuk bisa membuat orang lain percaya padanya
untuk menjadi ketua OSIS, akhirnya Al tetap memutuskan untuk mencoba mengikuti
penyeleseksian menjadi ketua OSIS. Dengan kemampuan berfikir yang di miliki Al dalam tahapan proses
penseleksian, tak disangka Al lolos dan mampu mengikuti penseleksian tahap
selanjutnya, tahapan kedua ini merupakan tahapan yang cukup membuat Al sangat
tidak percaya diri karena dalam tahapan ini calon ketua OSIS harus mampu
berargumen dan menjawab segala bentuk pertanyaan dari guru dan teman-temannya
dalam Debat Terbuka.
Saat saat yang ditunggu pun tiba,
dimana al harus berargumen di depan masyarakat SMA CAKRA KENCANA dengan
kelakuan yang dipandang buruk oleh guru dan teman temannya, ia tetap mencoba
untuk berargumen dan menjawab segla bentuk pertanyaan yang di ajukan oleh guru
dan teman temannya. Salah seorang murid kelas 12 bertanya padaku “perkenalkan
nama saya sherly marcellina perwakilan dari kelas 12 ingin bertanya apa bedanya
dari pemimpin dan kepimimpinan,“ aku pun menjawab “pemimpin yaitu orang yang
mengajak dan merangkul serta mengayomi orang lain dalam kebaikan, sedangkan
kepemimpinan yaitu gaya seseorang dalam memimpin untuk mencapaitujuan tersebut.
Apakah ia mempin dengan bijak atau tidak.”
“Memangnya bagaimana sikap
pemimpin yang bijak dan tidak bijak?” Lalau aku menjawab pertanyaan dari ka
sherly “bukan dia yang tidak pernah salah, tapi justru pemimpin yang berani
mengakui kesalahannya dan mengevaluasinya. Sedangkan pemimpin yang tidak bijak
yaitu pemimpin yang suka memerintah dan harus sesuai dengan keputusannya saja”.
Sudah merasa cukup dengan
jawaban yang aku berikan akhirnya ka sherly mengakhiri pertanyaannya. Dan
mengucapkan terima kasih. Debat terbuka hari ini diakhiri dengan penampilan
bakat dari para kandidat yang berjumlah 3. Aku menampilkan penampilan basketku
dengan nil, kami saling memperebutkan dan mendrible bola ke ring basket, serta
memperkenalkan trik yang benar kepada siswa lain yang melihat aksiku.
Sedangkan kandidat lainnya
yakni Ayu Hastari menampilkan sebuah lagu yang berjudul don’t go yang
dipopulerken oleh band korea EXO. Dan seorang lagi bernama Riskal Dinata ia
menampilkan jurus- jurus taekwondo yang ia punya.
Keesokan harinya yakni
pemilihan ketua OSIS adalah hari penentuan siapa yang akan menjadi presiden
siswa selanjutnya. Aku sendiri tidak terlalu memikirkan hasilnya, karena
sebenarnya aku sendiri hanya mengikuti tantangan yang Daniel berikan kepadaku.
Namun semua itu tak berpihak pada perkiraanku, ternyata hasil akhir yang telah
terjadi adalah diriku memenangkan pemilihan OSIS tahun ini.
Akhirnya aku memiliki jabatan
sebagai ketua OSIS di SMA CAKRA KENCANA. Disisi lain aku telah memenuhi
tantangan yang Niel berikan kepadaku, namun sisi lain aku tidak sanggup dengan
jabatan yang aku emban.
Detik berubah menjadi menit,
menit menjadi jam, dan jam pun berganti menjadi hari, dan itu berlangsung untuk
terus menerus. Sudah berhari- hari telah aku lewati selama menjadi ketua OSIS
namun tidak ada tindakan yang aku lakukan sama sekali yang seharusnya seorang
ketua lakukan. Jangan membuat suatu acara, memimpin suatu rapat saja aku sering
bolos. Namun akhir- akhir ini aku sadar dan perlahan- lahan belajar untuk bisa
memimpin.
