Kicau burung terdengar
menyuarakan hati seorang pria yang sebentar lagi akan berubah status menjadi
seorang ayah. Tanggung jawab yang akan bertambah berat di pundaknya.Dirinya
yang tengah berdiri memegang cangkul termenung dan terlarut dalam pikirannya
tentang biaya setelah anaknya lahir kelak, apakah dia bisa memenuhi
kebutuhannya. Pertanyaan macam itu selalu saja terbesit dalam setiap fikiranya.
Tapi sebisa mungkin dia tepis pemikiran macam itu. Karna, ia mengetahui jika
manusia itu sedang mengalami kesusahan, dan mau berikhtiar, Allah pasti akan
dekat bersamanya dan membuka jalan keluar untuk setiap ujian dan cobaanya.
Karna iaselalu ingat tentang
visi dan misi dirinya bersama istrinya. Yakni, suka duka dijalani bersama.
Dengan tekad dan kegigihan yang kuat, dia merasa harus lah bekerja lebih keras
lagi, untuk istri dan anknya kelak.
“ Ujang!, kalau kerja jangan malas malasan!.
Hehhh hehh hehh, Ali! Kamu lagi, tuh Ujang sudah saya peringatkan untuk tidak
bermalas malasan. Tapi kamu malah asik ngelamun. HEYYY ! untuk kalian semua,
saya peringatkan sekali lagi, jangan pernah malas-malasan
jika bekerja dengan saya. Akan saya potong gaji kalian. Mengerti?!”.
“ Astagfirullah, maaf pak. Saya hanya
sedikit lelah saja tadi” timpal Ali.
“ Pulang saja, kalau memang tak ingin
bekerja. Ingatt! Kalian semua itu sudah saya gaji, ga boleh ada yang malas-malasan lagi. Faham kalian?” Rohadi dengan tampang marahnya.
“ Baik pak” Jawab ke 5 pekerja Rohadi.
Rohadi merupakan salah satu dari
bos pemilik tanah yang dijadikan tanahnya sebagai perkebunan timun dan sayur sayuran
lainya.Dirinya merupakan orang yang bisa dibilang sanagat disegani karna
dirinya nya lah orang yang paling memilki harta banyak di desanya. Arogan dan sombong, kerap kali dilontarkan
pada warga yang sering mendapat cacian oleh dirinya.
Biasanya, Rohadi dan
istrinyalah yang mengelola perkebunan tersebut. Istri nya yang terpaut 10 tahun
oleh dirinya, jauh lebih muda. Dengan sifat yang sama pula, istrinya selalu
saja menjadi provokator dalam setiap permasalahan dirinya dengan pekerja.
Ali, merupakan salah satu dari
5 orang pekerja di salah satu perkebunan sayuran yang dimilki Rohadi, juragan
sayur. Ali sangatlah seorang laki laki sekaligus suami yang pekerja keras dan
bertanggungjawab dalam tugas. Dia sangatlah rajin dalam bekerja, setiap paginya
dia bekerja untuk menggarap kebun dan menenami benih benih sayuran yang
nantinya akan dijual ke kota.
Ali, tinggal bersama istrinya
di rumah yang sederhana. Tetapi dengan kesederhanaan itu, mereka mampu untuk
sama sama berjuang mencari keridhaan Allah. Terbukti dari Ali dan Fatimah yang
senantiasa menjaga sunnah nya Rasullah. Mulai dari berpuasa senin kamis,
menjalankan solat sunnah tahajud tiap harinya. Mereka satu sama lain selalu
memberi dukungan. Rasa cinta yang tumbuh dari awal mereka mencinta Rabb Nya.
Ya, mencintai karna Allah.
Syukur dan sabar selalu menjadi
sifat yang harus ada di kehidupan mereka. Ketika
mereka di timpa ujian dan cobaan, mereka selalu sabar. Dan jika di beri
kenikmatan mereka senantiasa berucap syukur tiada henti atas segala kebaikan
Allah pada mereka. Contohnya sekarang, fatimah tengah memasuki usia kandungan
nya yang ke-9 bulan.
Fatimah merupakan istri
salihah, perhiasan dunia. Ia senantiasa melakukan pekerjaan atau melayani suami
nya dengan baik. tak heran bila Ali sangat mencintai nya karna Allah. Mereka
pun mempunyai misi bahwa mereka akan sehidup sejannah. Satu cita cita mulia
Fatimah dan Ali, mereka ingin wafat husnul khotimah dalam keadaan mati syahid.
