Sabtu, 20 Juni 2020

Jabatan yang Menyadarkan

Siapa yang tak mengenal SMA CAKRA KENCANA, sma terpavorit di Bogor. Tidak semua orang bisa menjadi siswa di sana, hanya orang yang berprestasi dan berada dikalangan atas saja yang bisa bersekolah disana, karena biaya bersekolah disana sangatlah mahal. standar yang digunakan untuk penyeleksian siswa baru terbilang sangat tinggi dengan kemungkinan lolos yang kecil, karena banyaknya yang berminat bersekolah di sana.
Namun, hal tersebut tidak berlaku untukku, Aldrian Wira Kusuma. Anak dari seorang pengusaha kebun teh terbesar di Indonesia yang hasil produksinya sudah diimpor ke mancanegara bahkan dunia. Aku tidak perlu mengikuti
serangkaian penyeleksian penerimaan siswa baru, Karena prestasi yang sudah kuraih baik dibidang akademik kejuaran matematika di tingkat internasional yang sudah ku ikuti dan non akedemik seperti kejuaraan basket tingkat nasional. Piagam penghargaan yang sudah kuraih sangatlah banyak sampai tidak cukup jika hanya satu lemari saja, baik berupa piala, sertifikat dan piagam mulai dari juara 1, 2, dan 3. Karena hal itulah aku masuk ke SMA CAKRA KENCANA melalui jalur prestasi.
Saat pertama kali aku menginjakan kaki di SMA CAKRA KENCANA yang masih berstatuskan calon siswa dan sedang mengikuti masa orientasi siswa atau sering disebut MOS yang menurut pandangan orang-orang dianggap menakutkan karena sering kali kakak kelas/senior memberikan perintah atau hukuman di luar logika seperti memakai tas dari kantong kresek, topi dari kardus berbentuk segitiga, papan nama dari kardus yang harus dikalungkan di depan dada, kaos kaki berwarna beda seperti hitam disebelah kanan, dan kiri disebelah kiri.
Dihari pertama MOS aku masih memakai seragam putih biru dan menggunakan almamater sekolah SMP-ku. Aku berangkat dari rumah ke sekolah jam 06.10. karena jarak dari rumah ke SMA CAKRA KENCANA lumayan jauh. Namun hal tersebut tidak menjadi masalah karena aku berangkat ke sekolah mengendarai motor ninja berwarna hitam dengan kecepatan 80 Km/per jam. Jalanan yang dilewati olehku ada yang berlubang dan digenangi oleh air, mungkin karena tadi malam turun hujan. Aku sama sekali tidak mengurangi kecepatan motorku meskipun mengetahui jalanan yang banyak digenangi oleh air tersebut. Dipertengahan jalan, aku kehilangan keseimbangan karena aku tidak melihat ada orang didepanku yang sedang mengayuh sepeda tiba - tiba berbelok arah dan menghalangi jalan, aku sudah berusaha menghentikan laju motorku, namun, kejadian tersebut terlalu tiba tiba hingga aku tidak bisa menghindari kejadian tersebut dan orang yang mengayuh sepeda itu terjatuh karena sepedanya menabrak motorku, walaupun memang pelan karena aku sudah mengerem terlebih dahulu namun tetap saja dia jatuh. Aku pun turun dari motorku dan menghampiri orang itu yang terjatuh dari sepeda ke genangan air. Aku menyanyakan padanya “ hey, kamu baik baik saja?, ayo aku bantu” (sambil mengulurkan tangan untuk membantunya yang ternyata adalah seorang gadis). Dia memakai seragam putih biru dengan topi berbentuk segitiga dari kardus, dan memakai tas dari dari kantong kresek dengan sesuatu berbentuk persegi yang ada didalamnya.
Namun dia malah menepis tanganku dan berkata ... ”ga usah, makanya kalo naik motor tuh jangan ngebut ngebut, udah tahu jalannya banyak genangan air” dia mengatakannya dengan wajah kesal sambil bersusaha membersihkan bajunya yang kotor dan basah, rambutnya yang diikat ponytale juga sedikit kotor karena genangan air saat terjatuh tadi. Meskipun begitu, wajahnya terlihat menggemaskan, dengan pipi yang sedikit di gembungkan dan bibir yang di kerucutkan.  Aku mendengar dia masih berceloteh kesal dan langsung membuka almamater yang ku gunakan ke badannya yang kotor dan basah. Setelahnya aku bertanya padanya “kamu mau kemana, biar aku antar” tapi dia malah menolak ajakanku “gausah, aku masih bisa sendiri, lagi pula aku membawa sepeda”.
Karena dia bilang tidak perlu diantar, akhirnya aku langsung pergi meninggalkannya sendirian disana tanpa mengatakan sepatah katapun. Diperjalanan aku masih memikirkan wajah gadis itu yang terlihat menggemaskan saat dia menggembungkan wajahnya karena kesal, dan ah aku lupa menanyakan siapa nama gadis itu, ck harusnya tadi aku menanyakan siapa nama gadis itu. Pada akhirnya aku hanya berdecak kesal  karena lupa menanyakan nama gadis itu.
Saat tiba di sekolah, jam masih menunjukkan pukul 06: 45, aku berkeliling sekolah untuk melihat lihat fasilitas yang ada di sana, ternyata fasilitas siswa yang ada disana memanglah bagus, mulai dari kantin, perpustakaan, lapangan olahraga, lapangan upacara, sampai kamar mandi pun bagus.
 Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 07:00, bel masuk sudah berbunyi dan para calon siswa baru segera berkumpul di lapangan untuk mengikuti upacara dengan memakai atribut seperti gadis yang tadi aku tabrak, hanya saja mereka memakai name tag berbentuk persegi dari kardus yang dikalungkan di leher.
Aku memang sengaja tidak memakai atribut yang diperintahkan oleh kakak-kakak senior, Karena menurutku hal itu tidaklah diperlukan. Aku mengikuti barisan untuk upacara pembukaan masa orientasi siswa. Aku memilih untuk berada di barisan paling akhir karena aku malas untuk berlari dan berebut tempat didepan.
Upacara tersebut berjalan dengan hikmad sampai aku melihat ada seseorang yang baru datang dan langsung masuk kebarisan, dia.. gadis yang aku tabrak tadi, dia masih memakai almamater yang aku pakaikan padanya mungkin karena bajunya yang kotor dan ia sedang tergesa gesa. Dia terlihat terengah engah, mungkin karena tadi ia berlari dari gerbang sekolah sampai ke lapangan olahraga.
Upacara pun selesai yang kemudian dilanjutkan oleh pengumuman yang dilakukan oleh kakak kakak senior. Mereka memeriksa perlengkapan atribut yang dipakai oleh calon siswa baru.  Ada salah satu diantara mereka yang menghampiriku dan berkata.. “hey, kenapa kamu tidak memakai atribut yang sudah ditentukan? ” Tanya kaka senior dengan ketusnya “maju kedepan” aku langsung menuju kedepan lalu kaka yang sedang memegang mik itu melihat ke arahku sambil bekata menggunakan mik yang ia pegang ”hey, kenapa kamu tidak memakai atribut yang sudah di tentukan?” (kaka itu bertanya dengan ketusnya) “sebutkan nama, dan alasan kenapa kamu tidak memakai atribut” (kaka itu kemudian memberikan mik nya kepadaku lalu aku mengambil mik itu dan menjawab pertanyaan dari kaka itu “aldrian wira kusuma, karena menurutku hal itu tidaklah di perlukan” sontak kaka kelas itu bertanya padaku “apa maksudmu” aku menjawab dengan santainya “karena memang seperti itu, aku datang ke sekolah untuk belajar, bukan  mengikuti perintah dari kakak untuk memakai atribut yang bahkan sekolahpun tidak menginstruksikannya” semua pandangan tertuju padaku karena mendengar penuturan dariku yang dengan santainya aku ucapkan, lantas kakak kelas itu marah dan berkata “heh anak baru, jangan sombong kamu ya, kami menyuruh memakai atribut tersebut memang untuk kebaikan kalian sendiri, supaya lebih akrab karena sama sama memakai atribut yang sama, tidak ada yang dibeda bedakan, tidak seperti kamu yang berbeda karena keegoisan kamu yang tidak ingin memakai atribut, oh atau mungkin kamu merasa kalo kamu itu istimewa yaa, hh karena kamu orang kaya, lantas kamu merasa kamu berbeda dengan yang lainnya, begitu iya” kakak itu berkata dengan kerasnya, padahal ia menggunakan mik dan aku juga tidak bermasalah dengan pendengaranku, dengan jarak yang sedekat itu sungguh membuat telingaku sakit. Karena aku tidak mau membuat telingaku lebih sakit lagi, akhirnya dengan santainya aku hanya berkata “yaa, baiklah lain kali aku akan memakai atribut yang sudah ditentukan” bukannya mempersilahkanku kembali ketempat, kakak itu malah mengatakan “sekarang juga kamu berdiri menghadap ke bendera dan hormat sampai jam 9, setelah itu kamu harus memungut sampah yang ada di lapangan ini, dan kamu baru boleh ke kelas setelah bel istirahat selesai. Setelah mengatakan hal tersebut, kakak itu membubarkan barisan dan mengatakan kepada seluruh peserta mos untuk kembali ke kelas masing masing.
