Sabtu, 20 Juni 2020

Buah Kesabaran

Kicau burung terdengar menyuarakan hati seorang pria yang sebentar lagi akan berubah status menjadi seorang ayah. Tanggung jawab yang akan bertambah berat di pundaknya.Dirinya yang tengah berdiri memegang cangkul termenung dan terlarut dalam pikirannya tentang biaya setelah anaknya lahir kelak, apakah dia bisa memenuhi kebutuhannya. Pertanyaan macam itu selalu saja terbesit dalam setiap fikiranya. Tapi sebisa mungkin dia tepis pemikiran macam itu. Karna, ia mengetahui jika manusia itu sedang mengalami kesusahan, dan mau berikhtiar, Allah pasti akan dekat bersamanya dan membuka jalan keluar untuk setiap ujian dan cobaanya.
Karna iaselalu ingat tentang visi dan misi dirinya bersama istrinya. Yakni, suka duka dijalani bersama. Dengan tekad dan kegigihan yang kuat, dia merasa harus lah bekerja lebih keras lagi, untuk istri dan anknya kelak.
 “ Ujang!, kalau kerja jangan malas malasan!. Hehhh hehh hehh, Ali! Kamu lagi, tuh Ujang sudah saya peringatkan untuk tidak bermalas malasan. Tapi kamu malah asik ngelamun. HEYYY ! untuk kalian semua, saya peringatkan sekali lagi, jangan pernah malas-malasan jika bekerja dengan saya. Akan saya potong gaji kalian. Mengerti?!”.
“ Astagfirullah, maaf pak. Saya hanya sedikit lelah saja tadi” timpal Ali.
“ Pulang saja, kalau memang tak ingin bekerja. Ingatt! Kalian semua itu sudah saya gaji, ga boleh ada yang malas-malasan lagi. Faham kalian?” Rohadi dengan tampang marahnya.
“ Baik pak” Jawab ke 5 pekerja Rohadi.
Rohadi merupakan salah satu dari bos pemilik tanah yang dijadikan tanahnya sebagai  perkebunan timun dan sayur sayuran lainya.Dirinya merupakan orang yang bisa dibilang sanagat disegani karna dirinya nya lah orang yang paling memilki harta banyak di desanya.  Arogan dan sombong, kerap kali dilontarkan pada warga yang sering mendapat cacian oleh dirinya.
Biasanya, Rohadi dan istrinyalah yang mengelola perkebunan tersebut. Istri nya yang terpaut 10 tahun oleh dirinya, jauh lebih muda. Dengan sifat yang sama pula, istrinya selalu saja menjadi provokator dalam setiap permasalahan dirinya dengan pekerja.
Ali, merupakan salah satu dari 5 orang pekerja di salah satu perkebunan sayuran yang dimilki Rohadi, juragan sayur. Ali sangatlah seorang laki laki sekaligus suami yang pekerja keras dan bertanggungjawab dalam tugas. Dia sangatlah rajin dalam bekerja, setiap paginya dia bekerja untuk menggarap kebun dan menenami benih benih sayuran yang nantinya akan dijual ke kota.
Ali, tinggal bersama istrinya di rumah yang sederhana. Tetapi dengan kesederhanaan itu, mereka mampu untuk sama sama berjuang mencari keridhaan Allah. Terbukti dari Ali dan Fatimah yang senantiasa menjaga sunnah nya Rasullah. Mulai dari berpuasa senin kamis, menjalankan solat sunnah tahajud tiap harinya. Mereka satu sama lain selalu memberi dukungan. Rasa cinta yang tumbuh dari awal mereka mencinta Rabb Nya. Ya, mencintai karna Allah.
Syukur dan sabar selalu menjadi sifat yang harus ada di kehidupan mereka. Ketika mereka di timpa ujian dan cobaan, mereka selalu sabar. Dan jika di beri kenikmatan mereka senantiasa berucap syukur tiada henti atas segala kebaikan Allah pada mereka. Contohnya sekarang, fatimah tengah memasuki usia kandungan nya yang ke-9 bulan.
Fatimah merupakan istri salihah, perhiasan dunia. Ia senantiasa melakukan pekerjaan atau melayani suami nya dengan baik. tak heran bila Ali sangat mencintai nya karna Allah. Mereka pun mempunyai misi bahwa mereka akan sehidup sejannah. Satu cita cita mulia Fatimah dan Ali, mereka ingin wafat husnul khotimah dalam keadaan mati syahid. Sungguh, mulia bukan cita-cita mereka.
