Jumat, 19 Juni 2020

Best Forgive

Ini adalah suatu hal yang kami pelajari, dimana suatu kehidupan dapat berbalik arah bak jarum jam yang di putar balikkan. Kami tahu, bahwa kehidupan bukanlah sebuah batu tanpa ada pergerakan. Kami tahu, akan ada masanya dimana pohon akan berbuah setelah melewati berbagai proses lewat rahasia Allah di seluk beluk tahapannya tanpa ada campur tangan makhluk. Ketika kerasnya kehidupan di zaman milenium yang tak terbendungkan, ketika sesuatu yang dulunya mustahil menjadi sebuah kenyataan. Dan kami tahu, lewat kerasnya sebuah kehidupan terdapat sejarah yang mempunyai beribu-ribu keajaiban yang dapat mengubah takdir setiap manusia. Lewat masa kelam yang menenggelami jutaan harapan, kami merasakan bahwa senyatanya lautanpun memiliki   atas permukaan laut . Walau sempat di tarik kedalam lumpur kebodohan, tapi cita-cita kami tidaklah terkubur. Membawa lentera kehangatan di kala kami merasa mengigil di peluk kesunyian yang hampa. Membuktikan bahwa makhluk terendah pun di beri kekuatan oleh Allah. Dan kami merasakan itu.

        Ketika kami hidup di dalam gelapnya hati yang tertutup. Mata yang terbuka tetapi hakikatnya tidak melihat kebenaranyang hakiki. Hari demi hari kami jalani kehidupan gelap, hingga Allah memberikan setetes cahaya kepada kami. Kami telah menjalani kehidupan dan merasakan kesungguhan iman dan Islam. Merasakan manisnya rahmat yang di berikan Allah. Untuk menata kembali jalan yang dulu kusam bak benang yang kusut sehingga sulit di cari ujungnya.

Pada suatu masa dimana aku beserta kawan-kawanku tenggelam dalam gelapnya dunia dan tejebak dalam lingkaran hitam. Mungkin ini adalah penyesalan yang sebenarnya, suram tapi cukup membuat kami terlena dan bertahan di dalamnya. Melalui segala bentuk perbuatan dosa yang cukupmembuat kami terjebak dalam kenikmatan dunia yang fana. Membuat kami semua mengorbankan kodrat, keluarga bahkan masa depan kami demi sesuatu yang akan kami sesali nanti.

Menjadi budak dari segala nafsu duniawi, membuat kami terus tenggelam semakin dalam di dalam lautan kemaksiatan. Aku dan kawan-kawanku merasakan hitamnya tinta yang ditumpahkan dari atas cakrawala, tak menentu arah ketika aku jatuh dalam panasnya besi kehidupan di bawah sana. Aku dan kawan-kawankuibarat air dan orang-orang yang lebih beruntung daripada aku. Ibarat minyak, kami saling hidup berdampingan tapi tidak dapat bersatu. Di rendahkan dan di abaikan sudah menjadi makanan kami sehari-hari. Tapi kami tetaplah manusia yang memiliki harapan dan tujuan walau kami tidak tahu bagaimana cara meraihnya. Sampai suatu saat cahaya itu menghampiri kami dan mengubah takdir kami.

Di sebuah sudut kota Jakarta yang sepi. Terhindar dari keramaian dan hiruk pikuk ibu kota. Rumah sempit menjadi tempat bernaung kami dari lelahnya menjalani hidup. Hidup di tempat tersudut seperti ini memang menyesakan, apalagi di sampingnya berdiri diskotik yang tidak pernah sepi pengunjung. Setiap malam, dentuman musik selalu terdengar menggema merasuk ke setiap celah pikiran dan hati. Sudah biasa, fikirku menanggapi.

Aku adalah seorang waria. Nama asliku adalah Muhammad Alfath Husein, namun orang-orang biasa memanggilku Mona. Bersama5 temanku, Nurul Hidayah Affandi, Astriyani, Shabila Aini Putri, Kiranawati dan Hilmy Nur Athifah, kami berjuang melawan kerasnya arus kehidupan dengan takdir yang berbed-beda.

