Marsha, seorang dokter muda, cantik, dan sangat cerdas. Marsha bekerja di salah satu Rumah Sakit terbesar di Jakarta. Ia merasa hidupnya kurang menarik, ia ingin mencoba sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Ia mencoba sesuatu yang menurutnya antimainstream
yaitu Trevelling. Hidupnya sangat berwarna karena dapat melihat pemandangan
maupun ciptaan Allah lainnya yang indah. Ditambah lagi karena hobby barunya
ini, ia bertemu dengan teman-teman baru yang membuatnya semakin terinspirasi.
Marsha bertemu dengan Yogi, seorang pendaki gunung
yang juga satu angkatan dengan Marsha saat SMP. Saat Marsha mendaki Gunung
Kerinci, ia mendapat teman baru sebayanya yaitu Dilla, Nida dan Indah. Mereka
mempunyai profesi yang berbeda-beda. Dilla dan Nida, seorang Travel Blogger,
mereka memang suka berpetualang menjelajahi indahnya alam. Dan Indah, anak muda
yang berprestasi dan pandai menggambar, Ia merupakan seorang pelukis yang
terkenal, bisa dibilang ia sukses dibidangnya. Saat ini, ia mencoba untuk
mencari inspirasi dari alam Indonesia.
* * *
Marsha terduduk di brankar kosong bekas pasiennya yang sudah sehat dan sudah
pulang kerumahnya siang tadi. Ia merenung dalam kesendiriannya, tidak tahu
mengapa ia merasa sangat bosan dan juga sangat lelah, ia harus mencium bau
obat-obatan setiap harinya dan hanya itu yang menemaninya, walaupun ia termasuk
orang yang beruntung karena mendapat pekerjaan yang mulia.
"DRRT" ponsel Marsha bergetar, menandakan
ada notifikasi didalamnya. Dengan datar, ia membuka pesan whatsapp, dibukanya
ikon grup di whatsappnya bernama "Alumni SMPIT Ibnu Sina".
Notifikasi whatsapp
Yogi: Menggapai atap sumatera (Gunung kerinci)
16-20 november 2018
IDR 2.200.000/pax (dicicil 3x)
include:
• Tiket pesawat PP jakarta-padang
• Transportasi PP padang- jambi (basecamp)
• Transportasi dari basecamp ke pintu rimba
• Simaksi pendakian
• makan selama pendakian
• Porter
• Dokumentasi
Term & Condition:
cicilan 1 (DP) Rp 750.000, 1 september- 25 september
(cancel, DP tdk kembali).
cicilan 2 Rp 750.000, 25 september- 10 oktober
Cicilan 3 Rp. 700.000 25 oktober-10 november
ditransfer ke:
• rekening BCA 555555555555, an. Yogi
• rekening Mandiri 3333333333333, an. Risma
Contact Person:
Telp/Sms/wa :
Yogi/081*********
Risma/085*********
Ia hanya menatap ponselnya.
"Gunung Kerinci? Cukup menarik" batinnya. Ia mulai berpikir, ide yang
bagus jika dia keluar dan cuti untuk berlibur sementara me refresh kan
pikirannya. Ia pun mencoba untuk meng contact Yogi.
Marsha: Yog, aku mau dong ikutan mendaki gunung, aku mau coba buat yang
pertama kalinya.
Yogi: Oke kamu selesaikan transaksi dulu, nanti tunggu informasi
selanjutnya.
Marsha: Oke.
Marsha menyimpan ponsel di kantong jas putihnya.
"Ah sudah sore ternyata" gumamnya. Berhubung shift nya sudah selesai,
ia pun bergegas pulang kerumahnya di daerah Auri, Cimanggis, Depok.
***
Saat tiba dirumah Marsha segera membersihkan diri dan
memasak untuk makan malam. Ya, Marsha memang tinggal sendiri karena orang
tuanya ada diluar kota. Lalu ia pergi ke ruang TV dan duduk disofa. Saat ia
sedang menonton serial kesukaannya ia kembali teringat tentang pesan Yogi
tentang mendaki gunung, lalu ia mengambil ponselnya lalu mengetik pesan untuk
Yogi.
Marsha: Yog, kira-kira apa aja ya yang harus
dipersiapkan untuk mendaki gunung?
Yogi: tenda, hammock, tas carrier, peralatan memasak,
jaket dan sepatu gunung, senter, sleeping bag, matras, jan hujan, trekking
pole, kupluk, sarung tangan, kaos kaki, baju hangat, water bladder, pisau,
lampu tenda, obat-obatan, dan yang lainnya kamu bisa cek digoogle.
Marsha: oke,terima kasih dan aku sudah menyelesaikan
administrasinya.
Yogi: Oh iya sama-sama.
Setelah bertanya kepada Yogi, Marsha mematikan
ponselnya dan bergegas pergi ke kamar untuk istirahat.