Hari itu, dengan segala kesibukan Fatimah menerjakan pekerjaan rumahnya, Fatimah selalu berdoa sambil memegangi perutnya yang membuncit. “barakallah calon mujahid atau mujahidah ummi dan abi. Ummi dan abi selalu menunggu kamu terlahir di dunia”. ditengah doanya, entah apa yang dirasakan Fatimah sekarang. Perutnya terus saja merasakan kontarksi hebat yang membuat nya sangat merintih kesakitan.
“Ya Allah, Ya Rabb. Tolong bantu hamba. Mas Aliii, mass. Astagfirullah. Ya Rabb .” Rintih fatimah.
Terdengar dari luar rumah Fatimah, bu Fatma, tetangga Fatimah sontak langsung menolong dirinya yang tengah merintih kesakitan itu. Tak lama kemudian, suami dari bu Fatma datang dan menghampiri keduanya.
“Pak, cepat panggil Ali. Fatimah istrinya akan segera melahirkan. Nanti bapak dan Ali langsung ke Bidan Susi saja ya” pinta bu Fatma.
Bidan, di desa iwul hanya ada satu. Bidan Susi lah yang biasa membantu warga melahirkan. Sesekali bu Fatma menenangkan Fatimah yang sangat ketakutan.
“Tenang Fatimah, tidak akan terjadi apa- apa” bu Fatma yang tengah menenangkan Fatimah, tiba-tiba pintu kamar terbuka, dan Ali sontak berlari kearah istrinya, yang tengah memperjuangkan buah hati mereka.
“Yang sabar sayang, kamu harus berjuang. Kamu wanita salihah yang kuat. Aku menanti kamu dan bayi kita. Ini jihad seorang wanita.” Usaha Ali menenangkanistrinyaFatimah .
“Aku, ga kuat mas. Rasanya sangat sakit sekali. Ya Rabb.” Dengan nafas terengah engah.
“Li, kamu dipanggil bidan Susi diluar” Bu Fatma yang masuk kedalam untuk menenagkan Fatimah.
Ditengah kepanikan Ali, Bidan Susi memberi kabar bahwa Fatimah istrinya harus di rujuk ke Rumah sakit untuk penanganan operasi Caesar. Dikarnakan bayi yang ada dikandungan Fartimah posisinya sungsang. Dan tidak susah jika harus bersalin secara normal.
“Sebentar saya akan buatkan surat rujukan nya dulu” Kata bidan Susi.
“ Baik, saya tunggu”
Di rumah sakit Harapan Pelita, Fatimah segera dibawa masuk keruang operasi untuk proses bersalinnya.
“ Bapak tunggu di luar, dan tolong selesaikan administrasinya” Ucap salah satu suster yang akan membantu persalinan istrinya.
“Total nya 10 juta rupiah pak, bapa harus membayarsetengah nya untuk kita dapat mengoperasi istri bapak” Ucap petugas administrasi rumahsakit Harapan Pelita.
‘Ya Rabb, bagaimana caranya hamba mendapat uang sebesar itu dalam waktu dekat? Sedangkan istri hamba harus secepatnya mendapat pertolongan. Ya Allah, kasih hamba petunjukMu’ Doa Ali dalam hati.
“Baik mbak, saya akan segera datang”
Ali sangat kebingungan, dengan sepeda ontel yang selalu ia kendarai jika bepergian kemana saja. Ia tengah bingung sekali dengan keadaan seperti saat ini. Dia mencoba meminjam uang kepada boss nya Rohadi. Ali segera mungkin mendatangi gudang penyimpanan hasil perkebunan milik Rohadi.
“Assalamualaiakum pak,” Ucap melas Ali dengan tampang kusutnya.
“Waalaikumsalam. Ada apa? Jawab Rohadi malas.
“Gini pak, saya ingin meminjam uang untuk biaya operasi caesar istri saya pak. Saya mohon saya sangat butuh uang 10 juta pak” Pinta pengharap Ali kepada Rohadi.tengah melipati pakaian dirinya dan Ali suaminya.