Sungguh, mulia bukan cita-cita mereka.
Hari itu, dengan segala
kesibukan Fatimah menerjakan pekerjaan rumahnya, Fatimah selalu berdoa sambil
memegangi perutnya yang membuncit. “barakallah calon mujahid atau mujahidah
ummi dan abi. Ummi dan abi selalu menunggu kamu terlahir di dunia”. ditengah
doanya, entah apa yang dirasakan Fatimah sekarang. Perutnya terus saja
merasakan kontarksi hebat yang membuat nya sangat merintih kesakitan.
“Ya Allah, Ya Rabb. Tolong bantu hamba.
Mas Aliii, mass. Astagfirullah. Ya Rabb .” Rintih fatimah.
Terdengar dari luar rumah Fatimah, bu Fatma, tetangga Fatimah sontak langsung menolong
dirinya yang tengah merintih kesakitan itu. Tak lama kemudian, suami dari bu
Fatma datang dan menghampiri keduanya.
“Pak, cepat panggil Ali. Fatimah
istrinya akan segera melahirkan. Nanti bapak dan Ali langsung ke Bidan Susi
saja ya” pinta bu Fatma.
Bidan, di desa iwul hanya ada
satu. Bidan Susi lah yang biasa membantu warga
melahirkan. Sesekali bu Fatma menenangkan Fatimah yang sangat ketakutan.
“Tenang Fatimah, tidak akan terjadi
apa- apa” bu Fatma yang tengah menenangkan Fatimah, tiba-tiba pintu kamar
terbuka, dan Ali sontak berlari kearah istrinya, yang tengah memperjuangkan
buah hati mereka.
“Yang sabar sayang, kamu harus
berjuang. Kamu wanita salihah yang kuat. Aku menanti kamu dan bayi kita. Ini
jihad seorang wanita.” Usaha Ali menenangkanistrinyaFatimah .
“Aku, ga kuat mas. Rasanya sangat sakit
sekali. Ya Rabb.” Dengan nafas terengah engah.
“Li, kamu dipanggil bidan Susi diluar”
Bu Fatma yang masuk kedalam untuk menenagkan Fatimah.
Ditengah kepanikan Ali, Bidan
Susi memberi kabar bahwa Fatimah istrinya harus di rujuk ke Rumah sakit untuk
penanganan operasi Caesar. Dikarnakan bayi yang ada dikandungan Fartimah
posisinya sungsang. Dan tidak susah jika harus bersalin secara normal.
“Sebentar saya akan buatkan surat rujukan nya dulu” Kata bidan Susi.
“ Baik, saya tunggu”
Di rumah sakit Harapan Pelita, Fatimah segera dibawa masuk keruang operasi
untuk proses bersalinnya.
“ Bapak tunggu di luar, dan tolong
selesaikan administrasinya” Ucap salah
satu suster yang akan membantu persalinan istrinya.
“Total nya 10 juta rupiah pak, bapa
harus membayarsetengah nya untuk kita dapat mengoperasi istri bapak” Ucap
petugas administrasi rumahsakit Harapan Pelita.
‘Ya Rabb, bagaimana caranya hamba
mendapat uang sebesar itu dalam waktu dekat? Sedangkan istri hamba harus
secepatnya mendapat pertolongan. Ya Allah, kasih hamba petunjukMu’ Doa Ali
dalam hati.
“Baik mbak, saya akan segera datang”
Ali sangat kebingungan, dengan sepeda ontel yang
selalu ia kendarai jika bepergian kemana saja. Ia tengah bingung sekali dengan
keadaan seperti saat ini. Dia mencoba meminjam uang
kepada boss nya Rohadi. Ali segera mungkin mendatangi gudang penyimpanan hasil
perkebunan milik Rohadi.
“Assalamualaiakum pak,” Ucap melas Ali
dengan tampang kusutnya.
“Waalaikumsalam. Ada apa? Jawab Rohadi
malas.
“Gini pak, saya ingin meminjam uang
untuk biaya operasi caesar istri saya pak. Saya mohon saya sangat butuh uang 10
juta pak” Pinta pengharap Ali kepada
Rohadi.tengah melipati pakaian dirinya dan Ali suaminya.
“10 juta ga jumlah yang sedikit Ali.
Ck, bagaimana kamu akan membayarnya?’’
