Jumat, 19 Juni 2020

Revolusi Kehidupan Masa Kelam

Aku bukanlah wanita sempurna, aku juga bukanlah wanita dari kalangan keluarga yang dekat dengan penciptaku. Namun, aku berusaha menjadi hamba yang benar-benar taat kepada  sang  kholiq. Tapi, tanpa adanya dukungan dan dorongan dari keluargaku, apakah aku mampu menjalankan semua ini.👧👧👧

 “Ibah cepat turun kita sarapan pagi dulu”. Teriakan ibu memang tak pernah absen dipagi hari. Namun, entah mengapa aku sangat menyukainya.

“Iya bu sebentar lagi.” Balasku.

“selamat pagi bu, yah.” Sapaku saat aku menghampiri mereka.

“Anak ayah lama sekali mandinya, apa gak malu sama tikus-tikus rumah yang bangunnya lebih awal darimu?” Sindir ayah

“Ayah kok jahat si samain aku sama tikus. aku inikan manusia yah bukan hewan.” Gerutuku

“Sudah-sudah kok pagi-pagi malah ribut tidak baik ribut pagi-pagi malu sama tetangga.” Sanggah ibu.

“Memang ibu doang yang selalu membuatku merasa senang dipagi hari.” Dumelku dalam hati.

Lalu ibu memberikanku roti yang telah dibuatnya tadi. Kami pun sarapan dengan hikmat. Setelah sarapan selesai kami berangkat ketempat yang harus kami tuju masing-masing. Ayah pergi ke kantor untuk melaksanakan aktivitasnya sebagai pekerja, ibu pergi ke butik dan aku pergi kesekolah untuk mencari ilmu.

sesampainya disekolah seperti biasa aku menghampiri teman-temanku yang sedang berkumpul. Karena itulah rutinitas yang kami lakukan sebelum bel bebunyi. Saat aku hendak menaruh tas tiba-tiba sela temanku langsung menarikku agar cepat menghampiri mereka. Akhirnya akupun ikut bergabung dengan mereka.

Tak lama kemudian, Bel pun berbunyi dan tak lama pak agus guru matematika masuk dan memberitahukan bahwa hari ini ulangan harian. Sontak seisi kelas protes karena belum adanya persiapan. Akhirnya pak agus memberi kami waktu 15  menit untuk belajar. Setelahnya kami ulangan dengan terpaksa. Aku dan teman geng ku merasa kesal dengan pak agus yang akhirnya mengerjakan soal secara asal. Bel istirahat pun berbunyi pak agus pun menyuruh kami untuk mengumpulkan ulangan tersebut. Kami pun mengumpulkannya. Setelah pak agus keluar, aku dan teman geng ku pergi ke kantin. Sesampainya di kantin kami duduk di tempat biasa dan Sela pun memesan makanan. Selama pesanan kami belum datang kamipun mengobrol-ngobrol dan memainkan hp. Ditengah-tengah obrolan kami pesanan pun datang akhirnya kami menghentikan obrolan kami dan langsung menyantap makanan kami. Setelah makanan kami habis tak lama kemudian bel pun berbunyi akhirnya kami kembali ke kelas. Pembelajaran berlangsung hingga jam terakhir. Bel pulang pun berbunyi. Semua murid keluar kelas terkecuali aku yang sedang memasukkan buku-buku kedalam tas. Setelah selesai memasukan buku kedalam tas aku pun bergegas keluar. Ternyata di depan kelas teman gengku menungguku kukira mereka meninggalkanku yang hendak ke mall ternyata mereka menungguku.

“Cie nunggu” Gurauku dengan mata yang berkedip-kedip.

“Iya ni, kamu kira nunggu itu enak apa” Jawab lita sedikit cuek.

“Hehehe maaf ya”. Jawabku dengan menggaruk kepalaku yang tak gatal.

“Ayo kita berangkat” jawab sela menengahi

“ayo” jawabku dengan semangat

Sesampainya di mall kami makan terlebih dahulu karena cacing-cacing perut sudah lapar. Akupun memesan spagethi, burger, jus alpukat dan ice cream. Sedangkan teman-temanku yang lain memesan selera yang mereka inginkan. Selanjutnya kami memilih untuk berkeliling-keliling sampai langkah kaki kami terhenti di sebuah toko sepatu. Aku pun melihat-lihat sepatu dan yaps aku menemukan sepatu yang aku inginkan. Sepatu yang sangat memalingkan perhatianku yang segera membuat dompetku seolah-olah menarikku untuk segera ke tempat kasir. Sedangkan teman-temanku yang lain masih memilih-milih. Aku menunggu mereka sambil memainkan ponselku. Tiba-tiba ada notif masuk ke ponselku ternyata pesan dari ibu. Ibu bilang bahwa ayah dan ibu akan pergi ke luar kota hari itu juga  karena urusan kerja. Aku menghembuskan nafas kasar. Lagi-lagi aku ditinggal pergi sendiri oleh kedua orang tuaku dirumah. Aku merasa kesal karena mengapa kedua orang tuaku terlalu sibuk dengan pekerjaannya sedangkan aku tak di pedulikan.  Saat aku sedang melamun, teman-temanku datang menghampiriku. Mereka bertanya mengapa aku melamun. Akupun menjawab tidak ada apa-apa.  Namun pada kenyataanya aku sedang merasa kesal kepada orang tuaku.

Setelah belanja begitu banyak dari Mall, saya dan teman-teman bergegas pulang karena sudah malam. Tibalah saatnya aku sampai dirumah, badan yang terasa sudah gatal dan lelah mendorong raga ini untuk mengusap tubuhku ini. Tetes demi tetes yang mengguyur sekujur tubuhku seolah membuatku nyaman. Usai mengganti pakaian, relung hatiku pun gundah  merenung.

