Jumat, 19 Juni 2020

Marsha

Marsha, seorang dokter muda, cantik, dan sangat cerdas. Marsha bekerja di salah satu Rumah Sakit terbesar di Jakarta. Ia merasa hidupnya kurang menarik, ia ingin mencoba sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Ia mencoba sesuatu yang menurutnya antimainstream yaitu Trevelling. Hidupnya sangat berwarna karena dapat melihat pemandangan maupun ciptaan Allah lainnya yang indah. Ditambah lagi karena hobby barunya ini, ia bertemu dengan teman-teman baru yang membuatnya semakin terinspirasi.

Marsha bertemu dengan Yogi, seorang pendaki gunung yang juga satu angkatan dengan Marsha saat SMP. Saat Marsha mendaki Gunung Kerinci, ia mendapat teman baru sebayanya yaitu Dilla, Nida dan Indah. Mereka mempunyai profesi yang berbeda-beda. Dilla dan Nida, seorang Travel Blogger, mereka memang suka berpetualang menjelajahi indahnya alam. Dan Indah, anak muda yang berprestasi dan pandai menggambar, Ia merupakan seorang pelukis yang terkenal, bisa dibilang ia sukses dibidangnya. Saat ini, ia mencoba untuk mencari inspirasi dari alam Indonesia.

 *        *        *

Marsha terduduk di brankar kosong  bekas pasiennya yang sudah sehat dan sudah pulang kerumahnya siang tadi. Ia merenung dalam kesendiriannya, tidak tahu mengapa ia merasa sangat bosan dan juga sangat lelah, ia harus mencium bau obat-obatan setiap harinya dan hanya itu yang menemaninya, walaupun ia termasuk orang yang beruntung karena mendapat pekerjaan yang mulia.

"DRRT" ponsel Marsha bergetar, menandakan ada notifikasi didalamnya. Dengan datar, ia membuka pesan whatsapp, dibukanya ikon grup di whatsappnya bernama "Alumni SMPIT Ibnu Sina".

Notifikasi whatsapp

Yogi: Menggapai atap sumatera (Gunung kerinci)

16-20 november 2018

IDR 2.200.000/pax (dicicil 3x)

include:

• Tiket pesawat PP jakarta-padang

• Transportasi PP padang- jambi (basecamp)

• Transportasi dari basecamp ke pintu rimba

• Simaksi pendakian

• makan selama pendakian

• Porter

• Dokumentasi

Term & Condition:

cicilan 1 (DP) Rp 750.000, 1 september- 25 september (cancel, DP tdk kembali).

cicilan 2 Rp 750.000, 25 september- 10 oktober

Cicilan 3 Rp. 700.000 25 oktober-10 november

ditransfer ke:

• rekening BCA 555555555555, an. Yogi

• rekening Mandiri 3333333333333, an. Risma

Contact Person:

Telp/Sms/wa :

Yogi/081*********

Risma/085*********

Ia hanya menatap ponselnya. "Gunung Kerinci? Cukup menarik" batinnya. Ia mulai berpikir, ide yang bagus jika dia keluar dan cuti untuk berlibur sementara me refresh kan pikirannya. Ia pun mencoba untuk meng contact Yogi.

Marsha: Yog, aku mau dong ikutan mendaki gunung, aku mau coba buat yang pertama kalinya.

Yogi: Oke kamu selesaikan transaksi dulu, nanti tunggu informasi selanjutnya.

Marsha: Oke.

Marsha menyimpan ponsel di kantong jas putihnya. "Ah sudah sore ternyata" gumamnya. Berhubung shift nya sudah selesai, ia pun bergegas pulang kerumahnya di daerah Auri, Cimanggis, Depok.

 

***

Saat tiba dirumah Marsha segera membersihkan diri dan memasak untuk makan malam. Ya, Marsha memang tinggal sendiri karena orang tuanya ada diluar kota. Lalu ia pergi ke ruang TV dan duduk disofa. Saat ia sedang menonton serial kesukaannya ia kembali teringat tentang pesan Yogi tentang mendaki gunung, lalu ia mengambil ponselnya lalu mengetik pesan untuk Yogi.

Marsha: Yog, kira-kira apa aja ya yang harus dipersiapkan untuk mendaki gunung?

Yogi: tenda, hammock, tas carrier, peralatan memasak, jaket dan sepatu gunung, senter, sleeping bag, matras, jan hujan, trekking pole, kupluk, sarung tangan, kaos kaki, baju hangat, water bladder, pisau, lampu tenda, obat-obatan, dan yang lainnya kamu bisa cek digoogle.

Marsha: oke,terima kasih dan aku sudah menyelesaikan administrasinya.

Yogi: Oh iya sama-sama.

Setelah bertanya kepada Yogi, Marsha mematikan ponselnya dan bergegas pergi ke kamar untuk istirahat.

 

*    *    *

Sekarang sudah jam 8 malam, Marsha baru saja selesai menyiapkan keperluannya untuk mendaki gunung, selama tiga hari lalu Marsha mencari dan membeli barang-barang yang harus dibawa nanti, semuanya sudah siap dan akan berangkat mulai besok jam 5 pagi.

