Aku bukanlah wanita sempurna, aku juga bukanlah wanita dari kalangan keluarga yang dekat dengan penciptaku. Namun, aku berusaha menjadi hamba yang benar-benar taat kepada sang kholiq. Tapi, tanpa adanya dukungan dan dorongan dari keluargaku, apakah aku mampu menjalankan semua ini.👧👧👧
“Ibah cepat turun kita sarapan pagi dulu”. Teriakan ibu memang tak pernah absen dipagi hari. Namun, entah mengapa aku sangat menyukainya.
“Iya bu sebentar lagi.” Balasku.
“selamat pagi bu, yah.” Sapaku saat aku
menghampiri mereka.
“Anak ayah lama sekali mandinya, apa
gak malu sama tikus-tikus rumah yang bangunnya lebih awal darimu?” Sindir ayah
“Ayah kok jahat si samain aku sama
tikus. aku inikan manusia yah bukan hewan.” Gerutuku
“Sudah-sudah kok pagi-pagi malah ribut
tidak baik ribut pagi-pagi malu sama tetangga.” Sanggah ibu.
“Memang ibu doang yang selalu membuatku
merasa senang dipagi hari.” Dumelku dalam hati.
Lalu ibu memberikanku roti yang
telah dibuatnya tadi. Kami pun sarapan dengan hikmat. Setelah sarapan selesai
kami berangkat ketempat yang harus kami tuju masing-masing. Ayah pergi ke
kantor untuk melaksanakan aktivitasnya sebagai pekerja, ibu pergi ke butik dan
aku pergi kesekolah untuk mencari ilmu.
sesampainya disekolah seperti
biasa aku menghampiri teman-temanku yang sedang berkumpul. Karena itulah
rutinitas yang kami lakukan sebelum bel bebunyi. Saat aku hendak menaruh tas
tiba-tiba sela temanku langsung menarikku agar cepat menghampiri mereka.
Akhirnya akupun ikut bergabung dengan mereka.
Tak lama kemudian, Bel pun
berbunyi dan tak lama pak agus guru matematika masuk dan memberitahukan bahwa
hari ini ulangan harian. Sontak seisi kelas protes karena belum adanya
persiapan. Akhirnya pak agus memberi kami waktu 15 menit untuk belajar. Setelahnya kami ulangan
dengan terpaksa. Aku dan teman geng ku merasa kesal dengan pak agus yang
akhirnya mengerjakan soal secara asal. Bel istirahat pun berbunyi pak agus pun
menyuruh kami untuk mengumpulkan ulangan tersebut. Kami pun mengumpulkannya.
Setelah pak agus keluar, aku dan teman geng ku pergi ke kantin. Sesampainya di
kantin kami duduk di tempat biasa dan Sela pun memesan makanan. Selama pesanan
kami belum datang kamipun mengobrol-ngobrol dan memainkan hp. Ditengah-tengah
obrolan kami pesanan pun datang akhirnya kami menghentikan obrolan kami dan
langsung menyantap makanan kami. Setelah makanan kami habis tak lama kemudian
bel pun berbunyi akhirnya kami kembali ke kelas. Pembelajaran berlangsung
hingga jam terakhir. Bel pulang pun berbunyi. Semua murid keluar kelas
terkecuali aku yang sedang memasukkan buku-buku kedalam tas. Setelah selesai
memasukan buku kedalam tas aku pun bergegas keluar. Ternyata di depan kelas
teman gengku menungguku kukira mereka meninggalkanku yang hendak ke mall
ternyata mereka menungguku.
“Cie nunggu” Gurauku dengan mata yang
berkedip-kedip.
“Iya ni, kamu kira nunggu itu enak apa”
Jawab lita sedikit cuek.
“Hehehe maaf ya”. Jawabku dengan
menggaruk kepalaku yang tak gatal.
“Ayo kita berangkat” jawab sela
menengahi
“ayo” jawabku dengan semangat
Sesampainya di mall kami makan terlebih
dahulu karena cacing-cacing perut sudah lapar. Akupun memesan spagethi, burger,
jus alpukat dan ice cream. Sedangkan teman-temanku yang lain memesan selera
yang mereka inginkan. Selanjutnya kami memilih untuk berkeliling-keliling
sampai langkah kaki kami terhenti di sebuah toko sepatu. Aku pun melihat-lihat
sepatu dan yaps aku menemukan sepatu yang aku inginkan. Sepatu yang sangat
memalingkan perhatianku yang segera membuat dompetku seolah-olah menarikku
untuk segera ke tempat kasir. Sedangkan teman-temanku yang lain masih
memilih-milih. Aku menunggu mereka sambil memainkan ponselku. Tiba-tiba ada
notif masuk ke ponselku ternyata pesan dari ibu. Ibu bilang bahwa ayah dan ibu
akan pergi ke luar kota hari itu juga
karena urusan kerja. Aku menghembuskan nafas kasar. Lagi-lagi aku
ditinggal pergi sendiri oleh kedua orang tuaku dirumah. Aku merasa kesal karena
mengapa kedua orang tuaku terlalu sibuk dengan pekerjaannya sedangkan aku tak
di pedulikan. Saat aku sedang melamun,
teman-temanku datang menghampiriku. Mereka bertanya mengapa aku melamun. Akupun
menjawab tidak ada apa-apa. Namun pada
kenyataanya aku sedang merasa kesal kepada orang tuaku.
Setelah belanja begitu banyak dari
Mall, saya dan teman-teman bergegas pulang karena sudah malam. Tibalah saatnya
aku sampai dirumah, badan yang terasa sudah gatal dan lelah mendorong raga ini
untuk mengusap tubuhku ini. Tetes demi tetes yang mengguyur sekujur tubuhku
seolah membuatku nyaman. Usai mengganti pakaian, relung hatiku pun gundah merenung.