Nuy, itulah panggilan yang biasa di ucapkan oleh warga setempat kepada preman kota yang bernama asli Nurul Hidayah Affandi. Dia adalah seorang pendatang yang tidak beruntung di kota Jakarta yang berasal dari Medan. Dia berasal dari keluarga yang hidupnya serba kekurangan, oleh karena itu, ia merantau ke sebuah kota besar untuk mencari pekerjaan dengan penghasilan lebih. Tapi sangat disayangkan, karena bekal yang dibawanya itu tidak cukup serta tidak memiliki keahlian apapun , mengingat dia saat itu sudah putus sekolah sejak SMP karena orang tuanya tidak bisa menopang biaya sekolah anaknya. Dia merupakan anak pertama dalam keluarganya, jadi dia menjadi satu-satunya harapan bagi keluarganya untuk memperbaiki nasib hidupnya.

Latar belakang orang ini sangatlah menyedihkan, dimana keluarganya hidup tanpa seorang ayah semenjak temanku berusia 5 tahun, disaat itulah keluarganya hidup tanpa tulang punggung keluarga kecuali ibunya. Dia tumbuh dalam keluarga yang serba kesederhanaan, oleh karena itu pada saat dia merantau ke Jakarta hidupnya berantakan dan tidak karuan. Karena itu pertama kalinya dia melihat suasana perkotaan. Hidup di kota besar tanpa adanya pengalaman membuatnya terombang-ambing dalam arus kehidupan keras perkotaan. Sebenarnya dia itu orang yang sangat sopan dan penyayang hanya karena pergaulannya yang terlalu bebas, dia berubah menjadi sesosok yang haus akan kekerasan dan hidupnya bergelimang maksiat. 

Selanjutnya temanku yang bernama Astriyani. Biasa di panggil Neng Aci. Dia adalah salah satu wanita yang memiliki kelebihan pada wajahnya di banding teman-temanku yang lain. Tapi yang paling di sayangkan darinya, masa depannya di korbankan demi membiayai ibunya yang sedang sakit keras. Profesinya saat ini sebagai PSK atau Pekerja Seks Komersial. Dia adalah wanita yang pandai dan memiliki banyak keahlian. Dia hidup di dalam keluarga yang amat bahagia dan serba kecukupan. Dia juga sosok wanita yang berpendidikan dan mempunyai karir bagus di sekolahnya. Tapi, memang segalanya tidak ada yang abadi termasuk kebahagiannya. Semuanya musnah dalam waktu sekejap. Semua berawal saat perceraian orang tuanya. Di mulai dari situ, dia merasa sangat terpukul dan depresi. Ibunya juga sangat terpukul karena perceraian tersebut. Tidak sanggup menanggung sendirian ibunya pun sakit-sakitan. Astri sebagai anak tunggal merasa tidak sanggup dalam permasalahan ini. Akhirnya dia keluar dari kehidupannya dan memulai kehidupan baru sebagai PSK.

Kemudian temanku yang bernama Shabila Aini Putri. Dia berprofesi sebagai seorang pencopet, di mana dia harus melakukan pekerjaan tersebut untuk memenuhi kebutuhan adiknya karena adiknya lah keluarga satu-satunya yang dia miliki. Orang tua dia sudah meninggal karena suatu kecelakaan saat dia masih sangat belia sehingga ketika itu ia di urus oleh orang-orang jalanan. Kehidupannyasebagai pencopet di bilang cukup menjamin. Karena hasil copetannya selalu membuahkan untung yang besar dan ajaibnya dia tidak pernah tertangkap saat mencopet.Karena rasa sayangnya dengan adiknya itu, dia rela melakukan perkerjaan apapun termasuk menjadi pencopet. Kini dia menjadi pencopet yang profesional

Berikutnya, ada teman saya yang bernama Hilmy nur athifah. Dia adalah seorang pengusaha sukses sampai pada akhirnya usahanya bangkrut dan dia depresi. Masa-masa kelamnya diisi dengan mengonsumsi narkoba dan minuman keras. Dia menjadi kecanduan akibatnya. Hidupnya hampa apabila tidak mengonsumsi keduanya. Dia sudah berkali-kali masuk penjara akibat perbuatannya. Tetapi tidak ada kata jera di hati dan fikirannya. Dia satu-satunya yang mempunyai fikiran logis karena dia memegang gelar sebagai mantan pengusaha sukses. Padahal tubuhnya sudah menjadi sarang berbagai penyakit tapi dia tidak ada jera juga dalam mengonsumsi narkoba. Dia juga sudah menjadi pengedar narkoba dan pengonsumsi akut. Hidupnya yang bergelimang narkoba membuat wajahnya menjadi pucat dan suram.