“ya tuhan, alangkah buruknya hidupku.mengapa?, aku tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari orang tuaku, mereka terlalu sibuk dengan dunianya, sedangkan teman-temanku yang memiliki orang tua super sibuk tapi mereka masih mendapat kasih sayang dari orang tuanya, tapi mengapa tidak denganku? Aku benci dengan keadaan ini.

Perasaan yang gundah bercampur balutan kesedihan berputar mengelilingi pikiranku. Keresahan yang merujuk menguasai hati tanpaku sadari membuat langkah hidupku yang sedemikian waktu semakin sempit.

Setelah merenung. Dengan tiba-tiba teman ku menelpon, dia mengatakan “hai, ibah besok setelah pulang sekolah ada acara tidak?

“tidak, emang kenapa?” jawabku penuh rasa ingin tahu.

“rencananya aku bakal ngajak kamu belanja di Mall setelah pulang sekolah, bisa kan? Ucap anggi temanku

“oh, bisa banget sekalian aku pengen menjernihkan pikiran” jawab ibah.

“baiklah, memangnya ada apa denganmu”  ujar anggi.

“tidak ada apa-apa, aku hanya merasa bosan saja dengan keadaanku” jawabku

“oh, kalau begitu sampai ketemu besok. Good night”

“night” jawabku

Setelah menelepon, aku langsung tidur karena sudah merasa ngantuk dan letih setelah seharian sekolah dan pergi ke Mall.

Suara ayam telah berkokok, menandakan sudah pagi.

aku bangun dari tempat tidurku, namun aku sedikit heran mengapa tumben sekali ibu tidak membangunkanku. Alangkah bodohnya aku, aku lupa jika kedua orang tuaku sedang pergi keluar kota, aku pun bergegas mandi, mempersiapkan baju sekolah dan sarapan, setelah rapih aku duduk di meja makan untuk sarapan pagi yang telah di sediakan oleh pembantuku. Setelah makan, aku pun langsung berangkat ke sekolah dengan mengendarai Taxi.

Setelah sampai di sekolah, seperti biasanya, sebelum bel aku bergabung dengan temanku untuk membicarakan sesuatu. Setelah lama berbincang-bincang, bunyi bel terdengar keras yang menandakan waktu pembelajaran sudah di mulai. Aku pun masuk kelas bersama teman yang lainnya. Ketika proses KBM, ternyata ada tugas mata pelajaran Fisika. Aku pun baru menyadarinya, karena aku  mengira bahwa tidak ada tugas. Guru fisika pun menghampiriku karena melihatku dengan panik.

 “ibah mengapa kau merasa panik, mana tugasmu apa kau sudah mengerjakannya?”. Tanya guru.

“tidak pak, tidak apa-apa. Hanya saja saya belum mengerjakan tugas yang bapak berikan kemarin”, jawabku.

“kenapa kau tidak mengerjakannya?”, tanya guru dengan rasa penasaran.

“saya tidak tahu kalau ada tugas pak”, jawabku dengan ketakutan.

“kenapa tidak tahu? Padahal bapak sudah memberi tahu kepada semuanya”, jawab guru.

“iya pak, saya minta maaf  karena tidak mengerjakan tugas”, ucapku dengan kesedihan.

“ ya sudah, karena kamu tidak mengerjakan tugas, bapak  akan menambahkan tugas mu, yaitu mengerjakan pilihan dan uraian halaman 21, minggu depan harus sudah selesai” ucap guru.

“baik pak, saya akan mengerjakan  tugasnya dengan baik” jawabku dengan penuh beban.

setelah itu, bel istirahat berbunyi dengan keras. Aku  bersama teman-temanku pergi ke kantin untuk membeli beberapa makanan, setelah sampai di kantin kami  memesan makanan. Tak begitu lama makanan yang di pesan telah tiba dan langsung disantap dengan lahap. setelah makan, kami  berbincang-bincang. Tak begitu lama bel pun berbunyi menandakan waktu istirahat telah selesai. Kami pun langsung bergegas masuk kedalam kelas.

Bel pulang telah tiba, kami langsung bersiap-siap untuk pergi ke mall dengan mengendarai mobil anggi.

Setelah sampai di mall kami langsung pergi ke toko baju, setelah itu memilih setel baju yang diinginkan, setelah menemukan setel baju yang cocok kami langsung membayarnya ke kasir. Teman-temanku yang berada dibelakangku bertanya-tanya karena mereka melihat aku yang belanja tidak seperti biasanya. Aku membeli setel baju yang cukup banyak. Sela pun berkomentar  “ibah, kok tumben nih memborong baju?”, tanyanya dengan  penuh rasa heran.

“iya nih, aku lagi pengen  belanja banyak sekalian aku pengen refresh otak yang sedang pusing” jawabku meyakinkan.

“oh begitu toh, yaudah sekarang kita makan yuk? Udah laper nih perut” balas citr.

“oke, semuanya biar aku traktir, pokoknya kita disini untuk bersenang-senang” ujarku.

“bener nih?”tanya anggi.

“iya beneran, pokoknya kamu mau makan apa aja silahkan, kamu puas-puasin disini”

“yeyyyyy, makasih ya ibah”, jawab anggi dengan rasa bahagia.

Semua temanku memilih menu makan yang serba mahal, setelah semuanya makan, kamipun bergegas pulang ke rumah masing-masing.

Setelah sampai di rumah, aku langsung mandi dan makan malam. Selesai makan malam, aku pergi ke kamar. Namun, pikiranku sangat kalut akupun akhirnya memutuskan pergi ke suatu tempat untuk menenangkan pikiranku. Saat diperjalanan aku bingung mau pergi kemana. Tiba-tiba ponselku berdering ternyata Rifki teman lamaku menelpon.