“ya tuhan, alangkah buruknya
hidupku.mengapa?, aku tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari orang tuaku,
mereka terlalu sibuk dengan dunianya, sedangkan teman-temanku yang memiliki
orang tua super sibuk tapi mereka masih mendapat kasih sayang dari orang
tuanya, tapi mengapa tidak denganku? Aku benci dengan keadaan ini.
Perasaan yang gundah bercampur balutan
kesedihan berputar mengelilingi pikiranku. Keresahan yang merujuk menguasai
hati tanpaku sadari membuat langkah hidupku yang sedemikian waktu semakin
sempit.
Setelah merenung. Dengan tiba-tiba
teman ku menelpon, dia mengatakan “hai, ibah besok setelah pulang sekolah ada
acara tidak?
“tidak, emang kenapa?” jawabku penuh
rasa ingin tahu.
“rencananya aku bakal ngajak kamu
belanja di Mall setelah pulang sekolah, bisa kan? Ucap anggi temanku
“oh, bisa banget sekalian aku pengen
menjernihkan pikiran” jawab ibah.
“baiklah, memangnya ada apa
denganmu” ujar anggi.
“tidak ada apa-apa, aku hanya merasa
bosan saja dengan keadaanku” jawabku
“oh, kalau begitu sampai ketemu besok.
Good night”
“night” jawabku
Setelah menelepon, aku langsung tidur
karena sudah merasa ngantuk dan letih setelah seharian sekolah dan pergi ke
Mall.
Suara ayam telah berkokok, menandakan
sudah pagi.
aku bangun dari tempat tidurku, namun
aku sedikit heran mengapa tumben sekali ibu tidak membangunkanku. Alangkah
bodohnya aku, aku lupa jika kedua orang tuaku sedang pergi keluar kota, aku pun
bergegas mandi, mempersiapkan baju sekolah dan sarapan, setelah rapih aku duduk
di meja makan untuk sarapan pagi yang telah di sediakan oleh pembantuku.
Setelah makan, aku pun langsung berangkat ke sekolah dengan mengendarai Taxi.
Setelah sampai di sekolah, seperti
biasanya, sebelum bel aku bergabung dengan temanku untuk membicarakan sesuatu.
Setelah lama berbincang-bincang, bunyi bel terdengar keras yang menandakan
waktu pembelajaran sudah di mulai. Aku pun masuk kelas bersama teman yang
lainnya. Ketika proses KBM, ternyata ada tugas mata pelajaran Fisika. Aku pun
baru menyadarinya, karena aku mengira
bahwa tidak ada tugas. Guru fisika pun menghampiriku karena melihatku dengan
panik.
“ibah mengapa kau merasa panik, mana tugasmu apa
kau sudah mengerjakannya?”. Tanya guru.
“tidak pak, tidak apa-apa. Hanya saja
saya belum mengerjakan tugas yang bapak berikan kemarin”, jawabku.
“kenapa kau tidak mengerjakannya?”,
tanya guru dengan rasa penasaran.
“saya tidak tahu kalau ada tugas pak”,
jawabku dengan ketakutan.
“kenapa tidak tahu? Padahal bapak sudah
memberi tahu kepada semuanya”, jawab guru.
“iya pak, saya minta maaf karena tidak mengerjakan tugas”, ucapku
dengan kesedihan.
“ ya sudah, karena kamu tidak
mengerjakan tugas, bapak akan menambahkan
tugas mu, yaitu mengerjakan pilihan dan uraian halaman 21, minggu depan harus
sudah selesai” ucap guru.
“baik pak, saya akan mengerjakan tugasnya dengan baik” jawabku dengan penuh
beban.
setelah itu, bel istirahat berbunyi
dengan keras. Aku bersama teman-temanku
pergi ke kantin untuk membeli beberapa makanan, setelah sampai di kantin
kami memesan makanan. Tak begitu lama
makanan yang di pesan telah tiba dan langsung disantap dengan lahap. setelah
makan, kami berbincang-bincang. Tak
begitu lama bel pun berbunyi menandakan waktu istirahat telah selesai. Kami pun
langsung bergegas masuk kedalam kelas.
Bel pulang telah tiba, kami langsung
bersiap-siap untuk pergi ke mall dengan mengendarai mobil anggi.
Setelah sampai di mall kami langsung
pergi ke toko baju, setelah itu memilih setel baju yang diinginkan, setelah
menemukan setel baju yang cocok kami langsung membayarnya ke kasir.
Teman-temanku yang berada dibelakangku bertanya-tanya karena mereka melihat aku
yang belanja tidak seperti biasanya. Aku membeli setel baju yang cukup banyak.
Sela pun berkomentar “ibah, kok tumben
nih memborong baju?”, tanyanya dengan
penuh rasa heran.
“iya nih, aku lagi pengen belanja banyak sekalian aku pengen refresh
otak yang sedang pusing” jawabku meyakinkan.
“oh begitu toh, yaudah sekarang kita
makan yuk? Udah laper nih perut” balas citr.
“oke, semuanya biar aku traktir,
pokoknya kita disini untuk bersenang-senang” ujarku.
“bener nih?”tanya anggi.
“iya beneran, pokoknya kamu mau makan
apa aja silahkan, kamu puas-puasin disini”
“yeyyyyy, makasih ya ibah”, jawab anggi
dengan rasa bahagia.
Semua temanku memilih menu makan yang
serba mahal, setelah semuanya makan, kamipun bergegas pulang ke rumah
masing-masing.
Setelah sampai di rumah, aku langsung
mandi dan makan malam. Selesai makan malam, aku pergi ke kamar. Namun,
pikiranku sangat kalut akupun akhirnya memutuskan pergi ke suatu tempat untuk
menenangkan pikiranku. Saat diperjalanan aku bingung mau pergi kemana.
Tiba-tiba ponselku berdering ternyata Rifki teman lamaku menelpon.
“Halo bah, apa kabar.” Ucap Rifki
disebrang telepon
“Halo ki, baik. Lo sendiri apa kabar.
