Awal sebelum masa mengenal hari-ari yang dilalui dengan jam pasir atau tergores dalam lembaran-lembaran almanak.
Dialah
yang Maha Ada
Dialah
yang Maha Awal
Dialah yang Maha mengatur sejagat raya ini
Dialah Allah
Ibarat
harta karun rahasia, ia ingin untuk tidak diketahui dan diatas keinginanNya ini, ia berkeputusan untuk berfirman. Firman dari Nya
menjadi baris, firmanlah yang memulai perjalanan. “Kun” firman Nya, jadilah
sesuatu dalam seketika.
Sementara
itu pena adalah pejalan kedua setelahnya, takdir pena adalah menulis, lainya makna
segala apa yang dikatakan dalam firman menjadi takdir bagi seluruh hamba-Nya.
Ketika
takdir sudah digariskan, jalani saja dengan
kesungguhan dalam ketaqwaan dan pada hakikatnya Allah bersama orang orang
yang bertaqwa. Jadilah sebaik-baiknya manusia di muka bumi ini dan sebaik-baiknya manusia itu
yang memberi manfaat.
“Jika kita sudah bersama Allah, itulah kekayaan
sesungguhnya bisa dekat, menyembah, berdo’a kepadanya, dan benar itulah kekayaan
sesungguhnya”. ~Ust Yusuf Mansyur
Menjadi baik tidak harus memandang harta dan jabatan. Pada hakikatnya kebaikan itu bisa
dilakukan oleh siapa saja, namun mengapa tak sedikit sebagian orang itu enggan melakukannya?
Bukankah dengan kebaikan itu kita bisa mendekatkan diri kepada Allah? Bukankah Kebaikan pun membawa ketenangan ke dalam relung hati dan jiwa?.
Disepertiga malam……
Sang
hamba berprofesi pedagang gorengan kaki lima, sosok seseorang yang tidak pernah
meninggalkan sholat sunah tahajud, ia melaksanakan sholat sunah seolah-olah menjadi
sholat wajib baginya.
Seusai
itu, ia sudah sibuk berkutat di dapur memasak dan menyiapkan daganganya yang untuk dijajakan dipagi hari nanti. Tepat sebelum adzan subuh berkumandang masakan pun rampung dan siap untuk dijajakan. Ketika adzan sudah berkumandang, ia pun bergegas membersihkan diri untuk menghadap kepada sang ilahi yaitu untuk sholat subuh.
Kala
langit masih gelap, detik menuju menit dan menit ke jam bergulir begitu saja.
Hingga Rona jingga muncul dengan mali-mali untuk menyibak kegelapan di langit.
Seusai
itu ia bersiap menjajakan daganganya tepat pukul 06.00 WIB ia melangkahkan kaki
keluar dari rumah menyusuri jalan setapak di kampung halamanya.
Sedangkan
di sudut kota lain, terdapat seseorang hamba Allah yang dianugrahkan harta yang
cukup banyak namun ia enggan untuk bersedekah, ia selalu saja mementingkan dirinya
sendiri, dan selalu mengejar harta didunia yang fana ini, sehingga ia mengesampingkan
urusan akhirat. Dalam menjalankan kewajiban sholat pun ia lalai.
Subuh ia asyik terlelap dalam tidurnya, hingga terbitnya fajar di ufuk timur. Zuhur ia selalu menhabiskan waktunya dengan santai di ruang kerjanya.
Ashar ia sibuk berkutatd enganberkas-berkas di meja kantornya. Maghrib ia bergegas
menuju rumah menghiraukan adzan yang sedang berkumandang disudut-sudut langit,
sesampainya dirumah tepat jam menunjukan waktuinya, namun selepas itu ia langsung
bergegas bersih-bersih dan langsung pergi ke tempat tidur, ia berkutat dengan handphone
dalam genggamanya hingga ia terlelap tidur.
Disisi lain ia adalah sosok yang sombong dan kikir akan kekayaan yang ia miliki. Dan tidak ingat akan siapa yang memberi semua itu padanya.
Senja disuatu hari………
Salah
seorang yang berprofesi sebagai pedagang gorengan
kaki lima yang sudah merampungkan daganganya pada hari ini.