Sorot cahaya memasuki kamarku
yang terhalang jendela- jendela kamar, belpun punyi alarm membangunkanku, jam
menunjukkan pukul 04.30 aku segera menuju kamar mandi. Setelah itu aku berganti
baju dan merapikan tempat tidurku. Selesai merapikan tempat tidur aku turun ke
bawah, disana aku melihat bi inah sedang menyiapkan sarapan. Karena jam masih
menunjukkan pukul 05.30 aku menonton televisi dulu. “al sarapan dulu” panggil
bi inah. Aku pun segera menghapirinya. Setelah selesai aku berangkat sekolah
dengan mengendarai motor. Di perjalanan aku mengingat bahwa sebentar lagi bulan
oktober akan berakhir dan akan memasuki bulan november. Di bulan november
tersebut sekolahku akan berulang tahun tepatnya pada tanggal 27 November yg ke
23. Sebagai ketua osis aku ingin mengadakan acara untuk memperingati ulang
tahun SMA CAKRA KENCANA, sekolahku.
Sesampainya di sekolah, aku langsung menuju ke kelas. Tampak beberapa murid
sudah berdatangan. Bel masuk berbunyi, pelajaran pertama diawali dengan
pelajaran sejarah. Pelajaran yg membosankan dan bikin mengantuk karena gurunya
sering mendogeng wkwk. Akhirnya bel pelajaran pertama selesai. Aku menghampiri
tempat pengeras suara, aku memberitahukan kepada anggota osis untuk berkumpul
saat pulang sekolah.
Bel pulang berbunyi, aku menuju ruang osis. Disana sudah ada ayu wakil
ketua osis. “ada apa al” tanya ayu. “itu gua mau ngadain acara buat ultah
sekolah” jawabku. “oh iya, inikan udah mau akhir oktober, terus acaranya mau
gimana” jawab ayu. “ ntar dibicarakannya sekalian nunggu yg lain” jawabku.
“oke” jawab ayu. Ketika semua sudah berkumpul, aku langsung membicarakannya. “
disini gua bakal ngasih tau kalau sekolah kita akan berulang tahun yg ke 23
tepatnya pada tanggal 27 November, gua bakal ngadain acara. Gua minta pendapat
kalian untuk acara ini.” Jawabku. “Gimana kalau diadakan berbagai lomba dari
tingkat SMP dan SMA” jawab ayu. “boleh juga tuh” kata, anggota lainnya. “Gua
juga setuju”, kataku. “karena semuanya sudah setuju, kita akhiri diskusi ini”
jawabku.
Aku dan ayu sibuk untuk mempersiapkan acara ini. Acara ini sangat
penting aku tidak mau kalau ada kesalahan. Aku membuat brosur untuk perlombaan,
mulai dari perlombaan apa aja, kapan dan dimana lomba itu. Lomba itu akan
diadakan pada hari selasa – jumat tanggal 27-30. Pengumuman pemenangnya akan
diumumkan pada hari sabtu. Tempatnya di SMA CAKRA KENCANA. Perlombaan yg aka
diadakan untuk tingkat SMP yaitu lomba pramuka, paskibra, matematika,menggambar
dan untuk tingkat SMA catur dan sepak
bola. Aku mengecek data-data nama sekolah SMP dan SMA serta siapa saja yg
mengikutinya untuk perlombaan dengan sangat teliti agar tidak ada kesalahan.
Hari yg ditunggu- tunggu datang juga, sebelum memulai perlombaan akan
diadakan apel terlebih dahulu dan sambutan dari kepala sekolah. Setelah selesai
apel, perlombaan dimulai. Aku memberitahukan lewat pengeras suara “untuk lomba
matematika ada di kelas 10 mia 2, untuk lomba menggambar ada di kelas 10 mia 3,
untuk lomba pramuka dan paskibra dilapangan”. Perlombaan berjalan sangat seru.
Aku memberitahukan kepada fani untuk memgecek ulang nama nama pemenang jangan
sampai ada kesalahan.
Bel pun berbunyi, semenjak
kejadian dua hari yang lalu moodku bertambah hancur bagai kertas yang dirobek.
“Hari ini gua mau kekantin aja dah buat nenangin pikiran” gumamku. Sesampainya
di kantin aku memesan semangkuk bakso dengan ditemani secangkir coklat dingin
disebelahnya. Naik turun jariku menyeret layar handphone sambil melihat
timeline yang ada, seketika…
“Eh din, masa acara OSIS yang kemaren
tuh garing banget tau” celetuk seorang cewe yang ada dibelakangku.