Ngomong-ngomong tumben lo nelpon gua, ada apa”. Jawabku kepada Rifki
“kabar gua baik. Hehehe, lo lagi sibuk
gak”. Tanyanya
“Tidak emang ada apa”
“kebetulan dong. Lo ikut gua yuk ”.
Tanya Rifki
“Kemana”. Jawabku
“udah ikut aja, gua tau lu lagi ada
masalah kan”.
“sok ta banget si lo”. Jawabku dengan
nada yang sedikit emosi
“selow aja bro. Gua Cuma mau ngajak lo
ketempat yang akan membuat lo melupakan masalah lo”. Jawabnya menenangkan
“oke gua ikut sama lo”. Jawabku
“kalau begitu gua jemput lo kerumah
ya”. Ucap Rifki
“ga usah lagian sebenernya gua juga
lagi mau keluar. Soalnya gua merasa bosan dirumah sendiri. Tapi gua ga tau mau
kemana, dan kebetulan lo ngajak gua keluar”. Jawabku menerangkan
“kalau gitu sekarang lo ada dimana biar
gua jemput”. Tanyanya
“gua ada di cafe deket toko buku”.
Jawabku
“ya udah kalau gitu lo jangan
kemana-mana tunggu gua datang. Sekarang gua jemput lo”. Ucapnya
“oke gua tunggu ya”. Jawabku
15 menit kemudian Rifki datang
setelahnya kami pergi dari cafe itu. Entah kemana aku dibawa, Rifki pun tak
memberitahukanku kemana kita akan pergi. Dia terlalu fokus menyetir mobil.
Cukup lama kita menempuh perjalanan akhirnya sampai juga. Tapi tunggu, aku
merasa asing dengan tempat ini. Tapi sudahlah aku hanya ingin bisa melupakan
masalahku yang sangat mengusik ketenanganku.
“Ki sebenarnya kita mau kemana sih, kok
aku merasa asing dengan tempat ini”. Tanyaku kepada Rifki
“Pokoknya kamu ikut aja. Lagian didalam
juga ada teman-teman kamu kok”. Jawabnya
“Bohong banget sih, mana mungkin ada
teman-temanku”. Tanyaku lagi karena tak percaya dengan apa yang dikatakan Rifki
“Sungguh aku tak bohong. Kalau tak
percaya ayo kita masuk”. Ajaknya
“Baiklah. ayo”. Jawabku kepada Rifki
Ternyata yang dikatakan Rifki benar.
Didalam memang banyak teman-temanku. Tapi kok bisa mereka kenal dengan Rifki
karena yang ku tahu Rifki adalah teman lamaku. Aku baru mengetahui kalau
ternyata diantara kami berempat aku, anggi, sela, dan citra mempunyai pacar
yang satu geng dengan Rifki. Jadilah mereka kenal dengan teman lamaku itu. Dan
pada malam itu kami bersenang ria bersama hingga akhirnya aku bisa sedikit
melupakan masalahku.
Keesokan harinya
Tidak seperti hari-hari biasa yang ku
lakukan, aku melampiaskan segala masalah yang menimpaku dengan melangkahkan
kakiku ke dunia yang baru aku kenal, yaitu diskotik. Sontak Dunia baru menyapa
perjalan hidupku yang kian kelam dan meredup dari jalan kebenaran. Suasana dan
tempat yang sangat berbanding terbalik dengan kehidupan seorang wanita
muslimah. Pergaulan yang kian menyeret ke dalam kegelapan hayat, seakan
menjorok kearah yang tak seorang insanpun menginginkannya. Dunia baru yang dia
pilih seolah-olah menjadi jawaban dari semua problematika kehidupan yang kian
semakin menerjang, yang mau tak mau ia harus merasakan apa yang seharusnya
tidak ia rasakan. Pintu berkelip di sertai hembusan angin malam menyelimuti
kulit, suasana baru yang ia pikir bisa menjadi jawaban akan problematika kehidupan
yang menimpanya menjadi alasan utama seorang ibah memberanikan diri menjelajahi
dunia baru yang satu langkah lagi ia tuju.dengan mengelus dada, lembaran
keburukan yang akan ia awali dengan menjulurkan tangan ke sebuah gagang pintu
yang semakin saja berat untuk ia lakukan. Ibah pun mendorong suar pintu
perlahan, dan seperti malam sebelumnya dia berkumpul dengan teman-temannya.
Mereka bersenang-senang dengan gembira tanpa berfikir bahwa kesenangan yang
sedang dialami hanyalah kesesatan yang akan menyesal nantinya jika dilakukan
dengan terus menerus. Namun, yang mereka fikirkan hanyalah bagaimana caranya
bisa melupakan beban-beban kehidupan yang dialami.
“Bah gimana kabar nyokap sama bokap lo,
apa mereka udah pulang dari luar kota”. Tanya anggi
“Buat apa lo nanyain mereka. Gua aja
yang anaknya gak tau menahu tentang keadaan mereka”. Jawabku dengan ketus
“Lo gak kangen apa sama mereka sampai
lo ga tau keadaan mereka”. Ucap anggi
“Anak mana si yang ga kangen sama orang
tua sendiri. Tapi ya beginilah hidup gua yang kurang beruntung. Mereka terlalu
sibuk dengan dunianya sendri”. Ujarku dengan sedih
“Lo jangan pernah ngerasa sendiri, kita
disni selalu ada kok buat lo. Lo juga bisa kok nganggep nyokap bokap gua
sebagai orang tua lo sendiri”. Ucap sela
“Iya bah lo jangan pernah ngerasa kalau
lo ga punya sandaran. Lo bisa berbagi kesedihan sama kita-kita”. Ujar anggi
“Thanks ya lo semua udah peduli sama
gua dibandingkan ortu gua sendiri”. Ujarku
“Udah dong sedih-sedihannya, kita
disini bukan untuk bersedih-sedih tapi untuk bersenang-sesnang untuk melupakan
semua beban pikiran. Mending kita lanjutin acaranya”. Ucap Rifki
Kami pun melanjutkan acara kami dengan
rasa senang seperti yang sudah dilakukan beberapa hari lalu. Tiba-tiba ponselku
berdering, ternyata Ayah menelponku. Dengan rasa malas dan berat hati akhirnya
aku mengangkat telpon dari ayah.