Langkah
demi langkah ia menyusuri jalan di tepi kota menuju sebuah yayasan yatim piatu,
tempat yang ia sering kunjungin selepas berdagang maupun ketika sedang mempunyai
kelebihan rizky dari hasil daganganya. Tepat sesampainya di depan gerbang ia menghela
napas yang panjang, kemudian lirih berkata dalam hati, “yaallah semoga amal ibadahku hanya karenaMu”, ia melangkahkan kaiknya
ke depan mengucapkan salam.
Tok…tok…tok…
“Assalamualaikum” Ucap mba Yani seraya mengetuk pintu.
“Waalaikumsalam. Ayo mari bu Yani silahkan masuk” Jawab mba Iza sambil mempersilahkan masuk.
“Iya mba, terima kasih. Langsung saja mba seperti biasa saya ingin memberikan separuh rizqi yang saya miliki hari ini untuk yayasan ini.
“Alhamdulillah, sebelumnya saya ucapkan
terimakasih terhadap mba Yani yang sudah senantiasa memberikan separuh hasil usahanya
kepada yayasan ini. Semoga kebaikan mba dibalas oleh Allah swt.”
“Amin ya robbal alamin, terima kasih atas do’anya, mungkin hanya ini
yang dapat saya berikan terhadap yayasan ini.”
“iya mba tidak apa, ini pun sudah sangat membantu.”
“Ya sudah mungkin sekiranya hanya itu saja. Hari semakin gelap saya harus segera pulang.
“Semoga setiap langkah mba selalu dilindungi oleh Allah swt.”
“Ya terima kasih sekali lagi saya minta diri, Wassalamualaikum.” Pamit mba Yani.
“Waalaikumussalam.” Timpal mba Iza.
Matahari terbenam dan waktu pun terus bergulir,
angin menyapu jalanan, menggerak-gerakan pepohonan yang ada dipinggir jalan.
Dipagi
hari selanjutnya…..
Angin
subuh menyebar keseantero dunia,
dan menyusup kesudut-sudut ruangan tanpa permisi. Segala puji bagi Allah yang
telah menganugerahi angin di dunia ini.
Seperti
biasa, mba Yani menjajakan daganganya dipagi buta ia harus segera berkeliling disekitar kampung
yang setengah kota itu.
“Gorengan……gorengan…..gorengan……”
Teriak Bu yani mempromosikan daganganya di sepanjang jalan, ia tak lepas untuk membaca sholawat.
Dedaunan menitikkan tetesan
air yang tersisa memberi informasi bahwa semalam hujan deras. Matahari semakin meninggi, pagi menjelang siang
.
Bu Yani mampir di salahsatu masjid Y. Seusai sholat ia duduk beristirahat di halaqoh masjid. Ada beberapa orang yang
membeli dagangan Bu Yani,
ada yang membeli karena ingin mengganjal perutnya,
dan ada pula yang sengaja membeli karena ingin menunjukan
rasa empatinya. Bu Yani melayani para pembeli dengan dengan sangat ramah danpenuh kegembiraan.
Para pembeli pun berkata
“Bu, gorenganya bikin lidah saya nagih, saya ingin membeli 5 macam ya mba masing-masing 2 biji.”Ucap pembeli itu yang bernama Palah.
“Baiklah tunggu sebentar”
Balas bu Yani yang tak lupa dengan ukiran senyumnya
yang meneduhkan.
“Ini, silahkan dik” lanjut bu Yani, seraya mengasih bungkusan gorengan kepada pembeli.
“ Terimakasih, berapa semuanya ?”
“ Totalnya jadi 10.000 nak. “
Palah merogoh saku roknya dan mengambil uang Rp.20.000.
“Ini bu, kembaliannya ambil saja buat ibu.”
“Terima kasih banyak dik, semoga kebaikannya dibalas
Allah.”
“Amin. Mari bu saya duluan.”
Ia beranjak menuju halaqah masjid untuk
menyantap gorengan yang baru saja ia beli.
Setelah ia menghabiskan gorengannya ia
bercakap-cakap dengan pejual gorengan.
“Gorengannya enak juga ya bu” puji anak
perempuan tersebut.
“bisa aja kamu dik” jawab ibu gorengan
tersebut dengan bibir yang tersungging
“Ngomong-ngomong nama ibu siapa ya
kayanya adonan gorengannya khas banget di lidah saya”
“Nama ibu, Yani. Panggil aja Ibu Yani,
saya juga sering keliling di daerah sini kok dik setiap hari”
“oh ya sudah. Saya pamit minta diri,
sampai jumpa lain waktu ya bu. Saya ada kepentingan di
kantor,wassalamualaikum.”
