Sabtu, 20 Juni 2020

Maafmu itu; Sesuatu Bagiku



Pagi ini terasa begitu panas tak seperti biasanya, sinar matahari pagi membangunkan tidurku yang lelap. Kupaksaan terbangun walau mataku sangat berat untuk kubuka. Dengan setengah hati aku beranjak pergi ke kamar mandi.
Padahal aku sudah semester akhir, namun aku masih sangat bermalas-malasan yang harus sudah menyiapkan sidang skripsi. Apalagi aku mempunyai cita-cita yang sangat besar yang harus kubuktikan kepada kedua orang tuaku. Ada satu kewajiban selain menyelesaikan sidang skripsiku, salat lima waktu yang masih jarang bahkan terkadang kujalankan. Dan bahkan nyatanya untuk mengaji saja aku tidak waktu. Sebenarnya bukan tidak ada waktu, tapi akunya saja yang tidak ada kemauan untuk meluangkan waktu. Tak pernah ada rasa bersalah dalam diriku saat melalaikan semua kewajibanku, yah, mungkin karena sudah terbiasa jadi aku biasa saja.
Aku merentangkan tangan dan mencuci mukaku dengan air. Setelah mencuci muka aku terdiam sebentar untuk memulihkan kesadaranku, kebiasaanku yang selalu menjadi rutinitas setiap harinya. Aku terbilang malas untuk mandi dipagi hari. Berhubung hari ini tidak ada kelas pagi, aku  membantu ibu untuk membersihkan rumah. Setelah itu aku mengecek ponsel yang sudah ada notifikasi dari teman-teman juga dari grup kelas fakultas yang aku tekuni 4 semester ini.
Aku melihat salah satu chat dari temanku yang bernama Dinda, didalam roomchat itu dia memberitahuku bahwa dosen pembimbing skripsiku menagih hasil akhir skripsi yang belum terselesaikan. Aku terkejut mendapati kabar itu, aku kelabakan mencari dimana laptopku berada. Aku menghubungi dosenku karena aku meminta waktu tambahan, aku tidak mau mengulangnya setahun lagi. Orang tuaku pasti kecewa akan hal itu. Dan hari ini adalah hari sialku, dosen pembimbingku tidak memberi waktu lagi. Aku memutuskan untuk pergi ke kampus untuk menemuinya.
`       Sesampainya aku di kampus, aku langsung pergi ke ruangan dosen pembimbingku untuk mengurus skripsiku yang belum selesai.
Aku menghadap beliau dan bertanya, “Apakah saya bisa meminta tambahan waktu, Pak?”
Kemudian beliau menjawab, “Tambahan waktu? Memang kamu pikir jadwal sidang kamu masih lama? Hanya tersisa 4 hari lagi! Selesaikan, atau kamu akan sidang di tahun berikutnya?”
Dengan lesu aku menjawab, “Baik, Pak.”
        Aku tidak yakin dapat menyelesaikannya dalam waktu 4 hari. Bagaimana caranya? Sebelum aku ke tempat dosenku, aku sempat bertemu Dinda di lorong. Dinda bilang dia akan menungguku di kantin, dan sekarang kakiku melangkah ke sana. Sesampainya, aku bercerita padanya, menangis karena waktu sidangku sebentar lagi, dan skripsiku belum selesai.
        “Lalu dosenmu tidak memberi waktu tambahan untukmu?” tanya Dinda sambil menenangkanku.
        Aku menghapus air mata, “Iya, dia memarahiku tadi. Ini kesalahanku juga karena lalai dan malas untuk mengerjakannya.”
        Terdengar Dinda menghembuskan napas berat. “Kenapa kamu malas mengerjakannya? Disini aku menyalahkanmu. Pantas dosenmu memarahimu, kau yang salah. Tidak ada gunanya kamu menangis Ra, lebih baik sekarang kau kerjakan skripsimu.”
