Jumat, 19 Juni 2020

Rezeki

Awal sebelum masa mengenal hari-ari yang dilalui dengan jam pasir atau tergores dalam lembaran-lembaran almanak.

Dialah yang Maha Ada

Dialah yang Maha Awal

Dialah yang Maha mengatur sejagat raya ini


Dialah Allah

        Ibarat harta karun rahasia, ia ingin untuk tidak diketahui dan diatas keinginanNya ini, ia berkeputusan untuk berfirman. Firman dari Nya menjadi baris, firmanlah yang memulai perjalanan. “Kun” firman Nya, jadilah sesuatu dalam seketika.

        Sementara itu pena adalah pejalan kedua setelahnya, takdir pena adalah menulis, lainya makna segala apa yang dikatakan dalam firman menjadi takdir bagi seluruh hamba-Nya.

        Ketika takdir sudah digariskan,  jalani saja dengan kesungguhan dalam ketaqwaan dan pada hakikatnya Allah bersama orang orang yang bertaqwa. Jadilah sebaik-baiknya manusia di muka bumi ini dan sebaik-baiknya manusia itu yang memberi manfaat.

        “Jika kita sudah bersama Allah, itulah kekayaan sesungguhnya bisa dekat, menyembah, berdo’a kepadanya, dan benar itulah kekayaan sesungguhnya”. ~Ust Yusuf Mansyur

        Menjadi baik tidak harus memandang harta dan jabatan. Pada hakikatnya kebaikan itu bisa dilakukan oleh siapa saja, namun mengapa tak sedikit sebagian orang itu enggan melakukannya? Bukankah dengan kebaikan itu kita bisa mendekatkan diri kepada Allah? Bukankah Kebaikan pun membawa ketenangan ke dalam relung hati dan jiwa?.

Disepertiga malam……

        Sang hamba berprofesi pedagang gorengan kaki lima, sosok seseorang yang tidak pernah meninggalkan sholat sunah tahajud, ia melaksanakan sholat sunah seolah-olah menjadi sholat wajib baginya.

Seusai itu, ia sudah sibuk berkutat di dapur memasak dan menyiapkan daganganya yang untuk dijajakan dipagi hari nanti. Tepat sebelum adzan subuh berkumandang masakan pun rampung dan siap untuk dijajakan. Ketika adzan sudah berkumandang, ia pun bergegas membersihkan diri untuk menghadap kepada sang ilahi yaitu untuk sholat subuh.

        Kala langit masih gelap, detik menuju menit dan menit ke jam bergulir begitu saja. Hingga Rona jingga muncul dengan mali-mali untuk menyibak kegelapan di langit.

        Seusai itu ia bersiap menjajakan daganganya tepat pukul 06.00 WIB ia melangkahkan kaki keluar dari rumah menyusuri jalan setapak di kampung halamanya.

        Sedangkan di sudut kota lain, terdapat seseorang hamba Allah yang dianugrahkan harta yang cukup banyak namun ia enggan untuk bersedekah, ia selalu saja mementingkan dirinya sendiri, dan selalu mengejar harta didunia yang fana ini, sehingga ia mengesampingkan urusan akhirat. Dalam menjalankan kewajiban sholat pun ia lalai.

Subuh ia asyik terlelap dalam tidurnya, hingga terbitnya fajar di ufuk timur. Zuhur ia selalu menhabiskan waktunya dengan santai di ruang kerjanya. Ashar ia sibuk berkutatd enganberkas-berkas di meja kantornya. Maghrib ia bergegas menuju rumah menghiraukan adzan yang sedang berkumandang disudut-sudut langit, sesampainya dirumah tepat jam menunjukan waktuinya, namun selepas itu ia langsung bergegas bersih-bersih dan langsung pergi ke tempat tidur, ia berkutat dengan handphone dalam genggamanya hingga ia terlelap tidur.

Disisi lain ia adalah sosok yang sombong dan kikir akan kekayaan yang ia miliki. Dan tidak ingat akan siapa yang memberi semua itu padanya.

Senja disuatu hari………

        Salah seorang yang berprofesi sebagai pedagang gorengan kaki lima yang sudah merampungkan daganganya pada hari ini.