“Baiklah, hati-hati dijalan.
Wa’alaikumussalam.”Bu Yani menjawab salam.
Percakapan berakhir.
Ibu gorengan pun melanjutkan langkah kakinya untuk kembali menjajahkan sebakul gorengan yang ia jual. Detik demi detik, langkah demi langkah, cucuran keringat
di pelipis membasahi sebagian kerudungnya, yang senantiasa mengiringi langkah
kaki dan menemani perjuangannnya dalam mengais rupiah. Panas terik matahari yang menusuk tajam kearah kedua bola matanya tak menepis semangat yang tertanam dalam jiwa. Perjalanan panjang, angin yang
riuh, panas yang membakar sama sekali tak menggetarkan tekad baja seorang Ibu penjajah
gorengan keliling yang tak ada hentinya berputar mengitari garis qudratillah meraih
rezeki dengan iktisab.
Langkah demi langkah ia lalui tak
henti-henti bibirnya melantunkan shalawat ditengah keramaian jalan lalu lintas
dengan penuh suara kelakson yang memekakan telinga. Tak terasa langkah kakinya
terhenti di depan gedung yang megah nan kokoh.
Bibirnya pun semakin basah dengan
takbir yang menggema didalam relung hatinya. Ia tak henti-hentinya bersholawat
dan berdoa kepada Allah karena kekagumannya melihat kemegahan gedung tersebut.
Terbesit didalam hatinya suatu keinginan yang sangat besar untuk dapat memiliki
dan mengelola senantiasa dimanfaatkan dan digunakan di jalan Allah SWT.
Suara
klakson mobil membahayakan pikirannya hingga ia tersadar bahwa ada mobil yang
melaju kencang di hadapannya, hingga tak terasa berdebam bunyi hantaman keras
mobil yang secara tiba-tiba menabrak gerobak milik ibu tua sehingga terpental
kehilangan daya tegarnya. Ia pun terbujur kaku tubuhnya lemas, dan tak berdaya.
Sontak membuat pemilik mobil tersebut
keluar dari mobilnya, baju kemeja yang seksi nan rapih dan ketat. dilengkap
seutas dasi dengan sepatu pantopel legam miliknya keluar bersama rasa ego dan
amarah yang membakar dalam jiwanya. Nenek yang terbujur kaku setengah sadar
dengan aliran darah yang terus bercucuran lewat pelipis yang sedikit keriput
nan lembut,suasana yang begitu tragis seolah langit biru tak senantiasa mampu
untuk melihat deerita seorang ibu tua yang hanya menggantungkan sebakul
gorengan untuk sepeser rupiah tersebut. Pemilik mobil itu berteriak menujukan
kemarahannya akan ketidak hati-hatian
seorang penjual gorengan.
“Ya ampun, punya mata itu di pake dong!
Noh liat mobil saya lecet lecet mana kumel lagi, kena gorengan-gorengan kamu
yang busuk itu” gerutunya.
Dengan nafas yang masih
tersengal-sengal , dan tubuh yang setengah terkapar diatas aspal
“maaf bu, maaf saya kurang memerhatikan
jalan.” dengan muka memelas seraya lirih berkata memohon maaf .
“ pokoknya saya tidak mau tau saya
minta ganti rugi. Mobil saya jadi lecet gara-gara gerobak kamu!” Bentak pemilik
mobil dengan nada yang makin meninggi.
“Bu, saya minta maaf banget. Saya hanya
pedagang gorengan keliling yang tidak memiliki apa-apa”
Ucap bu Yani suaranya kian serak, tak
terasa air mata tumpah membasahi pipinya.
Orang-orang sekitar seketika terhenti
dari kegiatannya, bergegas berkerumun ke sumber suara debaman. Suara gemuruh
orang-orang yang menyaksikan itu. Salah seorang pemudi menyibak kerumunan, dan
dengan secepat kilat ia berlari di tengah kacaunya kronologis menuju Bu Yani yang terlentang di jalanan. ,
seraya berteriak
“Ada apa disini?”