        Aku termenung, Dinda bilang begitu padaku. Aku tidak suka jika ada yang bilang itu salahku. Aku  menatapnyya dengan tatapan yang aku sendiri tidak bisa artikan. Aku tidak tahu perasaan apa yang sedang aku rasakan sekarang. Kecewa? Kesal? Atau mungkin marah? Perasaan itu bukan untuk Dinda, lebih tepatnya untuk diriku sendiri. Aku beranjak tanpa pamit, tidak peduli dengan Dinda yang memanggil namaku.
        Aku memutuskan pergi ke perpustakan mencari sumber data yang menyangkut dengan skripsiku. Dengan hati setengah jengkel, aku mencari, namun tidak ada. Kenapa sulit sekali mencarinya? Kenapa rintangannya begitu sulit? Apa yang sudah aku lakukan hingga Tuhan mengujiku seberat ini? Jika hanya tugas aku tidak masalah mendapat nilai D, karena semua nilai tugasku A. Jadi, tidak berpengaruh dalam nilai kelulusanku. Masalahnya, ini skripsi. Jika aku tidak lulus sidang, ralat, jangankan sidang, skripsinya saja belum selesai, aku sudah dipastikan mengulang tahun depan.
        Waktu sudah menjelang sore, aku putuskan untuk mencari buku di perpustakaan nasional. Berharap ada dua buku yang aku inginkan, tidak dua buku juga tidak apa. Minimal aku mendapatkan satu buku, jadi tidak sia-sia aku ke perpustakaan. Ketika aku sampai gerbang perpustakaan, kakiku lemas sudah tidak bertenaga lagi. Harapanku sudah hilang untuk mendapatkan buku. Tuhan tidak menyangiku, dia memberiku ujian yang aku sendiri tidak bisa selesaikan.
        ‘Hari ini perpustakaan tutup dikarenakan sedang ada festival’ tulisan itu, membuat harapanku hilang. Jiwa yang tadinya begitu semangat ingin mencari buku punah begitu saja. Aku bingung apa yang terjadi dengan keberuntunganku hari ini. Kemana hilangnya keberuntunganku. Dengan kaki lemas aku beranjak pergi dari perpustakaan.
        “Apa yang harus kulakukan sekarang?”
        “Ada apa denganku hari ini?”
        “Kemana hilangnya pikiranku?”
        Aku buntuh benar-benar buntuh. Sepanjang jalan kuterus memikirkan apa yang harus kulakukan, waktu yang tersisa tinggal sedikit. Jika hari ini aku tidak mendapatkan sumber data yang kubutuhkan bagaimana aku harus mengerjakan skripsiku.
Waktu sudah hampir malam dan aku tidak tahu harus mencari sumber data ke perpustakaan mana lagi hanya perpustakaan nasionalah yang paling dekat, kalau pergi ke perpustakaan lain membutuhkan waktu satu jam dan perpustakaan itu pasti sudah tutup. Aku memutuskan untuk pulang.
        Di dalam bus aku terus memikirkan harus berbuat apa. Kepalaku sakit seperti akan segera meledak, Akupun memutuskan untuk tidur sejenak di perjalanan pulang. Seketika sakit di kepalaku menghilang sejenak digantikan dengan kebahagiaan yang datang dengan berturut-turut. Aku tahu ini hanya mimpi tapi aku sangat mengharapkan ini menjadi kenyataan. Kenyataan bahwa dosen tidak akan memarahiku, tidak akan ada lagi yang namanya skripsi, dan tidak ada lagi kejar-kejaran dengan waktu. Seketika wajah dosen yang sedang memarahiku muncul dimimpiku dan akupun langsung terbangun dari tidur.
        Dengan setengah kesadaran Aku mencoba untuk melihat sampai dimana ini. Aku terkejut bahwa bus yang aku naiki sudah sangat jauh dari daerah rumahku. Aku segera memencet bel untuk turun. Secepat mungkin aku turun dari bus, aku melihat sekitar di sini sangat sepi sekali aku tidak tahu dimana ini. Akhirnya aku memutuskan untuk mengecek keberadaanku di google maps.