“10 juta ga jumlah yang sedikit Ali. Ck, bagaimana kamu akan membayarnya?’’
“bapak bisa potong gaji saya sebulan” jawab Ali
“Eh eh eh eh, jangan mas. Dia gak akan bisa membayarnya.” Timpal istri Rohadi.
“Mau berapa tahun kamu melunasinya? 10 tahun? Haha, kamu benar sayang. Saya tidak akan memberikan pinjaman kamu uang Ali. Sudah sana pergi, ganggu saja kamu ini” Caci Pak Rohadi kepada Ali.
“Baik pak Assalamualaikum” jawab pasrah Ali.
Memang sifat Rohadi yang tak pernah peduli kepada siapapun, bahkan kepada Ali yang notabenya pkerja dia. Seperti yang warga lain katakan, hati dari Rohadi sudah sangat membatu.
Ditengah ketidak tahuan arah Ali untuk meminjam uang dari mana, Ali yang berjalan menuntun ontelnya bertemu dengan pak Herman
“Kenapa kamu Ali? Spertinya kamu sedang ada masalah?” tanya pak Herman kepada Ali yang masih asik terlamun dalam fikiranya.
“Ah iya pak, saya sedang bingung mencari biaya untuk operasi ceasar istri saya.” Jawab Ali ragu. Ragu karna pasalnya dia bingung. Apakah ia harus minjam kepada pak Herman seorang rentenir.
“Jawab, kamu butuh berapa. Li Ali.” Ucap pa Herman sambil menepuk pundak Ali.
Ya Allah maafkan hamba. Hamba tiodak punya cara lain dalam waktu dekat ini’ batin Ali.
“Saya butuh 10 juta pak,” ucap Ali dengan nada lemas.
“Oke, oke. Ini 10 juta. Tapi ingat, tagihan tiap bulanya tidak boleh telat,” ancam pak Herman
“Baik pak, Assalamualaikum” Ucap semangat Ali.
Ali mengatahui, bahwa perbuatannya adalah hal yang dilarang Allah. Mungkin jika saja istrinya tahu, pasti Fatimah akan melarang Ali untuk menerima nya. Tapi mau bagaimana lagi, Ali merasa sudah sangat putus asa, Ali khilaf. Karna ketidakbiayaan dirinya. Sebelum mencari pinjaman kepada pak Rohadi pun, Rohaditerlenih dahulu memecahkan celengan nya. Dan hanay terkumpul uang sebanayak 800 ribu saja. Maka dari itu, Ali berani menerima tawaran yang diajukan pa Herman pada dirinya.
Di rumah sakit Harapan Pelita, Ali sedang menunggu di depan ruang operasi. SekitarAli menunggu di musolah untuk memanjatkan doa untuk keselamatan istri tercintanya dan memohon ampun kepada Rabbnya. Bahwa dirinya telah melakukan kesalahan besar, yakni riba.
Setelah nya ia kembali lagi menunggu depan ruang operasi dengan rasa khawatir dan cemas dengan keadaan istri dan anaknya. Sesekali dia menginagat bahwa perjuangan istrinya yang sangat sulit untuk memperjuangkan buah hati mereka. Hatinya senantiasa berdzikir untuk meminta pertolongan dari Allah.
1 jam berlalu, hingga dokter keluar dengan wajah yang tidak tahu artinya. Antara suka dan duka.
“bagaimana kondisi istri dan bayi saya dok?’’ antusias Ali.
“bayi anda lahir dengan selamat dan sehat. Tapi kami mohon maaf bahwa istri bapak menagalami pendarahan yang hebat. Sehinngga nyawanya tidak dapat tertolong” jawab dokter Lina yang menagangani operasi caesar Fatimah.
Sesegera mungkin Ali mengahampiri kedalam ruang operasi. Diliatnya ada seseoraanng yang terbaring dan ditutupi kain putih, pertanda bahwa orang tersebut telah meninggal dunia.
“Fatimah Az zahra. Bangun sayang, bangun. YA Allah sayang, cita cita kamu untuk meninggal dalam keadaan syahid telah terkabul. Sayang, terima kasih karena telah berjuang melahirkan mujahidah untuk ku. Ana Uhibbuka fillah ya zaujati. Tenanglah, dan tunggu aku di surga.” Ucap Ali penuh cinta.