“bapak bisa potong gaji saya sebulan”
jawab Ali
“Eh eh eh eh, jangan mas. Dia gak akan
bisa membayarnya.” Timpal istri Rohadi.
“Mau berapa tahun kamu melunasinya? 10
tahun? Haha, kamu benar sayang. Saya tidak akan memberikan pinjaman kamu uang
Ali. Sudah sana pergi, ganggu saja kamu ini” Caci Pak Rohadi kepada Ali.
“Baik pak Assalamualaikum” jawab pasrah
Ali.
Memang sifat Rohadi yang tak
pernah peduli kepada siapapun, bahkan kepada Ali yang notabenya pkerja dia.
Seperti yang warga lain katakan, hati dari Rohadi sudah sangat membatu.
Ditengah ketidak tahuan arah
Ali untuk meminjam uang dari mana, Ali yang berjalan menuntun ontelnya bertemu
dengan pak Herman
“Kenapa kamu Ali? Spertinya kamu sedang
ada masalah?” tanya pak Herman kepada Ali
yang masih asik terlamun dalam fikiranya.
“Ah iya pak, saya sedang bingung
mencari biaya untuk operasi ceasar istri saya.” Jawab Ali ragu. Ragu karna
pasalnya dia bingung. Apakah ia harus minjam
kepada pak Herman seorang rentenir.
“Jawab, kamu butuh berapa. Li Ali.”
Ucap pa Herman sambil menepuk pundak
Ali.
“Ya Allah maafkan hamba. Hamba tiodak punya cara lain dalam
waktu dekat ini’ batin Ali.
“Saya butuh 10 juta pak,” ucap Ali
dengan nada lemas.
“Oke, oke. Ini 10 juta. Tapi ingat,
tagihan tiap bulanya tidak boleh telat,” ancam pak Herman
“Baik pak, Assalamualaikum” Ucap semangat Ali.
Ali mengatahui, bahwa
perbuatannya adalah hal yang dilarang Allah. Mungkin jika saja istrinya tahu,
pasti Fatimah akan melarang Ali untuk menerima nya. Tapi mau bagaimana lagi,
Ali merasa sudah sangat putus asa, Ali khilaf. Karna ketidakbiayaan dirinya.
Sebelum mencari pinjaman kepada pak Rohadi pun, Rohaditerlenih dahulu
memecahkan celengan nya. Dan hanay terkumpul uang sebanayak 800 ribu saja. Maka
dari itu, Ali berani menerima tawaran yang diajukan pa Herman pada dirinya.
Di rumah sakit Harapan Pelita, Ali sedang menunggu di depan ruang operasi. SekitarAli
menunggu di musolah untuk memanjatkan doa untuk keselamatan istri tercintanya
dan memohon ampun kepada Rabbnya. Bahwa dirinya telah melakukan kesalahan
besar, yakni riba.
Setelah nya ia kembali lagi
menunggu depan ruang operasi dengan rasa khawatir dan cemas dengan keadaan
istri dan anaknya. Sesekali dia menginagat bahwa perjuangan istrinya yang
sangat sulit untuk memperjuangkan buah hati mereka. Hatinya senantiasa
berdzikir untuk meminta pertolongan dari Allah.
1 jam berlalu, hingga dokter keluar
dengan wajah yang tidak tahu artinya. Antara
suka dan duka.
“bagaimana kondisi istri dan bayi saya
dok?’’ antusias Ali.
“bayi anda lahir dengan selamat dan
sehat. Tapi kami mohon maaf bahwa istri
bapak menagalami pendarahan yang hebat. Sehinngga nyawanya tidak dapat
tertolong” jawab dokter Lina yang menagangani operasi caesar Fatimah.
Sesegera mungkin Ali
mengahampiri kedalam ruang operasi. Diliatnya ada seseoraanng yang terbaring dan ditutupi
kain putih, pertanda bahwa orang tersebut telah meninggal dunia.
“Fatimah Az zahra. Bangun sayang, bangun. YA Allah sayang, cita
cita kamu untuk meninggal dalam keadaan syahid telah terkabul. Sayang, terima kasih karena
telah berjuang melahirkan mujahidah untuk ku. Ana Uhibbuka fillah ya zaujati.
Tenanglah, dan tunggu aku di surga.” Ucap Ali penuh cinta.
Ali tahu, bahwa sesungguhnya kami
milik Allah dan hanya kepada Allah kami kembali.