Lagi-lagi keberuntungan tidak berpihak kepadaku. Handphoneku mati. Apa yang harus kulakukan? Pertanyaan itu lagi yang ada di dalam kepalaku. Ada apa denganku hari ini, kenapa tidak ada satupun rencana yang berhasil kulaksanakan.
Dengan lemas, aku memutuskan untuk berjalan kaki terlebih dahulu, mencari orang yang bisa membantuku. Tak lama kemudian aku melihat ada warung, dengan semangat aku berjalan menuju warung tersebut. Ini mungkin warung satu-satunya yang ada disepanjang jalan ini, aku sama sekali belum pernah ke daerah ini. Aku memutuskan untuk bertanya kepada penjaga warung itu.
“Permisi, Bu. Saya boleh tanya ini di daerah mana ya?” tanyaku kepada penjaga warung.
“Oh ini daerah pedalaman neng” jawab si Ibu.
Apa daerah pedalaman? Kenapa bisa sampai aku ada di sini. Bukankah bus yang ku naiki tadi hanya sampai daerahku saja. Sepertinya aku salah naik bus.
“Bu, apa ada kendaraan di sini yang menuju ke kota?” tanyaku lagi.
“Kalau bus tidak ada neng, bus yang menuju ke kota sudah berhenti. Tapi kalau kereta mungkin masih ada neng.” Jawab si Ibu.
“Tidak apa-apa bu kereta juga. Stasiun keretanya ada dimana ya bu?” tanyaku.
“Tapi itu lumayan jauh dari sini neng. Kalau jalan kaki itu sangat melelahkan.” Ucap Ibu penjaga warung.
“Tidak masalah Bu.” Tegasku
“Baiklah, kamu jalan saja dari sini lurus, nanti akan ada pertigaan belok kiri dan jalan lagi lurus saja sampai kamu menemukan pangkalan ojek dan di situlah stasiun keretanya.” Ucap Ibu penjaga warung.
“Baiklah, kalau begitu saya pergi dulu. Terima kasih ya bu.” Ujarku.
Aku terus berjalan mengikuti arahan si Ibu penjaga warung tersebut. Memang betul yang di ucapannya tadi ini sangat melelahkan stasiun keretanya sangat jauh dari apa yang kubayangkan, dan  tidak ada kendaraan lain yang berlalu lintas di sini. Daerah ini benar-benar sangat sepi dengan jalan yang hanya di terangi oleh bulan.
Setelah berjalan cukup jauh akhirnya aku sampai di stasiun kereta dan langsung menuju tempat pembelian tiket. Aku masih harus menunggu kereta yang belum datang, sekitar 25 menit sudah aku menunggu dan akhirnya kereta menuju ke kota berhenti di sini.Disinilah aku, didepan rumahku dengan disambut adzan isya. Akupun bergegas membersihkan diri. Rasanya badan ku pegal, perasaanku mati rasa. Aku tidak berkeinginan untuk melakukan kegiatan apapun, perasaanku hancur disebabkan kejadian tadi sore. Yah, aku tidak tahu harus apa dan bagaimana kedepannya tapi intinya yang ingin aku lakukan sekarang ini hanya beristirahat. Mengistirahatkan tubuhku, perasaanku dari semua kegiatan yang dilakukan. Setelah selesai membersihkan diri aku bergegas ke kamarku dan membaringkan tubuhku diatas kasur. Rasanya sangat nyaman, seperti mendapatkan kehidupan baru. Yang terlintas dipikiranku hanyalah untuk segera tidur karena seluruh tubuhku yang lelah, padahal makan saja aku belum, rasanya aku sudah tidak berselera makan. Akupun berusaha memejamkan mata dan bangun esok hari dengan suasana hati yang lebih baik, yah semoga saja.
        Jam 5 pagi, terdengar suara ibuku membangunkanku untuk melakukan sholat subuh. Aku tak peduli, mata ku masih ingin dimanjakan. Akupun hanya bergumam kalau aku akan segera sholat padahal nyatanya aku kembali tidur dan melanjutkan mimpi indahku. Namun sial, aku kesiangan. Ini sudah jam 8 padahal jam 9 aku ada janji bertemu dengan dosenku. Aku bergegas membersihkan diri dan berangkat ke kampus, aku sampai meninggalkan sarapan karena aku takut telat sampai kampus.
