Pagi ini terasa begitu panas
tak seperti biasanya, sinar matahari pagi membangunkan tidurku yang lelap.
Kupaksaan terbangun walau mataku sangat berat untuk kubuka. Dengan setengah
hati aku beranjak pergi ke kamar mandi.
Padahal aku sudah semester
akhir, namun aku masih sangat bermalas-malasan yang harus sudah menyiapkan
sidang skripsi. Apalagi aku mempunyai cita-cita yang sangat besar yang harus
kubuktikan kepada kedua orang tuaku. Ada satu kewajiban selain menyelesaikan
sidang skripsiku, salat lima waktu yang masih jarang bahkan terkadang
kujalankan. Dan bahkan nyatanya untuk mengaji saja aku tidak waktu. Sebenarnya
bukan tidak ada waktu, tapi akunya saja yang tidak ada kemauan untuk meluangkan
waktu. Tak pernah ada rasa bersalah dalam diriku saat melalaikan semua kewajibanku,
yah, mungkin karena sudah terbiasa jadi aku biasa saja.
Aku merentangkan tangan dan
mencuci mukaku dengan air. Setelah mencuci muka aku terdiam sebentar untuk
memulihkan kesadaranku, kebiasaanku yang selalu menjadi rutinitas setiap
harinya. Aku terbilang malas untuk mandi dipagi hari. Berhubung hari ini tidak
ada kelas pagi, aku membantu ibu untuk
membersihkan rumah. Setelah itu aku mengecek ponsel yang sudah ada notifikasi
dari teman-teman juga dari grup kelas fakultas yang aku tekuni 4 semester ini.
Aku melihat salah satu chat dari temanku yang bernama Dinda,
didalam roomchat itu dia
memberitahuku bahwa dosen pembimbing skripsiku menagih hasil akhir skripsi yang
belum terselesaikan. Aku terkejut mendapati kabar itu, aku kelabakan mencari
dimana laptopku berada. Aku menghubungi dosenku karena aku meminta waktu
tambahan, aku tidak mau mengulangnya setahun lagi. Orang tuaku pasti kecewa
akan hal itu. Dan hari ini adalah hari sialku, dosen pembimbingku tidak memberi
waktu lagi. Aku memutuskan untuk pergi ke kampus untuk menemuinya.
` Sesampainya
aku di kampus, aku langsung pergi ke ruangan dosen pembimbingku untuk mengurus
skripsiku yang belum selesai.
Aku menghadap beliau dan
bertanya, “Apakah saya bisa meminta tambahan waktu, Pak?”
Kemudian beliau menjawab,
“Tambahan waktu? Memang kamu pikir jadwal sidang kamu masih lama? Hanya tersisa
4 hari lagi! Selesaikan, atau kamu akan sidang di tahun berikutnya?”
Dengan lesu aku menjawab,
“Baik, Pak.”
Aku
tidak yakin dapat menyelesaikannya dalam waktu 4 hari. Bagaimana caranya?
Sebelum aku ke tempat dosenku, aku sempat bertemu Dinda di lorong. Dinda bilang
dia akan menungguku di kantin, dan sekarang kakiku melangkah ke sana.
Sesampainya, aku bercerita padanya, menangis karena waktu sidangku sebentar
lagi, dan skripsiku belum selesai.
“Lalu
dosenmu tidak memberi waktu tambahan untukmu?” tanya Dinda sambil
menenangkanku.
Aku
menghapus air mata, “Iya, dia memarahiku tadi. Ini kesalahanku juga karena
lalai dan malas untuk mengerjakannya.”
Terdengar
Dinda menghembuskan napas berat. “Kenapa kamu malas mengerjakannya? Disini aku
menyalahkanmu. Pantas dosenmu memarahimu, kau yang salah. Tidak ada gunanya
kamu menangis Ra, lebih baik sekarang kau kerjakan skripsimu.”
