Ini adalah suatu hal yang kami pelajari, dimana suatu kehidupan dapat berbalik arah bak jarum jam yang di putar balikkan. Kami tahu, bahwa kehidupan bukanlah sebuah batu tanpa ada pergerakan. Kami tahu, akan ada masanya dimana pohon akan berbuah setelah melewati berbagai proses lewat rahasia Allah di seluk beluk tahapannya tanpa ada campur tangan makhluk. Ketika kerasnya kehidupan di zaman milenium yang tak terbendungkan, ketika sesuatu yang dulunya mustahil menjadi sebuah kenyataan. Dan kami tahu, lewat kerasnya sebuah kehidupan terdapat sejarah yang mempunyai beribu-ribu keajaiban yang dapat mengubah takdir setiap manusia. Lewat masa kelam yang menenggelami jutaan harapan, kami merasakan bahwa senyatanya lautanpun memiliki atas permukaan laut . Walau sempat di tarik kedalam lumpur kebodohan, tapi cita-cita kami tidaklah terkubur. Membawa lentera kehangatan di kala kami merasa mengigil di peluk kesunyian yang hampa. Membuktikan bahwa makhluk terendah pun di beri kekuatan oleh Allah. Dan kami merasakan itu.
Ketika
kami hidup di dalam gelapnya hati yang tertutup. Mata yang terbuka tetapi
hakikatnya tidak melihat kebenaranyang hakiki. Hari demi hari kami jalani
kehidupan gelap, hingga Allah memberikan setetes cahaya kepada kami. Kami telah
menjalani kehidupan dan merasakan kesungguhan iman dan Islam. Merasakan
manisnya rahmat yang di berikan Allah. Untuk menata kembali jalan yang dulu
kusam bak benang yang kusut sehingga sulit di cari ujungnya.
Pada suatu masa dimana aku
beserta kawan-kawanku tenggelam dalam gelapnya dunia dan tejebak dalam
lingkaran hitam. Mungkin ini adalah penyesalan yang sebenarnya, suram tapi
cukup membuat kami terlena dan bertahan di dalamnya. Melalui segala bentuk
perbuatan dosa yang cukupmembuat kami terjebak dalam kenikmatan dunia yang
fana. Membuat kami semua mengorbankan kodrat, keluarga bahkan masa depan kami
demi sesuatu yang akan kami sesali nanti.
Menjadi budak dari segala nafsu
duniawi, membuat kami terus tenggelam semakin dalam di dalam lautan
kemaksiatan. Aku dan kawan-kawanku merasakan hitamnya tinta yang ditumpahkan
dari atas cakrawala, tak menentu arah ketika aku jatuh dalam panasnya besi
kehidupan di bawah sana. Aku dan kawan-kawankuibarat air dan orang-orang yang
lebih beruntung daripada aku. Ibarat minyak, kami saling hidup berdampingan
tapi tidak dapat bersatu. Di rendahkan dan di abaikan sudah menjadi makanan
kami sehari-hari. Tapi kami tetaplah manusia yang memiliki harapan dan tujuan
walau kami tidak tahu bagaimana cara meraihnya. Sampai suatu saat cahaya itu
menghampiri kami dan mengubah takdir kami.
Di sebuah sudut kota Jakarta yang sepi.
Terhindar dari keramaian dan hiruk pikuk ibu kota. Rumah sempit menjadi tempat
bernaung kami dari lelahnya menjalani hidup. Hidup di tempat tersudut seperti
ini memang menyesakan, apalagi di sampingnya berdiri diskotik yang tidak pernah
sepi pengunjung. Setiap malam, dentuman musik selalu terdengar menggema merasuk
ke setiap celah pikiran dan hati. Sudah biasa, fikirku menanggapi.
Aku adalah seorang waria. Nama
asliku adalah Muhammad Alfath Husein, namun orang-orang biasa memanggilku Mona.
Bersama5 temanku, Nurul Hidayah Affandi, Astriyani, Shabila Aini Putri,
Kiranawati dan Hilmy Nur Athifah, kami berjuang melawan kerasnya arus kehidupan
dengan takdir yang berbed-beda.