“Aku ikhlas sayang terhadap dirimu.
Wanita dan istri salihah dirimu, masuklah kamu ke jannah nya Allah. Sungguh aku
menyadari bahwa takdir Allah sangatlah indah dari rencana yang kita harapkan,”
tak sadar setetes air mata jatuh dari pipi seorang laki laki yang begitu
mencintai istri dihadapannya ini.
“Ya zaujati, istri ku tercinta. Ya Fatimah Az Zahra. Jika kamu berada disurga dan nanti kelak tidak
menemukan diriku didalamnya, maka carilah aku ke dalam neraka. Dan berkata lah
kepada Allah, bahwa kita pernah berjuang Sama-Ssama menggapai ridha Allah swt di
dunia ini. Selamat jalan ya zaujati. Ana uhibbuka fillah.” Ucap Ali dengan tegar
yang diiringi sesengukan tangis yang tak dapat terbendung.
Hari berganti, ia dan putri
kecil nya sedang berada di dalam rumahnya.
Ia merawat putri kecilnya, yang bernama Aisyah Putri Fatimah. Ali merawat Aisyah dengan kasih sayang yang begitu besar. Saat ini Ali
tengah meminumkan Aisyah sebotol susu formula. Sesekali dirinya teringat akan
almarhummah istrinya Fatimah.
“Fatimah, seandainya kamu liat putri
kecil kita ini. Dia sanagatlah cantik seperti dirimu. Dia juga Insya Allah akan
sperti dirimu, yang menjadi wanita salihah dan kelak akan menjadi istri salhah
sperti dirimu. Dan andai pula kamu ada disini, pasti kamu yang akan
merawatnya.” Tetesan air bening lolos menembus bendungan yang ada dimatanya.
Ali rindu akan istri yang
selalu melayani nya dengan tulus, yang senantiasa menjaga pandangan serta kehormatanya di depan lelaki ajnabi. Ya dia sangat merindukan istrinya saat ini. Tempat pengusir penat kala ia lelah
bekerja.
Hari kedua tepat lahir putri
kecilnya. Putrinya kini sedang menangis karna kehausan. Ali sedikit mengerti bahwa jika anak nya itu tengah kehausan dan ingin
meminum susu. Tetapi uang yang tersisa di Ali, tidak cukup untuk membeli susu
putrinya itu, terlebih sudah hari ketiga ia tidak masuk bekerja.
Di tempat perkebunan miliknnya,
Rohadi dan istrinya sudah sangat geram dengan tingkah Ali yang seenaknya saja
meninggalkan pekerjaan nya menurutnya. Hingga
mereka berdua memutuskan untuk menegur Ali dengan datang ke rumahnya. Bahkan
ia dan istrinya tidak segan-segan untuk memecat Ali dari pekerja di
perkebunannya.
Tok tok tok.........
“Ali, cepat keluar!” Teriak Rohadi.
Ali yang keluar bersama putri
tercintayangberada digendongan nya yang kini sedang menangis karna kehausan.
“Ehh, pak Rohadi. Ayo pak, bu silahkan
masuk.” Ajak Ali dengan ramah.
“eh, Ali ! kemana aja kamu? Seenaknya
kamu kerja.” Ucap istri Rohadi.
“ maaf pak, bu. 2 hari ini saya
mengurus bayi saya di rumah. Soalnya tidak ada yang menjaga putri saya jika
saya bekerja.” Jawab Ali dengan mengayun ayun kan putrinya agar tidak menangis
lagi.
“Ohhh, kalau seperti itu kamu tak usah
bekerja lagi di perkebunan suami saya. Masih banayak warga sini yang mau
bekerja di tempat suami saya. Nanti suami saya bisa rugi kalau kamu terus terus
sperti ini. Ingat ya, kami ga akan segan-segan
untuk memecat kamu!” Ucap istri Rohadi dengan suara tingginya yang memaki Ali.
“Maaf bu, pak. Tolong jangan pecat
saya, saya sangat butuh pekerjaan ini. Tolong, saya harus membiayai putri saya ini.” Jawab Ali pasrahhh.
“Baik lah, mulai besok kamu ga boleh
seenaknya saja kalau bekerja. Ancaman istri saya tadi tidaklah main main.”
Ancam rohadi pada Ali.
“baik pak. Saya akan besok masuk.”
“Ya sudah, Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam”.