Dan temanku yang terakhir adalah Kiranawati fadilah putri. Dia satu-satunya temanku yang mempunyai pekerjaan. Pekerjaannya dibilang lumayan berkelas kalau diukur dengan pekerjaan kami semua. Dia menjadi tender di diskotik samping kotrakan kami. Uang yang di hasilkan olehnya lah yang membuat kami tetap bertahan sampai sekarang. Dia lah yang membiayai keperluan kami. Semua biaya termasuk uang yang di pakai untuk membeli narkoba hilmy pun asalnya dari dia. Dia ikhlas karena dia sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi selain aku dan teman-temanku. Salah satu yang di untungkan darinya adalah dia sama sekali tidak terpengaruh oleh dunia yang kami alami.

Dan kini aku akan memperkenalkan diriku sendiri. Namaku Muhammad Alfath Husein. Aku adalah laki-laki sejati. Aku di besarkan di keluarga yang penuh dengan kasih sayang. Ayahku seorang pedagang gorengan keliling dan Ibuku seorang penjahit di salah satu perusahaan rumahan. Kami hidup dengan penuh rasa syukur. Aku anak kedua dari 3 bersaudara. Aku satu-satunya anak laki-laki dari 2 saudaraku. Tapi kelainan yang aku miliki membuatku sama sekali tidak memiliki teman. Dijauhi dan dikucilkan sudah menjadi santapanku sehari-hari. Harga diri bagiku sudah tidak ada gunanya. Mentalku habis di gerogoti oleh api yang berasal dari mulut mereka. Aku berusaha mencari kawan dimanapun itu. Tapi tetap tidak ada. Sampai pada suatu ketika aku bertemu suatu komunitas. Tante cantik yang menyapa dengan ramah mengajaku berbincang. Aku mulai tertarik. Tapi satu hal yang aku heran. Kenapa suara mereka besar?

Aku di beritahu bahwa kehidupan mereka sangatlah bahagia. Bebas tanpa aturan dan cercaan. Bergaul dan mempunyai komunitas sendiri. Rasanya seperti memiliki keluarga . Akhirnya kuputuskan untuk bergabung dengan mereka. Memasuki dunia mereka berarti aku harus mengubah gaya hidupku. Aku Alfath, seorang laki-laki sejati kini berganti nama menjadi Mona. Walau harus mengubah kepribadian dan gaya hidup tapi aku bahagia. Aku rela meninggalkan keluargaku demi ikut dengan komunitas itu. Aku rela melepas semuanya demi komunitas itu. Cita-cita, keluarga, masa depan bahkan kepribadianku semuanya aku tinggalkan. Masih kuingat saat ibu memanggil namaku untuk menahan agar tidak pergi, masih kuingat wajah lelah ayah yang memohon agar aku tidak pergi dan masih kuingat tangis kedua saaudaraku yang meraung-raung mencurahkan segala hal yang akan terjadi ketika aku pergi.

“Ya Allah, aku sadar aku ini siapa, tapi mengapa begitu berat untuk kembali. Aku malu pada-Mu. Masihkah ada kesempatan untuk mengulang semuanya? Memperbaiki semuanya? Jika kesempatan itu ada akan aku lakukan apapun demi mendapatkannya.” Ujarnya kepada diri sendiri.

Di tengah derai gemuruh kapas hitam, aku termenung di depaan kaca bening ditemaninya secangkir kopi pekat hangat. Kirana menyentuh bahuku dan berberkata

“Mona, gimana ini? Tubuhnya bergetar sambil berkata seperti itu.

“Ada apa?” ujarku dengan rasa penasaran.

“Hilmy menjadi buronan lagi” ujar kirana

“Dia lagi dia lagi, memang tidak ada kapoknya ini anak” ujarku dengan menghela nafas berat.

Segera kutinggalkan kopikudan mencari bocah candu itu. Setelah beberapa jam kemudian, akhirnya  aku menemukan bocah pecandu narokoba itu.

“Hilmy! Kenapa kamu nakal sekali. Aku bilang kalau ingin berbuat janganlah sampai kau berurusan dengan polisi” ujarku dengan rasa marah terhadap hilmy.