“Iya garing banget, tapi denger- denger
katanya juga itu ada masalah gitu” jawab cewe lain
“Lah masalah apaan?” Tanya cewe yang
membuat perbincangan itu bermula
“Ga tau kemaren mah cika cerita gitu,
kan dia anak OSIS. Nah, dia bilang
katanya data- data yang kemaren itu ada kesalahan tau. Entah salah dimananya”
jelas seorang cewe lain
“Denger- denger juga ketosnya yang buat
masalahnya gitu, katanya ga tanggu jawab tuh sama kerjanya”
Bagai air yang mendidih, sumpah kuping
gua dah ga kuat buat denger obrolan sampah itu ditambah lagi mood makan gua dah
ga sreg lagi
“Eh tau dari mana lu info sampah
begituan?” potongku tanpa melirik sedikitpun wajah cewe- cewe yang barusan
ngegosip tadi. Langsung aja gua pergi tuh dari tempat kutuk tadi, menurut gua
kayaknya cewe tadi ga tau kalo gua duduk didepan mereka.
“Eh Al, nanti abis pulang sekolah
kumpul yah. Mau nge evaluasiin acara kemaren” ucap seorang cewe yang barusan
gua lewati. Sengaja ga gua hirauin soalnya mood gua lagi ga baik
“Woy!!! Al lu dengerkan, bodoamat
pokoknya nanti gua tunggu lu diruangan” yang gua denger sih gitu, kayanya itu
si ayu deh.
Hilir anginpun menghembuskan semua yang ada di sekolahku sembari menyapu
dedaunan yang berjatuhan. Sejak kejadian dikantin barusan, aku menjadi malas
untuk melakukan apapun. Tak sangka jam menunjukan pukul 16:00 dan akupun
bergegas untuk pulang. Sesampainya di rumah aku langsung tertidur tanpa
memikirkan sesuatu apapun
Getaran handphoneku terasa di tanganku, saatku cek ternyata sudah ada 23
panggilan dan 142 pesan chat yang belum aku lihat. Satu persatu aku lihat dan
ternyata aku lupa dengan kejadian teriakan Ayu disekolah barusan. Tanpa basa-
basi aku langsung bergegas pergi kesekolah, sesampainya diparkiran sekolah aku
melihat jam di handphoneku, ternyata sudah pukul 18:15. Sudah 2 jam lewat aku
tidak mengikuti rapat. Tangga demi tangga aku naiki dan akupun bergegas ke
ruangan rapat, namun ternyata sudah tidak ada siapapun bdisana. Dengan berat
hati aku duduk didepan pintu ruangan, satu- satu timeline aku scroll tiba- tiba
Niel mengirimiku pesan di WA, dia mengatakan kalau tadi saat rapat evaluasi,
banyak bahkan mungkin semua yang sedang menjudge sikapnya yang tidak
bertanggung jawab dan tidak datang di rapat evaluasi, bahkan diantara mereka
yang menyalahkanku atas kekacauan yang terjadi saat acara kemarin. ‘hey al, lu
tuh kemana aja sih, kenapa ga datang ke rapat’ aku tidak menjawab pesannya,
hanya membacanya saja.
Aku merenungkan lagi kejadian
kemarin, emangnya bener yaa kemaren itu acaranya kacau gara gara gua. Seinget
gua kemarin gua ga ngelakuin kesalahan apapun, gua udah bener kok, nyuruh anak
anak buat ngelaksanain tugas mereka supaya ga terjadi kekacauan, yaa kalau pun
emang kejadian kemarin menurut mereka kacau, yaa itu karena kesalahan mereka
sendiri bukan karena kesalahanku.
Lama berpikir akhirnya aku teringat kembali pertanyaan dari ka sherly,
tentang apa yang membedakan pemimpin yang bijak dan tidak. Saat itu aku mungkin
hanya mengatakan sebagai jawaban dari pertanyaanya saja, namun sekarang aku
sadar kalau ternyata hal itulah yang aku harus lakukan saat ini, hal itulah
yang menjadi jawaban dari masalah yang aku sebabkan kemarin.
Akhirnya untuk menebus kesalahanku pada mereka, aku memutuskan untuk
membuat even yang dikhususkan untuk siswa SMA CAKRA KENCANA. Yang akan di
laksanakan minggu depan. Dan aku pun bergegas pergi ke rumah, mengendarai
motorku dengan kecepatan 80 KM/jam. Tidak sampai 10 menit perjalanan dari
sekolah ke rumah, akhirnya aku sampai di rumah langsung membuka laptop dan
membuat konsep untuk perlombaan yang akan di adakan nanti. Menyusun kepanitian
dan menyiapkan hadiah yang akan di berikan kepada pemenang serta yang paling
penting adalah mengkoordinasi perlombaan nanti agar tidak terjadi kekacauan
seperti sebelumnya. Aku mengerjakannya semalaman, begadang untuk menyelesaikan
konsep perlombaan untuk minggu depan.