Aku hormat kepada bendera merah putih selama 1 jam, matahari yang terik memperparah keadaan, aku harus menahan dahaga hausku karena kakak senior yang menyebalkan itu yang mengawasiku terus menerus. Ck merepotkan sekali sih mereka.
Setelah jam Sembilan, aku mengambil air di dalam tasku yang sudah di siapkan oleh bi inah sebelum aku berangkat sekolah tadi. Setelahnya aku memungut beberapa sampah yang ada di lapangan itu, dan segera menuju ke atap sekolah untuk beristirahat disana, karena memang sudah tidak ada sampah lagi disana. Aku beristirahat di bangku yang ada di atap sekolah, membaringkan badanku dan memakai handset, mendengarkan lagu lagu yang bisa sedikit membuatku merasa rileks. Angin sejuk yang berhembus membuatku semakin merasa nyaman dengan tempat ini, hingga tak sadar akupun memejamkan mata dan tertidur.
Saat aku bangun, ternyata waktu sudah menunjukan pukul 10:00, aku bergegas menuju ke kelas. Karena waktu istirahat adalah pukul 10:00 sampai dengan 10:15 aku langsung menuju ke kelasku yang berada di kelas 10 ipa 1 di lantai 3. Suasana di kelasku terasa sunyi mungkin karena mereka sedang ke kantin untuk membeli makanan dan minuman, meskipun ada diantara mereka yang tetap berada di kelas sedang asyik mengobrol ataupun sedang asyik dengan dunianya sendiri.
Aku mengambil kursi yang kosong di dekat jendela, di barisan kedua dari depan. Tempat duduk untuk siswa di sini dibuat satu orang untuk satu meja dan satu kursi. Yaa untukku yang suka dengan ketenangan, hal itu adalah sesuatu yang memang aku butuhkan, daripada suasana yang berisik sekali dengan celotehan mereka yang membuat kupingku terasa sakit, aku lebih suka mendengarkan musik atau tidur di kelas.
Bel masukpun berbunyi menandakan kegiatan selanjutnya akan segera di mulai, para siswapun satu persatu mulai masuk ke kelas. Suasana dikelas berubah menjadi riuh. Aku tidak suka dengan suasana seperti ini. ck merepotkan saja, bahkan diantara mereka ada beberapa yang berkumpul di depan mejaku dan bertanya siapa namaku, ck mengganggu saja, aku tidak menjawab satupun pertanyaan dari mereka dan memilih untuk mendengar musik sambil memakai handset dan berpura pura membaca buku.
Selang beberapa menit datanglah beberapa kakak kelas. Aku langsung memasukan handsetku ke dalam tas dan berusaha untuk mendengarkan, walaupun pada akhirnya aku memang tidak tertarik dengan apa yang dibicarakan oleh kakak kelas. Mereka menjelaskan  tentang tata tertib, dan segala aturan yang berlaku di SMA CAKRA KENCANA, dan aku hanya memandangi pemandangan yang terlihat dari jendela kelasku, karena tempat duduku memanglah dekat dengan jendela.
Waktu terasa berjalan sangat lama, karena aku kebosanan mendengarkan celotehan dari kakak kelas yang sesekali di selingi oleh game yang menurutku benar benar membosankan, aku lebih memilih untuk bermain game online atau ps4 di rumah daripada bermain dengan game yang membosankan ini.
Akhirnya saat yang kutunggu tunggupun tiba, yaa bel pulang sekolah, aku ingin sekali cepat sampai di rumah, makan kemudian menonton televisi atau tidur. Saat sampai di depan gerabang rumahku aku membunyikan klakson motorku, dan setelahnya pak slamet (satpam di rumahku) segera membukakan pintu gerbangnya. Aku masuk dan memarkirkan motorku di garasi rumahku. Di rumah hanya ada aku bi inah, dan juga pak slamet. Setelah mengganti pakaian, aku langsung menuju meja makan, dan mulai makan siang karena lelah seharian di sekolah yang membosankan dengan kakak kelas yang menyebalkan. Dan untuk menyegarkan kembali badan dan fikiranku, aku memutuskan untuk berkeliling, melihat lihat kembali perkebunan teh milik ayahku dengan menggunakan sepeda, karena dulu aku memang tidak  tinggal di sini melainkan di Jakarta karena alasan pekerjaan ayahku yang mengharuskannya untuk tinggal disana dalam jangka waktu yang lama yang pada akhirnya akupun mau tak mau harus tinggal dan bersekolah di sana selama 3 tahun.
Di Jakarta aku hanya tinggal bersama dengan ayahku dan juga asisten rumah tangga yang bekerja di rumahku, karena ibuku sudah tidak tinggal bersama dengan ayahku lagi, yaa mereka berpisah saat aku masih di bangku kelas 6 sd. Di hari itu, tepat saat kelulusanku di umumkan, dan aku meraih nilai tertinggi di sekolah juga tertinggi ke 3 di nasional, namun yang aku dapat sebagai hadiah adalah perpisahan orang tuaku yang bertengkar hebat hingga membuatku menutup diri dengan lingkungan dan tidak memperdulikan perasaan orang lain, karena aku berpikir mengapa aku harus memikirkan perasaan orang lain sedangkan mereka saja tidak memikirkan perasaanku, sudah terbukti dari ayah dan ibuku yang mengambil keputusan tanpa memikirkan dampaknya bagiku. Aku tidak ingin mengingat kembali kejadian itu yang hanya akan menyakitiku terus menerus, lagi pula waktu terus berjalan, aku tidak boleh membiarkan diriku berlarut dalam kesedihan itu terus menerus.
Saat aku mengingat kembali kejadian itu, aku merasa kesal dan sedih, dan untuk itulah, saat ini aku memutuskan untuk pergi ke perkebunan teh. Aku memilih sepeda gunung yang ada di garasi, setelah sebelumnya meminta bi inah untuk menyiapkanku minum dan sandwich bila aku merasa lapar di perjalanan, juga meminta bi inah untuk membuatkanku tas dari kantong kresek, topi berbentuk segitiga juga name tag berbentuk persegi dari kardus lengkap dengan talinya untuk dikalungkan di depan dada dengan nama Aldrian Wira K. Hh merepotkan sekali kakak kelas itu, hh lihat saja nanti saat aku menjadi ketua osis di sana aku akan menghapuskan peraturann yang merepotkan seperti ini, pikirku. Hh kenapa aku tiba berpikiran untuk menjadi ketua osis, ahhhh ada ada saja.
 saat di depan gerbang pak Slamet membukakan pintu gerbangnya dan akupun segera berangkat menuju perkebunan milik ayahku.  Di perjalanan aku melihat pemandangan yang indah dengan udara yang sejuk, berbeda sekali dengan saat aku tinggal di Jakarta. Di sana aku melihat ada seorang gadis yang sedang menggembalakan kambing kambingnya di padang rumput sambil bersandar di bawah pohon yang rindang dengan membaca sebuah buku ditangannya. Sekilas aku melihat wajahnya terasa familiar, tapi aku lupa dimana tempatnya, yaa aku tidak ingin memikirkan hal yang tidak penting seperti itu, dan memilih untuk melanjutkan perjalanan ke kebun teh. Ternyata disana sudah banyak mengalami perubahan, mulai dari luas perkebunannya, para pekerja sampai alat yang digunakan pun di perbarui demi memenuhi kebutuhan konsumen.
Aku pergi ke tempat yang dulu adalah paforitku karena biasanya aku pergi sekeluarga bersama dengan ayah dan juga ibuku di sebuah batu besar yang berada ujung perkebunan teh milik ayahku, bermain bersama dengan ayahku dan setelahnya kami pasti selalu memakan jagung bakar buatan ibuku yang ia bawa sebelum berangkat ke sini, bisa dibilang seperti piknik keluarga. Dari atas batu ini, aku bisa melihat keindahan pemandangan dari hamparan kebun teh yang sangatlah luas dan dengan kilau cahaya dari matahari yang akan segera terbenam menambah keindahan pemandangan di sini.