“Ibah dimana kamu. Mengapa malam-malam
begini belum pulang”. Ucap Ayah dengan nada marah
“Memangnya kenapa. Bukankah ayah sedang
diluar kota. Tapi, mengapa ayah tau kalau aku sedang tidak dirumah”. Jawabku
dengan nada heran
“Ayah dan Ibu sudah dirumah. Cepat
pulang”. Jawab ayah
“Tanpa ayah suruhpun aku akan pulang
yah”. Jawabku sedikit menghiraukan apa yang diperintah oleh ayah
“Sekarang pulang atau”.
“Atau apa yah. Atau ayah akan
mengusirku dari rumah, iya yah”. Jawabku dengan nafas yang sudah mulai tak
beraturan karena menahan tangis
“Ayah tunggu dirumah sekarang!”. Jawab
ayah lalu memutuskan telpon secara
sepihak.
Aku pun langsung melempar ponselku ke
meja. Teman-temanku langsung menghampiriku karena mereka sempat melihatku
bertengkar dengan ayah di telpon. Teman-temanku menenangkanku. Lalu Rifki
menyuruhku untuk pulang. Awalnya aku tak mau mengikuti perintahnya, namun saat
Rifki memaksa untuk pulang akhirnya akupun mengikuti perintahnya. Aku pulang
diantar olehnya, didalam mobil pun aku hanya diam sambil memperhatikan jalan.
Berbeda dengan Rifki yang berbicara tanpa henti, namun aku tak menghiraukannya
sama sekali.
“Bah nanti kalau bokap lo marah-marah
dan ngapa-ngapain lo, lo langsung telpon gua aja ya. Gua bakal selalu ada buat
lo”. Ujarnya
“Kalau nanti sampe rumah lo diusir. Lo
langsung telpon gua atau anak-anak yang lainnya”
“Satu lagi lo jangan pernah sungkan
buat hubungin anak-anak terutama gua. Gua akan selalu bantu lo kok, gua akan
selalu ada buat lo”. Celoteh Rifki
“Bah lo kok diem aja si. Lo dengerin
gua kan. Bah ”. Ucap Rifki dengan rasa kesal
“Emmm. Iya Ki, tadi lo ngomong apa.
Sorry gua gak denger”. Jawabku
“Iyalah lo gak denger orang lo
ngelamun”
“Hehehe. sorry”. Jawabku dengan wajah
tak bersalah
Akhirnya kamipun sampai di depan rumah.
Akupun keluar dari mobil. Rifkipun mengantarku sampai depan pintu. Tiba-tiba
ayah dan ibu keluar dari rumah. Ayah
merasa sangat marah saat melihat aku yang pulang tengah malam bersama
seorang laki-laki. Aku yang melihat ekspresi Ayah merasa takut. Berbeda halnya
dengan Rifki yang malah tersenyum kepada Ayah. Ayah pun langsung menyuruhku
untuk masuk kedalam rumah.
“Bah sekarang juga kamu masuk”. Ucap
ayah dengan sedikit emosi
“Tapi yah”. Sanggahku
“Masuk sekarang”. Jawab ayah yang
semakin marah saat aku membantahnya
“Gak apa-apa kamu masuk aja”. Ucap
Rifki mengerti
“Makasih ya Ki lo udah nganterin gua.
Gua masuk duluan ya”. Ucapku kepada Rifki
Rifki pun menganggukkan kepala sebagai
tanda menyetujui. Akupun masuk kedalam
rumah bersama ibu. Namun aku khawatir
dengan Rifki yang aku tinggal sendiri
bersama ayah didepan. Aku takut ayah marah kepada Rifki. Padahal Rifki
yang sudah membalikan kebahagianku yang sempat hilang beberapa hari lalu. Aku
takut ayah akan bertindak sesuatu terhadap Rifki. Namun aku segera menepis
pikiranku yang negatif ini.
“Om minta sama kamu jauhi Ibah”. Ucap
ayah dengan nada tegas
“Maaf om saya hanya ingin mengembalikan
kebahagiaan ibah saja. Saya tidak berniat untuk menyakiti ibah, hanya saja saya
hanya ingin melihatnya bahagia”. Jawab Rifki cukup tenang
“Om tahu, hanya saja om tak suka jika
ibah dekat denganmu. Om hanya ingin yang terbaik untuknya”. Ucap ayah sedikit
tegas
“sebelumnya saya minta maaf om, hanya
saja saya tak ingin melihat ibah selalu dalam kesedihan, untuk masalah menjauhi
ibah saya tidak bisa om. Karena saya tau betul apa yang dia rasakan, karena
kami sudah berteman lama. Sekali lagi saya minta maaf om saya tak bisa
mengikuti perintah om untuk mejauhi ibah. Kalau begitu saya pamit om, selamat
malam”. Ucap Rifki sambil pergi meninggalkan
Ayah yang mendengar jawaban Rifki
sedikit emosi dan tak terima, ayahpun langsung masuk kedalam rumah. Ayah pun
tak habis pikir dengan jawaban Rifki. Namun bagiku jawaban Rifki ada benarnya.
Aku sedikit kagum mendengarnya. Karena dialah sosok yang selalu ada untukku
saat orang tuaku justru malah meninggalkanku dan tak peduli terhadapku. Mungkin
aku mempunyai segalanya tapi sebetulnya bukan hanya itu saja yang aku butuhkan.
Aku lebih membutuhkan kasih sayang, perhatian, dukungan semangat dari mereka.
Namun, bagaimana mereka mau menyemangati, mendukung dan memperdulikanku,
sedangkan mereka tak pernah tahu keseharianku. Mereka terlalu sibuk dengan dunianya
sehingga mereka tak pernah tahu keadaanku.