“Halo bah, apa kabar.” Ucap Rifki disebrang telepon

“Halo ki, baik. Lo sendiri apa kabar. Ngomong-ngomong tumben lo nelpon gua, ada apa”. Jawabku kepada Rifki

“kabar gua baik. Hehehe, lo lagi sibuk gak”. Tanyanya

“Tidak emang ada apa”

“kebetulan dong. Lo ikut gua yuk ”. Tanya Rifki

“Kemana”. Jawabku

“udah ikut aja, gua tau lu lagi ada masalah kan”.

“sok ta banget si lo”. Jawabku dengan nada yang sedikit emosi

“selow aja bro. Gua Cuma mau ngajak lo ketempat yang akan membuat lo melupakan masalah lo”. Jawabnya menenangkan

“oke gua ikut sama lo”. Jawabku

“kalau begitu gua jemput lo kerumah ya”. Ucap Rifki

“ga usah lagian sebenernya gua juga lagi mau keluar. Soalnya gua merasa bosan dirumah sendiri. Tapi gua ga tau mau kemana, dan kebetulan lo ngajak gua keluar”. Jawabku menerangkan

“kalau gitu sekarang lo ada dimana biar gua jemput”. Tanyanya

“gua ada di cafe deket toko buku”. Jawabku

“ya udah kalau gitu lo jangan kemana-mana tunggu gua datang. Sekarang gua jemput lo”. Ucapnya

“oke gua tunggu ya”. Jawabku

15 menit kemudian Rifki datang setelahnya kami pergi dari cafe itu. Entah kemana aku dibawa, Rifki pun tak memberitahukanku kemana kita akan pergi. Dia terlalu fokus menyetir mobil. Cukup lama kita menempuh perjalanan akhirnya sampai juga. Tapi tunggu, aku merasa asing dengan tempat ini. Tapi sudahlah aku hanya ingin bisa melupakan masalahku yang sangat mengusik ketenanganku.

“Ki sebenarnya kita mau kemana sih, kok aku merasa asing dengan tempat ini”. Tanyaku kepada Rifki

“Pokoknya kamu ikut aja. Lagian didalam juga ada teman-teman kamu kok”. Jawabnya

“Bohong banget sih, mana mungkin ada teman-temanku”. Tanyaku lagi karena tak percaya dengan apa yang dikatakan Rifki

“Sungguh aku tak bohong. Kalau tak percaya ayo kita masuk”. Ajaknya

“Baiklah. ayo”. Jawabku kepada Rifki

Ternyata yang dikatakan Rifki benar. Didalam memang banyak teman-temanku. Tapi kok bisa mereka kenal dengan Rifki karena yang ku tahu Rifki adalah teman lamaku. Aku baru mengetahui kalau ternyata diantara kami berempat aku, anggi, sela, dan citra mempunyai pacar yang satu geng dengan Rifki. Jadilah mereka kenal dengan teman lamaku itu. Dan pada malam itu kami bersenang ria bersama hingga akhirnya aku bisa sedikit melupakan masalahku.

Keesokan harinya

Tidak seperti hari-hari biasa yang ku lakukan, aku melampiaskan segala masalah yang menimpaku dengan melangkahkan kakiku ke dunia yang baru aku kenal, yaitu diskotik. Sontak Dunia baru menyapa perjalan hidupku yang kian kelam dan meredup dari jalan kebenaran. Suasana dan tempat yang sangat berbanding terbalik dengan kehidupan seorang wanita muslimah. Pergaulan yang kian menyeret ke dalam kegelapan hayat, seakan menjorok kearah yang tak seorang insanpun menginginkannya. Dunia baru yang dia pilih seolah-olah menjadi jawaban dari semua problematika kehidupan yang kian semakin menerjang, yang mau tak mau ia harus merasakan apa yang seharusnya tidak ia rasakan. Pintu berkelip di sertai hembusan angin malam menyelimuti kulit, suasana baru yang ia pikir bisa menjadi jawaban akan problematika kehidupan yang menimpanya menjadi alasan utama seorang ibah memberanikan diri menjelajahi dunia baru yang satu langkah lagi ia tuju.dengan mengelus dada, lembaran keburukan yang akan ia awali dengan menjulurkan tangan ke sebuah gagang pintu yang semakin saja berat untuk ia lakukan. Ibah pun mendorong suar pintu perlahan, dan seperti malam sebelumnya dia berkumpul dengan teman-temannya. Mereka bersenang-senang dengan gembira tanpa berfikir bahwa kesenangan yang sedang dialami hanyalah kesesatan yang akan menyesal nantinya jika dilakukan dengan terus menerus. Namun, yang mereka fikirkan hanyalah bagaimana caranya bisa melupakan beban-beban kehidupan yang dialami.

“Bah gimana kabar nyokap sama bokap lo, apa mereka udah pulang dari luar kota”. Tanya anggi

“Buat apa lo nanyain mereka. Gua aja yang anaknya gak tau menahu tentang keadaan mereka”. Jawabku dengan ketus

“Lo gak kangen apa sama mereka sampai lo ga tau keadaan mereka”. Ucap anggi

“Anak mana si yang ga kangen sama orang tua sendiri. Tapi ya beginilah hidup gua yang kurang beruntung. Mereka terlalu sibuk dengan dunianya sendri”. Ujarku dengan sedih

“Lo jangan pernah ngerasa sendiri, kita disni selalu ada kok buat lo. Lo juga bisa kok nganggep nyokap bokap gua sebagai orang tua lo sendiri”. Ucap sela

“Iya bah lo jangan pernah ngerasa kalau lo ga punya sandaran. Lo bisa berbagi kesedihan sama kita-kita”. Ujar anggi

“Thanks ya lo semua udah peduli sama gua dibandingkan ortu gua sendiri”. Ujarku

“Udah dong sedih-sedihannya, kita disini bukan untuk bersedih-sedih tapi untuk bersenang-sesnang untuk melupakan semua beban pikiran. Mending kita lanjutin acaranya”. Ucap Rifki

Kami pun melanjutkan acara kami dengan rasa senang seperti yang sudah dilakukan beberapa hari lalu. Tiba-tiba ponselku berdering, ternyata Ayah menelponku. Dengan rasa malas dan berat hati akhirnya aku mengangkat telpon dari ayah.