Akhirnya hari sudah menunjukkan pukul 06:10 aku bergegas mandi dan
memakai seragam lalu langsung berangkat ke sekolah. Sesampainya di sekolah, aku
bertemu dengan niel, dia marah padaku, namun saat ini aku tidak bisa meminta
maaf padanya karena aku harus menemui anggota osis yang lain. Aku mencari ayu,
yang tidak lain adalah wakil ketua osis dan memintanya untuk berkumpul di ruang
osis nanti setelah istirahat. Tapi tidak lupa untuk meminta maaf kepadanya
terlebih dahulu “gua minta maaf ayu, ntar pas jam istirahat kedua kumpul yaa di
ruangan, sama yang lain, ada yang mau gua diskusiin ama kalian” dengan ketusnya
dia menjawab “ heh al, lu tuh yaa Cuma bisanya nyuruh nyuruh aja, lagian lu
juga kemarin ga kumpul terus kenapa kita kita harus kumpul. Kalo lu aja bisa
bolos, kenapa kita ga bisa” aku berusaha menjawabnya dengan nada sehalus
mungkin, karena saat ini aku sedang menahan emosiku, merasa terhina atas ucapannya
tadi, tapi apa yang diucapkannya memanglah benar, dan aku mengakuinya “aku kan
sudah minta maaf yu, aku ingin membicarakan sesuatu yang penting” “ emang lu
piker, rapat evaluasi kemarin tuh juga ga penting hah” aku masih berusaha untuk
menahan emosiku “udah yaa intinya hari ini pas jam istirahat ke dua kumpul di
ruangan, ada hal penting yang harus gua omongin ke kalian”
Menit demi menit, jam demi jampun berlalu, akhirnya jam istirahat kedua
pun tiba. Dengan penuh semangat aku pergi ke ruangan untuk menunjukkan konsep
perlombaan yang akan di laksanakan minggu depan, sekaligus meminta maaf kepada
mereka. Aku menunggu di sana mulai dari bel istirahat dibunyikan bahkan setelah
30 menit aku tetap menunggu dan menunggu, sampai jam istirahat kedua telah usai
yang ditandai dengan bel masuk, akhirnya dengan berat hati dan kecewa, aku
kembali ke kelas.
Duduk di kursiku, namun pikiranku masih saja tidak bisa terlepas dari
kejadian kemarian, aku merasa bersalah, tapi kenapa disaat aku ingin
memperbaiki kesalahanku, mereka tidak ingin memberikanku kesempatan. Ahh
sudahlahh aku tidak tau harus bagaimana lagi, saat disana aku kecewa mengapa
tidak ada satupun yang datang ke sana, padahal aku sudah memintanya baik baik.
Tapi mungkin mereka seperti itu karena kemarin aku tidak hadir ke rapat
evaluasi itu. Jadi begitu yaa rasanya kecewa karena seseorang tidak menepati
janjinya, apilagi akukan ketua OSIS disini, jadi seharusnya akulah yang
bertanggung jawab atas apa yang di adakan.
Memikirnya seharian sungguh membuatku lupa akan waktu, aku bahkan lupa
untuk makan, dan kemarin juga aku belum makan, dan tadi siang aku juga tidak
makan. Tapi aku terus saja memikirkan kenapa hal itu terjadi padaku.
Tanpa aku sadari, akhirnya aku tertidur. Aku tidak tau kenapa rasanya
kepalaku sakit sekali, dan badanku sangat panas bahkan aku tidak kuat untuk
membuka mataku, tapi aku masih sanggup untuk mendengar lingkungan sekitarku.
Aku seperti mendengar suara ayah, dari nada bicaranya dia sedang khawatir.
Anehnya aku mendengar ada suara dari ibuku, tapi apa mungkin itu ibuku. Tapi
rasanya tidak mungkin karena jika ayah dan ibuku bertemu pasti mereka akan
bertengkar lagi. Tapi suara ini sangat familiar di telingaku, akhirnya dengan
sisa tenaga yang aku punya aku mencoba untuk membuka mataku karena rasa
penasaranku.