Hingga pandanganku terpaku pada seorang nenek yang sedang menyirami pohon teh, nenek itu bercucuran keringat dan sesekali menyeka keringat yang mengalir dari dahinya. Aku menghampirinya.. “permisi nek, aku ingin menanyakan jalan keluar dari perkebunan ini lewat mana yaah nek, aku lupa” lantas nenek berbalik menghadapku dan menjawab.. “ohh kamu hanya harus lurus dari sini, dan belok kanan di pertigaan di depan, lalu ikuti saja jalan itu nanti kamu akan sampai di jalan raya” aku membuka tasku dan mengatakan “nek, ini untuk nenek, tadi aku sudah makan dan masih tersisa ini, ambil yaa nek” nenek itu berterimakasih padaku dengan wajah yang bersinar karena tersenyum senang. Setelahnya aku langsung pulang kerumah setelah seharian berjalan jalan di perkebunan teh.
Setelah sampai dirumah aku langsung mandi dan berganti pakaian yang sudah disiapkan oleh bi inah, dan menonton televisi di kamarku. Waktu sudah menunjukkan pukul 20:00, aku makan malam bersama dengan ayahku di ruang makan, kami makan tanpa ada yang berbicara sedikitpun, setelahnya aku memakan tomat seperti biasanya setelah makan malam. Saat hendak memakan tomat, tiba tiba ayahku bertanya “bagaimana sekolah barumu” dan dengan santainya aku hanya menjawab “merepotkan” mungkin karena sudah terbiasa dengan jawabanku yang singkat, ayah kemudian berkata “kamu harus berusaha lebih beradaptasi dengan sekolah barumu, karena disini tidak sama dengan di sekolahmu yang dulu” aku hanya menjawab perkataan ayahku dengan gumaman “hm” saja.
Setelah tomat yang kumakan habis, aku langsung menuju kamarku dan tidur padahal waktu masih menunjukkan pukul 20:20 tapi aku sudah mengantuk, tidak seperti biasanya. Aku biasa tidur  padapukul 21:15, mungkin hal tersebut karena tadi siang aku berkeliling kebun seharian dan yaa setelah di jemur selama 1 jam di depan tiang bendera. Hhh sungguh hari yang melelahkan.
Aku bangun dari tidurku dan bersiap untuk berangkat ke sekolah, sarapan dan juga mebawa bekal yang di buatkan oleh bi inah, tidak lupa untuk membawa atribut yang di perintahkan oleh kakak kelas kemarin karena aku malas mendengarkan celotehannya yang memekakkan telinga.
Seperti biasa aku pergi kesekolah dengan mengendarai motor, dan sampai ke sekolah pada pukul 06:25. Tidak seperti kemarin aku sampai ke sekolah jam 06:45, mungkin karena kemarin ada insiden kecelakaan di genagan air itu.
Aku memakai atribut yang di perintahkan oleh kakak kelas yang menurutku mereka adalah anggota dari osis di sma ini. aku tidak mengerti untuk apa sebenarnya atribut yang ku pakai ini, karena hal ini tidak terdapat dalam aturan yang dibuat oleh sekolah, tapi aku tetap memakainya meskipun setengah hati.
Hari ini tidak seperti kemarin, di kelasku hanya ada guru yang memberikan pengajaran awal dan pengenalan seperti biasa, dan di selingi dengan kakak kelas yang bergantian dengan guru yang masuk dan memberikan game kepada kami. Game yang kemarin di berikan pada kami dimainkan lagi, mungkin karena mereka tidak memiliki game lain lagi.
Keesokan harinya pun sama, dan acara mos di SMA CAKRA KENCANA sudah selesai yang di akhiri dengan upacara penutupan masa orientasi siswa. Penutupan tersebut dilakukan pada siang hari saat bel pulang sekolah dibunyikan, di lapangan upacara. Dengan berakhirnya penutupan masa orientasi siswa, aku sudah resmi menjadi siswa SMA CAKRA KENCANA.
Setelah selesai upacara penutupan, aku bergegas pulang ke rumah karena memang tidak ada yang harus dikerjakan lagi di sekolah. Aku bergegas menuju parkiran tempat motorku berada. Di perjalanan menuju parkiran, aku membuka taskuhendak mengambil hendset dan mendengarkan musik dengan handphone sepert biasa kulakukan, namun mungkin karena aku tidak terlalu memperhatikan jalan, aku menambrak seseorang, tapi untungnya aku dengan sigap langsunng menarik tangan orang itu, dan mungkin karena gerakan refleks yang tiba tiba tersebut terlalu kencang membuat wajahnya menabrak tas yang ada di depan dadaku. Dengan spontan ia mengaduh “aduuh” sambil memegang dahinya yang terbentur, saat ia menengadah untuk melihatku karena tinggi badannya hanya sebatas pundakku, aku ingat siapa dia, karena ia memakai almamater miliku yang kuberikan pada gadis yang aku tabrak beberapa hari yang lalu, akhirnya beremu dengannya kembali. Tanpa sadar aku memperhatikannya dan aku berusaha untuk tetap fokus pada apa yang ia katakan “kamu lagi, kenapa kamu selalu tidak memperhatikan jalanmu sih, mengganggu jalan orang saja” ia berkata dengan jengkelnya. Sifat dasarku yang tidak ingin kalah tidak membiarkannya begitu saja, aku lantas menyangkalnya dan mengatakan “sudah tahu ada halangan di depan kenapa tidak menghindarimya” aku balik bertanya padanya. Ia semakin terlihat kesal,  menghela napas hingga aku bisa melihat lesung pipit yang ada di pipi kirinya, tanpa mengatakan sepatah kata pun lagi aku kemudian meninggalkan dia yang sedang kesal. Aku mendengar ia kemudian menggeram kesal “hey, ishhh dasar menyebalkan, bukannya minta maaf malah balik menyalahkan aku”
Aku adalah orang yang tidak suka dengan kekalahan, aku terbiasa mendapatkan apa yang ku inginkan dengan cara apapun, termasuk dalam hal berdebat dengan orang lain, yaa aku mungkin memang tidak banyak bicara, tapi jika aku sudah mengatakan beberapa kalimat saja, mereka tak bisa membalasnya lagi, karena aku terbiasa membungkam mereka dengan argumen mereka yang berdasarkan fakta hingga membuat mereka tidak bisa berkutik untuk mebalas argumenku.
Lagi, aku meninggalkan dia sendiri tanpa menanyakan siapa namaya, tapi disisi lain egoku yang tidak ingin kalahlebih tinggi, karena kesal aku kemudian mengemudikan motorku dengan kecepatan tinggi sampai ke rumah. Setelahnya aku langsung berganti baju dan memilih untuk bermain basket di halaman belakang rumahku untuk menghilangkan kekesalanku. Saat bermain basket, seolah aku bisa meluapkan emosiku dengan memasukan bola ke ring basket, dan merasa seperti masalah yang membuatku kesal tidak ada, mungkin karena hal itulah aku bisa mengikuti kejuaran di tingkat nasional dan meraih banyak penghargaan dari bermain basket.
Keesokan harinya, di sekolah sedang di adakan demo eksul yang bertujuan untuk menarik minat para siswa baru untuk bergabung bersama dengan masing masing eksul. Aku yang memang hobi bermain basket, mendaftarkan diri ke ekskul basket. Demo ekskul itu berlangsung selama sehari. Setelah aku mendaftarkan sebagai anggota klub basket, aku memilih untuk pergi ke atap sekolah, merasakan kesejukan angin yang berhembus semakin membuatku nyaman dengan suasana yang hening. Seperti sebelumnya, aku membaringkan tubuhku dan memakai handset, mendengarkan musik dan menutup wajahku dengan buku lalu memajamkan mata hingga aku tertidur. Aku terbangun saat mendengar bunyi bel pulang sekolah. Aku bergegas turun ke bawah dengan menuruni tangga. Dan setelahnya, aku langsung menuju ke parkirkan, menaiki motorku, kemudian menyalakan mesinnya, lalu pergi meninggalkan parkiran sekolah pulang ke rumah.