“Ibah dimana kamu. Mengapa malam-malam begini belum pulang”. Ucap Ayah dengan nada marah

“Memangnya kenapa. Bukankah ayah sedang diluar kota. Tapi, mengapa ayah tau kalau aku sedang tidak dirumah”. Jawabku dengan nada heran

“Ayah dan Ibu sudah dirumah. Cepat pulang”. Jawab ayah

“Tanpa ayah suruhpun aku akan pulang yah”. Jawabku sedikit menghiraukan apa yang diperintah oleh ayah

“Sekarang pulang atau”.

“Atau apa yah. Atau ayah akan mengusirku dari rumah, iya yah”. Jawabku dengan nafas yang sudah mulai tak beraturan karena menahan tangis

“Ayah tunggu dirumah sekarang!”. Jawab ayah  lalu memutuskan telpon secara sepihak.

Aku pun langsung melempar ponselku ke meja. Teman-temanku langsung menghampiriku karena mereka sempat melihatku bertengkar dengan ayah di telpon. Teman-temanku menenangkanku. Lalu Rifki menyuruhku untuk pulang. Awalnya aku tak mau mengikuti perintahnya, namun saat Rifki memaksa untuk pulang akhirnya akupun mengikuti perintahnya. Aku pulang diantar olehnya, didalam mobil pun aku hanya diam sambil memperhatikan jalan. Berbeda dengan Rifki yang berbicara tanpa henti, namun aku tak menghiraukannya sama sekali.

“Bah nanti kalau bokap lo marah-marah dan ngapa-ngapain lo, lo langsung telpon gua aja ya. Gua bakal selalu ada buat lo”. Ujarnya

“Kalau nanti sampe rumah lo diusir. Lo langsung telpon gua atau anak-anak yang lainnya”

“Satu lagi lo jangan pernah sungkan buat hubungin anak-anak terutama gua. Gua akan selalu bantu lo kok, gua akan selalu ada buat lo”. Celoteh Rifki

“Bah lo kok diem aja si. Lo dengerin gua kan. Bah ”. Ucap Rifki dengan rasa kesal

“Emmm. Iya Ki, tadi lo ngomong apa. Sorry gua gak denger”. Jawabku

“Iyalah lo gak denger orang lo ngelamun”

“Hehehe. sorry”. Jawabku dengan wajah tak bersalah

Akhirnya kamipun sampai di depan rumah. Akupun keluar dari mobil. Rifkipun mengantarku sampai depan pintu. Tiba-tiba ayah dan ibu keluar dari rumah. Ayah  merasa sangat marah saat melihat aku yang pulang tengah malam bersama seorang laki-laki. Aku yang melihat ekspresi Ayah merasa takut. Berbeda halnya dengan Rifki yang malah tersenyum kepada Ayah. Ayah pun langsung menyuruhku untuk masuk kedalam rumah.

“Bah sekarang juga kamu masuk”. Ucap ayah dengan sedikit emosi

“Tapi yah”. Sanggahku

“Masuk sekarang”. Jawab ayah yang semakin marah saat aku membantahnya

“Gak apa-apa kamu masuk aja”. Ucap Rifki mengerti

“Makasih ya Ki lo udah nganterin gua. Gua masuk duluan ya”. Ucapku kepada Rifki

Rifki pun menganggukkan kepala sebagai tanda menyetujui.  Akupun masuk kedalam rumah bersama  ibu. Namun aku khawatir dengan Rifki yang aku tinggal sendiri  bersama ayah didepan. Aku takut ayah marah kepada Rifki. Padahal Rifki yang sudah membalikan kebahagianku yang sempat hilang beberapa hari lalu. Aku takut ayah akan bertindak sesuatu terhadap Rifki. Namun aku segera menepis pikiranku yang negatif ini.

“Om minta sama kamu jauhi Ibah”. Ucap ayah dengan nada tegas

“Maaf om saya hanya ingin mengembalikan kebahagiaan ibah saja. Saya tidak berniat untuk menyakiti ibah, hanya saja saya hanya ingin melihatnya bahagia”. Jawab Rifki cukup tenang

“Om tahu, hanya saja om tak suka jika ibah dekat denganmu. Om hanya ingin yang terbaik untuknya”. Ucap ayah sedikit tegas

“sebelumnya saya minta maaf om, hanya saja saya tak ingin melihat ibah selalu dalam kesedihan, untuk masalah menjauhi ibah saya tidak bisa om. Karena saya tau betul apa yang dia rasakan, karena kami sudah berteman lama. Sekali lagi saya minta maaf om saya tak bisa mengikuti perintah om untuk mejauhi ibah. Kalau begitu saya pamit om, selamat malam”. Ucap Rifki sambil pergi meninggalkan

Ayah yang mendengar jawaban Rifki sedikit emosi dan tak terima, ayahpun langsung masuk kedalam rumah. Ayah pun tak habis pikir dengan jawaban Rifki. Namun bagiku jawaban Rifki ada benarnya. Aku sedikit kagum mendengarnya. Karena dialah sosok yang selalu ada untukku saat orang tuaku justru malah meninggalkanku dan tak peduli terhadapku. Mungkin aku mempunyai segalanya tapi sebetulnya bukan hanya itu saja yang aku butuhkan. Aku lebih membutuhkan kasih sayang, perhatian, dukungan semangat dari mereka. Namun, bagaimana mereka mau menyemangati, mendukung dan memperdulikanku, sedangkan mereka tak pernah tahu keseharianku. Mereka terlalu sibuk dengan dunianya sehingga mereka tak pernah tahu keadaanku.