“Huft, akhirnya selesai juga” gumam Marsha sambil duduk di kasurnya dan  melihat kearah tas carriernya yang ia simpan didekat lemari pakaian.

Lalu Marsha beranjak dari kasurnya dan pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka dan menggosok giginya. Setelahnya Marsha tidur agar besok pagi ia kembali segar.

*     *     *

Marsha terbangun dari tidurnya, ia melirik jam diatas nakas yang berada disamping tempat tidurnya menunjukan jam 4 pagi, matahari masih belum menunjukan sinarnya. Marsha bergegas pergi ke kamar mandi dan segera bersiap untuk pergi ke tempat berkumpul para pendaki lainnya yang biasa disebut dengan nama Basecamp.

Setelah 30 menit menempuh perjalanan dengan menggunakan taksi, Marsha sampai di Basecamp dan sudah banyak orang-orang disana. Marsha memutuskan untuk mencari Yogi karena dia satu-satunya teman yang Marsha kenal.

Setelah mencari kesana kemari dan bertanya pada orang-orang yang mungkin mengenalnya, Marsha akhirnya menemukan Yogi yang sedang mengobrol dengan beberapa temannya.

“Yogi” Marsha memanggil Yogi dengan suara yang lumayan keras karna memang keadaan sangat ramai.

Yogi membalikan badannya ke arah Marsha, dan tersenyum setelah tau jika Marsha yang memanggilnya.

“Marsha, sini” panggil Yogi.

Marsha segera mendekat kearah Yogi dan beberapa teman lainnya.

“Kenalin ini temen SMP saya dulu, namanya Marsha” kata Yogi pada teman-temannya.

“Hay, aku Dilla” ucap salah satu teman Yogi yang mengenakan jaket abu-abu sambil mengulurkan tangannya kearah Marsha.

“Kenalin aku Nida” ucapnya, dan ada sebuah kamera yang menggantung dilehernya sambil sesekali memotret.

“Kalo aku Indah” ucap teman Yogi yang sepertinya suka melukis karna di tangannya ada beberapa alat lukis.

Setelah berkenalan dengan singkat, Marsha dan yang lainnya segera menuju bus yang akan ditumpangi karena para panitia termasuk Yogi sudah mengintruksi untuk masuk bus karena sekarang sudah jam lima kurang dua puluh menit dan akan menuju bandara International Soekarno-Hatta lalu terbang ke Sumatera Barat.

*      *      *

Setelah menempuh perjalanan sekitar dua jam, Akhirnya Marsha dan yang lainnya sampai di Bandara International Sultan Thaha Jambi sekitar jam 7 pagi. Marsha dan yang lainnya segera ke bagasi untuk mengambil barang-barang mereka.

Marsha dan yang lainnya memutuskan untuk sarapan terlebih dahulu, ada sekitar 15 orang yang ikut mendaki. Mereka pun memilih salah satu restoran yang berada didekat bandara, mereka makan sambil berbincang-bincang.

“Wah, pas nanjak nanti pasti seru banget!” seru Marsha dengan mata berbinar karena sangat senang bisa pergi mendaki bersama teman-teman barunya.

“Iya, aku sudah tidak sabar untuk melihat pemandangan sumatera dari atas gunung kerinci” kata Dilla menanggapi ucapan Marsha.

Dan yang lainnya hanya mengangguk antusias karena memang sama senangnya dengan Marsha dan Dilla. Setelah sarapan dan mengobrol ringan, mereka langsung menaiki bus yang telah disewa untuk menuju gunung kerinci.

*     *      *

Sekitar satu jam lebih perjalanan dari bandara menuju gunung kerinci, akhirnya mereka sampai. Mereka segera bersiap untuk langsung mendaki.

“Gunung kerinci aku datang!!” teriak Nida dengan suara lantang, karena ini baru pertama kalinya ia menulis blog mendaki gunung, biasanya hanya ke pantai atau tempat bersejarah dan yang lainnya.

“Eh jangan teriak-teriak gitu dong” sahut Dilla.

“Hehe iya-iya maaf” jawab Nida.

“Ayo kumpul dulu sini semuanya” seru Yoga selaku ketua panitia.

“Kita berdoa dulu sebelum mendaki, dan ingat ya selama perjalanan nanti kita harus sama-sama. Baik berdoa dimulai” kata Yogi.

Dan mereka pun berdoa dalam hati masing-masing.

“Berdoa selesai” ucap Yoga.

Mereka memulai perjalanan dari Pos Kersik Tuo, karena pendakian menuju puncak gunung kerinci memakan waktu dua hari.

Gunung Kerinci merupakan gunung berapi bertipe stratovolcano yang masih aktif dan yang tertinggi se-Asia Tenggara, gunung ini berada pada ketinggian 3.805 mdpl. Dan terakhir kali meletus pada tahun 2009. Gunung Kerinci terletak diprovinsi Jambi yang berbatasan dengan provinsi Sumatera Barat.