Pak Rohadi beserta istrinya
pulang kembali keperkebunan nya. Sedang Ali langsung masuk menenangkan anaknya,
yang sedari tadi menangis dikarnakan kehausan.
Tokk Tokk Tokk.. “Assalamualaikum” Bu Fatma ucapkan salam mengunjungi rumah Ali.
Ali yang tengah berusaha
mendiamkan putrinya tersebut lantas membuka pintu untuk bu Fatma. Bu Fatma mengunjungi Ali, karna ia baru saja melihat Pak Rohadi
dan istrinya mendatangi kediamannya sambil memaki dirinya.
“Li, besok kamu kerja saja, dan Aisyah biar saya saja yang jaga. Oh iya, ini juga saya punya
sedikit rezeki untuk A isyah membeli susu. Itu dia nangis
saja, karna kehausan” ucap Fatma
“Subhannalah, yang benar? Bu Fatma mau
menjaga Aisyah saat saya bekerja? Masya Allah bu, saya sungguh tidak enak
kepada ibu. Karna banyak sekali saya merepotkan ibu.” Jawab Ali.
“Iya tak apa, tak usah sungkan dengan
saya. Ya sudah saya pulang dulu ya.”
Sambung bu Fatma.
Betapa senangnya perasaan Ali
saat ini, di saat dirinya kesusahan dan membutuhkan pertolongan, Allah selalu
saja memberikan bantuan dari yang tak di sangka-sangka.
Sungguh maha besar Allah yang tak akan pernah meninggalkan hambanya dengan
keadaan susah.
Pagi, yang membuat suasana hati
sejuk bagi insan yang merasakan nya. Nikmat Allah yang tak akan pernah
terhitumg besarnya. Nikmat jiwa yang masih menyatu dengan raga, untuk itu patut
bagi hambaNya senantiasa bersyukur.
Begitulah suasana hati Ali, karna banyak nikmat yang telah dirinya dapatkan
setelah banyak cobaan yang dialaluinya.
Kicau burung yang menyapa pagi nya seseorang yang berubah status menjadi seorang
ayah sekaligus ibu untuk mengurus putri tercintanya. Dengan semangat yang
besar, Ali segera bergegas untuk menjemput rezekinya pagi ini. Namun baru
sehari Ali bekerja, ia mendapatkan kabar yang kurang mengenakkan dari bu Fatma,
bahwa ia tidak bisa menitipkan lagi anaknya dengan bu Fatma dikarenakan
suaminya yang kurang senang dengan keberadaan anak kecil di rumahnya. Ali
sontak memikikan keadaan anaknya apabila ia tingal bekerja, akhirnya dengan
terpaksa Ali membawa anaknya yang masih sangat kecil itu untuk ikut bersamnya
pada ssat bekerja di kebun Pak Rohadi.
Disaat Ali sedang bekerja
datang Pak rohadi dengan raut wajah yang keliahatan sedikit marah “kamu niat
kerja atau tidak?, mengapa kau bawa anakmu kemari, kalau dia menangis
bagaimana? Dia pasti akan mengganggu kerjamu!” Ujar Pak Rohadi.
Ali pun menjawab “ maaf pak, saya bawa anak
saya ikut dengan saya dikarenakan ia tidak ada yang mengurusinya dirumah.
Tenang saja pak anak saya tidak akan rewel dan mengganggu kerja saya”.
“saya tidak yakin, pasti anak mu itu
akan jelas menggangu pekerjaan mu!” Tegas Rohadi.
“Tidak pak, insya Allah tidak akan
menganggu pekerjaan saya. Lagi pula putri saya tidak rewel. Saya mohon pak”.
Pinta Ali.
“Terserah kamu saja. Awas saja kalau
anak mu itu menganggu pekerjaanmu. Langsung bawa pulang anak mu itu.”Ucap Rohadi.
“baik pak, baik” jawab Ali.
Lantas ali yang sudah mendapat
izin itu langsung membawa Aisyah putri kecilnya
itu kesebuah saung dekat ia bekerja.
Belum lama ia bekerja, Ujang temanya menegur nya.
“Li, anak lu nangis itu.’’ Ucap ujang.
“Ali, kamu dengar itu! Anak mu menangis
dan itu menganggu kerjaan kamu kan?. Cepat bawa pulang anakmu itu.” Timpal
Rohadi teriak.