Di hari berikutnya aku tidak masuk sekolah, aku meminta pada pak selamet untuk memberikan keterangan kepada sekolah kalau aku tidak masuk hari ini. sebenarnya aku tidak sakit, hanya saja aku malas jika harus pergi ke sekolah dan tidak ada yang melakukan apapun di sana. Padahal hari ini waktunya pembagian kelas sesuai dengan jurusan yang sudah di tentukan oleh sekolah, tetapi aku malah pergi ke perkebunan teh dengan menggunakan sepeda, yaa hitung hitung sekalain olahraga pagi. Udara pagi hari disini sangat sejuk, tapi jika aku tidak menggunakan jaket tebal ini mungkin aku sudah menggigil kedinginan karena masih belum terbiasa lagi dengan udara di sini. Udara yang sejuk dan suasana yang hening ini sungguh perpaduan yang membuatku terhanyut dalam kenyamanan dari suasana dan pemandangan yang indah ini hingga tanpa aku sadari waktu sudah menunjukkan pukul 11:25.
Aku memutuskan untuk kembali ke rumahku karena hari sudah siang, dan aku merasa mulai lapar. 
Hari ini aku memang tidak masuk sekolah, tapi aku tetap mengetahui dimana kelasku, karena banyak koneksi dari rekan kerja ayahku yang menyekolahkan anaknya di sana salah satunya adalah Daniel Pratama, dia adalah temanku saat aku masih kecil. Aku terbiasa memanggilnya niel dan ia memanggilku dengan sebutan al. kami sering bermain basket bersama di halaman belakang rumahku. Tapi karena aku pindah ke Jakarta, aku tidak pernah bertemu dengannya lagi, bahkan tidak pernah saling menghubungi.
            Pak selamet mengatakan padaku kalau niel pindah ke sekolah SMA CAKRA KENCANA saat ia mendengar kalau aku bersekolah di sana. Yaa baguslah kalau begitu, jadi aku bisa mendapat partner untuk berbuat onar di sekolah. Bahkan pak selamet juga mengatakan kalau niel akan ke rumahku siang nanti sepulang sekolah. Aku dan dia memang sering bersama, namun diantara kami terdapat perbedaan yang sangat besar, bagaikan gelap dan terang, aku adalah gelap dan niel adalah terang, meskipun tidak sama tapi kami selalu bersama. Aku nyaman berteman dengan niel karena ia tidak pernah menyuruh atau melarangku melakukan sesuatu, ia hanya menguutarakan pendapatnya dan memberitahuku dampak dari apa yang akan kudapat dari apa yang akan kulakukan, intinya aku senang berteman dengannya.
          Keseharianku sangatlah datar. Di rumah, aku sudah tidak pernah membuka bukuku untuk belajar, aku lebih suka memilih mendengarkan musik, atau menonton televi dan bermain game online. Di sekolah pun juga sama, aku jarang mencatat materi yang di berikan oleh guru, hanya saat aku merasa hal itu penting untuk di tulis, barulah aku menulisnya, bahkan buku yang aku bawa ke sekolah banyak yang masih bersih, belum aku tulis sama sekali.
           Hari berlalu, di sekolah baruku ini aku sudah mendapatkan partner yg dulu sempat pisah karena sekolah sekarang berada dalam satu sekolah kembali.
Sikapnya berbeda dari yang dulu... Dulu ia membiarkanku untuk berbuat apa apa dan hanya memberi tahu apa dampak dari yg kulakukan, sekarang dia terlihat lebih baik... Dia tidak suka ketika ada seseorang yang melanggar peraturan namun tidak mau mengakui kesalahannya, aku bisa melihat sikapnya ketika ada kakak kelas yg ketahuan merokok di toilet sekolah, lalu ia menegur dan menanyakan "apa di sekolah ini di izinkan merokok?" Ucap niel, lalu kakak kelas itu menjawab dengan nada keras "apa urusan lu? Nanya begtu? Adek kelas nyari masalah" ucap Kaka kelas itu, lalu Niel bicara lagi "dalam peraturan sekolah dilarang keras merokok! Apalagi kamu Masih pelajar, buang rokoknya atau kamu yg saya laporkan!" Ucap niel, lalu kaka kelas itu ingin memukul niel namun andrial menghentikan itu, dan menyuruh Niel untuk mengalah,
Hey Al..., ayo ke basecamp, selesai bel pulang sekolah, Niel membalikkan badannya ke belakang dengan cengiran khasnya. Tanpa piker panjang, aku langsung meraih tas gendongku dan memakai almetku asal dan tidak kukancingkan, dia ini tidak pernah berubah yaa selalu saja membuatku malu.. awas ya liat yang kulakukan niel.. aku tersenyum tidak, hanya melengkungkan sudut bibirku dan menarik sebelah alisku keatas seperti yang biasa kulakukan lalu merangkul emm tidak menarik niel lebih tepatnya. Spontan saja niel langsung mengomeliku dan melepaskan tarikanku “hey apa apaan sih lo  iya gue tau kok lu itu sebenarnya sayang sama gua” mendengar ucapan niel sungguh membuatku geli sekaligus ngeri “gw masih cukup waras untuk suka sama sesame yaa niel” mengatakannya dengan ekspresi jijiku. “hey gw kan bilang saying bukan suka. Ihh lagian yaa lu itu anaknya semrawut, baju aja lu keluarin, almet lug a lu kancingin, rambut lu pengen gw jambak litany, udahmah di jalan kebut kebutan, sering bikin onar, apalagi coba yang belum gw sebutin. Hmmm al, al” dengan percaya diri kujawab “tapi gw tetep Aldrian Wira Kusuma, orang yang paling ganteng, dan cool disini” niel hanya bisa menepuk jidatnya menghembuskan napasnya dengan kasar “yaahh terserah lu dah al, udah lah lama lu ngomong mulu”. Setelah puas dengan bertengkar dengan niel akhirnya aku dan niel pergi ke parkiran dan langsung menuju ke rumahku. Saat di parkiran niel mengajakku untuk berkemah di atas bukit perkebunan teh, karena aku dan niel sedang bosan, dan ingin merefresh otak. “good idea, tumben lu pinter niel” “yehh dari dulu geh gw emang pinter, lu nya aja yang ga nyadar”. Setelahnya kamipun langsung bergegas ke rumah masing masing untuk mempersiapkan barang bawaan mungkin akan di perlukan di sana, dan berkumpul di rumah al karena jaraknya yang lebih dekat dengan tempat perkemahannya.
.Sesampainya di sana mereka memasang tenda.. sudah banyak orang orang yang ada di sana dan kebanyakan mereka memang sedang berlibur dengan keluarga, setelah memasang tenda Al dan Niel duduk di bawah pohon
Sebelumnya niatnya sih si al mau ke tenda ama si niel,  pas si al mau ngambil makanan ama minuman Al kaget ketika ada ayah  sedang bersama dengan seorang wanita yang tidak lain adalah ibunya al, namun... Bukan hal yang menghangatkan hati namun malah membekukan dan memekakan telinga yang al dengar, mereka bertengkar. Lagi. Kenapa setiap mereka bertemu pasti selalu bertengkar, apa kesalahannya, al hanyalah seorang anak yang ingin merasakan lagi kasih sayang dari ayah dan ibunya seperti dulu, jika al memang bersalah tolong katakan agar al bisa memperbaikinya, setidaknya mengetahui apa kesalahannya. Seolah semua bungkam membisu sebarapabesar pun al menahan rasa sakit dan sesak yang menyiksanya,  namun tetap saja al tidak sanggup. akhirnya al pun memutuskan untuk tidak ingin berada di sini, dimana al hanya merasakan kesengsaraan, dan al pun pergi tanpa di sadari kedatangannya oleh ayah dan ibunya, tanpa memikirkannya lagi aku langsung meninggalkan tempat itu, aku tak tahu aku lari kearah mana, yg aku tau aku berlari sekuat tenaga tanpa arah... Dengan terengah-engah, aku berhenti di suatu tempat, aku tidak menyadari bahwa aku sampai di tempat ini, tempat yg penuh dengan kenangan kenangan indah yg dulu pernah ada dalam hidupku, yang dulu selalu aku rasakan, namun sekarang, aku hanya bisa tertawa, betapa kehidupan ini berputar. oh atau mungkin hanya aku yg merasakan hal seperti ini, tanpa terasa air mataku jatuh, aku duduk di atas sebuah batu dan bersandar pada sebuah pohon, di tempat ini aku selalu bermain bersama ayah dan ibu, aku selalu bercerita bersama mereka, aku dan Niel juga sering kesini, kami selalu bermain bersama, kami berlarian bersama di tempat ini. hanya Niel yg aku punya, hanya Niel yg tetap bertahan di sampingku,  tidak ada selain niel. memikirkan hal tersebut hanya membuatku muak, mengapa semuanya terjadi padaku!? Mengapa!? Rasanya aku ingin berteriak sekencang kencangnya di tempat ini, mengungkapkan semua kesedihanku... “Mengapa semua terjadi padaku!? Ini sungguh tidak adil!”.  Setelah berteriak, aku hanya bisa merenung, menikmati semua yg bisa aku nikmati, tanpa terasa senja sudah tiba, Matahari sudah mulai terbenam, suasananya menjadi hangat walau tak seperti hatiku, dengan sisa kesadaranku, aku bangun dan aku berjalan dengan gontai kerumah, rumah yang tidak seperti rumah, rumah tanpa kehidupan, karena kehidupan dirumah itu sudah lama sekian lama pergi.