        Aku berjalan cepat ke pos dekat rumahku untuk menaiki ojek. Aku berjalan dengan tergesa-gesa karena aku tidak ingin dimarahi oleh dosenku. Aku hanya berharap semoga hari ini memihak padaku dan tidak membuat suasana perasaanku jelek, semoga saja. Akupun menaiki ojek salah satu langganan ku. Ketika ditengah jalan tiba-tiba motor yang kutumpangi berhenti. Akupn harap-harap cemas semoga kejadian yang tidak diinginkan tidak menimpaku pada hari ini. Namun, kenyataannya tidak sesuai dengan apa yang aku harapkan. Motor yang kutumpangi mengalami bocor pada bagian bannya. Padahal kami berada jauh dari bengkel, lalu aku harus bagaimana? Mau bagaimana lagi? Mau tidak mau aku harus mencari kendaraan lain namun aku sangat cemas karena waktu sudah menunjukan pukul 8.30 itu artinya tersisa setengah jam lagi untuk aku sampai ke kampus. Aku segera turun dari ojek dan membayarnya lalu bergegas menghentikan angkutan umum. Aku berharap semoga aku bisa mengejar setengah jam waktu yang tersisa, tapi kenyataannya disinilah aku, didalam angkot yang mengetem dengan perasaan cemas. Bagaimana aku tidak cemas? Masa depanku dipertaruhka, mau ditaruh dimana wajahku didepan orangtuaku? Rasanya aku ingin menangis dan berteriak. Rasanya aku ingin meluapkan semua kekesalanku. Setelah 20 menit mengetem akhirnya angkut yang kutumpangi kembali jalan. Namun semuanya sudah terlambat.
 Aku sampai di kampus dan dosenku mengabari bahwa hari ini beliau tidak bisa menemuiku karena ada urusan mendadak. Aku benar benar frustrasi, aku tersenyum miris. Padahal aku sampai di kampus hari ini tidak mudah, banyak hambatan yang aku alami lalu tiba-tiba aku dikabarai bahwa pertemuan hari ini dibatalkan? Yang benar saja? Tahu gitu aku lebih baik langsung ke perpus untuk mencari sumber referensi untuk bahasan skripsiku. Akupun berniat akan pergi ke perpus, namun sebelum itu aku pergi kekantin fakultas terlebih dahulu karena perutku yang meronta kesakitan akibat belum makan dari kemarin dan pagi tadi. Setelah selesai dari kantin, aku bergegas untuk ke perpus dengan harapan menemukan apapun yang bisa menjadi acuan untuk tugas skripsiku. Selama diperjalanan aku merapalkan semua doaku supaya kali ini usahaku tidak sia-sia.
Sampai di perpus aku langsung menuju rak-rak buku. Aku menulusuri rak demi rak. Melihatnya dengan teliti berusaha agar tidak ada yang terlewat. Tapi, sudah 3 rak besar aku telusuri, aku belum menemukan buku yang aku inginkan. Lelah, kesal semuanya bercampur menjadi satu. Aku beristirahat sebentar dan memulai menelusuri rak lain. Pada rak selanjutnya aku menemukan buku yang aku cari. Langsung saja aku mengambilnya dan membacanya lalu langsung membuka laptopku dan menulis semua yang ada pada buku itu yang aku butuhkan tugas skripsiku. Bukunya tebal, berat, jika boleh aku tidak ingin membukanya apalagi membacanya. Tapi, apa boleh buat? Ini semua untuk kebaikanku dan tugas skprisku serta masa depanku.