Ali tahu, bahwa sesungguhnya kami milik Allah dan hanya kepada Allah kami kembali.
“Aku ikhlas sayang terhadap dirimu. Wanita dan istri salihah dirimu, masuklah kamu ke jannah nya Allah. Sungguh aku menyadari bahwa takdir Allah sangatlah indah dari rencana yang kita harapkan,” tak sadar setetes air mata jatuh dari pipi seorang laki laki yang begitu mencintai istri dihadapannya ini.
“Ya zaujati, istri ku tercinta. Ya Fatimah Az Zahra. Jika kamu berada disurga dan nanti kelak tidak menemukan diriku didalamnya, maka carilah aku ke dalam neraka. Dan berkata lah kepada Allah, bahwa kita pernah berjuang Sama-Ssama menggapai ridha Allah swt di dunia ini. Selamat jalan ya zaujati. Ana uhibbuka fillah.” Ucap Ali dengan tegar yang diiringi sesengukan tangis yang tak dapat terbendung.
Hari berganti, ia dan putri kecil nya sedang berada di dalam rumahnya. Ia merawat putri kecilnya, yang bernama Aisyah Putri Fatimah. Ali merawat Aisyah dengan kasih sayang yang begitu besar. Saat ini Ali tengah meminumkan Aisyah sebotol susu formula. Sesekali dirinya teringat akan almarhummah istrinya Fatimah.
“Fatimah, seandainya kamu liat putri kecil kita ini. Dia sanagatlah cantik seperti dirimu. Dia juga Insya Allah akan sperti dirimu, yang menjadi wanita salihah dan kelak akan menjadi istri salhah sperti dirimu. Dan andai pula kamu ada disini, pasti kamu yang akan merawatnya.” Tetesan air bening lolos menembus bendungan yang ada dimatanya.
Ali rindu akan istri yang selalu melayani nya dengan tulus, yang senantiasa menjaga pandangan serta kehormatanya di depan lelaki ajnabi. Ya dia sangat merindukan istrinya saat ini. Tempat pengusir penat kala ia lelah bekerja.
Hari kedua tepat lahir putri kecilnya. Putrinya kini sedang menangis karna kehausan. Ali sedikit mengerti bahwa jika anak nya itu tengah kehausan dan ingin meminum susu. Tetapi uang yang tersisa di Ali, tidak cukup untuk membeli susu putrinya itu, terlebih sudah hari ketiga ia tidak masuk bekerja.
Di tempat perkebunan miliknnya, Rohadi dan istrinya sudah sangat geram dengan tingkah Ali yang seenaknya saja meninggalkan pekerjaan nya menurutnya. Hingga mereka berdua memutuskan untuk menegur Ali dengan datang ke rumahnya. Bahkan ia dan istrinya tidak segan-segan untuk memecat Ali dari pekerja di perkebunannya.
Tok tok tok.........
“Ali, cepat keluar!” Teriak Rohadi.
Ali yang keluar bersama putri tercintayangberada digendongan nya yang kini sedang menangis karna kehausan.
“Ehh, pak Rohadi. Ayo pak, bu silahkan masuk.” Ajak Ali dengan ramah.
“eh, Ali ! kemana aja kamu? Seenaknya kamu kerja.” Ucap istri Rohadi.
“ maaf pak, bu. 2 hari ini saya mengurus bayi saya di rumah. Soalnya tidak ada yang menjaga putri saya jika saya bekerja.” Jawab Ali dengan mengayun ayun kan putrinya agar tidak menangis lagi.
“Ohhh, kalau seperti itu kamu tak usah bekerja lagi di perkebunan suami saya. Masih banayak warga sini yang mau bekerja di tempat suami saya. Nanti suami saya bisa rugi kalau kamu terus terus sperti ini. Ingat ya, kami ga akan segan-segan untuk memecat kamu!” Ucap istri Rohadi dengan suara tingginya yang memaki Ali.
“Maaf bu, pak. Tolong jangan pecat saya, saya sangat butuh pekerjaan ini. Tolong, saya harus membiayai putri saya ini.” Jawab Ali pasrahhh.
“Baik lah, mulai besok kamu ga boleh seenaknya saja kalau bekerja. Ancaman istri saya tadi tidaklah main main.” Ancam rohadi pada Ali.
“baik pak. Saya akan besok masuk.”