“Ayah minta sama kamu mulai saat ini
jauhi pria itu”. Ucap ayah dengan nada tegas
“maksud ayah apa. Aku tak mengerti”.
Jawabku dengan menahan tangis
“pria itu tak baik untukmu. Jika
menurutmu dia pria baik kamu salah besar. Jika dia benar-benar pria baik dia
tak akan pernah memperkenalkan dunia malam kepadamu. Dia akan membimbingmu
kepada jalan benar bukan jalan kesesatan.
jadi ayah minta sama kamu untuk menjauhi pria itu sekalipun itu adalah
sahabatmu, jika tidak terpaksa ayah mengambil tindakan untuk mengirimmu ke
pesantren yang dipimpin oleh teman ayah”. Ucap ayah panjang lebar dengan
menahan amarah
“maaf yah aku ga bisa ikuti perintah
ayah untuk menjauhi Rifki, dia orang yang berarti dihidupku. Aku juga ga mau
pergi kepesantren, karena jika ayah ,mengirimku ke pesantren sama saja ayah ga
sayang sama aku, sama saja ayah ngebuang aku kepesantren. Ayah udah ga mau
ngurus aku kan. Ayah udah ga sayang sama aku, ayah udah ga peduli sama aku
makanya ayah mau kirim aku ke pesantren. Apa iya aku bukan anak ayah dan ibu.
Apa iya aku anak yang emang ga punya orang tua”. Jawabku dengan air mata yang
mengalir
“Siapa yang mengajari kamu berani
membantah orangtuamu, apa pria itu yang udah nyuci otakmu untuk membantah ayahmu
sendiri. Apa yang pria itu lakukan sehingga kamu berubah seperti ini. Ayah
hanya ingin yang terbaik untukmu. Ayah gak mau kamu terus-terusan dalam
kesesatan. Jadi ayah minta sama kamu untuk ikuti perintah ayah”. Jawab ayah
dengan marah karena mendengar jawabanku
“Apa ayah pernah memikirkanku,
bagaimana aku hidup tanpa ayah dan ibu
disisiku?. Ayah yang terlalu sibuk dengan pekerjaan ayah. Ayah yang selalu
pergi tanpa adanya persetujuan dariku. Ayah yang selalu mengandalkan seseorang
untuk merawatku tanpa berpikir apa yang akan terjadi, tanpa berpikir apa aku
nyaman dengannya. Apa ayah pernah memikirkannya?”. Jawabku dengan sedikit emosi
dan berderai air mata
“Ayah pun bukan semata-mata pergi.
Tetapi disini ayah mencari nafkah untuk membiayaimu hidup”. Bela ayah, mungkin
disini memang ayah yang salah sayang, tapi ayah mohon tolong ikuti apa yang
ayah perintahkan ”
“ Tapi mengapa ayah mengambil tindakan yang hanya akan menyakitiku.
Mengapa yah”. Belaku
“Bukan ayah ingin menyakitimu nak,
namun ayah hanya ingin yang terbaik untukmu. mungkin disini memang ayah yang
salah sayang, tapi ayah mohon tolong ikuti apa yang ayah perintahkan ”. Pinta
ayah
“Apa tak ada cara lain yah. Aku mohon
jangan suruh aku untuk menjauhi teman-temanku terlebih Rifki. Justru dengan
cara seperti ini sama saja ayah
merenggut kebahagiaanku”. Ucapku dengan memohon
“Ayah beri kamu waktu untuk memikirkan
semuanya. Ayah berharap kamu mau mengikuti apa kata ayah”. Ucap ayah sambil
berlalu ke kamar
Akupun pergi meninggalkan ibu yang dari
tadi berada disampingku. Aku pergi kekamar dan menguncinya. Ibu yang berada
diluar terus saja memohon untuk dibukakan pintunya. Namun, aku tak mengurisnya.
Aku lebih memilih menangis untuk meredakan kekesalanku. Disamping itu, ibu
berusaha membujukku. Namun lama kelamaan aku tak mendengar suara ibu lagi.
Mungkin ibu sudah pergi dari depan kamarku menuju kamar tidur ibu. Akupun merasa cape karena terlalu lama
menangis. Akhirnya akupun terlelap hingga pagi.
Keesokan harinya
Aku bangun tepat pukul 05.30. Aku merasa
malas untuk bangun namun aku mencoba untuk melawan rasa malasku. Aku pun
bergegas untuk mandi dan bersiap untuk pergi ke sekolah. Aku keluar dari kamar untuk turun ke ruang
makan. saat aku melewati kamar ayah dan
ibu. Tanpa sengaja Aku mendengar percakapan mereka. Sungguh aku tak habis pikir
kepada ayah yang bersikeras mengirimku kepesantren. Aku bergegas pergi dari
depan kamar ayah keruang makan agar aku tak ketangkap basah oleh ayah dan ibu.
Tak lama setelahnya ibu dan ayah datang ke dapur untuk sarapan. Akupun pamit
kepada mereka setelah selesai makan.
“Aku berangkat bu yah”. Ucapku kepada
keduanya
“Kamu udah sarapan sayang, gak
berangkat bareng sama ayah nak”. Tanya ibu dengan senyum indahnya
“udah bu, lagi buru-buru bu aku
berangkat naik taxi aja”. Jawabku dengan senyum pula
“Ayah minta jangan pulang malam. Ada
hal yang ingin ayah sampaikan padamu”. Ucap ayah dengan dingin
Aku tak menggubris perkataan ayah. Aku
langsung pergi meninggalkannya, karena aku tak ingin berdebat seperti semalam.
Akupun langsung meluncur kesekolah. Sesampainya disekolah akupun segera mencari
teman-temanku. Ternyata mereka sedang menungguku di koridor sekolah. Akupun
bergabung bersama mereka. Mereka menanyakan perihal semalam. Akupun
menceritakan dari awal hingga akhir. Tak lama setelahnya, bel tanda masuk
berbunyi dan kamipun masuk ke kelas. Saat dikelas aku masih memikirkan kejadian
tadi pagi. Aku bingung harus gimana. Sampai bel terakhir aku masih dengan
pikiranku.