Saat aku membuka mata aku melihat ada seorang wanita yang sedang duduk
di samping ranjangku. Awalnya aku tidak yakin dia adalah ibuku, namun saat aku
perhatikan lagi dia memanglah ibuku. Saat melihatku membuka mata, ibuku
langsung memanggil namaku dan spontan memelukku dengan sangat erat. Aku, aku
merasa hal ini sangat…. menyenangkan, tanpa kusadari ayahku memelukku juga,
yang otomatis memeluk ibuku karena ibuku yang memelukku lebih dulu. Sungguh,
perasaan ini, adalah perasaan yang sangat aku rindukan dari mereka. Lantas mereka
berkata “nak, kamu sudah baikan, apa yang sakit, yang mana, di bagian apa,” itu
adalah suara dari ibuku, dia memang seperti itu jika sedang khawatir, pasti
pertanyaanya banyak. Tapi aku senang dengan hal itu saat ini, ayahku juga
berkata “kamu pasti sembuh, dan maafkan ayah yaa karena selama ini ayah kurang
memperhatikan kamu” ibuku juga berkata demikian “iya, ibu juga minta maaf yaa
saying, ibu janji mulai saat ini ibu akan selalu yang pertama mengetahui saat
kamu bersin sekalipun” waahh sungguh mengerikan ibuku ini, masa sampai bersin
saja harus ibuku yang mengetahuinys lebih dulu sih. Meskipun begitu, aku tetap
bahagia, bisa merasakan lagi perasaan seperti saat ini. “ayah dan ibu berjani,
kami mulai sekarang tidak akan bertengkar lagi” ibu menggangguk dengan senyuman
sebagai jawaban dari pernyataan ayahku.
Seharian penuh aku bersama dengan ayah dan ibuku, aku merasa hari ini
adalah hari yang paling indah dalam 4 tahun terakhir ini. keesokan harinya
karena aku merasa sudah baikan, akhirnya aku memutuskan untuk masuk sekolah.
Sebelumnya aku sarapan dengan ayahku, dan ayah bilang untuk membawa bekal yang
dibawakan oleh ibu tadi pagi sekali sebelum ia pulang.
Aku mengendarai motorku dengan kecepatan 30 KM/jam, dan sampai pada
pukul 06:35, dan tiba tiba niel menghampiriku dan langsung memegang dahiku,
lalu berkata “lu baik baik aja kan al, yang mana yang sakit, katanya lu sakit
kemarin makanya ga masuk” “ ya ampun niel, gua gapapa kok, lagian yaa lu tuh
apaan sih nanya ko banyak banget kaya nyokap gua lu” aku mengatakannya sambil
tersenyum, karena teringat dengan ucapan ibuku kemarin. Mendengar ucapan dan
melihat raut wajahku yang terlihat bahagia saat mengucapkan kata ‘nyokap’ niel
merasa heran, lantas ia pun menaikan sebelah alisnya seolah menanyakan ‘al, lu
serius?’. Aku yang mengerti maksud pertanyaan dari niel menjawab “gua udah
baikan kok sama mereka, lu ga usah khawatir oke” mengatakannya sambil menepuk
bahu niel untuk menyalurkan rasa bahagiaku padanya. Akhirnya ku pun dan niel
pergi ke kelas.
Hari demi hari telah berlalu, hari ini adalah hari sabtu. Hmmm
seharusnya hari ini adalah hari yang di khususkan untuk perlombaan sebagai
permintaan maafku kepada semuanya. Namun.. ya sudahlah.