Aku
termenung, Dinda bilang begitu padaku. Aku tidak suka jika ada yang bilang itu
salahku. Aku menatapnyya dengan tatapan
yang aku sendiri tidak bisa artikan. Aku tidak tahu perasaan apa yang sedang
aku rasakan sekarang. Kecewa? Kesal? Atau mungkin marah? Perasaan itu bukan
untuk Dinda, lebih tepatnya untuk diriku sendiri. Aku beranjak tanpa pamit,
tidak peduli dengan Dinda yang memanggil namaku.
Aku
memutuskan pergi ke perpustakan mencari sumber data yang menyangkut dengan
skripsiku. Dengan hati setengah jengkel, aku mencari, namun tidak ada. Kenapa
sulit sekali mencarinya? Kenapa rintangannya begitu sulit? Apa yang sudah aku
lakukan hingga Tuhan mengujiku seberat ini? Jika hanya tugas aku tidak masalah
mendapat nilai D, karena semua nilai tugasku A. Jadi, tidak berpengaruh dalam
nilai kelulusanku. Masalahnya, ini skripsi. Jika aku tidak lulus sidang, ralat,
jangankan sidang, skripsinya saja belum selesai, aku sudah dipastikan mengulang
tahun depan.
Waktu
sudah menjelang sore, aku putuskan untuk mencari buku di perpustakaan nasional.
Berharap ada dua buku yang aku inginkan, tidak dua buku juga tidak apa. Minimal
aku mendapatkan satu buku, jadi tidak sia-sia aku ke perpustakaan. Ketika aku
sampai gerbang perpustakaan, kakiku lemas sudah tidak bertenaga lagi. Harapanku
sudah hilang untuk mendapatkan buku. Tuhan tidak menyangiku, dia memberiku
ujian yang aku sendiri tidak bisa selesaikan.
‘Hari
ini perpustakaan tutup dikarenakan sedang ada festival’ tulisan itu, membuat
harapanku hilang. Jiwa yang tadinya begitu semangat ingin mencari buku punah
begitu saja. Aku bingung apa yang terjadi dengan keberuntunganku hari ini.
Kemana hilangnya keberuntunganku. Dengan kaki lemas aku beranjak pergi dari
perpustakaan.
“Apa
yang harus kulakukan sekarang?”
“Ada
apa denganku hari ini?”
“Kemana
hilangnya pikiranku?”
Aku
buntuh benar-benar buntuh. Sepanjang jalan kuterus memikirkan apa yang harus
kulakukan, waktu yang tersisa tinggal sedikit. Jika hari ini aku tidak
mendapatkan sumber data yang kubutuhkan bagaimana aku harus mengerjakan
skripsiku.
Waktu sudah hampir malam dan
aku tidak tahu harus mencari sumber data ke perpustakaan mana lagi hanya
perpustakaan nasionalah yang paling dekat, kalau pergi ke perpustakaan lain
membutuhkan waktu satu jam dan perpustakaan itu pasti sudah tutup. Aku
memutuskan untuk pulang.
Di
dalam bus aku terus memikirkan harus berbuat apa. Kepalaku sakit seperti akan
segera meledak, Akupun memutuskan untuk tidur sejenak di perjalanan pulang.
Seketika sakit di kepalaku menghilang sejenak digantikan dengan kebahagiaan
yang datang dengan berturut-turut. Aku tahu ini hanya mimpi tapi aku sangat
mengharapkan ini menjadi kenyataan. Kenyataan bahwa dosen tidak akan
memarahiku, tidak akan ada lagi yang namanya skripsi, dan tidak ada lagi
kejar-kejaran dengan waktu. Seketika wajah dosen yang sedang memarahiku muncul
dimimpiku dan akupun langsung terbangun dari tidur.
Dengan
setengah kesadaran Aku mencoba untuk melihat sampai dimana ini. Aku terkejut
bahwa bus yang aku naiki sudah sangat jauh dari daerah rumahku. Aku segera
memencet bel untuk turun. Secepat mungkin aku turun dari bus, aku melihat
sekitar di sini sangat sepi sekali aku tidak tahu dimana ini. Akhirnya aku
memutuskan untuk mengecek keberadaanku di google maps.