Ali pun menghampiri saung yan g
terdapat anaknya itu.
“Suttt, sayang . Aisyah jangan nangis
ya sayang.”
Seorang tetangga Ali, yang melihat Ali
kesusahan dan kewalahan jika harus bekerja dan merawat anaknya sendirian,
lantas menawarkan dirinya untuk bisa menjaga Aisyah.
“Assalamualaikum” Ucap Tini.
“Waalaikumsalam. Sutt sutt” sambil menimang nimang Aisyah yang sudah
berhenti menangis.
“Mas, apa boleh saya yang menjaga
Aisyah ketika mas sedang bekerja. Kebetulan juga Tini dan suami juga senang
kepada anak anak.” Tawar Tini ke Ali.
“Apa mba Tini serius? Terimakasih kalau seperti itu. Mulai
besok apa boleh saya menitipkan Aisyah kepada mba Tini. Dan setiap jam 5 sore,
Aisyah akan saya jemput ya mba” Ucap Ali.
“Iya mas tidak apa apa. Lagi pula saya
sangat senang dengan keberadaan anak kecil di rumah saya.”
Ali sangat bersyukur atas
bantuan yang telah ditawarkan mba Tini tetangganya. Karna dalam setiapn apa
yang dilakukan oleh Ali selalu melibatkan Allah didalamnya. Sehingga, jika ia
merasa kesusahan pasti Allah akan menggantikan
dengan kelapangan.
Tak terasa 6 tahun telah berlalu, dengan usaha dan kerja
keras Ali yang dapat membesarkan Aisyah hingga sudah sebesar ini. Hari ini,
hari pertama Aisyah masuk ke Sekolah Dasar Negriciparuas 1.
“Abi, Aisyah ingin jadi seperti ummi. Kata Abi ummi adalah perempuan cantik dan juga
solehah kan? Kata abi, abi ngasih nama Aisyah karna abi ingin Aisyah menjadi
perempuan yang cantik akhlak dan juga menjadi perempuan salihah kan? Terus
Aisyah juga pengen jadi dokter abi. “ Ucap polos Aisyah.
“Masya Allah, putri abi sudah semakin
pintar. Aisyah tau gak? Aisyah itu malaikat kecil nya Abi. Wahhh, Aisyah ingin
jadi dokter. Oke siap, cita-cita kamu harus
terwujud ya sayang.” Jawab Ali yang sedikit berkaca mendengar tutur Aisyah yang
mengingatkanya dengan Istri tercintanya itu.
Tepat di depan sekolah pertama Aisyah,
Ali berpesan.
“Aisyah, putri abi tersayang. Belajar
yang pinter ya sayang. Harus hormati guru Aisyah ya. Ga boleh nakal juga.”
Pesan Ali.
“baik abi. Asalamualaiakum” ucap Aisyah
sembari mencium tangan abinya.
Setelah itu, Ali bergegas
menuju perkebunan tempat ia bekerja dengan menggunakan sepeda ontel. Sesampainya
diperkebunan Ali melihat pak Rohadi serta istrinya sedang memarahi pekerja yang lain.
“maaf pak, saya telat. Saya habis
mengantarkan anak saya ke sekolah.” Ujar Ali dengan nafas terengah engah.
Namun Rohadi tak peduli dengan alasan
yang diberikan oleh Ali.
“seenaknya aja kamu ya! Sudah dikasih
toleransi banyak, malah tambah gatau diri.” Ujar istri.
“Baiklah, mulai sekarang kamu saya
pecat.” tegas Rohadi.
“Mohon pak, jangan pecat saya. Saya
sangat membutuhkan pekerjaan ini.”
Pinta Ali dengan sangat memohon.
“Sudah jangan banyak omong, pokoknya
kamu saya pecat. Pergi sanaaa!” lantas Pak Rohadi dan istrinya pun pergi meninggalkan dirinya.
Keesokan harinya menyambut pagi
yang cerah dengan semangat juang untuk mencari pekerjaan baru, Ali pun sebelum
ia terlebih dahulu mengantarkan Aisyah ke sekolah.Sesudah mengantarkan Aisyah
ke sekolah dengan membaca basmallah dan meluruskan keyakinanya bahwa Allah akan
membuka pintu rezeki dengan pekerjaan yang baru.