Nuy, itulah panggilan yang
biasa di ucapkan oleh warga setempat kepada preman kota yang bernama asli Nurul
Hidayah Affandi. Dia adalah seorang pendatang yang tidak beruntung di kota
Jakarta yang berasal dari Medan. Dia berasal dari keluarga yang hidupnya serba
kekurangan, oleh karena itu, ia merantau ke sebuah kota besar untuk mencari
pekerjaan dengan penghasilan lebih. Tapi sangat disayangkan, karena bekal yang
dibawanya itu tidak cukup serta tidak memiliki keahlian apapun , mengingat dia
saat itu sudah putus sekolah sejak SMP karena orang tuanya tidak bisa menopang
biaya sekolah anaknya. Dia merupakan anak pertama dalam keluarganya, jadi dia
menjadi satu-satunya harapan bagi keluarganya untuk memperbaiki nasib hidupnya.
Latar belakang orang ini sangatlah
menyedihkan, dimana keluarganya hidup tanpa seorang ayah semenjak temanku
berusia 5 tahun, disaat itulah keluarganya hidup tanpa tulang punggung keluarga
kecuali ibunya. Dia tumbuh dalam keluarga yang serba kesederhanaan, oleh karena
itu pada saat dia merantau ke Jakarta hidupnya berantakan dan tidak karuan.
Karena itu pertama kalinya dia melihat suasana perkotaan. Hidup di kota besar
tanpa adanya pengalaman membuatnya terombang-ambing dalam arus kehidupan keras
perkotaan. Sebenarnya dia itu orang yang sangat sopan dan penyayang hanya
karena pergaulannya yang terlalu bebas, dia berubah menjadi sesosok yang haus
akan kekerasan dan hidupnya bergelimang maksiat.
Selanjutnya temanku yang
bernama Astriyani. Biasa di panggil Neng Aci. Dia adalah salah satu wanita yang
memiliki kelebihan pada wajahnya di banding teman-temanku yang lain. Tapi yang
paling di sayangkan darinya, masa depannya di korbankan demi membiayai ibunya
yang sedang sakit keras. Profesinya saat ini sebagai PSK atau Pekerja Seks
Komersial. Dia adalah wanita yang pandai dan memiliki banyak keahlian. Dia
hidup di dalam keluarga yang amat bahagia dan serba kecukupan. Dia juga sosok
wanita yang berpendidikan dan mempunyai karir bagus di sekolahnya. Tapi, memang
segalanya tidak ada yang abadi termasuk kebahagiannya. Semuanya musnah dalam
waktu sekejap. Semua berawal saat perceraian orang tuanya. Di mulai dari situ,
dia merasa sangat terpukul dan depresi. Ibunya juga sangat terpukul karena
perceraian tersebut. Tidak sanggup menanggung sendirian ibunya pun
sakit-sakitan. Astri sebagai anak tunggal merasa tidak sanggup dalam
permasalahan ini. Akhirnya dia keluar dari kehidupannya dan memulai kehidupan
baru sebagai PSK.
Kemudian temanku yang bernama
Shabila Aini Putri. Dia berprofesi sebagai seorang pencopet, di mana dia harus
melakukan pekerjaan tersebut untuk memenuhi kebutuhan adiknya karena adiknya
lah keluarga satu-satunya yang dia miliki. Orang tua dia sudah meninggal karena
suatu kecelakaan saat dia masih sangat belia sehingga ketika itu ia di urus
oleh orang-orang jalanan. Kehidupannyasebagai pencopet di bilang cukup
menjamin. Karena hasil copetannya selalu membuahkan untung yang besar dan
ajaibnya dia tidak pernah tertangkap saat mencopet.Karena rasa sayangnya dengan
adiknya itu, dia rela melakukan perkerjaan apapun termasuk menjadi pencopet.
Kini dia menjadi pencopet yang profesional
Berikutnya, ada teman saya yang
bernama Hilmy nur athifah. Dia adalah seorang pengusaha sukses sampai pada
akhirnya usahanya bangkrut dan dia depresi. Masa-masa kelamnya diisi dengan
mengonsumsi narkoba dan minuman keras. Dia menjadi kecanduan akibatnya.
Hidupnya hampa apabila tidak mengonsumsi keduanya. Dia sudah berkali-kali masuk
penjara akibat perbuatannya. Tetapi tidak ada kata jera di hati dan fikirannya.