        Langkah demi langkah ia menyusuri jalan di tepi kota menuju sebuah yayasan yatim piatu, tempat yang ia sering kunjungin selepas berdagang maupun ketika sedang mempunyai kelebihan rizky dari hasil daganganya. Tepat sesampainya di depan gerbang ia menghela napas yang panjang, kemudian lirih berkata dalam hati, “yaallah semoga amal ibadahku hanya karenaMu”, ia melangkahkan kaiknya ke depan mengucapkan salam.

Tok…tok…tok…

“Assalamualaikum” Ucap mba Yani seraya mengetuk pintu.

“Waalaikumsalam. Ayo mari bu Yani silahkan masuk” Jawab mba Iza sambil mempersilahkan masuk.

“Iya mba, terima kasih. Langsung saja mba seperti biasa saya ingin memberikan separuh rizqi yang saya miliki hari ini untuk yayasan ini.

“Alhamdulillah, sebelumnya saya ucapkan terimakasih terhadap mba Yani yang sudah senantiasa memberikan separuh hasil usahanya kepada yayasan ini. Semoga kebaikan mba dibalas oleh Allah swt.”

“Amin ya robbal alamin, terima kasih atas do’anya, mungkin hanya ini yang dapat saya berikan terhadap yayasan ini.”

“iya mba tidak apa, ini pun sudah sangat membantu.”

“Ya sudah mungkin sekiranya hanya itu saja. Hari semakin gelap saya harus segera pulang.

“Semoga setiap langkah mba selalu dilindungi oleh Allah swt.”

“Ya terima kasih sekali lagi saya minta diri, Wassalamualaikum.” Pamit mba Yani.

“Waalaikumussalam.” Timpal mba Iza.

Matahari terbenam dan waktu pun terus bergulir, angin menyapu jalanan, menggerak-gerakan pepohonan yang ada dipinggir jalan.

 

Dipagi hari selanjutnya…..

        Angin subuh menyebar keseantero dunia, dan menyusup kesudut-sudut ruangan tanpa permisi. Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahi angin di dunia ini.

        Seperti biasa, mba Yani menjajakan daganganya dipagi buta ia harus segera berkeliling disekitar kampung yang setengah kota itu.

“Gorengan……gorengan…..gorengan……” Teriak Bu yani mempromosikan daganganya di sepanjang jalan, ia tak lepas untuk membaca sholawat.

Dedaunan menitikkan tetesan air yang tersisa memberi informasi bahwa semalam hujan deras. Matahari semakin meninggi, pagi menjelang siang .

Bu Yani mampir di salahsatu masjid Y. Seusai sholat ia duduk beristirahat di halaqoh masjid. Ada beberapa orang yang membeli dagangan Bu Yani, ada yang membeli karena ingin mengganjal perutnya, dan ada pula yang sengaja membeli karena ingin menunjukan rasa empatinya. Bu Yani melayani para pembeli dengan dengan sangat ramah danpenuh kegembiraan. Para pembeli pun berkata

“Bu, gorenganya bikin lidah saya nagih, saya ingin membeli 5 macam ya mba masing-masing 2 biji.”Ucap pembeli itu yang bernama Palah.

“Baiklah tunggu sebentar” Balas bu Yani yang tak lupa dengan ukiran senyumnya yang meneduhkan.

“Ini, silahkan dik” lanjut bu Yani, seraya mengasih bungkusan gorengan kepada pembeli.

“ Terimakasih, berapa semuanya ?”

“ Totalnya jadi 10.000 nak. “

Palah merogoh saku roknya dan mengambil uang Rp.20.000.

“Ini bu, kembaliannya ambil saja buat ibu.”

“Terima kasih banyak dik, semoga kebaikannya dibalas Allah.”

“Amin. Mari bu saya duluan.”

Ia beranjak menuju halaqah masjid untuk menyantap gorengan yang baru saja ia beli.

Setelah ia menghabiskan gorengannya ia bercakap-cakap dengan pejual gorengan.

“Gorengannya enak juga ya bu” puji anak perempuan tersebut.

“bisa aja kamu dik” jawab ibu gorengan tersebut dengan bibir yang tersungging

“Ngomong-ngomong nama ibu siapa ya kayanya adonan gorengannya khas banget di lidah saya”

“Nama ibu, Yani. Panggil aja Ibu Yani, saya juga sering keliling di daerah sini kok dik setiap hari”

“oh ya sudah. Saya pamit minta diri, sampai jumpa lain waktu ya bu. Saya ada kepentingan di kantor,wassalamualaikum.”