Ali pun bergegas dengan
mengendarai sepeda ontelnya, disetiap
perkebunan. Ia menawarkan diri kepada pemilik kebun mengenai masih adakah
lowongan pekerjaan untuk dirinya. Namun, dari sekian banyak perkebunan yang ia
datangi, tidak ada satupun yang dapat menerima ia untuk bekerja disana.
Tak terasa matahari sudah semakin
terik, Ali yang masih sibuk mencari pekerjaan tersadar bahwa ia melupakan
sesuatu yaknimenjemput anaknya. Lantas ia pun bergegas untuk sampai kesekolah anaknya dengan secepatnya. Namun, saat ia sudah
sampai disekolah, ia tidak mendapati anaknya berada di sekolah kecemasan Ali
pun semakin menjadi kala satpam mengatakan bahwa Aisyah sudah pulang dari tadi.
Ditempat lain, Aisyah yang
merasa bersalah karna telah melanggar janjinya kepada abinya untuk tidak pulang
terlebih dahulu sebelum abinya menjemput terus berjalan dengan lamunan nya
hingga tak fokus pada jalan yang tenmgah dilewatinya.
AAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!
BRUKKKKKKKKKKK!!!!!!!!!
Mendengar suara tabrakan, warga
yang berada di tkp langsung berbondong bondong menolong Aisyah yang tertabrak
mobil pickup.
“baik pak baik, saya akan bertanggung
jawab atas biaya dan lainya.” Ucap supir pickup.
“ri, lu ikut bapaknya ini ya bawa anak
ini ke RS Pelita Indah, takutnya dia kabur” Ucap warga 1 ke yang lainya.
Sesampainya di rumah sakit, Ali
yang telah mendapat kabar bahwa putri tercintanya mengalami kecelakaan.
“Bapak, ayah dari anak yang saya
tabrak?” ucap supir pickup.
“Mana anak saya?” ucap Ali penuh
khwatir.
“tenang pak tenang, anak bapak sudah
ditangani oleh dokter. Saya akan bertanggungjawab atas semua administrasi yang
dibebankan.”
Tak lama seorang dokter keluar
dari ruang ICU. Dan menjelaskan bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Karna, pingsannya anak bapak hanya karna mengalami syok akibat tertabrak.
Lantas Ali yang semula khawatir menjadi sedikit tenang atas kabar yang telah
diberikan dokter.
Pagi harinya Ali bergegas
kembali untuk mencari pekerjaan setelah mengantarkan anaknya ke sekolah. Tepat
di perkebunan dekat desa iwul tempat ia tinggat terdapat perkebunan baru yang
tanahnya belum ditanami, nah disitulah Ali yakin dengan sepenuh hati bahwa ia
akan diterima.
“Assalamualaikum, pak apakah saya dapat
membantu bapak untuk mengerjakan kebun ini?.”ucap Ali
“iya silahkan. Namun, apakah kamu bisa
mengelola kebun yang masih kosong ini ?.”
“oh kebetulan pak saya bisa menanam
lahan kosong ini dengan menanam mentimun. Saya janji akan bertanggung jawab dan
bekerja keras sepenuhnya terhadap kebun ini.” Ucap Ali
Setelah beberapa lama kerja di
kebun tersebut hasil perkebunan yang ali kerjakan mendapatkan hasil yang sangat
memuaskan dan mendapat keperayaan dari si pemilik lahan.
Disamping itu kawannya ujang
terancam dipecat dikarenakan kebun pak rohadi bangkrut, Karena hasil panennya
yang jelek. Ujang mengatakan panen sebelumnya adalah hasil dari kerja ali, maka dari itu kebun
yang digarap ali sekarang hasilnya sangat memuaskan. pak rohadi pun menyuruh
Ujang untuk mengacak-ngacak kebun yang digarap oleh Ali. Namun Ujang
menolak,pak rohadi tetap memaksa sampai meranyuap ujang dengan uang. Akhirnya ujang bersedia untuk mengacak
ngacak kebun yang digarap ali dengan rasa sedikit kasihan.
Keesokan harinya....
“Mengapa kebunku jadi seperti ini” ucap
ali dengan sedih melihat kebunnya yang rusak.
Beberapa hari kemudian setelah kejadian itu Ali menuai hasil panen
yang sangat yang memuaskan. Dan hasil panennya pun terjual habis ke penadah
mentimun.