Dia satu-satunya yang mempunyai fikiran logis karena dia memegang gelar sebagai
mantan pengusaha sukses. Padahal tubuhnya sudah menjadi sarang berbagai
penyakit tapi dia tidak ada jera juga dalam mengonsumsi narkoba. Dia juga sudah
menjadi pengedar narkoba dan pengonsumsi akut. Hidupnya yang bergelimang
narkoba membuat wajahnya menjadi pucat dan suram.
Dan temanku yang terakhir
adalah Kiranawati fadilah putri. Dia satu-satunya temanku yang mempunyai
pekerjaan. Pekerjaannya dibilang lumayan berkelas kalau diukur dengan pekerjaan
kami semua. Dia menjadi tender di diskotik samping kotrakan kami. Uang yang di
hasilkan olehnya lah yang membuat kami tetap bertahan sampai sekarang. Dia lah
yang membiayai keperluan kami. Semua biaya termasuk uang yang di pakai untuk
membeli narkoba hilmy pun asalnya dari dia. Dia ikhlas karena dia sudah tidak
memiliki siapa-siapa lagi selain aku dan teman-temanku. Salah satu yang di
untungkan darinya adalah dia sama sekali tidak terpengaruh oleh dunia yang kami
alami.
Dan kini aku akan memperkenalkan
diriku sendiri. Namaku Muhammad Alfath Husein. Aku adalah laki-laki sejati. Aku
di besarkan di keluarga yang penuh dengan kasih sayang. Ayahku seorang pedagang
gorengan keliling dan Ibuku seorang penjahit di salah satu perusahaan rumahan.
Kami hidup dengan penuh rasa syukur. Aku anak kedua dari 3 bersaudara. Aku
satu-satunya anak laki-laki dari 2 saudaraku. Tapi kelainan yang aku miliki
membuatku sama sekali tidak memiliki teman. Dijauhi dan dikucilkan sudah
menjadi santapanku sehari-hari. Harga diri bagiku sudah tidak ada gunanya.
Mentalku habis di gerogoti oleh api yang berasal dari mulut mereka. Aku
berusaha mencari kawan dimanapun itu. Tapi tetap tidak ada. Sampai pada suatu
ketika aku bertemu suatu komunitas. Tante cantik yang menyapa dengan ramah
mengajaku berbincang. Aku mulai tertarik. Tapi satu hal yang aku heran. Kenapa
suara mereka besar?
Aku di beritahu bahwa kehidupan
mereka sangatlah bahagia. Bebas tanpa aturan dan cercaan. Bergaul dan mempunyai
komunitas sendiri. Rasanya seperti memiliki keluarga . Akhirnya kuputuskan
untuk bergabung dengan mereka. Memasuki dunia mereka berarti aku harus mengubah
gaya hidupku. Aku Alfath, seorang laki-laki sejati kini berganti nama menjadi
Mona. Walau harus mengubah kepribadian dan gaya hidup tapi aku bahagia. Aku
rela meninggalkan keluargaku demi ikut dengan komunitas itu. Aku rela melepas
semuanya demi komunitas itu. Cita-cita, keluarga, masa depan bahkan
kepribadianku semuanya aku tinggalkan. Masih kuingat saat ibu memanggil namaku
untuk menahan agar tidak pergi, masih kuingat wajah lelah ayah yang memohon
agar aku tidak pergi dan masih kuingat tangis kedua saaudaraku yang
meraung-raung mencurahkan segala hal yang akan terjadi ketika aku pergi.
“Ya Allah, aku sadar aku ini
siapa, tapi mengapa begitu berat untuk kembali. Aku malu pada-Mu. Masihkah ada
kesempatan untuk mengulang semuanya? Memperbaiki semuanya? Jika kesempatan itu
ada akan aku lakukan apapun demi mendapatkannya.” Ujarnya kepada diri sendiri.
Di tengah derai gemuruh kapas
hitam, aku termenung di depaan kaca bening ditemaninya secangkir kopi pekat
hangat. Kirana menyentuh bahuku dan berberkata
“Mona, gimana ini? Tubuhnya
bergetar sambil berkata seperti itu.
“Ada apa?” ujarku dengan rasa
penasaran.
“Hilmy menjadi buronan lagi”
ujar kirana
“Dia lagi dia lagi, memang
tidak ada kapoknya ini anak” ujarku dengan menghela nafas berat.
Segera kutinggalkan kopikudan
mencari bocah candu itu. Setelah beberapa jam kemudian, akhirnya aku menemukan bocah pecandu narokoba itu.