“Ya sudah, Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam”.
Pak Rohadi beserta istrinya pulang kembali keperkebunan nya. Sedang Ali langsung masuk menenangkan anaknya, yang sedari tadi menangis dikarnakan kehausan.
Tokk Tokk Tokk.. “Assalamualaikum” Bu Fatma ucapkan salam mengunjungi rumah Ali.
Ali yang tengah berusaha mendiamkan putrinya tersebut lantas membuka pintu untuk bu Fatma. Bu Fatma mengunjungi Ali, karna ia baru saja melihat Pak Rohadi dan istrinya mendatangi kediamannya sambil memaki dirinya.
“Li, besok kamu kerja saja, dan Aisyah biar saya saja yang jaga. Oh iya, ini juga saya punya sedikit rezeki untuk A   isyah membeli susu. Itu dia nangis saja, karna kehausan” ucap Fatma
“Subhannalah, yang benar? Bu Fatma mau menjaga Aisyah saat saya bekerja? Masya Allah bu, saya sungguh tidak enak kepada ibu. Karna banyak sekali saya merepotkan ibu.” Jawab Ali.
“Iya tak apa, tak usah sungkan dengan saya.  Ya sudah saya pulang dulu ya.” Sambung bu Fatma.
Betapa senangnya perasaan Ali saat ini, di saat dirinya kesusahan dan membutuhkan pertolongan, Allah selalu saja memberikan bantuan dari yang tak di sangka-sangka. Sungguh maha besar Allah yang tak akan pernah meninggalkan hambanya dengan keadaan susah.
Pagi, yang membuat suasana hati sejuk bagi insan yang merasakan nya. Nikmat Allah yang tak akan pernah terhitumg besarnya. Nikmat jiwa yang masih menyatu dengan raga, untuk itu patut bagi hambaNya senantiasa bersyukur. Begitulah suasana hati Ali, karna banyak nikmat yang telah dirinya dapatkan setelah banyak cobaan yang dialaluinya.
Kicau burung yang menyapa pagi nya seseorang yang berubah status menjadi seorang ayah sekaligus ibu untuk mengurus putri tercintanya. Dengan semangat yang besar, Ali segera bergegas untuk menjemput rezekinya pagi ini. Namun baru sehari Ali bekerja, ia mendapatkan kabar yang kurang mengenakkan dari bu Fatma, bahwa ia tidak bisa menitipkan lagi anaknya dengan bu Fatma dikarenakan suaminya yang kurang senang dengan keberadaan anak kecil di rumahnya. Ali sontak memikikan keadaan anaknya apabila ia tingal bekerja, akhirnya dengan terpaksa Ali membawa anaknya yang masih sangat kecil itu untuk ikut bersamnya pada ssat bekerja di kebun Pak Rohadi.
Disaat Ali sedang bekerja datang Pak rohadi dengan raut wajah yang keliahatan sedikit marah “kamu niat kerja atau tidak?, mengapa kau bawa anakmu kemari, kalau dia menangis bagaimana? Dia pasti akan mengganggu kerjamu!” Ujar Pak Rohadi.
 Ali pun menjawab “ maaf pak, saya bawa anak saya ikut dengan saya dikarenakan ia tidak ada yang mengurusinya dirumah. Tenang saja pak anak saya tidak akan rewel dan mengganggu kerja saya”.
“saya tidak yakin, pasti anak mu itu akan jelas menggangu pekerjaan mu!” Tegas Rohadi.
“Tidak pak, insya Allah tidak akan menganggu pekerjaan saya. Lagi pula putri saya tidak rewel. Saya mohon pak”. Pinta Ali.
“Terserah kamu saja. Awas saja kalau anak mu itu menganggu pekerjaanmu. Langsung bawa pulang anak mu itu.”Ucap Rohadi.
“baik pak, baik” jawab Ali.
Lantas ali yang sudah mendapat izin itu langsung membawa Aisyah putri kecilnya itu kesebuah saung dekat ia bekerja. Belum lama ia bekerja, Ujang temanya menegur nya.
“Li, anak lu nangis itu.’’ Ucap ujang.
“Ali, kamu dengar itu! Anak mu menangis dan itu menganggu kerjaan kamu kan?. Cepat bawa pulang anakmu itu.” Timpal Rohadi teriak.