“Baiklah, hati-hati dijalan. Wa’alaikumussalam.”Bu Yani menjawab salam.

Percakapan berakhir.

 

Ibu gorengan pun melanjutkan langkah kakinya untuk kembali menjajahkan sebakul gorengan yang ia jual. Detik demi detik, langkah demi langkah, cucuran keringat di pelipis membasahi sebagian kerudungnya, yang senantiasa mengiringi langkah kaki dan menemani perjuangannnya dalam mengais rupiah. Panas terik matahari yang menusuk tajam kearah kedua bola matanya tak menepis semangat yang tertanam dalam jiwa. Perjalanan panjang, angin yang riuh, panas yang membakar sama sekali tak menggetarkan tekad baja seorang Ibu penjajah gorengan keliling yang tak ada hentinya berputar mengitari garis qudratillah meraih rezeki dengan iktisab.

Langkah demi langkah ia lalui tak henti-henti bibirnya melantunkan shalawat ditengah keramaian jalan lalu lintas dengan penuh suara kelakson yang memekakan telinga. Tak terasa langkah kakinya terhenti di depan gedung yang megah nan kokoh.

Bibirnya pun semakin basah dengan takbir yang menggema didalam relung hatinya. Ia tak henti-hentinya bersholawat dan berdoa kepada Allah karena kekagumannya melihat kemegahan gedung tersebut. Terbesit didalam hatinya suatu keinginan yang sangat besar untuk dapat memiliki dan mengelola senantiasa dimanfaatkan dan digunakan di jalan Allah SWT.

        Suara klakson mobil membahayakan pikirannya hingga ia tersadar bahwa ada mobil yang melaju kencang di hadapannya, hingga tak terasa berdebam bunyi hantaman keras mobil yang secara tiba-tiba menabrak gerobak milik ibu tua sehingga terpental kehilangan daya tegarnya. Ia pun terbujur kaku tubuhnya lemas, dan tak berdaya.

Sontak membuat pemilik mobil tersebut keluar dari mobilnya, baju kemeja yang seksi nan rapih dan ketat. dilengkap seutas dasi dengan sepatu pantopel legam miliknya keluar bersama rasa ego dan amarah yang membakar dalam jiwanya. Nenek yang terbujur kaku setengah sadar dengan aliran darah yang terus bercucuran lewat pelipis yang sedikit keriput nan lembut,suasana yang begitu tragis seolah langit biru tak senantiasa mampu untuk melihat deerita seorang ibu tua yang hanya menggantungkan sebakul gorengan untuk sepeser rupiah tersebut. Pemilik mobil itu berteriak menujukan kemarahannya akan ketidak hati-hatian seorang penjual gorengan.

“Ya ampun, punya mata itu di pake dong! Noh liat mobil saya lecet lecet mana kumel lagi, kena gorengan-gorengan kamu yang busuk itu” gerutunya.

Dengan nafas yang masih tersengal-sengal , dan tubuh yang setengah terkapar diatas aspal

“maaf bu, maaf saya kurang memerhatikan jalan.” dengan muka memelas seraya lirih berkata memohon maaf .

“ pokoknya saya tidak mau tau saya minta ganti rugi. Mobil saya jadi lecet gara-gara gerobak kamu!” Bentak pemilik mobil dengan nada yang makin meninggi.

“Bu, saya minta maaf banget. Saya hanya pedagang gorengan keliling yang tidak memiliki apa-apa”

Ucap bu Yani suaranya kian serak, tak terasa air mata tumpah membasahi pipinya.

Orang-orang sekitar seketika terhenti dari kegiatannya, bergegas berkerumun ke sumber suara debaman. Suara gemuruh orang-orang yang menyaksikan itu. Salah seorang pemudi menyibak kerumunan, dan dengan secepat kilat ia berlari di tengah kacaunya kronologis  menuju Bu Yani yang terlentang di jalanan. , seraya berteriak

 “Ada apa disini?”

Pertanyaan yang belum di jawab oleh orang sekitar ia kaget bukan kepalang setelah mengetahui bahwa yang ia lihat saat ini di hadapannya adalah ibunya sendiri. Sontak ia berteriak kepada ibunya yang bernama Muflihah.

“Ibu, apa  yang terjadi dengan semua ini? Mengapa ibu Yani renta ini terkapar di jalan. Betulkah ibu yang menabrak ibu tua ini?” Ia bertanya dengan mata yang sedikit tajam.