“Hilmy! Kenapa kamu nakal
sekali. Aku bilang kalau ingin berbuat janganlah sampai kau berurusan dengan
polisi” ujarku dengan rasa marah terhadap hilmy.
“Maaf mon, secara tidak sengaja
aku terlihat oleh polisi yang sedang berpatroli ketika aku melakukan distribusi
narkoba” ujarnya dengan alasan yang logis.
“Baiklah, lain kali kau jangan
sampai ketahuan oleh polisi lagi” ujarku dengan rasa kesal.
Akhirnya dengan dilakukannya
pembicaraan dengan hilmy, aku pun membuat perjanjian dengan si hilmy agar dia
tidak menjadi buronan lagi. Dan diapun tidak boleh keluar dari tempat tinggal
kami selama masa pencarian masih dilakukan.
Masalah itu akhirnya
terselesaikan, namun masih ada satu masalah lagi. Kali ini si Shabila yang
mendapatkan masalah.
Pada saat itu, Shabila telah
membuat onar kepada salah satu geng copet yang ada di salah satu sudut kota.
Dia merasa tergunjing atas perlakuan geng copet yang sangat terkenal itu ketika
dia sedang melewati geng tersebut. Dia merasa tidak terima dan akhirnya memukul
dalah satu anggota geng copet tersebut sehingga terjadilah perkelahian antara
keduanya. Namun dengan jumlah yang tak seimbang, maka Shabila pun kabur dari
tempat itu.
Akhirnya atas kejadian itu,
salah satu atasan dari geng itu melapor kepada saya tentang hal itu karena dia
merasa perjanjiannya di langgar oleh salah satu teman saya.
Mendengar hal itu, saya merasa
malu atas kejadian itu karena dulu kami pernah membuat perjanjian dengan geng
tersebut bahwa kita tidak boleh ada perkelahian dan saling menggunjing. Namun
mungkin pada saat itu Shabila terbawa emosi karena salah satu geng melanggar
aturan, akhirnya Shabila yang memulai pukulan sehingga Shabila lah yang di
anggap memulai permusuhan.
Saya pun langsung mencari
Shabila yang membuat onar itu ku temukan bocah itu di dalam salah satu kamar
diskotik dengan wajah parau. Tubuhnya bertambah kurus, sempat-sempatnya bibir
pucat itu menyapaku
“Teh mona..sini masuk, kita
berpesta.” Ucap tehShabila dengan wajah yang merasa tidak bersalah.
Shabila berjalan gontai mendekatiku,
terlihat banyak sekali bungkus obat-obatan laknat di bawahnya. Ingin sekali aku
menampar bocah itu, tapi apalah dayaku yang juga seorang pendosa. Kini wajahnya
begitu dekat denganku. Bau alkohol tercium menyengat menusuk penciumanku.
Tenggorokanku tercekat ketika dia mulai berbicara. Apa bagusnya minuman setan
itu?
“Teh mona kenapa tidak menjawab? Teteh
cantik banget, mau kemana?”
“Hey kamu, bukankah kau sudah tau akan
perjanjian itu?” ujarku.
“Perjanjian apa mon?” merasa tidak tahu
karena sedang dalam keadaan mabuk.
“Ahh lupakan, saya susah berbicara
dengan orang yang mabuk” ujarku.
“Apa mon? Apa? Saya tidak mendengar”
ujar shabila.
Aku diam tidak menanggapi. Dia menarik
tanganku.
“Teh mona marah ya? Kok tidak
menyahut?”
Perasaanku serasa makin teriris ketika
mataku menjalar kebagian lengan kurus itu. Banyak bekas tusukan jarum disana.
“kapan kau akan berhenti begini?”
ucapku baru menyahut.
“The mona ngomong gitu ke aku? Teteh udah tobat?”
Aku terdiam, merasa kata-kata itu
menohok jantungku.
Aku pergi meninggalkannya.
Masih kudengar suara paraunya memanggilku. Aku kembali ke kontrakan. Tapi
sebelum itu aku menghampiri kirana.
“Teteh mau minum?” sapanya ramah
“na, emang minuman ini enak?”
“Ah aku gatau teh soalnya belom pernah
minum”
“Kamu udah tau belom na,hilmy jadi
buronan lagi”
“Dia emang sudah biasa kan teh?”