Aku pulang bersama teman-temanku.
Dimobil mereka menghiburku, namun aku tetap merasa bingung harus melakukan
tindakan apa. Mereka semua mengajakku ke mall untuk menghilangkan rasa sedihku.
Namun, aku yang sedang merasa tak mood, akhirnya aku hanya diam saja tak
seperti biasanya. Akhirnya mereka yang merasa bahwa aku tak merespon apapun,
kita pun memutuskan untuk pulang.
Aku sampai dirumah pukul 20.30. saat
aku hendak membuka pintu tiba-tiba ayah sudah membukanya terlebih dahulu,
sontak aku merasa kaget karena dengan muka
Ayah yang terlihat marah. Akupun akhirnya menghampiri ayah yang sedang
duduk bersama ibu disampingnya dengan seribu keberanian.
“Tadi pagi ayah sudah katakan padamu
bahwa jangan pulang terlalu malam. Apa seperti ini yang kamu lakukan ketika
ayah dan ibu tak ada dirumah”. Ucap ayah dengan nada marah
“Jika iya memang kenapa, toh ayah tak
tahu kan”. Jawabku asal
“Ayah pikir kamu anak baik, ayah pikir
kamu akan menuruti perinta ayah tapi ayah salah menyimpulkan semua itu”. Ucap
ayah dengan penuh tekanan
“Maaf yah apa ayah pernah berpikir mengapa
aku bisa seperti ini. Apa ayah pernah berpikir akan seperti apa aku tanpa
perhatian kalian. Maaf yah mungkin aku sudah keterlaluan. Tapi inilah fakta
yang aku rasakan”. Jawabku dengan air mata yang mengalir deras dan berlalu
pergi meninggalkan ayah dan ibu ke kamar
Ibu pun menegejarku yang lari dari
ruang tamu ke kamar. Akupun buru-buru menutup pintu. Ibu yang mengetuk pintu
berkali-kali tak aku respon sedikit pun. Aku benci dalam keadan ini. Akhirnya
akupun kabur dengan lewat jendela. Di perjalanan yang sepi ini aku bingung mau
kemana, sedangkan handphoneku lowbet. Akhirnya aku berjalan tanpa aku tau akan
kemana tujuanku ini. Ditengah perjalanan ada segerombolan pria dalam keadaan
mabok. Aku merasa takut tetapi sebisa mungkin saat aku melewati mereka dengan
wajah biasa saja. Awalnya memang mereka biasa saja, namun saat aku mulai
mendekat dengan mereka tiba-tiba tanganku dicekal salah satu pria itu. Akupun
memberontak namun apalah dayaku yang hanya seorang wanita tak mempunyai tenaga
yang cukup besar untuk melawan mereka. Namun, dengan seluruh pikiran cerdikku
akupun akhirnya lolos dari mereka, tetapi mereka mengejarku. Aku merasa takut,
dalam hati aku terus merapalkan do’a kepada sang maha kuasa untuk menolongku.
Dibelokan jalan, aku yang sedang dalam keadaan takut aku yang berlari tanpa
melihat sekeliling tiba-tiba ada benda yang berukuran cukup besar menabrak
tubuhku. Aku terhempas cukup jauh. Saat itulah aku tak sadarkan diri.
Akupun membuka mataku. Saat membuka
mata aku cukup aneh dengan ruangan yang aku tempati. Aku merasa asing dengan
tempat ini. Tiba-tiba ada pria yang berdiri di dekat tempatku berbaring.
“Kau sudah sadar nona, sebelumnya saya minta maaf telah
menabrakmu. Namun, saya sedikit heran mengapa nona ada di tengah jalan
malam-malam dan dengan keadaan sendiri pula”. Ucapnya
Aku baru menyadari bahwa aku sedang ada
di rumah sakit. Namun, dimana ayah dan ibuku apa mereka sudah benar-benar tak
peduli denganku. Tanyaku dalam hati
“Nona apa kau mendengar saya. Mengapa kau malah menangis”. Ucap pria itu dengan lembut
“o, iya tadi masnya ngomong apa ya.
Maaf saya tek mendengarnya”. Jawabku sambil mengusap air mata
”Apa yang nona lakukan ditengah jalan
sendiri”. Tanyanya
“Sa...sa...saya se...dang”. Jawabku
terbata-bata karena tak mampu untuk menjawabnya
Akhirnya aku tak sanggup untuk menjawab
pria itu. Aku menangis sejadi-jadinya hingga pria itu merasa kebingungan atas
tingkahku. Saat aku menangis tiba-tiba ada pria sepantar dengan pria yang
berada dihadapanku masuk. Aku tak tahu siapa mereka. Kubiarkan mereka. Pria
itupun mengobrol berdua. Mungkin mereka merasa aneh dengan tingkahku, namun
jujur aku tak sanggup membayangkan semuanya.
“Apa nona sudah merasa tenang”. Tanya
pria itu saat aku sudah berhenti menangis
“Sebelumnya perkenalkan nama saya Rouf
dan ini teman saya namanya Albi”. Ucapnya sambil memperkenalakn diri
“Maaf apa kalian yang sudah
menyelamatkanku dari pria-pria itu. Perkenalkan juga saya Ibah”. Jawabku dengan
mengingat-ingat kejadian semalam
“kalau boleh tau pria mana. Karena kami disini orang yang
telah menabrak nona hingga nona seperti ini”. Jawabnya dengan heran
“Oh begitu, ya sudah lupakan saja
masalah tadi”. Jawabku
“Maaf
nona maksudnya Ibah, kalau boleh tau dimana orang tuamu”. Tanya Rouf
dengan hati-hati
“Orang tuaku. Entahlah mereka masih
mempedulikanku atau tidak”. Jawabku dengan menahan tangis
“Kamu boleh kok cerita kepada kami, ya
walaupun kami baru saling kenal mungkin
kami bisa membantumu menyelesaikan masalahmu”. Ucap Albi kepadaku
Akhirnya aku menceritakan apa yang aku
alami hingga aku tebaring lemah disni. Walaupun aku baru kenal dengan mereka
tapi aku yakin mereka orang baik-baik. Mengapa aku bilang mereka baik karena
dari penampilan dan cara berbicara mereka sangat sopan. Akupun tak mengerti
mengapa hatiku sangat percaya kepada mereka. Mereka pun sepertinya orang-orang
yang begitu mengenal agama, tidak sepertiku yang hanya tahu dunia malam. Begitu
naasnya hidupku, mungkinkah mereka orangn yang beruntung, orang yang begitu
puas mendapatkan kasih sayang orangtuanya.