Pertanyaan yang belum di jawab oleh
orang sekitar ia kaget bukan kepalang setelah mengetahui bahwa yang ia lihat
saat ini di hadapannya adalah ibunya sendiri. Sontak ia berteriak kepada ibunya
yang bernama Muflihah.
“Ibu, apa yang terjadi dengan semua ini? Mengapa ibu
Yani renta ini terkapar di jalan. Betulkah ibu yang menabrak ibu tua ini?” Ia
bertanya dengan mata yang sedikit tajam.
“Mengapa kau bertanya seperti itu
kepada ibu, Nak?” Timpal sang ibu dengan nada yang tinggi.
“Sudah jelas-jelas ibu tua ini yang
tidak jalan menggunakan mata dengan baik!”
Percakapan kian memanas.
“Ibu tidak usah mengelak, tidak usah
mencari alasan supaya tidak ingin disalahkan. Sudah jelas-jelas aku melihat ibu
dari lobby kantor mengendarai mobil
dengan kecepatan yang tinggi. Memasuki kawasan kantor ini dengan tidak
hati-hati.” Ucap Palah untuk membuka kebenaran.
“Sudah, jangan menambah keributan
disini bu. Aku mohon, tolong ganti rugi untuk biaya dagangan bu Yani ini.”
Lanjut Palah seraya meminta tanggungjawab kepada ibunya.
“Berani-berani nya kamu bicara itu
seperti kepada ibu!” Emosi ibu Muflihah kian memuncak.
“Bukannya aku ingin melawan ibu. Tapi
aku ingin ibu sadar akan kesalahan yang sudah diperbuat oleh ibu.”
“Baiklah, ibu akan ganti rugi.” Dengan
muka yang masam sambil merogoh saku dan mengambil dompet seraya mengeluarkan
uang sebanyak Rp. 500.000.
“Nih ambillah, uang untuk biaya
perbaikan gerobak yang butut itu.” Ucap bu Muflihah seraya menghamburkan uang
tersebut kehadapan wajah ibu Yani secepat kilat ia membalikkan badannya
melangkah menuju mobil hingga meninggalkan tempat kejadian.
Bu Yani hanya bisa terdiam menatap
aspal. Matanya berkaca-kaca. Ia berdoa dalam hati “Mudah-mudahan Engkau ya Allah, mengetuk pintu hati dan memberikan
setetes cahaya hidayah dari Mu untuk ibu Muflihah.”
Masyarakat sekitar sebagian beranjak
pergi.
Palah hanya menggelengkan kepala
melihat kelakuan ibunya dan mengucapkan kalimat istighfar dan berdoa agar
ibunya diberikan hidayah oleh Allah.
“Apa
pantas seorang ibu berlaku seperti itu didepan anaknya?” Tanya hati Palah
kepada dirinya sendiri.
Beberapa orang masih berkerumun dan
mengamankan bu Yani. Bu Yani meringis kesakitan karena terdapat luka di kakinya
akibat terkena siraman minyak di wajan gorengannya itu.
“Saya minta tolong kepada siapa saja
untuk menggotong ibu Yani ke dalam mobil saya yang berada di parkiran. Mari
ikuti saya.”
4 orang sukarelawan yang menerima
permintaan Palah, dan menggotong serta menuju ke parkiran mobil.
Sesampainya di parkiran mobil, dan
memasukan bu Yani. Palah berterimakasih kepada orang-orang yang sudah membantu.
Nasib gerobak dagangan bu Yani
diamankan oleh satpam kantor Makanan Catering atas perintah Palah.
Palah membawa bu Yani ke Puskesmas
terdekat di sekitar Tangerang
kota. Selama diperjalanan ia bercakap-cakap ringan.
“Bu, saya minta maaf sekali atas
perlakuan ibu saya terhadap bu Yani. Sekali saya benar-benar minta maaf bu.”
Palah memulai percakapan terlebih dahulu. Dengan wajah yang sedikit tertekuk
karena merasa malu dan kecawa terhadap perlakuan ibunya.
“Tidak apa nak. Semua ini sudah
tergariskan menjadi ketetapan ibu. Kita harus menerima dengan lapang dada.
Terima saja, apapun bentuknya baik pahit maupun menyenangkan. Yakinlah ada hal
yang telah Allah selipkan, dan bagaimana reaksi kita dalam mengeja hikmah
didalam kejadian tersebut.”