Lagi-lagi keberuntungan tidak
berpihak kepadaku. Handphoneku mati. Apa yang harus kulakukan? Pertanyaan itu
lagi yang ada di dalam kepalaku. Ada apa denganku hari ini, kenapa tidak ada
satupun rencana yang berhasil kulaksanakan.
Dengan lemas, aku memutuskan
untuk berjalan kaki terlebih dahulu, mencari orang yang bisa membantuku. Tak
lama kemudian aku melihat ada warung, dengan semangat aku berjalan menuju
warung tersebut. Ini mungkin warung satu-satunya yang ada disepanjang jalan
ini, aku sama sekali belum pernah ke daerah ini. Aku memutuskan untuk bertanya
kepada penjaga warung itu.
“Permisi, Bu. Saya boleh tanya
ini di daerah mana ya?” tanyaku kepada penjaga warung.
“Oh ini daerah pedalaman neng”
jawab si Ibu.
Apa daerah pedalaman? Kenapa
bisa sampai aku ada di sini. Bukankah bus yang ku naiki tadi hanya sampai
daerahku saja. Sepertinya aku salah naik bus.
“Bu, apa ada kendaraan di sini
yang menuju ke kota?” tanyaku lagi.
“Kalau bus tidak ada neng, bus
yang menuju ke kota sudah berhenti. Tapi kalau kereta mungkin masih ada neng.”
Jawab si Ibu.
“Tidak apa-apa bu kereta juga.
Stasiun keretanya ada dimana ya bu?” tanyaku.
“Tapi itu lumayan jauh dari
sini neng. Kalau jalan kaki itu sangat melelahkan.” Ucap Ibu penjaga warung.
“Tidak masalah Bu.” Tegasku
“Baiklah, kamu jalan saja dari
sini lurus, nanti akan ada pertigaan belok kiri dan jalan lagi lurus saja
sampai kamu menemukan pangkalan ojek dan di situlah stasiun keretanya.” Ucap
Ibu penjaga warung.
“Baiklah, kalau begitu saya
pergi dulu. Terima kasih ya bu.” Ujarku.
Aku terus berjalan mengikuti
arahan si Ibu penjaga warung tersebut. Memang betul yang di ucapannya tadi ini
sangat melelahkan stasiun keretanya sangat jauh dari apa yang kubayangkan,
dan tidak ada kendaraan lain yang
berlalu lintas di sini. Daerah ini benar-benar sangat sepi dengan jalan yang
hanya di terangi oleh bulan.
Setelah berjalan cukup jauh
akhirnya aku sampai di stasiun kereta dan langsung menuju tempat pembelian
tiket. Aku masih harus menunggu kereta yang belum datang, sekitar 25 menit
sudah aku menunggu dan akhirnya kereta menuju ke kota berhenti di sini.Disinilah
aku, didepan rumahku dengan disambut adzan isya. Akupun bergegas membersihkan
diri. Rasanya badan ku pegal, perasaanku mati rasa. Aku tidak berkeinginan
untuk melakukan kegiatan apapun, perasaanku hancur disebabkan kejadian tadi
sore. Yah, aku tidak tahu harus apa dan bagaimana kedepannya tapi intinya yang
ingin aku lakukan sekarang ini hanya beristirahat. Mengistirahatkan tubuhku,
perasaanku dari semua kegiatan yang dilakukan. Setelah selesai membersihkan
diri aku bergegas ke kamarku dan membaringkan tubuhku diatas kasur. Rasanya
sangat nyaman, seperti mendapatkan kehidupan baru. Yang terlintas dipikiranku
hanyalah untuk segera tidur karena seluruh tubuhku yang lelah, padahal makan
saja aku belum, rasanya aku sudah tidak berselera makan. Akupun berusaha
memejamkan mata dan bangun esok hari dengan suasana hati yang lebih baik, yah
semoga saja.
Jam
5 pagi, terdengar suara ibuku membangunkanku untuk melakukan sholat subuh. Aku
tak peduli, mata ku masih ingin dimanjakan. Akupun hanya bergumam kalau aku
akan segera sholat padahal nyatanya aku kembali tidur dan melanjutkan mimpi
indahku. Namun sial, aku kesiangan. Ini sudah jam 8 padahal jam 9 aku ada janji
bertemu dengan dosenku. Aku bergegas membersihkan diri dan berangkat ke kampus,
aku sampai meninggalkan sarapan karena aku takut telat sampai kampus.