“Maaf sebelumnya. Menurutku kamu itu
salah satu orang yang paling beruntung, karena kamu memiliki segalanya, baik
itu materimu maupun kedua orang tuamu”. Ucap rouf
“Maksudmu apa, aku tak mengerti”.
Jawabku
“Jadi gini, kamu masih punya orang tua
yang utuh tidak sepertiku. Kedua orang tuaku sudah lama meninggal sejak aku
berumur 10 tahun karena kecelakan. Kamu bisa bayangkan bukan, di usiaku yang
terbilang masih kecil aku harus ditinggal oleh orangtuaku, di usiaku yang masih
terbilang masih sangat-sangat butuh bimbingan, kasih sayang, perhatian dan
segala macam aku harus kehilangan mereka. Namun, aku sangat bersyukur walaupun
aku sudah tak punya orang tua, masih ada
orang yang menyayangiku hingga beliau mau mengangkatku sebagai anaknya sendiri,
yaitu kedua orang tua Albi. Akupun pernah berpikir sama sepertimu mengapa
takdir tak berpihak padaku, mengapa Allah tak sayang padaku, mengapa Allah
mengambil orang yang aku sangat-sangat cintai, tapi akupun berpikir apa gunanya
aku menyalahkan takdir toh semuanya gak akan kembali seperti semula. Disitulah
aku berusaha mencoba ikhlas, berusaha untuk lebih mendekatkan diri kepada sang
pencipta dengan cara aku mengikuti kajian-kajian islami. Mungkin kamu berpikir
untuk apa aku melakukan ini, aku melakukan ini karena aku hanya ingin
memperkuat imanku, aku hanya ingin mencoba untuk bisa dekat dengannya, aku ingin bercerita banyak dengan penciptaku
bahwa aku sedang merasa sedih. Dan saat aku sedang merasa sedih, gelisah,
takut, marah, kecewa atau merasa aku sedang sendiri aku akan membaca
ayat-ayatnya. Dan saat itulah aku akan merasakan ketenangan, aku akan merasa
bahwa Dia sangat dekat denganku. Hingga
akhirnya aku tak mampu untuk membalas Kebaikan-Nya. Dan untuk kamu seharusnya
kamu itu menghormati mereka, seharusnya kamu itu jadi mutiara mereka,
seharusnya kamu berfikir positif terhadap mereka bukan malah sebaliknya”.
Ucapnya panjang lebar
“Tapi apa aku salah melakukan ini.
Bukankah aku seperti ini juga karena mereka. Aku hanya ingin mereka peduli
denganku, aku hanya ingin mereka perhatian padaku bukan malah selalu
meninggalkanku seorang diri. Alasanku kenal dengan dunia malam, aku hanya ingin
melupakan semua kesedihanku, apa saat aku merasa sedih mereka akan merasakan
apa yang aku rasakan, apa saat aku merasa kesepian mereka juga merasakannya
dengan jarak mereka yang sangat jauh denganku”. Jawabku dengan air mata yang
tak henti-hentinya mengalir
“Setiap orang tua mempunyai kontak
batin dengan anaknya. Orang tuamu pasti selalu memikirkanmu dari kejauhan
walaupun kamu tak melihatnya. Apa kamu juga tahu alasan mereka pergi dari kota
satu ke kota lain untuk apa? Mereka mencari nafkah untukmu, untuk membiayai
sekolah, untuk memenuhi kebutuhan yang kamu inginkan. Hanya saja disini kamu
terlalu cepat mengambil kesimpulan. Maka dari itu kamu selalu berpikir negatif
tentang orang tuamu. Minta maaflah pada orang tuamu yang sudah membesarkanmu
hingga sekarang, yang sudah merawatmu tanpa mengeluh sedikit pun tentang
dirimu, yang tak pernah merasa tidak beruntung dengan kehadiranmu dihidupnya.
Yang selalu menyayangimu walau kamu telah melakukan kesalahan yang sangat
menyakitinya.”. Ucap Albi meluruskan
“Tapi apa orangtuaku akan memaafkanku
atas kesalahan yang telah aku perbuat, apa mereka akan senantiasa membuka lebar
tangannya untuk menerimaku kembali dihidupnya. Karena yang aku inginkan untuk
saat ini hanyalah kebahagiaan”. Jawabku dengan penuh harap
“Aku yakin untuk sekarangpun mereka
pasti sedang merasa khawatir kepadamu karena tidak ada dirumah. Jadi hubungilah
mereka. Minta maaflah padanya. Satu lagi jika kamu sedang merasa sedih,
gelisah, takut, kecewa, marah dan tak punya siapa-siapa ingat bahwa Allah
selalu ada untukmu. Berdoalah pada-Nya, mengadulah pada-Nya serahkan semua
urusanmu kepada-Nya. Karena hanya Dialah yang tahu segala-galanya. Untu masalah
kebahagiaan kamu tak perlu membeli atau pergi mencari susah payah kebahagiaan
itu.... Yang kita perlukan adalah hati yang bersih dan ikhlas serta pikiran
yang jernih, maka kita bisa merasakan bahagia itu kapan pun, dimana dan dengan
kondisi apapun. Kebahagiaan itu milik orang-orang yang pandai bersyukur bukan
malah sebaliknya yang tak bisa menerima takdir apapun”. Ucap Rouf
Saat itulah aku menghubungi kedua orang
tuaku. Aku memberitahuakan bahwa aku sedang dirumah sakit. Dalam telpon aku
mendengar ibu menangis karena khawatir padaku. Yang dikatakan Rouf memang benar
bahwa kedua orang tuaku sangat menyayangiku walaupun mereka tak pernah ada
disampingku.