* * *
Sekarang sudah jam 8 malam, Marsha baru saja selesai
menyiapkan keperluannya untuk mendaki gunung, selama tiga hari lalu Marsha
mencari dan membeli barang-barang yang harus dibawa nanti, semuanya sudah siap
dan akan berangkat mulai besok jam 5 pagi.
“Huft, akhirnya selesai juga” gumam Marsha sambil
duduk di kasurnya dan melihat kearah tas
carriernya yang ia simpan didekat lemari pakaian.
Lalu Marsha beranjak dari kasurnya dan pergi ke kamar
mandi untuk mencuci muka dan menggosok giginya. Setelahnya Marsha tidur agar
besok pagi ia kembali segar.
* * *
Marsha terbangun dari tidurnya, ia melirik jam diatas
nakas yang berada disamping tempat tidurnya menunjukan jam 4 pagi, matahari
masih belum menunjukan sinarnya. Marsha bergegas pergi ke kamar mandi dan
segera bersiap untuk pergi ke tempat berkumpul para pendaki lainnya yang biasa
disebut dengan nama Basecamp.
Setelah 30 menit menempuh perjalanan dengan
menggunakan taksi, Marsha sampai di Basecamp
dan sudah banyak orang-orang disana. Marsha memutuskan untuk mencari Yogi
karena dia satu-satunya teman yang Marsha kenal.
Setelah mencari kesana kemari dan bertanya pada
orang-orang yang mungkin mengenalnya, Marsha akhirnya menemukan Yogi yang
sedang mengobrol dengan beberapa temannya.
“Yogi” Marsha memanggil Yogi dengan suara yang lumayan
keras karna memang keadaan sangat ramai.
Yogi membalikan badannya ke arah Marsha, dan tersenyum
setelah tau jika Marsha yang memanggilnya.
“Marsha, sini” panggil Yogi.
Marsha segera mendekat kearah Yogi dan beberapa teman
lainnya.
“Kenalin ini temen SMP saya dulu, namanya Marsha” kata
Yogi pada teman-temannya.
“Hay, aku Dilla” ucap salah satu teman Yogi yang
mengenakan jaket abu-abu sambil mengulurkan tangannya kearah Marsha.
“Kenalin aku Nida” ucapnya, dan ada sebuah kamera yang
menggantung dilehernya sambil sesekali memotret.
“Kalo aku Indah” ucap teman Yogi yang sepertinya suka
melukis karna di tangannya ada beberapa alat lukis.
Setelah berkenalan dengan singkat, Marsha dan yang
lainnya segera menuju bus yang akan ditumpangi karena para panitia termasuk
Yogi sudah mengintruksi untuk masuk bus karena sekarang sudah jam lima kurang
dua puluh menit dan akan menuju bandara International Soekarno-Hatta lalu
terbang ke Sumatera Barat.
* *
*
Setelah menempuh perjalanan sekitar dua jam, Akhirnya
Marsha dan yang lainnya sampai di Bandara International Sultan Thaha Jambi
sekitar jam 7 pagi. Marsha dan yang lainnya segera ke bagasi untuk mengambil
barang-barang mereka.
Marsha dan yang lainnya memutuskan untuk sarapan
terlebih dahulu, ada sekitar 15 orang yang ikut mendaki. Mereka pun memilih
salah satu restoran yang berada didekat bandara, mereka makan sambil
berbincang-bincang.
“Wah, pas nanjak nanti pasti seru banget!” seru Marsha
dengan mata berbinar karena sangat senang bisa pergi mendaki bersama
teman-teman barunya.
“Iya, aku sudah tidak sabar untuk melihat pemandangan
sumatera dari atas gunung kerinci” kata Dilla menanggapi ucapan Marsha.
Dan yang lainnya hanya mengangguk antusias karena
memang sama senangnya dengan Marsha dan Dilla. Setelah sarapan dan mengobrol
ringan, mereka langsung menaiki bus yang telah disewa untuk menuju gunung
kerinci.
* * *
Sekitar satu jam lebih perjalanan dari bandara menuju
gunung kerinci, akhirnya mereka sampai. Mereka segera bersiap untuk langsung
mendaki.
“Gunung kerinci aku datang!!” teriak Nida dengan suara
lantang, karena ini baru pertama kalinya ia menulis blog mendaki gunung,
biasanya hanya ke pantai atau tempat bersejarah dan yang lainnya.
“Eh jangan teriak-teriak gitu dong” sahut Dilla.
“Hehe iya-iya maaf” jawab Nida.
“Ayo kumpul dulu sini semuanya” seru Yoga selaku ketua
panitia.
“Kita berdoa dulu sebelum mendaki, dan ingat ya selama
perjalanan nanti kita harus sama-sama. Baik berdoa dimulai” kata Yogi.
Dan mereka pun berdoa dalam hati masing-masing.
“Berdoa selesai” ucap Yoga.
Mereka memulai perjalanan dari Pos Kersik Tuo, karena
pendakian menuju puncak gunung kerinci memakan waktu dua hari.