Aku berjalan cepat ke pos dekat rumahku untuk menaiki ojek.
Aku berjalan dengan tergesa-gesa karena aku tidak ingin dimarahi oleh dosenku.
Aku hanya berharap semoga hari ini memihak padaku dan tidak membuat suasana
perasaanku jelek, semoga saja. Akupun menaiki ojek salah satu langganan ku.
Ketika ditengah jalan tiba-tiba motor yang kutumpangi berhenti. Akupn
harap-harap cemas semoga kejadian yang tidak diinginkan tidak menimpaku pada
hari ini. Namun, kenyataannya tidak sesuai dengan apa yang aku harapkan. Motor
yang kutumpangi mengalami bocor pada bagian bannya. Padahal kami berada jauh
dari bengkel, lalu aku harus bagaimana? Mau bagaimana lagi? Mau tidak mau aku
harus mencari kendaraan lain namun aku sangat cemas karena waktu sudah
menunjukan pukul 8.30 itu artinya tersisa setengah jam lagi untuk aku sampai ke
kampus. Aku segera turun dari ojek dan membayarnya lalu bergegas menghentikan
angkutan umum. Aku berharap semoga aku bisa mengejar setengah jam waktu yang
tersisa, tapi kenyataannya disinilah aku, didalam angkot yang mengetem dengan
perasaan cemas. Bagaimana aku tidak cemas? Masa depanku dipertaruhka, mau
ditaruh dimana wajahku didepan orangtuaku? Rasanya aku ingin menangis dan
berteriak. Rasanya aku ingin meluapkan semua kekesalanku. Setelah 20 menit
mengetem akhirnya angkut yang kutumpangi kembali jalan. Namun semuanya sudah
terlambat.
Aku sampai di kampus dan dosenku mengabari
bahwa hari ini beliau tidak bisa menemuiku karena ada urusan mendadak. Aku
benar benar frustrasi, aku tersenyum miris. Padahal aku sampai di kampus hari
ini tidak mudah, banyak hambatan yang aku alami lalu tiba-tiba aku dikabarai
bahwa pertemuan hari ini dibatalkan? Yang benar saja? Tahu gitu aku lebih baik
langsung ke perpus untuk mencari sumber referensi untuk bahasan skripsiku.
Akupun berniat akan pergi ke perpus, namun sebelum itu aku pergi kekantin
fakultas terlebih dahulu karena perutku yang meronta kesakitan akibat belum
makan dari kemarin dan pagi tadi. Setelah selesai dari kantin, aku bergegas
untuk ke perpus dengan harapan menemukan apapun yang bisa menjadi acuan untuk
tugas skripsiku. Selama diperjalanan aku merapalkan semua doaku supaya kali ini
usahaku tidak sia-sia.
Sampai di perpus aku langsung
menuju rak-rak buku. Aku menulusuri rak demi rak. Melihatnya dengan teliti
berusaha agar tidak ada yang terlewat. Tapi, sudah 3 rak besar aku telusuri,
aku belum menemukan buku yang aku inginkan. Lelah, kesal semuanya bercampur
menjadi satu. Aku beristirahat sebentar dan memulai menelusuri rak lain. Pada
rak selanjutnya aku menemukan buku yang aku cari. Langsung saja aku
mengambilnya dan membacanya lalu langsung membuka laptopku dan menulis semua
yang ada pada buku itu yang aku butuhkan tugas skripsiku. Bukunya tebal, berat,
jika boleh aku tidak ingin membukanya apalagi membacanya. Tapi, apa boleh buat?
Ini semua untuk kebaikanku dan tugas skprisku serta masa depanku.