“Mengapa kau bertanya seperti itu kepada ibu, Nak?” Timpal sang ibu dengan nada yang tinggi.

“Sudah jelas-jelas ibu tua ini yang tidak jalan menggunakan mata dengan baik!”

Percakapan kian memanas.

“Ibu tidak usah mengelak, tidak usah mencari alasan supaya tidak ingin disalahkan. Sudah jelas-jelas aku melihat ibu dari lobby kantor mengendarai mobil dengan kecepatan yang tinggi. Memasuki kawasan kantor ini dengan tidak hati-hati.” Ucap Palah untuk membuka kebenaran.

“Sudah, jangan menambah keributan disini bu. Aku mohon, tolong ganti rugi untuk biaya dagangan bu Yani ini.” Lanjut Palah seraya meminta tanggungjawab kepada ibunya.

“Berani-berani nya kamu bicara itu seperti kepada ibu!” Emosi ibu Muflihah kian memuncak.

“Bukannya aku ingin melawan ibu. Tapi aku ingin ibu sadar akan kesalahan yang sudah diperbuat oleh ibu.”

“Baiklah, ibu akan ganti rugi.” Dengan muka yang masam sambil merogoh saku dan mengambil dompet seraya mengeluarkan uang sebanyak Rp. 500.000.

“Nih ambillah, uang untuk biaya perbaikan gerobak yang butut itu.” Ucap bu Muflihah seraya menghamburkan uang tersebut kehadapan wajah ibu Yani secepat kilat ia membalikkan badannya melangkah menuju mobil hingga meninggalkan tempat kejadian.

Bu Yani hanya bisa terdiam menatap aspal. Matanya berkaca-kaca. Ia berdoa dalam hati “Mudah-mudahan Engkau ya Allah, mengetuk pintu hati dan memberikan setetes cahaya hidayah dari Mu untuk ibu Muflihah.”

Masyarakat sekitar sebagian beranjak pergi.

Palah hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan ibunya dan mengucapkan kalimat istighfar dan berdoa agar ibunya diberikan hidayah oleh Allah.

“Apa pantas seorang ibu berlaku seperti itu didepan anaknya?” Tanya hati Palah kepada dirinya sendiri.

Beberapa orang masih berkerumun dan mengamankan bu Yani. Bu Yani meringis kesakitan karena terdapat luka di kakinya akibat terkena siraman minyak di wajan gorengannya itu.

“Saya minta tolong kepada siapa saja untuk menggotong ibu Yani ke dalam mobil saya yang berada di parkiran. Mari ikuti saya.”

4 orang sukarelawan yang menerima permintaan Palah, dan menggotong serta menuju ke parkiran mobil.

Sesampainya di parkiran mobil, dan memasukan bu Yani. Palah berterimakasih kepada orang-orang yang sudah membantu.

Nasib gerobak dagangan bu Yani diamankan oleh satpam kantor Makanan Catering atas perintah Palah.

Palah membawa bu Yani ke Puskesmas terdekat di sekitar Tangerang kota. Selama diperjalanan ia bercakap-cakap ringan.

“Bu, saya minta maaf sekali atas perlakuan ibu saya terhadap bu Yani. Sekali saya benar-benar minta maaf bu.” Palah memulai percakapan terlebih dahulu. Dengan wajah yang sedikit tertekuk karena merasa malu dan kecawa terhadap perlakuan ibunya.

“Tidak apa nak. Semua ini sudah tergariskan menjadi ketetapan ibu. Kita harus menerima dengan lapang dada. Terima saja, apapun bentuknya baik pahit maupun menyenangkan. Yakinlah ada hal yang telah Allah selipkan, dan bagaimana reaksi kita dalam mengeja hikmah didalam kejadian tersebut.”

“Ya Allah, betapa beningnya hati ibu. Semoga, suatu saat hati ibu saya seperti ibu Yani. Semoga kita semua senantiasa diberi kesabaran serta selalu diiringi kebaikan setiap langkahnya. Amin.”

“Amin. Doakan saja ibumu tanpa henti. Yakinlah atas kekuatan doa, bukankah Allah Maha Membolak-balikkan hati hamba Nya? Jangan putus asa mendoakan ibumu. Bagaimanapun perlakuan seorang anak kepada orang tua harus tunduk dan hormat terkecuali orang tua memberikan perintah kepada hal yang negatif. Ikuti postifnya, buang negatifnya.”