“Ayah minta sama kamu mulai saat ini jauhi pria itu”. Ucap ayah dengan nada tegas

“maksud ayah apa. Aku tak mengerti”. Jawabku dengan menahan tangis

“pria itu tak baik untukmu. Jika menurutmu dia pria baik kamu salah besar. Jika dia benar-benar pria baik dia tak akan pernah memperkenalkan dunia malam kepadamu. Dia akan membimbingmu kepada jalan benar bukan jalan kesesatan.  jadi ayah minta sama kamu untuk menjauhi pria itu sekalipun itu adalah sahabatmu, jika tidak terpaksa ayah mengambil tindakan untuk mengirimmu ke pesantren yang dipimpin oleh teman ayah”. Ucap ayah panjang lebar dengan menahan amarah

“maaf yah aku ga bisa ikuti perintah ayah untuk menjauhi Rifki, dia orang yang berarti dihidupku. Aku juga ga mau pergi kepesantren, karena jika ayah ,mengirimku ke pesantren sama saja ayah ga sayang sama aku, sama saja ayah ngebuang aku kepesantren. Ayah udah ga mau ngurus aku kan. Ayah udah ga sayang sama aku, ayah udah ga peduli sama aku makanya ayah mau kirim aku ke pesantren. Apa iya aku bukan anak ayah dan ibu. Apa iya aku anak yang emang ga punya orang tua”. Jawabku dengan air mata yang mengalir

“Siapa yang mengajari kamu berani membantah orangtuamu, apa pria itu yang udah nyuci otakmu untuk membantah ayahmu sendiri. Apa yang pria itu lakukan sehingga kamu berubah seperti ini. Ayah hanya ingin yang terbaik untukmu. Ayah gak mau kamu terus-terusan dalam kesesatan. Jadi ayah minta sama kamu untuk ikuti perintah ayah”. Jawab ayah dengan marah karena mendengar jawabanku

“Apa ayah pernah memikirkanku, bagaimana aku hidup  tanpa ayah dan ibu disisiku?. Ayah yang terlalu sibuk dengan pekerjaan ayah. Ayah yang selalu pergi tanpa adanya persetujuan dariku. Ayah yang selalu mengandalkan seseorang untuk merawatku tanpa berpikir apa yang akan terjadi, tanpa berpikir apa aku nyaman dengannya. Apa ayah pernah memikirkannya?”. Jawabku dengan sedikit emosi dan berderai air mata

“Ayah pun bukan semata-mata pergi. Tetapi disini ayah mencari nafkah untuk membiayaimu hidup”. Bela ayah, mungkin disini memang ayah yang salah sayang, tapi ayah mohon tolong ikuti apa yang ayah perintahkan ”

  “ Tapi mengapa ayah mengambil tindakan yang hanya akan menyakitiku. Mengapa yah”. Belaku

“Bukan ayah ingin menyakitimu nak, namun ayah hanya ingin yang terbaik untukmu. mungkin disini memang ayah yang salah sayang, tapi ayah mohon tolong ikuti apa yang ayah perintahkan ”. Pinta ayah

“Apa tak ada cara lain yah. Aku mohon jangan suruh aku untuk menjauhi teman-temanku terlebih Rifki. Justru dengan cara seperti ini sama saja ayah  merenggut kebahagiaanku”. Ucapku dengan memohon

“Ayah beri kamu waktu untuk memikirkan semuanya. Ayah berharap kamu mau mengikuti apa kata ayah”. Ucap ayah sambil berlalu ke kamar

Akupun pergi meninggalkan ibu yang dari tadi berada disampingku. Aku pergi kekamar dan menguncinya. Ibu yang berada diluar terus saja memohon untuk dibukakan pintunya. Namun, aku tak mengurisnya. Aku lebih memilih menangis untuk meredakan kekesalanku. Disamping itu, ibu berusaha membujukku. Namun lama kelamaan aku tak mendengar suara ibu lagi. Mungkin ibu sudah pergi dari depan kamarku menuju kamar tidur ibu.  Akupun merasa cape karena terlalu lama menangis. Akhirnya akupun terlelap hingga pagi.

Keesokan harinya

Aku bangun tepat pukul 05.30. Aku merasa malas untuk bangun namun aku mencoba untuk melawan rasa malasku. Aku pun bergegas untuk mandi dan bersiap untuk pergi ke sekolah. Aku keluar dari kamar untuk turun ke ruang makan.  saat aku melewati kamar ayah dan ibu. Tanpa sengaja Aku mendengar percakapan mereka. Sungguh aku tak habis pikir kepada ayah yang bersikeras mengirimku kepesantren. Aku bergegas pergi dari depan kamar ayah keruang makan agar aku tak ketangkap basah oleh ayah dan ibu. Tak lama setelahnya ibu dan ayah datang ke dapur untuk sarapan. Akupun pamit kepada mereka setelah selesai makan.

“Aku berangkat bu yah”. Ucapku kepada keduanya

“Kamu udah sarapan sayang, gak berangkat bareng sama ayah nak”. Tanya ibu dengan senyum indahnya

“udah bu, lagi buru-buru bu aku berangkat naik taxi aja”. Jawabku dengan senyum pula

“Ayah minta jangan pulang malam. Ada hal yang ingin ayah sampaikan padamu”. Ucap ayah dengan dingin

Aku tak menggubris perkataan ayah. Aku langsung pergi meninggalkannya, karena aku tak ingin berdebat seperti semalam. Akupun langsung meluncur kesekolah. Sesampainya disekolah akupun segera mencari teman-temanku. Ternyata mereka sedang menungguku di koridor sekolah. Akupun bergabung bersama mereka. Mereka menanyakan perihal semalam. Akupun menceritakan dari awal hingga akhir. Tak lama setelahnya, bel tanda masuk berbunyi dan kamipun masuk ke kelas. Saat dikelas aku masih memikirkan kejadian tadi pagi. Aku bingung harus gimana. Sampai bel terakhir aku masih dengan pikiranku.