“Ya Allah, betapa beningnya hati ibu. Semoga,
suatu saat hati ibu saya seperti ibu Yani. Semoga kita semua senantiasa diberi
kesabaran serta selalu diiringi kebaikan setiap langkahnya. Amin.”
“Amin. Doakan saja ibumu tanpa henti.
Yakinlah atas kekuatan doa, bukankah Allah Maha Membolak-balikkan hati hamba
Nya? Jangan putus asa mendoakan ibumu. Bagaimanapun perlakuan seorang anak
kepada orang tua harus tunduk dan hormat terkecuali orang tua memberikan
perintah kepada hal yang negatif. Ikuti postifnya, buang negatifnya.”
“Akan saya laksanakan bu. Terimakasih
atas masukannya. Sebentar lagi kita sampai.”
“Kembali kasih nak. Baiklah”
Tak lama, mobil Palah pun terparkir
rapih setelah bu Yani dibawa ke ruang UGD.
Sejurus kemudian Palah memasuki ruang
tunggu. Setelah beberapa menit menunggu ia dipersilakan masuk keruangan.
“Adakah keluarga bu Yani yang dapat
datang ke Puskesmas ini?” Tanya Palah.
“Ada nak. Anak ibu sedang berada
dikampusnya yang lumayan jauh jaraknya. Dari sini sekitar satu jam perjalanan
ke. Lia namanya. Sebentar ibu telpon dulu.” Ucap bu Yani, sambil merogoh saku
nya mencari handphone nya. “Lho kok,
HP ibu kemana ya nak?” Tanya bu Yani sedikit panik.
“Tenang bu, jangan panik. Hp ibu ada di
saya. Sejak kejadian tadi saya mengamankannya saat terpental dari saku ibu.
Saya telpon dulu.” Jawab Palah kepada bu Yani. Sambil menelisik kontak bernama
Lia di HP jadul nya bu Yani yang bukan android dan hanya HP Nokia jadul.”
Palah meminta diri keluar dari kamar
UGD kepada bu Yani untuk menelpon Lia. Setelah memberi kabar kepada Lia, Palah
pun kembali ke kamar dan mendapati bu Yani yang sudah terlelap dalam tidurnya.
Satu jam kemudian Lia sudah tiba
diruang UGD. Bertanya-tanya dengan panik hingga tetesan air matanya membasahi
pipi yang merona itu. mengapa ibunya berada disini? Apa yang telah terjadi?
Palah pun menjelaskannya dengan penuh
kelembutan sambil menenangkan Lia. Setelah pertanyaan Lia terjawab semua, Lia
pun tenang dan memandangi wajah
ibunya yang sedang tertidur sesekali mencium tangan ibunya.
Satu jam lamanya, Palah selesai
mengurus biaya administrasi dan kembali ke kamar. Sesampainya dikamar Palah
memberitahu kepada Lia dan bu Yani. Bu
Yani sudah terbangun. Bahwa seusai ashar sekitar jam 4 bu Yani akan segera
pulang. Kaki bu Yani penuh dengan perban dan tangannya pun juga, begitu banyak
lecet yang terdapat pada kulitnya.
Setelah bergegas merapikan diri dan
mengecek barang bawaan beberapa saat sudah merasa siap untuk pulang bu Yani dan
Lia menuju lobby. Dan Palah pun menuju parkiran serta menjemput Bu Yani dan Lia
di lobby.
Sesampainya dirumah, Lia menjamu Palah
mereka duduk di sofa tak lupa bu Yani ikut menimbrung sambil bercakap-cakap
ringan.
Tak terasa adzan maghrib berkumandang memenuhi
ruang udara dilangit. Mereka segera bergegas memenuhi panggilan adzan untuk
menunaikan kewajiban dan menjadikan sholat sebagai kebutuhan. Mereka berjamaah
dirumah. Lia yang menjadi imam, Palah dan bu Yani makmum nya. Bu Yani sholat
dengan posisi berdiri, dengan kondisi yang tertatih-tatih gerakannya. Seusai
sholat mereka berdoa, tak lupa meminta doa untuk kesembuhan bu Yani.
Lia dan Palah melanjutkan
percakapannya. Sedangkan bu Yani istirahat dikamar hingga tertidur.
Mereka mengetahui latar belakang diri
masing-masing dari percakapan yang panjang ini.