Dari Kersik Tuo menuju Pos Panjagaan dengan berjalan kaki sekitar 45 menit melintasi perkebunan teh.

Dari Panjagaan lalu menuju Pintu Rimba, jaraknya sekitar 2 Km dengan waktu tempuh sekitar 1 jam perjalanan. Pintu Rimba merupakan gerbang awal pendakian. Dan lanjut berjalan ke pos-pos selanjutnya.

Pada saat ditengah perjalanan Indah mengeluh kesakitan karena kelelahan dan sudah tidak kuat untuk terus berjalan dan meminta istirahat, dan semuanya terpaksa berhenti dan istirahat. Saat semua sibuk menolong Indah, Nida malah sedang asik memotret keindahan alam sekitar, Marsha pun menegurnya.

“Nida! Lihat tuh Indah lagi kesakitan jangan foto-foto terus!” ucap Marsha.

“Ih Marsha aku tuh lagi foto buat blog aku, sebentar dong” sahut Nida.

“Iya, ini tuh buat kepentingan blog kita biar readers blog kita puas bacanya” kata Dila.

“Lagian masih banyak anggota yang lain yang bisa bantu” ucap Nida.

“Kalian!” bentak Marsha.

Bentakan Marsha membuat semuanya diam. Dan Yogi datang menghampiri mereka.

“Ada apa ini?” tanya Yogi.

“Mmm, ma..maafin kita ya” ucap Dilla terbata-bata, karena merasa bersalah.

“Iya maafin aku juga ya” tambah Nida dengan wajah melasnya.

“Hhh, maafin aku juga ya udah bentak kalian” Jawab Marsha sambil menghela nafasnya.

“Ya sudah tidak perlu diperpanjang, lebih baik kita bergabung dengan yang lain” ucap Yogi menengahi.

Setelah perdebatan kecil usai, Indah sudah terlihat lebih baik dari sebelumnya, dan mereka memutuskan untuk melanjutkan perjalanan.

Saat berada di ketinggian 2.510 mdpl, Marsha dan yang lain berhenti untuk beristirahat karena ada sebuah pondok tua. Saat melintasi jalan selanjutnya Marsha banyak menemukan tumbuhan paku-pakuan dan tanaman lainnya.

Selanjutnya untuk menuju puncak gunung kerinci jalanan yang harus ditempuh berupa pasir dan batuan cadas, jadi harus bisa lebih berhati-hati.

Akhirnya Marsha dan yang lain sampai dipuncak, setelah menempuh perjalanan yang sangat melelahkan.

“Akhinya kita sampai  juga” ucap Marsha.

“Iya saya sangat senang sekali, akhirnya kita sampai puncak” ucap Nida senang.

“Subhanallah, lihat pemandangan dari atas sini sungguh sangat indah” ucap Indah sambil mengagumi ciptaan Allah.

“Iya, Allah telah menciptakan alam ini dengan sangat indah dan begitu sempurna” ucap Nida menambahkan perkataan Indah.

Dari puncak gunung kerinci mereka dapat melihat pemandangan indah kota Jambi, Padang, dan Bengkulu bahkan mereka bisa melihat Samudera hindia yang luas. Di sebelah timur mereka dapat melihat indahnya danau Bento, yaitu sebuah rawa berair jernih tertinggi di Sumatera. Dan dibelakangnya terdapat gunung tujuh dengan kawah yang sangat indah.

Setelah puas memandangi keindahan dan berfoto, Mereka duduk sambil mengobrol. Tapi berbeda dengan Indah ia mengeluarkan alat lukisnya dan mulai melukis, tak lama Marsha, Nida dan Dilla menghampiri Indah.

“Wah, lukisan kamu bagus bangettt” seru Nida.

“Iya, bagus banget. Oh iya sejak kapan kamu suka melukis?” tanya Dilla.

“Aku suka melukis dari sejak kecil” jawab Indah.

“Kenapa kamu suka melukis?” tanya Nida.

“Aku suka banget sama melukis karena aku merasa saat aku melukis, aku jadi lebih bisa merasakan kehebatan dan kebesaran Allah dalam menciptakan alam dengan keindahan-keindahannya yang sempurna dan semua itu ga bisa dideskripsikan dengan kata-kata” jawab Indah panjang lebar.

Perkataan Indah membuat Marsha, Nida dan Dilla menjadi termotivasi untuk lebih banyak bersyukur atas semua nikmat yang Allah berikan.

Ya, Allah menciptakan semua makhluk dan segala sesuatu secara sempurna dan dengan sebaik-baiknya. Allah juga menciptakan tumbuh-tumbuhan yang bermanfaat bagi manusia. Allah juga menciptakan oksigen, air, udara dan sebagainya untuk keberlangsungan hidup manusia. Alangkah baiknya kita untuk selalu bersyukur atas apa yang Allah ciptakan dan Allah berikan kepada kita dan menjaganya dengan baik. Dan selalu menggunakan apa yang dianugerahi oleh Allah seperti pengetahuan dan kemampuan dengan sebaik-baiknya

0 komentar:

Posting Komentar