Tapi saat jam 7 pagi di umumkan agar setiap siswa mengganti baju
olahraga yang mereka bawa dan segera menuju ke lapangan. Aku yang bingung
karena hal tersebut, menanyakan pada niel “ niel ada apa?” dia hanya mengangkat
bahunya dan tersenyum, dasar aneh. Akhirnya aku dan niel pergi ke lapangan
sekolah, tapi aku tidak berganti olahraga, karena tidak membawanya. Saat sudah
sampai di lapangan, ayu memegang mik dan mengumumkan kalau perlombaan sebagai
ganti dari hari peringatan sekolah kemarin akan dimulai. Aku bingung dan
bertanya Tanya akhirnya pada saat ayu sudah mengumkan pembagian waktunya da
tempat pelaksaan lombanya, aku menghampiri ayu, dan yang lainnya. Tanpa
disangka disana juga sudah ada niel, yaa Daniel pratama sahabatku itu dia ada
di sana, aku yang bingung langsung menanyakan padanya “hey niel sngapain lu
disini?” yang menjawab bukanlah niel melainkan ayu hastari, wakil ketua OSIS
“harusnya lu bilang makasih ke dia karena dia yang udah berusaha buat wujudin
konsep acara ini, dia yakinin kita kita buat jalanin acara ini dan minta izin
ke pihak sekolah tau,” aku yang mendengarnya kaget lantas aku bertanya pada
niel “apa maksudnya niel?” niel menjawab “gua dapet file itu tuh dari ayah lu,
dia yang ngasih ke gua pas lu ngga masuk sekolah, hari itu juga gua tau
ternyata lu sakit gara gara lupa makan pas ngerjain ini kan” aku membenarkan
yang diucapkannya, “iya, gua minta maaf sama kalian yaa, karena waktu itu, ga
selama ini gua ga bertanggung jawab ama tugas yang harusnya gua lakuin”
akhirnya riskal mengatakan “iya al, kita udah maafin ko, tapi lu kudu inget yaa
untuk selalu bertanggung jawab. Malah awalnya gua tuh bener bener kagum tau
pas lu ngejawab pertanyaannya ka sherly
pas debat terbuka waktu itu” aku yang mendengarnya merasa tersentuh dan
mengatakan dengan mantap “iya, gua janji sama diri gua sendiri kalo gua akan
mengemban tanggung jawab gua sebagai ketua OSIS dengan sungguh sunguh dengan
bantuan dari kalian pastinya”
Akhirnya mereka yang mendengar kata
kataku yang semangat dan yakin, mereka merapatkan diri membentuk lingkaran dan
menjulurkan tangan, ayu bilang “ayo al, kita tos rame rame biar kekompakan kita
tetep sampai selamanya” aku tanpa piker panjang langsung ikut menjulurkan
tanganku dan menarik tangan niel juga untuk ikut tos bersama. Niel sepertinya
ingin protes, namun, sebelum ia bicara “semangat OSIS…” ayu mengambil alih dan
serentak kami menjawab “bersama bisa”.
Hari itu acaranya berjalan dengan baik, aku sibuk mengecek setiap bidang
perlombaan dan menanyakan pada setiap panitia perlombaan tentang lombanya dan
tidak lupa menanyakan padanya apa yang dibutuhkan lalu membawakannya.
Keesokan harinya di umumkan hasil perlombaan kemarin, dan para siswa
bersorak riuh karena puas dengan acara kemarin dan menantikan saat ini, yaitu
pembagian hadiah. Aku merasaaa… ntahlah tapi yang pasti membuat mereka
tersenyum dan bahagia karena kesuksesan acara itu sangat mmm menyenangkan.
Hari demi hari berlalu, aku
Aldrian Wira Kusuma, ketua OSIS di SMA CAKRA KENCANA mulai menata hidupku
kembali dengan bantuan dari teman, sahabatku Danniel Pratama dan kedua orang
tuaku. Aku berusaha menjadi pemimpin jang bijak sebagai ketua OSIS adalah awal
dari segalanya..
Saat jam istirahat, tiba-tiba ayu datang dan marah-marah kepadaku “al
gimana ini data data nama pemenang hancur berantakan” bentak ayu. “lah kok
bisa, tadi gua udah bilang ke fani untuk mengecek ulang” jawabku. “kamu juga
si yg gak ikut ngecek Cuma bisanya merintah doang” jawab ayu. ”Lah kok
lu sewot si” jawabku. “gimana gak sewot, datanya berantakan semua terus
gimana ini” jawab ayu. “yaudah dimulai dari awal” jawabku. “yaudah lu aja”
jawab ayu. Dia langsung pergi dan meninggalkan kertas data-datanya. Disini gua
sadar bawah pemimpin itu bukan asal memerintah saja tapi harus lebih ke
bertanggung jawab dan bijaksana dari awal gua hanya meremehkan. Gua janji bakal
ngerubah.
Tanpa
memikirkan tanggung jawab yang diembannya, al langsung pergi meninggalkan
sekolah dengan motornya dengan kecepatan tinggi, menyalip kendaraan lain,
bahkan menerobos lampu merah karenanya ia hampir mengalami kecelakaan di jalan.








0 komentar:
Posting Komentar