Lia
yang lahir dari seorang ibu dengan kehidupannya sederhana namun jiwanya luar
biasa, hatinya yang bening seperti embun. Lia diperjuangkan ibunya agar bisa
melanjutkan pendidikan hingga bangku mahasiswi yang mengambil program studi
Akutansi . Didikan ibunya terhadap Lia sangat bagus, tidak terlalu di manja dan
tidak terlalu keras. Selalu diajarkan nilai-nilai Islam sejak dini.
Sedangkan
Palah lahir dari seorang ibu yang bergelimang harta. Hati ibunya yang ternodai
dengan sikap angkuh nan kasar. Palah yang berpendidikan tinggi dengan program
studi Psikologi. Ia membiayai kuliah dengan hasil kerjanya sendiri dikantor
usaha milik ibunya. Ia ingin merasakan hasil keringatnya sendiri, ia tidak
ingin mengandalkan harta ibunya. Sikap dan sifat Lia sangat berbeda. Dan
benar, hidayah itu hanya untuk orang-orang pilihan yang di kehendaki Allah.
Palah pamit pulang setelah isya, bu
Yani
3 hari di masa bu Yani keluar dari Puskesmas, bu Iza Pengelola Rumah Yatim menjenguk kerumah bu Yani. Bertanya apa yang telah terjadi. Dan beberapa jam lamanya bu Iza berada dirumah bu Yani ia paham dengan kejadian 3 hari yang lalu.Satu tahun kemudian...
Usaha bu Muflihah jatuh bangkrut
dikarenakan sikap angkuh dan kasarnya kepada pekerjanya. Serta diakibatkan juga
karena tidak adanya kontrol yang sepenuhnya dalam usaha tersebut. Bu Muflihah
dan Lia menjadi pengangguran akhir-akhir ini. Aset-aset nya habis karena
dipakai untuk membayar hutang kepada bank atas keperluan memperbaiki usahanya.
Tapi bu Muflihah tidak sanggup membayarnya, sehingga semua aset kecuali rumah
yang mereka singgahi saat ini ditarik oleh pihak bank.
Sedangkan bu Yani, ia menjadi pengusaha
sukses. Ia diangkat menjadi koki di Yayasan Rumah Yatim Piatu yang terkenal
bagus dan benar-benar menjadikan anak-anak didalamnya berakhlaqul karimah yang
dikelola sekaligus milik bu Iza. Sedangkan Lia bekerja di bank bagian pembukuan
keuangan. Ia menjadi pegawai yang terbaik dan terpercaya.
Mendengar usaha bu Muflihah bangkrut,
bu Yani menemui bu Muflihah dan Palah kerumahnya. Menawarkan pekerjaan.
“Saya tidak bisa terima tawaran ini”
Bantah bu Muflihah
“Mengapa? Sayang sekali jika kemampuan
bu Muflihah dan nak Palah ini tidak digubris.” Bujuk bu Yani
“Apakah kami pantas mendapatkan
kebaikan darimu?”
“Semua manusia berhak atas pekerjaan
dan penghidupan yang layak. Bukankah di dunia ini manusia sebagai makhluk
sosial? Ayolah terima tawaran saya.”
“Baiklah, dengan senang hati saya
terima tawarannya. Sebagai balas budi dan permintaan maaf saya terhadap bu Yani
dengan segala perbuatan buruk saya.” Permohonan maaf yang diiringi berlutut
kepada bu Yani
“Bangunlah bu Muflihah, tidak usah
berlutut seperti itu, saya sudah memaafkan ibu. Hiraukan saja. Biar kejadian
yang lalu lewat begitu saja bagaikan angin yang berembus.”
“Terimakasih sekalagi.” Ucap Palah dan
bu Muflihah.
“Kembali kasih.”
Beberapa minggu telah berlalu. Mereka
semua bekerja pada Yayasan Rumah Yatim Piatu al-Amin. Bu Yani yang menjadi juru
masak, dan memiliki kios makanan bakery yang sangat laku. Bu Muflihah sebagai
pengontrol sistem kerja yayasan. Palah menjadi Psikolog yang handal dalam
memahami kondisi psikis dan menjadi temlat curhatan anak-anak yang ada di
yayasan. Sedangkan Lia tetap bekerja di bank, jika hari libur sabtu dan minggu
ia menjadi mentor yang menginspirasi anak-anak.
Epilog








0 komentar:
Posting Komentar