Tidak terasa, sudah pukul 2
siang pantas perutku terasa lapar seperti ingin diberi asupan makan siang. Aku
sampai tidak menyadari ini sudah pukul 2 siang karena terlalu fokus pada buku
dan laptopku. Sampai hp ku pun tidak tersentuh, bahkan notifikasi dari
teman-teman aku hiraukan. Akhirnya selesai, setelah selesai akupun membereskan
semuanya dan bergegas untuk makan siang. Aku tidak tau apa yang akan aku
lakukan setelah makan siang. Setidaknya, biarkanlah perutku terisi dulu supaya
aku bisa berfikir jernih. Selesai makan, aku berencana untuk kembali ke
perpustakaan namun laptopku low dan aku lupa membawa cashannya jadi mau tidak
mau aku menyudahi perjalanan hari ini dan kembali kerumah sekaligus mengecek
tugasku dirumah nanti.
Setelah sampai dirumah, aku
beristirahat sebentar sembari nonton tv lalu aku bergegas untuk membersihkan
diri, berharap semua kesialan ku hari ini ikut luntur terkena air. Aku tidak
mengerti kenapa banyak sekali hal yang aku hadapi. Pasrah, itulah yang hanya
aku bisa lakukan. Setelah selesai mandi, aku pergi kekamar ku dan membuka
laptopku tidak lupa sekalian dengan mengcash laptopku. Aku mencari file yang
tadi telah aku kerjakan namun kosong. Aku tidak menemukan file yang telah aku
kerjakan di perpus tadi. File itu belum kesimpan? Entahlah aku tidak tau. Aku
kesal, aku menangis. Aku menangis atas hari ini yang telah aku lakukan. Betapa
bodohnya aku belum menyimpan filenya?
Aku harus bagaimana? Aku sangat
putus asa. Mengapa ini harus terjadi kepadaku? Mengapa? Kesalahan apa yang
telah ku perbuat? Aku tidak tahu lagi harus berbuat apa. Aku merenung, meratapi
apa yang telah terjadi kepadaku. Aku terdiam dan berpikir apa ada yang salah
dengan diriku sehingga mendapat cobaan seperti ini. Tapi, aku sangat lelah dan
memutuskan untuk tidur. Aku berharap, semoga hari esok aku mendapat kabar
bahagia. Aku harap setelah aku bangun dari tidurku, masalahku ini dapat
selesai.
Aku terbangun dari tidur karna
ibuku membangunkanku untuk menyuruhku shalat. Namun, aku mengiyakannya saja
tanpa melaksankan shalat. Tiba-tiba aku terkaget, teringat suatu hal. Shalat.
Apakah semua cobaan yang terjadi kepadaku karna aku sangat jarang beribadah?
Sayup-sayup aku mendengar ibuku sedang menonton tv, akupun segera keluar kamar
dan ikut bergabung bersama beliau. Aku tidak menonton tvnya, hanya duduk
disebelah ibuku sambil memainkan handphoneku.
Apa yang sedang ibuku tonton di
tv? Mengapa terdengar banyak ayat Al-Quran yang terdengar? Aku penasaran,
langsung ku tolehkan kepalaku menghadap ke tv. Ternyata, ibuku sedang menonton
acara ceramah. Akupun memerhatikan acara tersebut. Ustadz yang sedang ceramah
ternyata membicarakan tentang pentingnya ibadah shalat 5 waktu. Beliau juga
menjelaskan dosa yang didapat jika tidak melaksanakan shalat 5 waktu.
Tiba-tiba aku tersadar, aku
sangat jarang melaksanakan shalat 5 waktu. Aku selalu mengabaikan adzan,
panggilan untuk shalat. Apakah cobaan yang terjadi kepadaku adalah karna aku
jarang melaksanakan shalat 5 waktu? Apa benar begitu? Apakah cobaan ini sebuah
teguran Allah kepadaku agar aku melaksanakan kewajibanku sebagai muslim? Ah,
pusing sekali aku memikirkannya. Lebih baik aku mandi dan segera ke kampus
untuk menemui dosenku.
Setelah mandi, akupun bergegas
pergi ke kampus. Sesampainya di kampus, aku segera memasuki rua ng dosen
pembimbingku.
Akupun berkata, “Pak, file
skripsi saya hilang karna saya lupa menyimpannya setelah saya menyelesaikannya
kemarin. Bisakah Bapak beri saya waktu 3 bulan? Saya mohon, Pak.”