Ali pun menghampiri saung yan g terdapat anaknya itu.
“Suttt, sayang . Aisyah jangan nangis ya sayang.”
Seorang tetangga Ali, yang melihat Ali kesusahan dan kewalahan jika harus bekerja dan merawat anaknya sendirian, lantas menawarkan dirinya untuk bisa menjaga Aisyah.
“Assalamualaikum” Ucap Tini.
“Waalaikumsalam. Sutt sutt” sambil menimang nimang Aisyah yang sudah berhenti menangis.
“Mas, apa boleh saya yang menjaga Aisyah ketika mas sedang bekerja. Kebetulan juga Tini dan suami juga senang kepada anak anak.” Tawar Tini ke Ali.
“Apa mba Tini serius? Terimakasih kalau seperti itu. Mulai besok apa boleh saya menitipkan Aisyah kepada mba Tini. Dan setiap jam 5 sore, Aisyah akan saya jemput ya mba” Ucap Ali.
“Iya mas tidak apa apa. Lagi pula saya sangat senang dengan keberadaan anak kecil di rumah saya.”
Ali sangat bersyukur atas bantuan yang telah ditawarkan mba Tini tetangganya. Karna dalam setiapn apa yang dilakukan oleh Ali selalu melibatkan Allah didalamnya. Sehingga, jika ia merasa kesusahan pasti Allah akan menggantikan dengan kelapangan.
Tak terasa 6  tahun telah berlalu, dengan usaha dan kerja keras Ali yang dapat membesarkan Aisyah hingga sudah sebesar ini. Hari ini, hari pertama Aisyah masuk ke Sekolah Dasar Negriciparuas 1.
“Abi, Aisyah ingin jadi seperti ummi. Kata Abi ummi adalah perempuan cantik dan juga solehah kan? Kata abi, abi ngasih nama Aisyah karna abi ingin Aisyah menjadi perempuan yang cantik akhlak dan juga menjadi perempuan salihah kan? Terus Aisyah juga pengen jadi dokter abi. “ Ucap polos Aisyah.
“Masya Allah, putri abi sudah semakin pintar. Aisyah tau gak? Aisyah itu malaikat kecil nya Abi. Wahhh, Aisyah ingin jadi dokter. Oke siap, cita-cita kamu harus terwujud ya sayang.” Jawab Ali yang sedikit berkaca mendengar tutur Aisyah yang mengingatkanya dengan Istri tercintanya itu.
Tepat di depan sekolah pertama Aisyah, Ali berpesan.
“Aisyah, putri abi tersayang. Belajar yang pinter ya sayang. Harus hormati guru Aisyah ya. Ga boleh nakal juga.” Pesan Ali.
“baik abi. Asalamualaiakum” ucap Aisyah sembari mencium tangan abinya.
Setelah itu, Ali bergegas menuju perkebunan tempat ia bekerja dengan menggunakan sepeda ontel. Sesampainya diperkebunan Ali melihat pak Rohadi serta istrinya sedang memarahi pekerja yang lain.
“maaf pak, saya telat. Saya habis mengantarkan anak saya ke sekolah.” Ujar Ali dengan nafas terengah engah.
Namun Rohadi tak peduli dengan alasan yang diberikan oleh Ali.
“seenaknya aja kamu ya! Sudah dikasih toleransi banyak, malah tambah gatau diri.” Ujar istri.
“Baiklah, mulai sekarang kamu saya pecat.” tegas Rohadi.
“Mohon pak, jangan pecat saya. Saya sangat membutuhkan pekerjaan ini.” Pinta Ali dengan sangat memohon.
“Sudah jangan banyak omong, pokoknya kamu saya pecat. Pergi sanaaa!” lantas Pak Rohadi dan istrinya pun pergi meninggalkan dirinya.
Keesokan harinya menyambut pagi yang cerah dengan semangat juang untuk mencari pekerjaan baru, Ali pun sebelum ia terlebih dahulu mengantarkan Aisyah ke sekolah.Sesudah mengantarkan Aisyah ke sekolah dengan membaca basmallah dan meluruskan keyakinanya bahwa Allah akan membuka pintu rezeki dengan pekerjaan yang baru.