Di perjalanan pulang aku bertemu seorang nenek, yaa nenek itu sepertinya dia adalah orang yang aku berikan bekalku dulu. mengapa dia masih ada di sini? Inikan sudah sore seharusnya dia pulang apalagi dia sudah tua, apa aku harus menyuruh nya pulang? Tapi sebenarnya bukan urusanku, dia kan sedang bekerja, tapi itu juga tidak baik untuk kesehatannya, aahhh ini sungguh membuatku pusing, akhirnya mau tidak mau aku menghampiri nenek itu, dan aku berkata padanya, “nek? Mengapa nenek masih di sini? Hari sudah mulai malam, sebaiknya nenek pulang dan lanjutkan besok saja” namu nenek itu malah berkata “Tidak Den, nenek masih harus bekerja, sedikit lagi kok”, aku mengatakan sekali lagi padanya “Nek ini masih bisa di lanjutkan besok kok” namu nenek itu bersikeras “tidak sebentar lagi kok” karena frustasi akhirnya aku menawarkan diri untuk membantu nenek itu “ahh yasudah lah, ayo ajari aku” “ kamu tinggal petik, yang sudah layu, lalu kamu buang, karena itu bisa menyebabkan bagian yg lain ikut rusak”dengan percaya dirinya aku mengatakan “ahh itu mudah” lalu dengan sombongnya aku langsung mematahkan ranting yang sudah layu, tapi malah tanganku terluka dan berdarah, lalu nenek itu berkata, “makanya kalau nenek kasih tau dengarkan”. akhirnya aku pun hanya bisa berpasrah, ya ini memang sakit, tapi tidak sesakit hatiku.
“Oiya nek, kalau gitu biar aku antar pulang saja, nenek tinggal dimana?” lagi lagi nenek itu menolak ajakanku “Nenek tinggal di dekat sini, tidak apapa kok, nenek bisa sendiri, lagipula kamu kan juga harus pulang” aku mencari alasan lain supaya nenek itu mau aku antar pulang “ya lagi pula aku kan laki laki nek” sejak kapan aku jadi banyak bicara seperti ini? Dalam fikiran ini berdebat, mengapa dengan nenek ini aku jadi banyak bicara seperti ini, Ah sudahlah terserah, “nenek mau diantar tidak?” keputusan nenek itu tetap tidak berubah “Tidak apapa nenek bisa sendiri kok”. “Yasudah kalau bgtu ini sudah selesaikan nek?” “ Iyah ini sudah selesai kok, nenek juga mau pulang sekarang. Yaudah terimakasih ya den” “iya sama sama nek, sampai jumpa”, nenek itu pulang kerumahnya, kenapa aku bisa bicara panjang lebar seperti tadi pada nenek itu.. biasanya aku irit berbicara.
Keesokan harinya niel datang ke rumahku dan mengomel padaku “hey al, lu tuh yaa kebiasaan banget deh ninggalin gw, lu tau ga gw tuh panik nyariin lu, gw tuh takut lu kenapa napa, ntar kalo lu dimakan binatang buas siapa yang bakal jadi temen yg bikin onar?” “lebay lu, maksud lu, lu nyumpahin gua dmakan binatang buas gitu?” “ya kaga all.. maksud gua tuh aahhh tau ah..” “yaudah lah gua mau balik, males gw liat muka lu , lagian gua tadi izin keluar ga lama lama ke ayah gua” “yaudah sono lu balik siapa juga yang nyuruh lu kerumah gua, dasar tamu tak diundang” “ahhh terserah lu ah al, udah ah gua balik” setelahnya niel langsung pergi kerumahnya mungkin. Dia kan kemarin tau aku pulang karena apa, mungkin dia hanya tidak mau menanyakannya langsung padaku, agar aku tidak terlalu memikirkan masalah kemarin, tapi apa mungkin dia hanya ingin melihat keadaanku saja, niel niel dia itu memang tidak pernah berubah yaa dari dulu, selalu perhatian tapi seolah tidak peduli.
Hari Senin, aku berangkat ke sekolah kembali sesampainya di sekolah, sudah banyak sekali anak anak yg mempersiapkan upacara bendera pagi itu, ada yg menyiapkan alat alat seperti melipat bendera, menyiapkan mik, menyiapkan sound untuk upacara, intinya yang aku lihat pagi itu sangat sibuk.
Bel berbunyi tanda upacara akan segera di mulai, Aku berbaris di belakang Niel, pada saat upacara tidak banyak yg aku ucapkan kepada Niel seperti ngobrol, karena di belakangku persis ada anak OSIS yang memantau dan siap mencatat siswa yg tidak tertib saat upacara, di samping kiriku ada teman sekelasku namanya rival, dia anak yg terkenal sangat emosi, usil, dan tidak mau disalahkan. Pada saat upacara aku bersikap tegap, namun tiba tiba adayang menarik bajuku hingga bajuku berantakan, lalu aku menjadi emosi, dan menanyakan dengan wajah seram“apa apaan ini maksudnya”  Dia bertanya lagi, “ kenapa? lu gasuka? Hah?”“iya! Gua gasuka, lagi tertib seperti ini lu nyari masalah”.
Setelah itu aku dan dia di tarik ke belakang oleh OSIS, namaku dan namanya di catat. setelah upacara selesai namaku dan namanya diumumkan oleh guru. Guru ini sudah tidak asing lagi di telinga para murid, guru yang terkenal akan kedisiplinannya, siapa lagi kalo bukan pa opik, guru pembina OSIS di sekolah ini dan semua siswa tau akan keganasannya jika siswa melanggar aturan sekolah..
Setelah itu aku masuk kedalam ruang BK, aku dan rival di catat di buku masuk dan rival di suruh oleh pak Opik untuk meminta maaf kepadaku dan aku memaafkannya kamu tidak ada rasa dendam kembali dan semua baik baik saja.
Setelah itu aku pergi ke kelas bersama rival, di kelas setelah pelajaran pertama, ada 3 siswa kelas 12 yg masuk ke kelasku, lalu mereka memberikan informasi tentang pendaftaran calon ketua OSIS yg baru... Pendaftaran paling akhir hari Jumat, dan setelah memberi informasi tersebut mereka pergi.. hari tak terasa, jam sudah menunjukkan pukul 3 sore dan waktunya untuk pulang kerumah, niel pulang pulang kerumah brdsama denganku
 pada saat dijalan, ada perbaikan jalan, dan disitu ada salah satu petugas yg sepertinya melakukan kesalahan karena tidak menutup lubang dengan baik yg akhirnya membuat orang lain terjatuh, di situ aku melihat petugas tersebut seperti nya di marahi oleh atasannya, dan situ aku berhenti, aku melihat kejadian itu dan aku memperhatikan, atasan tersebut memang marah tapi marahnya tidak menyakiti hati petugas tersebut, dia memarahi menjaga hati lawan bicaranya, sehingga ia mengerti tanpa harus merasa tersakiti,
Setelah itu niel menantangku, untuk bisa menjadi pemimpin yang baik “al lu berani ga jadi pemimpin yang bijak dengan percaya dirinya aku mengatakan “apa sih yang ga gua bisa! tapi maksud lu jadi pemimpin apa? Gua kan masih SMA” “ternyata jawaban niel “lu kudu jadi ketua osis di sekolah!” “lu gila ya? Gua kan banyak kasus disekolah, ya kali gua jadi ketua osis di sekolah, ya ga ada yang milih lah, lagian ya gua kan masih kelas 10, ah niel lu ngaco lah” “katanya lu bisa semuanya? Ooh jangan jangan lu takut ya?” “enggakk lah! Gua terima tantangan lu”.