Aku kembali terdiam. Kemudian aku pamit
untuk kembali ke kontrakan. Sesampaainya di sana, aku membuka laci dan
mengambil sebuah kertas bergambar. Terpapar jelas wajah hilmy disana. Aku
memalingkan wajah untuk merenung. Aku harus bagaimana?
Pernah terfikir untuk mengakhiri
hidupku. Tapi bekal apa yang aku punya? Segunung dosa bahkan lebih, hanya itu
yang kupunya. Iman ada di dalam hatiku tapi tidak pernah aku praktekan. Sholat,
Ah siapa aku berani-beraninya untuk sholat? Apa Allah masih menganggapku
sebagai hambanya. Aku jadi ingat kisah kaum nabi Luth yang diazab Allah karena
tingkahnya. Apa aku akan seperti itu? Lamunanku terhenti ketika ada yang
mengetuk pintu kontrakankuyang ternyata orang yang mengetuk pintu itu adalah
orang kaya yang ingin menyewa PSK.
“Mon? Lu masih ada make up nggak? Punya
gue habis nih.”ujar Aci.
“Gada neng, emang yang kemarin habis?”
ujarku
“Iya habis, malem ini gue dapet order 4
orang. Om-om kaya semua. Tapi pegel gue kalo ngelayanin dalem satu hari. Gue
suruh order ke yang lain malah gamau.”ujar Aci
Paras cantiknya masih tergambar jelas.
Tidak ada guratan-guratan lelah di dahinya seakan-akan dia bahagia atas semua
ini.
“Permisi ada neng aci nggak?” tanya
seseorang yang tiba-tiba memasuki kontrakanku.
“Bilangin suruh sabar. Gue mau dandan
dulu. Mon, bantuin gue dandan sih. Biar cepet. Pilihin baju aja gih. Cepet
yaa!” ujar Aci
Aku hanya mengangguk menuruti
suruhannya. Aku memperhatikan dia, dari mulai memoles bedak sampai menaburkan
lipstik di bibir ranum itu.Aku membuka lemari baju dan mencari gaun yang pantas
untuknya. Hampir semua bajunya bermerek hasil di belikan dari om-om yang di
layaninya. Aku mengambil gaun berwarna merah mawar berhias bunga cantik di
sekitar pinggangnya.
“Mon, udah belom? Lama banget milih
baju aja. Keburu pelanggan gue cancel orderan” ujar Aci
“Iya neng, ini lagi di pilihin. Mau
yang ini aja?” ujarku.
“Ih baju ini? Pertama kali gue jadi PSK
apes pake baju ini”
“Terus lu mau baju yang mana, kalau
menurut lu ini baju pembawa sial”
“Ya udah deh pilih baju yang ini aja.
Siapa tau kali ini beruntung”
“Bener ni gak bakal nyesel”
“Iya bener. Cepet mon”
Mona pun memberikan baju yang tadi
diambilnya. Aci pun memakainya dan langsung menghampiri pria yang sudah
beberapa menit menunggunya. Aci dan pria yang tak kukenal itu pergi entah
kemana.
Cacing-cacing perutku tiba-tiba meminta
jatahnya. Akupun langsung bergegas ke dapur untuk mengisi perutku. Sesampainya
di dapur ternyata tak ada makanan sedikitpun. Akupun kembali ke kamar. Akhirnya
aku memutuskan membeli pizza secara online.
Tak lama kemudian pizza yang ku
pesandatang. Aku sangat terpesona dengan kurir yang gantengnya luar biasa.
Akupun langsung mengambil alih pizza yang ada di tangan mas ganteng dan
membayarnya. Aku tak tahan melihatnya. Aku pun mengusirnya agar segera pergi
dari hadapanku. Setelah kurir itu pergi aku langsung masuk dan membongkar pizza
karena perutku sudah tak tahan lagi. Saat aku sedang menyantap pizza yang aku
pesan tadi tiba-tiba Aci datang dengan kondisi amburadul. Dia menangis
sejadi-jadinya. Akupun yang melihatnya heran. Padahal yang kutahu baru beberapa
menit dia pergi tapi dia sudah kembali. Ada apa dengannya tak biasanya dia
pergi dengan waktu yang mungkin terbilang singkat.
Setelah Aci sudah merasa tenang akupun
sebagai sahabatnya yang paling baik menanyakan kondisinya. Apa yang sudah
menimpa dirinya hingga dia pulang dengan kondisi tak baik.
“Mon gue nyesel pake baju ini.