“Boleh aku minta bantuan pada kalian”.
Tanyaku dengan ragu
“Tentu. Jika kami bisa lakukan pasti
kami akan bantu”. Jawab rouf
“Bantu aku untuk menjadi lebih baik,
aku ingin membahagiakan kedua orang tuaku, aku ingin menebus
kesalahan-kesalahan yang telah aku perbuat pada mereka, aku ingin menjadi
mutiara yang mereka inginkan. Bantu aku untuk mewujudkannya”. Ucapku dengan
kepala menunduk dan air mata yang mengalir
“Alhamdulillah akhirnya kamu telah
menjemput hidayahmu. Kami berdua insha allah siap membantumu”. Jawab Rouf
dengan rasa terharu
“Terima kasih. Ini semua berkat kalian.
Kalian yang telah membuatku sadar. Kalian sudah menyadarkanku bahwa yang aku
lakukan tidak baik, kalian yang udah mengarahkanku ke jalan kebenaran dan
mengeluarkanku dari jalan kesesatan. Sekali lagi makasih”. Ucapku kepada
keduanya
“Ini semua takdir yang sudah Allah
tentukan. Kami hanyalah perantaramu, tanpa ketentuan dan izin-Nya mungkin kami
tak akan ada disini untuk membantumu”. Jawab Albi
Tak lama kemudian Ayah dan ibu datang.
Ibu yang melihat kondisiku langsung menangkapku kedalam pelukannya. Dia
menangis sejadi-jadinya. Akupun membalas pelukannya. Aku rindu dengan pelukan
ini, aku rindu dengan sentuhan hangat ini, aku rindu. Begitupun dengan ayah
yang melihat kondisiku dia merasa sedih. Kulihat dari raut wajahnya yang begitu
mengkhawatirkanku.
“Sayang apa yang terjadi padamu nak”.
Tanya ibu dengan rasa khawatir
Akupun menceritakan kejadian dari awal
hingga aku berada disini dengan detail. Ibu yang mendengar ceritaku menangis
tak henti-hentinya. Akupun meminta maaf kepada ayah dan ibu yang sudah
membuatnya merasa khawatir. Ayah tersenyum bahagia mendengar permintaan maaf
dariku.
“Ayah ibu maafkan aku. Maafkan semua
kesalahanku, maaf jika aku sudah membuat kalian kecewa, maaf jika aku sudah
membantah perintah mu, selama ini aku selalu membuat
ayah kecewa, aku menyesal yah atas kelakuan ku yang membuat ayah kesal dan
marah”. Ucapku dengan penuh penyesalan sambil
mengeluarkan air mata
“iya nak, ayah sudah memaafkan mu nak,
ayah dan ibu juga minta maaf karena ayah tidak bisa memberikan mu kasih sayang,
sekarang yang penting kamu harus cepat-cepat sembuh supaya kita bisa berkumpul
kembali” ucap ayah sambil terharu.
“iya ayah, aku bakal nurutin semua kata
ayah dan ibu, tapi ayah juga jangan terlalu sibuk dengan urusan pekerjaan ayah
dan ibu,” ucapku dengan rasa lega.
“iya, sekarang ayah dan ibu akan
membagi waktu untukmu, agar tak ada kesalah paham lagi. Ayah akan berusaha
untuk menjadi ayah yang baik untukmu”. Ucap ayah
“Dan ibu akan berusaha menjadi ibu yang
baik untumu”. Ucap ibu tak mau kalah sambil memelukku
“Terima kasih nak kalian berdua telah
mengembalikan ibah yang dulu. Mungkin tanpa kalian ibah tak akan seperti ini.
Karena dia sudah tak mau mendengarkan ucapan om”. Ucap ayah kepada rouf dan
albi
“Sama-sama
om. Itu sudah termasuk kewajiban kami sebagai orang muslim mengingatkan kepada
saudara kita agar kembali kejalan yang diridhoi oleh Allah”. Jawab rouf
Aku yang mendengar perkataan ayah
sangat terharu. Akupun tersenyum kepada rouf dan albi. Sungguh aku beruntung
telah dipertemukan oleh Allah dengan mereka. Mungkin tanpa arahan dari mereka
aku masih menjadi wanita yang sangat merugi karena lebih memilih kejalan yang
sesat dibandingkan jalan yang diridhoi Allah Swt. Ucapku dalam batin
“Ibu apa ibu tak marah kepadaku atas
perlakuanku yang sudah melampaui batas ini”. Tanyaku kepada ibu
“Untuk apa ibu marah kepadamu. Justru
ibu merasa bangga kepadamu karena kamu mau mengakui kesalahanmu”. Jawab ibu
dengan tenang.
Sungguh betapa kagumnya aku kepada ibu.
Terbuat dari apakah hatinya ini ya rabb sampai-sampai dia tak merasa kecewa
terhadapku yang jelas-jelas telah melakukan kesalahan yang keterlaluan ini.
Dari ibu aku bisa mengambil banyak pelajaran yang menurut ku suatu pelajaran
yang sangat luar biasa. Menurut ku, ibu adalah seorang pahlawan yang tanpa
tanda jasa, wanita yang memilki super power, ibu seorang lentera
kehidupan, ibu yang tidak kenal “pantang menyerah”, ibu yang mengorbankan
seluruh tenaga nya bahkan nyawanya ketika melahirkan aku, dan masih banyak
pengorbanan yang tidak bisa disebutkan satu persatu. Hanya dengan mengakui
kesalahanku ini ibu justru merasa bangga kepadaku. Sungguh aku sangat
menyayanginya.








0 komentar:
Posting Komentar