Tidak terasa, sudah pukul 2 siang pantas perutku terasa lapar seperti ingin diberi asupan makan siang. Aku sampai tidak menyadari ini sudah pukul 2 siang karena terlalu fokus pada buku dan laptopku. Sampai hp ku pun tidak tersentuh, bahkan notifikasi dari teman-teman aku hiraukan. Akhirnya selesai, setelah selesai akupun membereskan semuanya dan bergegas untuk makan siang. Aku tidak tau apa yang akan aku lakukan setelah makan siang. Setidaknya, biarkanlah perutku terisi dulu supaya aku bisa berfikir jernih. Selesai makan, aku berencana untuk kembali ke perpustakaan namun laptopku low dan aku lupa membawa cashannya jadi mau tidak mau aku menyudahi perjalanan hari ini dan kembali kerumah sekaligus mengecek tugasku dirumah nanti.
Setelah sampai dirumah, aku beristirahat sebentar sembari nonton tv lalu aku bergegas untuk membersihkan diri, berharap semua kesialan ku hari ini ikut luntur terkena air. Aku tidak mengerti kenapa banyak sekali hal yang aku hadapi. Pasrah, itulah yang hanya aku bisa lakukan. Setelah selesai mandi, aku pergi kekamar ku dan membuka laptopku tidak lupa sekalian dengan mengcash laptopku. Aku mencari file yang tadi telah aku kerjakan namun kosong. Aku tidak menemukan file yang telah aku kerjakan di perpus tadi. File itu belum kesimpan? Entahlah aku tidak tau. Aku kesal, aku menangis. Aku menangis atas hari ini yang telah aku lakukan. Betapa bodohnya aku belum menyimpan filenya?
Aku harus bagaimana? Aku sangat putus asa. Mengapa ini harus terjadi kepadaku? Mengapa? Kesalahan apa yang telah ku perbuat? Aku tidak tahu lagi harus berbuat apa. Aku merenung, meratapi apa yang telah terjadi kepadaku. Aku terdiam dan berpikir apa ada yang salah dengan diriku sehingga mendapat cobaan seperti ini. Tapi, aku sangat lelah dan memutuskan untuk tidur. Aku berharap, semoga hari esok aku mendapat kabar bahagia. Aku harap setelah aku bangun dari tidurku, masalahku ini dapat selesai.
Aku terbangun dari tidur karna ibuku membangunkanku untuk menyuruhku shalat. Namun, aku mengiyakannya saja tanpa melaksankan shalat. Tiba-tiba aku terkaget, teringat suatu hal. Shalat. Apakah semua cobaan yang terjadi kepadaku karna aku sangat jarang beribadah? Sayup-sayup aku mendengar ibuku sedang menonton tv, akupun segera keluar kamar dan ikut bergabung bersama beliau. Aku tidak menonton tvnya, hanya duduk disebelah ibuku sambil memainkan handphoneku.
Apa yang sedang ibuku tonton di tv? Mengapa terdengar banyak ayat Al-Quran yang terdengar? Aku penasaran, langsung ku tolehkan kepalaku menghadap ke tv. Ternyata, ibuku sedang menonton acara ceramah. Akupun memerhatikan acara tersebut. Ustadz yang sedang ceramah ternyata membicarakan tentang pentingnya ibadah shalat 5 waktu. Beliau juga menjelaskan dosa yang didapat jika tidak melaksanakan shalat 5 waktu.
Tiba-tiba aku tersadar, aku sangat jarang melaksanakan shalat 5 waktu. Aku selalu mengabaikan adzan, panggilan untuk shalat. Apakah cobaan yang terjadi kepadaku adalah karna aku jarang melaksanakan shalat 5 waktu? Apa benar begitu? Apakah cobaan ini sebuah teguran Allah kepadaku agar aku melaksanakan kewajibanku sebagai muslim? Ah, pusing sekali aku memikirkannya. Lebih baik aku mandi dan segera ke kampus untuk menemui dosenku.
Setelah mandi, akupun bergegas pergi ke kampus. Sesampainya di kampus, aku segera memasuki rua ng dosen pembimbingku.