Benar-benar baju pembawa sial.”
“Gue kan tadi udah bilang apa lo yakin
ga nyesel pake baju ini. Terus lu jawab ga apa-apa katanya. Emang apa yang udah
terjadi sama lu.”
“Gue…gu..e…gue…Hiks,hiks,hiks” ucap Aci
dengan terpatah patah dan langsung menangis kembali
“Gue apa ci.”
“Gue di tipu mon. Om-om itutuh penipu.
Coba lu bayangin. Dia itu mau nyebarin virus HIV ke gua. Hiks, hiks, hiks.”
“Terus apa lu udah”
Belum selesai aku bicara tapi Aci sudah
memotongnya
“Untungnya belum Mon. Gue masih
dilindungin. Gue bersyukur banget. Lu tau moon kalau sampai itu terjadi gue ga
tau harus giimana.”
“Masalahnya kok lu bisa tau kalau dia
itu penipu.”
“Jadi gini. Pas di jalan tiba-tiba gue
ngerasa haus banget dan gue minta beliin kan ke dia. Terus karena gue boring di
mobil jadi gue mainin hp. Tiba-tiba ada notif chatt masuk ke hp gue dan itutuh
berita tentang dia. Gue tetep nyari info dia kesana kemari. Gue cari kebenaran,
gue tanya ketemen-temen gue dan ternyata bener dia tuh mau nyebarin virus HIV
ke para PSK dan perawan-perawan sekitar Jakarta.
“Syukurlah kalau begitu, lain kali kau
harus berhati-hati ci” ujarku
“Ok makasih yah Mon” ujar Aci
“Iya. Selow aja. Kita kan sesama temen
harus saling mengingatkan satu sama lain” Ujarku
“Iya mon gue bersyukur sama Allah
walaupun gua hina tapi tetep melindungi gua. Sekarang gue sadar kalau apa yang
gue lakuin ini salah”
Sebenarnya dalam kehidupan
kami, terkadang kami diberikan nasihat oleh tetangga kosan setempat agar kami
berubah menjadi apa yang seharusnya kami lakukan agar menjadi baik, namun itu
semua kita abaikan hingga akhirnya penyesalan itupun tiba.
Kami merasa bahwa hidup itu
adalah takdir. Allah sudah menetapkan kami menjadi seperti ini dan kami
berprasangka kepada Allah bahwa hidup kami akan terus-menerus seperti ini. Kami
menganggap bahwa “Ya sudah lah, kami ya kami, mereka ya mereka, kita masing-masing
aja, takdir yang sudah menetapkan kami seperti ini”. Itulah pikira yang ada di benak kami selama kami seperti
ini.
Namun kami salah, bahwa takdir
itu bisa di ubah. Dulu, kami berpikir bahwa semua perbuatan kami adalah sebuah
ketetapan-Nya. Yah memang, tapi yang lebih menyeluruhnya adalah diri kami
sendiri yang berkehendak untuk melakukan yang baik atau yang buruk. Kami juga
sempat berpikir jika kami bertaubat, mungkin Allah sudah tak mau mengampuni
kami karena dosa kami yang sudahmenempel erat ke dalam rohani kami. Kami sudah
kotor, kami sudah hina, kami sudah berprilaku seperti binatang dihapadan Allah.
Namun akankah Allah ingin mengampuni kami?
Di sisi lain, kami juga punya
cita-cita. Kami ingin sekali menggapai cita-cita tersebut. Namun jika Allah
tidak mau mewujudkan cita-cita kami karena kami masih punya salah, akhirnya
kami pun masih berpegang teguh sama jalan hidup kami yang sekarang menginngat
kami tidak mungkin lagi di ampuni oleh Allah karena dosa yang kami perbuat.
Dan akhirnya, dari semua kisah
hidup yang kami jalani, kami berlima ingin memutuskan untuk berubah, hijrah,
move on dari prilaku yang tak pantas yang dulu kami jalani. Pada saat itu kami
berlima berkumpul di ruang tengah kosan untuk berbincang-bincang masalah makna
kehidupan yang kami lakukan bahwa apakah itu benar atau tidak. Dan pada
waktunya, akhirnya kami merasa bersalah atas perbuatan yang kami lakukan, kami
merasa berdosa, dan sudah seharusnya kami bertaubat.








0 komentar:
Posting Komentar