Setelah menerima tantangan dari niel, Al selalu memikirkan bagaimana caranya dia bisa menjadi ketua OSIS sedangkan dia merupakan anak yang mempunyai banyak kasus di sekolah, banyak pula guru dan teman-teman yang tidak suka dengan sikapnya yang berandalan. Setelah lama Al memikirkan cara untuk bisa membuat orang lain percaya padanya untuk menjadi ketua OSIS, akhirnya Al tetap memutuskan untuk mencoba mengikuti penyeleseksian menjadi ketua OSIS. Dengan kemampuan berfikir  yang di miliki Al dalam tahapan proses penseleksian, tak disangka Al lolos dan mampu mengikuti penseleksian tahap selanjutnya, tahapan kedua ini merupakan tahapan yang cukup membuat Al sangat tidak percaya diri karena dalam tahapan ini calon ketua OSIS harus mampu berargumen dan menjawab segala bentuk pertanyaan dari guru dan teman-temannya dalam Debat Terbuka.
Saat saat yang ditunggu pun tiba, dimana al harus berargumen di depan masyarakat SMA CAKRA KENCANA dengan kelakuan yang dipandang buruk oleh guru dan teman temannya, ia tetap mencoba untuk berargumen dan menjawab segla bentuk pertanyaan yang di ajukan oleh guru dan teman temannya. Salah seorang murid kelas 12 bertanya padaku “perkenalkan nama saya sherly marcellina perwakilan dari kelas 12 ingin bertanya apa bedanya dari pemimpin dan kepimimpinan,“ aku pun menjawab “pemimpin yaitu orang yang mengajak dan merangkul serta mengayomi orang lain dalam kebaikan, sedangkan kepemimpinan yaitu gaya seseorang dalam memimpin untuk mencapaitujuan tersebut. Apakah ia mempin dengan bijak atau tidak.”
“Memangnya bagaimana sikap pemimpin yang bijak dan tidak bijak?” Lalau aku menjawab pertanyaan dari ka sherly “bukan dia yang tidak pernah salah, tapi justru pemimpin yang berani mengakui kesalahannya dan mengevaluasinya. Sedangkan pemimpin yang tidak bijak yaitu pemimpin yang suka memerintah dan harus sesuai dengan keputusannya saja”.
Sudah merasa cukup dengan jawaban yang aku berikan akhirnya ka sherly mengakhiri pertanyaannya. Dan mengucapkan terima kasih. Debat terbuka hari ini diakhiri dengan penampilan bakat dari para kandidat yang berjumlah 3. Aku menampilkan penampilan basketku dengan nil, kami saling memperebutkan dan mendrible bola ke ring basket, serta memperkenalkan trik yang benar kepada siswa lain yang melihat aksiku.
Sedangkan kandidat lainnya yakni Ayu Hastari menampilkan sebuah lagu yang berjudul don’t go yang dipopulerken oleh band korea EXO. Dan seorang lagi bernama Riskal Dinata ia menampilkan jurus- jurus taekwondo yang ia punya.
Keesokan harinya yakni pemilihan ketua OSIS adalah hari penentuan siapa yang akan menjadi presiden siswa selanjutnya. Aku sendiri tidak terlalu memikirkan hasilnya, karena sebenarnya aku sendiri hanya mengikuti tantangan yang Daniel berikan kepadaku. Namun semua itu tak berpihak pada perkiraanku, ternyata hasil akhir yang telah terjadi adalah diriku memenangkan pemilihan OSIS tahun ini.
Akhirnya aku memiliki jabatan sebagai ketua OSIS di SMA CAKRA KENCANA. Disisi lain aku telah memenuhi tantangan yang Niel berikan kepadaku, namun sisi lain aku tidak sanggup dengan jabatan yang aku emban.
Detik berubah menjadi menit, menit menjadi jam, dan jam pun berganti menjadi hari, dan itu berlangsung untuk terus menerus. Sudah berhari- hari telah aku lewati selama menjadi ketua OSIS namun tidak ada tindakan yang aku lakukan sama sekali yang seharusnya seorang ketua lakukan. Jangan membuat suatu acara, memimpin suatu rapat saja aku sering bolos. Namun akhir- akhir ini aku sadar dan perlahan- lahan belajar untuk bisa memimpin. 
Sorot cahaya memasuki kamarku yang terhalang jendela- jendela kamar, belpun punyi alarm membangunkanku, jam menunjukkan pukul 04.30 aku segera menuju kamar mandi. Setelah itu aku berganti baju dan merapikan tempat tidurku. Selesai merapikan tempat tidur aku turun ke bawah, disana aku melihat bi inah sedang menyiapkan sarapan. Karena jam masih menunjukkan pukul 05.30 aku menonton televisi dulu. “al sarapan dulu” panggil bi inah. Aku pun segera menghapirinya. Setelah selesai aku berangkat sekolah dengan mengendarai motor. Di perjalanan aku mengingat bahwa sebentar lagi bulan oktober akan berakhir dan akan memasuki bulan november. Di bulan november tersebut sekolahku akan berulang tahun tepatnya pada tanggal 27 November yg ke 23. Sebagai ketua osis aku ingin mengadakan acara untuk memperingati ulang tahun SMA CAKRA KENCANA, sekolahku.
      Sesampainya di sekolah, aku langsung menuju ke kelas. Tampak beberapa murid sudah berdatangan. Bel masuk berbunyi, pelajaran pertama diawali dengan pelajaran sejarah. Pelajaran yg membosankan dan bikin mengantuk karena gurunya sering mendogeng wkwk. Akhirnya bel pelajaran pertama selesai. Aku menghampiri tempat pengeras suara, aku memberitahukan kepada anggota osis untuk berkumpul saat pulang sekolah.
      Bel pulang berbunyi, aku menuju ruang osis. Disana sudah ada ayu wakil ketua osis. “ada apa al” tanya ayu. “itu gua mau ngadain acara buat ultah sekolah” jawabku. “oh iya, inikan udah mau akhir oktober, terus acaranya mau gimana” jawab ayu. “ ntar dibicarakannya sekalian nunggu yg lain” jawabku. “oke” jawab ayu. Ketika semua sudah berkumpul, aku langsung membicarakannya. “ disini gua bakal ngasih tau kalau sekolah kita akan berulang tahun yg ke 23 tepatnya pada tanggal 27 November, gua bakal ngadain acara. Gua minta pendapat kalian untuk acara ini.” Jawabku. “Gimana kalau diadakan berbagai lomba dari tingkat SMP dan SMA” jawab ayu. “boleh juga tuh” kata, anggota lainnya. “Gua juga setuju”, kataku. “karena semuanya sudah setuju, kita akhiri diskusi ini” jawabku.
       Aku dan ayu sibuk untuk mempersiapkan acara ini. Acara ini sangat penting aku tidak mau kalau ada kesalahan. Aku membuat brosur untuk perlombaan, mulai dari perlombaan apa aja, kapan dan dimana lomba itu. Lomba itu akan diadakan pada hari selasa – jumat tanggal 27-30. Pengumuman pemenangnya akan diumumkan pada hari sabtu. Tempatnya di SMA CAKRA KENCANA. Perlombaan yg aka diadakan untuk tingkat SMP yaitu lomba pramuka, paskibra, matematika,menggambar dan  untuk tingkat SMA catur dan sepak bola. Aku mengecek data-data nama sekolah SMP dan SMA serta siapa saja yg mengikutinya untuk perlombaan dengan sangat teliti agar tidak ada kesalahan.
       Hari yg ditunggu- tunggu datang juga, sebelum memulai perlombaan akan diadakan apel terlebih dahulu dan sambutan dari kepala sekolah. Setelah selesai apel, perlombaan dimulai. Aku memberitahukan lewat pengeras suara “untuk lomba matematika ada di kelas 10 mia 2, untuk lomba menggambar ada di kelas 10 mia 3, untuk lomba pramuka dan paskibra dilapangan”. Perlombaan berjalan sangat seru. Aku memberitahukan kepada fani untuk memgecek ulang nama nama pemenang jangan sampai ada kesalahan.
Bel pun berbunyi, semenjak kejadian dua hari yang lalu moodku bertambah hancur bagai kertas yang dirobek. “Hari ini gua mau kekantin aja dah buat nenangin pikiran” gumamku. Sesampainya di kantin aku memesan semangkuk bakso dengan ditemani secangkir coklat dingin disebelahnya. Naik turun jariku menyeret layar handphone sambil melihat timeline yang ada, seketika…
“Eh din, masa acara OSIS yang kemaren tuh garing banget tau” celetuk seorang cewe yang ada dibelakangku.