“Maaf mon, secara tidak sengaja aku terlihat oleh polisi yang sedang berpatroli ketika aku melakukan distribusi narkoba” ujarnya dengan alasan yang logis.

“Baiklah, lain kali kau jangan sampai ketahuan oleh polisi lagi” ujarku dengan rasa kesal.

Akhirnya dengan dilakukannya pembicaraan dengan hilmy, aku pun membuat perjanjian dengan si hilmy agar dia tidak menjadi buronan lagi. Dan diapun tidak boleh keluar dari tempat tinggal kami selama masa pencarian masih dilakukan.

Masalah itu akhirnya terselesaikan, namun masih ada satu masalah lagi. Kali ini si Shabila yang mendapatkan masalah.

Pada saat itu, Shabila telah membuat onar kepada salah satu geng copet yang ada di salah satu sudut kota. Dia merasa tergunjing atas perlakuan geng copet yang sangat terkenal itu ketika dia sedang melewati geng tersebut. Dia merasa tidak terima dan akhirnya memukul dalah satu anggota geng copet tersebut sehingga terjadilah perkelahian antara keduanya. Namun dengan jumlah yang tak seimbang, maka Shabila pun kabur dari tempat itu.

Akhirnya atas kejadian itu, salah satu atasan dari geng itu melapor kepada saya tentang hal itu karena dia merasa perjanjiannya di langgar oleh salah satu teman saya.

Mendengar hal itu, saya merasa malu atas kejadian itu karena dulu kami pernah membuat perjanjian dengan geng tersebut bahwa kita tidak boleh ada perkelahian dan saling menggunjing. Namun mungkin pada saat itu Shabila terbawa emosi karena salah satu geng melanggar aturan, akhirnya Shabila yang memulai pukulan sehingga Shabila lah yang di anggap memulai permusuhan.

Saya pun langsung mencari Shabila yang membuat onar itu ku temukan bocah itu di dalam salah satu kamar diskotik dengan wajah parau. Tubuhnya bertambah kurus, sempat-sempatnya bibir pucat itu menyapaku

“Teh mona..sini masuk, kita berpesta.” Ucap tehShabila dengan wajah yang merasa tidak bersalah.

Shabila berjalan gontai mendekatiku, terlihat banyak sekali bungkus obat-obatan laknat di bawahnya. Ingin sekali aku menampar bocah itu, tapi apalah dayaku yang juga seorang pendosa. Kini wajahnya begitu dekat denganku. Bau alkohol tercium menyengat menusuk penciumanku. Tenggorokanku tercekat ketika dia mulai berbicara. Apa bagusnya minuman setan itu?

“Teh mona kenapa tidak menjawab? Teteh cantik banget, mau kemana?”

“Hey kamu, bukankah kau sudah tau akan perjanjian itu?” ujarku.

“Perjanjian apa mon?” merasa tidak tahu karena sedang dalam keadaan mabuk.

“Ahh lupakan, saya susah berbicara dengan orang yang mabuk” ujarku.

“Apa mon? Apa? Saya tidak mendengar” ujar shabila.

Aku diam tidak menanggapi. Dia menarik tanganku.

“Teh mona marah ya? Kok tidak menyahut?”

Perasaanku serasa makin teriris ketika mataku menjalar kebagian lengan kurus itu. Banyak bekas tusukan jarum disana.

“kapan kau akan berhenti begini?” ucapku baru menyahut.

“The mona ngomong gitu ke aku? Teteh udah tobat?”

Aku terdiam, merasa kata-kata itu menohok jantungku.

Aku pergi meninggalkannya. Masih kudengar suara paraunya memanggilku. Aku kembali ke kontrakan. Tapi sebelum itu aku menghampiri kirana.

“Teteh mau minum?” sapanya ramah

“na, emang minuman ini enak?”

“Ah aku gatau teh soalnya belom pernah minum”

“Kamu udah tau belom na,hilmy jadi buronan lagi”

“Dia emang sudah biasa kan teh?”

Aku kembali terdiam. Kemudian aku pamit untuk kembali ke kontrakan. Sesampaainya di sana, aku membuka laci dan mengambil sebuah kertas bergambar. Terpapar jelas wajah hilmy disana. Aku memalingkan wajah untuk merenung. Aku harus bagaimana?