Aku pulang bersama teman-temanku. Dimobil mereka menghiburku, namun aku tetap merasa bingung harus melakukan tindakan apa. Mereka semua mengajakku ke mall untuk menghilangkan rasa sedihku. Namun, aku yang sedang merasa tak mood, akhirnya aku hanya diam saja tak seperti biasanya. Akhirnya mereka yang merasa bahwa aku tak merespon apapun, kita pun memutuskan untuk pulang.

Aku sampai dirumah pukul 20.30. saat aku hendak membuka pintu tiba-tiba ayah sudah membukanya terlebih dahulu, sontak aku merasa kaget karena dengan muka  Ayah yang terlihat marah. Akupun akhirnya menghampiri ayah yang sedang duduk bersama ibu disampingnya dengan seribu keberanian.

“Tadi pagi ayah sudah katakan padamu bahwa jangan pulang terlalu malam. Apa seperti ini yang kamu lakukan ketika ayah dan ibu tak ada dirumah”. Ucap ayah dengan nada marah

“Jika iya memang kenapa, toh ayah tak tahu kan”. Jawabku asal

“Ayah pikir kamu anak baik, ayah pikir kamu akan menuruti perinta ayah tapi ayah salah menyimpulkan semua itu”. Ucap ayah dengan penuh tekanan

“Maaf yah apa ayah pernah berpikir mengapa aku bisa seperti ini. Apa ayah pernah berpikir akan seperti apa aku tanpa perhatian kalian. Maaf yah mungkin aku sudah keterlaluan. Tapi inilah fakta yang aku rasakan”. Jawabku dengan air mata yang mengalir deras dan berlalu pergi meninggalkan ayah dan ibu ke kamar

Ibu pun menegejarku yang lari dari ruang tamu ke kamar. Akupun buru-buru menutup pintu. Ibu yang mengetuk pintu berkali-kali tak aku respon sedikit pun. Aku benci dalam keadan ini. Akhirnya akupun kabur dengan lewat jendela. Di perjalanan yang sepi ini aku bingung mau kemana, sedangkan handphoneku lowbet. Akhirnya aku berjalan tanpa aku tau akan kemana tujuanku ini. Ditengah perjalanan ada segerombolan pria dalam keadaan mabok. Aku merasa takut tetapi sebisa mungkin saat aku melewati mereka dengan wajah biasa saja. Awalnya memang mereka biasa saja, namun saat aku mulai mendekat dengan mereka tiba-tiba tanganku dicekal salah satu pria itu. Akupun memberontak namun apalah dayaku yang hanya seorang wanita tak mempunyai tenaga yang cukup besar untuk melawan mereka. Namun, dengan seluruh pikiran cerdikku akupun akhirnya lolos dari mereka, tetapi mereka mengejarku. Aku merasa takut, dalam hati aku terus merapalkan do’a kepada sang maha kuasa untuk menolongku. Dibelokan jalan, aku yang sedang dalam keadaan takut aku yang berlari tanpa melihat sekeliling tiba-tiba ada benda yang berukuran cukup besar menabrak tubuhku. Aku terhempas cukup jauh. Saat itulah aku tak sadarkan diri.

Akupun membuka mataku. Saat membuka mata aku cukup aneh dengan ruangan yang aku tempati. Aku merasa asing dengan tempat ini. Tiba-tiba ada pria yang berdiri di dekat tempatku berbaring.

“Kau sudah  sadar nona, sebelumnya saya minta maaf telah menabrakmu. Namun, saya sedikit heran mengapa nona ada di tengah jalan malam-malam dan dengan keadaan sendiri pula”. Ucapnya

Aku baru menyadari bahwa aku sedang ada di rumah sakit. Namun, dimana ayah dan ibuku apa mereka sudah benar-benar tak peduli denganku. Tanyaku dalam hati

“Nona apa kau mendengar saya. Mengapa kau malah menangis”. Ucap pria itu dengan lembut

“o, iya tadi masnya ngomong apa ya. Maaf saya tek mendengarnya”. Jawabku sambil mengusap air mata

”Apa yang nona lakukan ditengah jalan sendiri”. Tanyanya

“Sa...sa...saya se...dang”. Jawabku terbata-bata karena tak mampu untuk menjawabnya

Akhirnya aku tak sanggup untuk menjawab pria itu. Aku menangis sejadi-jadinya hingga pria itu merasa kebingungan atas tingkahku. Saat aku menangis tiba-tiba ada pria sepantar dengan pria yang berada dihadapanku masuk. Aku tak tahu siapa mereka. Kubiarkan mereka. Pria itupun mengobrol berdua. Mungkin mereka merasa aneh dengan tingkahku, namun jujur aku tak sanggup membayangkan semuanya.

“Apa nona sudah merasa tenang”. Tanya pria itu saat aku sudah berhenti menangis

“Sebelumnya perkenalkan nama saya Rouf dan ini teman saya namanya Albi”. Ucapnya sambil memperkenalakn diri

“Maaf apa kalian yang sudah menyelamatkanku dari pria-pria itu. Perkenalkan juga saya Ibah”. Jawabku dengan mengingat-ingat kejadian semalam

“kalau boleh  tau pria mana. Karena kami disini orang yang telah menabrak nona hingga nona seperti ini”. Jawabnya dengan heran

“Oh begitu, ya sudah lupakan saja masalah tadi”. Jawabku

“Maaf  nona maksudnya Ibah, kalau boleh tau dimana orang tuamu”. Tanya Rouf dengan hati-hati

“Orang tuaku. Entahlah mereka masih mempedulikanku atau tidak”. Jawabku dengan menahan tangis

“Kamu boleh kok cerita kepada kami, ya walaupun  kami baru saling kenal mungkin kami bisa membantumu menyelesaikan masalahmu”. Ucap Albi kepadaku

Akhirnya aku menceritakan apa yang aku alami hingga aku tebaring lemah disni. Walaupun aku baru kenal dengan mereka tapi aku yakin mereka orang baik-baik. Mengapa aku bilang mereka baik karena dari penampilan dan cara berbicara mereka sangat sopan. Akupun tak mengerti mengapa hatiku sangat percaya kepada mereka. Mereka pun sepertinya orang-orang yang begitu mengenal agama, tidak sepertiku yang hanya tahu dunia malam. Begitu naasnya hidupku, mungkinkah mereka orangn yang beruntung, orang yang begitu puas mendapatkan kasih sayang orangtuanya.