“Iya garing banget, tapi denger- denger katanya juga itu ada masalah gitu” jawab cewe lain
“Lah masalah apaan?” Tanya cewe yang membuat perbincangan itu bermula
“Ga tau kemaren mah cika cerita gitu, kan dia anak  OSIS. Nah, dia bilang katanya data- data yang kemaren itu ada kesalahan tau. Entah salah dimananya” jelas seorang cewe lain
“Denger- denger juga ketosnya yang buat masalahnya gitu, katanya ga tanggu jawab tuh sama kerjanya”
Bagai air yang mendidih, sumpah kuping gua dah ga kuat buat denger obrolan sampah itu ditambah lagi mood makan gua dah ga sreg lagi
“Eh tau dari mana lu info sampah begituan?” potongku tanpa melirik sedikitpun wajah cewe- cewe yang barusan ngegosip tadi. Langsung aja gua pergi tuh dari tempat kutuk tadi, menurut gua kayaknya cewe tadi ga tau kalo gua duduk didepan mereka.
“Eh Al, nanti abis pulang sekolah kumpul yah. Mau nge evaluasiin acara kemaren” ucap seorang cewe yang barusan gua lewati. Sengaja ga gua hirauin soalnya mood gua lagi ga baik
“Woy!!! Al lu dengerkan, bodoamat pokoknya nanti gua tunggu lu diruangan” yang gua denger sih gitu, kayanya itu si ayu deh.
         Hilir anginpun menghembuskan semua yang ada di sekolahku sembari menyapu dedaunan yang berjatuhan. Sejak kejadian dikantin barusan, aku menjadi malas untuk melakukan apapun. Tak sangka jam menunjukan pukul 16:00 dan akupun bergegas untuk pulang. Sesampainya di rumah aku langsung tertidur tanpa memikirkan sesuatu apapun
        Getaran handphoneku terasa di tanganku, saatku cek ternyata sudah ada 23 panggilan dan 142 pesan chat yang belum aku lihat. Satu persatu aku lihat dan ternyata aku lupa dengan kejadian teriakan Ayu disekolah barusan. Tanpa basa- basi aku langsung bergegas pergi kesekolah, sesampainya diparkiran sekolah aku melihat jam di handphoneku, ternyata sudah pukul 18:15. Sudah 2 jam lewat aku tidak mengikuti rapat. Tangga demi tangga aku naiki dan akupun bergegas ke ruangan rapat, namun ternyata sudah tidak ada siapapun bdisana. Dengan berat hati aku duduk didepan pintu ruangan, satu- satu timeline aku scroll tiba- tiba Niel mengirimiku pesan di WA, dia mengatakan kalau tadi saat rapat evaluasi, banyak bahkan mungkin semua yang sedang menjudge sikapnya yang tidak bertanggung jawab dan tidak datang di rapat evaluasi, bahkan diantara mereka yang menyalahkanku atas kekacauan yang terjadi saat acara kemarin. ‘hey al, lu tuh kemana aja sih, kenapa ga datang ke rapat’ aku tidak menjawab pesannya, hanya membacanya saja.
          Aku merenungkan lagi kejadian kemarin, emangnya bener yaa kemaren itu acaranya kacau gara gara gua. Seinget gua kemarin gua ga ngelakuin kesalahan apapun, gua udah bener kok, nyuruh anak anak buat ngelaksanain tugas mereka supaya ga terjadi kekacauan, yaa kalau pun emang kejadian kemarin menurut mereka kacau, yaa itu karena kesalahan mereka sendiri bukan karena kesalahanku.
        Lama berpikir akhirnya aku teringat kembali pertanyaan dari ka sherly, tentang apa yang membedakan pemimpin yang bijak dan tidak. Saat itu aku mungkin hanya mengatakan sebagai jawaban dari pertanyaanya saja, namun sekarang aku sadar kalau ternyata hal itulah yang aku harus lakukan saat ini, hal itulah yang menjadi jawaban dari masalah yang aku sebabkan kemarin.
       Akhirnya untuk menebus kesalahanku pada mereka, aku memutuskan untuk membuat even yang dikhususkan untuk siswa SMA CAKRA KENCANA. Yang akan di laksanakan minggu depan. Dan aku pun bergegas pergi ke rumah, mengendarai motorku dengan kecepatan 80 KM/jam. Tidak sampai 10 menit perjalanan dari sekolah ke rumah, akhirnya aku sampai di rumah langsung membuka laptop dan membuat konsep untuk perlombaan yang akan di adakan nanti. Menyusun kepanitian dan menyiapkan hadiah yang akan di berikan kepada pemenang serta yang paling penting adalah mengkoordinasi perlombaan nanti agar tidak terjadi kekacauan seperti sebelumnya. Aku mengerjakannya semalaman, begadang untuk menyelesaikan konsep perlombaan untuk minggu depan.
      Akhirnya hari sudah menunjukkan pukul 06:10 aku bergegas mandi dan memakai seragam lalu langsung berangkat ke sekolah. Sesampainya di sekolah, aku bertemu dengan niel, dia marah padaku, namun saat ini aku tidak bisa meminta maaf padanya karena aku harus menemui anggota osis yang lain. Aku mencari ayu, yang tidak lain adalah wakil ketua osis dan memintanya untuk berkumpul di ruang osis nanti setelah istirahat. Tapi tidak lupa untuk meminta maaf kepadanya terlebih dahulu “gua minta maaf ayu, ntar pas jam istirahat kedua kumpul yaa di ruangan, sama yang lain, ada yang mau gua diskusiin ama kalian” dengan ketusnya dia menjawab “ heh al, lu tuh yaa Cuma bisanya nyuruh nyuruh aja, lagian lu juga kemarin ga kumpul terus kenapa kita kita harus kumpul. Kalo lu aja bisa bolos, kenapa kita ga bisa” aku berusaha menjawabnya dengan nada sehalus mungkin, karena saat ini aku sedang menahan emosiku, merasa terhina atas ucapannya tadi, tapi apa yang diucapkannya memanglah benar, dan aku mengakuinya “aku kan sudah minta maaf yu, aku ingin membicarakan sesuatu yang penting” “ emang lu piker, rapat evaluasi kemarin tuh juga ga penting hah” aku masih berusaha untuk menahan emosiku “udah yaa intinya hari ini pas jam istirahat ke dua kumpul di ruangan, ada hal penting yang harus gua omongin ke kalian”
      Menit demi menit, jam demi jampun berlalu, akhirnya jam istirahat kedua pun tiba. Dengan penuh semangat aku pergi ke ruangan untuk menunjukkan konsep perlombaan yang akan di laksanakan minggu depan, sekaligus meminta maaf kepada mereka. Aku menunggu di sana mulai dari bel istirahat dibunyikan bahkan setelah 30 menit aku tetap menunggu dan menunggu, sampai jam istirahat kedua telah usai yang ditandai dengan bel masuk, akhirnya dengan berat hati dan kecewa, aku kembali ke kelas.
       Duduk di kursiku, namun pikiranku masih saja tidak bisa terlepas dari kejadian kemarian, aku merasa bersalah, tapi kenapa disaat aku ingin memperbaiki kesalahanku, mereka tidak ingin memberikanku kesempatan. Ahh sudahlahh aku tidak tau harus bagaimana lagi, saat disana aku kecewa mengapa tidak ada satupun yang datang ke sana, padahal aku sudah memintanya baik baik. Tapi mungkin mereka seperti itu karena kemarin aku tidak hadir ke rapat evaluasi itu. Jadi begitu yaa rasanya kecewa karena seseorang tidak menepati janjinya, apilagi akukan ketua OSIS disini, jadi seharusnya akulah yang bertanggung jawab atas apa yang di adakan.
       Memikirnya seharian sungguh membuatku lupa akan waktu, aku bahkan lupa untuk makan, dan kemarin juga aku belum makan, dan tadi siang aku juga tidak makan. Tapi aku terus saja memikirkan kenapa hal itu terjadi padaku.
       Tanpa aku sadari, akhirnya aku tertidur. Aku tidak tau kenapa rasanya kepalaku sakit sekali, dan badanku sangat panas bahkan aku tidak kuat untuk membuka mataku, tapi aku masih sanggup untuk mendengar lingkungan sekitarku. Aku seperti mendengar suara ayah, dari nada bicaranya dia sedang khawatir. Anehnya aku mendengar ada suara dari ibuku, tapi apa mungkin itu ibuku. Tapi rasanya tidak mungkin karena jika ayah dan ibuku bertemu pasti mereka akan bertengkar lagi. Tapi suara ini sangat familiar di telingaku, akhirnya dengan sisa tenaga yang aku punya aku mencoba untuk membuka mataku karena rasa penasaranku.