“Akan saya laksanakan bu. Terimakasih atas masukannya. Sebentar lagi kita sampai.”

“Kembali kasih nak. Baiklah”

Tak lama, mobil Palah pun terparkir rapih setelah bu Yani dibawa ke ruang UGD.

Sejurus kemudian Palah memasuki ruang tunggu. Setelah beberapa menit menunggu ia dipersilakan masuk keruangan.

“Adakah keluarga bu Yani yang dapat datang ke Puskesmas ini?” Tanya Palah.

“Ada nak. Anak ibu sedang berada dikampusnya yang lumayan jauh jaraknya. Dari sini sekitar satu jam perjalanan ke. Lia namanya. Sebentar ibu telpon dulu.” Ucap bu Yani, sambil merogoh saku nya mencari handphone nya. “Lho kok, HP ibu kemana ya nak?” Tanya bu Yani sedikit panik.

“Tenang bu, jangan panik. Hp ibu ada di saya. Sejak kejadian tadi saya mengamankannya saat terpental dari saku ibu. Saya telpon dulu.” Jawab Palah kepada bu Yani. Sambil menelisik kontak bernama Lia di HP jadul nya bu Yani yang bukan android dan hanya HP Nokia jadul.”

Palah meminta diri keluar dari kamar UGD kepada bu Yani untuk menelpon Lia. Setelah memberi kabar kepada Lia, Palah pun kembali ke kamar dan mendapati bu Yani yang sudah terlelap dalam tidurnya.

Satu jam kemudian Lia sudah tiba diruang UGD. Bertanya-tanya dengan panik hingga tetesan air matanya membasahi pipi yang merona itu. mengapa ibunya berada disini? Apa yang telah terjadi?

Palah pun menjelaskannya dengan penuh kelembutan sambil menenangkan Lia. Setelah pertanyaan Lia terjawab semua, Lia pun tenang dan memandangi wajah ibunya yang sedang tertidur sesekali mencium tangan ibunya.

Satu jam lamanya, Palah selesai mengurus biaya administrasi dan kembali ke kamar. Sesampainya dikamar Palah memberitahu kepada Lia dan bu Yani. Bu Yani sudah terbangun. Bahwa seusai ashar sekitar jam 4 bu Yani akan segera pulang. Kaki bu Yani penuh dengan perban dan tangannya pun juga, begitu banyak lecet yang terdapat pada kulitnya.

Setelah bergegas merapikan diri dan mengecek barang bawaan beberapa saat sudah merasa siap untuk pulang bu Yani dan Lia menuju lobby. Dan Palah pun menuju parkiran serta menjemput Bu Yani dan Lia di lobby.

Sesampainya dirumah, Lia menjamu Palah mereka duduk di sofa tak lupa bu Yani ikut menimbrung sambil bercakap-cakap ringan.

 Tak terasa adzan maghrib berkumandang memenuhi ruang udara dilangit. Mereka segera bergegas memenuhi panggilan adzan untuk menunaikan kewajiban dan menjadikan sholat sebagai kebutuhan. Mereka berjamaah dirumah. Lia yang menjadi imam, Palah dan bu Yani makmum nya. Bu Yani sholat dengan posisi berdiri, dengan kondisi yang tertatih-tatih gerakannya. Seusai sholat mereka berdoa, tak lupa meminta doa untuk kesembuhan bu Yani.

Lia dan Palah melanjutkan percakapannya. Sedangkan bu Yani istirahat dikamar hingga tertidur.

Mereka mengetahui latar belakang diri masing-masing dari percakapan yang panjang ini.

Lia yang lahir dari seorang ibu dengan kehidupannya sederhana namun jiwanya luar biasa, hatinya yang bening seperti embun. Lia diperjuangkan ibunya agar bisa melanjutkan pendidikan hingga bangku mahasiswi yang mengambil program studi Akutansi . Didikan ibunya terhadap Lia sangat bagus, tidak terlalu di manja dan tidak terlalu keras. Selalu diajarkan nilai-nilai Islam sejak dini.

Sedangkan Palah lahir dari seorang ibu yang bergelimang harta. Hati ibunya yang ternodai dengan sikap angkuh nan kasar. Palah yang berpendidikan tinggi dengan program studi Psikologi. Ia membiayai kuliah dengan hasil kerjanya sendiri dikantor usaha milik ibunya. Ia ingin merasakan hasil keringatnya sendiri, ia tidak ingin mengandalkan harta ibunya. Sikap dan sifat Lia sangat berbeda. Dan benar, hidayah itu hanya untuk orang-orang pilihan yang di kehendaki Allah.