“Maaf sebelumnya. Menurutku kamu itu salah satu orang yang paling beruntung, karena kamu memiliki segalanya, baik itu materimu maupun kedua orang tuamu”. Ucap rouf

“Maksudmu apa, aku tak mengerti”. Jawabku

“Jadi gini, kamu masih punya orang tua yang utuh tidak sepertiku. Kedua orang tuaku sudah lama meninggal sejak aku berumur 10 tahun karena kecelakan. Kamu bisa bayangkan bukan, di usiaku yang terbilang masih kecil aku harus ditinggal oleh orangtuaku, di usiaku yang masih terbilang masih sangat-sangat butuh bimbingan, kasih sayang, perhatian dan segala macam aku harus kehilangan mereka. Namun, aku sangat bersyukur walaupun aku  sudah tak punya orang tua, masih ada orang yang menyayangiku hingga beliau mau mengangkatku sebagai anaknya sendiri, yaitu kedua orang tua Albi. Akupun pernah berpikir sama sepertimu mengapa takdir tak berpihak padaku, mengapa Allah tak sayang padaku, mengapa Allah mengambil orang yang aku sangat-sangat cintai, tapi akupun berpikir apa gunanya aku menyalahkan takdir toh semuanya gak akan kembali seperti semula. Disitulah aku berusaha mencoba ikhlas, berusaha untuk lebih mendekatkan diri kepada sang pencipta dengan cara aku mengikuti kajian-kajian islami. Mungkin kamu berpikir untuk apa aku melakukan ini, aku melakukan ini karena aku hanya ingin memperkuat imanku, aku hanya ingin mencoba untuk bisa dekat dengannya, aku  ingin bercerita banyak dengan penciptaku bahwa aku sedang merasa sedih. Dan saat aku sedang merasa sedih, gelisah, takut, marah, kecewa atau merasa aku sedang sendiri aku akan membaca ayat-ayatnya. Dan saat itulah aku akan merasakan ketenangan, aku akan merasa bahwa Dia sangat dekat denganku.  Hingga akhirnya aku tak mampu untuk membalas Kebaikan-Nya. Dan untuk kamu seharusnya kamu itu menghormati mereka, seharusnya kamu itu jadi mutiara mereka, seharusnya kamu berfikir positif terhadap mereka bukan malah sebaliknya”. Ucapnya panjang lebar

“Tapi apa aku salah melakukan ini. Bukankah aku seperti ini juga karena mereka. Aku hanya ingin mereka peduli denganku, aku hanya ingin mereka perhatian padaku bukan malah selalu meninggalkanku seorang diri. Alasanku kenal dengan dunia malam, aku hanya ingin melupakan semua kesedihanku, apa saat aku merasa sedih mereka akan merasakan apa yang aku rasakan, apa saat aku merasa kesepian mereka juga merasakannya dengan jarak mereka yang sangat jauh denganku”. Jawabku dengan air mata yang tak henti-hentinya mengalir

“Setiap orang tua mempunyai kontak batin dengan anaknya. Orang tuamu pasti selalu memikirkanmu dari kejauhan walaupun kamu tak melihatnya. Apa kamu juga tahu alasan mereka pergi dari kota satu ke kota lain untuk apa? Mereka mencari nafkah untukmu, untuk membiayai sekolah, untuk memenuhi kebutuhan yang kamu inginkan. Hanya saja disini kamu terlalu cepat mengambil kesimpulan. Maka dari itu kamu selalu berpikir negatif tentang orang tuamu. Minta maaflah pada orang tuamu yang sudah membesarkanmu hingga sekarang, yang sudah merawatmu tanpa mengeluh sedikit pun tentang dirimu, yang tak pernah merasa tidak beruntung dengan kehadiranmu dihidupnya. Yang selalu menyayangimu walau kamu telah melakukan kesalahan yang sangat menyakitinya.”. Ucap Albi meluruskan

“Tapi apa orangtuaku akan memaafkanku atas kesalahan yang telah aku perbuat, apa mereka akan senantiasa membuka lebar tangannya untuk menerimaku kembali dihidupnya. Karena yang aku inginkan untuk saat ini hanyalah kebahagiaan”. Jawabku dengan penuh harap

“Aku yakin untuk sekarangpun mereka pasti sedang merasa khawatir kepadamu karena tidak ada dirumah. Jadi hubungilah mereka. Minta maaflah padanya. Satu lagi jika kamu sedang merasa sedih, gelisah, takut, kecewa, marah dan tak punya siapa-siapa ingat bahwa Allah selalu ada untukmu. Berdoalah pada-Nya, mengadulah pada-Nya serahkan semua urusanmu kepada-Nya. Karena hanya Dialah yang tahu segala-galanya. Untu masalah kebahagiaan kamu tak perlu membeli atau pergi mencari susah payah kebahagiaan itu.... Yang kita perlukan adalah hati yang bersih dan ikhlas serta pikiran yang jernih, maka kita bisa merasakan bahagia itu kapan pun, dimana dan dengan kondisi apapun. Kebahagiaan itu milik orang-orang yang pandai bersyukur bukan malah sebaliknya yang tak bisa menerima takdir apapun”. Ucap Rouf

Saat itulah aku menghubungi kedua orang tuaku. Aku memberitahuakan bahwa aku sedang dirumah sakit. Dalam telpon aku mendengar ibu menangis karena khawatir padaku. Yang dikatakan Rouf memang benar bahwa kedua orang tuaku sangat menyayangiku walaupun mereka tak pernah ada disampingku.