Beliau menatapku lama dengan
tatapan yang tidak aku ketahui apa arti dari tatapan tersebut.
Tiba-tiba beliau berkata,
“Sebenarnya, kamu ini niat mau lulus tidak sih? Memang kamu tidak punya salinan
file skripsimu? Bagaimana kamu mau sidang jika file skripsimu hilang, hah!”.
Beliau marah? Tidak. Tapi, beliau sangat marah padaku.
Aku hanya bisa terdiam dan
menahan tangisku agar tidak pecah didepan dosen pembimbingku. Didalam pikiranku,
aku membenarkan perkatan dosen pembimbingku. Mengapa aku tidak menyalin file
skripsiku yang penting itu? Bodoh sekali aku. Akupun pamit dari ruang dosen
pembimbingku dan segera ke perpustakaan kampus. Sesampainya di perpustakaan,
aku segera menyalakan laptopku. Mengutak-atik laptopku, barangkali file
skripsiku masih ada.
Satu jam aku habiskan untuk
mencari file skripsiku. Tapi apa hasilnya? Tidak ada. Tidak ada satupun sisa
dari file skripsiku. Aku sangat lelah satu jam didepan laptop. Mataku berair
karna lelah. Aku tidak tau harus berbuat apa, aku sedang tidak bisa berpikir
saat ini. akupun mematikan laptopku dan bergegas untuk pulang.
Setelah sampai rumah, akupun
langsung rebahan diatas kasur. Tidak peduli apa yang akan terajadi pada
skripsiku. Aku sudah sangat lelah dengan berbagai cobaan yang menimpaku.
Terlalu lelah memikirkan skripsi, akupun tidur. Tanpa membersihkan diriku, aku
sangat lelah. Biarlah, entah hari esok akan seperti apa.
Suara adzan terdengar, akupun
terbangun dan bergegas menyalakan laptopku untuk mengerjakan skripsiku. Aku
mengerjakan beberapa bab yang hanya aku ingat isinya, itupun tidak begitu
lengkap. Tidak terasa waktu terus berjalan dan menunjukan pukul 7 pagi. Aku
segera pergi mandi karna aku harus pergi ke perpustakan nasional untuk mencari
bahan referensi untuk skripsiku.
Sesampainya aku di perpustakaan
nasional, aku langsung menuju ke rak bagian buku yang aku butuhkan. Setelah
menemukan bukunya, aku langsung membaca dan memahaminya. Setelah itu, aku
langsung mengerjakan lanjutan skripsiku. Aku mengerjakan skripsiku dengan
serius, dan tidak terasa sudah hampir selesai. Aku lelah, dan memutuskan untuk
menyudahi mengerjakan skripsinya dan tidak lupa untuk menyalin file skripsiku
ke dalam flashdisk. Setelah itu, aku bergegas untuk pulang karna hari sudah
sore.
Aku pulang dengan menaiki bis
yang tujuannya ke daerah rumahku. Pada saat di bis, sayang sekali aku tidak
kebagian tempat duduk dan terpaksa harus berdiri. Di dalam bis yang aku
tumpangi sangat penuh dan sesak. Dan akhirnya bis sudah sampai di daerah
perumahanku. Akupun melanjutkan perjalanan dengan menaiki ojek.
Sesampainya di rumah, aku
langsung pergi membersihkan diri. Setelahnya, aku memutuskan untuk melanjutkan
skripsi. Selama 2 jam aku mengerjakan skripsi, akhirnya skripsiku selesai.
Akupun langsung menyalinnya ke dalam flashdisk dan bergegas ke tempat fotokopi
untuk mengeprint file tersebut agar bisa langsung direvisi oleh dosen
pembimbingku.
Aku pergi ke tempat fotokopi
dengan mengendarai sepeda, karena jarak yang lumayan jauh. Sesampainya disana,
ternyata ramai sekali dan aku harus menunggu selama 30 menit. Setelah selesai
diprint, akupun segera pulang. Hari sudah malam, aku lelah karna seharian ini
mengerjakan skripsi. Karna lelah, aku tidak melihat lubang jalanan yang rusak.