Ali pun bergegas dengan mengendarai sepeda ontelnya, disetiap perkebunan. Ia menawarkan diri kepada pemilik kebun mengenai masih adakah lowongan pekerjaan untuk dirinya. Namun, dari sekian banyak perkebunan yang ia datangi, tidak ada satupun yang dapat menerima ia untuk bekerja disana.
Tak terasa matahari sudah semakin terik, Ali yang masih sibuk mencari pekerjaan tersadar bahwa ia melupakan sesuatu yaknimenjemput anaknya. Lantas ia pun bergegas untuk sampai kesekolah anaknya dengan secepatnya. Namun, saat ia sudah sampai disekolah, ia tidak mendapati anaknya berada di sekolah kecemasan Ali pun semakin menjadi kala satpam mengatakan bahwa Aisyah sudah pulang dari tadi.
Ditempat lain, Aisyah yang merasa bersalah karna telah melanggar janjinya kepada abinya untuk tidak pulang terlebih dahulu sebelum abinya menjemput terus berjalan dengan lamunan nya hingga tak fokus pada jalan yang tenmgah dilewatinya.
AAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!
BRUKKKKKKKKKKK!!!!!!!!!
Mendengar suara tabrakan, warga yang berada di tkp langsung berbondong bondong menolong Aisyah yang tertabrak mobil pickup.
“baik pak baik, saya akan bertanggung jawab atas biaya dan lainya.” Ucap supir pickup.
“ri, lu ikut bapaknya ini ya bawa anak ini ke RS Pelita Indah, takutnya dia kabur” Ucap warga 1 ke yang lainya.
Sesampainya di rumah sakit, Ali yang telah mendapat kabar bahwa putri tercintanya mengalami kecelakaan.
“Bapak, ayah dari anak yang saya tabrak?” ucap supir pickup.
“Mana anak saya?” ucap Ali penuh khwatir.
“tenang pak tenang, anak bapak sudah ditangani oleh dokter. Saya akan bertanggungjawab atas semua administrasi yang dibebankan.”
Tak lama seorang dokter keluar dari ruang ICU. Dan menjelaskan bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Karna, pingsannya anak bapak hanya karna mengalami syok akibat tertabrak. Lantas Ali yang semula khawatir menjadi sedikit tenang atas kabar yang telah diberikan dokter.
Pagi harinya Ali bergegas kembali untuk mencari pekerjaan setelah mengantarkan anaknya ke sekolah. Tepat di perkebunan dekat desa iwul tempat ia tinggat terdapat perkebunan baru yang tanahnya belum ditanami, nah disitulah Ali yakin dengan sepenuh hati bahwa ia akan diterima.
“Assalamualaikum, pak apakah saya dapat membantu bapak untuk mengerjakan kebun ini?.”ucap Ali
“iya silahkan. Namun, apakah kamu bisa mengelola kebun yang masih kosong ini ?.”
“oh kebetulan pak saya bisa menanam lahan kosong ini dengan menanam mentimun. Saya janji akan bertanggung jawab dan bekerja keras sepenuhnya terhadap kebun ini.” Ucap Ali
Setelah beberapa lama kerja di kebun tersebut hasil perkebunan yang ali kerjakan mendapatkan hasil yang sangat memuaskan dan mendapat keperayaan dari si pemilik lahan.
Disamping itu kawannya ujang terancam dipecat dikarenakan kebun pak rohadi bangkrut, Karena hasil panennya yang jelek. Ujang mengatakan panen sebelumnya adalah  hasil dari kerja ali, maka dari itu kebun yang digarap ali sekarang hasilnya sangat memuaskan. pak rohadi pun menyuruh Ujang untuk mengacak-ngacak kebun yang digarap oleh Ali. Namun Ujang menolak,pak rohadi tetap memaksa sampai meranyuap ujang dengan uang. Akhirnya ujang bersedia untuk mengacak ngacak kebun yang digarap ali dengan rasa sedikit kasihan.
Keesokan harinya....
“Mengapa kebunku jadi seperti ini” ucap ali dengan sedih melihat kebunnya yang rusak.
Beberapa hari kemudian setelah kejadian itu Ali menuai hasil panen yang sangat yang memuaskan. Dan hasil panennya pun terjual habis ke penadah mentimun.