“Boleh aku minta bantuan pada kalian”. Tanyaku dengan ragu

“Tentu. Jika kami bisa lakukan pasti kami akan bantu”. Jawab rouf

“Bantu aku untuk menjadi lebih baik, aku ingin membahagiakan kedua orang tuaku, aku ingin menebus kesalahan-kesalahan yang telah aku perbuat pada mereka, aku ingin menjadi mutiara yang mereka inginkan. Bantu aku untuk mewujudkannya”. Ucapku dengan kepala menunduk dan air mata yang mengalir

“Alhamdulillah akhirnya kamu telah menjemput hidayahmu. Kami berdua insha allah siap membantumu”. Jawab Rouf dengan rasa terharu

“Terima kasih. Ini semua berkat kalian. Kalian yang telah membuatku sadar. Kalian sudah menyadarkanku bahwa yang aku lakukan tidak baik, kalian yang udah mengarahkanku ke jalan kebenaran dan mengeluarkanku dari jalan kesesatan. Sekali lagi makasih”. Ucapku kepada keduanya

“Ini semua takdir yang sudah Allah tentukan. Kami hanyalah perantaramu, tanpa ketentuan dan izin-Nya mungkin kami tak akan ada disini untuk membantumu”. Jawab Albi

Tak lama kemudian Ayah dan ibu datang. Ibu yang melihat kondisiku langsung menangkapku kedalam pelukannya. Dia menangis sejadi-jadinya. Akupun membalas pelukannya. Aku rindu dengan pelukan ini, aku rindu dengan sentuhan hangat ini, aku rindu. Begitupun dengan ayah yang melihat kondisiku dia merasa sedih. Kulihat dari raut wajahnya yang begitu mengkhawatirkanku.

“Sayang apa yang terjadi padamu nak”. Tanya ibu dengan rasa khawatir

Akupun menceritakan kejadian dari awal hingga aku berada disini dengan detail. Ibu yang mendengar ceritaku menangis tak henti-hentinya. Akupun meminta maaf kepada ayah dan ibu yang sudah membuatnya merasa khawatir. Ayah tersenyum bahagia mendengar permintaan maaf dariku.

“Ayah ibu maafkan aku. Maafkan semua kesalahanku, maaf jika aku sudah membuat kalian kecewa, maaf jika aku sudah membantah perintah mu, selama ini aku selalu membuat ayah kecewa, aku menyesal yah atas kelakuan ku yang membuat ayah kesal dan marah”. Ucapku dengan penuh penyesalan sambil mengeluarkan air mata

“iya nak, ayah sudah memaafkan mu nak, ayah dan ibu juga minta maaf karena ayah tidak bisa memberikan mu kasih sayang, sekarang yang penting kamu harus cepat-cepat sembuh supaya kita bisa berkumpul kembali” ucap ayah sambil terharu.

“iya ayah, aku bakal nurutin semua kata ayah dan ibu, tapi ayah juga jangan terlalu sibuk dengan urusan pekerjaan ayah dan ibu,” ucapku dengan rasa lega.

“iya, sekarang ayah dan ibu akan membagi waktu untukmu, agar tak ada kesalah paham lagi. Ayah akan berusaha untuk menjadi ayah yang baik untukmu”. Ucap ayah

“Dan ibu akan berusaha menjadi ibu yang baik untumu”. Ucap ibu tak mau kalah sambil memelukku

“Terima kasih nak kalian berdua telah mengembalikan ibah yang dulu. Mungkin tanpa kalian ibah tak akan seperti ini. Karena dia sudah tak mau mendengarkan ucapan om”. Ucap ayah kepada rouf dan albi

“Sama-sama om. Itu sudah termasuk kewajiban kami sebagai orang muslim mengingatkan kepada saudara kita agar kembali kejalan yang diridhoi oleh Allah”. Jawab rouf

Aku yang mendengar perkataan ayah sangat terharu. Akupun tersenyum kepada rouf dan albi. Sungguh aku beruntung telah dipertemukan oleh Allah dengan mereka. Mungkin tanpa arahan dari mereka aku masih menjadi wanita yang sangat merugi karena lebih memilih kejalan yang sesat dibandingkan jalan yang diridhoi Allah Swt. Ucapku dalam batin

“Ibu apa ibu tak marah kepadaku atas perlakuanku yang sudah melampaui batas ini”. Tanyaku kepada ibu

“Untuk apa ibu marah kepadamu. Justru ibu merasa bangga kepadamu karena kamu mau mengakui kesalahanmu”. Jawab ibu dengan tenang.

Sungguh betapa kagumnya aku kepada ibu. Terbuat dari apakah hatinya ini ya rabb sampai-sampai dia tak merasa kecewa terhadapku yang jelas-jelas telah melakukan kesalahan yang keterlaluan ini. Dari ibu aku bisa mengambil banyak pelajaran yang menurut ku suatu pelajaran yang sangat luar biasa. Menurut ku, ibu adalah seorang pahlawan yang tanpa tanda jasa, wanita yang memilki super power, ibu seorang lentera kehidupan, ibu yang tidak kenal “pantang menyerah”, ibu yang mengorbankan seluruh tenaga nya bahkan nyawanya ketika melahirkan aku, dan masih banyak pengorbanan yang tidak bisa disebutkan satu persatu. Hanya dengan mengakui kesalahanku ini ibu justru merasa bangga kepadaku. Sungguh aku sangat menyayanginya.

Didalam hati aku berjanji untuk tidak pernah mengecewakannya lagi. Aku akan menjadi mutiaramu wahai ibu. Aku akan menjadi seseorang yang engkau harapkan. Aku akan menjadi seperti dirimu yang tak pernah mengeluh dengan skenario kehidupan yang telah Allah buat untukku. Doakan aku selalu ibu. I love mom.

0 komentar:

Posting Komentar