Akibatnya, aku terjatuh karna aku lelah. Dan sialnya, aku terjatuh pada bagian
lubang yang tergenangi air dan kertas skripsiku basah. Aku terdiam karena
kertas skripsiku yang basah.
Waktu yang diberikan dosen
pembimbingku hanya tersisa besok, dan seharusnya kertas skripsiku besok sudah
direvisi oleh beliau. Tetapi, kertas itu sudah basah jatuh ke genangan air.
Ingin kembali ke tempat fotokopi juga tidak mungkin, karna sudah tutup saat aku
pergi dari sana. Akhirnya, aku melanjutkan perjalanan pulang dengan menuntun
sepedaku. Mungkin, besok masih ada waktu untuk mengeprint ulang skripsiku.
Dan keesokan harinya
pengumpulan skripsi akhirku, untungnya malam kemarin masih ada waktu untuk
mengeprint ulang skripsiku.setelah mengumpulkan skripsiku, aku berniat untuk
merilekskan fikiranku setelah pusing dengan segala urusanku mengenai skripsi
ditengah-tengah perjalanan aku melihat temanku yang sedang berada dimushala, ia
sedang melaksanakan shalat sekilas aku melihat tanganku untuk melihat jam,
dalam benakku bertanya “ shalat apa yang sedang ia lakukan dipagi hari seperti
ini ?”.
Aku menghampiri seorang wanita
berhijab yang ku lihati dari depan mushalah yang sedang melakukan shalat, aku
berkata kepada temanku yang sedari tadi ku lihati yang bernama kanaya menanyakan
“ kamu sedang melakukan shalat apa dipagi hari seperti ini ?” .
Kanaya menjawab “oh aku sedang
melakukan shalat dhuha” aku berfikir sejenak lalu bertanya kembali “ memang ada
shalat dhuha, setauku aku tidak ada shalat yang bernama shalat dhuha ?” .
“ada shalat dhuha itu termasuk
shalat sunah, banyak sekali shalat sunah namun yang kulaksanakan saat ini yaitu
shalat dhuha yang dapat dikerjakan dari jam 07.00-11.00 pagi hari “.
Aku bertanya kembali “apa
manfaatnya shalat dhuha ?”.
“nih yah ira terkadang banyak
orang yang menyebutkan shalat dhuha itu shalat paksakan mengapa seperti itu
banyak orang menyebutnya shalat paksakan karena disaat kketika ingin sesuatu
atau meminta dipermudah dalam segala urusan kita meminta kepada allah, berharap
untuk allah membantu dan mempermudah segala urusan didunia, untuk lebih
sempurna meminta sesuatu yang diinginkan kita dapat melaksanakanshalat
tahajud.”
Sekilas aku bergeming dengan
jawaban kanaya, aku teringat apa yang selama ini terjadi pada diriku ketika ku
melakukan skripsi dengan banyak sekali rintangan dan tantangan, bisa jadi ini
teguran allah kepada ku, karena selama ini aku sudah lalai menjalankan
kewajibanku, bahkan sampai aku tidak mengenal nama-nama dalam shalat sunah,
hatiku merasa sakit aku banyak sekali keinginanku untuk harus ku lakukan demi
cita-cita ku demi masa depanku tapi aku meninggalkan kewajibanku.
Dan tanpa ku fikirkan semua
skripsi dan urusan dunia dapat terselesaikan itu karena rencana dari
allah.tanpa ku sadari aku air mataku sudah membajari pipiku dan aku langsung
memeluk kanaya dan menceritakan kesusahan dalam hidupku yang selama ini telah
terjadi. Kanaya mengerti dengan masalahku, kanaya mengelus kepalaku dan
menasihati ku.
Sejak
saat itu aku ingin bertekad kembali kepada allah, dan meminta ampun karena
selama ini aku telah melalaikan segala kewajiban yang harus ku lakukan kepada
allah.dan membiasakan diri untuk menjalankan shalat lima waktu dan mengaji disetiap selesai shalat.








0 komentar:
Posting Komentar