Akupun berkata, “Pak, file skripsi saya hilang karna saya lupa menyimpannya setelah saya menyelesaikannya kemarin. Bisakah Bapak beri saya waktu 3 bulan? Saya mohon, Pak.”
Beliau menatapku lama dengan tatapan yang tidak aku ketahui apa arti dari tatapan tersebut.
Tiba-tiba beliau berkata, “Sebenarnya, kamu ini niat mau lulus tidak sih? Memang kamu tidak punya salinan file skripsimu? Bagaimana kamu mau sidang jika file skripsimu hilang, hah!”. Beliau marah? Tidak. Tapi, beliau sangat marah padaku.
Aku hanya bisa terdiam dan menahan tangisku agar tidak pecah didepan dosen pembimbingku. Didalam pikiranku, aku membenarkan perkatan dosen pembimbingku. Mengapa aku tidak menyalin file skripsiku yang penting itu? Bodoh sekali aku. Akupun pamit dari ruang dosen pembimbingku dan segera ke perpustakaan kampus. Sesampainya di perpustakaan, aku segera menyalakan laptopku. Mengutak-atik laptopku, barangkali file skripsiku masih ada.
Satu jam aku habiskan untuk mencari file skripsiku. Tapi apa hasilnya? Tidak ada. Tidak ada satupun sisa dari file skripsiku. Aku sangat lelah satu jam didepan laptop. Mataku berair karna lelah. Aku tidak tau harus berbuat apa, aku sedang tidak bisa berpikir saat ini. akupun mematikan laptopku dan bergegas untuk pulang.
Setelah sampai rumah, akupun langsung rebahan diatas kasur. Tidak peduli apa yang akan terajadi pada skripsiku. Aku sudah sangat lelah dengan berbagai cobaan yang menimpaku. Terlalu lelah memikirkan skripsi, akupun tidur. Tanpa membersihkan diriku, aku sangat lelah. Biarlah, entah hari esok akan seperti apa.
Suara adzan terdengar, akupun terbangun dan bergegas menyalakan laptopku untuk mengerjakan skripsiku. Aku mengerjakan beberapa bab yang hanya aku ingat isinya, itupun tidak begitu lengkap. Tidak terasa waktu terus berjalan dan menunjukan pukul 7 pagi. Aku segera pergi mandi karna aku harus pergi ke perpustakan nasional untuk mencari bahan referensi untuk skripsiku.
Sesampainya aku di perpustakaan nasional, aku langsung menuju ke rak bagian buku yang aku butuhkan. Setelah menemukan bukunya, aku langsung membaca dan memahaminya. Setelah itu, aku langsung mengerjakan lanjutan skripsiku. Aku mengerjakan skripsiku dengan serius, dan tidak terasa sudah hampir selesai. Aku lelah, dan memutuskan untuk menyudahi mengerjakan skripsinya dan tidak lupa untuk menyalin file skripsiku ke dalam flashdisk. Setelah itu, aku bergegas untuk pulang karna hari sudah sore.
Aku pulang dengan menaiki bis yang tujuannya ke daerah rumahku. Pada saat di bis, sayang sekali aku tidak kebagian tempat duduk dan terpaksa harus berdiri. Di dalam bis yang aku tumpangi sangat penuh dan sesak. Dan akhirnya bis sudah sampai di daerah perumahanku. Akupun melanjutkan perjalanan dengan menaiki ojek.
Sesampainya di rumah, aku langsung pergi membersihkan diri. Setelahnya, aku memutuskan untuk melanjutkan skripsi. Selama 2 jam aku mengerjakan skripsi, akhirnya skripsiku selesai. Akupun langsung menyalinnya ke dalam flashdisk dan bergegas ke tempat fotokopi untuk mengeprint file tersebut agar bisa langsung direvisi oleh dosen pembimbingku.