      Saat aku membuka mata aku melihat ada seorang wanita yang sedang duduk di samping ranjangku. Awalnya aku tidak yakin dia adalah ibuku, namun saat aku perhatikan lagi dia memanglah ibuku. Saat melihatku membuka mata, ibuku langsung memanggil namaku dan spontan memelukku dengan sangat erat. Aku, aku merasa hal ini sangat…. menyenangkan, tanpa kusadari ayahku memelukku juga, yang otomatis memeluk ibuku karena ibuku yang memelukku lebih dulu. Sungguh, perasaan ini, adalah perasaan yang sangat aku rindukan dari mereka. Lantas mereka berkata “nak, kamu sudah baikan, apa yang sakit, yang mana, di bagian apa,” itu adalah suara dari ibuku, dia memang seperti itu jika sedang khawatir, pasti pertanyaanya banyak. Tapi aku senang dengan hal itu saat ini, ayahku juga berkata “kamu pasti sembuh, dan maafkan ayah yaa karena selama ini ayah kurang memperhatikan kamu” ibuku juga berkata demikian “iya, ibu juga minta maaf yaa saying, ibu janji mulai saat ini ibu akan selalu yang pertama mengetahui saat kamu bersin sekalipun” waahh sungguh mengerikan ibuku ini, masa sampai bersin saja harus ibuku yang mengetahuinys lebih dulu sih. Meskipun begitu, aku tetap bahagia, bisa merasakan lagi perasaan seperti saat ini. “ayah dan ibu berjani, kami mulai sekarang tidak akan bertengkar lagi” ibu menggangguk dengan senyuman sebagai jawaban dari pernyataan ayahku.
       Seharian penuh aku bersama dengan ayah dan ibuku, aku merasa hari ini adalah hari yang paling indah dalam 4 tahun terakhir ini. keesokan harinya karena aku merasa sudah baikan, akhirnya aku memutuskan untuk masuk sekolah. Sebelumnya aku sarapan dengan ayahku, dan ayah bilang untuk membawa bekal yang dibawakan oleh ibu tadi pagi sekali sebelum ia pulang.
      Aku mengendarai motorku dengan kecepatan 30 KM/jam, dan sampai pada pukul 06:35, dan tiba tiba niel menghampiriku dan langsung memegang dahiku, lalu berkata “lu baik baik aja kan al, yang mana yang sakit, katanya lu sakit kemarin makanya ga masuk” “ ya ampun niel, gua gapapa kok, lagian yaa lu tuh apaan sih nanya ko banyak banget kaya nyokap gua lu” aku mengatakannya sambil tersenyum, karena teringat dengan ucapan ibuku kemarin. Mendengar ucapan dan melihat raut wajahku yang terlihat bahagia saat mengucapkan kata ‘nyokap’ niel merasa heran, lantas ia pun menaikan sebelah alisnya seolah menanyakan ‘al, lu serius?’. Aku yang mengerti maksud pertanyaan dari niel menjawab “gua udah baikan kok sama mereka, lu ga usah khawatir oke” mengatakannya sambil menepuk bahu niel untuk menyalurkan rasa bahagiaku padanya. Akhirnya ku pun dan niel pergi ke kelas.
     Hari demi hari telah berlalu, hari ini adalah hari sabtu. Hmmm seharusnya hari ini adalah hari yang di khususkan untuk perlombaan sebagai permintaan maafku kepada semuanya. Namun.. ya sudahlah.
    Tapi saat jam 7 pagi di umumkan agar setiap siswa mengganti baju olahraga yang mereka bawa dan segera menuju ke lapangan. Aku yang bingung karena hal tersebut, menanyakan pada niel “ niel ada apa?” dia hanya mengangkat bahunya dan tersenyum, dasar aneh. Akhirnya aku dan niel pergi ke lapangan sekolah, tapi aku tidak berganti olahraga, karena tidak membawanya. Saat sudah sampai di lapangan, ayu memegang mik dan mengumumkan kalau perlombaan sebagai ganti dari hari peringatan sekolah kemarin akan dimulai. Aku bingung dan bertanya Tanya akhirnya pada saat ayu sudah mengumkan pembagian waktunya da tempat pelaksaan lombanya, aku menghampiri ayu, dan yang lainnya. Tanpa disangka disana juga sudah ada niel, yaa Daniel pratama sahabatku itu dia ada di sana, aku yang bingung langsung menanyakan padanya “hey niel sngapain lu disini?” yang menjawab bukanlah niel melainkan ayu hastari, wakil ketua OSIS “harusnya lu bilang makasih ke dia karena dia yang udah berusaha buat wujudin konsep acara ini, dia yakinin kita kita buat jalanin acara ini dan minta izin ke pihak sekolah tau,” aku yang mendengarnya kaget lantas aku bertanya pada niel “apa maksudnya niel?” niel menjawab “gua dapet file itu tuh dari ayah lu, dia yang ngasih ke gua pas lu ngga masuk sekolah, hari itu juga gua tau ternyata lu sakit gara gara lupa makan pas ngerjain ini kan” aku membenarkan yang diucapkannya, “iya, gua minta maaf sama kalian yaa, karena waktu itu, ga selama ini gua ga bertanggung jawab ama tugas yang harusnya gua lakuin” akhirnya riskal mengatakan “iya al, kita udah maafin ko, tapi lu kudu inget yaa untuk selalu bertanggung jawab. Malah awalnya gua tuh bener bener kagum tau pas  lu ngejawab pertanyaannya ka sherly pas debat terbuka waktu itu” aku yang mendengarnya merasa tersentuh dan mengatakan dengan mantap “iya, gua janji sama diri gua sendiri kalo gua akan mengemban tanggung jawab gua sebagai ketua OSIS dengan sungguh sunguh dengan bantuan dari kalian pastinya”
Akhirnya mereka yang mendengar kata kataku yang semangat dan yakin, mereka merapatkan diri membentuk lingkaran dan menjulurkan tangan, ayu bilang “ayo al, kita tos rame rame biar kekompakan kita tetep sampai selamanya” aku tanpa piker panjang langsung ikut menjulurkan tanganku dan menarik tangan niel juga untuk ikut tos bersama. Niel sepertinya ingin protes, namun, sebelum ia bicara “semangat OSIS…” ayu mengambil alih dan serentak kami menjawab “bersama bisa”.
     Hari itu acaranya berjalan dengan baik, aku sibuk mengecek setiap bidang perlombaan dan menanyakan pada setiap panitia perlombaan tentang lombanya dan tidak lupa menanyakan padanya apa yang dibutuhkan lalu membawakannya.
     Keesokan harinya di umumkan hasil perlombaan kemarin, dan para siswa bersorak riuh karena puas dengan acara kemarin dan menantikan saat ini, yaitu pembagian hadiah. Aku merasaaa… ntahlah tapi yang pasti membuat mereka tersenyum dan bahagia karena kesuksesan acara itu sangat mmm menyenangkan.
        Hari demi hari berlalu, aku Aldrian Wira Kusuma, ketua OSIS di SMA CAKRA KENCANA mulai menata hidupku kembali dengan bantuan dari teman, sahabatku Danniel Pratama dan kedua orang tuaku. Aku berusaha menjadi pemimpin jang bijak sebagai ketua OSIS adalah awal dari segalanya..
       Saat jam istirahat, tiba-tiba ayu datang dan marah-marah kepadaku “al gimana ini data data nama pemenang hancur berantakan” bentak ayu. “lah kok bisa, tadi gua udah bilang ke fani untuk mengecek ulang” jawabku. “kamu juga si yg gak ikut ngecek Cuma bisanya merintah doang” jawab ayu. ”Lah kok lu sewot si” jawabku. “gimana gak sewot, datanya berantakan semua terus gimana ini” jawab ayu. “yaudah dimulai dari awal” jawabku. “yaudah lu aja” jawab ayu. Dia langsung pergi dan meninggalkan kertas data-datanya. Disini gua sadar bawah pemimpin itu bukan asal memerintah saja tapi harus lebih ke bertanggung jawab dan bijaksana dari awal gua hanya meremehkan. Gua janji bakal ngerubah.
   Tanpa memikirkan tanggung jawab yang diembannya, al langsung pergi meninggalkan sekolah dengan motornya dengan kecepatan tinggi, menyalip kendaraan lain, bahkan menerobos lampu merah karenanya ia hampir mengalami kecelakaan di jalan.

0 komentar:

Posting Komentar