Disamping itu ia mendapat kabar bahwa kawannya yang bernama ujang sudah dipecat dari perkebunan milik pak rohadi maka dari itu ali ingin menawarkan kepada ujang untuk membantunya merawat kebun pak saptaji. Namun, ketika bergegas ke rumahnya ujang, ali mendengar percakapan antara ujang dang istrinya.
“Kamu dipecat? Lantas bagaimana nasib kita?” ucap istri Ujang
Diammm
“Dengar dengar si Ali sudah bekerja di perkebunan orang, minta pekerjaan saja kepada Ali” suruh istrinya kepada Ujang.
“hmmmm... saya malu, karena saya yang telah merusak perkebunannya dulu.” Ucap Ujang
“Hah.. mengapa kau lakukan mas?” tanya istri Ujang
“saya terpaksa melakukan itu semua atas suruhan pak Rohadi” jawab Ujang dengan sesalnya
“OOOO.. ternyata selama ini kamu yang telah merusak kebun yang saya garap.” Ucap Ali sedikit terkejut.
“maafkan saya Ali, saya khilaf, saya melakukan semua itu karena terpaksa” ucap Ujang dengan rasa menyesal.
“ya sudah yang lalu biarlah berlalu, ditempat saya ada pekerjaan untuk kamu, apakah kamu bersedia?” tanya Ali kepada Ujang.
“iya, iya saya mau Li. Sekali lagi saya inta maaf ya. Gara gara saya panen kamu gagal.”
“ iya, saya tunggu kamu besok.” Timpal Ali.
Keesokan harinya disaat ali sedang mencangkul tanah untuk membuat gundukan yang akan ditanami bibit mentimun.
“Assalamualaikum ayahhhhhhh...” ucap Zainab anak dari bapak Saptaji
“Waalaikumsalam, kamu kapan pulang ndok? Kan ayah bisa jemput ndok ke bandara” lanjut Saptaji
“kan mau buat kejutan untuk ayah”.
“oalahh.. yasudah, ini kenalkan Ali, dia yang ngurus tanah ayah ini”
“Mas Ali...
Seketika Ali menundukan pandangan

FLASHBACK
“Apa benar kamu ingin pergi ke kota untuk melanjjtkan study mu, tidak bisakah kamu untuk tetap tinggal disni” Ucap Ali
“Maaf ka, keputusanku sudah bulat aku tetap ingin mengejar cita-citaku.Jika kamu ingin menungguku maka tunggulah aku, jika kamu tidak sabar maka menikahlah dengan perempuan yang lebih baik dariku”
“Baiklah jika itu sudah menjadi keputusanmu, aku tidak bisa melarangnya lagi pun jika kita berjodoh akan bertemu kelak”.
“Oooo.. kaliann sudah saling kenal?” tanya pak Saptaji
“Tante.. tente kenalin aku Aisyah anak dari abi Ali”
“Masyaallah cantik sekali kamu”
Keesokan harinya di rumah Saptaji, Zainab yang penasaran tentang laki-laki yang pernah mengajaknya untuk menikah bertanya kepada ayahnya.
“Ayah... kak Ali menikah dengan siapa?” tanya Zainab dengan sedikit penasaran
“Sama Fatimah anak kampung sini juga, tetapi ia telah meninggal saat melahirkan anaknya Aisyah, dan sekarang Ali mengurus anaknya sendiri.” Jawab ayahnya
“Masyaallah.. sungguh mulia istrinya kak Ali itu”
Akhirnya Ali dan Fatimah bekerja sama dalam mengelola kebun dengan baik untuk menghasilkan hasil panen yang lebih berkualitas.
Dan pada akhirnya Ali, yang senantiasa sabar dalam menjalani ujian dan cobaanya meraih kesuksan nya. Pak saptaji menghibahkan tanahnya untuk Ali. Dan sekarang Ali menjadi juragan mentimun.
Dan roda kehidupan berbalik. Singkat cerita Rohadi mengalami kesengsaarana yang berawal dari istrinya selingkuh dan membawa semua hartanya, sakit stroke. Tetapi dengan kemulian hati Ali, ia tidak sedikit pun menuruh dendam pada Rohadi yang sudah mendzoliminya Dan sejumlahuangyang telah di pinjam Ali kepada seorang rentenir itu pun sudah terbayarkan dengan hasil kerja kerasnya dalam menanam mentimun.

0 komentar:

Posting Komentar