Palah pamit pulang setelah isya, bu Yani

3 hari di masa bu Yani keluar dari Puskesmas, bu Iza Pengelola Rumah Yatim menjenguk kerumah bu Yani. Bertanya apa yang telah terjadi. Dan beberapa jam lamanya bu Iza berada dirumah bu Yani ia paham dengan kejadian 3 hari yang lalu.Satu tahun kemudian...

Usaha bu Muflihah jatuh bangkrut dikarenakan sikap angkuh dan kasarnya kepada pekerjanya. Serta diakibatkan juga karena tidak adanya kontrol yang sepenuhnya dalam usaha tersebut. Bu Muflihah dan Lia menjadi pengangguran akhir-akhir ini. Aset-aset nya habis karena dipakai untuk membayar hutang kepada bank atas keperluan memperbaiki usahanya. Tapi bu Muflihah tidak sanggup membayarnya, sehingga semua aset kecuali rumah yang mereka singgahi saat ini ditarik oleh pihak bank.

Sedangkan bu Yani, ia menjadi pengusaha sukses. Ia diangkat menjadi koki di Yayasan Rumah Yatim Piatu yang terkenal bagus dan benar-benar menjadikan anak-anak didalamnya berakhlaqul karimah yang dikelola sekaligus milik bu Iza. Sedangkan Lia bekerja di bank bagian pembukuan keuangan. Ia menjadi pegawai yang terbaik dan terpercaya.

Mendengar usaha bu Muflihah bangkrut, bu Yani menemui bu Muflihah dan Palah kerumahnya. Menawarkan pekerjaan.

“Saya tidak bisa terima tawaran ini” Bantah bu Muflihah

“Mengapa? Sayang sekali jika kemampuan bu Muflihah dan nak Palah ini tidak digubris.” Bujuk bu Yani

“Apakah kami pantas mendapatkan kebaikan darimu?”

“Semua manusia berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak. Bukankah di dunia ini manusia sebagai makhluk sosial? Ayolah terima tawaran saya.”

“Baiklah, dengan senang hati saya terima tawarannya. Sebagai balas budi dan permintaan maaf saya terhadap bu Yani dengan segala perbuatan buruk saya.” Permohonan maaf yang diiringi berlutut kepada bu Yani

“Bangunlah bu Muflihah, tidak usah berlutut seperti itu, saya sudah memaafkan ibu. Hiraukan saja. Biar kejadian yang lalu lewat begitu saja bagaikan angin yang berembus.”

“Terimakasih sekalagi.” Ucap Palah dan bu Muflihah.

“Kembali kasih.”

Beberapa minggu telah berlalu. Mereka semua bekerja pada Yayasan Rumah Yatim Piatu al-Amin. Bu Yani yang menjadi juru masak, dan memiliki kios makanan bakery yang sangat laku. Bu Muflihah sebagai pengontrol sistem kerja yayasan. Palah menjadi Psikolog yang handal dalam memahami kondisi psikis dan menjadi temlat curhatan anak-anak yang ada di yayasan. Sedangkan Lia tetap bekerja di bank, jika hari libur sabtu dan minggu ia menjadi mentor yang menginspirasi anak-anak.

Epilog

Kehidupan memang sangat dinamis, dan Allah lah yang memutarkam pemain yang ada dimuka bumi ini. Jiwa yang hatinya keras atas izin Allah, menjadi luluh begitupun sebaliknya. Jangan jauh-jauh dari Allah, lakukan terus kebaikan. Dan benar, kebaikan itu akan selalu menang serta dapat meluluhkan dan menjadi penenang bagi siapa yang menerima dan melakukan kebaikan itu. Senantiasa mendekatkan diri dengan Allah, Dia lah yang telah mengatur mulai dari hal kecil hingga terbesar tak luput dari campur tangan Nya. Tanamkan selalu rasa damai dan bahagia didalam hati, dengan cara apa? Mengingat Allah setiap saat. Maka Allah akan berikan balasan terbaiknya. Bukankah rasa damai dan bahagia salah satu rizqi yang dianugerahi Sang Pemberi?


0 komentar:

Posting Komentar