Pernah terfikir untuk mengakhiri hidupku. Tapi bekal apa yang aku punya? Segunung dosa bahkan lebih, hanya itu yang kupunya. Iman ada di dalam hatiku tapi tidak pernah aku praktekan. Sholat, Ah siapa aku berani-beraninya untuk sholat? Apa Allah masih menganggapku sebagai hambanya. Aku jadi ingat kisah kaum nabi Luth yang diazab Allah karena tingkahnya. Apa aku akan seperti itu? Lamunanku terhenti ketika ada yang mengetuk pintu kontrakankuyang ternyata orang yang mengetuk pintu itu adalah orang kaya yang ingin menyewa PSK.

“Mon? Lu masih ada make up nggak? Punya gue habis nih.”ujar Aci.

“Gada neng, emang yang kemarin habis?” ujarku

“Iya habis, malem ini gue dapet order 4 orang. Om-om kaya semua. Tapi pegel gue kalo ngelayanin dalem satu hari. Gue suruh order ke yang lain malah gamau.”ujar Aci

Paras cantiknya masih tergambar jelas. Tidak ada guratan-guratan lelah di dahinya seakan-akan dia bahagia atas semua ini.

“Permisi ada neng aci nggak?” tanya seseorang yang tiba-tiba memasuki kontrakanku.

“Bilangin suruh sabar. Gue mau dandan dulu. Mon, bantuin gue dandan sih. Biar cepet. Pilihin baju aja gih. Cepet yaa!” ujar Aci

Aku hanya mengangguk menuruti suruhannya. Aku memperhatikan dia, dari mulai memoles bedak sampai menaburkan lipstik di bibir ranum itu.Aku membuka lemari baju dan mencari gaun yang pantas untuknya. Hampir semua bajunya bermerek hasil di belikan dari om-om yang di layaninya. Aku mengambil gaun berwarna merah mawar berhias bunga cantik di sekitar pinggangnya.

“Mon, udah belom? Lama banget milih baju aja. Keburu pelanggan gue cancel orderan” ujar Aci

“Iya neng, ini lagi di pilihin. Mau yang ini aja?” ujarku.

“Ih baju ini? Pertama kali gue jadi PSK apes pake baju ini”

“Terus lu mau baju yang mana, kalau menurut lu ini baju pembawa sial”

“Ya udah deh pilih baju yang ini aja. Siapa tau kali ini beruntung”

“Bener ni gak bakal nyesel”

“Iya bener. Cepet mon”

Mona pun memberikan baju yang tadi diambilnya. Aci pun memakainya dan langsung menghampiri pria yang sudah beberapa menit menunggunya. Aci dan pria yang tak kukenal itu pergi entah kemana.

Cacing-cacing perutku tiba-tiba meminta jatahnya. Akupun langsung bergegas ke dapur untuk mengisi perutku. Sesampainya di dapur ternyata tak ada makanan sedikitpun. Akupun kembali ke kamar. Akhirnya aku memutuskan membeli pizza secara online.

Tak lama kemudian pizza yang ku pesandatang. Aku sangat terpesona dengan kurir yang gantengnya luar biasa. Akupun langsung mengambil alih pizza yang ada di tangan mas ganteng dan membayarnya. Aku tak tahan melihatnya. Aku pun mengusirnya agar segera pergi dari hadapanku. Setelah kurir itu pergi aku langsung masuk dan membongkar pizza karena perutku sudah tak tahan lagi. Saat aku sedang menyantap pizza yang aku pesan tadi tiba-tiba Aci datang dengan kondisi amburadul. Dia menangis sejadi-jadinya. Akupun yang melihatnya heran. Padahal yang kutahu baru beberapa menit dia pergi tapi dia sudah kembali. Ada apa dengannya tak biasanya dia pergi dengan waktu yang mungkin terbilang singkat.

Setelah Aci sudah merasa tenang akupun sebagai sahabatnya yang paling baik menanyakan kondisinya. Apa yang sudah menimpa dirinya hingga dia pulang dengan kondisi tak baik.

“Mon gue nyesel pake baju ini. Benar-benar baju pembawa sial.”

“Gue kan tadi udah bilang apa lo yakin ga nyesel pake baju ini. Terus lu jawab ga apa-apa katanya. Emang apa yang udah terjadi sama lu.”

“Gue…gu..e…gue…Hiks,hiks,hiks” ucap Aci dengan terpatah patah dan langsung menangis kembali

“Gue apa ci.”