Gunung Kerinci merupakan gunung berapi bertipe
stratovolcano yang masih aktif dan yang tertinggi se-Asia Tenggara, gunung ini
berada pada ketinggian 3.805 mdpl. Dan terakhir kali meletus pada tahun 2009.
Gunung Kerinci terletak diprovinsi Jambi yang berbatasan dengan provinsi
Sumatera Barat.
Dari Kersik Tuo menuju Pos Panjagaan dengan berjalan
kaki sekitar 45 menit melintasi perkebunan teh.
Dari Panjagaan lalu menuju Pintu Rimba, jaraknya
sekitar 2 Km dengan waktu tempuh sekitar 1 jam perjalanan. Pintu Rimba
merupakan gerbang awal pendakian. Dan lanjut berjalan ke pos-pos selanjutnya.
Pada saat ditengah perjalanan Indah mengeluh kesakitan
karena kelelahan dan sudah tidak kuat untuk terus berjalan dan meminta
istirahat, dan semuanya terpaksa berhenti dan istirahat. Saat semua sibuk
menolong Indah, Nida malah sedang asik memotret keindahan alam sekitar, Marsha
pun menegurnya.
“Nida! Lihat tuh Indah lagi kesakitan jangan foto-foto
terus!” ucap Marsha.
“Ih Marsha aku tuh lagi foto buat blog aku, sebentar
dong” sahut Nida.
“Iya, ini tuh buat kepentingan blog kita biar readers
blog kita puas bacanya” kata Dila.
“Lagian masih banyak anggota yang lain yang bisa
bantu” ucap Nida.
“Kalian!” bentak Marsha.
Bentakan Marsha membuat semuanya diam. Dan Yogi datang
menghampiri mereka.
“Ada apa ini?” tanya Yogi.
“Mmm, ma..maafin kita ya” ucap Dilla terbata-bata,
karena merasa bersalah.
“Iya maafin aku juga ya” tambah Nida dengan wajah
melasnya.
“Hhh, maafin aku juga ya udah bentak kalian” Jawab
Marsha sambil menghela nafasnya.
“Ya sudah tidak perlu diperpanjang, lebih baik kita
bergabung dengan yang lain” ucap Yogi menengahi.
Setelah perdebatan kecil usai, Indah sudah terlihat
lebih baik dari sebelumnya, dan mereka memutuskan untuk melanjutkan perjalanan.
Saat berada di ketinggian 2.510 mdpl, Marsha dan yang
lain berhenti untuk beristirahat karena ada sebuah pondok tua. Saat melintasi
jalan selanjutnya Marsha banyak menemukan tumbuhan paku-pakuan dan tanaman
lainnya.
Selanjutnya untuk menuju puncak gunung kerinci jalanan
yang harus ditempuh berupa pasir dan batuan cadas, jadi harus bisa lebih
berhati-hati.
Akhirnya Marsha dan yang lain sampai dipuncak, setelah
menempuh perjalanan yang sangat melelahkan.
“Akhinya kita sampai
juga” ucap Marsha.
“Iya saya sangat senang sekali, akhirnya kita sampai
puncak” ucap Nida senang.
“Subhanallah, lihat pemandangan dari atas sini sungguh
sangat indah” ucap Indah sambil mengagumi ciptaan Allah.
“Iya, Allah telah menciptakan alam ini dengan sangat
indah dan begitu sempurna” ucap Nida menambahkan perkataan Indah.
Dari puncak gunung kerinci mereka dapat melihat
pemandangan indah kota Jambi, Padang, dan Bengkulu bahkan mereka bisa melihat
Samudera hindia yang luas. Di sebelah timur mereka dapat melihat indahnya danau
Bento, yaitu sebuah rawa berair jernih tertinggi di Sumatera. Dan dibelakangnya
terdapat gunung tujuh dengan kawah yang sangat indah.
Setelah puas memandangi keindahan dan berfoto, Mereka
duduk sambil mengobrol. Tapi berbeda dengan Indah ia mengeluarkan alat lukisnya
dan mulai melukis, tak lama Marsha, Nida dan Dilla menghampiri Indah.
“Wah, lukisan kamu bagus bangettt” seru Nida.
“Iya, bagus banget. Oh iya sejak kapan kamu suka
melukis?” tanya Dilla.
“Aku suka melukis dari sejak kecil” jawab Indah.
“Kenapa kamu suka melukis?” tanya Nida.
“Aku suka banget sama melukis karena aku merasa saat
aku melukis, aku jadi lebih bisa merasakan kehebatan dan kebesaran Allah dalam
menciptakan alam dengan keindahan-keindahannya yang sempurna dan semua itu ga
bisa dideskripsikan dengan kata-kata” jawab Indah panjang lebar.
Perkataan Indah membuat Marsha, Nida dan Dilla menjadi
termotivasi untuk lebih banyak bersyukur atas semua nikmat yang Allah berikan.








0 komentar:
Posting Komentar