Disamping itu ia mendapat kabar bahwa
kawannya yang bernama ujang sudah dipecat dari perkebunan milik pak rohadi maka
dari itu ali ingin menawarkan kepada ujang untuk membantunya merawat kebun pak
saptaji. Namun, ketika bergegas ke rumahnya ujang, ali mendengar percakapan
antara ujang dang istrinya.
“Kamu dipecat? Lantas bagaimana nasib
kita?” ucap istri Ujang
Diammm
“Dengar dengar si Ali sudah bekerja di
perkebunan orang, minta pekerjaan saja kepada Ali” suruh istrinya kepada Ujang.
“hmmmm... saya malu, karena saya yang
telah merusak perkebunannya dulu.” Ucap Ujang
“Hah.. mengapa kau lakukan mas?” tanya
istri Ujang
“saya terpaksa melakukan itu semua atas
suruhan pak Rohadi” jawab Ujang dengan sesalnya
“OOOO.. ternyata selama ini kamu yang
telah merusak kebun yang saya garap.” Ucap Ali
sedikit terkejut.
“maafkan saya Ali, saya khilaf, saya
melakukan semua itu karena terpaksa” ucap Ujang
dengan rasa menyesal.
“ya sudah yang lalu biarlah berlalu, ditempat saya ada pekerjaan untuk kamu, apakah kamu bersedia?” tanya Ali
kepada Ujang.
“iya, iya saya mau Li. Sekali lagi saya inta maaf ya. Gara gara saya panen kamu
gagal.”
“ iya, saya tunggu kamu besok.” Timpal
Ali.
Keesokan harinya disaat ali
sedang mencangkul tanah untuk membuat gundukan yang akan ditanami bibit
mentimun.
“Assalamualaikum ayahhhhhhh...” ucap
Zainab anak dari bapak Saptaji
“Waalaikumsalam, kamu kapan pulang
ndok? Kan ayah bisa jemput ndok ke bandara” lanjut Saptaji
“kan mau buat kejutan untuk ayah”.
“oalahh.. yasudah, ini kenalkan Ali,
dia yang ngurus tanah ayah ini”
“Mas Ali...
Seketika Ali menundukan pandangan
FLASHBACK
“Apa benar kamu ingin pergi ke kota
untuk melanjjtkan study mu, tidak bisakah kamu untuk tetap tinggal disni” Ucap
Ali
“Maaf ka, keputusanku sudah bulat aku
tetap ingin mengejar cita-citaku.Jika kamu ingin menungguku maka tunggulah aku,
jika kamu tidak sabar maka menikahlah dengan perempuan yang lebih baik dariku”
“Baiklah jika itu sudah menjadi keputusanmu,
aku tidak bisa melarangnya lagi pun jika kita berjodoh akan bertemu kelak”.
“Oooo.. kaliann sudah saling kenal?”
tanya pak Saptaji
“Tante.. tente kenalin aku Aisyah anak dari abi Ali”
“Masyaallah cantik sekali kamu”
Keesokan harinya di rumah Saptaji,
Zainab yang penasaran tentang laki-laki yang pernah mengajaknya untuk menikah
bertanya kepada ayahnya.
“Ayah... kak Ali menikah dengan siapa?” tanya Zainab dengan sedikit penasaran
“Sama
Fatimah anak kampung sini juga, tetapi
ia telah meninggal saat melahirkan anaknya Aisyah,
dan sekarang Ali mengurus anaknya sendiri.” Jawab
ayahnya
“Masyaallah.. sungguh mulia istrinya
kak Ali itu”
Akhirnya Ali dan Fatimah
bekerja sama dalam mengelola kebun dengan baik untuk menghasilkan hasil panen
yang lebih berkualitas.
Dan pada akhirnya Ali, yang senantiasa
sabar dalam menjalani ujian dan cobaanya meraih kesuksan nya. Pak saptaji
menghibahkan tanahnya untuk Ali. Dan sekarang Ali menjadi juragan mentimun.
Dan
roda kehidupan berbalik. Singkat cerita Rohadi mengalami kesengsaarana yang
berawal dari istrinya selingkuh dan membawa semua hartanya, sakit stroke.
Tetapi dengan kemulian hati Ali, ia tidak sedikit pun menuruh dendam pada
Rohadi yang sudah mendzoliminya Dan sejumlahuangyang telah di pinjam Ali kepada
seorang rentenir itu pun sudah terbayarkan dengan hasil kerja kerasnya dalam
menanam mentimun.








0 komentar:
Posting Komentar