“Gue di tipu mon. Om-om itutuh penipu. Coba lu bayangin. Dia itu mau nyebarin virus HIV ke gua. Hiks, hiks, hiks.”

“Terus apa lu udah”

Belum selesai aku bicara tapi Aci sudah memotongnya

“Untungnya belum Mon. Gue masih dilindungin. Gue bersyukur banget. Lu tau moon kalau sampai itu terjadi gue ga tau harus giimana.”

“Masalahnya kok lu bisa tau kalau dia itu penipu.”

“Jadi gini. Pas di jalan tiba-tiba gue ngerasa haus banget dan gue minta beliin kan ke dia. Terus karena gue boring di mobil jadi gue mainin hp. Tiba-tiba ada notif chatt masuk ke hp gue dan itutuh berita tentang dia. Gue tetep nyari info dia kesana kemari. Gue cari kebenaran, gue tanya ketemen-temen gue dan ternyata bener dia tuh mau nyebarin virus HIV ke para PSK dan perawan-perawan sekitar Jakarta.

“Syukurlah kalau begitu, lain kali kau harus berhati-hati ci” ujarku

“Ok makasih yah Mon” ujar Aci

“Iya. Selow aja. Kita kan sesama temen harus saling mengingatkan satu sama lain” Ujarku

“Iya mon gue bersyukur sama Allah walaupun gua hina tapi tetep melindungi gua. Sekarang gue sadar kalau apa yang gue lakuin ini salah”

Sebenarnya dalam kehidupan kami, terkadang kami diberikan nasihat oleh tetangga kosan setempat agar kami berubah menjadi apa yang seharusnya kami lakukan agar menjadi baik, namun itu semua kita abaikan hingga akhirnya penyesalan itupun tiba.

Kami merasa bahwa hidup itu adalah takdir. Allah sudah menetapkan kami menjadi seperti ini dan kami berprasangka kepada Allah bahwa hidup kami akan terus-menerus seperti ini. Kami menganggap bahwa “Ya sudah lah, kami ya kami, mereka ya mereka, kita masing-masing aja, takdir yang sudah menetapkan kami seperti ini”. Itulah pikira  yang ada di benak kami selama kami seperti ini.

Namun kami salah, bahwa takdir itu bisa di ubah. Dulu, kami berpikir bahwa semua perbuatan kami adalah sebuah ketetapan-Nya. Yah memang, tapi yang lebih menyeluruhnya adalah diri kami sendiri yang berkehendak untuk melakukan yang baik atau yang buruk. Kami juga sempat berpikir jika kami bertaubat, mungkin Allah sudah tak mau mengampuni kami karena dosa kami yang sudahmenempel erat ke dalam rohani kami. Kami sudah kotor, kami sudah hina, kami sudah berprilaku seperti binatang dihapadan Allah. Namun akankah Allah ingin mengampuni kami?

Di sisi lain, kami juga punya cita-cita. Kami ingin sekali menggapai cita-cita tersebut. Namun jika Allah tidak mau mewujudkan cita-cita kami karena kami masih punya salah, akhirnya kami pun masih berpegang teguh sama jalan hidup kami yang sekarang menginngat kami tidak mungkin lagi di ampuni oleh Allah karena dosa yang kami perbuat.

Dan akhirnya, dari semua kisah hidup yang kami jalani, kami berlima ingin memutuskan untuk berubah, hijrah, move on dari prilaku yang tak pantas yang dulu kami jalani. Pada saat itu kami berlima berkumpul di ruang tengah kosan untuk berbincang-bincang masalah makna kehidupan yang kami lakukan bahwa apakah itu benar atau tidak. Dan pada waktunya, akhirnya kami merasa bersalah atas perbuatan yang kami lakukan, kami merasa berdosa, dan sudah seharusnya kami bertaubat.

Kami tau, Allah akan membuka pintu ampunan bagi hamba-hambanya yang ingin sungguh-sungguh dalam bertaubat. Walaupun dosa kami sudah tidak terbayangkan, kami yakin bahwa zat Allah Maha pengampun (Al-Ghafar) adalah suatu alasan bahwa tobat kami jika dilakukan dengan sungguh-sungguh, akan di ampuni oleh Allah Swt karena Allah lah sebaik-baiknya pintu maaf dan ampunan.

0 komentar:

Posting Komentar