Aku pergi ke tempat fotokopi dengan mengendarai sepeda, karena jarak yang lumayan jauh. Sesampainya disana, ternyata ramai sekali dan aku harus menunggu selama 30 menit. Setelah selesai diprint, akupun segera pulang. Hari sudah malam, aku lelah karna seharian ini mengerjakan skripsi. Karna lelah, aku tidak melihat lubang jalanan yang rusak. Akibatnya, aku terjatuh karna aku lelah. Dan sialnya, aku terjatuh pada bagian lubang yang tergenangi air dan kertas skripsiku basah. Aku terdiam karena kertas skripsiku yang basah.
Waktu yang diberikan dosen pembimbingku hanya tersisa besok, dan seharusnya kertas skripsiku besok sudah direvisi oleh beliau. Tetapi, kertas itu sudah basah jatuh ke genangan air. Ingin kembali ke tempat fotokopi juga tidak mungkin, karna sudah tutup saat aku pergi dari sana. Akhirnya, aku melanjutkan perjalanan pulang dengan menuntun sepedaku. Mungkin, besok masih ada waktu untuk mengeprint ulang skripsiku.
Dan keesokan harinya pengumpulan skripsi akhirku, untungnya malam kemarin masih ada waktu untuk mengeprint ulang skripsiku.setelah mengumpulkan skripsiku, aku berniat untuk merilekskan fikiranku setelah pusing dengan segala urusanku mengenai skripsi ditengah-tengah perjalanan aku melihat temanku yang sedang berada dimushala, ia sedang melaksanakan shalat sekilas aku melihat tanganku untuk melihat jam, dalam benakku bertanya “ shalat apa yang sedang ia lakukan dipagi hari seperti ini ?”.
Aku menghampiri seorang wanita berhijab yang ku lihati dari depan mushalah yang sedang melakukan shalat, aku berkata kepada temanku yang sedari tadi ku lihati yang bernama kanaya menanyakan “ kamu sedang melakukan shalat apa dipagi hari seperti ini ?” .
Kanaya menjawab “oh aku sedang melakukan shalat dhuha” aku berfikir sejenak lalu bertanya kembali “ memang ada shalat dhuha, setauku aku tidak ada shalat yang bernama shalat dhuha ?” .
“ada shalat dhuha itu termasuk shalat sunah, banyak sekali shalat sunah namun yang kulaksanakan saat ini yaitu shalat dhuha yang dapat dikerjakan dari jam 07.00-11.00 pagi hari “.
Aku bertanya kembali “apa manfaatnya shalat dhuha ?”.
“nih yah ira terkadang banyak orang yang menyebutkan shalat dhuha itu shalat paksakan mengapa seperti itu banyak orang menyebutnya shalat paksakan karena disaat kketika ingin sesuatu atau meminta dipermudah dalam segala urusan kita meminta kepada allah, berharap untuk allah membantu dan mempermudah segala urusan didunia, untuk lebih sempurna meminta sesuatu yang diinginkan kita dapat melaksanakanshalat tahajud.”
Sekilas aku bergeming dengan jawaban kanaya, aku teringat apa yang selama ini terjadi pada diriku ketika ku melakukan skripsi dengan banyak sekali rintangan dan tantangan, bisa jadi ini teguran allah kepada ku, karena selama ini aku sudah lalai menjalankan kewajibanku, bahkan sampai aku tidak mengenal nama-nama dalam shalat sunah, hatiku merasa sakit aku banyak sekali keinginanku untuk harus ku lakukan demi cita-cita ku demi masa depanku tapi aku meninggalkan kewajibanku.
Dan tanpa ku fikirkan semua skripsi dan urusan dunia dapat terselesaikan itu karena rencana dari allah.tanpa ku sadari aku air mataku sudah membajari pipiku dan aku langsung memeluk kanaya dan menceritakan kesusahan dalam hidupku yang selama ini telah terjadi. Kanaya mengerti dengan masalahku, kanaya mengelus kepalaku dan menasihati ku.
Sejak saat itu aku ingin bertekad kembali kepada allah, dan meminta ampun karena selama ini aku telah melalaikan segala kewajiban yang harus ku lakukan kepada allah.dan membiasakan diri untuk menjalankan shalat lima waktu dan mengaji  disetiap selesai shalat.

0 komentar:

Posting Komentar